Pertemuan Ketua Parlemen Negara Negara MIKTA : MIKTA Diharapkan Memainkan Peran Kepemimpinan dalam Ciptakan Keseimbangan Dunia Melalui Kekuatan Ekonomi Menengah

Miktaphoto511

MIKTA Speakers' Consultation telah berlangsung di Seoul pada 1-2 Juli 2015 dengan mengusung tema "Parliamentary Leadership for Global Future". Pertemuan dipimpin oleh Speaker of National Assembly Republik Korea (ROK) H.E. Chung Ui-hwa. Pertemuan dihadiri oleh President of the Senate Republik Meksiko H.E. Babosa Hueberta, Ketua DPD RI H.E. Irman Gusman yang didampingi oleh Duta Besar RI dan Delegasi DPD RI, President of the Senate of Australia Hon.Stephen Shane Parry. Turki diwakili oleh Dubesnya di Seoul karena sedang ada Pemilu di negaranya.

Pada pertemuan tersebut Menteri Luar Negeri Yun Byung-se hadir melaporkan Pertemuan Tingkat Menteri ke-5 MIKTA yang telah diselenggarakan pada 21-22 Mei 2015 di Seoul.

Dalam pembukaannya, Speaker National Assembly H.E. Chung Ui-hwa menyampaikan dunia telah mencapai banyak kemajuan setelah berakhirnya PD II walaupun masih banyak tantangan yang harus dihadapi di bidang ekonomi, keuangan, pembangunan berkelanjutan, dll. MIKTA memiliki sejumlah kesamaan seperti sama-sama anggota G20, demokratis, berekonomi terbuka,memiliki pengaruh dan berperan aktif pada tingkat regional dan global.

Pada 2 Juli 2015, jam 10.30 waktu setempat, Speakers MIKTA telah diterima oleh Presiden Park Geun-hye di istana kepresiden. Ketua DPD RI dengan difasilitasi KBRI Seoul juga berkesempatan mengadakan pertemuan bilateral dengan Speakers National Assembly ROK, Ketua Senat Australia, dan Meksiko, Gubernur Propinsi Gyeonggi Hon. Nam Kyung-pil, dan Chairman perusahaan LSIS.

Isu-isu yang dibahas dalam pertemuan MIKTA Speakers' Consultation adalah peran parlemen Middle Powers dalam implementasi pembangunan berkelanjutan yang dipimpin oleh Ketua DPD RI, laporan Pertemuan Tingkat Menteri ke-5 MIKTA yang telah diselenggarakan pada 21-22 Mei 2015 di Seoul dan isu-isu regional serta 70 tahun peringatan pembagian Semenanjung Korea dan Reunifikasi Damai yang disampaikan oleh ROK selaku tuan rumah.

Dalam tema peran parlemen Middle Powers dalam implementasi pembangunan berkelanjutan dibahas antara lain upaya-upaya meningkatkan peran parlemen dalam implementasi SDGs, dukungn legislasi dan keuangan parlemen untuk mencapai SDGs, monitoring kemajuan SDGs, upaya-upaya penyelesaian keterbatasan parlemen dalam mendukung SDGs.

Dalam laporan Pertemuan Tingkat Menteri ke-5 MIKTA yang telah diselenggarakan pada 21-22 Mei 2015 di Seoul, antara lain disampaikan outcomes Pertemuan Tingkat Menteri ke-5 MIKTA berupa boosting visibility, enhancing utility dan strengthening connectivity for MIKTA. MIKTA telah mengadopsi Vision Staement yang memuat garis-garis besar arah ke depan MIKTA sebagai agenda setter reformasi tata kelola global, sebagai jembatan (a bridge) antara negara maju dan berkembangan dalam memediasi dan menyelesaikan perbedaan pandangan regional platform untuk berbagi informasi dan peningkatan hubungan di berbagai sektor. Pada Pertemuan tersebut juga diluncurkan website MIKTA.

Mengenai tema 70 tahun peringatan pembagian Semenanjung Korea dan Reunifikasi Damai, disampaikan antara lain pembahasan dalam tema ini dimaksudkan untuk mendorong pemahaman tentang reunifikasi damai Semenanjung Korea dan arti pentingnya di tingkat global, realitas pembagian Korea, langkah-langkah menanggulangi pembagian dan reunifikasi damai Semenanjung Korea dan pemerintahan damai di Asia Timur.

Pada pertemuan tersebut Indonesia menyampaikan bahwa MIKTA sebagai forum informal penting untuk meningkatkan kerjasama negara-negara MIKTA di berbagai sektor baik di tingkat bilateral, regional maupun global. Mengenai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan antara lain disampaikan dokumen pembangunan tersebut harus mencerminkan prioritas dan kepentingan semua negara, menekankan kembali pentingnya kemitraan global untuk mendukung realisasi means of implementation. Pembahasan dan implementasi Agenda Pembangunan Pasca 2015 harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait termasuk parlemen.

Pertemuan MIKTA Speakers' Consultation akan dilaksanakan secara reguler setiap tahun dan Ketua DPD RI bersedia menjadi tuan rumah pertemuan tahun depan.

Duta Besar RI, Korea Selatan Menjadi Pembicara Utama pada Diskusi Ilmiah di Universitas Yonsei

yonsei6

Pada tanggal 16 Juni 2015, Duta Besar RI Seoul, John A. Prasetio diundang oleh Institute of Poverty Alleviation and International Development (IPAID), Universitas Yonsei untuk menjadi pembicara pada acara Diskusi Ilmiah. Diskusi Ilmiah yang dihadiri oleh para professsor dan peneliti dari Universitas Yonsei, yang merupakan salah satu universitas terbaik di Korea Selatan tersebut, berjudul Indonesia : A Middle Power Nation at a Critical Juncture.

Pada acara yang dimoderatori oleh Direktur IPAID, Prof. Chang Soo Kim tersebut, Duta Besar menjelaskan mengenai situasi Indonesia terkini dari berbagai perspektif. Sebagai pembukaan dijelaskan mengapa Indonesia patut dikatakan sebagai negara middle power. Indonesia saat ini merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara sebesar USD 900 billion pada tahun 2014 yang merupakan urutan ke 15 diantara negara G20 dan berdasarkan Purcahsing Power Parity, GDP Indonesia sekarang berada pada kisaran USD 1,5 trilion yang merupakan rangking 10 terbesar berdasarkan data dari Internasional Comparison Program. Selain itu dengan jumlah penduduk 250 juta, Indonesia merupakan salah satu contoh dimana demokrasi dan Islam dapat duduk berdampingan.

Selanjutnya dijelaskan juga mengenai situasi ekonomi dunia terkini. Bagaiman saat ini ekonomi USA setelah diterjang krisis ekonomi pada tahun 2008 telah mulai pulih dan negara tersebut sampai saat ini tetap merupakan salah satu negara terpenting dengan militer terkuat dan merupakan negara dengan kapasitas inovasi teknologi terbaik di dunia. Namun sejak krisis tahun 2008 tidak ada satu negarapun yang mendominasi ekonomi dunia. Ekonomi China dan beberapa negara emerging di Asia lainnya saat ini telah menjadi kekuatan dibidang produksi, perdagangan dan keuangan internasional dan pemegang 2/3 cadangan devisa dunia serta merupakan sumber penting bagi pertumbuhan ekonomi global.

Situasi dunia saat ini tentulah membentuk apa yang disebut sebagai multipolar world economy dan menuntut perlunya pembentukan manajemen bersama seperti bagaimana mengkoodinasikan kebijakan Internasional dalam situasi ekonomi global yang baru tersebut.

Pada forum G20 misalnya pandangan negara-negara Industri G7 terhadap isu-isu ekonomi yang penting tidak selalu sejalan dengan kepentingan dari negara-negara BRICS. Dalam situasi tersebut MIKTA yang merupakan informal network dari negara-negara middle power dalam G20 yang terdiri dari Meksiko, Indonesia, Korea, Turki dan Australia mencoba untuk berperan sebagai jembatan dalam diskusi mengenai isu-isu global dan mengurangi persaingan antara negara-negara maju dengan negara-negara Industri baru.

Selanjutnya seperti judul dalam diskusi ilmiah tersebut, Duta Besar RI menyampaikan bahwa saat ini Indonesia berada pada titik persimpangan untuk menjadi negara maju dan agar tidak terperangkap sebagai negara berpenghasilan menengah (middle income trap) . Oleh karenanya pemerintah Indonesia harus dapat mengatasi berbagai tantangan seperti meningkatkan iklim bisnis yang sehat, kemudahan melakukan usaha dan kebijakan yang konsisten. Selain itu pemerintah saat ini diharapkan dapat menelurkan kebijakan yang memudahkan Foreign Direct Investment (FDI) dan melakukan penyederhanaan birokrasi.

Hal lain yang perlu dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah membangun infrastruktur untuk memudahkan logistik, pemerataan pendapatan dan memperkecil angka kemiskinan, memberantas korupsi dan kepastian hukum, reformasi pendidikan bagi warga miskin dan meningkatkan kualitas pekerja agar produktivitas meningkat, meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan akses jasa keuangan terhadap pengusaha kecil dan keluarga kurang mampu dan memberikan perhatian serius terhadap proses transisi dari penghasil kekayaan alam menjadi penghasil barang hasil industry.

Untuk mengatasi berbagai tantangan kedepannya saat ini pemerintah presiden Jokowi telah mengambil berbagai kebijakan penting yang walaupun saat ini dirasakan pahit namun diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi rakyat Indonesia. Kebijakan itu antara lain penghapusan subsidi bahan bakar untuk dialihkan ke sektor yang lebih produktif serta mempermudah proses investasi. Selain itu saat ini berbagai proyek infrastruktur telah mulai dibangun seperti jalan tol trans Sumatra, jalur rel kereta api baru, pelabuhan, proyek rumah murah dan pembangunan pembangkit tenaga listrik.

Selanjutnya Duta Besar RI menjelaskan mengenai kebijakan luar negeri pemerintah saat ini serta maritime axis doktrin yang saat ini merupakan salah satu misi utama pemerintah Jokowi.

Acara diskusi Ilmiah ini tampaknya cukup menarik perhatian peserta, terbukti dari banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta terkait isu-isu ekonomi dan politik terkini di Indonesia. (KBRI Seoul)

Dubes RI Seoul Terima Kunjungan Vice Minister of Oceans and Fisheries Republik Korea (ROK) H.E. Kim Young-suk Bahas Upaya Peningkatan Kerjasama Kemaritiman

PhotoVMOcean11

Pada 15 Juni 2015 Duta Besar RI Seoul didampingi oleh Wakil Kepala Perwakilan dan Minister Counsellor Politik telah menerima kunjungan Vice Minister of Oceans and Fisheries Republik Korea (ROK) H.E. Kim Young-suk yang didampingi oleh Deputy Director General Maritime Safety and Policy Division Mr. Kim Minjong. Pertemuan membahas upaya-upaya peningkatan kerja sama bilateral RI-ROK khususnya di bidang kelautan dan perikanan disamping permintaan dukungan Pemerintah ROK mengenai pencalonan Mr. Lim Ki-tack sebagai Sekretaris Jenderal IMO Periode 2016-2019.

Vice Minister of Oceans and Fisheries menyampaikan ROK menyambut baik gagasan Pemerintah RI di bawah Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim. Hal ini diyakini membuka banyak peluang peningkatan kerjasama kedua negara diantaranya di bidang perdagangan, lingkungan hidup/ eko maritim, keselamatan maritim, blue revolution, dan feasibility study di bidang pengembangan dan pembangunan pelabuhan. Indonesia dan ROK saat ini sedang mempersiapkan perjanjian kerjasama di bidang maritime safety.

Dalam pertemuan tersebut Duta Besar RI antara lain menyampaikan bahwa Pemerintah RI menempatkan kemaritiman sebagai prioritas tinggi. ROK memiliki banyak keunggulan di sektor maritim. Industri pembuatan kapal ROK saat ini menduduki peringkat 1 dunia. Beberapa proyek kerjasama RI-ROK yang sedang berjalan diantaranya adalah pembuatan kapal Floating Production Unit (FPU) di bawah SKK Migas dan pengadaan kapal selam.

Untuk FPU, Peletakan Lunas Kapal (Keel Laying Ceremony) akan dilaksanakan di Hyundai Heavy Industry Ulsan pada 22 Juni 2015. Sementara untuk pengadaan 3 unit kapal selam saat ini proses pekerjaan Kapal ke-1 telah mencapai 49,50% (rencana selesai 2016), Kapal ke-2 telah mencapai 22,50% (rencana selesai 2017) dan Kapal ke-3 telah mencapai 6,10% (rencana selesai 2018). Peluang kerjasama di sektor kemaritiman sangat terbuka lebar. Perusahaan Korea Selatan saat ini masih belum banyak berinvestasi pada bisnis perikanan di Indonesia secara signifikan dibandingkan dengan Jepang. Perusahaan Korea perlu lebih "agresif" untuk berbinis dan berinvestasi di Indonesia.(KBRI Seoul)

Duta Besar RI Sebagai Pembicara Utama dalam Seminar on Strategies for Expanding Into Indonesia-Minat Pengusaha Korea Menguat

FSSphoto61

Pada 28 Mei 2015 Duta Besar RI Seoul telah diundang sebagai pembicara utama dalam Seminar on Strategies for Expanding Into Indonesia yang diselenggarakan oleh Financial Supervisory Service of Korea (FSS). Sebelum acara Seminar, Duta Besar RI telah diterima oleh Gubernur FSS H.E. Zhin Woong-Seob yang menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Duta Besar RI yang telah menyediakan waktu untuk hadir sebagai pembicara Seminar. Selain itu apresiasi juga disampaikan untuk peran dan upaya Duta Besar RI beserta jajaran KBRI Seoul dalam meningkatkan hubungan dan kerjasama industri keuangan Indonesia-Korea Selatan.

KBRI Seoul di bawah Duta Besar RI aktif memfasilitasi penguatan dan peningkatan kerjasama FSS dengan Indonesia di sektor industri finasial. Pada 16 April 2015 Gubernur Korea FSS Zhin Woong-Seob dan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang pertukaran informasi dan peningkatan kapasitas pengawasan di sektor keuangan di Kantor Pusat OJK Jakarta. Kerja sama OJK dan Korea FSS itu dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan keahlian kedua otoritas dalam bidang pengawasan dan pengaturan industri jasa keuangan. Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup kegiatan pertukaran informasi dan peningkatan kapasitas pengawasan kedua otoritas. Melalui pelaksanaan Nota Kesepahaman tersebut, diharapkan dapat ditingkatkan perluasan kegiatan usaha institusi perbankan Indonesia di Korea Selatan dalam waktu dekat

Dalam pertemuan dengan Gubernur FSS tersebut juga dibahas langkah-langkah ke depan untuk memperkuat dan memperluas kerjasama keuangan dengan negara-negara ASEAN. Secara khusus Gubernur FSS menghargai peran dan dukungan Duta Besar RI untuk menggulirkan gagasan ini di kalangan Duta Besar ASEAN. Hal ini menjadi penting mengingat ASEAN akan segera memasuki ASEAN Economic Community pada akhir tahun ini. Duta Besar RI akan mengkoordinasikan gagasan ini dengan Duta Besar negara-negara ASEAN melalui Koordinator ASEAN Comittee in Seoul. H.E. Zhin Woong-Seob juga menyampaikan kepada Duta Besar RI rencana working luncheon FSS dengan Duta Besar RI bersama Chairman of Korea Federation of Banks Mr. Yung Ku HA pada 8 Juni 2015 sebagai upaya lebih memperluas kerjasama sektor keuangan.

Selanjutnya, Duta Besar RI yang didampingi oleh Minister Counsellor Politik/Caretaker Koordinator Fungsi Ekonomi dan Pelaksana Ekonomi menemui sejumlah eksekutif perbankan dan industri keuangan lainnya yang berminat menjalin kerjasama atau pun yang berencana melakukan perluasan bisnis di Indonesia dengan difasilitasi oleh Deputy Governor FSS Mr. Kim Young ki. Beberapa pejabat teras perbankan dan sektor keuangan Korea yang hadir dan sangat serius hendak menjalin kerjasama bisnis atau perluasan usaha di Indonesia diantaranya adalah Executive Director Kiwoom, Senior Vice President Business Management Division Shinhan Bank, President OK! Savings Bank, Managing Director KDB Daewoo Securities, Executive Director Asia Top 10, Lotte, dan Director Apro Service Group.

Duta Besar RI menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para pengusaha sektor keuangan atas rencana mereka menjalin dan memperluas usaha di Indonesia. Duta Besar RI menyampaikan peluang bisnis sektor keuangan di Indonesia serta langkah kebijakan Pemerintah RI di sektor ini seraya menyampaikan kesiapannya untuk membantu para pengusaha sektor keuangan ini jika diperlukan.

Memasuki acara Seminar on Strategies for Expanding Into Indonesia, Duta Besar RI antara lain menyampaikan FSS dan OJK baru saja menandatangani Nota Kesepahaman Kerjasama pada 16 April 2015. Hal ini membuka opportunity window bagi para pengusaha sektor kuangan Korea untuk menjalin kerjasama dan melakukan usaha di Indonesia. Dipaparkan antara lain update terkini situasi dan perkembangan perekonomian Indonesia. Tingkat pertumbuhan ekonomi dalam semester pertama 2015 masih berada di bawah 5% karena berbagai faktor baik internal seperti tertundanya belanja pemerintah maupun eksternal. Namun demikian confidence lembaga keuangan internasional seperti IMF dan WB terhadap Indonesia sangat kuat. Duta Besar RI lebih lanjut menyampaikan perkembangan kelompok kelas menengah dan kebijakan Pemri di bidang pembangunan infrastruktur yang merupakan peluang baik bagi pengusaha Korea untuk berbisnis dengan Indonesia.

Perkembangan industri finansial di Indonesia yang sangat baik dan menunjukkan kinerja keuangan yang sangat kuat. Iklim usaha sektor ini semakin kondusif dengan meningkatnya kualitas supervisi dan regulasi dari OJK.

Seminar menampilkan banyak pembicara dari kalangan industri keuangan Korea Selatan mengenai success story mereka dalam melakukan bisnis di Indonesia. tema-tema yang dibahas dalam Seminar diantaranya regulasi supervisi industri keuangan dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ekspansi bisnis, karakteristik pasar perbankan Indonesia dan strategi perluasan, karakteristik bisnis kredit keuangan dan strategi perusahaan sekuritas, karakteristik pasar asuransi dan strategi perluasan.

Kunjungan Komisi I DPR RI Buka Channel Komunikasi Baru dengan Perwakilan RI

rdp62

Pada 16 – 22 Mei 2015 Komisi I DPR RI telah melakukan kunjungan kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan kepala perwakilan RI untuk kawasan Asia Timur di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan yang dihadiri oleh Duta Besar RI Beijing, Duta Besar RI Pyongyang dan Duta Besar RI Seoul sebagai tuan rumah. Delegasi RI dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Ahmad Hanafi Rais.

Kegiatan ini merupakan wujud dari pelaksanaan fungsi pembinaan dan pengawasan Komisi I DPR RI terhadap pelaksanaan kebijakan Pemerintah dan APBN, termasuk tugas perlindungan dan pelayanan terhadap Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di luar negeri. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tugas Duta Besar RI dan Perwakilan RI. Kunjungan sekaligus dimanfaatkan sebagai bagian pelaksanaan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di luar negeri dengan para Kepala Perwakilan RI di kawasan dan membuka channel baru komunikasi antara Komisi I dengan Perwakilan RI untuk saling bertukar pikiran mengenai pelaksanaan kebijakan luar negeri di lapangan sebagai masukan pembuatan kebijakan Pusat. Sehari sebelum acara RDP, Duta Besar RI menjamu makan malam seluruh Delegasi yang juga dihadiri oleh Bapak Hassan Wirajuda dan Bapak Rizal Sukma.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H.A. Hanafi Rais, S.Ip., M.P.P. selaku ketua delegasi dan pimpinan rapat, menyampaikan apresiasi atas fasilitasi KBRI Seoul sebagai tuan rumah dalam kegiatan Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI untuk kawasan Asia Timur. Lebih lanjut, agenda RDP di luar negeri ini merupakan upaya terkini dari Parlemen RI untuk menyelaraskan dan mengkoordinasikan isu-isu hubungan luar negeri yang terjadi di pusat dan tindak lanjutnya di Perwakilan RI, dengan pemahaman bahwa Perwakilan RI merupakan ujung tombak pelaksanaan diplomasi RI di luar negeri. Ketua delegasi komisi I DPR RI juga menyampaikan mengenai fungsi parlemen sebagai counterpart Kementerian Luar Negeri dalam mendukung kinerja perwakilan RI dalam menjalankan program-program dan pelaksanaan track 2 diplomacy. Secara umum, RDP berjalan baik, kondusif dan dalam suasana yang akrab. Diskusi yang berkembang selama Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Keppri dan Komisi I DPR menjadi media yang efektif dalam memberikan masukan serta pemahaman yang komprehensif terkait gambaran dan fakta yang terjadi di kawasan.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Komisi I DPR RI juga melaksanakan pertemuan dengan instansi terkait di Korea Selatan yang mencakup ruang lingkup dan tugas Komisi I DPR RI. Kunjungan dimaksud diantaranya kunjungan ke KT LTE Innovation Center, pertemuan dengan Ministry of Science, ICT and Future Planning (MSIP) Korsel, dan Kunjungan ke Samsung. KT LTE Innovation Center merupakan sebuah perusahaan nasional Korea yang bergerak di bidang industri teknologi telekomunikasi modern. KT yang merupakan singkatan dari Korea Telecommunication merupakan perusahaan nomor 1 di Korea yang telah sangat maju mengembangkan teknologi komunikasi modern dan merupakan provider peringkat kedua di Korea Selatan. Kunjungan ke KT LTE Innovation Center diterima oleh Mr. Young S. Choi, Executive Vice President KT LTE Innovation Center. Kunjungan ini bertujuan untuk mengobservasi secara langsung kemajuan industri telekomunikasi modern di Korea dan juga untuk meninjau peralatan Dalam kunjungan tersebut, Ketua Delegasi RI menyampaikan bahwa kunjungan ini dapat dijadikan sebuah pilot study dalam penjajakan kerja sama ataupun investasi antara Indonesia dan Republik Korea di bidang Teknologi Informasi dan Industri Telekomunikasi.

Pertemuan dengan MSIP Korsel diterima oleh Delegasi Korea yang dipimpin oleh Mr. Kang Seong Ju, Director of Ministry of Science, ICT and Future Planning. Dalam kesempatan itu Mr. Kang Seong Ju menyampaikan apresiasi atas kunjungan Komisi I DPR RI di Kementerian Sains, Teknologi Informasi dan Perencanaan Nasional (Ministry of Science, ICT and Future Planning/MSIP), Republik Korea. Pemerintah Indonesia (Kemenkominfo RI) sejauh ini telah aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah Korea (MSIP) dalam bidang telekomunikasi, baik dalam bentuk pertemuan singkat maupun workshop pengembangan kapasitas. Oleh karena itu, diharapkan kesempatan ini dapat kita gunakan sebagai media bertukar pikiran dan dapat membuka kesempatan-kesempatan kerja sama di bidang telekomunikasi yang lebih strategis di masa yang akan datang.

Ketua Delegasi RI menyampaikan apresiasi atas kesediaan dan tujuan kunjungan untuk bertukar pandangan terkait perkembangan industri telekomunikasi di Korea. Diharapkan kunjungan dapat memberikan pemahaman terkait penerapan sistem digitalisasi dari perspektif pandangan pemerintah, penyusunan kebijakan serta penerapan kebijakan tersebut di sektor swasta dan publik. (KBRI Seoul)

Duta Besar RI dan Ketua BKPM Mengundang Investor Korea Selatan untuk Berinvestasi ke Indonesia

PhotoKaBKPM2

Dalam rangka mendorong peningkatan investasi Perusahaan Korea Selatan ke Indonesia, Kepala BKPM telah melakukan kunjungan kerja/misi investasi ke Korea Selatan pada tanggal 6-8 Mei 2015 dengan difasilitasi penuh oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan serta Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) di Seoul. Selama kegiatan di Seoul, Kepala BKPM melakukan pertemuan dengan para pengusaha Korea Selatan yang telah dan atau sedang melakukan investasi ke Indonesia melalui kegiatan one on one meeting dan business forum serta melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan, Industri dan Energi (MOTIE) Korea Selatan.

Pada tujuan misi investasi kali ini, Kepala BKPM ingin meningkatkan kerjasama bilateral khususnya di bidang ekonomi, perdagangan, industri dan investasi antar kedua negara; menjaga momentum minat investasi yang terus meningkat dan menarik minat investasi baru dan perluasan investasi Korea Selatan di Indonesia; dan menjelaskan berbagai kebijakan dan program yang telah dan akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

Misi investasi ini sangat penting mengingat pemerintah telah memprioritaskan 4 negara yang diprioritaskan sebagai mitra investasi Indonesia yaitu (1) Korea Selatan; (2) Jepang; (3) Taiwan; dan (4) China. Berdasarkan perhitungan ratio realisasi investasi dari rencana investasi sampai saat ini, Korea Selatan memiliki ratio tertinggi mencapai + 70% (artinya apabila terdapat 10 rencana investasi, maka 7 rencana investasi tersebut telah direalisasikan oleh Investor Korea Selatan).

Pada tanggal 7 Mei 2015 juga telah diselenggarakan Businesss Dinner yang dihadiri perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan. Pada acara tersebut, Duta Besar RI di Seoul, John Prasetio menyampaikan mengenai komitmen yang tinggi dari pemerintahan baru Presiden Joko Widodo dan Yusuf Kalla terhadap investasi. Disamping itu juga disampaikan bahwa KBRI Seoul akan terus mendukung dan memfasilitasi kerjasama ekonomi kedua negara termasuk rencana investasi Korea Selatan ke Indonesia. Duta Besar RI di Seoul menyambut baik kunjungan kerja Kepala BKPM di Seoul, dalam rangka memberikan update informasi secara langsung kepada Investor Korea Selatan berkaitan dengan langkah-langkah pemerintah baru khususnya dibidang investasi.

Kepala BKPM, Bapak Franky Sibarani dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai investasi Korea Selatan dalam lima tahun terakhir mencapai lebih dari 6,8 milyar dollar Amerika, atau sekitar 5,8% total investasi asing di Indonesia. Ini belum termasuk investasi di sektor keuangan dan hulu Migas. 80% investasi Korea Selatan berada di sektor industri manufaktur, baik yang bersifat subsitusi impor, berorientasi ekspor, padat karya, maupun padat teknologi. Selain industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik yang mendominasi, perusahaan-perusahaan Korea Selatan juga banyak bergerak dalam industri karet, barang dari karet dan plastik, tekstil, pertambangan dan kimia. Dengan demikian, investasi Korea Selatan telah turut mendukung proses industrialisasi di Indonesia. Investor Korea Selatan berkontribusi langsung terhadap penciptaan nilai tambah, perluasan kesempatan kerja, serta peningkatan produktivitas dan nilai ekspor.

Bapak Franky Sibarani juga menyampaikan bahwa awal tahun ini, Presiden Republik Indonesia telah meresmikan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) tingkat nasional di BKPM. Semua pelayanan perizinan investasi di tingkat pusat, baik dalam tahap preparation, pre-operation maupun commercial operation, dilakukan di BKPM. Investor cukup datang ke tiga PTSP di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota di Indonesia untuk memperoleh semua jenis perizinan. Saat ini, 22 kementerian dan lembaga telah menempatkan petugasnya di BKPM untuk melayani konsultasi dan pemrosesan perizinan. Bersama kementerian dan lembaga lain, kami juga sedang mengintegrasikan sistem pelayanan terpadu di daerah dengan sistem di BKPM, menyederhanakan prosedur, dan mempersingkat waktu proses perizinan. Disamping itu Pemerintah telah memperluas cakupan bidang usaha yang mendapat insentif Tax Allowance (pengurangan pajak) yang semula 129 bidang usaha menjadi 143 bidang usaha, serta mengurangi beberapa persyaratan untuk mendapatkannya. Pada acara tersebut juga dilakukan paparan peluang investasi di Indonesia kepada targeted investor dan juga pemberian penghargaan kepada perusahaan yang memiliki komitmen investasi yang berkesinambungan di Indonesia yaitu Cheil Jedang Indonesia.

Secara keseluruhan acara misi investasi tersebut berjalan dengan baik dan berdasarkan hasil pertemuan dengan para investor, BKPM telah mendapatkan beberapa komitmen investasi dari perusahaan-perusahaan Korea Selatan diberbagai bidang diantaranya bidang industri petrokimia, peternakan terintegrasi dengan pakan ternak, farmasi, infrasruktur, power plant, industri makanan dan minuman serta industri manufacturing lainnya. BKPM serta KBRI Seoul akan terus mengawal dan membantu fasilitasi agar komitmen investasi tersebut dapat menjadi realisasi investasi sesegera mungkin.

Duta Besar RI membuka Pameran Seniman Kontemporer Ternama Asia Tenggara asal Indonesia dalam rangka Branding Indonesia

pameran42

Pada tanggal 28 April sampai 20 Juni 2015, Duta Besar RI di Korea Selatan, John. A. Prasetio menyelenggarakan pameran seni salah satu seniman kontemporer terpenting Asia Tenggara asal Indonesia, Christine Ay Tjoe. "Saya mendukung penyelenggaraan Pameran tersebut karena sangat bermanfaat bagi branding Indonesia di mata masyarakat Internasional dan Korea Selatan" kata Bapak Dubes John

Pameran pertama Christine Ay Tjoe di Korea Selatan yang berjudul Perfect Imperfection ini merupakan yang terlengkap yang memamerkan lebih dari 50 karya seni selama karirnya mulai dari tahun 2000 termasuk memamerkan 5 karya seninya yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Pada pembukaan pameran ini berlangsung meriah dimana dihadiri oleh ratusan undangan yang terdiri dari para Duta Besar negara-negara asing dan juga para tokoh masyarakat serta para pengusaha papan atas Korea Selatan.

Pameran yang diselenggarakan di salah satu gallery terkenal SongEun Art Space Galery ini di sponsori oleh Samtan Group yang merupakan salah satu perusahaan besar Korea Selatan yang banyak berinvestasi di Indonesia dan bertindak sebagai kurator adalah Jasmine Prasetio yang merupakan, country manager Sotheby's Indonesia.

Selanjutnya Bapak Dubes John menyampaikan "Saya melihat pameran yang akan berlangsung hampir 2 bulan ini, merupakan kesempatan yang sangat baik untuk mempromosikan Indonesia. Karena dengan pameran ini akan membuka mata warga Korea Selatan bahwa Indonesia juga memiliki seniman berkelas dunia yang karyanya diakui oleh dunia. Hal ini sangat bermanfaat untuk branding Indonesia di mata dunia umumnya dan warga Korea Selatan khususnya".

Makin Eratnya Hubungan Indonesia-Korea Selatan

DubesDeputyPM11

Pada 8 April 2015, Duta Besar RI, Seoul Korea Selatan, John A. Prasetio didampingi Wakil Kepala Perwakilan RI dan Minister Counsellor Politik telah mengadakan pertemuan dengan Deputy Prime Minister H.E. Hwang Woo-yea yang didampingi oleh Director General for Social Policy Mr. Kidong Song, Ministry of Education, Deputy Director General Ministry of Foreign Affairs Mr. Ryu Jeong-hyun, dan Director International Education Cooperation Division Ms. Park Jiyoung. Pertemuan dimaksudkan untuk memupuk dan terus meningkatkan hubungan dan kerjasama bilateral RI-Republik Korea.

Mengawali pertemuan, Dubes RI menyampaikan salam hangat Presiden Jokowi kepada Presiden Park Geun-hyee dan Deputy Prime Minister serta berharap hubungan dan kerjasama bilateral yang telah terjalin sangat baik selama ini dapat lebih diperkuat dan ditingkatkan. Republik Korea merupakan mitra yang sangat penting bagi Indonesia. Kerjasama kedua negara terus tumbuh dan berkembang secara signifikan di berbagai bidang seperti ekonomi, investasi, perdagangan, pariwisata. Kedua negara merupakan mitra Strategis yang perlu terus bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan kerjasama tersebut ke level yang lebih tinggi.

Deputy Prime Minister memandang Indonesia sangat penting. Indonesia adalah negara besar. Potensi peningkatan kerjasama bilateral kedua negara masih terbuka lebar. Deputy Prime Minister sepakat pentingnya upaya-upaya untuk lebih memperkuat hubungan dan kerjasama kedua negara diantaranya melalui peningkatan kerjasama antar generasi muda, pendidikan dan kebudayaan. Deputy Prime Minister menyampaikan rencananya untuk berkunjung ke Indonesia dalam rangka menghadiri Commemoration of the 60th Anniversary of the Asian African Conference and the 10th Anniversary of the New Asian-African Strategic Partnership (NAASP), KTT AA dan PTM AA, pada April 2015.

Sebagai informasi, hubungan ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata Indonesia-Republik Korea cukup signifikan. Pada tahun 2014 (Januari-Desember) nilai perdagangan sebesar USD 23,7 milyar. Dari total USD 23,7 milyar, USD 11,4 milyar adalah ekspor Indonesia sementara USD 12,3 milyar nilai impor Indonesia dari Korea Selatan. Di bidang investasi, izin prinsip investasi yang dikeluarkan oleh BKPM selama 2014 untuk investasi dari Republik Korea mencapai sebesar USD 126,95 juta (Rp. 1,53 trilyun). Sementara itu di bidang pariwisata, jumlah wisatawan Republik Korea yang berkunjung ke Indonesia selama Januari-Desember 2014 tercatat mencapai 328.122 orang.

Selain itu terdapat banyak proyek yang sedang dalam persiapan dan atau berjalan, diantaranya CNG Package Project senilai US$5-6 milyar, Sumsel-6 Mine Mouth Coal-fired project 600 MW senilai US$1,02 milyar, Proyek Jembatan Batam-Bintan senilai US$334 juta, Agro-based Multi Industry Cluster project senilai US$11 juta, Proyek kereta api Bengkulu-Muara Enim dan Port project dengan skema PPP senilai US$3,3 milyar, Pilot Project for the Ciliwung River Restoration senilai US$9 juta dengan konsep pembangunan sewage treatment facility, educational centre dan eco-friendly facility. (KBRI Seoul)

Duta Besar RI menyampaikan Congratulatory Remarks pada FSS Speaks 2015

fss4

Pada 7 April 2015, Duta Besar RI untuk Korea Selatan John A. Prasetio telah diundang oleh Governor FSS (Financial Supervisory Service) Honorable Zhin Woong-seob, untuk menyampaikan Congratulatory Remarks pada acara pembukaan forum FSS (Financial Supervisory Service) Speaks 2015. Kesempatan tersebut merupakan hal yang prestisus dan penting dengan pertimbangan, pertama, karena hanya 2 (dua) pembicara utama pada sesi pembukaan forum yakni Duta Besar RI dan Governor FSS untuk keynote speech. Kedua, Forum FSS ke-7 yang diselenggarakan setiap tahun dihadiri oleh sekitar 300 peserta pemain kunci industri finansial seperti perbankan, sekuritas dan asuransi serta kalangan diplomatik di Korea Selatan. Ketiga, kesempatan tersebut menunjukkan pengakuan dan penghargaan yang tinggi Pemerintah Republik Korea kepada Indonesia sebagai pemain penting di industri keuangan seiring dengan pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu yang tertinggi di tengah-tengah situasi lesunya perekonomian dunia. FSS Republik Korea juga sangat berkeinginan untuk memperkuat kerjasama dengan Indonesia.

Forum yang bertemakan "Trust, Dynamism, Autonomy and Creativity" menawarkan "prime opportunity" ke lembaga-lembaga keuangan asing untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kebijakan dan peraturan FSS dan bertukar pandangan tentang isu-isu kunci industri keuangan. Forum tersebut dimaksudkan untuk memberikan saluran yang berharga bagi dialog antara pengawas-pengawas keuangan dan industri. Pada kesempatan tersebut, Dubes RI menyampaikan antara lain mengenai peran penting FSS dan Bank Sentral dalam ekonomi modern. Langkah kebijakan lembaga-lembaga tersebut memiliki dampak yang besar terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan negara. Dubes RI juga sampaikan bahwa FSS Republik Korea memiliki reputasi global yang sangat kuat sebagai "watchdog" pasar keuangan Korea.

Di tengah-tengah volatilitas tajam dalam "global financial settings" akhir-akhir ini dan beberapa perisitiwa yang dihadapi oleh industri jasa keuangan Korea, FSS telah melakukan "excellent job" dalam menjalankan misi untuk memastikan sektor perbankan yang kondusif yang merupakan elemen kunci dalam menjaga kepercayaan finansial dan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan. Dubes RI menekankan pentingnya kepercayaan dan sikap dinamis, terutama sejak jatuhnya Lehman Brothers pada 2008 yang diikuti dengan jatuhnya kepercayaan sampai titik yang terendah. Kepercayaan sangat esensial dalam dunia usaha. Sejalan dengan faktor kepercayaan, aspek dinamisme juga menjadi aspek vital yang memungkinan sikap adaptif dan inovatif seiring dengan dinamika yang berkembang. Dubes RI percaya bahwa FSS dan sektor finansial akan terus maju pada tahap yang lebih tinggi yang akan menuntun industri keuangan Korea menjadi bagian penting "success story" masa depan Korea. (KBRI Seoul)

Indonesia Akan Menjadi Negara ke 7 Ekonomi Terbesar Dunia Tahun 2030

yonsei2

Pada hari Rabu tanggal 18 Maret 2015, Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio didampingi oleh Wakil Kepala Perwakilan dan Koordinator Fungsi Pensosbud menerima delegasi dari Universitas Yonsei, di Wisma Duta KBRI Seoul. Delegasi yang dipimpin oleh Prof. Lee Doowon yang merupakan guru besar Fakultas Ekonomi, dari salah satu universitas terbaik di Korea Selatan tersebut, adalah kelas eksekutif yang dibuka melalui program Institute of Continuing Education for the Future (ICEF), Yonsei University. Program diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari CEO dan para senior eksekutif perusahaan-perusahaan Korea Selatan.

Salah satu program dari kelas eksekutif ini adalah berkunjung ke kedutaan besar-kedutaan besar asing untuk belajar dan mengetahui lebih jauh tentang negara tersebut khususnya mengenai perekonomian dan budaya negara terkait. KBRI Seoul menerima tawaran Universitas Yonsei untuk menjadi salah satu tuan rumah program ini karena melihat peluang yang baik sebagai media untuk melaksanakan diplomasi ekonomi dan sekaligus budaya kepada masyarakat Korea Selatan.

Pada kesempatan tersebut, program dimulai dengan mengajak para peserta untuk melihat beberapa lukisan para pelukis terkenal Indonesia dan Korea selatan yang ada di Wisma Duta. Selanjutnya, sambil mencicipi makan malam hidangan khas Indonesia, Dubes RI memaparkan kepada peserta mengenai Indonesia khususnya perekonomian serta kekayaan alam dan budaya Indonesia. Disela-sela paparan peserta juga disajikan video-video mengenai kekayaan alam, budaya, tempat-tempat pariwisata dan juga video tentang alat musik Indonesia serta lagu Indonesia yang ditampilkan di arena Internasional.

Pada paparan mengenai ekonomi, Dubes RI menyampaikan bahwa Indonesia ditargetkan pada tahun 2025 akan menjadi negara Industri. Dimana jika pada tahun 2011, Indonesia berada pada urutan ke 16 ekonomi dunia maka ditargetkan pada tahun 2030 Indonesia akan berada pada urutan ke 7 ekonomi terbesar di dunia. Selanjutnya pada kesempatan tersebut diinfokan juga mengenai kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia baik itu tentang bunga Raflessia Arnoldii, Komodo, burung Cendrawasih dan juga tentang Batik Indonesia serta kekayaan alam dan budaya lainnya.

Para peserta banyak yang belum tahu kalau Indonesia sedemikian luas dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan terdapat 60 juta pemakai Facebook di Indonesia. Selain itu banyak dari mereka cukup terkejut ketika mendengar presentasi dan video mengenai kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia baik itu tumbuhan, binatang maupun keindahan alam Indonesia.

Dalam diskusi setelah presentasi dan pemutaran video, para peserta tampak antusias dan baru sadar akan besarnya Indonesia dan potensi yang dimiliki. Hampir semua dari mereka sepakat akan berkunjung ke Indonesia untuk melihat peluang-peluang usaha sekaligus mengunjungi tempat-tempat wisata.

Temui Para Investor, Presiden Jokowi Tekankan Upaya Pembangunan Kepercayaan

Jokowi10

Di sela-sela waktu kunjungan menghadiri Commemorative Summit ASEAN-ROK 2014 di Busan, Presiden Jokowi aktif melakukan pertemuan dengan banyak CEO perusahaan papan atas Korsel seperti Lotte, Hyosung, POSCO, SK, BK Energy dan Hanwa. Selain menyampaikan sejumlah peluang usaha di Indonesia seperti rencana berbagai proyek infrastruktur, Presiden juga aktif mendengarkan berbagai permasalahan yang dihadapi para investor Korea Selatan di Indonesia seperti masalah listrik, pembebasan lahan, dan ijin usaha.

Langkah tersebut dimaksudkan untuk "trust building" yakni membangun kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Dengan semakin kompetitifnya negara-negara dalam menarik investasi asing, kepercayaan menjadi faktor kunci yang harus dibangun dan dijaga. Sejalan dengan itu, konsistensi pemerintah dalam kebijakan dan regulasi yang pro bisnis sangat penting. Presiden Jokowi mengatakan investor mulai percaya kepada pemerintah Indonesia.

Presiden menegaskan bahwa pemerintah RI sangat serius dalam menangani hambatan yang dihadapi para investor asing. Diantaranya penyederhanaan perijinan usaha hingga proses pembebasan tanah yang mudah Masuknya investor asing akan turut menggerakkkan roda perekonomian termasuk usaha kecil dan menengah akibat "multiplying effect" investasi dan membuat ekonomi Indonesia bangkit dan maju. Ditekankan pula komitmen Pemerintah untuk bekerja secara cepat karena waktu yang terbatas.

Presiden menyampaikan Indonesia saat ini membutuhkan investor antar lain dibidang inustri kimia, baja dan energy. Selain itu didorong agar investor berinvestasi di luar Jawa sehingga ekonomi bisa tumbuh merata.

Presiden Jokowi Mendapatkan Beberapa Hasil Penting saat ke Korea Selatan

jokowibandara

 

Presiden RI , Jokowi telah mendapatkan beberapa hasil penting setelah berkunjung selama 3 hari ke Korsel, dari tanggal 10 – 12 Desember 2014.

Dalam  kunjungannya kali ini Presiden Jokowi telah menerima tawaran dari presiden Korsel, Park Geun Hye untuk memperkuat kerjasama dalam industry pertahanan. Selain itu dalam kunjungan ke     Daewoo Ship Building Marine Enginering (DSME), Presiden Jokowi telah menjalin kerjasama untuk pembuatan kapal selam. Dalam  pembelian 3 Kapal Selam ini, 2 akan dibuat di Korsel dan 1 akan dibuat di Indonesia. Dengan demikian pihak Korea akan melakukan transfer teknologi kepada Indonesia.

Presiden Jokowi  telah melakukan  pertemuan untuk menjajaki kemungkinan peningkatan kerjasama perdagangan dan investasi dengan perusahaan-perusahaan besar Korsel seperti Lotte, Posco, Hanwa, Hyosung, SK E & S dan BK energy. Selain itu juga membahas permasalahan yang dihadapi dalam investasi mereka di Indonesia.

Presiden RI juga mengadakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Korea. Pada pertemuan tersebut Presiden RI mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat Indonesia dimana peserta yang datang membludak memenuhi ruang pertemuan. Mereka datang dari berbagai kota dengan berbagai latar belakang, diantaranya para pelajar, TKI, mix married dan barisan relawan Jokowi. Sebagai informasi jumlah WNI di Korea saat ini mencapai 39.213 orang dan jumlah pelajar 1300 orang.

Dalam acara tersebut Presiden dan Ibu negara didamping oleh Dubes RI dan Ibu. Sebagai pengantar dialog dengan Presiden, Duta Besar RI menyampaikan antara lain  bahwa acara ini merupakan acara pertama presiden RI bertemu dengan masyarakat Indonesia di Korsel. selanjutnya disampaikan juga bahwa  banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor manufaktur, konstruksi dan sebagainya. Orang Indonesia yang bekerja disini umumnya dianggap lebih baik dan lebih unggul. Disamping itu Duta Besar menyampaian berita duka mengenai kecelakaan kapal Oryong 501 di laut Bering tanggal 1 Desember 2014 yang didalamnya terdapat 35 ABK. Insiden tersebut banyak memakan korban jiwa. Duta Besar selanjutnya mengajak para hadirin untuk mengheningkan cipta.

Selanjutnya Presiden pada kesempatan tersebut membuka dialog dengan masyarakat Indonesia untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi. Salah satu masalah yang disampaikan adalah mengenai pengajuan kewarganegaraan ganda untuk keluarga yang mix-married. Pada kesempatan tersebut Presiden juga menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang besar oleh sebab itu bangsa indonesia tidak boleh minder dan merasa rendah diri.

Pada hari Jumat tanggal 12 Desember 2014, Presiden Jokowi beserta rombongan bertolak ke Indonesia dari Gimhae Airbase dengan diantar oleh Duta Besar RI dan Atase Pertahanan beserta istri.

Presiden Melakukan Wawancara dengan Dua Harian Terkemuka di Korea Selatan

 

wawancarajokowibusan

Pada tanggal 11 Desember 2014  berlangsung wawancara Presiden Joko Widodo dengan Maeil Business Newspaper Korea dan Chosun Il-Bo bertempat di Grand Haeundae Hotel Busan di sela-sela rangkaian acara 2014 ASEAN-Republic of Korea Commemorative Summit.

Pada wawancara pertama dengan Maeil Bussines Daily, hal pokok yang menjadi pembahasan dalam wawancara ini adalah adanya respon masyarakat dalam bentuk demonstrasi pasca kenaikan harga BBM yang merupakan akibat dari kebijakan pemerintah dalam melakukan pengalihan subsidi BBM.

 “Yang demonstrasi hanya sedikit, tidak banyak, sangat sedikit”, tanggap Presiden Joko Widodo secara mantap dan tegas. Presiden Joko Widodo juga menambahkan pengalihan subsidi BBM ini dari sektor konsumsi pada sektor produktif seperti intensifikasi benih, pupuk, irigasi dan bendungan untuk petani serta mesin kapal untuk nelayan.

Pemerintah tidak ingin pada setiap harinya, rakyat Indonesia hanya membakar bensin dan hilang. Hal ini dianggap sebuah pemborosan. Sehingga, ke depannya, juga akan terdapat pengembangan usaha mikro di desa. Secara makro, pembangunan infrastruktur negara berupa pelabuhan, rel kereta api, jalan tol dan airport.

Dengan penjelasan yang telah disebutkan sebelumnya, Presiden menyampaikan masyarakat mulai bisa menerima dan tidak ada demonstrasi dari masyarakat.  Dalam menanggapi permasalahan masyarakat terkait subsidi BBM. Pemerintahan Joko Widodo juga menegaskan strategi down to earth, Presiden bersama pejabat pemerintah lainnya harus pergi ke rakyat, berbicara dengan rakyat, memberikan penjelasan kepada rakyat secara langsung tidak hanya bertempat di kantor.

Program pasca pengalihan subsidi BBM yang siap dijalankan pemerintah adalah cash transfer kepada 15 juta kepala keluarga miskin, 24 juta Kartu Indonesia Pintar untuk pelajar yang kurang mampu serta 78 juta Kartu Indonesia Sehat untuk program kesehatan masyarakat yang kurang mampu.

Di akhir wawancaranya, wartawan harian ini bertanya kepada Bapak Joko Widodo terkait status semenanjung Korea, di mana sedang hangat dibicarakan mengenai Korea Selatan ingin membuka pintu perdamaian dengan Korea Utara.

“Kami ingin ada komunikasi dan dialog yang baik antara Korea Selatan dan Korea Utara agar lebih damai dan rukun, karena kami juga senang jika kawasan ini stabil.” ujar Jokowi.

Dalam wawancara ini, Presiden didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi.

Dalam wawancara kedua Presiden Joko Widodo dengan Harian Chosun Il-Bo, wartawan bertanya sisi pribadi Jokowi sebagai pemimpin serta Bapak Presiden memberikan sharing tentang perkembangan ekonomi Indonesia yang signifikan.

“Komunikasi dengan rakyat, itulah alasan saya menuju ke bawah, bertemu dengan rakyat, untuk tahu apa yang dibutuhkan, serta mendengar apa yang diinginkan oleh rakyat,” jelas Jokowi terkait arti pemimpin.

Jokowi juga menambahkan pemimpin perlu memiliki kemampuan membawa pesan dan memberikan perhatian pada rakyat. “Dengan mengetahui permasalahan rakyat, akan menjadi sangat mudah untuk membuat kebijakan dan keputusan, serta membuat dan memperkenalkan program,” tambah Jokowi.

Hobi Presiden Joko Widodo yang senang mendengarkan musik rock juga menjadi perhatian sendiri oleh media terbesar se-Korea ini.  Mereka menilai Jokowi memiliki kepribadian yang soft, charismatic,  humble. Hal ini sangat berbeda dengan musik rock yang cukup keras.  

Presiden menjelaskan alat musik drum yang paling memberikan pengaruh pada beliau. Semua music heavy metal dan rock music, mampu memberikan energi tambahan untuk dirinya. Jokowi juga menyebutkan Lamb of God, Metallica, Scorpion dan Queen sebagai band favoritnya.  

Ketika diminta memainkan dan menyanyikan, secara halus Jokowi menjawab, “Saya hanya senang mendengarkan, bukan memainkannya.” Presiden berpendapat lirik dari lagu-lagu tersebut mengandung pesan lingkungan, anti-korupsi, perang, dan narkoba. Hal ini menjadi sangat baik untuk semua generasi muda Indonesia.

Harian ini juga menanyakan pandangan Presiden Jokowi tentang Korea, mengingat beliau sudah pernah mengunjungi Korea sebelumnya. Di mata seorang Jokowi yang telah mengunjungi Andong Dance Festival 7 tahun yang lalu, serta mengunjungi DSME pagi tadi, Korea memiliki kombinasi yang apik antara budaya dan high-technology. Budaya dan kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan di Korea Selatan.

Di akhir wawancara, Presiden Jokowi memberikan sharing terkait perkembangan ekonomi di Indonesia. Dalam pernyataannya, Presiden menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah serta dukungan demokrasi yang stabil di tengah populasi penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

Dalam wawancara ini, Presiden diminta untuk memperkenalkan salam tiga jari dan menjelaskan makna persatuan Indonesia yang terkandung di dalamnya.

 

 

Pertemuan Ramah Tamah Presiden Joko Widodo dengan Masyarakat Indonesia di Korea

jokowiwnibusan

 

Di tengah padatnya rangkaian acara ASEAN-ROK Commemorative Summit serta sejumlah pertemuan bilateral, Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Hj. Iriana Widodo didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan Bapak John A. Prasetio dan istri, serta sejumlah menteri kabinet kerja, menyempatkan diri untuk memenuhi undangan WNI di Korea dalam acara “Meet and Greet with President of Republic of Indonesia, Joko Widodo”. Acara ini dipersiapkan oleh para pelajar Indonesia di Kyungsung University dengan berkoordinasi bersama KBRI, Perpika, dan lembaga kemasyarakatan lainnya.

Acara berlangsung di President Hall Kyungsung University pada malam hari pasca Presiden Jokowi menerima welcoming dinner dari Korea dalam rangkaian program ASEAN-ROK Commemorative Summit. Kedatangan presiden disambut oleh Rektor beserta Dekan-Dekan Kyungsung University, serta perwakilan dari tiap elemen masyarakat Indonesia di Korea Selatan. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 350 WNI berlangsung lancar, disertai dengan berbagai tawa dan candaan khas ala Pak Presiden Jokowi.

Presiden meyakinkan WNI di Korea Selatan bahwa Indonesia merupakan Negara yang besar dan tidak bisa dianggap sebelah mata oleh Negara lain. Pada kesempatan pertama, Presiden memberikan masukan dari para pelajar Indonesia di Korea Selatan yang tergabung dalam Perpika terkait adanya sistem khusus yang mampu memberikan data kongkret mengenai pengalaman pelajar yang secara aplikatif akan mampu dimanfaatkan kembali dalam pembangunan bangsa. Selanjutnya, Presiden menekankan pentingnya reformasi BLK (Balai Latihan Kerja) untuk para TKI yang kembali dari perantauan agar dapat menjadi wirausaha-wirausaha yang mandiri. Menurutnya BLK saat ini sudah tidak bisa menjawab permasalahan dan tantangan kekinian. Tidak lupa juga, Presiden menerima aspirasi dari kelompok warga multi-kultur untuk diberlakukannya kebijakan dwikewarganegaraan bagi WNI yang menikah dengan warga Korea Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, sebagai acara penutup Presiden Jokowi menyempatkan untuk berfoto bersama dengan masyarakat Indonesia di Korea Selatan.

KUNJUNGAN PRESIDEN JOKOWI KE KOREA SELATAN

jokowidodopark

 

Pada tanggal 10 – 12 Desember 2014, Presiden Indonesia telah berkunjung ke Korea Selatan dalam rangka menghadiri ASEAN – ROK Commemorative Summit  tahun 2014 yang diselenggarakan di kota Busan kota terbesar kedua di Korea Selatan setelah Ibukota Seoul. Pertemuan puncak para pemimpin ASEAN dan ROK ini bisa dikatakan istimewa, selain diadakan hanya 5 tahun sekali juga menandai 25 tahun hubungan ASEAN-ROK.

Banyak kemajuan-kemajuan dan capaian penting selama kurun waktu tersebut termasuk diantaranya adalah capaian dalam rangka implementasi Deklarasi Kemitraan Kerjasama Komprehensif . Hubungan  ASEAN-ROK yang semakin dalam dan luas. ASEAN dan ROK sepakat mendukung upaya-upaya pembangunan Komunitas ASEAN dan berkontribusi dalam pencapaian visi pasca 2015 ASEAN.

Selain itu Pertemuan Puncak ASEAN_ROK meletakkan arah hubungan dan kerjasama ke depan. Dalam hal ini antara lain, dicatat penegasan kembali promosi peningkatan dialog kemitraan ASEAN-ROK untuk kemitraan strategis yang bermakna, menguntungkan dan bersahabat, terus mendorong pendirian Komunitas ASEAN, meningkatkan konektifitas, mengurangi gap pembangunan dan memperkuat ASEAN Sekretariat dalam mewujudkan ASEAN yang didasarkan pada aturan, berpusat pada masyarakat, secara ekonomi terpadu, kondusif secara politik dan bertanggung jawab secara sosial. Ditegaskan pula dukungan terhadap ASEAN-Centrality dalam perkembangan arsitektur kawasan menuju keamanan,

Dalam kunjungan tersebut Presiden Joko Widodo telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Park Geun Hye pada tanggal 11 Desember 2014. Presiden Park menyampaikan ucapan belasungkawa yang tulus keluarga korban  kepada Presiden RI dan atas insiden tenggelamnya kapal penangkap ikan Korea di laut Bering pada tanggal 1 Desember 2014 yang menelan banyak korban jiwa ABK Indonesia. Presiden Park menyampaikan bahwa Indonesia adalah mitra penting kerjasama dan mitra dagang kunci bagi ROK. Kedua negara telah memperdalam  kemitraan strategis bilateral dengan kerjasama aktif pada industry pertahanan dan berharap kerjasama bilateral akan terus berkembang. Sementara itu Presiden Joko Widodo selain berharap kerjasama bilateral lebih meningkat juga berharap kedua Menlu dapat segera menyelenggarakan pertemuan untuk menindaklanjuti pertemuan puncak kedua negara.

Dubes RI Menyampaikan Kuliah Umum di KIST

KIST

Pada hari Jumat, tanggal 28 November 2014, Duta Besar RI menyampaikan kuliah umum di Korea Institute of Science and Technology (KIST), lembaga penelitian pemerintah terkenal di Korea Selatan. Kuliah umum ini dilakukan dihadapan para mahasiswa S2 dan S3 yang mengikuti program the International R&D Academy (IRDA) program yang diselenggarakan oleh KIST. Di mana tahun ini program ini diikuti oleh 103 mahasiswa dari 18 negara.

Pada kuliah umum yang dihadiri oleh petinggi dari KIST dan mahasiswa dari berbagai negara tersebut, Duta Besar RI menyampaikan mengenai Indonesia dan transformasinya dalam menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat. Pada kesempatan tersebut Duta Besar menyampai mengenai kondisi Indonesia dimana Indonesia saat ini merupakan salah satu emerging power dan peran Indonesia di kawasan regional dan dengan sesama negara middle power.

Selanjutnya pada kuliah yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, disampaikan mengenai fakta-fakta tentang Indonesia dan kondisi perkembangan ekonomi Indonesia. Salah satu hal yang menarik disampaikan bahwa menurut laporan ADB pada tahun 2050 di Asia tidak ada negara miskin, hampir semua negara memiliki standar hidup yang hampir sama dengan negara Eropa dan USA. Namun hal ini tentu saja membutuhkan kerja keras, inovasi, perdamaian, stabilitas dan kerjasama antar negara.

Selain itu juga disampaikan tentang hasil penelitian dari Mckinsey yang menyatakan bahwa tahun 2011 ekonomi Indonesia berada pada urutan 16 dunia dan diproyeksikan pada tahun 2030 akan berada pada peringkat 7 dunia dengan kelas menengah yang meningkat dari 45 juta menjadi 135 juta jiwa. Sebagai penutup Dubes RI menguraikan tentang Indonesia saat ini dibawah pemerintahan baru, Presiden Jokowi serta program-program prioritas yang diusung.

Duta Besar RI menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Terkemuka Korea Selatan

DubesSNU

Pada hari Rabu tanggal 26 November 2014, Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio menyampaikan kuliah umum di Seoul Nasional University (SNU) Korea Selatan. Kuliah Umum yang berjudul "The Transformation of Indonesia in a Rapidly Changing World" ini dilakukan dihadapan para professor, dosen, mantan duta besar, pengusaha dan mahasiswa SNU.

Pada kuliah umum yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, Duta Besar RI menyampaikan secara garis besar tentang Indonesia as Emerging Power. Pemaparan dimulai dari jaman Presiden Suharto dan saat Indonesia terkena krisis yang hebat pada tahun 1998 yang kemudian berubah menjadi krisis multi dimensi dimana rupiah mengalamai depresiasi sampai 80% lebih. Pada awal periode transisi merupakan tahun yang berat bagi Indonesia sampai tahun 2003 di mana pertanyaan pada saat itu bukan apakah Indonesia akan pecah tetapi kapan Indonesia akan pecah dan akan menjadi beberapa negara.

Setelah beberapa kali mengalami pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Suharto kepada B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati, pada tahun 2004, Indonesia berhasil melaksanakan untuk pertama kalinya pemilihan presiden langsung dimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai Presiden RI ke 6. Mulai saat itu Indonesia secara perlahan mulai bangkit dan berbenah diri. Sehingga sampai pada tahun 2014, selama sepuluh tahun terakhir pertumbuhan Indonesia rata-rata sebesar 5,8 % yang merupakan kedua tertinggi diantara negara-negara G20 setelah RRC. Di beberapa surat kabar internasional Indonesia dianggap sebagai Macan Asia yang tengah bangkit kembali.

Kemudian pemaparan dilanjutkan mengenai peran Indonesia sebagai Regional Actor dan Middle Power Nation, hal ini merujuk Indonesia sebagai anggota MIKTA bersama dengan Meksiko, Korea Selatan, Turki dan Australia. Selanjutnya Dubes memaparkan mengenai Indonesia Fact and Figure dan terakhir mengenai Indonesian Economy in the Asian Century yaitu gambaran kondisi ekonomi terkini Indonesia.

Sebagai penutup Dubes RI menyampaikan mengenai pergantian kepemimpinan nasional Indonesia pada tahun ini yang berjalan mulus. Saat in presiden Jokowi dalam kepemimpinannya selama lima tahun yang akan datang mempunyai target-target antara lain pendapatan perkapita RI menjadi 2 kali lipat yaitu US $ 8.000, kelas menengah RI tumbuh menjadi 100 juta penduduk, pertumbuhan rata-rata 6 – 7 % dan melakukan revolusi mental melalui positive mindset dan perubahan etos kerja. (KBRI Seoul)

Kunjungan Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono ke Korea Selatan dalam rangka Serah Terima Ketua GGGI

Sby04

Pada tanggal 15 November 2014, Presiden ke 6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Korea Selatan. Kunjungan yang dilakukan selama 5 hari tersebut adalah untuk menghadiri sidang umum GGGI sekaligus serah terima beliau sebagai Ketua GGGI periode 2014 -2016  menggantikan ketua GGGI sebelumnya, Lars Lokke Rasmussen, mantan PM Denmark.

Di forum tersebut, SBY menjabat dua posisi penting. Selain terpilih sebagai Chair of the Council, SBY juga ditunjuk sebagai President of Assembly. GGGI adalah organisasi internasional yang berpusat di Seoul, Korea Selatan. Organisasi ini mengkampanyekan paradigma pertumbuhan yang ditandai dengan keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan hidup.

Dalam kunjungan ini,  SBY didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono beserta rombongan yang antara lain adalah mantan Wakil Menteri luar Negeri RI, Dino Patti Djalal.

Selama kunjungan yang rencananya sampai tanggal 19 November 2014, selain mengikuti acara dari GGGI,  SBY akan melakukan pertemuan dengan para CEO-CEO dari perusahaan-perusahaan terkenal di Korea Selatan di Wisma Duta KBRI Seoul. Beliau juga akan memberikan ceramah di salah satu universitas terkenal di Korea Selatan, yaitu Universitas Yonsei.

Selanjutnya beliau juga akan bertemu dengan mantan Presiden Korea Selatan, Lee Myung Bak. Pada hari terakhir kunjungan beliau ke Korea Selatan yaitu hari Rabu tanggal 19 November 2014, Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye akan menerima beliau dan menganugerahkan bintang penghargaan tertinggi Korea Selatan 'Grand Order of Mugunghwa' di Istana Presiden, Blue House. (KBRI Seoul)

Duta Besar RI, Ceramah di Universitas Kyungsung

kyungsung11

Pada hari Senin tanggal 8 November 2014, bertempat di gedung serbaguna Universitas Kyungsung, Busan, Korea Selatan, Duta Besar RI, John A. Prasetio menyampaikan ceramah kuliah umum yang berjudul  “The Transformation of Indonesia in a Rapidly Changing World”. Hadir pada kuliah umum tersebut sekitar 250 orang yang terdiri dari para professor, dosen dan mahasiswa.

Kuliah umum tersebut sangat ditunggu-tunggu oleh kalangan akademisi dan mahasiswa universitas Kyungsung, hal ini terbukti dengan penuhnya ruangan pertemuan tersebut. Kuliah tersebut juga diliput oleh beberapa harian di sekitar Busan.

Pada kesempatan tersebut Duta Besar RI menyampaikan berbagai hal mengenai Indonesia sebagai emerging power dan Indonesia sebagai middle power, salah satunya dengan bergabungnya Indonesia ke MIKTA. Selanjutnya beliau juga menyampaikan berbagai info mengenai kondisi terkini Indonesia dan potensi-potensi yang dimiliki.

Sebagai penutup disampaikan bahwa, dibawah pemerintahan yang baru, banyak hal-hal yang menjanjikan yang dapat dilakukan dan dicapai mengingat track record dari Presiden Jokowi yang sangat baik. Baik itu ketika menjabat Walikota maupun ketika menjabat Gubernur. Dari beberapa majalah international seperti Time Magazine menggambarkan Jokowi sebagai “A New Hope”, jurnal dari barat menyampaikan bahwa “The Asian Tiger is Back”. Selain itu pemerintah Indonesia berharap dapat tumbuh 6-7% di tahun-tahun mendatang.

Acara ditutup dengan tanya jawab berkisar mengenai pemerintahan yang baru. Acara berjalan dengan lancar dan berlangsung sekitar 1 jam.

Joko Widodo Resmi Menjadi Presiden Indonesia Yang Ketujuh

jokowi 6

Pada tanggal 20 Oktober 2014 jam 10 pagi WIB, Joko Widodo atau yang lebih dikenal sebagai Jokowi beserta Jusuf Kalla telah resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke 7.

Pelantikan dilaksanakan di Gedung MPR/DPR dan disaksikan oleh Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Selain itu, hadir pula Prabowo Subianto, calon presiden dalam Pemilihan Presiden yang lalu.

Beberapa tamu negara juga hadir dalam pelantikan tersebut diantaranya Perdana Menteri Australia Tony Abbot, Sultan Brunei dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry.

Adapun tamu dari Korea Selatan adalah sebagai Utusan Khusus Presiden Park Geun Hye adalah Kim Tae Hwan didampingi oleh Ham Jin Kyu, keduanya dari partai Saenuri.

Dalam kesempatan yang sama, setelah dinyatakan resmi menjadi Presiden Republik Indonesia oleh Ketua MPR, Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan untuk pertama kalinya yang pada intinya mengajak Bangsa Indonesia untuk bekerja keras demi majunya negara dan mengembalikan semangat sebagai bangsa maritim. Dalam pidatonya ditekankan pula untuk menjalin hubungan yang baik dengan negara lain berdasarkan asas bebas aktif demi menjaga perdamaian dunia.

Setelah pengambilan sumpah jabatan, Presiden Jokowi melanjutkan kegiatannya dengan mengikuti acara pisah sambut di Istana Negara. Rakyat menyambut gembira pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden RI yang ke 7 dengan turun ke jalan untuk menyelenggarakan pesta budaya di jalan utama dan syukuran nasional di Lapangan Monas.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014