Prestasi anak bangsa

purba

Master dan doktor hanya 3,5 tahun

Dr. Purba Purnama minggu lalu berkunjung ke KBRI Seoul untuk bersilaturahmi dengan Duta Besar RI Seoul John A Prasetio dan staf. Peneliti tamu pada Korea Institute of Science and Technology (KIST) ini menceritakan pengalamannya menyelesaikan program Master dan Doktor di KIST hanya dalam tempo 3,5 tahun. Prestasinya ini menempatkannya sebagai peraih gelar master dan doktor tercepat di Korsel yang lazimnya ditempuh dalam waktu 5 tahun.

"Setelah kuliah selama setahun saya merasa sanggup untuk mengambil program terintegrasi S2 dan S3 selama 4 tahun, dan saya bertekad untuk menyelesaikannya kurang dari 4 tahun" ujar pria berusia 30 tahun dan ayah seorang anak ini. Dosen pembimbingnya pun mengatakan bahwa ia bisa lulus kapanpun asal membuat banyak publikasi paper penelitian di jurnal internasional. Syarat ini terlihat mudah, apalagi sesungguhnya diperlukan hanya satu publikasi di jurnal internasional untuk menyelesaikan gelar doktor. Namun biasanya dosen pembimbing meminta lebih dari satu publikasi. Bagi orang yang sudah tahu bagaimana sulitnya bagi suatu paper hasil penelitian untuk dipublikasikan di jurnial ilmiah internasional syaratnya ini terasa cukup berat.

"Namun syarat yang diajukan oleh dosen pembimbing merupakan tantangan bagi saya" ujar Purba. Ia pun mulai bergelut dengan segala peralatan lab tanpa lelah, tidak jarang pulang hingga dini hari dan beberapa kali mengalami cedera pada tangan akibat tergores kaca reaktor. Waktu cepat berlalu dan 10 bulan kemudian Purba telah mempublikasikan sejumlah paper ilmiah hasil penelitiannya mengenai polimer alami yang dikenal dengan Poly Lactic Acid (PLA). Polimer ini dibuat dari sumber yang terbarukan dan berasal dari proses esterifikasi asam laktat yang diperoleh dengan cara fermentasi oleh bakteri menggunakan substrat pati atau gula sederhana. Poly Lactic Acid juga memiliki sifat tahan panas, kuat, dan merupakan polimer yang elastis. Plastik dari polimer alami ini bersifat ramah lingkungan dan dapat terurai dalam waktu singkat. Sedangkan plastik umumnya yang terbuat dari bahan minyak bumi akan terurai secara alami dalam waktu lebih dari 500 tahun.

"Polimer ini bukanlah penemuan baru karena sudah ditemukan sejak tahun 1986" jelas Purba. Lebih lanjut Purba mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah penyempurnaan kualitas polimer melalui pengembangan material polilaktida dengan proses stereocomplex poli L-lactida dan poli D-lactida-co-caprolactone. Menurut penelitiannya penambahan sedikit caprolactone secara acak pada poly D-lactide ternyata dapat mempertahankan kemampuan pembentukan kembali struktur kristal stereocomplex walaupun sudah dilelehkan. "Hal ini berbeda dengan stereocomplex murni tanpa penambahan caprolactone yang menunjukan terjadinya pemisahan antara Kristal stereocomplex dan Kristal poly L-lactida dan poli D-laktida" demikian ungkap Purba yang cukup membingungkan orang awam.

Hingga saat kelulusannya dalam program master-doktor akhir tahun 2012, Purba telah berhasil mempublikasikan 11 paper ilmiah hasil penelitiannya di jurnal ilmiah polimer terkemuka Macromolecules milik American Chemical Society. Dua diantaranya mendapatkan paten dari Korea Selatan dan Amerika Serikat. Purba di wisuda tanggal 8 Agustus 2013 oleh KIST dengan gelar Ph.D di bidang bio-polimer. Selain itu, saat seluruh warga negara Indonesia menghadiri upacara hari kemerdekaan, Purba kembali di wisuda di kampus University of Science and Technology di Daejon Korsel tanggal 17 Agustus 2012. Pria yang selalu bernampilan sederhana inipun kemudian mulai mendapatkan tawaran untuk bekerjasama dari dunia usaha yaitu Hyundai dan SK Group.

Dalam percakapannya dengan Duta Besar RI Seoul, Purba menyatakan bahwa kualitas mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa Korea Selatan. "Sebenarnya banyak mahasiswa Indonesia lain yang brilian yang sedang kuliah di Korsel ini. Tahun ini akan ada yang diwisuda dengan menyelesaikan gelar master dan doktor kurang dari 4 tahun di KIST" kata Purba. Saat ini terdapat lebih dari 30 orang mahasiswa Indonesia di KIST. KIST adalah lembaga iptek milik pemerintah Korsel dibawah Kementerian Pendidikan dan Iptek Korea Selatan. "Hampir di setiap acara wisuda ada mahasiswa Indonesia yang tampil di panggung sebagai lulusan terbaik" kenang Purba.

Selain itu Purba juga mengungkapkan bahwa semua penelitian ilmiah di negara maju seperti Korea Selatan selalu bertujuan untuk bermanfaat bagi manusia dan tujuan komersil. Sehingga muncul banyak produk baru menggunakan bahan2 baru yang lebih baik bagi kehidupan manusia. Disamping itu para ahli yang bergelut di lab terus berpacu menemukan berbagai inovasi baru disamping karena dukungan penuh dari pemerintah, tawaran menarik dari dunia usaha pasti menanti bila temuan mereka teruji secara komersil. "Sayangnya kegiatan penelitian di Indonesia sebagian besar masih bersifat riset dasar untuk ilmu pengetahuan semata" ujar Purba. (sosbud)

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014