Dibawah Suhu Minus 10 Derajat, Hyundai dan Artha Graha Teken Joint Venture

 

Penandatanganan MOU Hyundai I

Hyundai dan Artha Graha Grup (AG Grup) menjalin kerjasama joint venture sebagai batu loncatan dalam memasuki pasar kendaraan komersial di Indonesia. Uniknya, kegiatan 12 Desember 2017 di KBRI Seoul itu dilakukan pada saat suhu ekstrem, minus 10 derajat Celcius.
 
Turut hadir menyaksiksn pendandatanganan tersebut, Kepala BEKRAF Triawan Munaf, Duta Besar Indonesia Umar Hadi, Penanggung Jawab Komersial Bisnis Hyundai Motors Han Seong-kwon, Kepala Divisi Ekspor Hyundai Motors Lee Inchul, perwakilan dari AG Grup Iki Wibowo serta beberapa pejabat teras Korsel.

Duta Besar Indonesia, Umar Hadi menyatakan bahwa pembentukan Joint Venture antara perusahaan Indonesia dan korea Selatan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama ekonomi kedua negara. Penandatanganan ini merupakan salah satu implementasi dari hubungan kedua bangsa yang semakin akrab.

Dengan dilakukannya Joint Venture, Hyundai Motor berharap bisa membangun jaringan penjualan dan layanan yang solid serta perakitan dan basis produksi di Indonesia, dimana pasar berkembang dengan pesat, sehingga dapat dengan cepat merespon permintaan pasar.
 
Dalam analisa Hyundai, banyaknya proyek di Indonesia terutama di sektor tambang menjadikan permintaan akan kendaraan komersial semakin meningkat. Diperkirakan, kebutuhan industri kendaraan komersial di Indonesia, yang mencapai 70.000 unit tahun lalu, diperkirakan akan tumbuh menjadi 76.000 unit tahun ini dan melebihi 100.000 unit pada tahun 2020.
 
Selain itu, Joint Venture yang baru dibentuk ini dimaksudkan sebagai basis ekspor strategis untuk negara-negara lain di sekitar Indonesia dan akan memulai eksplorasi pasar baru secara penuh. Untuk itu, Hyundai Motor dan AG Grup akan membentuk perusahaan Joint Venture khusus dalam kendaraan komersial mulai bulan Mei tahun depan.
 
Untuk meminimalkan biaya investasi dan risiko, produksi dilakukan dengan metode produksi setengah jadi (CKD, Complete Knock Down). Mesin dan komponen utama direncanakan diproduksi di pabrik dalam negeri. Melalui pengiriman yang efisien, volume ekspor akan meningkat dan tingkat operasi pabrik perakitan lokal pun akan meningkat.

“Perusahaan serta pabrik perakitan Hyundai Truk dan Bus di tahap awal akan mampu melahirkan Truk XCIENT dan ALL New MIGHTY sebanyak 2.000 unit per tahun. Adalah kebanggan bagi kita bangsa Indonesia untuk bisa bekerja sama dengan Hyundai yang merupakan industri otomotif terbesar ke-5 di dunia. Untuk tahap awal, pabrik ini diperkirakan sekitar 500 tenaga kerja,” kata Iki
Wibowo.

Persiapan yang dilakukan Artha Graha sudah matang. Direncanakan, lokasi Pabrik Hyundai Commercial Car di Indonesia akan berlokasi di Kawasan Industry Artha Induatrial Hill (AIH) di Karawang Jawa Barat.

Kepala Divisi Ekspor Hyundai Motors Lee Inchul menyatakan bahwa pihak Hyundai Motors akan secara aktif mendukung usaha Joint Venture di Indonesia untuk menjadi jembatan bagi kerjasama ekonomi bilateral. Ia juga menyatakan bahwa pasar Indonesia akan dijadikan sebagai gerbang pembuka untuk kemudian masuk ke negara sekitar. ()

Penandatanganan MOU Hyundai II

 

Pengakuan Korea Selatan atas Prestasi Indonesia

DSC 2866

Kemajuan Indonesia sering tidak terlihat dari dalam. Namun, masyarakat Korea Selatan memberikan pengakuannya.

Nuansa indahnya Indonesia terasa sejak para tamu menginjakkan kaki di lantai dua Lotte Hotel, Seoul. Dengan disambut oleh para penerima tamu yang berkebaya dan alunan apik gamelan Jawa, para tamu dihantar masuk ke dalam Christal Ballroom yang telah disulap menjadi Indonesia kecil yang penuh kehangatan dan rasa kekeluargaan.

Resepsi Diplomatik yang diadakan pada Kamis (28/9) di Lotte Hotel itu menjadi penutup rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 yang di diadakan KBRI Seoul. Kemeriahan dan suka cita malam itu tidak hanya dinikmati keluarga KBRI Seoul tetapi juga sekitar 400an tamu undangan lainnya yang berasal dari berbagai kalangan dan berbagai negara. Keberagaman juga merupakan salah satu ciri khas Indonesia. Namun, hal tersebut terbukti bukan penghalang untuk maju.

"Indonesia merupakan living proof dimana demokrasi, islam dan modernitas dapat berkembang bersama dalam harmoni," ujar Dubes Umar Hadi.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur FSS (Financial Supervisory Service) Choe Heung-sik, yang hadir sebagai guest of honour, dalam congratulary remarks-nya menyatakan bahwa di tengah pemberitaan media yang hingar bingar, Indonesia menunjukkan bahwa Bhineka Tunggal Ika bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat menggiring pada kesuksesan dan menginspirasi.

Di tengah keberagaman tersebut Indonesia telah tumbuh menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sejak dibukanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan pada tahun 1973, kerjasama antara kedua negara telah berkembang di berbagai sektor. Yoo Ki-june, anggota Parlemen korea Selatan yang juga merupakan Ketua Kelompok Persahabatan Parlementer Indonesia-Korea Selatan, menyampaikan bahwa dirinya akan terus mendorong hubungan bilateral kedua negara.

"National Assembly Republik Korea sangat menghargai hubungan bilateral yang telah dibangun hingga saat ini, ke depan saya akan terus mendorong hubungan persahatan Indonesia-Korea Selatan dalam kapasitas yang saya miliki," ujar Yoo.

Chairman CJ Corporation Shon Kyung-shik yang juga hadir dan menyampaikan congratulary remarks-nya juga menyampaikan hal serupa. Shon berharap dapat terus bekerja sama dengan Indonesia untuk kesejahteraan bersama. CJ telah menanamkan modalnya di berbagai bidang di Indonesia diantaranya bioteknologi, makanan hewan, bioskop, logistik dan franchise.

Acara Resepsi Diplomatik KBRI Seoul juga dimeriahkan oleh beberapa penampilan apik dari seniman-seniman yang didatangkan dari Indonesia diantaranya PSM UNPAD, Balawan dan Batuan Ethnic Group dan Selemor Ate dari Lombok. Lidah para tamu juga dimanjakan oleh beberapa panganan khas Indonesia seperti bakso, rendang, pempek, sate dan es cendol. 

Karya Gerdie Wakili Indonesia dalam 2017 Seoul Photo Festival

21765002 1331695323626285 1405328397506559773 n 

Gerdie Hutomo adalah pegawai pada perusahaan obat Bintang Tujuh. Meski begitu, karyanya yang diakui publik jauh dari pekerjaanya. Hasil jepretan Gerdie ternyata mengagumkan banyak orang.

Di tingkat ASEAN, fotonya memenangkan katagori special country award pada ASEAN Tourism and Cultural Photo Contest 2017. Pada ajang yang sama photonya yang lain juga menyabet juara tiga. Jadi sekali dayung, dua kemenangan diraih. Masih banyak lagi kemenangan yang pernah diraihnya.

 

Itulah sebabnya, KBRI Seoul memamerkan beberapa karyanya pada 2017 Seoul Photo Festival yang diikuti lebih dari 15 negara. Gerdie sendiri hadir di Seoul sambil mengikuti konferensi Global Tourism Photo Conference.

 

"Saya senang bisa datang ke Seoul atas undangan KBRI. Semoga keikutsertaan karya saya memberikan dampak positif bagi tanah air tercinta," ujarnya.

Untuk memaksimalkan kunjungan ke Seoul, pada 24 September 2017, Gerdie akan hunting foto bersama WNI di Korea yang tergabung dalam kelompok "Odengan". Mereka yang mayoritas kaum pekerja itu akan mendapatkan coaching tentang teori terbaik dalam mengambil gambar dengan obyek-obyek tertentu. 

 

Ary Sulist, selaku yang dituakan di "Odengan" sangat antusias mengajak teman-temannya untuk belajar bersama Gerdie. Menurutnya, apa yang dilakukan KBRI Seoul merupakan pemberdayaan yang sangat ditunggu-tunggu para "photo lovers" asal Indonesia yang sedang bermukim di negeri ginseng. ()

 

RI Gaet Investor Infrastruktur asal Korsel

21617613 1331304720332012 5277916658761567051 n

Niat Pemerintah untuk membangun infrastruktur tidak main-main. Untuk menuntaskan program yang telah dicanangkan, Menteri PPN berusaha gaet investor Korea Selatan.

Demikian inti dari kegiatan Indonesia Infrastructure Investment Forum (IIIF) yang dihelat di Seoul, 20 September 2017. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas), Bambang Brodjonegoro menandaskan, Indonesia pantang surut langkah dalam meningkatkan pembangunan infrastruktur nasional.

"Infrastruktur adalah prioritas pembangunan karena merupakan bagian penting dari Nawacita. Indonesia ingin menarik investasi Korsel melalui kemitraan pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP)," ujarnya. "Sejak dulu kami percaya dengan Korsel. Jagorawi adalah proyek tol pertama di Indonesia yang dibangun oleh kontraktor Korea," imbuhnya.

Dihadapan 200 calon investor negeri ginseng, Bambang meyakinkan bahwa Indonesia tetap merupakan negara tujuan ideal bagi investasi. Dengan populasi sebesar 255 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Indonesia merupakan negara yang menarik bagi investor asing.

Gayung bersambut. Antusiasme hadirin terlihat jelas pada forum investasi ini. Pertanyaan-demi-pertanyaan terkait proyek infrastruktur dilontarkan. Secara lugas para peserta menggali info riil seperti prosedur pembebasan lahan; insentif-insentif yang ditawarkan Pemri; hingga peluang-peluang investasi yang bersifat non-konvensional.

Untuk menyukseskan kemitraan tersebut Bappenas menggandeng KEXIM selaku bank pendanaan proyek investasi Korsel di luar negeri. Bappenas bersama KEXIM menawarkan lebih dari 50 proyek di bidang energi, jalan tol, bandara udara dan pelabuhan. Dalam IIIF ini Bappenas mengajak mitra kerja dari Indonesia untuk bertemu langsung dengan komunitas bisnis Korsel.

Dalam kesempatan itu, Dubes Umar Hadi sempat menjelaskan logika target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang antara lain harus ditopang infrastruktur yang memadai. Adapun Wakil Presiden KEXIM menggaransi bahwa pihaknya akan mendukung pembiayaan bagi proyek infrastruktur di Indonesia.

Selain hadir di bisnis forum IIIF, Menteri PPN bertemu dengan berbagai CEO perusahaan besar Korsel yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek di bidang energi, jalur kereta api, pengolahan minyak dan jalan tol. ()

Appreciation Night bagi Penggiat Wisata

 

gambar 5

Peningkatan turis Korea Selatan ke Indonesia tidak bisa dilakukan KBRI sendiri. Peranan banyak pihak perlu digandeng dari waktu ke waktu.

Tidak mengherankan, 18 September 2017, KBRI mengadakan "malam penghargaan" bagi kalangan agen travel, perusahaan kargo dan wartawan asal Korea Selatan. Sebanyak 59 penggiat wisata hadir di Wisma Duta Seoul untuk menikmati sajian masakan yang maknyus.

Dubes Umar Hadi mengatakan bahwa dirinya sangat memiliki perhatian terhadap kalangan agen travel, kargo dan wartawan. Merekalah aktor penting dalam dunia pariwisata intersional.

"Saya mengucapkan terima kasih atas peran teman-teman semua. Jumlah turis Korea Selatan ke Indonesia masih bisa terus meningkat di tangan para penggiat wisata," ujarnya.

Malam itu juga menjadi ajang perkenalan GM Garuda Seoul yang baru, Soni Syahlan. Pria yang pernah tinggal cukup lama di Korsel ini menggarisbawahi tentang professionalisme Garuda Indonesia dalam penerbangan internasional.

gambar 1

"Garuda Indonesia saat ini makin maju dan terus berkembang dengan menerbangi banyak sudut dunia. Garuda juga mendukung pengembangan berbagai tujuan wisata baru seperti Padang," katanya.

Di akhir acara malam penghargaan itu, Visit Indonesia Tourism Officer (VITO), Daisy Park mempaparkan keragaman dan keharmonisan bangsa Indonesia. Dikatakan, mengeksplorasi Indonesia merupakan pekerjaan yang mengayikkan tanpa batas. ()

gambar 4

Indonesia Pimpin Kelompok Kerja di PTM FEALAC

fealac2

Mengawali Pertemuan Tingkat Menteri Forum for East Asia – Latin America Cooperation (FEALAC) ke-8, Indonesia memimpin kelompok kerja (pokja) perdagangan guna membahas langkah konkret optimalisasi perdagangan antara kawasan Asia TImur dan Amerika Latin.

Pertemuan tersebut antar lain telah membahas proyek-proyek yang telah dilaksanakan oleh negara-negara anggota FEALAC sejak tahun 2015, proyek usulan baru tahun 2017, serta usulan pemilihan Co-Chairs Pokja periode 2017-2019.

“FEALAC saat ini mewakili 38 persen ekonomi dunia dan 33 persen perdagangan global. FEALAC perlu memaksimalkan peluang ekonomi yang tersedia di kedua kawasan,” kata Dewi Gustina Tobing, Direktur Kerja Sama Intra Kawasan Amerika Eropa – Kementerian Luar Negeri sebagai Alternate FEALAC SOM Leader-Indonesia saat membuka pertemuan pokja tersebut di Busan, Korea Selatan tanggal 29 Agustus 2017.

Selain kelompok kerja perdagangan, investasi pariwisata dan UKM, pertemuan juga membahas isu kerja sama sosial politik dan pembangunan berkelanjutan, budaya, pemuda, gender dan olahragi, ilmu pengetahuan, teknololgi, inovasi dan pendidikan pada pokja berbeda.

Saat ini Indonesia menjabat sebagai Ketua Pokja perdagangan, investasi pariwisata dan UKM periode 2015-2017 mewakili kawasan Asia Timur, bersama dengan Honduras yang mewakili kawasan Amerika Latin.

Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-8 FEALAC dan rangkaian kegiatannya diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus – 1 September 2017 di Busan, Korea Selatan. Selaku tuan rumah, Korsel merupakan Koordinator Regional FEALAC kawasan Asia Timur bersama dengan Guatemala selaku Koordinator Regional FEALAC kawasan Amerika Latin periode 2015-2017.

FEALAC adalah satu-satunya organisasi yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Amerika Latin. FEALAC dibentuk sejak tahun 1999 dan saat ini beranggotakan 36 negara; 16 negara kawasan Asia Timur dan 20 negara kawasan Amerika Latin.

Proyek-proyek dalam kerangka kerja sama FEALAC bertujuan untuk mempererat hubungan antara kedua kawasan antara lain melalui kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, transportasi maupun people-to-people. ()

"Ambassador Award" bagi CEO dan TKI berprestasi

WhatsApp Image 2017-08-28 at 4.56.07 PM

TKI di Korsel paling mujur dari sisi perlindungan dan pendapatan. Namun peningkatan masih terus diupayakan. Itulah mengapa "Ambassador Award" diberikan.

Saat matahari pulang ke peraduannya kemarin, Dubes Umar Hadi menganugerahkan "Ambassador Award" kepada dua pimpinan perusahaan Korsel. Keduanya dinilai memberikan hak-hak lebih kepada TKI. Inilah salah satu cara KBRI Seoul melindungi warganya.

Kegiatan yang dihelat Minggu sore ini (27/08) merupakan acara tahunan KBRI Seoul yang dimulai tahun lalu, namun kali ini lebih spesial. Khusus CEO penerima penghargaan, selain harus memenuhi kriteria peningkatkan hak-hak TKI, di perusahannya juga harus tidak pernah ada TKI yang meninggal atau mengalami kecelakaan kerja.

CEO penerima anugerah kali ini adalah Kim Moon-go (Senyeong Precise Enginerinh Co.) dan Seo Bo-Sung (Daewon GSI Co.). Perusahaan pertama mempekerjakan 11 TKI dan bergerak di bidang pembuatan kompor gas dan alat rumah tangga. Perusahaan kedua memiliki 12 TKI yang berfokus pada pembuatan mesin penggilas padi. Perusahaan dimaksud sejak 2004/2005 hanya mempekerjakan tenaga kerja Indonesia.

WhatsApp Image 2017-08-28 at 4.56.07 PM1

"Jujur saja, sampai sekarang saya belum berpikir untuk mengambil tenaga kerja selain dari Indonesia. Mereka berhati hangat, rajin dan ulet," kata Kim Moon-go. "Kalau saya, selalu usahakan agar mereka (TKI) bisa beribadah pada waktunya," sahut Seo Bo-Sung diatas panggung.

Dubes Umar menggarisbawahi pentingnya Ambassador Award ini karena dapat memotivasi perusahaan lain melakukan hal yang sama bagi TKI di Korea yang jumlahnya mencapai 36 ribu orang. Kedua CEO telah terpilih melalui seleksi yang sangat ketat yang dilakukan oleh tim khusus yang terdiri dari perwakilan organisasi masyarakat bersama KBRI.

"Atas nama Pemerintah Indonesia, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada kedua sajangnim (CEO). Anda telah memperlakukan TKI dengan sangat baik. Anda adalah inspirasi bagi para CEO. Selain penghargaan, Anda juga berhak tiket liburan ke Indonesia PP," kata Dubes yang disambut dengan tepuk tangan 200 hadirin yang memenuhi ruang tamu Wisma Duta.

Di sisi lain, Dubes menyatakan prihatin atas beberapa musibah yang dialami WNI dalam dua tahun terakhir. Dikatakan, pada dasarnya, keselamatan dan kesehatan pekerja di Negeri Kimchi sudah relatif baik, namun harus terus ditingkatkan demi kesejahteraan TKI. Jadi bukan soal angka, tetapi lebih ke soal pencegahan.

"Oleh karenanya, hari ini saya nyatakan sebagai hari mulainya kampanye keselamatan dan kesehatan kerja. KBRI akan melakukan pendekatan sistematis kepada perusahaan pengguna TKI, Pemerintah Korsel dan juga para TKI. Targetnya, tidak ada lagi korban sia-sia. TKI harus sukses di Korea Selatan dan sukses jadi pengusaha saat pulang kelak," ujarnya.

Menurut Kepala Fungsi Penerangan KBRI, M Aji Surya, yang juga berbeda dari tahun lalu, kali ini Ambassador Award juga diberikan kepada 3 WNI/TKI. Hajat Febrianto dinobatkan sebagai TKI teladan, Suwardi menjadi WNI Peduli budaya dan persatuan WNI, sedangkan Eko Darmiyanti sebagai diaspora peduli TKI di Korea. Masing-masing diganjar dengan Ambassador Award dari KBRI dan tabungan 2 juta Won (Rp 23 juta) dari BNI dan BPJS Ketenagakerjaan.

Pemilihan ketiga WNI tersebut didasarkan beberapa kriteria yang diputuskan oleh perwakilan masyatakat Indonesia di negeri ginseng. Penerima anugerah dinilai bisa menjadi contoh TKI lain dan warga Indonesia di luar negeri.

"Saya berpesan kepada teman-teman disini agar memperhatikan keselamatan dalam bekerja. Jangan lupa menggunakan helm dan peralatan keselamatan lain," kata Hajat. "Kalau saya boleh menghimbau, mari kita saling membantu satu dan lainnya agar beban makin ringan," kata Suwardi.

Malam penganugerahan yang dihadiri mantan Menlu Hasan Wirajuda itu juga ditandai dengan penandatanganan pemberdayaan TKI antara BNI dan KBRI Seoul yang diwakili oleh Managing Direktur Hubungan Kelembagaan BNI, Adi Sulistyowati, dan Koordinator Fungsi Protokol Konsuler KBRI, Fuad Adriansyah.

Selain itu, 5 TKI yang berstatus mahasiswa Universitas Terbuka cabang Korea Selatan juga mendapat beasiswa dari BNI karena nilai dan kerajinannnya diatas rata-rata.()

Dong-Jin akan Produksi Tekstil untuk Sepatu Papan Atas di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-24 at 10.05.41 AM

PT Dong-Jin Textile Indonesia, perusahaan PMA 100% asal Korea Selatan, akan mulai produksi tekstil bahan sepatu 'sneakers' di Karawang, Jawa Barat, mulai awal tahun 2019. Dengan rencana investasi sekitar Rp 330 milyar, perusahaan ini tahun depan bergegas pembangunan pabriknya kawasan industri di Karawang. Nantinya pabrik tersebut akan mempekerjakan 500-an orang karyawan.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Presiden dan pemilik Dong-Jin Textile Co., LTD, Choi Woo-Chui, dalam kunjunga Dubes Umar Hadi ke kantonya di kota Busan, Korea Selatan, hari Rabu, 23 Agustus 2017. Keduanya bersama tim membahas cara-cara pengembagan usaha Dong-jin Textie di Indonesia.

Dubes Umar Hadi menyampaikan concern terhadap investasi dari Korea Selatan yang tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja juga sebagai substitusi impor yang sekaligus menambah komoditas ekspor.

"KBRI Seoul akan membantu menghubungkan perusahaan dengan lembaga-lembaga pendidikan seperti SMK dan Sekolah Tinggi Tekstil di Indonesia agar bisa mulai merekrut tenaga-tenaga terampil," kata Dubes RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi.

Pimpinan Dong-Jin menjelaskan bahwa pabriknya di Karawang akan menjadi fasilitas produksi ke-4 di luar Korea Selatan. Sebelumnya, 3 pabrik sudah dibangun dan berproduksi di Vietnam. Produk Dong-Jin adalah tekstil sintetis bahan sepatu 'sneakers' yang sebagian besar menjadi pasokan bagi merek terkenal seperti Nike dan Adidas. Tekstil produksinya dikenal berkualitas tinggi, ringan, dan nyaman di kaki (breathable). Teknologi tinggi diterapkan baik dalam desain produk maupun proses produksinya.

Pabrik yang akan didirikan di Karawang akan menerapkan standar teknologi yang sama dengan di Korea Selatan, termasuk dalam soal pengolahan limbah. Jadi aman untuk lingkungan.

Pada kesempatan kunjungan ke pabrik Dong-Jin itu, Dubes Umar diperkenalkan kepada 8 orang TKI yang bekerja di sana. Imam, 27 tahun, asal Ngawi, yang sudah bekerja hampir 2 tahun, mengatakan bahwa meskipun kerjanya berat, dia merasa senang karena gaji cukup besar, dapat kamar asrama di lokasi pabrik dan dapat makan tiga kali sehari. "Kami tidak ada keluhan apa pun Pak," kata Imam kepada Dubes Umar.

Dubes Umar Hadi berpesan agar Imam dan kawan-kawan menjaga kesehatan dan disiplin dalam hal keselamatan kerja. "Setelah bekerja di sini sesuai kontraknya, adik-adik harus bisa pulang ke kampung halaman dengan badan sehat, pengalaman kerja, dan tabungan banyak, sehingga bisa buka usaha sendiri nantinya," pesan sang Dubes.

Saat ini, terdapat sekitar 2000 perusahaan Korea Selatan berinvestasi di Indonesia. Pada saat yang sama, 36 ribu pendulang devisa Indonesia bekerja di berbagai perusahaan di negeri ginseng. ()

KBRI Akan Hadir di Setiap Sidang Disertasi

WhatsApp Image 2017-08-22 at 9.52.59 PM

Untuk pertama kali, Dubes Umar Hadi hadir dalam wisuda di Universitas Yeungnam. Inilah awal dari rencananya untuk datang pada setiap sidang disertasi WNI di Korsel.

Kedatangan Dubes kali kali ini (23/08/17) awalnya dimaksudkan untuk menghadiri wisuda doktor Gregorius Rionugroho Harvianto asal Yogyakarta. Namun pada saat yang bersamaan rupanya terdapat 3 mahasiswa Indonesia lain yang diwisuda (S2), yakni Danasesha Paradinda Putra, Rizcha Maulidiya Nurwan dan Sela Jayani.

Dubes menandaskan bahwa dalam periode kepemimpinannya, KBRI akan hadir dalam setiap sidang terbuka untuk mempertahankan disertasi. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan dukungan kepada usaha WNI dalam meraih gelar tertinggi akademis.

Dalam kunjungan ke Yeungman university ini, Dubes yang didampingi Minister Counsellor Pensosbud - Diplik, M Aji Surya, dan Sekretaris Satu Riza Wardhana, sempat bertemu dengan 47 mahasiswa Indonesia dan Presiden Universitas.

"Saya ikut gembira atas kelulusan 4 mahasiswa Indonesia dan berharap agar yang lain merasa terpacu untuk belajar dan lulus segera. Saya senang melihat wajah-wajah mahasiswa Indonesia yang tampak bagus kehidupannya. Tetaplah kompak dan bangun terus solidaritas," ujarnya.

Bersama Presiden Universitas, Sur Gil-soo, PhD, Dubes membicarakan tentang kemungkinan kerjasama dengan universitas di Indonesia dalam bentuk joint research, joint publication dan pertukaran mahasiswa serta dosen. Dubes juga berharap nantinya terdapat Indonesian corner di universitas swasta dengan rangking 15 di Korea Selatan tersebut. ()

Putri Muslimah 2017 Semarakkan HUT RI di Seoul

WhatsApp Image 2017-08-17 at 1.13.37 PM

Seperti biasanya, kali ini KBRI Seoul kembali mengadakan upacara bendera memperingati HUT RI ke-72. Cuaca yang mendung rupanya jadi berkah, memayungi para hadirin, diaspora dan Indonesianis di Korea dalam acara ini.

Persis jam 09.00 waktu setempat, atau 2 jam sebelum WIB, upacara dimulai dan bendera dikibarkan. Sebanyak 200 an warga Indonesia dan simpatisan hadir mengikuti acara dengan khidmad.

Dubes Umar Hadi menghimbau kepada seluruh WNI di Korea Selatan untuk menjaga kerukunan dan merajut persatuan. Selain itu diharapkan semua bekerja keras untuk mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Satu hal yang berbeda dari penyelenggaraan upacara tahun-tahun sebelumnya adalah kedatangan 3 orang Putri Muslimah 2017. Mereka adalah Syifa Fatimah, Tiara Sukmasari dan Salsabela Kanzu.

Korea Tojurism Organization (KTO) rupanya mengundang ketiganya ke Korea sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberagaman wisatawan yang mengunjungi Korea. Mereka berkunjung ke berbagai obyek wisata dan tempat-tempat yang memberikan servis halal.

Rupanya ketiganya datang ke upacara HUT RI ini dengan penuh kesungguhan dengan menggunakan bus. Maklumlah, kegiatan ini dianggap penting sebagai warga negara Indonesia.

Bagaimana peraaaan mereka setelah mengikuti upacara? "Saya sangat terharu. Sangat excited. Merasa bangga bendera Merah Putih bisa berkibar di negeri Korea," ujar Syifa. "Semoga Indonesia tetap harmonis sesuai dengan Pancasila," ujar Tara Sukmasari.

Vedi Buana, Ketua Panitia HUT RI KBRI Seoul, menyatakan dirinya sangat senang melihat antusias berbagai kalanhan untuk ikut serta dalam upacara 17 Agustus kali ini. "Saya tidak menyangka antusias para diaspora dan indonesianis di Korea sangat tinggi. Padahal bukan hari libur Korea dan cuaca pun tampak tidak mendukung," ujarnya. ()

KBRI Buka Gamelan Bagi Anak Muda Korea

WhatsApp Image 2017-08-16 at 12.23.24 PM

Sukses dengan kelas gamelan yang dibuka untuk umum pada 13 Mei 2017 lalu, kini KBRI Seoul akan membuka kelas gamelan Jawa khusus untuk warga Korea Selatan.

Banyaknya minat anak muda Korea Selatan terhadap Indonesia ditangkap oleh KBRI Seoul. Mulai pertengahan bulan depan, sebagian dari mereka diharapkan sudah mulai berlatih rutin memainkan musik gamelan. Inilah program baru yang diperperkenalkan Fungsi Pensosbud Diiplik KBRI Seoul.

"Ada banyak anak muda Korea yang sudah mendapatkan beasiswa di Indonesia dan kuliah bahasa Indonesia di berbagai universitas di Korea. Mereka semua haus terhadap pendalaman budaya Indonesia," ujar Dubes Umar Hadi.

Dalam catatan KBRI, sejak tahun 2009 setidaknya terdapat 196 anak muda Korea yang mengenyam pendidikan bahasa dan budaya Indonesia melalui beasiswa Dharmasiswa. Mereka tersebar di berbagai penjuru negeri.

Menurut Sugianto, pelatih gamelan KBRI Seoul, sejauh ini sudah terdapat 5 warga Korea yang mendaftar. Salah satu diantaranya adalah seorang professor dari Chonnam National Univeristy, pengajar musik tradisional Korea.

KBRI berharap pada tahap pertama ini akan diikuti 15 peserta Korea. Selanjutnya, mereka akan dikolaborasikan dengan permainan musik modern yang bisa mengisi berbagai kesempatan yang ada.

Mengingat banyaknya warga korea yang tertarik dengan budaya Indonesia, KBRI akan mencoba mengintensifkan kursus gamelan dan diskusi tentang budaya Indonesia. Bahkan KBRI juga berharap bisa berkolaborasi dengan Pemda di Indonesia dalam memperkenalkan Budaya Indonesia yang lebih luas.

Sejak kedatangan pelatih dari Indonesia enam bulan silam, KBRI Seoul melakukan latihan rutin menabuh gamelan dengan para diaspora Indonesia yang berminat. Mereka bahkan sudah beberapa kali tampil di acara resmi Pemerintah Negeri Ginseng.

Dubes Umar Hadi telah memberikan nama untuk grup gamelan di KBRI “Laras GARIS”. Kata “laras” memiliki arti nada atau bunyi musik, sedangkan kata “GARIS” merupakan singkatan dari “Gamelan KBRI Seoul”. Dengan demikian, nama grup Laras GARIS adalah sebuah interpretasi dari nada-nada yang mengalun indah dari KBRI Seoul. ()

Luar Biasa, 11 TKI Diarak Jadi Sarjana

WhatsApp Image 2017-08-14 at 8.17.43 AM

Ternyata, menjadi sarjana bukan "hil yang mustahal" bagi kalangan TKI. Yang diperlukan hanyalah semangat baja, pantang menyerah.

Bagi Waras asal Trenggalek, salah satu wisudawan Program Studi Manajemen universitas Terbuka (UT) Korea, kesarjanaan adalah sesuatu, namun tidak sertamerta bisa diartikan puncak kesuksesan. Wisuda ini justru dianggapnya sebagai tangga awal untuk meraih keberhasilan yang penuh persaingan di masa datang.

"Mari kita tunjukkan bahwa alumni UT tidak kalah dengan alumni universitas terkemuka lainnya. Kita tidak hanya wajib bisa bekerja namun juga harus mampu menciptakan lapangan kerja," katanya yang disambut tepuk tangan riuh 300an hadirin.

Sebanyak 11 mahasiswa TKI Universitas Terbuka Indonesia cabang Korea Selatan, hari Minggu sore kemarin (13 Agustus 2017), diarak menjadi sarjana. Mereka diwisuda di lapangan upacara KBRI Seoul oleh Dubes, Umar Hadi, Wakil Rektor II UT, Dewi A Padmo, PhD, serta Koordinator UT Korea, Syarif Hidayat.

Dewi A Padmo mengacungi jempol kepada para wisudawan. Sebagai TKI yang bergelut enam hari seminggu dengan pekerjaan berat dari pagi hingga malam, masih memiliki semangat untuk belajar. Bahkan diantaranya bisa menyelesaikan kuliah dan meraih titel strata satu.

Kesarjanaan ini diyakini akan membuat lulusan UT semakin mampu mengaktualisasikan diri dengan tingkat rasa percaya diri yang lebih tinggi. Bahkan juga dipercaya mampu meningkatkan posisi tawar saat pulang ke tanah air kelak.

Sementara, dalam pidato kelulusan, Dubes Umar Hadi menilai wisuda kali ini sebagai peristiswa yang penting, karena bertepatan dengan bulan keramat, Agustus. Suatu bulan yang mengingatkam titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan melawan Belanda dan arus global, saat itu.

Kepada hadirin dan wisudawan, Dubes memesankan agar tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Menurutnya, kemerdekaan yang telah dibayar dengan peluh dan darah tidak boleh disia-siakan, namun diisi dengan pembangunan yang dilakukan generasi muda yang punya pengetahuan.

Wisudawan kali ini sangat beruntung. Selain mengantongi kesarjanaan, juga meraup banyak hadiah. Selain dari BNI Seoul, mereka juga menerima aneka hadiah dari berbagai kelompok masyarakat seperti Komunitas Muslim Indonesia, NU Cabang Korea, Indonesia Trade Promition Centre, Bakso Bejo Korea dan banyak lagi yang lainnya. Para wisudawan tampak kesulitan membawa pulang hadiah yang berjibun.

UT di negeri ginseng sendiri kini memiliki mahasiswa aktif kisaran 400an yang umumnya adalah TKI. Sejak didirikan 6 tahun lalu UT Korea telah meluluskan 86 TKI yang berasal dari 3 jurusan yang ada, yakni manajemen, bahasa Inggris dan komunikasi. Tahun depan, menurut perkiraan, akan terjadi peningkatan kelulusan secara signifikan, kisaran 40 persen, atau sebanyak 30 orang. ()

28 Anak Muda Korea siap Kuliah di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-09 at 2.40.04 PM

Indonesia menjadi salah satu tujuan belajar bagi anak muda Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil merupakan magnet yang tidak bisa dikesampingkan.

Sebanyak 28 anak muda Korsel siap belajar di Indonesia. Mereka yang lolos dalam program beasiswa Darmasiswa Korea tahun ini akan berangkat ke Indonesia pada tanggal 29 Agustus 2017. Umumnya, akan belajar Bahasa Indonesia di beberapa universitas terkemuka di Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, Medan dan Aceh.

Pada Selasa (8/8), seluruh peserta Darmasiswa Korea tahun 2017/2018 ini telah mengikuti pre-departure breifing di KBRI Seoul. Fungsi Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Seoul memberikan penjelasan tentang budaya, ekonomi dan berbagai hal penting tentang hidup di Indonesia.

"Saya siap berangkat ke Indonesia. Tidak ada keraguan sedikitpun. Di mata saya, Indonesia adalah negara yang indah, bagus dan luar biasa," ujar salah seorang peserta dengan penuh keyakinan.

"Saya ingin belajar Bahasa Indonesia karena melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi ekonomi yang besar," kata peserta lain.

Peserta juga diberi penjelasan terkait persiapan yang harus dilakukan menjelang keberangkatan seperti visa dan kedatangan. Selain itu mereka juga dibekali informasi mengenai Indonesia dan beberapa kota yang menjadi tujuannya para peserta Darmasiswa.

Minat masyarakat Korea untuk mempelajari Bahasa Indonesia menunjukkan peningkatan. Hal tersebut terlihat dari besarnya pelamar beasiswa Darmasiswa dari Korea yang mayoritas ingin mempelajari Bahasa Indonesia. Pada tahun lalu terdapat sekitar seratus pelamar program Darmasiswa dari Korea untuk tahun ajaran 2017/2018, namun hanya 28 orang yang lolos seleksi.

"Selain itu, hampir setiap hari KBRI juga menerima permohonan surat keterangan bagi masyarakat Korea yang akan belajar belajar Bahasa Indonesia di Pusat-pusat Bahasa di Indonesia," ujar Anggun dari KBRI Seoul.

Banyaknya perusahaan Korea di Indonesia juga menjadi penyebab besarnya minat pelajar Korea untuk dapat bekerja di Indonesia dan mempelajari Bahasa Indonesia. Mereka melihat bahwa kemampuan berbahasa Indonesia akan menjadi nilai tambah dalam persaingan dunia kerja.()

Wow! Ada Little Bandung di Seoul

Little Bandung 1

Sehari setelah menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Korsel, Dubes RI di Seoul Umar Hadi langsung bekerja. Pada Kamis pagi (20/7) harinya  Dubes Umar membuka pavilion Indonesia pada Handmade Korea Summer 2017 di Convention and Exhibition Center (COEX), Seoul yang diikuti 23 pengusaha UKM dari Bandung, Yogyakarta, Bali, Lampung, Surabaya, dan Jakarta.  Siang harinya Dubes Umar meresmikan “Little Bandung Wall” yang berada di restoran Bali Bistro bersama-sama dengan Ketua Dekranasda Bandung Atalia Praratya Kamil.

“Hampir 30% dari nilai ekspor non migas Indonesia ke Korea adalah batubara.  Sementara kebijakan pemerintah baru Korea akan menghapus secara bertahap pembangkit listrik tenaga batubara, oleh karena itu kita harus bekerja keras mencari alternatif produk non migas lainnya untuk menggantikan posisi batubara yang kedepannya permintaan dari Korea pasti menurun,” demikian dijelaskan Dubes Umar Hadi.

Little Bandung 2

 

Dubes Umar Hadi yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Bandung ini, tahu persis potensi yang dimiliki kota yang terkenal dengan julukan Paris van Java ini.  “Bandung merupakan kota yang banyak anak-anak muda kreatif, yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi, bisa menjadikan Korea sebagai salah satu pasar potensial bagi produk-produk tersebut”, jelas Umar.

Selain di Bali Bistro milik pengusaha muda Korea kelahiran Bandung Mr. Gidong Lee yang berada di daerah Mapo-gu, Seoul, Little Bandung Wall juga dibuka di Fun Road Cafe di daerah Anyang-si. “Pembukaan Little Bandung Wall di dua tempat sekaligus di Seoul, Korea merupakan langkah awal yang strategis dalam upaya memasarkan produk-produk asal kota Bandung, khususnya produk-produk UKM untuk menerobos pasar Korea,” demikian tutur Atalia pada saat sambutan.

Pada saat acara peresmian dilakukan video call antara Dubes Umar Hadi dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil.  “Pemkot Bandung sangat mengapresiasi dukungan seluruh jajaran KBRI Seoul yang secara aktif mencarikan mitra di Korea untuk terealisirnya peresmian Little Bandung Wall pada hari ini,” demikian imbuh Ridwan Kamil.

Little Bandung 3

 

Produk-produk yang ditampilkan di Little Bandung Wall terdiri dari produk makanan, produk kerajinan tangan dan produk fashion.   Kuliner khas Bandung seperti pancake durian, cokelat, keripik jamur tiram, keripik kentang mustofa, dan berbagai produk kerajinan, serta produk fashion seperti tas, sepatu, pakaian, kacamata, dll, dipajang sebagai contoh produk.  Produk yang dipasarkan lengkap dimuat dalam katalog Little Bandung.  Calon pembeli yang tertarik terhadap produk dapat menghubungi produser eksportir yang secara lengkap dimuat dalam katalog.  Kedepannya pihak Pemkot Bandung akan mendirikan Little Bandung Store yang dapat menjual secara langsung produknya kepada konsumen Korea.

Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung, ekspor dari kota Bandung ke Korea cenderung meningkat. “Pada 2016 tercatat USD 13 juta meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD 11 juta, dengan komoditi utama seperti alat kesehatan, fashion, furniture, dan makanan,” demikian pungkas Eric M. Atthauriq, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung. (*)

Dubes Umar Hadi Serahkan Surat Kepercayaan Kepada Presiden Moon

dc7f1542-58f8-4f86-87d1-aa8ec8775449

Setelah menunggu sebulan lebih, Dubes RI untuk Korsel, Umar Hadi, secara resmi menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Moon Jae-in di Istana Cheong Wa Dae (Blue House), Seoul (18/7). Presiden Korsel yakin hubungan bilateral akan terus meningkat di masa datang.

Upacara penyerahan Surat Kepercayaan juga dihadiri oleh Menlu Kang Kyung-wha serta sejumlah pejabat tinggi Republik Korea. Dubes Umar Hadi didampingi istrinya Siti Nila Purnama Hadi dan putrinya Ratna Aini Hadi, serta Atase Pertahanan Kolonel (Laut) Oka Wirayudha dan Koordinator Fungsi Politik KBRI Seoul Tudiono.

Dalam pertemuan yang begitu hangat pasca penyerahan surat kepercayaan, Dubes Umar Hadi menyampaikan salam dari Presiden RI Joko Widodo dan seluruh rakyat Indonesia kepada Presiden Moon dan seluruh rakyat Korea Selatan. Dubes RI juga menyampaikan undangan dari Presiden Jokowi kepada Presiden Moon yang baru terpilih dalam Pemilu bulan Mei yang lalu untuk dapat berkunjung ke Indonesia.

Dubes Umar Hadi mengapresiasi hubungan yang telah terjalin selama ini antara Indonesia dan Republik Korea. Korea Selatan adalah mitra strategis Indonesia sejak tahun 2006, dimana sejak itu hubungan bilateral kedua negara semakin berkembang. Dia juga memastikan komitmen Pemerintah RI untuk terus memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Republik Korea dan berharap dapat mendorong implementasi kemitraan strategis kedua negara yang lebih dalam dan luas serta mendatangkan manfaat bagi rakyat kedua negara.

Sementara itu, Presiden Moon percaya bahwa kedua negara akan dapat memperkuat hubungan bilateralnya. Secara khusus Presiden Moon mencatat kemajuan kerjasama yang menggembirakan di bidang industri pertahanan. Selain itu, Korea Selatan juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap kerjasama dengan ASEAN, oleh karena itu Presiden Moon telah mengirim Utusan Khusus untuk ASEAN guna bertemu Presiden Jokowi pada akhir Mei 2017 yang lalu.

97e0b0bc-1ed7-42d2-9aac-de90b8f856dd

Korea Selatan selama ini adalah salah satu mitra terpenting dan strategis di kawasan bagi Indonesia. Indonesia dan Korea Selatan memiliki forum Joint Commission Meeting pada tingkat Menlu dan Strategic Dialogue pada tingkat Wamenlu untuk membahas isu-isu strategis kedua negara.

Di bidang pertahanan khususnya dalam pengadaan alutsista, Indonesia dan Republik Korea telah mengimplementasikan Strategic Partnership dengan meletakkan trust and confidence sebagai prinsip kerjasama. Saat ini tengah dibangun 3 unit kapal selam untuk TNI AL yang disertai dengan proses transfer teknologi kepada PT PAL. Indonesia juga pemesan pertama produk jet trainer T50 dan saat ini tengah dilakukan program pengembangan bersama pesawat tempur KFX/IFX.

Di bidang ekonomi, kerjasama kedua negara terus menunjukkan prospek yang menggembirakan. Investasi Korea Selatan ke Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 dengan total realisasi investasi pada tahun 2016 sebesar USD 1.065,8 juta. Di bidang perdagangan, Korea Selatan bagi Indonesia merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-6, dan negara asal impor terbesar ke-5.

Di sektor pariwisata, wisatawan asal Korea Selatan menempati urutan ke-6 negara asal wisman yang berlibur ke Indonesia tahun 2016 berjumlah 350 ribu, sementara wisatawan asal Indonesia yang berlibur ke Korea juga terus meningkat mencapai hampir 300 ribu orang. Sementara itu, Korea merupakan salah satu tujuan mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri. Saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di berbagai universitas di Korea mencapai 1200 orang dengan tren yang terus meningkat pada tahun-tahun yang akan datang.

Yang juga tidak kalah menariknya, negeri ginseng adalah "rumah" bagi TKI. Sebanyak 35an ribu pekerja Indonesia mendulang devisa di berbagai industri dengan perlakuan yang sama dengan pegawai setempat. Rata-rata penghasilan sebulan mereka antara Rp 20 -Rp 30 juta.

Dubes Umar Hadi merupakan diplomat karier senior. Dia dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Dubes RI untuk Republik Korea pada tanggal 13 Maret 2017 lalu. Sebelum menjadi Dubes RI di Seoul, Umar Hadi menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Los Angeles (2014-2017), Direktur Eropa Barat (2012-2014), Wakil Dubes RI di Den Haag (2009-2012), dan Direktur Diplomasi Publik (2005-2009). Dubes Umar Hadi juga pernah bertugas di Perutusan Tetap RI untuk PBB di Jenewa. (*)

Himbauan untuk WNI di Korea Selatan

logo kbri

 

HIMBAUAN

 

Sehubungan dengan insiden ledakan yang terjadi di Universitas Yonsei, Kampus Sinchon, Seoul, tanggal 13 Juni 2017, maka KBRI Seoul menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, agar:

1. Meningkatkan kewaspadaan dan selalu mencermati perkembangan situasi keamanan di sekitar tempat tinggal;

2. Senantiasa peka dan waspada terhadap berbagai upaya dari golongan/komunitas/individu tertentu yang ingin mempengaruhi dan mengajak untuk bertindak radikal dan mengganggu keamanan publik dan lingkungan;

3. Menghormati hukum setempat dan bekerjasama dengan otoritas Korea;

4. Meningkatkan komunikasi antar warga dan meningkatkan perhatian terhadap keberadaan masing-masing rekan dan/atau keluarga;

5. Selalu membawa identitas diri dan paspor untuk memudahkan indentifikasi diri dan bersedia bekerja sama dan mendukung pihak berwenang bilamana terdapat pemeriksaan keamanan di tempat umum;

6. Menyampaikan kepada KBRI Seoul bilamana terdapat informasi yang perlu diketahui oleh WNI lainnya terkait kondisi dan situasi keamanan lingkungan;

7. Senantiasa terkoneksi dengan M-KBRI Seoul versi 2.0 untuk update perkembangan dan informasi.

8. Dalam hal WNI membutuhkan informasi dan bantuan, silahkan hubungi hotline 24 jam KBRI Seoul +82 10-5394-2546 atau melalui M-KBRI Seoul.

 

Demikian harap maklum, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

 

Seoul 13 Juni 2017

KBRI Seoul

Diplomasi Taman: Megawati Garden diresmikan di Jeju, Korea Selatan

WhatsApp Image 2017-06-01 at 2.38.21 PM

Presiden kelima RI meresmikan kebun raya Megawati Soekarnoputri di daerah Seigeipo, Jeju, Korea Selatan. Taman ini bisa dibilang kado indah warga Jeju kepada Indonesia menjelang peringatan Hari Kelahiran Pancasila.

Kebun Raya Megawati diresmikan hari ini, Rabu (31/5/2017). Megawati bersama pemilik lahan Kim Sung Soo, Dubes Umar Hadi, Rokhmin Dahuri, dan beberapa petinggi Provinsi Jeju menarik tali pembukaan taman. Penantian panjang selama 4 tahun terpenuhi sudah. 

Kebun Megawati Soekarnoputri seluas 100 ribu meter persegi ini berada dalam sebuah lingkungan resor kesehatan 240 ribu meter persegi. Kebun ini terdiri dari lapangan terbuka, jalan setapak, dan hutan buatan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah pohon yang berbunga merah-putih yang ditanam Megawati pada Maret 2013 bersama mantan Menteri Kelautan Rokhmin Dahuri.

Ketika pagi datang, kabut tipis menyelimuti area Megawati Garden dan sekitarnya. Suhu relatif dingin. Sedangkan pada siang hari, suhu cukup hangat sehingga sangat cocok untuk jalan-jalan dan trekking. Adapun pada malam hari, suasana layaknya hutan lebat dengan suara-suara alam.

Di kebun raya Megawati masih sering ditemui berbagai binatang, khususnya ayam-ayam liar. Mereka datang dan pergi tanpa ada yang mengganggu. Burung bebas berkicau dan bisa dinikmati di setiap waktu.

Berdekatan dengan Megawati Garden terdapat hotel eksklusif bintang lima, WE Hotel. Inilah mungkin satu-satunya resor kesehatan di Korea yang menggabungkan hotel, rumah sakit, dan alam. Sebuah konsep perpaduan apik dan ciamik. Tidak ada kebisingan sama sekali. Maklumlah, jarak tempat ini dengan Kota Jeju relatif jauh, berkisar 15 km. 

"Terima kasih Ibu Megawati atas ide brilian dan dukungan yang atas konsep hotel dan lingkungannya," ujar Kim Sung Soo.

Dalam pidatonya, Megawati mengaku kaget dan terhormat atas penamaan kebun raya ini. Menurutnya, semua ini terjadi karena dia dan Kim Sung Soo memiliki hobi yang sama, yakni mencintai alam dan tumbuh-tumbuhan.

"Saya selalu memotivasi untuk pembangunan kebun raya, karena akan menjadi sarana rekreasi, pendidikan, riset, dan pertumbuhan plasma nutfah. Dahulu Indonesia hanya punya 5 kebun raya, namun saat ini sudah ada 32 buah," katanya.

Megawati juga mengingatkan bahwa dengan adanya global warming, banyak hutan yang mudah rusak dan tanaman jadi mati. Semua pihak diharapkan ikut serta menyelamatkan bumi dan isinya.

Menurut pemilik lahan yang juga merupakan salah satu orang terkaya di pulau perdamaian Jeju, Kim Sung Soo, Megawati Garden adalah sebuah simbol keakraban dan penghargaan bangsa Korea terhadap Indonesia.

"Pada saat Korea Selatan dalam keadaan sulit di masa lalu, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno memberikan bantuan. Kita tidak akan lupakan itu. Kebun raya ini saya harap menjadi simbol hubungan yang saling mengisi antara kedua bangsa," ujar dokter bedah dan pemilik rumah sakit terbesar di Jeju ini.

Megawati datang pertama kali ke kebun ini pada 2013 atas undangan Kim Sung Soo. Saat itu Mega sangat tertarik terhadap konsep taman yang penuh dengan bunga dan aneka tumbuhan yang sangat lebat. Megawati kemudian memberikan banyak masukan atas konsep lingkungan yang sedang dibangun itu. 

Melihat ketertarikan yang begitu tinggi, Kim Sung Soo langsung setuju menamai kebun raya tersebut 'Megawati Garden' atau 'Megawati Jongwon'. Peresmian telah direncanakan beberapa kali namun belum menemukan momentum yang tepat.

Bagi Kim sendiri, Megawati adalah sosok politikus yang tangguh. Pertemuan beberapa kali setelah 2013 itu memberikan tambahan keyakinan bahwa Megawati adalah seseorang yang suka menebar perdamaian dan pencinta lingkungan hidup.

"Secara pribadi, saya dapat katakan bahwa Megawati adalah sosok teduh dan hangat, bagaikan kakak perempuan saya," tuturnya.

Kim Sung Soo, yang juga pemilik Halla University dan Halla Hospital di Jeju, sangat berharap kiranya konsep perdamaian Soekarno yang, antara lain, tertuang dalam Pancasila itu dapat terus berkembang dan menginspirasi dunia. Jeju sendiri telah dinyatakan sebagai pulau perdamaian.

"Pohon Korea yang ditanam Ibu Megawati 3 tahun lalu kini semakin besar dan hijau. Semoga hubungan Indonesia-Korea Selatan juga tumbuh seiring makin subur dan dewasanya pohon tersebut," ujarnya.

Megawati sempat menggarisbawahi tentang momen penting lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno tentang Pancasila dan keputusan BPUPKI secara aklamasi saat itu telah menjadi cikal-bakal kemerdekaan dan memperkokoh kebangsaan Indonesia. Konsep Pancasila rencananya akan diangkat kembali oleh Megawati dalam Jeju Forum, yang akan dihelat pada 1 Juni 2017.

Pembukaan Kebun Raya Megawati disemarakkan dengan tarian dan musik tradisional khas Jeju. Suara seruling dan beduk terdengar nyaring dan bersih mengiringi lagu Arirang. Megawati Garden diharapkan makin berkembang. 

 

Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri di Jeju Forum: Pancasila Mampu Menjawab Persoalan Dunia

WhatsApp Image 2017-06-01 at 2.14.10 PM

Jeju - Di hari lahirnya Pancasila, Megawati berbicara di depan forum internasional. Pancasila, dikatakan masih tetap relevan dan dapat menjadi formula ampuh untuk mengatasi aneka pergolakan dunia saat ini.

Menurut Presiden Kelima RI ini, Pancasila merupakan panduan hidup tidak hanya bagi bangsa Indonesia, namun seluruh warga dunia. Penting dan urgensi lima sila tersebut tidak bisa dinafikan oleh siapapun juga.

Demikian inti pidato Megawati Soekaenoputri di Sesi Pemimpin Dunia, Jeju Forum pagi ini (1/6/17) yang dihadiri beberapa tokoh dunia seperti mantan Wapres AS Al Gore, mantan Presiden Portugal Anibal Cavaco Silva, dan mantan Presiden Mongolia Punsalma Ochirbat serta Mantan PM Korsel Lee Hong-ko.

Dikatakan, Pancasila adalah sebuah konsep dasar untuk mengatasi berbagai perbedaan di tengah-tengah konflik, khususnya yang terkait dengan isu keagamaan dan terorisme. Pancasila akan membawa sebuah pemahaman tentang pentingnya persatuan dalam kebhinekaan.

Sila-Sila yang ada dalam Pancasila merupakan kumpulan norma yang relevan untuk mengatasi aneka intoleransi primordial yang berkembang beberapa waktu terakhir ini. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, memiliki nilai-nilai yang dimiliki oleh semua bangsa.

Sementara sila ketiga dapat ditafsirkan sebagai internasionalisme. Internasionalisme yang tetap hidup subur diatas nasionaliame. Internasionalisme yang menghargai dan menjaga hak-hak semua negara dan meninggalkan supremasi rasial.

"Pancasila memiliki makna universal dan bisa diimplementasikan secara global. Pancasila bisa dijadikan nilai-nilai untuk mencari solusi untuk hidup bersama di abad 21. Dengan semangat Pancasila, saya yakin Asia bisa lebih adil dan makmur hari ini dan mendatang," imbuhnya.

Megawati juga mengingatkan tentang pelajaran penting dari Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pertemuan itu, katanya merupakan sebuah contoh bagaimana berbagai bangsa yang berbeda agama dan budaya namun mampu menyatu demi tujuan bersama.

Konferensi Asia Afrika tidak hanya menginspirasi bangsa di Asia dan Afrika namun juga Amerika latin. Itu semua bisa terjadi karena adanya toleransi yang tinggi diantara mereka.

"Perbedaan yang ada bukan hanya untuk kepentingan bangsanya, namun bisa menjadi kekuatan untuk menelorkan dan mendorong peradaban baru bagi manusia," katanya.

"Inilah saatnya kita belajar dari founding fathers. Belajar dari Konferensi Asia Afrika. Perbedaan harus dijaga dengan cara bekerja sama," ujarnya.

Di sesi awal, mantan Wakil Presiden AS, Al Gore mengingatkan hadirin tentang bahaya pemanasan bumi. Digarisbawahi bahwa global warming adalah sesuatu yang nyata dan telah berdampak pada perubahan alam, persediaan pangan, berkembangnya aneka penyakit, memicu pergolakan sosial politik serta mengancam mangancam keberlangsungan kehidupan manusia.

Al Gore menekankan perlunya untuk terus mengembangkan energi yang terbarukan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup manusia. Penghentian penggunaan energi fosil dan perbaikan lingkungan akan menyelamatkan kehidupan umat manusia.

"Saya sepenuhnya setuju dengan ide-ide yang dilontarkan oleh mantan Wapres Al Gore. Kita semua harus bergerak bersama untuk mengatasi global warming yang ada di depan mata," kata Megawati.

Jeju Forum merupakan platfom dialog tahunan tokoh-tokoh internasional untuk penyelesaian masalah Semenanjung Korea dan Asia yang di bawah tema perdamaian dan kemakmuran. Selain Megawati, Menko PMK Puan Maharani dan mantan Menlu Marty Natalegawa juga menjadi salah pembicara. ()

Duta Besar Umar Hadi Memulai Tugasnya di KBRI di Seoul

DSC 4207

Selasa (16/5),  telah dilakukan serah terima jabatan Kepala Perwakilan RI di Seoul dari KUAI Cecep Herawan kepada Duta Besar Umar Hadi  bertempat di lobi KBRI. Acara serah terima jabatan dilaksanakan secara sederhana dan diikuti oleh seluruh staf KBRI Seoul, IIPC, ITPC Busan, serta perwakilan dari kantor BNI dan Garuda Indonesia di Seoul.

Dalam sambutannya, Dubes Umar Hadi mengingatkan seluruh staf pada moto Presiden Joko Widodo "Kerja, Kerja, Kerja" dari semua pihak dalam mewujudkan kepentingan Republik Indonesia di Republik Korea. Misi perwakilan untuk menjaga dan meningkatkan hubungan dan kerjasama bilateral Pemerintah Indonesia dengan ROK, memerlukan "kerja keras", "kerja cermat" dan "kerja sama" dari seluruh staf.

“Untuk itu semua stakeholder Pemerintah Indonesia yang berada di ROK diharapkan dapat bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara Indonesia,” demikian disampaikan Dubes Umar Hadi.

Seusai acara Serah Terima Jabatan, Duta Besar RI melakukan perkenalan dan ramah tamah dengan semua staf KBRI dan perwakilan instansi Pemerintah dan BUMN Indonesia di Republik Korea.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014