KBRI Akan Hadir di Setiap Sidang Disertasi

WhatsApp Image 2017-08-22 at 9.52.59 PM

Untuk pertama kali, Dubes Umar Hadi hadir dalam wisuda di Universitas Yeungnam. Inilah awal dari rencananya untuk datang pada setiap sidang disertasi WNI di Korsel.

Kedatangan Dubes kali kali ini (23/08/17) awalnya dimaksudkan untuk menghadiri wisuda doktor Gregorius Rionugroho Harvianto asal Yogyakarta. Namun pada saat yang bersamaan rupanya terdapat 3 mahasiswa Indonesia lain yang diwisuda (S2), yakni Danasesha Paradinda Putra, Rizcha Maulidiya Nurwan dan Sela Jayani.

Dubes menandaskan bahwa dalam periode kepemimpinannya, KBRI akan hadir dalam setiap sidang terbuka untuk mempertahankan disertasi. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan dukungan kepada usaha WNI dalam meraih gelar tertinggi akademis.

Dalam kunjungan ke Yeungman university ini, Dubes yang didampingi Minister Counsellor Pensosbud - Diplik, M Aji Surya, dan Sekretaris Satu Riza Wardhana, sempat bertemu dengan 47 mahasiswa Indonesia dan Presiden Universitas.

"Saya ikut gembira atas kelulusan 4 mahasiswa Indonesia dan berharap agar yang lain merasa terpacu untuk belajar dan lulus segera. Saya senang melihat wajah-wajah mahasiswa Indonesia yang tampak bagus kehidupannya. Tetaplah kompak dan bangun terus solidaritas," ujarnya.

Bersama Presiden Universitas, Sur Gil-soo, PhD, Dubes membicarakan tentang kemungkinan kerjasama dengan universitas di Indonesia dalam bentuk joint research, joint publication dan pertukaran mahasiswa serta dosen. Dubes juga berharap nantinya terdapat Indonesian corner di universitas swasta dengan rangking 15 di Korea Selatan tersebut. ()

Putri Muslimah 2017 Semarakkan HUT RI di Seoul

WhatsApp Image 2017-08-17 at 1.13.37 PM

Seperti biasanya, kali ini KBRI Seoul kembali mengadakan upacara bendera memperingati HUT RI ke-72. Cuaca yang mendung rupanya jadi berkah, memayungi para hadirin, diaspora dan Indonesianis di Korea dalam acara ini.

Persis jam 09.00 waktu setempat, atau 2 jam sebelum WIB, upacara dimulai dan bendera dikibarkan. Sebanyak 200 an warga Indonesia dan simpatisan hadir mengikuti acara dengan khidmad.

Dubes Umar Hadi menghimbau kepada seluruh WNI di Korea Selatan untuk menjaga kerukunan dan merajut persatuan. Selain itu diharapkan semua bekerja keras untuk mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Satu hal yang berbeda dari penyelenggaraan upacara tahun-tahun sebelumnya adalah kedatangan 3 orang Putri Muslimah 2017. Mereka adalah Syifa Fatimah, Tiara Sukmasari dan Salsabela Kanzu.

Korea Tojurism Organization (KTO) rupanya mengundang ketiganya ke Korea sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberagaman wisatawan yang mengunjungi Korea. Mereka berkunjung ke berbagai obyek wisata dan tempat-tempat yang memberikan servis halal.

Rupanya ketiganya datang ke upacara HUT RI ini dengan penuh kesungguhan dengan menggunakan bus. Maklumlah, kegiatan ini dianggap penting sebagai warga negara Indonesia.

Bagaimana peraaaan mereka setelah mengikuti upacara? "Saya sangat terharu. Sangat excited. Merasa bangga bendera Merah Putih bisa berkibar di negeri Korea," ujar Syifa. "Semoga Indonesia tetap harmonis sesuai dengan Pancasila," ujar Tara Sukmasari.

Vedi Buana, Ketua Panitia HUT RI KBRI Seoul, menyatakan dirinya sangat senang melihat antusias berbagai kalanhan untuk ikut serta dalam upacara 17 Agustus kali ini. "Saya tidak menyangka antusias para diaspora dan indonesianis di Korea sangat tinggi. Padahal bukan hari libur Korea dan cuaca pun tampak tidak mendukung," ujarnya. ()

KBRI Buka Gamelan Bagi Anak Muda Korea

WhatsApp Image 2017-08-16 at 12.23.24 PM

Sukses dengan kelas gamelan yang dibuka untuk umum pada 13 Mei 2017 lalu, kini KBRI Seoul akan membuka kelas gamelan Jawa khusus untuk warga Korea Selatan.

Banyaknya minat anak muda Korea Selatan terhadap Indonesia ditangkap oleh KBRI Seoul. Mulai pertengahan bulan depan, sebagian dari mereka diharapkan sudah mulai berlatih rutin memainkan musik gamelan. Inilah program baru yang diperperkenalkan Fungsi Pensosbud Diiplik KBRI Seoul.

"Ada banyak anak muda Korea yang sudah mendapatkan beasiswa di Indonesia dan kuliah bahasa Indonesia di berbagai universitas di Korea. Mereka semua haus terhadap pendalaman budaya Indonesia," ujar Dubes Umar Hadi.

Dalam catatan KBRI, sejak tahun 2009 setidaknya terdapat 196 anak muda Korea yang mengenyam pendidikan bahasa dan budaya Indonesia melalui beasiswa Dharmasiswa. Mereka tersebar di berbagai penjuru negeri.

Menurut Sugianto, pelatih gamelan KBRI Seoul, sejauh ini sudah terdapat 5 warga Korea yang mendaftar. Salah satu diantaranya adalah seorang professor dari Chonnam National Univeristy, pengajar musik tradisional Korea.

KBRI berharap pada tahap pertama ini akan diikuti 15 peserta Korea. Selanjutnya, mereka akan dikolaborasikan dengan permainan musik modern yang bisa mengisi berbagai kesempatan yang ada.

Mengingat banyaknya warga korea yang tertarik dengan budaya Indonesia, KBRI akan mencoba mengintensifkan kursus gamelan dan diskusi tentang budaya Indonesia. Bahkan KBRI juga berharap bisa berkolaborasi dengan Pemda di Indonesia dalam memperkenalkan Budaya Indonesia yang lebih luas.

Sejak kedatangan pelatih dari Indonesia enam bulan silam, KBRI Seoul melakukan latihan rutin menabuh gamelan dengan para diaspora Indonesia yang berminat. Mereka bahkan sudah beberapa kali tampil di acara resmi Pemerintah Negeri Ginseng.

Dubes Umar Hadi telah memberikan nama untuk grup gamelan di KBRI “Laras GARIS”. Kata “laras” memiliki arti nada atau bunyi musik, sedangkan kata “GARIS” merupakan singkatan dari “Gamelan KBRI Seoul”. Dengan demikian, nama grup Laras GARIS adalah sebuah interpretasi dari nada-nada yang mengalun indah dari KBRI Seoul. ()

Luar Biasa, 11 TKI Diarak Jadi Sarjana

WhatsApp Image 2017-08-14 at 8.17.43 AM

Ternyata, menjadi sarjana bukan "hil yang mustahal" bagi kalangan TKI. Yang diperlukan hanyalah semangat baja, pantang menyerah.

Bagi Waras asal Trenggalek, salah satu wisudawan Program Studi Manajemen universitas Terbuka (UT) Korea, kesarjanaan adalah sesuatu, namun tidak sertamerta bisa diartikan puncak kesuksesan. Wisuda ini justru dianggapnya sebagai tangga awal untuk meraih keberhasilan yang penuh persaingan di masa datang.

"Mari kita tunjukkan bahwa alumni UT tidak kalah dengan alumni universitas terkemuka lainnya. Kita tidak hanya wajib bisa bekerja namun juga harus mampu menciptakan lapangan kerja," katanya yang disambut tepuk tangan riuh 300an hadirin.

Sebanyak 11 mahasiswa TKI Universitas Terbuka Indonesia cabang Korea Selatan, hari Minggu sore kemarin (13 Agustus 2017), diarak menjadi sarjana. Mereka diwisuda di lapangan upacara KBRI Seoul oleh Dubes, Umar Hadi, Wakil Rektor II UT, Dewi A Padmo, PhD, serta Koordinator UT Korea, Syarif Hidayat.

Dewi A Padmo mengacungi jempol kepada para wisudawan. Sebagai TKI yang bergelut enam hari seminggu dengan pekerjaan berat dari pagi hingga malam, masih memiliki semangat untuk belajar. Bahkan diantaranya bisa menyelesaikan kuliah dan meraih titel strata satu.

Kesarjanaan ini diyakini akan membuat lulusan UT semakin mampu mengaktualisasikan diri dengan tingkat rasa percaya diri yang lebih tinggi. Bahkan juga dipercaya mampu meningkatkan posisi tawar saat pulang ke tanah air kelak.

Sementara, dalam pidato kelulusan, Dubes Umar Hadi menilai wisuda kali ini sebagai peristiswa yang penting, karena bertepatan dengan bulan keramat, Agustus. Suatu bulan yang mengingatkam titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan melawan Belanda dan arus global, saat itu.

Kepada hadirin dan wisudawan, Dubes memesankan agar tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Menurutnya, kemerdekaan yang telah dibayar dengan peluh dan darah tidak boleh disia-siakan, namun diisi dengan pembangunan yang dilakukan generasi muda yang punya pengetahuan.

Wisudawan kali ini sangat beruntung. Selain mengantongi kesarjanaan, juga meraup banyak hadiah. Selain dari BNI Seoul, mereka juga menerima aneka hadiah dari berbagai kelompok masyarakat seperti Komunitas Muslim Indonesia, NU Cabang Korea, Indonesia Trade Promition Centre, Bakso Bejo Korea dan banyak lagi yang lainnya. Para wisudawan tampak kesulitan membawa pulang hadiah yang berjibun.

UT di negeri ginseng sendiri kini memiliki mahasiswa aktif kisaran 400an yang umumnya adalah TKI. Sejak didirikan 6 tahun lalu UT Korea telah meluluskan 86 TKI yang berasal dari 3 jurusan yang ada, yakni manajemen, bahasa Inggris dan komunikasi. Tahun depan, menurut perkiraan, akan terjadi peningkatan kelulusan secara signifikan, kisaran 40 persen, atau sebanyak 30 orang. ()

28 Anak Muda Korea siap Kuliah di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-09 at 2.40.04 PM

Indonesia menjadi salah satu tujuan belajar bagi anak muda Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil merupakan magnet yang tidak bisa dikesampingkan.

Sebanyak 28 anak muda Korsel siap belajar di Indonesia. Mereka yang lolos dalam program beasiswa Darmasiswa Korea tahun ini akan berangkat ke Indonesia pada tanggal 29 Agustus 2017. Umumnya, akan belajar Bahasa Indonesia di beberapa universitas terkemuka di Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, Medan dan Aceh.

Pada Selasa (8/8), seluruh peserta Darmasiswa Korea tahun 2017/2018 ini telah mengikuti pre-departure breifing di KBRI Seoul. Fungsi Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Seoul memberikan penjelasan tentang budaya, ekonomi dan berbagai hal penting tentang hidup di Indonesia.

"Saya siap berangkat ke Indonesia. Tidak ada keraguan sedikitpun. Di mata saya, Indonesia adalah negara yang indah, bagus dan luar biasa," ujar salah seorang peserta dengan penuh keyakinan.

"Saya ingin belajar Bahasa Indonesia karena melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi ekonomi yang besar," kata peserta lain.

Peserta juga diberi penjelasan terkait persiapan yang harus dilakukan menjelang keberangkatan seperti visa dan kedatangan. Selain itu mereka juga dibekali informasi mengenai Indonesia dan beberapa kota yang menjadi tujuannya para peserta Darmasiswa.

Minat masyarakat Korea untuk mempelajari Bahasa Indonesia menunjukkan peningkatan. Hal tersebut terlihat dari besarnya pelamar beasiswa Darmasiswa dari Korea yang mayoritas ingin mempelajari Bahasa Indonesia. Pada tahun lalu terdapat sekitar seratus pelamar program Darmasiswa dari Korea untuk tahun ajaran 2017/2018, namun hanya 28 orang yang lolos seleksi.

"Selain itu, hampir setiap hari KBRI juga menerima permohonan surat keterangan bagi masyarakat Korea yang akan belajar belajar Bahasa Indonesia di Pusat-pusat Bahasa di Indonesia," ujar Anggun dari KBRI Seoul.

Banyaknya perusahaan Korea di Indonesia juga menjadi penyebab besarnya minat pelajar Korea untuk dapat bekerja di Indonesia dan mempelajari Bahasa Indonesia. Mereka melihat bahwa kemampuan berbahasa Indonesia akan menjadi nilai tambah dalam persaingan dunia kerja.()

Wow! Ada Little Bandung di Seoul

Little Bandung 1

Sehari setelah menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Korsel, Dubes RI di Seoul Umar Hadi langsung bekerja. Pada Kamis pagi (20/7) harinya  Dubes Umar membuka pavilion Indonesia pada Handmade Korea Summer 2017 di Convention and Exhibition Center (COEX), Seoul yang diikuti 23 pengusaha UKM dari Bandung, Yogyakarta, Bali, Lampung, Surabaya, dan Jakarta.  Siang harinya Dubes Umar meresmikan “Little Bandung Wall” yang berada di restoran Bali Bistro bersama-sama dengan Ketua Dekranasda Bandung Atalia Praratya Kamil.

“Hampir 30% dari nilai ekspor non migas Indonesia ke Korea adalah batubara.  Sementara kebijakan pemerintah baru Korea akan menghapus secara bertahap pembangkit listrik tenaga batubara, oleh karena itu kita harus bekerja keras mencari alternatif produk non migas lainnya untuk menggantikan posisi batubara yang kedepannya permintaan dari Korea pasti menurun,” demikian dijelaskan Dubes Umar Hadi.

Little Bandung 2

 

Dubes Umar Hadi yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Bandung ini, tahu persis potensi yang dimiliki kota yang terkenal dengan julukan Paris van Java ini.  “Bandung merupakan kota yang banyak anak-anak muda kreatif, yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi, bisa menjadikan Korea sebagai salah satu pasar potensial bagi produk-produk tersebut”, jelas Umar.

Selain di Bali Bistro milik pengusaha muda Korea kelahiran Bandung Mr. Gidong Lee yang berada di daerah Mapo-gu, Seoul, Little Bandung Wall juga dibuka di Fun Road Cafe di daerah Anyang-si. “Pembukaan Little Bandung Wall di dua tempat sekaligus di Seoul, Korea merupakan langkah awal yang strategis dalam upaya memasarkan produk-produk asal kota Bandung, khususnya produk-produk UKM untuk menerobos pasar Korea,” demikian tutur Atalia pada saat sambutan.

Pada saat acara peresmian dilakukan video call antara Dubes Umar Hadi dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil.  “Pemkot Bandung sangat mengapresiasi dukungan seluruh jajaran KBRI Seoul yang secara aktif mencarikan mitra di Korea untuk terealisirnya peresmian Little Bandung Wall pada hari ini,” demikian imbuh Ridwan Kamil.

Little Bandung 3

 

Produk-produk yang ditampilkan di Little Bandung Wall terdiri dari produk makanan, produk kerajinan tangan dan produk fashion.   Kuliner khas Bandung seperti pancake durian, cokelat, keripik jamur tiram, keripik kentang mustofa, dan berbagai produk kerajinan, serta produk fashion seperti tas, sepatu, pakaian, kacamata, dll, dipajang sebagai contoh produk.  Produk yang dipasarkan lengkap dimuat dalam katalog Little Bandung.  Calon pembeli yang tertarik terhadap produk dapat menghubungi produser eksportir yang secara lengkap dimuat dalam katalog.  Kedepannya pihak Pemkot Bandung akan mendirikan Little Bandung Store yang dapat menjual secara langsung produknya kepada konsumen Korea.

Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung, ekspor dari kota Bandung ke Korea cenderung meningkat. “Pada 2016 tercatat USD 13 juta meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD 11 juta, dengan komoditi utama seperti alat kesehatan, fashion, furniture, dan makanan,” demikian pungkas Eric M. Atthauriq, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung. (*)

Dubes Umar Hadi Serahkan Surat Kepercayaan Kepada Presiden Moon

dc7f1542-58f8-4f86-87d1-aa8ec8775449

Setelah menunggu sebulan lebih, Dubes RI untuk Korsel, Umar Hadi, secara resmi menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Moon Jae-in di Istana Cheong Wa Dae (Blue House), Seoul (18/7). Presiden Korsel yakin hubungan bilateral akan terus meningkat di masa datang.

Upacara penyerahan Surat Kepercayaan juga dihadiri oleh Menlu Kang Kyung-wha serta sejumlah pejabat tinggi Republik Korea. Dubes Umar Hadi didampingi istrinya Siti Nila Purnama Hadi dan putrinya Ratna Aini Hadi, serta Atase Pertahanan Kolonel (Laut) Oka Wirayudha dan Koordinator Fungsi Politik KBRI Seoul Tudiono.

Dalam pertemuan yang begitu hangat pasca penyerahan surat kepercayaan, Dubes Umar Hadi menyampaikan salam dari Presiden RI Joko Widodo dan seluruh rakyat Indonesia kepada Presiden Moon dan seluruh rakyat Korea Selatan. Dubes RI juga menyampaikan undangan dari Presiden Jokowi kepada Presiden Moon yang baru terpilih dalam Pemilu bulan Mei yang lalu untuk dapat berkunjung ke Indonesia.

Dubes Umar Hadi mengapresiasi hubungan yang telah terjalin selama ini antara Indonesia dan Republik Korea. Korea Selatan adalah mitra strategis Indonesia sejak tahun 2006, dimana sejak itu hubungan bilateral kedua negara semakin berkembang. Dia juga memastikan komitmen Pemerintah RI untuk terus memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Republik Korea dan berharap dapat mendorong implementasi kemitraan strategis kedua negara yang lebih dalam dan luas serta mendatangkan manfaat bagi rakyat kedua negara.

Sementara itu, Presiden Moon percaya bahwa kedua negara akan dapat memperkuat hubungan bilateralnya. Secara khusus Presiden Moon mencatat kemajuan kerjasama yang menggembirakan di bidang industri pertahanan. Selain itu, Korea Selatan juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap kerjasama dengan ASEAN, oleh karena itu Presiden Moon telah mengirim Utusan Khusus untuk ASEAN guna bertemu Presiden Jokowi pada akhir Mei 2017 yang lalu.

97e0b0bc-1ed7-42d2-9aac-de90b8f856dd

Korea Selatan selama ini adalah salah satu mitra terpenting dan strategis di kawasan bagi Indonesia. Indonesia dan Korea Selatan memiliki forum Joint Commission Meeting pada tingkat Menlu dan Strategic Dialogue pada tingkat Wamenlu untuk membahas isu-isu strategis kedua negara.

Di bidang pertahanan khususnya dalam pengadaan alutsista, Indonesia dan Republik Korea telah mengimplementasikan Strategic Partnership dengan meletakkan trust and confidence sebagai prinsip kerjasama. Saat ini tengah dibangun 3 unit kapal selam untuk TNI AL yang disertai dengan proses transfer teknologi kepada PT PAL. Indonesia juga pemesan pertama produk jet trainer T50 dan saat ini tengah dilakukan program pengembangan bersama pesawat tempur KFX/IFX.

Di bidang ekonomi, kerjasama kedua negara terus menunjukkan prospek yang menggembirakan. Investasi Korea Selatan ke Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 dengan total realisasi investasi pada tahun 2016 sebesar USD 1.065,8 juta. Di bidang perdagangan, Korea Selatan bagi Indonesia merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-6, dan negara asal impor terbesar ke-5.

Di sektor pariwisata, wisatawan asal Korea Selatan menempati urutan ke-6 negara asal wisman yang berlibur ke Indonesia tahun 2016 berjumlah 350 ribu, sementara wisatawan asal Indonesia yang berlibur ke Korea juga terus meningkat mencapai hampir 300 ribu orang. Sementara itu, Korea merupakan salah satu tujuan mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri. Saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di berbagai universitas di Korea mencapai 1200 orang dengan tren yang terus meningkat pada tahun-tahun yang akan datang.

Yang juga tidak kalah menariknya, negeri ginseng adalah "rumah" bagi TKI. Sebanyak 35an ribu pekerja Indonesia mendulang devisa di berbagai industri dengan perlakuan yang sama dengan pegawai setempat. Rata-rata penghasilan sebulan mereka antara Rp 20 -Rp 30 juta.

Dubes Umar Hadi merupakan diplomat karier senior. Dia dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Dubes RI untuk Republik Korea pada tanggal 13 Maret 2017 lalu. Sebelum menjadi Dubes RI di Seoul, Umar Hadi menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Los Angeles (2014-2017), Direktur Eropa Barat (2012-2014), Wakil Dubes RI di Den Haag (2009-2012), dan Direktur Diplomasi Publik (2005-2009). Dubes Umar Hadi juga pernah bertugas di Perutusan Tetap RI untuk PBB di Jenewa. (*)

Himbauan untuk WNI di Korea Selatan

logo kbri

 

HIMBAUAN

 

Sehubungan dengan insiden ledakan yang terjadi di Universitas Yonsei, Kampus Sinchon, Seoul, tanggal 13 Juni 2017, maka KBRI Seoul menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, agar:

1. Meningkatkan kewaspadaan dan selalu mencermati perkembangan situasi keamanan di sekitar tempat tinggal;

2. Senantiasa peka dan waspada terhadap berbagai upaya dari golongan/komunitas/individu tertentu yang ingin mempengaruhi dan mengajak untuk bertindak radikal dan mengganggu keamanan publik dan lingkungan;

3. Menghormati hukum setempat dan bekerjasama dengan otoritas Korea;

4. Meningkatkan komunikasi antar warga dan meningkatkan perhatian terhadap keberadaan masing-masing rekan dan/atau keluarga;

5. Selalu membawa identitas diri dan paspor untuk memudahkan indentifikasi diri dan bersedia bekerja sama dan mendukung pihak berwenang bilamana terdapat pemeriksaan keamanan di tempat umum;

6. Menyampaikan kepada KBRI Seoul bilamana terdapat informasi yang perlu diketahui oleh WNI lainnya terkait kondisi dan situasi keamanan lingkungan;

7. Senantiasa terkoneksi dengan M-KBRI Seoul versi 2.0 untuk update perkembangan dan informasi.

8. Dalam hal WNI membutuhkan informasi dan bantuan, silahkan hubungi hotline 24 jam KBRI Seoul +82 10-5394-2546 atau melalui M-KBRI Seoul.

 

Demikian harap maklum, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

 

Seoul 13 Juni 2017

KBRI Seoul

Diplomasi Taman: Megawati Garden diresmikan di Jeju, Korea Selatan

WhatsApp Image 2017-06-01 at 2.38.21 PM

Presiden kelima RI meresmikan kebun raya Megawati Soekarnoputri di daerah Seigeipo, Jeju, Korea Selatan. Taman ini bisa dibilang kado indah warga Jeju kepada Indonesia menjelang peringatan Hari Kelahiran Pancasila.

Kebun Raya Megawati diresmikan hari ini, Rabu (31/5/2017). Megawati bersama pemilik lahan Kim Sung Soo, Dubes Umar Hadi, Rokhmin Dahuri, dan beberapa petinggi Provinsi Jeju menarik tali pembukaan taman. Penantian panjang selama 4 tahun terpenuhi sudah. 

Kebun Megawati Soekarnoputri seluas 100 ribu meter persegi ini berada dalam sebuah lingkungan resor kesehatan 240 ribu meter persegi. Kebun ini terdiri dari lapangan terbuka, jalan setapak, dan hutan buatan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah pohon yang berbunga merah-putih yang ditanam Megawati pada Maret 2013 bersama mantan Menteri Kelautan Rokhmin Dahuri.

Ketika pagi datang, kabut tipis menyelimuti area Megawati Garden dan sekitarnya. Suhu relatif dingin. Sedangkan pada siang hari, suhu cukup hangat sehingga sangat cocok untuk jalan-jalan dan trekking. Adapun pada malam hari, suasana layaknya hutan lebat dengan suara-suara alam.

Di kebun raya Megawati masih sering ditemui berbagai binatang, khususnya ayam-ayam liar. Mereka datang dan pergi tanpa ada yang mengganggu. Burung bebas berkicau dan bisa dinikmati di setiap waktu.

Berdekatan dengan Megawati Garden terdapat hotel eksklusif bintang lima, WE Hotel. Inilah mungkin satu-satunya resor kesehatan di Korea yang menggabungkan hotel, rumah sakit, dan alam. Sebuah konsep perpaduan apik dan ciamik. Tidak ada kebisingan sama sekali. Maklumlah, jarak tempat ini dengan Kota Jeju relatif jauh, berkisar 15 km. 

"Terima kasih Ibu Megawati atas ide brilian dan dukungan yang atas konsep hotel dan lingkungannya," ujar Kim Sung Soo.

Dalam pidatonya, Megawati mengaku kaget dan terhormat atas penamaan kebun raya ini. Menurutnya, semua ini terjadi karena dia dan Kim Sung Soo memiliki hobi yang sama, yakni mencintai alam dan tumbuh-tumbuhan.

"Saya selalu memotivasi untuk pembangunan kebun raya, karena akan menjadi sarana rekreasi, pendidikan, riset, dan pertumbuhan plasma nutfah. Dahulu Indonesia hanya punya 5 kebun raya, namun saat ini sudah ada 32 buah," katanya.

Megawati juga mengingatkan bahwa dengan adanya global warming, banyak hutan yang mudah rusak dan tanaman jadi mati. Semua pihak diharapkan ikut serta menyelamatkan bumi dan isinya.

Menurut pemilik lahan yang juga merupakan salah satu orang terkaya di pulau perdamaian Jeju, Kim Sung Soo, Megawati Garden adalah sebuah simbol keakraban dan penghargaan bangsa Korea terhadap Indonesia.

"Pada saat Korea Selatan dalam keadaan sulit di masa lalu, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno memberikan bantuan. Kita tidak akan lupakan itu. Kebun raya ini saya harap menjadi simbol hubungan yang saling mengisi antara kedua bangsa," ujar dokter bedah dan pemilik rumah sakit terbesar di Jeju ini.

Megawati datang pertama kali ke kebun ini pada 2013 atas undangan Kim Sung Soo. Saat itu Mega sangat tertarik terhadap konsep taman yang penuh dengan bunga dan aneka tumbuhan yang sangat lebat. Megawati kemudian memberikan banyak masukan atas konsep lingkungan yang sedang dibangun itu. 

Melihat ketertarikan yang begitu tinggi, Kim Sung Soo langsung setuju menamai kebun raya tersebut 'Megawati Garden' atau 'Megawati Jongwon'. Peresmian telah direncanakan beberapa kali namun belum menemukan momentum yang tepat.

Bagi Kim sendiri, Megawati adalah sosok politikus yang tangguh. Pertemuan beberapa kali setelah 2013 itu memberikan tambahan keyakinan bahwa Megawati adalah seseorang yang suka menebar perdamaian dan pencinta lingkungan hidup.

"Secara pribadi, saya dapat katakan bahwa Megawati adalah sosok teduh dan hangat, bagaikan kakak perempuan saya," tuturnya.

Kim Sung Soo, yang juga pemilik Halla University dan Halla Hospital di Jeju, sangat berharap kiranya konsep perdamaian Soekarno yang, antara lain, tertuang dalam Pancasila itu dapat terus berkembang dan menginspirasi dunia. Jeju sendiri telah dinyatakan sebagai pulau perdamaian.

"Pohon Korea yang ditanam Ibu Megawati 3 tahun lalu kini semakin besar dan hijau. Semoga hubungan Indonesia-Korea Selatan juga tumbuh seiring makin subur dan dewasanya pohon tersebut," ujarnya.

Megawati sempat menggarisbawahi tentang momen penting lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno tentang Pancasila dan keputusan BPUPKI secara aklamasi saat itu telah menjadi cikal-bakal kemerdekaan dan memperkokoh kebangsaan Indonesia. Konsep Pancasila rencananya akan diangkat kembali oleh Megawati dalam Jeju Forum, yang akan dihelat pada 1 Juni 2017.

Pembukaan Kebun Raya Megawati disemarakkan dengan tarian dan musik tradisional khas Jeju. Suara seruling dan beduk terdengar nyaring dan bersih mengiringi lagu Arirang. Megawati Garden diharapkan makin berkembang. 

 

Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri di Jeju Forum: Pancasila Mampu Menjawab Persoalan Dunia

WhatsApp Image 2017-06-01 at 2.14.10 PM

Jeju - Di hari lahirnya Pancasila, Megawati berbicara di depan forum internasional. Pancasila, dikatakan masih tetap relevan dan dapat menjadi formula ampuh untuk mengatasi aneka pergolakan dunia saat ini.

Menurut Presiden Kelima RI ini, Pancasila merupakan panduan hidup tidak hanya bagi bangsa Indonesia, namun seluruh warga dunia. Penting dan urgensi lima sila tersebut tidak bisa dinafikan oleh siapapun juga.

Demikian inti pidato Megawati Soekaenoputri di Sesi Pemimpin Dunia, Jeju Forum pagi ini (1/6/17) yang dihadiri beberapa tokoh dunia seperti mantan Wapres AS Al Gore, mantan Presiden Portugal Anibal Cavaco Silva, dan mantan Presiden Mongolia Punsalma Ochirbat serta Mantan PM Korsel Lee Hong-ko.

Dikatakan, Pancasila adalah sebuah konsep dasar untuk mengatasi berbagai perbedaan di tengah-tengah konflik, khususnya yang terkait dengan isu keagamaan dan terorisme. Pancasila akan membawa sebuah pemahaman tentang pentingnya persatuan dalam kebhinekaan.

Sila-Sila yang ada dalam Pancasila merupakan kumpulan norma yang relevan untuk mengatasi aneka intoleransi primordial yang berkembang beberapa waktu terakhir ini. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, memiliki nilai-nilai yang dimiliki oleh semua bangsa.

Sementara sila ketiga dapat ditafsirkan sebagai internasionalisme. Internasionalisme yang tetap hidup subur diatas nasionaliame. Internasionalisme yang menghargai dan menjaga hak-hak semua negara dan meninggalkan supremasi rasial.

"Pancasila memiliki makna universal dan bisa diimplementasikan secara global. Pancasila bisa dijadikan nilai-nilai untuk mencari solusi untuk hidup bersama di abad 21. Dengan semangat Pancasila, saya yakin Asia bisa lebih adil dan makmur hari ini dan mendatang," imbuhnya.

Megawati juga mengingatkan tentang pelajaran penting dari Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pertemuan itu, katanya merupakan sebuah contoh bagaimana berbagai bangsa yang berbeda agama dan budaya namun mampu menyatu demi tujuan bersama.

Konferensi Asia Afrika tidak hanya menginspirasi bangsa di Asia dan Afrika namun juga Amerika latin. Itu semua bisa terjadi karena adanya toleransi yang tinggi diantara mereka.

"Perbedaan yang ada bukan hanya untuk kepentingan bangsanya, namun bisa menjadi kekuatan untuk menelorkan dan mendorong peradaban baru bagi manusia," katanya.

"Inilah saatnya kita belajar dari founding fathers. Belajar dari Konferensi Asia Afrika. Perbedaan harus dijaga dengan cara bekerja sama," ujarnya.

Di sesi awal, mantan Wakil Presiden AS, Al Gore mengingatkan hadirin tentang bahaya pemanasan bumi. Digarisbawahi bahwa global warming adalah sesuatu yang nyata dan telah berdampak pada perubahan alam, persediaan pangan, berkembangnya aneka penyakit, memicu pergolakan sosial politik serta mengancam mangancam keberlangsungan kehidupan manusia.

Al Gore menekankan perlunya untuk terus mengembangkan energi yang terbarukan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup manusia. Penghentian penggunaan energi fosil dan perbaikan lingkungan akan menyelamatkan kehidupan umat manusia.

"Saya sepenuhnya setuju dengan ide-ide yang dilontarkan oleh mantan Wapres Al Gore. Kita semua harus bergerak bersama untuk mengatasi global warming yang ada di depan mata," kata Megawati.

Jeju Forum merupakan platfom dialog tahunan tokoh-tokoh internasional untuk penyelesaian masalah Semenanjung Korea dan Asia yang di bawah tema perdamaian dan kemakmuran. Selain Megawati, Menko PMK Puan Maharani dan mantan Menlu Marty Natalegawa juga menjadi salah pembicara. ()

Duta Besar Umar Hadi Memulai Tugasnya di KBRI di Seoul

DSC 4207

Selasa (16/5),  telah dilakukan serah terima jabatan Kepala Perwakilan RI di Seoul dari KUAI Cecep Herawan kepada Duta Besar Umar Hadi  bertempat di lobi KBRI. Acara serah terima jabatan dilaksanakan secara sederhana dan diikuti oleh seluruh staf KBRI Seoul, IIPC, ITPC Busan, serta perwakilan dari kantor BNI dan Garuda Indonesia di Seoul.

Dalam sambutannya, Dubes Umar Hadi mengingatkan seluruh staf pada moto Presiden Joko Widodo "Kerja, Kerja, Kerja" dari semua pihak dalam mewujudkan kepentingan Republik Indonesia di Republik Korea. Misi perwakilan untuk menjaga dan meningkatkan hubungan dan kerjasama bilateral Pemerintah Indonesia dengan ROK, memerlukan "kerja keras", "kerja cermat" dan "kerja sama" dari seluruh staf.

“Untuk itu semua stakeholder Pemerintah Indonesia yang berada di ROK diharapkan dapat bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara Indonesia,” demikian disampaikan Dubes Umar Hadi.

Seusai acara Serah Terima Jabatan, Duta Besar RI melakukan perkenalan dan ramah tamah dengan semua staf KBRI dan perwakilan instansi Pemerintah dan BUMN Indonesia di Republik Korea.

Himbauan kepada WNI di Korea Selatan

unnamed

Dihimbau kepada seluruh WNI di Korea Selatan agar selalu berhati-hati dalam menjalankan aktivitasnya. Senantiasa mematuhi ketentuan dan peraturan pemerintah setempat dan semaksimal mungkin menghindari tempat-tempat keramaian. Apabila terdapat hal-hal yang mencurigakan dan membutuhkan bantuan, silahkan hubungi KBRI Seoul di No. HP. +82 10-5394-2546

Akhiri Masa Tugas, Dubes RI Seoul Bertemu Menlu Korea Selatan

20170126 180428

Dubes RI John A. Prasetio bertemu dengan Menlu Korsel, Yun Byung-se pada Kamis petang waktu setempat (26/1) di kantor Kementerian Luar Negeri ROK. 

Pertemuan yang berlangsung sangat hangat dan penuh keakraban  tersebut selain menjadi pertemuan penutup di penghujung masa tugas Dubes John sebagai diplomat RI yang sekitar 4,5 tahun memimpin KBRI Seoul di Korsel juga mencerminkan kedekatan hubungan kedua bangsa.

Menlu Yun mengakui bahwa kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi pada Mei 2016 lalu, telah menghasilkan berbagai kesepakatan kerjasama di berbagai bidang yang memperkuat hubungan bilateral kedua negara. "Capaian yang luar biasa ini terwujud  berkat dukungan kuat dari Dubes John" demikian puji Menlu Yun.

Menlu Yun mengapresiasi upaya Pemerintah RI dan Dubes John dalam memajukan hubungan kerja sama kedua negara yang kian pesat. “Indonesia merupakan sahabat baik Korsel dalam forum kerja sama bilateral, regional, dan global” ujar Yun.

Menlu Yun memandang hubungan Indonesia dan Korsel dewasa ini sebagai "hubungan yang terdekat", terutama pada saat terjadi uji coba nuklir dan berbagai tindakan Korea Utara yang dipandangnya provokatif, Indonesia telah mengeluarkan pernyataan yang keras mengutuk hal tersebut.

20170126 180407

Sementara itu, Dubes John menyampaikan rasa hormat dan terima kasihnya atas dukungan dan kerja sama yang diberikan selama ini oleh Pemerintah ROK. Kerja sama kedua belah pihak kian berkembang di berbagai sektor, khususnya pada bidang perdagangan dan ekonomi.

Investasi Korea kian tumbuh subur di Indonesia dengan masuk dan berkembangnya perusahaan-perusahaan terkemuka negeri ginseng seperti raksasa elektronik LG, Hankook Tires, Lotte Chemicals, POSCO, dan lain sebagainya. Mewakili sektor perbankan, Shinhan Bank akan mulai beroperasi di Indonesia pada 6 Februari mendatang.

Selain itu Menlu Korsel turut menggarisbawahi komitmen kedua negara dalam menyukseskan forum Strategic Dialogue antar Wakil Menlu RI dan Korsel yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 6-7 Februari yang akan datang.

Duta Besar John A. Prasetio rencananya akan menuntaskan masa tugasnya dan kembali ke tanah air pada akhir bulan Januari 2017 ini. Ketika ditanya apa rencana sang Dubes usai menjabat, kepada Menlu Korsel Beliau menjawab “ingin santai dulu” sebelum kembali ke ranah asalnya sebagai seorang pengusaha. Sebelum menjabat sebagai Dubes RI, Dubes John pernah menjabat sebagai Ketua CBA Consulting Group sekaligus board member Bank Permata dan anggota dewan penasehat P&G Indonesia, Crowe Horwath Indonesia serta Mitsui Indonesia. (*)

Bahas Upaya Tingkatkan Hubungan bilateral, Dubes RI Temui Ketua Majelis Nasional Republik Korea

WhatsApp Image 2017-01-10 at 11.24.10

                       Dalam upaya terus memperkuat dan meningkatkan hubungan bilateral RI-ROK, pada 10 Januari 2017 Dubes RI John A. Prasetio telah menemui Ketua Majelis Nasional ROK H.E. Chung Sye-Kyun. Pada pertemuan itu, Dubes RI antara lain menyampaikan RI-ROK memiliki hubungan yang sangat dekat. Sejak 2006 hubungan RI-ROK telah memasuki Kemitraan Strategis. Kedua negara terus berupaya meningkatkan kerjasama bilateral di berbagai bidang. Kerjasama bisnis dan investasi kedua negara terus berkembang. Lebih dari 2.200 perusahaan Korea beroperasi di Indonesia termasuk perusahaan besar seperti POSCO, Lotte Chemical, Hankook. Bahkan berbagai restauran Korea berkembang pesat dan saat ini dapat dijumpai di berbagai kota di Indonesia.

                "RI-ROK memiliki hubungan yang sangat baik sejak lama" demikian disampaikan oleh Ketua Majelis Nasional ROK H.E. Chung Sye-Kyun. Indonesia merupakan negara penting dengan jumlah penduduk, luas wilayah, dan sumber-sumber alam yang melimpah. Indonesia juga memainkan "leading role" di ASEAN. H.E. Chung Sye-Kyun mengharapkan hubungan yang telah terbina demikian baik antar kedua negara dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Secara khusus Ketua Majelis Nasional mengharapkan perlunya penguatan hubungan RI-ROK dalam forum MIKTA yang merupakan forum negara-negara Meksiko, Indonesia, Korea, Turki dan Australia. Menanggapi situasi perdagangan yang agak turun akibat situasi ekonomi global yag lesu, dirinya menekankan pentingnya mendorong penguatan kerjasama perdagangan kedua negara. Untuk lebih memperkuat hubungan bilateral Ketua Majelis Nasional RO akan melakukan kunjungan kerja ke Indonesia pada 11 2/d 13 Januari 2017.

Surat Terbuka Dubes RI kepada Masyarakat Indonesia di Korea Selatan

DSC 0904

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera untuk kita semua.

 

Saudara-saudaraku yang saya banggakan,

Tidak terasa, tahun 2016 sebentar lagi akan berakhir. Pada tahun ini cukup banyak kegiatan penting yang dilaksanakan oleh KBRI Seoul bersama masyarakat Indonesia di Korea Selatan. Pada bulan Mei yang lalu misalnya, bekerjasama dengan Komunitas Indonesia, KBRI menyelenggarakan pertemuan dan dialog Presiden Joko Widodo dengan sekitar 1300 diaspora Indonesia di Korea Selatan pada awal kunjungan kenegaraan beliau di Republik Korea. Presiden Jokowi sungguh sangat gembira dan menghargai berbagai masukan yang beliau peroleh langsung dari dialog dengan masyarakat Indonesia.

 

Selengkapnya...

MoU Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi di TPA Bantar Gebang Bekasi Ditandatangani di Seoul

WhatsApp Image 2016-12-15 at 11.52.20

Pihak Korsel dan Indonesia telah menyepakati untuk pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi di TPA Bantar Gebang Bekasi. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam MoU on Waste to Energy Project yang penandatangannya dilakukan di KBRI Seoul pada Jumat (9/12).

Penandatangan MoU tersebut dilakukan oleh konsorsium Korea Selatan dengan PT NW Abadi yang merupakan perusahaan PMDN pemegang konsesi pengolahan limbah menjadi energi di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Keempat pihak yang menandatangani MoU diwakili masing-masing oleh Jun Young Sam (Executive Director of Capital Market Division KDB), Hyun Moon Sik (Chairman KORBI), Jun Young Doo (Vice President of Environment Division GS E&C), dan Teddy Sujarwanto (Dirut PT NW Abadi) dengan disaksikan oleh Wakil Dubes RI untuk Republik Korea Cecep Herawan.

MoU antara lain menyepakati bahwa pihak konsorsium Korsel akan bertanggung jawab dalam hal penyediaan fasilitas pembiayaan, manajemen proyek dan konstruksi. Sementara dari pihak Indonesia PT NW Abadi yang akan bertanggung jawab dalam hal integrasi sistem dan teknologi waste-to-energy (WTE).

Fasilitas WTE yang akan mulai dibangun di Bekasi, Jawa Barat pada bulan Februari 2017 merupakan fasilitas pengolahan limbah menjadi energi yang pertama di Indonesia dengan kapasitas energi yang akan dihasilkan sebesar 34.6 MW dengan total rencana investasi senilai US$ 120 juta.

Potensi jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia mencapai 184,000 ton per hari (2015). Sampah yang berasal dari Bekasi sendiri potensinya 1,500 ton per hari, belum termasuk sampah dari Jakarta yang dibuang ke Bekasi (TPA Bantar Gebang) sebanyak 7,000 ton per hari. Jadi kalau ditotal sekitar 8,500 ton per hari sampah yang menumpuk di Bekasi.

Kunjungi Korban, Presiden Jokowi Sebut Penanganan Korban Gempa di Pidie Jaya, Aceh, Sudah Sangat Baik

WhatsApp Image 2016-12-09 at 10.50.30

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, penanganan terhadap korban bencana gempa Pidie Jaya, Aceh, sudah sangat baik, dan evakuasi korban sudah mencapai 99 persen. Penilaian ini disampaikan Presiden setelah menjenguk korban bencana gempa Pidie Jaya di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh, Kamis (8/12) malam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gempa bumi tektonik mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Rabu (7/12) pukul 05.36 WIB dengan kekuatan Magnitude 6,5 Skala Richter (SR). Pusat gempa bumi terletak pada 5,19 LU dan 96,36 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh, pada kedalaman 15 km. Gempa bumi ini mengakibatkan sejumlah bangunan roboh dan rusak berat, dan puluhan orang dinyatakan meninggal.

Adapun korban bencana yang mendapatkan perawatan di RS dr. Zainoel Abidin berjumlah 23 orang yang sebagian besar mengalami patah tulang. “Ada 19 tapi tadi masuk lagi 4 orang, yang sudah ditangani operasi ada 8 orang,” kata Presiden.

Jumat pagi ini (9/12), Presiden direncanakan akan berkunjung ke Pidie Jaya, daerah yang paling parah terkena gampa bumi tektonik, untuk melihat penanganan di lapangan termasuk bantuan-bantuan yang akan diberikan.

Terutama untuk merekonstruksi kembali setelah nanti kita lihat lapangan seperti apa. Yang penting evakuasi penanganan korban di RS sudah ditangani dengan baik,” ucap Presiden.

Sebelumnya dalam rapat koordinasi penanganan bencana gempa bumi di Pidie Jaya dan sekitarnya, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki melaporkan tentang dampak gempa di Pidie Jaya dan sekitarnya. “Korban meninggal 102 tewas dan 1 hilang, 136 luka berat, 616 luka ringan, dan 10.029 mengungsi tersebar di 28 penampungan di tiga kabupaten,” ucap Presiden.

Bencana yang terjadi, lanjut Teten, memberikan dampak di tiga kabupaten yakni Pidie Jaya, Bireuen, dan Pidie. Di Pidie Jaya kerugian material sebanyak 105 unit ruko roboh, 12.560 unit rumah rusak ringan hingga berat, 49 unit masjid roboh, 1 RSUD Pidie rusak berat, beberapa ruas jalan rusak, dan tiang listrik roboh. Sementara di Kabupaten Bireuen sebanyak 41 rumah rusak ringan hingga berat, satu masjid rusak berat, satu bangunan sekolah rusak, dan satu kilang padi rusak berat.

Di Kabupaten Pidie sebanyak 40 rumah juga rusak berat,” kata Teten.

Gubernur Aceh sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari (7-20 Desember 2016) melalui surat Nomor 39/PER/2016. Masa tanggap darurat ini berlaku untuk tiga kabupaten yaitu Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Bireuen. Penetapan tanggap darurat diperlukan untuk memudahkan penanganan darurat dan kemudahan akses.

Turut menyertai Presiden saat menjenguk korban di RS dr. Zainoel Abidin, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Plt Gubernur Aceh Soedarmo. (sumber: setkab.go.id)

Dubes John A. Prasetio Berikan Kuliah Umum kepada Mahasiswa Sungkyul University

WhatsApp Image 2016-12-05 at 17.00.49

Dubes RI di Seoul John A. Prasetio menyatakan Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk menjadi negara yang sukses di Asia. Namun kesuksesan tersebut akan sangat tergantung pada apakah Presiden Jokowi berhasil untuk terus mengkonsolidasikan berbagai komponen di Indonesia agat memiliki kemauan politik untuk bersama-sama mentransformasi dan membangun Indonesia.  Dan hingga saat ini tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan Presiden Jokowi cukup tinggi.

Hal tersebut disampaikan Dubes RI dalam kuliah umum di depan lebih dari 1000 mahasiswa Sungkyul University, Anyang, pada tanggal 28 November 2016.  Kuliah umum tersebut dibuka oleh President Sungkyul University Profesor Dong Cheol Yoon. 

Dalam pembukaannya, Profesor Yoon menyatakan bahwa Dubes RI sudah melakukan banyak hal untuk memajukan hubungan kerjasama antara Indonesia dan Korea, khususnya telah membantu Sungkyul University untuk menjalin kerjasama dengan Pemkot Bandung dan beberapa universitas di Bandung.

Selain Dubes John Prasetio, turut memberikan presentasi seorang Indonesianis Ms. Daisy Park, yang membawakan paparan berjudul “Why I love Indonesia”.

Melalui kuliah umum tersebut diharapkan pemahaman publik Korea terhadap Indonesia khususnya di kalangan mahasiswa dapat meningkat.  Dalam kesempatan tersebut juga dibuka stand “Wonderful Indonesia” yang menampilkan brosur-brosur dan DVD guna mempromosikan pariwisata Indonesia.

Dubes RI Berikan Sambutan pada “SNU GSIS-KOICA DCPP Evaluation Conference”

WhatsApp Image 2016-12-03 at 10.37.49

Dubes RI di Seoul John A. Prasetio menggarisbawahi prinsip Pemerintahan Presiden Jokowi yaitu “kerja, kerja dan kerja” sejalan dengan etos kerja Korea “pali pali” yang berarti “lakukan dengan sigap dan cepat” (2/12). Melalui prinsip tersebut para pegawai pemerintah diharapkan tidak lagi tinggal dalam zona nyaman, bersikap proaktif dan bekerja lebih sigap dan cepat untuk pembangunan negaranya.

Sambutan tersebut disampaikan kepada para mahasiswa dan alumni Development Cooperation Policy Program (DCPP), Graduate School of International Studies, Seoul National University (GSIS SNU) yang hadir pada “SNU GSIS-KOICA DCPP Evaluation Conference: Effective Development Cooperation on Higher Education” pada tanggal 2 Desember 2016 di Seoul.

Konferensi tersebut juga dihadiri oleh Dubes Vietnam di Seoul, Vice President Hyundai Engineering dan Vice President of Global Volunteers and Fellowship Program KOICA.

Dalam sambutannya, Dubes RI juga mengapresiasi Republik Korea dalam membagikan best practices dan pengalaman mereka dalam membangun negaranya menjadi maju seperti sekarang ini kepada negara-negara berkembang. Dikenal sebagai salah satu negara termiskin pada tahun 60-an, Korea Selatan kini masuk dalam 10 besar negara industri, merupakan middle income countries dan merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-12 di dunia. Tentunya pengetahuan dan pengalaman yang didapat para mahasiswa dapat diterapkan di institusi dan negara masing-masing.

Republik Korea telah menjadi negara donor sejak pendirian Korea International Cooperation Agency (KOICA) pada tanggal 1 April 1991 sebagai badan pemerintah yang berfungsi sebagai pelaksana bantuan hibah pemerintah Korea kepada negara berkembang dan program kerjasama teknis.

Pertemuan dihadiri oleh 60 orang para mahasiswa dan alumni Development Cooperation Policy Program (DCPP), GSIS SNU yang merupakan para pengawai pemerintah negara berkembang termasuk Indonesia yang mendapatkan beasiswa Pemerintah Korea untuk melanjutkan studinya di Seoul National University dibawah program DCPP SNU-KOICA.

Selain Dubes John Prasetio, pada awal konferensi, Dubes Vietnam di Seoul dan Dekan International Affairs Professor Geun Lee memberikan sambutan pembukaan menyampaikan apresiasi dan harapan bahwa melalui konferensi ini para mahasiswa dan alumni DCPP dapat memperkuat persahabatan dengan tujuan membangun dunia yang lebih baik. Sambutan pembukaan tersebut disambut dengan tepuk tangan hangat dari mahasiswa dan alumni DCPP SNU yang hadir. 

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014