Dubes John Berharap Tidak Ada Yang Jadi Korban Lagi

6 WNI Dipulangkan

Keenam WNI yang tertipu iming-iming bekerja di Jeju Korsel, siang ini (24/02/16) dipulangkan ke Indonesia. Dubes John A Prasetio berharap tidak ada lagi WNI yang jadi korban makelar kerja abal-abal.

Sejak Desember tahun lalu, keenam WNI tersebut diam-diam masuk Pulau Jeju Korsel untuk tujuan kerja. Kedatangannya diprakarsai makelar abal-abal di kedua belah pihak setelah menyetor uang puluhan juta. Boro-boro dapat pekerjaan tetap dengan gaji berjibun, keenamnya pindah kerja dari satu pekerjaan kasar ke pekerjaan lainnya dengan upah minim. Bahkan akhirnya terlantar tanpa kerja dan nyaris kelaparan.

Masih untung, ketika keadaan memburuk mereka bertemu WNI pekerja legal. Mereka ditampung dan diberikan logistik secukupnya. Setelah berkolaborasi dengan KBRI Seoul nasib mereka lebih jelas. Makanan dan minuman lebih terjamin.

Akhirul kalam, keenamnya kemudian mengirim surat ke KBRI untuk minta dipulangkan. Mereka sudah tidak tahan dengan menggelandang kerja tanpa visa yang jelas dan kemungkinan ditangkap yang berwenang. Bahkan, cuaca musim semi yang kadang masih dibawah nol derajat Celcius dirasakan sangat menyiksa.

Setelah melakukan koordinasi dengan Imigrasi Jeju, KBRI mendapatkan kepastian bahwa mereka bisa dipulangkan tanpa harus melewati proses hukum yang pelik. Secepat kilat, dicarikan tiket yang dapat membawa mereka ke kampung halaman.

"Saya bersyukur sekali akhirnya bisa akan pulang dan bertemu keluarga. Terima kasih teman-teman Indonesia dan KBRI Seoul," ujar salah satu korban berulang-ulang.

Diperkirakan keenam korban perdagangan manusia ini akan tiba di Jakarta malam ini dan akan dijemput oleh pihak yang berwenang. Mereka Ini menyusul 26 WNI yang lain yang telah dipulangkan seminggu sebelumnya.

Dubes RI John Prasetio merasa lega atas pulangnya keenam WNI tersebut. Ia berpesan kepada WNI di tanah air untuk meneliti sebelum "membeli". Karena saat ini banyak beredar isu mudahnya dapat bekerja dengan berbagai modus, termasuk melalui pendidikan maupun sistem magang.

"Kalau mau bekerja lewatlah jalur yang tepat, yakni BNP2TKI sehingga menggunakan visa yang benar. Jangan mudah tergiur rayuan broker apalagi harus bayar puluhan hingga ratusan juta," ujarnya dengan mimik yang sangat serius.

Saat Ini terdapat sekitar 35 ribu WNI sedang bekerja di Korea Selatan dengan penghasilan yang cukup baik. Kerja yang paling aman adalah melalui skema G to G, yang ditangani langsung oleh BNP2TKI.

 

Sukses Berbisnis, 50 TKI di Korea Diganjar Enterpreneur Award

IMG 0324

Sejumlah pekerja Indonesia menerima penghargaan. Mereka, sambil bekerja di Korea membangun bisnis di Indonesia. Luar biasa.

Taman Wongokdong di Ansan, 35 km dr Seoul, Minggu (21/2/2016) siang, berubah suasana. Tidak ada lagi nuansa Korea. Yang ada hanyalah suara gamelan, jaranan, reog dan dangdutan. Seribuan pekerja tumpah di bawah guyuran sinar matahari dengan cuaca 4 derajat Celcius.

Di puncak acara, Ketua Indonesia Community Centre (ICC), Diko, bersama Atase Tenaga Kerja KBRI, Utha, membagikan penghargaan bagi 50 pekerja di Korea yang telah memulai usaha di Indonesia dan relatif sukses. Mereka inilah yang diharapkan menularkan ilmunya kepada teman-temannya sesama pekerja.

"Kita semua disini adalah pekerja, buruh. Tapi kalau pulang nanti tidak boleh lagi jadi buruh. Kita harus jadi majikan. Penerima penghargaan dari KBRI dari ICC ini dapat jadi contoh. Hari ini mungkin hanya 50 orang, tapi tahun depan harus jadi 500. Bangkitlah pekerja Indonesia di Korsel," ujar Diko bersemangat.

Ke-50 TKI tersebut memiliki usaha yang beraneka macam. Mulai dari laundry, pembiakan ayam potong, transportasi hingga pembuatan batako. Mereka selama di Korsel menabung untuk kemudian ditanam dalam bentuk usaha kecil dan menengah. Itu semua memungkinkan karena mereka bisa menyisihkan gaji mereka per bulan kisaran Rp 15 juta.

Dalam kegiatan yang dinamakan Indonesian Entrepreneur Expo (INDEX) tersebut, mereka membuka stan untuk menularkan ilmunya kepada pekerja lainnya. Perhelatan penting yang digeber dalam sepekan ini merupakan sebuah gagasan yang ditelurkan ICC dengan dukungan KBRI dan LSM PKPU.

Dalam pesan singkatnya, Koordinator Fungsi Perlindungan WNI KBRI Seoul Aji Surya mengatakan bahwa ide menularkan ilmu wirausaha adalah sesuatu yang brilian. Namun akan lebih cemerlang lagi kalau transfer of knowledge itu sukses dan menelorkan banyak pengusaha baru. "Uang dititipkan bisa berkurang, tapi ilmu yang dibagi akan bertambah dan berguna dunia akhirat," ujar Aji Surya.

Saat ini terdapat 40 ribuan WNI di Korea Selatan, 35 ribu di antaranya adalah kaum pekerja dengan gaji yang menjanjikan. Jumlah pekerja semi skill Indonesia berada di nomor tiga setelah Vietnam dan Kamboja.

DUH, ENAM WNI "MENJERIT" LAGI DI JEJU

6 WNI di Jeju

Seoul. Setelah beberapa hari lalu 26 WNI yang tertipu lowongan kerja di Jeju dipulangkan ke Indonesia, kini 6 WNI lagi mengaku terpedaya calo-calo nakal. Bahkan mereka mengaku sempat kurang makan. Waduh.

Atas kerjasama dengan Kemlu, BNP2TKI, Polri, Kemsos dan lembaga lain, sebanyak 26 WNI dipulangkan dari Jeju menuju Jakarta via bandara Seoul, Incheon (17/02/16). Saking gembiranya, Dubes John A Prasetio buru-buru mengirimkan surat terima kasih terima kasih kepada pihak-pihak terkait atas penanganan yang super cepat. Namun, kini telah muncul lagi 6 korban lain yang merasa tertipu dan mengirimkan SOS.

Menurut Abdul Aziz dari kelompok WNI di Jeju yang menamakan dirinya Paguyuban Pyoseon Bersatu, keenam WNI itu mengaku datang pada bulan Desember tahun lalu. Mereka kerja serabutan dan bahkan sering menganggur. Akibatnya mereka frustasi dan ingin pulang ke tanah air. Sayangnya, bekal mereka sudah habis dan tiket pulang sudah kadaluwarsa.

Kelompok paguyuban Pyoseon Bersatu akhirnya turun tangan. Mereka untuk sementara memberikan tempat berteduh dan logistik yang diperlukan. Maklum, Jeju sangat jauh dari KBRI Seoul. Kini keenamnya tinggal di Musholla paguyuban.

Salah satu korban menyebutkan bahwa mereka telah tertipu oleh maklar-maklar kerja abal-abal. Dijanjikan akan diseberangkan ke pulau utama Korea untuk bekerja setelah tiba di Jeju, namun semua pepesan kosong belaka. Keenamnya berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa bayaran yang jelas.

"Kita menyerah kepada KBRI Seoul dan meminta bantuan untuk segera dipulangkan. Kita semua mengalami kesulitan karena tertipu oleh agen-agen yang memberangkatkan kami," ujarnya.

Mengetahui nasib WNI yang sedang kesulitan, KBRI segera mengambil langkah seribu. Perwakilan RI itu mengontak pihak-pihak terkait di Jakarta untuk koordinasi lebih lanjut, termasuk mencokok para oknum broker yang tega menjerumuskan temannya sendiri. Bahkan KBRI juga menjamin logistik bagi keenamnya melalui kelompok paguyuban.

"Kita mengucapkan terima kasih kepada Kelompok Ajoy dan Paguyuban Pyoseon yang telah memberikan emergency response kepada WNI kita yang terlantar. Kita apresiasi sekali. Ini bukti nyata bahwa kerjasama maha penting. Kepada korban mohon sedikit bersabar, kita sedang urus semuanya. Sementara bagi warga di tanah air,  jangan jangan ada yang tertipu lagi," ujar Wakil Dubes RI di Seoul, Cecep Herawan.

Keenam WNI itu berasal dari Jawa Timur, NTT dan Lombok. Mereka akan menyerahkan diri ke Imigrasi setempat setelah mendapatkan tiket kepulangan. Untuk sementara, KBRI bekerjasama dengan paguyuban untuk memenuhi logistik mereka.

Mahasiswi RI di Korea Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif

Mahasiswa Indonesia Berprestasi

Mahasiswa Indonesia berkibar dimana-mana, termasuk di Korea. Salah satunya menemukan obat gigi yg cespleng. Dubes RI di Seoul pun tidak segan menyangjungnya.

Pernah merasakan gigi ngilu saat menikmati minuman yang panas atau dingin? Bila rasa nyeri itu sering terjadi, mungkin Anda termasuk orang yang memiliki gigi sensitif atau dentine hypersensitivity. Gigi sensitif terjadi akibat pengikisan lapisan luar gigi atau enamel. Akibatnya, dentin yang berada di lapisan dalamnya akan terekspos ke cairan liur atau saliva dalam mulut. Dentin memiliki banyak pori-pori yang terhubung dengan saraf, sehingga pergerakan saliva atau rangsangan panas/dingin tersebut akan menuju langsung ke saraf sehingga gigi Anda akan terasa nyeri dan ngilu.

Untuk mengatasi rasa ngilu tersebut, maka diperlukan remineralisasi atau menumbuhkan kembali mineral yang hilang untuk menutup pori-pori dentin yang terekspos. Saat ini banyak produk komersial yang dikonsumsi untuk mengatasi rasa ngilu pada gigi sensitif seperti diantaranya berbahan dasar oxalate, hydroxyethyl methacrylate hydroxyapatite, dan glutaraldehyde. Sayangnya, dari kebanyakan produk komersial tersebut mempunyai kandungan bahan aktif yang berkonsentrasi tinggi. Bahkan, beberapa diantaranya berbahaya bagi tubuh bila dipakai berlebihan.

Adalah Ekavianty Prajatelistia, salah seorang mahasiswa S3 asal Indonesia yang tergabung dalam Laboratory for Biomimetic and Environmental Materials (LBEM), Pohang University of Science and Engineering (POSTECH), Korea Selatan, berhasil memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami. Adapun bahan alami yang digunakan berasal dari tunicate, salah satu hewan laut dan merupakan makanan yang lazim dimakan di restoran-restoran seafood di Korea.

"Capaian Ekavianty ini termasuk hal yang langka dan sekaligus membanggakan. Saya harap, mahasiswa Indonesia bisa berprestasi dan aktif melakukan penelitian. Selamat buat Ekavianty. Lanjutkan," ujar Dubes John A Prasetio serius.

Tunicate ini sangat unik karena memiliki kemampuan menyembuhkan luka di tubuhnya sendiri. Inilah yang menginspirasi Eka melakukan penelitian tentang bagaimana tunicate menyembuhkan dirinya sendiri untuk kemudian diaplikasikan ke gigi manusia agar dapat menumbuhkan mineral yang hilang pada gigi secara alami.

TOPA atau 3,4,5-trihydroxyphenylalanine yang terkandung dalam tunicate akan membentuk kompleks dengan metal ion dan menjadi lapisan pada gigi sekaligus menutup pori. Selanjutnya kalsium pada saliva akan ditangkap oleh kompleks tersebut dan membentuk hydroxyapatite sebagai mineral pembentuk gigi dan tulang.

Hasil penelitian Eka di bawah bimbingan Professor Hwang Dong Soo ini telah terbit di jurnal Advanced Healthcare Materials. Penelitian tersebut, yang bahkan telah dipatenkan di Korean Patent, juga tidak luput dari liputan media-media di Korea Selatan seperti KBS, MBC, dan YTN.

"Penelitian ini menarik karena dengan memakan tunicate, dipadu dengan bahan makanan yang mengandung metal ion seperti yang terkandung dalam vitamin dan suplemen, dengan konsentrasi rendah, dapat menutup pori-pori dentin hanya dalam waktu 4 menit dengan cukup berkumur," terang Eka menjelaskan hasil penelitiannya.

Bahan aktif tersebut akan membentuk senyawa kompleks dan menutup pori-pori dentin sebanyak ~50%. Lalu, tanpa berkumur, liur atau saliva dalam mulut akan membantu menumbuhkan mineral gigi selama 7 hari, dan pada akhirnya, sebanyak ~87% pori-pori dentin yang terekspos tersebut akan tertutupi dengan mineral pembentuk gigi.

Menariknya, ternyata lapisan yang terbentuk tidak merusak warna gigi, sehingga tidak merusak estetika pada gigi. Eka berharap penelitian ini dapat membuka wawasan untuk studi-studi lain dan dapat diterapkan pada produk komersil.

"Eka bekerja di lab secara bersungguh-sungguh sehingga dapat menghasilkan hasil penelitian yang baik," ujar Professor Hwang Dong Soo saat ditanya mengenai sosok Eka yang tergabung dalam grupnya.

Selain menjadi mahasiswi dan peneliti, Eka juga berperan ganda mengasuh putrinya, Kayyisha (3 tahun), dan menjadi istri dari Andrieanto, mahasiswa Indonesia di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) yang juga sedang melanjutkan studi S3. Eka dan Andri pun aktif bergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA).

 

BNI Cabang Seoul Resmi Beroperasi

Pembukaan BNI Seoul 2

Seoul -Di tengah kelesuan ekonomi di berbagai penjuru dunia, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mulai mengoperasikan kantor cabang di Seoul, Korea Selatan (Korsel). Pasar mana yang disasar?

Di bawah suhu minus 5 derajat celcius, pita di pintu masuk BNI46 Cabang Seoul yang berlokasi di Wise Tower jantung ibukota Korsel, digunting oleh Dubes RI, John Prasetio bersama Manager GM Cabang Seoul, Wan Andi Aryati. 

Sontak tepuk tangan bergemuruh. Beberapa pejabat Indonesia dan Korsel pun hadir di acara tersebut. Ada Wakil Dubes Cecep Herawan, Presdir BNI Syariah Dinno Indiano, Ustad Wijayanto, staf KBRI serta kalangan perbankan Korsel.

Menurut Wan Andi, pendirian cabang di Seoul ini bukan sekedar latah ingin tampil di luar negeri. Meski industri perbankan di Korsel sudah begitu saling berdesakan, namun bank pelat merah itu mengaku masih melihat celung-celung pasar yang bisa digarap.

Sebagaimana bank lainnya, target pasar yang disasar adalah bidang perdagangan. BNI Seoul ingin menjadi jembatan kerja sama perdagangan Indonesia-Korsel dengan menyediakan pinjaman dan aneka jasa perbankan terkait. Bukan hanya itu, BNI juga 'jualan' jasa bagi pengusaha Korea Selatan yang ingin investasi di Indonesia.

"Jujur saja, kami juga menyasar pasar tenaga kerja di Korsel yang jumlahnya mencapai 40 ribu orang. Kami berjanji untuk bisa memberikan pelayanan terbaik bagi para pahlawan devisa Indonesia," ujarnya. 

Sementara itu, Dubes John Prasetio menyatakan bahwa gonjang-ganjing ekonomi dunia masih terus terjadi. Pasar saham dan mata uang di beberapa negara terpantau mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa sentimen ekonomi global belum menggembirakan.

Uniknya, ekonomi Indonesia masih relatif cukup kokoh di tengah guncangan ketidakpastian. Kerjasama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Korea masih positif. Permintaan produk Indonesia dan investasi ke tanah air juga bergairah.

"Mereka merespons positif kebijakan ekonomi Presiden Jokowi. itulah mengapa saya ikut yakin bahwa keberadaan BNI di Korea Ini sangat penting untuk menjembatani kerja sama ekonomi kedua belah pihak," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BKPM, investasi langsung Korsel dalam 5 tahun terakhir berada di rangking 4 dengan jumlah lebih dari 7 miliar dolar. Selain itu, saat ini terdapat lebih dari 2.700 perusahaan Korea beroperasi di Indonesia.


Pengiriman TKI Ilegal ke Jeju Harus Dihentikan

IMG 0266

Sebagian calon TKI yang terlantar di Jeju

Gelombang pengiriman TKI ilegal ke wilayah Jeju, Korsel, kemungkinan besar masih akan berlangsung. Dubes John Prasetio berharap pihak berwajib Indonesia dapat mencegahnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 55 WNI dikirim secara ilegal ke Jeju, Korsel. Sepuluh diantaranya menyatakan ingin pulang sedangkan sisanya tidak diketahui rimbanya. Saat ini KBRI Seoul tengah mengupayakan penyelesaian administrasi dan membantu kebutuhan kesepuluh WNI yang sudah kehabisan bekal tersebut.

Sementara itu, lagi-lagi KBRI mengendus kabar bahwa  26 WNI yang datang kloter 1 dan 2 masih dibawa broker berpindah-pindah di Jeju. Belum mendapat pekerjaan yang dijanjikan. Bahkan, penawaran kerja di jeju dengan modus ini makin santer, terutama di Indramayu. Terdapat isu, medio Februari ini akan ada lagi gelombang WNI yg diberangkatkan ke Jeju.

Dubes John Prasetio merasa jengah dengan kelakuan para pihak yang sengaja menjerumuskan sesama WNI. Tanpa visa yang benar maka potensi masalah hukum bagi para korban bisa runyam. Karenanya, upaya preventif harus segera dilakukan.

"Saya minta dengan sangat agar pihak berwajib di Indonesia dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara cepat agar korban tidak bertambah. Para pelaku "perdagangan manusia" ini harus diajukan ke pengadilan sesuai hukum yang berlaku," ujarnya.

Koordinator Fungsi Perlindungan KBRI Seoul, Aji Surya, mengendus adanya kelanjutan modus pengiriman TKI ilegal ke Jeju karena merupakan wilayah bebas visa dari kawasan tertentu. Kegiatan haram ini kemungkinan merupakan kongkalingkong para oknum di kedua negara. Para calon TKI bahkan dipalakin dengan membayar hingga Rp 100 juta untuk bisa berangkat ke Jeju dengan visa yang tidak sesuai peruntukannya. ()

Salam Tempel Kemul Berkumandang di Korea

komawo1

Foto: M Modin/detikcom

Seoul - Menambah deretan panjang paguyuban masyarakat Indonesia di Korea, hari ini lahir lagi Komunitas Anak Wonosobo atau disingkat KOMAWO. Dengan 130-an anggota, mereka bertekad untuk membantu pembangunan Wonosobo.

Bertempat di sebuah kafe di Kota Ansan, Korea, Senin (8/2/2016), KOMAWO dideklarasikan di depan para pejabat KBRI Seoul. Suasana sangat meriah, tari Lengger asal Wonosobo ditampilkan, hadir juga kelompok band dangdut dengan beberapa penyanyi.

komawo2

Foto: M Modin/detikcom

Tidak tanggung-tanggung, sewa ruangan saja kalau dirupiahkan sebesar Rp 3 juta, konsumsi Rp 15 juta dan sewa band Rp 12 juta. Bukan hanya itu, para pesertanya menggunakan jaket sama dengan suguhan awal teh kotak made in Indonesia. Semua ditanggung para TKI asal Wonosobo itu. Wuih.

Menurut Wawan, Ketua Komunitas, KOMAWO didirikan untuk belajar berorganisasi, bekerjasama dan berbagi. Cita-cita besarnya adalah memberikan bantuan pendidikan kepada anak yatim di Wonosobo melalui deposito organisasi.

komawo3

Foto: M Modin/detikcom

"Saat ini, organisasi ini baru punya dana sekitar Rp 60 juta dari iuran sebagian anggota atau Rp 200 ribu sebulan per-orang. Diharapkan di masa datang, kontribusi anggota menjadi lebih luas sehingga target bisa terealisir segera," ujar Wawan.

Dalam sambutannya mewakili Duta Besar John A Prasetio, Koordinator Perlindungan WNI KBRI Seoul, M Aji Surya menekankan agar primordialisme Wonosobo harus berimplikasi positif. Selain itu, organisasi harus mampu menjauhkan anggotanya dari paham-paham ekstrem yang membahayakan.

Acara yang dihelat di hari Imlek tersebut dihadiri hampir semua anggota yang datang dari seluruh penjuru Korea. Ketika kata KOMAWO diteriakkan maka para anggota sontak berteriak: "Salam kompak. Salam tempe kemul". Maklumlah, Wonosobo dikenal sebagai tempe yang digoreng dengan selimut (kemul) tepung. (try/try)

Saat Ribuan WNI Khusyuk Ikuti Pengajian Akbar di Gumi Korsel

silakbar 2016

Silaturahmi Akbar 2016 yang dihelat oleh Komunitas Muslim Indonesia (KMI) Korsel berlangsung seru. Ribuan pekerja Indonesia hadir di kota kecil Gumi, 280 km dari Seoul.

Puluhan bus dari berbagai penjuru memenuhi lapangan parkir Gumi Convention Centre, Selasa (9/2/2016). Berbagai kendaraan besar itu mengangkut tujuh ribuan pekerja Indonesia untuk sebuah pengajian akbar yang diisi tausiah KH Yahya Zainul Maarif yang didatangkan dari Cirebon.

Tidak hanya itu, di depan Convention Centre itu, puluhan tenda berdiri untuk menjual berbagai kebutuhan harian. Mulai kopi panas, bakso hingga buku-buku agama. Tidak ketinggalan, KBRI juga membuka warung konsuler untuk memberikan pelayanan lapor diri hingga urusan imigrasi.

KH Yahya dalam tausiahnya menyatakan bahwa WNI yang kerja di luar negeri harus tetap memperhatiakan keluarganya di Indonesia. Jangan sampai uang yang dicari susah payah di Korsel digunakan tidak semestinya di kampungnya. Kejadian semacam ini sering  terjadi karena orang tua lupa tujuan hidupnya. "Jangan pula anaknya disekolahkan lalu jadi tukang bom," katanya.

Selain itu, kesederhanaan menjadi kunci penting bagi para pekerja di luar negeri. Tidak sedikit, orang tua memanjakan anaknya di Indonesia dengan berbagai peralatan yang akhirnya menjerumuskannya. Itu semua akibat sang orang tua kadang ingin anaknya hidup secara "modern".

"Karena tidak bisa hidup sederhana lagi maka kehidupan orang kadang tergelincir. Tidak sedikit, uang habis cepat lalu jadi TKI lagi," ujarnya.

Dubes John A Prasetio melalui Penanggung Jawab Perlindungan WNI, M Aji Surya menggarisbawahi bahwa para pekerja Indonesia harus meningkatkan profesionalisme dan kedisiplinan. Hanya dengan cara itu jumlah dan bargaining pekerja Indonesia di Korea Selatan dapat ditingkatkan di masa depan.

Menurut Ketua KMI, Suripto Ilham, kegiatan di Gumi ini merupakan salah satu dari dua pengajian akbar yang dihelat setiap tahun. Acara ini diikuti ribuan pekerja yang berasal dari 50 musala Indonesia di seantero Korsel. Diakui, pengajian tersebut menelan biaya kisaran Rp 300 juta yang berasal dari sponsor dan kas KMI.

KMI saat ini sedang merencanakan pembangunan masjid di kota Gumi dan Daegu. "Masjid pertama perlu dana Rp 7 miliar sedang yang kedua Rp 5 miliar. Karenanya kami juga menggalang dana di pengajian ini. Mohon doanya," ujar Suripto Ilham.

DUBES JOHN PRASETIO: WASPADAI PERDAGANGAN MANUSIA KE JEJU

IMG 0238

KBRI Seoul menengarai adanya penipuan yang mengarah perdagangan manusia Indonesia ke Jeju, Korsel. Banyak WNI dijanjikan bekerja disana tanpa visa yang benar. Bahkan mereka harus membayar hingga Rp 100 juta.

Baru-baru ini misalnya, KBRI menegarai sejak awal tahun 2016 ada 55 WNI ilegal yang datang ke Jeju melalui Hongkong. Setelah tiba disana mereka dijemput oleh "broker".  Kabarnya, dari 55 orang tersebut, 44 orang telah "diambil" dan dipekerjakan tanpa perlindungan hukum. Sisanya  11 orang masih lontang-lantung dan kekurangan kebutuhan harian.

Menurut informasi salah satu korban,  masing-masing harus membayar antara Rp 75 juta sampai Rp 100j uta. Disinyalir ada kerjasama antara oknum WNI dengan warga negara lain yang ada di indonesia.

"Saya minta warga kita dimanapun waspada atas iming-iming menjadi pekerja ilegal di Korsel. Resikonya jauh lebih besar dari uang yang didapat," ujar Dubes RI untuk Korsel, John Prasetio dengan mimik serius.

Dubes mengatakan bahwa saat ini KBRI tengah melakukan  bekerjasama dengan otoritas setempat dan Indonesia untuk menangani permasalahan ini.

Kejadian serupa pernah terjadi di Jeuju pada Oktober 2015. Sebanyak 3 orang dan 2 pelaku (broker) yg kesemuanya WNI telah ditangkap otoritas Korea dan disidangkan pada November 2015.  Mereka telah mendapatkan hukuman seauai aturan yang berlaku.  ()

Pertemuan The 13th ASEAN-Korea FTA Implementing Committee Meeting dan The 5th ASEAN-Korea FTA Working Group on Investment

aseanrok fta

Rangkaian pertemuan The 13th ASEAN-Korea FTA Implementing Committee Meeting dan The 5th ASEAN-Korea FTA Working Group on Investment dilaksanakan pada tanggal 1-4 Februari 2016 bertempat di The Palace Hotel dan Lotte Hotel, Seoul. Delegasi RI berasal dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, BKPM, Sekretaris Kabinet, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Pertemuan membahas perkembangan implementasi ASEAN-Korea FTA, pending matters dan peningkatan kerja sama RI-ROK terkait AKFTA. Pertemuan juga membahas status dana ASEAN-Korea Economic Cooperation (AKEC Fund), proyek-proyek kerja sama ekonomi yang telah dan akan dilaksanakan, usulan proyek baru untuk tahun 2015-2016 dan pengaturan mekanisme kerja dan mekanisme pendanaan proyek-proyek.

Sebagai latar belakang informasi, pada pertemuan Pertemuan ASEAN-Korea Commemorative Summit bulan Desember 2014 di Busan, Korea Selatan, para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN dan Korea sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua Pihak untuk mencapai target perdagangan USD 200 miliar pada tahun 2020.

Terkait dengan AKFTA, pada perkembangannya sejumlah Negara Anggota ASEAN (Laos, Singapura, Malaysia) dan Korea telah menandatangani Third Protocol to Amend TIG AKFTA dan akan entry into force per tanggal 1 Januari 2016, sedangkan ASEAN lainnya termasuk Indonesia telah menandatangani protokol tersebut secara ad-referendum dan disepakati tercantum per tanggal 22 Desember 2015. Sejumlah kesepakatan dalam Third Protocol to Amend TIG AKFTA tersebut adalah untuk melakukan sejumlah amandemen atas beberapa ketentuan terkait persetujuan perdagangan barang AKFTA, yaitu: (i) Persetujuan atas elemen fasilitasi perdagangan; (ii) Penyesuaian atas pemberlakuan mekanisme Reciprocal Arrangement (RA) untuk produk dalam kategori sensitive track; dan (iii) Kesepakatan untuk menyusun jadwal penurunan tarif secara line-by-line untuk digabungkan menjadi bagian dari Persetujuan Perdagangan Barang AKFTA.

Terkait dengan kerja sama ASEAN-Korea, pertemuan membahas status dari ASEAN-Korea Economic Cooperation Fund (AKECF) dan mekanisme terbaru dalam proses pencairan dana dan pelaporan proyek. Berdasarkan pertemuan sebelumnya, pertemuan telah menyepakati 7 (tujuh) proyek baru di tahun 2015. Proyek-proyek baru tersebut meliputi: (i) Workshop on Scheduling of Reservations (ASEC), (ii) Technical Assistance Seminar for the Maximum Utilization of ASEAN-Korea FTA (Korea), (iii) ASEAN Workshop on FTA utilization for SMEs (Vietnam), (iv) Training Course on Molecular Techniques for Rice Quality Assurance (Korea), (v) ASEAN-Korea Cooperation for the Improvement of Building Energy Efficiency (Korea), (vi) Capacity Building Program on Water Resource Management for ASEAN Countries (Korea), dan (vii) Good Recycles Product (GR) Certification Distribution in ASEAN (Korea)

Selain itu, pada pertemuan kedua pihak menyambut baik kontribusi ASEAN-Korea Center terhadap hubungan kerja sama perdagangan dan investasi antara ASEAN dan Korea. Kedua pihak juga menyampaikan pentingnya untuk memperdalam kerja sama ekonomi antara ASEAN dan Korea guna menyambut terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Siaran Pers Tentang Perkembangan Situasi di Jakarta

tagar-PR

Pada sekitar pukul 10.50 pagi ini, sebuah bom bunuh diri meledak di sebuah kafe di persimpangan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, yang diikuti oleh dua ledakan susulan di area sekitar persimpangan tersebut. Menyusul kejadian ini, baku tembak terjadi antara para pelaku dan polisi.

 

Dalam kurun waktu setengah jam sejak insiden pertama, polisi telah berhasil mengendalikan situasi dan pada pukul 3.00 sore situasi di area serangan teror tersebut telah kembali normal. Lima orang teroris tewas dalam kejadian tersebut.

Serangan teror ini telah menewaskan dua orang warga sipil, termasuk seorang warga negara asing (warga negara Kanada). Selain itu 19 orang warga sipil, termasuk 4 orang warga negara asing (warga negara Aljazair, Austria, Belanda, dan Jerman), dilaporkan terluka dalam serangan tersebut. Lima orang polisi juga mengalami luka-luka dalam upaya melawan aksi para pelaku teror.

Seluruh tempat usaha dan gedung-gedung di sekitar lokasi kejadian diharapkan dapat beroperasi penuh dan kembali normal besok (15 Januari 2016).

Pemerintah Republik Indonesia mengutuk serangan teror keji yang telah menewaskan warga sipil ini dan menyampaikan duka cita dan simpati mendalam kepada para korban serta anggota keluarga yang berduka.

Pemerintah Republik Indonesia tetap berkomitmen tinggi untuk melawan terorisme dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk memastikan keamanan dan keselamatan masyarakat dan warga negara asing di Indonesia. Lebih lanjut, Pemerintah Republik Indonesia meminta masyarakat dan warga negara asing untuk tetap tenang dan melanjutkan kegiatan sehari-hari seperti biasa.

 

Perayaan Natal Masyarakat Indonesia di Korea Berlangsung Penuh Kebersamaan

natal3

Perayaan Natal Warga Negara Indonesia di Korea diselenggarakan oleh KBRI Seoul bersama masyarakat pada 27 Desember 2015 di Gereja Yeoido Full Gospel. Duta Besar RI John A. Prasetio menyampaikan bahwa Tema Natal 2015 yaitu "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah" sangat tepat, terutama karena mengandung pesan utama bahwa kita adalah satu keluarga. Sebagai anggota keluarga, kita masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik. Dalam hal ini kunci utamanya adalah sikap saling menghormati, toleransi, dan kebersamaan sebagai warga bangsa.

Duta Besar menyampaikan rasa senangnya dengan kebersamaan warga Indonesia yang berasal dari berbagai agama dan suku bangsa secara bersama-sama mempersiapkan dan melaksanakan perayaan Natal sebagai refleksi sikap toleransi dan kegotongroyongan yang tinggi.

Disampaikan juga pentingnya "branding" Indonesia. Peran setiap warga Indonesia untuk turut mendukung branding Indonesia sangat penting lebih-lebih dalam situasi yang sangat kompetitif saat ini baik di bidang investasi, perdagangan, pariwisata maupun pasar tenaga kerja. Dengan mencuatnya kembali isu terorisme pada pertengahan November lalu pasca serangan terror di Stadion, Gedung Konser dan Café di Paris, banyak negara meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pengamanan dan pencegahan terhadap kemungkinan aksi terorisme.

Dalam hal ini diharapkan agar setiap warga negara Indonesia di Korea selalu menjaga nama baik bangsa, taat hukum, berdisiplin, bekerja keras dan menjauhkan diri dari pengaruh ekstrimisme dan radikalisme. Lebih lanjut disampaikan Indonesia adalah bangsa yang pluralis, multi kultur dan etnik. Dalam hal ini perlu terus dipupuk dan ditumbuhkembangkan sikap saling menghormati dan menghargai,kebersamaan dan kepedulian.

Sebagai infiormasi, jumlah Warna Negara Indonesia yang tinggal di Korea Selatan mencapai lebih dari 40.000. Saat ini di Korea Selatan terdapat sekitar 80 organisasi WNI, lebih dari 32 paguyuban, 44 masjid dan 25 gereja.

Perayaan Natal kali ini melibatkan berbagai unsur masyarakat dan dihadiri oleh perwakilan-perwakilan Persekutuan Gereja Indonesia Korea (PGIK) dari berbagai kota dan daerah. Acara menghadirkan Pendeta Hendra Gunawan dari Taiwan sebagai pembicara Natal dan dihadiri oleh pengurus PGIK dan Gereja Yeoido Full Gospel. (KBRI Seoul)

Pengumuman Akhir Tahun

office closed

PEMBERITAHUAN/공지 사항/NOTIFICATION

SEHUBUNGAN DENGAN TUTUP ANGGARAN AKHIR TAHUN PELAYANAN KONSULER KBRI SEOUL DAN KUKRI BUSAN AKAN TUTUP PADA TANGGAL 24 DESEMBER 2015 SAMPAI DENGAN 03 JANUARI 2016. PELAYANAN KONSULER AKAN DIBUKA KEMBALI PADA TANGGAL 04 JANUARI 2016.

PEMBAYARAN BIAYA PELAYANAN KEKONSULERAN HARUS DILAKUKAN PALING LAMBAT PADA TANGGAL 23 DESEMBER 2015.

 

주한 인도네시아 대사관과 부산 인도네시아 영사관  연말 접수 마감일은 12 23일까지 입니다.

2015 12 24일부터  01 03일까지는 비자 접수가 불가합니다.

.  1 04일부터 정상근무 합니다.

 

THE INDONESIAN EMBASSY IN SEOUL AND THE CONSULAR OFFICE IN BUSAN WILL BE CLOSED FROM DECEMBER 23, 2015 until JANUARY 3, 2015. WE WILL REOPEN ON JANUARY 4, 2016. PAYMENT FOR ALL CONSULAR SERVICE FEE MUST BE PAID THE LATEST ON DECEMBER 23, 2015.

 

*for visa pickup only we still open until December 31, 2015 from 9 am to 12.30 pm

Indonesia- Korea Selatan Selenggarakan Joint Commission Meeting ke-2 untuk Lebih Perkokoh Kerjasama Bilateral

JCM

Dalam rangka terus memperkokoh hubungan dan kerjasama bilateral RI-ROK, pada 18 Desember 2015 di Seoul, Indonesia dan Korea Selatan telah menyelenggarakan the 2nd Joint Commission Meeting (JCM) ke-2 antara Indonesia dengan Republik Korea (ROK). Pertemuan JCM merupakan implementasi kesepakatan antara Presiden Jokowi dan Presiden Park Geun-hye dalam pertemuan bilateral di Busan pada 11 Desember 2014. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri RI dan beranggotakan Kepala BKPM, wakil-wakil dari beberapa Kementerian/Lembaga terkait seperti Kantor Menko Polhukam, kantor Menko Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, BNP2TKI dan KBRI Seoul. Sementara Delegasi ROK dipimpin oleh Menteri Luar Negeri ROK, Yun Byung-se.

Pertemuan kedua JCM membahas kerja sama kedua negara di berbagai bidang antara lain politik, ekonomi, sosial budaya, people to people contact serta isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan kedua negara.

Pada pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri ROK menyampaikan harapan Pemerintah ROK agar Presiden RI dapat mengadakan kunjungan kenegaraan ke ROK pada semester pertama tahun 2016 yang diyakini dapat lebih mempererat kerja sama kedua negara di berbagai bidang termasuk perdagangan, investasi, kemaritiman dan people to people contact. Indonesia dan Korea Selatan juga sepakat perlunya menyelenggarakan Pertemuan JCM secara reguler setiap dua tahun sekali dan Pertemuan Senior Official Meeting (SOM) setiap tahun.

Di bidang pertahanan, Indonesia menekankan agar pembangunan kapal selam ke-3 dapat dilakukan di Indonesia dengan skema joint section plus. Indonesia juga menyampaikan harapannya agar Korea Selatan dapat membeli lebih banyak pesawat militer/sipil buatan Indonesia, CN 235 serta meng-upgrade 12 CN 235 yang dimiliki Republic of Korea Aircraft (ROKAF).

Pertemuan sepakat untuk perkuat kerjasama di bidang maritim baik dalam kerangka kerjasama bilateral maupun regional. Indonesia mengharapkan agar kedua negara dapat bekerjasama dalam mengimplementasikan 5 (lima) pilar kerjasama maritim sebagaimana dimandatkan pada EAS Summit di Kuala Lumpur. ROK berminat untuk mengembangkan kerjasama maritim dengan Indonesia khususnya untuk pembangunan galangan kapal, dan pembangunan Kesatuan Penjaga Pantai. Saat ini ROK sedang melakukan studi yang mendalam mengenai potensi kerjasama maritim kedua negara. Hasil studi ini akan menjadi dasar bagi peningkatan kerjasama maritim kedua negara.

Pertemuan mencatat trend perdagangan kedua negara yang terus menurun dan pada tahun 2014 tercatat sebesar USD 23,7 milyar. Untuk itu disepakati perlunya mencari langkah-langkah yang baru dan kreatif serta mengintensifkan komunikasi antar pejabat kedua negara dalam mendorong penyelesaian ASEAN-ROK FTA dan dimulainya kembali perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership (IK-CEPA).

Di bidang investasi, minat investor ROK di Indonesia masih cukup tinggi dan investasi ROK pada tahun 2015 (Jan-Sept) menduduki urutan empat investor terbesar di Indonesia. Kedua Menteri menyambut baik ditandatangani MoU kerja sama untuk promosi Investasi ROK di Indonesia antara Kepala BKPM dan Woori Bank, ROK. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu dalam mendorong perusahaan ROK untuk menanamkan modalnya di Indonesia. ROK menyampaikan minatnya untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan tenaga listrik 35 ribu megawatt dan harapkan dukungan Pemri terhadap rencana dimaksud.

Di bidang keuangan, Pertemuan menyambut baik pendirian Bank BNI di Seoul, ROK. Bank BNI merupakan bank Indonesia yang pertama kali membuka cabang di ROK. Indonesia mengharapkan bantuan dan dukungan ROK agar kegiatan Bank BNI dapat berjalan lancar.

Pertemuan juga sepakati pentingnya meningkatkan kerjasama pariwisata seperti kegiatan promosi bersama dan peningkatan frekuensi penerbangan antar kedua negara. Pemeri telah memberikan fasilitas Pemberian bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor biasa yang diharapkan dapat lebih mendorong kunjungan wisatawan Korea ke Indonesia. Indonesia juga harapkan agar ROK dapat memberikan fasilitas bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor biasa Indonesia untuk mendorong arus wisatawan Indonesia ke Korea.

Di bidang sosial budaya dan pendidikan, Pemri menyampaikan apresiasi atas bantuan perlindungan yang diberikan oleh Pemerintah ROK kepada BMI yang bekerja di Korea. Pertemuan sepakat untuk segera implementasikan pertukaran guru dan dosen terutama di bidang Bahasa dan peningkatan kualitas Puast Studi Korea di Indonesia dan pembentukan Pusat Studi Indonesia di Korea.

Sementara itu untuk bidang Kerjasama Pembangunan, Indonesia adalah mitra terbesar ke-6 kerjasama pembangunan dari 120 negara. ROK akan terus memperkuat kerjasama pembangunan di berbagai bidang antara lain ekonomi sosial, administrasi publik, lingkungan hidup, dan pengelolaan sumber daya alam. Dalam kaitan ini, kedua negara diharapkan dapat segera menyelesaikan Framework Agreement (FA) Economic Development Cooperation Fund (EDCF) untuk periode 2016-2020 sebagai dasar bagi peningkatan kerja sama pembangunan kedua negara.

Kunjungan Menteri Perdagangan dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif ke Korea Selatan

kotra

Pada tanggal 9 – 11 Desember 2015, Menteri Perdagangan, Bapak Thomas Lembong, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Bapak Triawan Munaf, berkunjung ke Korea Selatan. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kerjasama antara kedua negara terutama dalam bidang perdagangan dan investasi serta pengembangan industri kreatif di Indonesia. Dalam kunjungannya Mendag melakukan pertemuan dengan pihak-pihak mitra Korea Selatan antara lain Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA), Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi dan Korea International Trade Association (KITA). Selain itu, Mendag juga melakukan pertemuan dengan berbagai perusahaan besar Korea Selatan.

Pertemuan Mendag dengan KOTRA membahas mengenai rencana Pemerintah Indonesia untuk membentuk Badan Promosi Eskpor dan berharap KOTRA dapat mendukung program ini berdasarkan pengalaman yang dimiliki KOTRA selama ini yang telah sukses mempromosikan produk ekspor Korea Selatan di manca negara. Sedangkan pertemuan Mendag dengan Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi Korea Selatan dibahas mengenai kelanjutan pembahasan perjanjian Indonesia – Korea Comprehensive Economic Partnership (IKCEPA) dan keinginan kedua negara untuk menyelesaikan proses negosiasi perjanjian dimaksud. Selanjutnya pada hari terakhir Mendag bertemu dengan pihak KITA dimana dalam pertemuan tersebut dibahas bagaimana meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara terutama di bidang industri kreatif. Pada hari yang sama, Kepala Bekraf melakukan pertemuan dengan pihak Korea Creative Content Agency (KOCCA) untuk mempelajari bagaimana KOCCA bekerja selama ini untuk memajukan ekonomi kreatif di Korea Selatan dan mempromosikannya ke manca negara. Hal ini dilakukan mengingat Bekraf merupakan Badan yang baru didirikan pada awla tahun 2015 sehingga masih banyak yang perlu dipelajari dan Korea Selatan merupakan negara dengan industri kreatif yang sangat maju.

Selain pertemuan dengan instansi Pemerintah Korea Selatan, Mendag dan Kepala Bekraf juga melakukan pertemuan dengan perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan yang merupakan investor-investor di Indonesia. Pertemuan ini dilakukan untuk membicarakan mengenai permasalahan yang ditemui oleh perusahaan-perusahaan tersebut dalam berinvestasi di Indonesia dengan harapan perusahaan-perusahaan ini akan melakukan investasi lebih besar lagi di Indonesia. Hal ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden Jokowi yang menunjuk Kepala Bekraf sebagai penghubung Korea Selatan dalam hal investasi dan perdagangan. Selain, pertemuan-pertemuan yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut, Mendag dan Kepala Bekraf juga melakukan kunjungan Cheil Jedang (CJ) Creative Center. Tempat tersebut merupakan tempat dimana bakat-bakat di Korea Selatan dibina dan dikembangkan, baik bakat di bidang perfilman maupun bakat musik.

Di sela-sela kunjungan, Mendag memberikan penghargaan Primaduta kepada 4 perusahaan Korea yang dinilai memiliki kinerja yang baik dalam mengimpor produk Indonesia ke Korea Selatan. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah Nobland International, E-max Trading, Dyerex International dan Easterntex. Acara penghargaan tersebut diadakan di Wisma Duta KBRI Seoul dan dihadiri oleh petinggi-petinggi perusahaan-perusahan besar di Korea Selatan.

 

KUNJUNGAN PRESIDEN KE 6 RI, BAPAK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO KE KOREA SELATAN

SBY

Pada tanggal 16 - 20 November 2015, dilaksanakan kunjungan kerja H.E. DR. Susilo Bambang Yudhoyono ke Seoul, Republik Korea, dalam rangka menghadiri dan memimpin sidang the Fourth Session of the Assembly and the Eight Session of the Council of the Global Green Growth Initiative (GGGI). Pada kunjungan kerja tersebut, H.E. DR. Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono dan Bapak Dino Patti Djalal serta delri dari BAPPENAS yaitu Direktur Sumber Daya Energi Mineral dan Pertambangan, Bapak J. Rizal Primana dan stafnya.

Sebagai latar belakang, the Global Green Growth Initiative, berpusat di Republik Korea, adalah organisasi internasional yang mempromosikan “pertumbuhan hijau” yaitu paradigma keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. GGGI berdiri pada tahun 2010 dan dibentuk pertama kali oleh Presiden ke-10 Republik Korea, H.E. Lee Myung Bak, dengan misi untuk menjadi jembatan antara negara berkembang dan negara maju untuk menciptakan peluang pembangunan ekonomi dan lingkungan yang berkesinambungan.

Sebagaimana diketahui bersama, pada pertemuan ke-3 Assembly of the Global Green Growth Initiative (GGGI) dan sidang ke-6 Council of the GGGI yang dilaksanakan pada tanggal 18 November 2014 di kota Songdo, Republik Korea, H.E. DR  Susilo Bambang Yudhoyono telah terpilih dan disahkan secara aklamasi sebagai Ketua Dewan (Chair of Council) dan Presiden Majelis (President of the Assembly) dari GGGI.

Selain menghadiri pertemuan GGGI, H.E. DR. Susilo Bambang Yudhoyono juga menerima undangan untuk menjadi Keynote Speaker pada acara The Second Seoul Climate - Energy Conference: On the Road to Paris and Green Big Bang di  Grand Ballroom Hotel JW Mariott Dondaemun Square pada tanggal 20 November 2015.

Konferensi dimaksud merupakan acara besar tahunan yang diselenggarakan oleh KAIST Graduate School of Green Growth dan organisasi Coalition  for Our Common Future dan dihadiri oleh berbagai kalangan.di Korea termasuk akademisi, pelaku usaha, organisasi internasional, non-governmental organization dan government officials.

Pada sambutannya, H.E. DR Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan mengenai upaya dampak perubahan iklim sebagai isu global yang menjadi perhatian di tingkat nasional, regional dan internasional. Disampaikan juga mengenai kebijakan RI terkait upaya mitigasi dampak perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Disampaikan juga mengenai kebijakan terkait green growth dan renewable energy di Indonesia. Disampaikan juga mengenai keterkaitan RI dan ROK khususnya kebijakan Republik Korea di bidang renewable energy dan peluang kerja sama dan upaya bersama RI – ROK dalam isu-isu climate change, energy security dan pembangunan kapasitas energi terbarukan di kedua negara.

SURAT EDARAN

KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
SEOUL

 

SURAT EDARAN

 

Kepada Yth.
Seluruh Warga Negara Indonesia
di
Korea Selatan

Dengan homat,

Sehubungan dengan adanya penangkapan Warga Negara Indonesia oleh Aparat Keamanan setempat dengan tuduhan pelanggaran keimigrasian dan dugaan keterlibatan mendukung organisasi radikal IS, KBRI Seoul dengan ini menghimbau kepada seluruh Warga Negara Indonesia di Korea Selatan untuk:

1. Bersikap tenang dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sebagaimana biasa dengan tetap menjaga kehati-hatian.

2. Senantiasa mematuhi seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Korea Selatan serta menghindari berbagai tindakan yang dapat mencederai citra Bangsa Indonesia dan dinilai membayakan keamanan negara setempat.

3. Menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul sekiranya terdapat hal-hal yang perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Demikian surat himbauan ini, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

 

                                                                                                                                    Seoul, 19 November 2015
                                                                                                                                    KBRI Seoul

Meningkatkan Kerukunan dan Kekompakkan dalam Pentas Seni Kebersamaan Satu Negeri

pentasseni3

Pada Jumat, 23 Oktober 2015, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, Korea Selatan menggelar pentas kebudayaan yang bertema Pentas Kebersamaan Satu Negeri dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober mendatang.

Pada kesempatan tersebut turut hadir ketua MPR RI, Bapak Zulkifli Hasan dan delegasi, Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio, perwakilan dari berbagai organisasi kemasyarakatan Indonesia yang ada di Korea Selatan (Korsel), mahasiswa, mix married dan tenaga kerja Indonesia serta beberapa warga Korsel pencinta Indonesia dari berbagai kalangan.

Acara berlangsung meriah dihadiri sekitar 400 penonton dan dilaksanakan di halaman dalam kantor KBRI Seoul. Acara tersebut diramaikan oleh berbagai grup musik dan tim kesenian dari kalangan mahasiswa dan juga Tenaga Kerja Indonesia seperti grup akustik dari persatuan pelajar Indonesia di Korea, Hary dari UT Korea, grup tari dari kelompok tari tradisional Indonesia, Yuseng Cho salah satu penyayi finalis dari KDI, Jaranan dan Ricky Ujung, penyanyi dangdut asal Korea. Pada acara tersebut juga dimeriahkan oleh grup acapela Korea "onederful" dan penyanyi Korea terkenal Eru dan Tae Jin Ah.

Pada kesempatan menyampaikan kata sambutan pada acara tersebut, Bapak Dubes RI menyampaikan bahwa acara ini merupakan inisiatif dari warga Indonesia dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dan juga hari Pahlawan 10 November 2015.

Selanjutnya disampaikan juga bahwa acara ini merupakan salah satu upaya untuk membangun branding bahwa orang Indonesia adalah orang yang disiplin, pekerja keras dan bisa diandalkan. Beliau juga menyampaikan agar melalui acara ini akan dapat makin menumbuhkan semangat kebersamaan, meningkatkan kerukunan, kekompakan, persatuan dan kesatuan diantara warga Indonesia di Korea Selatan.

Bapak Zulkifli Hasan yang datang bersama delegasi MPR RI disambut oleh warga Indonesia. Rombongan yang berada di Korsel atas undangan parlemen (National Assembly) sejak Kamis tanggal 22 Oktober 2015, sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan Ketua Parlemen dan PM Korea Selatan.

Pada saat Eru menyanyikan lagu kemesraan, Bapak Zulkifli bersama 3 anggota MPR RI lain termasuk Bapak Dubes ikut naik kepanggung dan bernyanyi yang diikuti oleh penonton.

Ratusan WNI yang hadir larut dalam kemeriahan acara. KBRI Seoul juga menyajikan makan malam khas Indonesia seperti Baso, Sate dan lainnya.

Acara ditutup dengan menari bersama tarian poco-poco dan penampilan grup Campur Sari dari salah satu perwakilan masyarakat. (KBRI Seoul)

Pameran Batik Indonesia di Museum Kyungwoon Korea Selatan

Batik1

Pada Rabu 21 Oktober 2015, Kyungwoon Museum yang terletak di salah satu sekolah menengah atas terkenal di Seoul Korea Selatan, Kyunggi Girls High School, di daerah Gangnam. melaksanakan pameran batik Indonesia bekerjasama dengan salah satu alumni SMA Kyunggi pencinta batik, Mrs Jung Okji dan KBRI Seoul.

Pameran yang akan dilaksanakan dari tanggal 21 Oktober 2015 sampai 28 Februari 2016 tersebut akan memamerkan 100 batik dari tahun 1960 – 1970, kebaya, selendang, wayang kulit, wayang golek yang merupakan koleksi Mrs. Jung yang merupakan seorang artis tamatan fakultas seni, Seoul National University. Koleksi batik tersebut dikumpulkan oleh ybs pada saat tinggal di Indonesia pada tahun 1970an. Selain itu KBRI Seoul juga meminjamkan kain batik, blangkon serta peralatan musik untuk mengisi pameran tersebut. Pameran tersebut gratis dan di buka dari jam 10.00 – 16.00 setiap hari kerja.

Tujuan dari pemeran tersebut adalah untuk memperkenalkan Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan dan juga menumbuhkan serta membuka kesempatan pertukaran budaya antara kedua negara. Selain itu juga untuk lebih memperkenalkan budaya Indonesia dalam hal teknik pembuatan, peralatan, baju tradisional dari Batik yang oleh UNESCO diakui sebagai salah satu Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity 2009.

Pada pembukaan acara pameran batik tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti Ibu Alexandra Prasetio, Istri Duta Besar RI Seoul, Mdm. Robin Refot, Istri dari Duta Besar USA, Mr. Kim Kwi-jeong, Chairman of Korea Museum Association dan banyak lagi tamu-tamu penting lainnya. Pada pembukaan acara, Ibu Alexandra mengucapkan selamat atas dilaksanakannya pameran tersebut dan mengucapakan terima kasih kepada panitia yang telah bersusah payah mempersiapkan penyelenggaraan pameran tersebut serta mengharapkan agar pameran tersebut dapat berjalan sukses. (KBRI Seoul)

Presiden RI ke 5, Megawati Soekarnoputri Menerima Doktor Honoris Causa dari Korea Maritime and Ocean University

megawati1

Pada tanggal 19 Oktober 2015, Presiden RI ke 5, Ibu Megawati Soekarnoputri menerima penganugerahan Doktor Honoris Causa dari salah satu universitas terkemuka di Korea Selatan, Korea Maritime and Ocean University (KMOU).

KMOU adalah salah satu universitas negeri terkemuka dan paling lama di Korea Selatan didirikan pada tahun 1945. KMOU yang terletak di kota Busan yang merupakan kota pelabuhan terbesar di Korea Selatan, telah menghasilkan banyak tokoh pemimpin di bidang kelautan baik itu tingkat nasional dan juga di arena internasional salah satunya adalah sekretaris jenderal International Maritime Organization (IMO) saat ini.

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke 70, KMOU memutuskan untuk menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang politik kepada Ibu Megawati karena menganggap beliau telah memberikan sumbangan besar terhadapa bangsa dan negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan/maritime terbesar di dunia utamanya melalui kebijakan pengembangan industry yang berkaitan dengan kemaritiman dan demokrasi. Selain itu beliau juga dianggap telah memberikan sumbangan yang cukup besar untuk perdamaian dan kestabilan di semenanjung Korea.

Hadir pada acara penganugerahan tersebut Menteri Koperasi dan UKM, AGN Puspayoga, Menteri Pariwisata, Arief Yahya dan Duta Besar RI Seoul, John A. Prasetio. Hadir juga 2 putra Presiden, Prananda Prabowo dan M. Rizki Pratama serta beberapa petinggi dari partai PDI Perjuangan seperti, Rokhmin Dahuri.

Pada kesempatan tersebut, Presiden Megawati menyampaikan bahwa penghargaan yang di terimanya tersebut juga merupakan pengharggaan bagi seluruh bangsa Indonesia dan menyampaikan bahwa Presiden Soekarno, pada saat menjadi presiden pertama, juga telah membuat universitas Cendrawasih di Papua yang tujuannya hampir sama dengan KMOU. Oleh karenanya sepulangnya dari Korea Selatan akan berbicara dengan Presiden Jokowi untuk menjajaki kerjasama lebih lanjut antara universitas di Indonesia dengan KMOU.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014