Empat Pengusaha Sahabat TKI di Korsel Terima Ambassador Award

IMG 3197

 

Sebanyak 4 pengusaha Korea Selatan menerima penghargaan dari Dubes John Prasetio. Mereka dinilai telah memberikan fasilitas yang lebih dari ketentuan yang berlaku bagi TKI. Diplomasi per-TKI-an itu diharapkan dilanjutkan di masa-masa datang.

Malam penganugerahan the Ambassador Award yang dihelat di Wisma Duta Seoul, Jumat malam (26/08/16) terasa meriah. Selain pengusaha Korea penerima award yang "menenteng" beberapa pekerja Indonesia, hadir juga Wamenlu AM Fachir dan imam besar masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar.

Dubes mengatakan bahwa pemberian award tersebut merupakan salah satu upaya KBRI dalam perlindungan TKI di Korsel yang jumlahnya mencapai lebih dari 33 ribu orang. Hal ini juga berarti Pemerintah Indonesia memberikan apresiasi kepada pengusaha yang telah berjasa menyediakan fasilitas yang bisa dianggap sangat memadai. "Kita berharap, mereka menjadi suri tauladan bagi pengusaha lain di Korea dalam arti lebih memperhatikan kekhususan kebutuhan pekerja asal Indonesia," katanya.

Sebanyak 3 CEO yang mendapatkan award adalah pengusaha yang menggeluti bidang makanan, metal dan teknologi laser. Mereka umumnya hanya mempekerjakan orang asing asal Indonesia, memberikan tempat tinggal yang baik, makanan halal serta libur di hari-hari besar nasional Indonesia tertentu. Satu CEO lain mendapatkan award karena dianggap sangat humanis, membantu pengobatan seorang TKI yang terkena penyakit kanker yang akut hingga sembuh lalu mempekerjakannya kembali.

Wamenlu AM Fachir yang juga ikut menyerahkan award menggarisbawahi bahwa kegiatan inspiratif ini dinilai sangat positif dan perlu dilanjutkan di masa-masa mendatang. Pekerja Indonesia telah memberikan kontribusi bagi pembangunan Korea sehingga berhak mendapatkan perlakuan yang baik dari pengusaha Disana. "Pesan saya kepada penerima award, sebarkan apa yang talah Anda lakukan kepada pengusaha lainnya," katanya yang disambut dengan tepuk tangan hadirin.

Seorang penerima award, Jin-Ho Chung dari Shin Young Metal memberikan testimoni bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk memberikan hak yang cukup kepada karyawannya, termasuk dari Indonesia. Disampaikan bahwa bangsa Korea dulu juga pernah menjadi tenaga kerja di Jerman, lalu pulang membangun negaranya hingga maju. TKI Indonesia juga diharapkan dapat kembali ke Indonesia untuk membangun negeri.

Menurut database KBRI Seoul, saat ini terdapat 513 perusahaan Korea yang mempekerjakan TKI Indonesia dengan gaji dasar sekitar Rp 14 juta per bulan. Sebanyak 234 diantaranya bersedia disurvey oleh KBRI Seoul dan akhirnya menggerucut menjadi 4 pengusaha penerima award. Selain para CEO, malam kemarin, KBRI juga memberikan penghargaan kepada Indra Wijayanto, Kepala Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) di Busan, karena selama dua tahun lebih terus memberikan pembinaan dan perlindungan kepada WNI di Busan dan sekitarnya. 

"Pemberian award ini Insya Allah bisa dipertanggungjawabkan karena telah melalui survey yang teliti oleh Konsuler KBRI Seoul," ujar Wakil Dubes Cecep Herawan. ()

Wakil Menlu RI AM Fachir Bertemu Presiden Human Resources Developmenf of Korea (HRDK) di Seoul

WhatsApp Image 2016-08-25 at 20.17.35

Pekerja Indonesia banyak disukai pengusaha Korea Selatan. Mereka dianggap cepat beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan. Namun sayangnya, ekonomi negeri ginseng sedang tidak terlalu sehat.

Demikian disampaikan Wakil Menlu, AM Fachir setelah bertemu dengan Presiden Human Resources Developmenf of Korea (HRDK), Park Young - Bum, di Seoul, hari ini (25/08/16). Kunjungan Wamen ini antara lain menindaklanjuti kunjungan Presiden Jokowi Mei lalu.

"Saya senang bahwa pekerja kita di sini disukai namun tantangan kedepan menang berat. Selain persaingan dari 15 negara lain makin ketat, ekonomi Korsel sedang tidak kondusif. Pengangguran anak muda mulai marak," katanya.

Untuk itu, pembekalan para TKI ke Korea harus ditingkatkan kualitasnya dan pemberdayaan sebelum pulang ditingkatkan. Disamping itu, overstayers yang jumlahnya lebih dari 7 ribu harus juga diperhatikan dan dituntaskan.

Saat ini di Korea terdapat lebih dari 33 ribu TKI di berbagai bidang yang utamanya di manufaktur. Mereka bisa mengantongi 2 ribu dolar per-bulan atau sama dengan UMR setempat. Masalah yang sering mengemuka bagi TKI adalah illegal workers. ()

Penandatangan MoU antara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)-Indonesia dan National Pension Service (NPS)-Korea

WhatsApp Image 2016-08-04 at 09.23.41

Pada Jum’at 29 Juli 2016, telah dilakukan penandatanganan MOU antara NPS dengan BPJS Indonesia tentang “pembayaran pensiun dan kerjasama antara kedua instansi”. Penandatangan MoU dilakukan oleh CEO NPS Mr. Hyung Pyo Moon dengan Dirut BPJS Agus Susanto dan disaksikan oleh Wakil Kepala Perwakilan RI di Seoul Cecep Herawan.

Manfaat MoU BPJS-NPS terutama akan dirasakan bagi l.k 25.000 pekerja Indonesia yang saat ini telah selesai masa kontrak dan kembali ke Indonesia namun belum mengambil/mengajukan klaim asuransinya. Bagi para pekerja Indonesia purna tersebut, tetap dapat memperoleh hak asuransinya dengan mengajukan klaim di kantor BPJS setempat.

Adanya MoU ini jelas lebih mempermudah, sekaligus mengefisienkan prosedur klaim asuransi/pembayaran pensiun karena tidak diperlukan lagi legalisir dokumen-dokumen pengajuan klaim di Kedutaan Korea.

Selain itu, dengan adanya MOU ini, maka pekerja Indonesia dapat mencairkan asuransi NPS melalui 2 (dua) cara yaitu sebelum kepulangan di Korea atau setelah kepulangan di Indonesia melalui kantor BPJS.

Ke depan kerjasama antara BPJS-NPS akan terus diperluas melalui kerjsama bidang pendidikan, penataran, penelitian dan menukar informasi tentang pengelolaan sistem pensiun.

Pada kesempatan penandatanganan MoU tersebut, Ketua NPS menyampaikan bahwa MOU BPJS-NPS dapat dijadikan contoh untuk kerjasama-kerjasama selanjutnya dengan pihak/negara lain. Dan pihaknya akan terus menjalin hubungan kerjasama erat dengan pihak BPJS guna melindungi hak pekerja dan pembayaran upah yang nyaman.

Gerak Cepat, Indonesia Pertegas Komitmen Kerjasama Kawasan di Bidang Kehutanan Melalui Pendirian Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO)

1470100399428

 

Presiden RI mengutus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), DR. Siti Nurbaya, melakukan penandatanganan perjanjian pendirian Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) pada Selasa, 2 Agustus 2016 di Seoul. Penandatanganan AFoCO dilaksanakan di Kementerian Luar Negeri Republik Korea dan  disaksikan oleh Duta Besar RI Seoul, John A. Prasetio dan Direktur Jenderal Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri, Republik Korea, Park Chull-Joo. 

Gerak cepat ini semakin menegaskan komitmen Indonesia dalam meningkatkan kerja sama bidang kehutanan di kawasan.  Keikutsertaan Indonesia dalam Organisasi AFoCO diharapkan dapat meningkatkan profil kerja sama bidang kehutanan dan dapat mendorong implementasi program nyata pembangunan kehutanan di tingkat nasional dan regional.

Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang menandatangani perjanjian pendirian organisasi AFoCO, setelah sebelumnya ditandatangani oleh Republik Korea dan Timor Leste. Perjanjian tersebut akan diberlakukan (entry into force) apabila sedikitnya lima negara menandatangani dan melakukan ratifikasi.  Indonesia berkomitmen untuk segera menyiapkan proses ratifikasi dan siap menjadi salah satu negara pendiri AFoCO.

Seusai penandatanganan, Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan bahwa Indonesia selaku negara pemilik hutan tropis terbesar ke-3 di dunia berkomitmen untuk mengambil peran utama dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung terwujudnya pengelolaan hutan lestari. Pendirian AFoCO merupakan salah satu upaya nyata kemitraan kawasan dalam rangka mengurangi degradasi dan deforestasi, mengelola hutan secara lestari, dan menghadapi dampak perubahan iklim untuk menuju Asia yang lebih hijau.

AFoCO merupakan organisasi kawasan yang bertujuan membangun kemitraan bidang kehutanan termasuk kerja sama capacity building dan community development.

Pembentukan AFoCO difasilitasi oleh Sekretariat ASEAN-Republic of Korea Forestry Cooperation (AFoCo) yang memiliki kantor pusat di Seoul, Republik Korea dan dipimpin oleh DR. Hadi Pasaribu, mantan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan, yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif sejak 2012 sampai Agustus 2016.

Laporan Triwulanan Perekonomian Indonesia, Juni 2016: Tangguh Berkat Reformasi

blue-growth-chart

Bank Dunia telah menerbitkan Laporan Triwulan Perekonomian Indonesia dimana intisari laporan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Bank Dunia telah menurunkan proyeksi pertumbuhan dunia sebesar setengah persen, tetapi ekonomi Indonesia tetap bertahan. Namun, pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih rendah dari perkiraan berdampak pada pemulihan ekonomi Indonesia.
  • Serangkaian kebijakan yang pro-aktif telah membantu bertahannya ekonomi Indonesia, termasuk kebijakan moneter yang penuh kehati-hatian, bertambahnya investasi infrastruktur oleh pemerintah, dan reformasi kebijakan untuk memperkuat iklim investasi. Namun, risiko terhadap ekonomi meningkat – baik risiko internasional maupun domestik.
  • Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,1% pada tahun 2016 dan 5,3% pada 2017 – tidak berubah dari proyeksi Indonesia Economic Quarterly edisi Maret 2016. Konsumsi masyarakat diperkirakan akan lebih kuat. Pertumbuhan akan bergantung pada investasi swasta, yang menyambut baik serangkaian paket kebijakan ekonomi akhir-akhir ini.
  • Ekspor dan impor keduanya melemah, baik dalam volume maupun nilai pada kuartal-1 tahun 2016. Namun, impor turun lebih cepat dari ekspor dan telah membantu memperkecil defisit anggaran menjadi 2,1% PDB.
  • Pengeluaran pemerintah bertambah walaupun pendapatan pemerintah melemah. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan Tahun 2016, pemerintah mencamtumkan pemasukan yang besar dari proposal tax amnesty. Apabila penerimaan kurang dari yang diharapkan, pembelanjaan dapat mengalami perubahan.
  • Inflasi pada bulan Mei sebesar 3,3% tahun-ke-tahun. Karena angka inflasi yang relatif rendah ini, tingginya inflasi harga pangan kurang menonjol - walaupun harga pangan dunia sudah turun. Salah satu sebab tingginya inflasi harga pangan domestik adalah proteksionisme perdagangan. Beberapa reformasi perdagangan yang diperkenalkan awal 2016 memberi indikasi adanya perubahan penting dalam arah kebijakan perdagangan, yang bisa membantu menurunkan inflasi harga pangan.
  • Laporan edisi ini juga membahas tingginya tingkat suku bunga bank di Indonesia. Laporan ini juga menyoroti bagaimana kebijakan fiskal dapat mengurangi ketimpangan. Dana dari realokasi subsidi BBM yang dilakukan pada tahun 2015 sudah membantu, namun banyak tindakan lain yang dapat mendukung pengatasan ketimpangan. Juga dibahas tantangan untuk menghidupkan kembali daya saing industri sektor manufaktur Indonesia.

Berdasarkan laporan triwulan ini dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia cukup kuat bertahan di tengah-tengah kelesuan ekonomi dunia. Hal ini dicapai karena banyak reformasi birokrasi dan kebijakan ekonomi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonom. Diharapkan dapat meningkatkan antusiasme investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia sekaligus meningkatkan hubungan dagang dengan negara-negara mitra. Laporan ini sekaligus dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah Indonesia dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi baru yang diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Untuk Laporan selengkapnya dapat mengunjungi situs Bank Dunia di http://www.worldbank.org/in/country/indonesia/publication/indonesia-economic-quarterly-june-2016-resilience-through-reforms. (KBRI Seoul)

Pengumuman Libur Idul Fitri 1437 H

office closed

 

 

DALAM RANGKA IEDUL FITRI 1437 H/ 2016,

PELAYANAN KONSULER KBRI SEOUL AKAN TUTUP PADA TANGGAL

04-10 JULI 2016, DAN AKAN DIBUKA KEMBALI SEPERTI BIASA PADA

TANGGAL 11 JULI 2016

 

SEGENAP KELUARGA BESAR KBRI SEOUL MENGUCAPKAN

SELAMAT IEDUL FITRI 1437 H, MOHON MAAF LAHIR BATIN

Menyelami Jiwa Bangsa Indonesia melalui Batik

DSC 2181 copy

Batik memang identik dengan Indonesia.  Batik jiwa Indonesia, demikian pameran koleksi batik klasik dan kontemporer yang mengambil tema “Batik, the Soul of Indonesia” akan bisa disaksikan oleh publik negeri Ginseng dari tanggal 22-27 Juni 2016.  Pameran selama enam hari yang diadakan di Ganainsa Art Center di pusat distrik seni terkenal di kota Seoul, Insadong, telah dibuka secara resmi oleh Dubes RI untuk Republik Korea John A. Prasetio dan Chairman Hansae Yes24 FoundationMr. Lee Ke Woo pada Rabu malam (22/6).

Di tengah hujan yang mengguyur Kota Seoul di awal musim panas ini, upacara pembukaan pameran dihadiri lebih dari 100 undangan, antara lain Dirjen Hubungan Budaya Kemlu Korea Mr. Choi Young-sam, ASEAN-Korea Center, akademisi dan media, serta publik pecinta seni.

Pameran batik ini diselenggarakan oleh Hansae Yes 24 Foundation bekerjasama dengan Kemlu Republik Korea, KBRI Seoul, Museum Tekstil Indonesia dan Indonesian-Korean Culture Studies.Sebanyak 30 kain-kain batik motif tradisional yang indah dan menawan koleksi Museum Seni Indonesia dan puluhan koleksi batik kontemporer milik empat desainer terkenal akan dapat dinikmati oleh publik, khususnya pecinta seni di Korea selama 6 hari ke depan.

Batik-batik yang dipamerkan bermacam-macam motif mulai dari batik tradisional keraton sampai dengan batik pesisir seperti batik motif Mega Mendung.Terdapat juga display seni batik kontemporer karya seniman batik Indonesia Harry Darsono, seorang perancang busana haute-couture yang sudah terkenal di dunia fesyen international dimana hasil karyanya digunakan oleh berbagai bangsawan dunia antara lain mendiang Putri Diana dan Ratu Thailand. Selain karya Harry Darsono, beberapa karya seniman batik lainnya juga menjadi bagian dari pameran ini, seperti karya Agus Ismoyo dan Nia Fliam dari studio batik Brahma Tirta Sari, Rumah Batik Azmiah dengan motif batik Jambi dan produsen batik high-end Indonesia Alleira Batik.

Dubes John A Prasetio dalam sambutannya mengharapkan pameran batik ini dapat menjadi sarana bagi masyarakat Korea untuk lebih mengenal Indonesia.  “Melalui pameran batik yang sudah diakui UNESCO sebagai a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, dapat meningkatkan hubungan persahabatan antara rakyat Korea dan rakyat Indonesia”, demikian dikatakan Dubes John.

Sementara itu Chairman Hansae Yes24 Foundation Mr. Lee Kye-Woo menyampaikan, yayasannya memutuskan untuk mengadakan pameran batik ini berdasarkan keyakinan bahwa pemahaman yang mendalam tentang budaya, sejarah, dan filosofi yang dimiliki oleh suatu negara akan menjadi dasar yang kuat bagi persahabatan yang tulus sehingga akan memperluas dan memperkuat hubungan dan kerjasama ekonomi.  Perusahaan Hansae Yes24 yang bergerak di bidang tekstil dan produk pakaian, memiliki pabrik di Indonesia, selain di Vietnam, Myanmar, China, Nicaragua dan Guatemala.

President Seoul Institute of Arts Prof. Duk-Hyung Yoo yang berkesempatan hadir dalam pembukaan pameran menyatakan sangat mengagumi karya batik Indonesia dan tertarik untuk membuat pameran serupa di waktu mendatang. Secara khusus Prof. Duk-Hyung Yoo mengundang wakil dari Museum Tekstil Indonesia untuk melakukan demo membatik di kampusnya selepas pameran ini.

Marathon One on One Meeting Menpar Arief Yahya di Seoul, Korea: Empat Investor Tertarik Bangun Amenitas dan Atraksi

IMG 2036

Empat investor besar Korea terpikat untuk menanamkan modal di sektor pariwisata Indonesia. Keempatnya adalah DW Development Co. Ltd, E&C, Lotte Group (Lotte World, Lotte Development), AJU Group, dan Teddy Bear Group. Hal itu ditegaskan saat One on One Meeting dengan Menpar Arief Yahya di Board Room Lantai 6 Conrad Hotel, Seoul, Korea, Kamis 2 Juni 2016.

“Mereka serius, akan mengembangkan amenitas dan juga atraksi man made di destinasi pariwisata kita,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Dia didampingi oleh Dubes RI Korea, John A Prasetio, Wakil Dubes Cecep Heryawan, Kepala Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Seoul, Imam Soejoedi, Deputi Pengembangan Pemasaran Mancanegara I Gde Pitana, Asdep Pengembangan Pemasaran Asia Pacific, Vincen Jemadu dan Ketua Pokja 10 Top Destinasi Hiramsyah Sambudhy Thaib.

Dari sisi jumlah wisman, Indonesia jauh dibandingkan dengan Malaysia yang sudah 25 juta, Thailand 30 juta, dan Singapore 15 juta. Tetapi potensi alam dan budaya Indonesia justru sebaliknya, jauh lebih hebat dibandingkan dengan tiga negara tetangga tersebut.

Ketua Pokja Percepatan 10 Bali Baru, Hiramsyah Sambudhy Thaib mempresentasikan ke-10 titik destinasi unggulan. Dari Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru Jawa Timur, Mandalika Lombok Selatan NTB, Labuan Bajo-Komodo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara. Khusus DW Development Co Ltd, yang serius bakal bermitra membangun Tanjung Lesung, Banten, Hiram menjelaskan potensi besar yang bakal booming 3-4 tahun ke depan.

“Tanjung Lesung jaraknya hanya 180 kilometer dari ibu kota Jakarta. Kini sedang proses pembangunan jalan tol dari Serang ke Panimbang, yang akan mempermudah dan mempercepat akses menuju KEK –Kawasan Ekonomi Khususu—Pariwisata seluas 1.500 hektare itu. Dari Jakarta-Tanjung Lesung bisa ditempuh jalan darat hanya 2 jam saja,” jelas Hiram, yang kaya pengalaman di development dan pernah menjadi Ketua Asosiasi Kawasan Pariwisata Indonesia itu.

Rencananya, Jumat 3 Juni 2016, Tedjo Budianto Liman, Presdir Jababeka akan menandatangani MoU dengan DW Development Co Ltd, E&C itu, di depan Menpar Arief Yahya. Budianto Liman sendiri, menjelaskan bahwa KEK Tanjung Lesung sudah berdiri beberapa hotel, dari bintang 4-3 dan sedang dibangun padang golf yang baru beberapa holes yang jadi.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, saat ini jumlah ekspatriat Korea sudah terbesar di Indonesia, bahkan lebih banyak dari Jepang. Jumlahnya lebih dari 60 ribu orang, yang bekerja di perusahaan-perusahaan Korea di Indonesia. Lokasinya, manufacturing Korea di bagian barat, dari Kawaraci sampai ke Serang, Provinsi Banten. Sedangkan Jepang berada di Cikarang, Bekasi, di bagian Timur. “Jadi kalau DW Development ini masuk ke Tanjung Lesung , wilayah Barat, itu sudah betul,” ungkap Menpar.

Perusahaan lain yang bertemu One on One adalah AJU Corporation, yang dihadiri oleh Presiden Mr Youn Byoung Eun, Chairman Mr Kyu-Young Moon, dan CEO Mr Yonnwhe Leo Moon. AJU adalah perusahaan yang juga bergerak di perhotelan, resort, konstruksi, engineering, financial services, real estate dan IT. Mereka sedang merencanakan pengembangan investasi di Indonesia, terutama amenitas hotel dan resort.

Ada juga calon investor yang tertarik membangun atraksi man made, yakni Teddy Bear Group. Mereka berminat mengulang sukses dengan Teddy Bear Museum yang sudah eksis di Jeju Island. Mereka ingin membangun Theme Park, Museum, dan Exhibition Center. “Kami tertarik untuk membangun Theme Park di sekitar Jakarta, Bandung, Makasar, Jogja, Surabaya dan Bali. Di Jeju, setahun lebih dari 950 ribu pengunjung,” kata Mr Richey Kim, CEO Teddy Bear Group dan Mr Sungmoon, Yoon, Representative of Overseas Business Teddy Bear.

Teddy Bear Museum yang di Jeju sendiri dibuka sejak 24 April 2001. Isinya, apa saja tentang Teddy Bears, seperti galleries, museum, gift shop, café dan bisa diisi dengan sejarah dan budaya lokal. “Di Indonesia juga bisa dikembangkan dengan cerita asli Indonesia, yang berbudaya Indonesia, tetapi menggunakan tokoh dan model Teddy Bear. Kami yakin ini akan menjadi atraksi yang menarik,” jelas Kim.(*)

Marathon One on One Meeting Menpar Arief Yahya di Seoul, Korea: Jeju Air dan Jin Air Tertarik Terbangi Manado dan Lombok

IMG 2035

Hanya dua minggu berselang setelah Presiden Joko Widodo bertemu muka dengan Presiden Korea di Seoul, 15 Mei 2016 lalu, Menpar Arief Yahya langsung bergerak. Mantan Dirut PT Telkom yang pernah dinobatkan sebagai Marketeer of The Year 2013 itu tak mau buang waktu untuk menemukan teknis kerjasama di bidang pariwisata, sebagai tindak lanjut dari pertemuan dua pemimpin negara tersebut.

Didampingi oleh Dubes RI Korea, John A Prasetio, Wakil Dubes Cecep Heryawan, Deputi Pengembangan Pemasaran Mancanegara I Gde Pitana, Asdep Pengembangan Pemasaran Asia Pacific, Vincen Jemadu dan Ketua Pokja 10 Top Destinasi Hiramsyah Sambudhy Thaib, Menpar Arief Yahya langsung menerima tamu non stop, dengan 8 bos perusahaan satu per satu, hingga sore menjelang makan malam. “Persoalan kritis mengapa wisman asal Korea rendah itu adalah akses! Direct flight Seoul ke Jakarta dan Denpasar sangat terbatas, dan semua full service! Tidak ada LCC, low cost carrier,” sebut Menpar Arief Yahya di Seoul.

Karena itu kesempatan bertemu muka dengan Presiden Jeju Air, Mr Ken Choi dan GM Jeju Air, Mr Park Hyuk itu menjadi istimewa. “Kami tertarik untuk terbang ke Manado, karena bisa di-connect dari penerbangan kami ke Filipina. Ada dua hal yang harus kami tempuh dulu, pertama izin mendapatpan slot untuk mendarat di Manado. Kedua, kami harus punya mitra lokal, atau penerbangan Indonesia untuk bekerjasama,” kata Mr Ken Choi, bos Jeju Air yang berdiri sejak 2005 itu.

Jeju Air, adalah maskapai yang sahamnya dimiliki oleh Aekyung Group (81.7%) dan Pemerintah Provinsi Jeju (4.54%). Dia lahir untuk menggenjot kunjungan wisatawan ke Jeju, dan sekarang sudah menerbangi China, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand, Hongkong, Taiwan, dan Guam. Di Filipina yang paling dekat dengan Manado, mereka bermitra dengan Cebu Air, maskapai lokalnya. “Kalau kami dibantu untuk izin terbang, dan mitra sesama LCC, seperti Lion, kami tertarik mengembangkan penerbangan ke Manado,” ungkap Ken Choi.

Manado bisa menjadi pintu bagi wisman Korea yang diangkut oleh Jeju Air ini untuk menyebar ke destinasi lain di Indonesia. Cukup dengan domestic flight. Jeju Air sendiri bermarkas di Jeju City, dan terbang ke Seoul mendarat ke Gimpo International Airport. Dari Jeju ke Filipina itu sekitar 4 jam, dan jika dilanjut ke Manado, mungkin hanya 5 jam. Masih masuk akal untuk direct flights. “Oke, kami akan bantu dan follow up dari dua persoalan itu,” jawab Arief Yahya.

Pertemuan kedua dengan airlines adalah Jin Air Co. Ltd, maskapai LCC juga yang merupakan anak perusahaan Korean Air. Dulu Jin Air itu namanya Air Korea, dia berdiri tahun 2008 dengan hanya melayani rute regional di Korea saja. Oktober 2009, Jin Air mulai terbang ke Makau, Guam dan Bangkok. “Sekarang kami juga terbang ke Honolulu, Hawai, Phuket, Kinabalu, Laos, dan Filipina,” aku Mr Lee Kuang, Vice President of Jin Air.

Jin Air malah tertarik untuk terbang ke Lombok, NTB. Satu dari 10 Destinasi Utama yang sedang dibangun cepat oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Persoalannya juga sama dengan Jeju Air, soal izin untuk mendarat ke Lombok tersebut. “Selain itu, kami harus berpromosi bersama dengan Kemenpar untuk menjual paket wisata dengan tujuan Lombok Indonesia,” kata Mr Lee Kuang.

Menpar Arief Yahya pun menyanggupi dua hal itu, soal membantu mempercepat pengurusan izin mendarat dan beroperasi di Indonesia. Juga bersama-sama mempromosikan paket terbang ke Indonesia. “Saya juga mau Jin Air juga terbang ke Manado, sehingga ibu kota Sulawesi Utara itu semakin hidup pariwisatanya,” ungkap Arief Yahya. (*)

Potensi Korsel Besar, Promosi Gencar

foto kemenpar

Kementerian Pariwisata menggencarkan promosi ke Korea Selatan untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan dari negara itu. Korea Selatan menyimpan potensi pasar sangat besar sehingga menjadi target penting.

Untuk menarik minat wisatawan dari Korea Selatan, Kementerian Pariwisata menggelar promosi pariwisata langsung di Suwon, Korsel, Sabtu hingga Minggu (28-29/5). Kemenpar, seperti dilaporkan wartawan KompasErwin Edhi Prasetya, dari Korsel, memboyong tim penari dan pemain alat musik tradisional sasando dari Kupang dan sape dari Kalimantan Barat. Promosi langsung diadakan di Lotte Mall Suwon, pusat perbelanjaan modern terbesar di kota Suwon. Promosi langsung juga diikuti agen perjalanan wisata dan maskapai Garuda Indonesia.

Kepala Bidang Misi Penjualan Wilayah Asia-Pasifik Kementerian Pariwisata Jordi Paliama menuturkan, Korsel memiliki potensi pasar pariwisata sangat besar bagi Indonesia. Pada 2015, hampir 20 juta warga Korsel berwisata ke luar negeri. Dari jumlah itu, wisatawan Korsel yang berkunjung ke Indonesia pada 2015 baru 338.671 orang. Jumlah itu meningkat dari tahun 2014 sebanyak 328.122 orang atau meningkat 3,21 persen.

Korsel berada di peringkat keenam dalam daftar negara dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak ke Indonesia. Sejak awal 2016 hingga Februari 2016, wisatawan Korsel yang berkunjung ke Indonesia 67.245 orang.

"Tahun 2016 target kunjungan wisatawan dari Korsel 400.000 orang," kata Jordi, kemarin.

Koordinator Fungsi Media Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Korsel Fuad Adriansyah mengatakan, kunjungan wisatawan Korsel ke Indonesia masih di bawah negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Thailand sekitar 1,3 juta orang, Filipina 1,3 juta, dan Malaysia sekitar 1 juta.

General Manager PT Garuda Indonesia Seoul I Wayan Supatrayasa mengatakan, Garuda telah melayani penerbangan langsung setiap hari dari Korsel ke Jakarta dan enam kali seminggu ke Denpasar, Bali. Kapasitas total penerbangan ke kedua kota itu 450 tempat duduk. Tingkat keterisian penumpang rata-rata 75 persen.

 

 

 

Presiden Jokowi Menjadi Warga Kehormatan Kota Seoul

IMG 1930

Menerima penghargaan sebagai warga Kehormatan di daerah khusus ibu kota Seoul merupakan suatu kehormatan. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika menerima penganugerahan sebagai Warga Kehormatan Seoul oleh Walikota Seoul Park Won Soon di Seoul Museum of History, Selasa siang 17 Mei 2016.

"Ini menunjukkan persahabatan yang erat antara Indonesia dan Republik Korea," ucap Presiden.

Presiden bercerita bahwa 11 tahun yang lalu dirinya masih menjadi walikota di kota kecil, Solo namanya. Tahun 2012, dirinya terpilih menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan dua setengah tahun setelah menjadi Presiden Indonesia. "Pada saat menjadi gubernur di Jakarta, saat itu sebenarnya saya ingin belajar untuk mengatasi macet dan banjir ke kota Seoul karena Kota Seoul adalah Sister City dengan Jakarta. Sayangnya belum sempat belajar ke Seoul," kata Presiden.

Oleh karena itu, saat bertemu dengan Walikota Seoul hari ini, Presiden banyak bertanya tentang banjir dan kemacetan. "Sekali lagi saya ingin mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur dan seluruh rakyat Seoul yang pada hari ini memberikan penghargaan kepada saya terima kasih," ucap Presiden.

Top, Business deal USD 18 Miliar Tandai Kunjungan Jokowi di Korsel

IMG 1872

Seoul. Kesepakatan bisnis senilai USD 18 Milliar diumumkan dalam rangkaian kunjungan Presiden Jokowi di Korea Selatan, hari ini (16/5). Kepala BKPM Franky Sibarani, yang ikut mendampingi Presiden, menyatakan kesepakatan bisnis tersebut terdiri dari pernyataan komitmen investasi dari 6 perusahaan Korea Selatan senilai USD 15,8 Miliar dan 4 MoU yang ditandatangani antara perusahaan Korea Selatan dan Indonesia senilai USD 2,2 Miliar.  Kesepakatan bisnis tersebut meliputi sektor kelistrikan termasuk, energi terbarukan, industri pakan ternak, industri film, industr sepatu dan industri farmasi.

“Kesepakatan bisnis yang diumumkan hari ini menunjukkan kepercayaan investor Korea terhadap iklim investasi di Indonesia. Termasuk dengan berbagai reformasi di bidang investasi yang telah dan sedang dijalankan pemerintah hari ini,” ujar Franky.

Franky menjelaskan komitmen investasi yang telah diumumkan dan MoU yang ditandatangani cukup serius untuk direalisasikan. Menurutnya, BKPM dan KBRI di Seoul telah melakukan verifikasi bahwa investor Korea yang diumumkan hari ini serius akan merealisasikan investasinya.

“Presiden Jokowi menekankan adanya tindak lanjut untuk memastikan agar kesepakatan bisnis yang ditandatangani dapat terealisasi. BKPM dan KBRI Seoul akan mengawal kesepakatan bisnis ini dapat terealisasi,” tambah Franky.

Pengumuman dan penandatanganan MoU dihadiri oleh Menteri Perdagangan, Industri dan Energi, HE Joo Hyunghwan. Rincian kesepakatan bisnis yang diumumkan di Seoul, Korea Selatan hari ini, tanggal 16 Mei 2016 adalah sebagai berikut:

Adapun 6 Perusahaan yang mengumumkan komitmen investasi: KOGAS komitmen investasi di bidang infrastruktur gas senilai USD 10 Miliar.
Lotte Chemical komitmen investasi di sektor petrokimia USD 4 Miliar. CJ Group komitmen investasi di sektor industri pakan ternak dan perfilman senilai USD 2,1 Miliar. Daewoong Pharmaceutical komitmen investasi di sektor industri bahan baku bio farmasi senilai USD 100 Juta. Parkland komitmen investasi untuk industri sepatu dengan nilai investasi USD 83,5 Juta.
Posco industri baja tahap II untuk peningkatan produksi hingga 10 juta ton.

Sedangkan 4 MoU yang ditandatangani Perusahaan Korea Selatan dan Indonesia di bidang  investasi. KOGAS dan PDPDE Sumatera Selatan, untuk pembangunan jalur gas dari Tanjung Api-Api ke Pulau Bangka senilai USD 600 Juta. KORBI dan PT Coffindo untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dengan nilai investasi USD 100 Juta.
Komipo, Posco Engineering dan PT Sulindo Putra Timur, untuk proyek hydro power di Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi USD 230 Juta. Sedangkan Komipo, Samtan, PT Indika Multi Energi Internasional dan Marubeni, untuk perluasan ketiga pembangkit listrik di Cirebon dengan nilai investasi USD 1,27 Miliar.

Dubes RI John A Prasetio menyambut baik kesepakatan investasi tersebut yang disebutnya sebagai langkah maju. Diharapkan implementasi di lapangan nantinya juga akan cepat. "Seperti kata Presiden, kita perlu pali-pali (cepat-cepat)," ujarnya. ()

Sate Kambing dan Angklung Diminati Pengunjung Seoul Friendship Fair 2016

IMG 1808

Setiap tahunnya Pemerintah Kota Seoul mengadakan festival multi-budaya terbesar yang bertajuk Seoul Friendship Fair di sekitaran Seoul City Hall. Acara Seoul Friendship Fair tahun ini diselenggarakan pada 7-8 Mei 2016 dan dimeriahkan oleh pertunjukan kebudayaan dari 15 negara sahabat dan pertunjukkan dari berbagai kelompok kebudayaan yang ada di Republik Korea.

Selain pertunjukkan kebudayaan dari berbagai negara, para pengunjung juga dapat menikmati hidangan kuliner dari seluruh dunia di booth makanan yang berada di sepanjang Mugyo-ro. Tanpa perlu berkeliling dunia para pengunjung dapat memanjakan lidah mereka dengan berbagai hidangan lezat dari Asia, Eropa, Amerika, Afrika sampai Timur Tengah. Seperti tahun sebelumnya KBRI Seoul kembali berpartisipasi dengan menjajakan berbagai hidangan khas Indonesia seperti sate kambing, nasi goreng, pisang goreng keju dan es buah. Dengan bumbu kacang yang menjadi ciri khas sate Indonesia, sate kambing menjadi primadona pada World Food Fair kali ini. Para pengunjung rela mengantri panjang demi dapat mencicipi kuliner Indonesia yang satu ini.

Di booth World Tourism Fair pun antusiasme pengunjung terhadap kebudayaan Indonesia tidak kalah banyak. Para pengunjung takjub dan menyuarakan pujian begitu mendengar keindahan suara angklung. Pengunjung anak-anak pun berlomba-lomba untuk mencoba memainkan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut. Para pengunjung dewasa menunjukkan ketertarikan terhadap pahatan kayu, batik dan pajangan lain yang menghiasi booth Indonesia. Kelompok Tari Tradisional Indonesia (KTTI) KBRI Seoul pun tidak ketinggalan ikut mempromosikan budaya Indonesia dengan menampilkan berbagai tarian seperti Tortor, Ronggeng Blantek, Jaipong Kembang Tanjung dan Sape Kerab.

Kunjungan Kerja Wantimpres ke Republik Korea

20160427 205856 copy

Pada 27-30 April 2016, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Prof. Dr. Sri Adiningsih dan Anggota Wantimpres, Irjen Pol. (Purn) Sidarto Danusubroto beserta delegasi melakukan kunjungan kerja ke Republik Korea dalam rangka mendukung agenda Presiden RI untuk meningkatkan kinerja Pemerintah di bidang ekonomi, politik internasional dan menguatkan citra positif Indonesia di dunia internasional.

Sesampainya di Bandara Incheon, Prof. Dr. Sri Adiningsih dan Irjen Pol. (Purn) Sidarto Danusubroto langsung menuju KBRI Seoul untuk melakukan coutesy call dan makan malam bersama Duta Besar RI beserta jajaran staff KBRI Seoul di Wisma Duta KBRI Seoul. Pada acara tersebut dibahas mengenai kondisi terkini di Indonesia khususnya di bidang ekonomi, politik dan hukum serta peran strategis KBRI Seoul dalam konteks promosi perdagangan, investasi, kerja sama pembangunan dan pariwisata. Pada pertemuan juga hadir Atase Pertahanan, Atase Perdagangan, General Manager BNI Seoul, dan General Manager Garuda Indonesia di Seoul. Pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah.

Selama kunjungan kerja, Ketua dan Anggota Wantimpres melaksanakan rangkaian kegiatan. Pada 28 April Ketua Wantimpres, Prof. DR. Sri Adiningsih dengan didampingi oleh Korfung Politik KBRI Seoul, melakukan pertemuan dengan Vice Chairman National Economic Advisory Council (NEAC), Prof. Mr. Lee Young Sun. Pada pertemuan ini dibahas mengenai landasan dan dasar hukum serta kewenangan yang dimiliki serta peran NEAC sebagai lembaga penasihat presiden. Pembicaraan juga membahas kondisi ekonomi Korea dan arah kebijakan ekonomi Korea di masa mendatang. Selain itu, kedua pihak membahas hubungan bilateral Indonesia-Korea khususnya dalam peningkatan kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata.

Pada hari yang sama, Irjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto melakukan pertemuan dengan Chairperson Lembaga Anti-Corruption and Civil Rights Commission (ACRC), Mr. Yung-hoon Sung, dimana dilakukan diskusi dan pembahasan mengenai struktur kelembagaan, peraturan perundang-undangan, pertanggungjawaban dan kewenangan apa saja yang dimiliki dalam hal penyidikan dan penuntutan, serta bagaimana mekanisme kerja dan pengawasan di bidang anti korupsi di Korea. Selain itu terkait dengan lembaga ACRC sendiri, dibahas mengenai komposisi sumber daya manusia dan pola rekruitmen, output dan kinerja lembaga.

Keesokan harinya, yaitu pada 29 April, dilakukan pertemuan antara Ketua dan Anggota Wantimpres dengan President / CEO Korea Creative Content Agency (KOCCA) dan Direktur Ministry of Cullture, Sports and Tourism. Pada pertemuan ini dibahas mengenai potensi, tantangan dan strategi industri kreatif di Republik Korea, termasuk sektor dan industri yang memiliki daya saing, ketersediaan pembiayaan dan akses terhadap pembiayaan (financing), perluasan bagi produk dan karya industri kreatif serta ketersediaan infrastruktur serta dukungan ICT bagi industri kreatif. Selain itu pembahasan juga mencakup peluang kerja sama serta peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi kreatif.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Korea Trade Investment Promotion Agency and Invest Korea (KOTRA) dimana delegasi diterima dengan hangat oleh Executive Vice President KOTRA. Kedua belah pihak membahas mengenai potensi dan strategi Republik Korea dalam mendorong pertumbuhan perdagangan dan investasi, tantangan yang dihadapi serta potensi kerja sama RI dan ROK.

Kunjungan kerja Wantimpres telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan program serta mencapai tujuan kunjungan sebagaimana yang telah ditetapkan. Kunjungan dan pembahasan terkait perkembangan ekonomi, sosial dan politik di Korea diharapkan dapat menjadi benchmarking bagi Wantimpres untuk semakin mendukung agenda Presiden RI dalam meningkatkan kinerja pemerintah di bidang ekonomi, politik internasional dan menguatkan citra positif Indonesia di dunia internasional. 

Indonesia Mempromosikan Wisata Diving ke Korea

20160428 115339

Selain mempromosikan wisata umum, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia juga mencoba mempromosikan segmen wisata minat khususnya ke Korea. Wisata diving Wonderful Indonesia akan dipromosikan ke kota Seoul pada tanggal 28 April 2016 dan Gwangju pada tanggal 29 April 2016.

Dengan garis pantai sepanjang  hampir 100,000 kilometer dan puluhan ribu pulau, Indonesia memiliki banyak sekali lokasi menyelam. Bukan hanya kuantitas, kualitas lokasi penyelaman yang ada juga sangat baik. Pada survei yang dilakukan majalah Scuba Diving, Indonesia seringkali berada pada top 5 ranking lokasi penyelaman terbaik di Asia-Pasifik.

“Indonesia memiliki lokasi penyelaman yang merupakan surga bagi para penyelam. Dunia bahkan setuju bahwa Indonesia memiliki beberapa titik penyelaman terbaik di duniaseperti Raja Ampat, Komodo Island, Derawan, Togean, Wakatobi, Gili Air dan Bunaken,” ungkap Vinsensius Jemadu Asisten Deputi Bidang Pemasaran Pasar Asia Pasifik.

Wakatobi sendiri termasuk dalam top 10 destinasi Indonesia oleh Kemenpar. Terletak di jantung Coral Triangle, Wakatobi memiliki keragaman kehidupan bahari. Menyelam di Wakatobi berarti menikmati kekayaan dan keragaman warna-warni ikan-ikan dan terumbu karang. Penjelajah bawah laut legendaris, Jacques Cousteau, memuji Wakatobi sebagai “Surga Bawah Laut.”

Di dua kota tersebut, Kemenpar akan memfasilitasi business to business (B2B) meeting antara industri pariwisata Indonesia (sellers) dan industri pariwisata Korea Selatan (buyers). Konsep table top meeting dibuat untuk menciptakan transaksi bisnis yang diharapkan akan membawa dampak positif bagi wisata diving Indonesia.

Tahun ini, Kemenpar menargetkan 400,000 kunjungan wisman Korea Selatan setelah tahun lalu sukses mencapai 338,671 kunjungan yang merupakan kenaikan 3,21% dibandingkan tahun  2014. Disamping promosi yang berkelanjutan, target kunjungan wisman Korea optimis dapat diraih berdasarkan kebijakan bebas visa bagi 169 wisman termasuk wisman asal Korea Selatan. (Press Release Kemenpar)

KBRI Siapkan Sidang Banding Kasus Pembunuhan yang Libatkan 7 WNI

IMG 1179

Tanggal 10 Mei 2016 nanti, persidangan banding bagi 7 anak buah kapal (ABK) WNI di pengadilan negeri Daegu akan digelar. Sebagai bentuk dari perlindungan warga,  KBRI melakukan persiapan ketat agar sidang dapat memberikan dampak positif bagi warga Indonesia tersebut. Tidak kurang-kurang, unsur pimpinan pun ikut turun tangan secara langsung.

Deputy Chief of Mission KBRI Seoul, Minister Cecep Herawan, bersama Koordinator Fungsi Konsuler, Mincon M Aji Surya bertandang ke Kota Daegu Selasa (19/04/16). Perjalanan darat hampir 800 kilomter PP terpaksa ditempuh untuk memberikan yang terbaik bagi warganya. Maklumlah, 7 WNI dalam sidang tingkat pertama dihukum 25 tahun, 20 tahun, 15 tahun dan 10 tahun. Mereka dinilai telah berkomplot melakukan pembunuhan terhadap seorang warga Vietnam diatas kapal pencari ikan tahun lalu.

"Kita memang sedang berjuang keras menurunkan tingkat hukuman bagi terdakwa. Pertemuan dengan para pihak terkait di Daegu ini adalah sebuah upaya mencari terobosan atau celah hukum yang dapat meringankan hukuman. Para lawyers berjanji akan melakukan yang maksimal buat WNI kita yang saat ini dalam kesulitan," ujar Cecep.

Sebagaimana diketahui, sejumlah WNI di Korea Selatan tengah menghadapi hari-hari panjang di depan meja hijau. Sebagian dari mereka mengaku telah melakukan tindakan melawan hukum semata-mata karena mengalami perlakuan yang tidak manusiawi oleh salah satu pimpinan kapal yang berwarganegara Vietnam. Uniknya, salah seorang yang tidak ikut serta dalam persekongkolan, terkena hukuman 10 tahun karena pada saat kejadian berada di TKP dan tidak berusaha mencegah. (KBRI Seoul)

Pengembangan Pasar Produk Halal Republik Korea

20160407 093602

Pada tanggal 7 April 2016 diselenggarakan Indonesia Halal Certification Seminar di Gedung Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA). Seminar merupakan hasil kerja sama KOTRA dan Ini Halal Korea (IHK) serta didukung penuh oleh KBRI Seoul dan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Seoul. Seminar dibuka oleh Chairman KOTRA dan Ketua MUI, Bapak KH Ma’ruf Amin.

 Tujuan diselenggarakan seminar adalah untuk memberi sarana/media diseminasi informasi mengenai proses sertifikasi halal di Indonesia bagi perusahaan Korea serta meningkatkan awareness terkait pendaftaran, registrasi dan pengawasan obat dan makanan yang dilakukan oleh BPOM di Indonesia. Seminar diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai perusahaan Korea yang berminat untuk memasukkan produknya ke Indonesia, maupun berminat untuk memperoleh sertifikasi halal di Indonesia.

 Dalam presentasinya, Direktur LPPOM MUI, Bapak Lukmanul Hakim menyampaikan bahwa salah satu kepentingan pokok konsumen di Indonesia yang sebagian besar Muslim adalah kehalalan produk yang dikonsumsi dan digunakan. Pada tahun 2019, sertifikasi halal bersifat mandatory (wajib) dan tidak hanya bersifat voluntary (sukarela) bagi produk makanan dan kosmetika yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan bagi masyarakat Muslim Indonesia itu sendiri maupun stakeholders atau pemangku kepentingan di Indonesia. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sebagai lembaga otonomi bentukan MUI, memiliki wewenang secara legal formal untuk mengeluarkan sertifikasi halal bagi produk-produk pangan maupun kosmetika.

 Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan POM, Bapak Roy A. Sparingga, sebagai salah satu pembicara menyampaikan bahwa industri pangan di Indonesia sangat potensial dengan market terbesar di ASEAN. Hal ini sekaligus merupakan tantangan bagi Indonesia sebagai negara terbesar dan terpadat penduduknya di kawasan ASEAN. Badan POM sebagai institusi pemerintah yang berwenang melakukan pengawasan Obat dan Makanan sangat terbuka kepada semua pihak baik akademisi maupun industri untuk berdiskusi dan terlibat aktif dalam pengembangan investasi industri pangan dan farmasi di tanah air.

Sebagai informasi, jumlah penduduk muslim di Korea pada tahun 2015 adalah sebesar 13 persen dari total populasi dan diperkirakan akan meningkat menjadi 26 persen pada tahun 2030 (Data Korea Muslim Federation, Desember 2015). Pasar produk halal juga ditujukan bagi warga negara asing beragama muslim di Korea Selatan yang berasal dari Pakistan, Indonesia, Bangladesh, Malaysia, Iran dan India. Semakin meningkatnya pangsa pasar produk halal di Korea serta potensi pasar produk halal di dunia membuat banyak produsen asal Korea mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikasi halal.

Indonesia dianggap sebagai pasar yang sangat potensial bagi produk-produk halal. Berdasarkan data Korea Agro-Fisheries and Food Trade Corporation, pasar produk halal di Indonesia mencapat 78,5 juta US dollar dan saat ini terdapat 13,000 tipe produk halal yang diimpor oleh Indonesia. Oleh sebab itu, semakin banyak perusahaan korea yang berminat untuk mendapatkan sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Perusahaan tersebut umumnya bergerak di sektor agro-fishery food, bahan dasar obat-obatan herbal serta produsen kosmetik.

Kunjungan Kerja Kepala BPOM Dan Ketua MUI Ke Republik Korea

20160408 121023

Pada tanggal 6 sampai dengan 9 April 2016, Kepala BPOM, Ketua MUI dan Direktur LPPOM MUI beserta delegasi melakukan kunjungan kerja ke Republik Korea dalam rangka menjadi pembicara pada acara seminar terkait sertifikasi makanan halal dan serangkaian pertemuan dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta serta universitas di Korea. Delegasi lain yang ikut dalam hadir dalam kegiatan kunjungan dimaksud adalah beberapa Anggota Komisi II, VI, VII, dan VIII DPR RI.

Pada kunjungan kerja tersebut, Kepala BPOM, Ketua MUI dan delri melakukan kegiatan sebagai berikut menjadi pembicara dan menyampaikan keynote speech pada acara Afternoon Discussion and Business Gathering yang diselenggarakan KBRI Seoul dan pembicara pada acara Indonesia Halal Certification Seminar yang diselenggarakan Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA) bekerjasama dengan Ini Halal Korea (IHK); Pertemuan dengan Menteri Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), Wakil Menteri Ministry Food, Agriculture and Rural Affairs (MAFRA), Gubernur Provinsi Chungchenobukdo, Korea Tourism Organization (KTO); Site visit R&D facility perusahaan farmasi Korea di Osong City; dan memberikan kuliah umum di Universitas Seowon di Kota Chungju.

Pada hari Rabu tanggal 6 April 2016 bertempat di Wisma Duta, KBRI Seoul menyelenggarakan acara Afternoon Discussion and Business Gathering sebagai bagian rangkaian kunjungan kerja BPOM, MUI dan LPPOM MUI ke Republik Korea. Acara tersebut dihadiri dan disambut antusias oleh 22 peserta pimpinan dari 15 perusahaan farmasi Korea yang telah berinvestasi ataupun berminat untuk mengembangkan investasinya di Indonesia.

Pada acara tersebut, Kepala BPOM menyampaikan keynote speech terkait kebijakan Pemri dan peluang investasi di bidang obat-obatan dan makanan di Indonesia. Kepala BPOM juga menyampaikan bahwa sejalan dengan paket ekonomi yang diluncurkan pemerintah, iklim investasi di sektor obat dan makan semakin memudahkan investor asing untuk investasi di Indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan networking session antara delri dan pengusaha farmasi Korea. Acara Business Gathering ditutup dengan penyampaian thankyou note oleh Ketua MUI.

Setelah pelaksanaan seminar, Kepala Badan POM beserta seluruh delegasi melakukan pertemuan dengan Deputy Minister Lee Junwon dari Kementerian Agrikultur, Makanan dan Pengembangan Daerah Pedesaan Republik Korea (Ministry of Agriculture, Food and Rural Affairs – MAFRA) pada tanggal 7 April 2016. Pertemuan membahas peningkatan kerjasama RI-ROK di bidang agrikultur dan pangan serta peluang kerja sama di Halal Food Industry. Pihak Korea menyampaikan mengenai rencana penyelenggaran pameran Korea Food Fair pada bulan Oktober 2016 mendatang dan mendorong partisipasi Indonesia serta membahas pengembangan kerja sama di bidang Halal food industry serta kerja sama di bidang agrikultur.

Kepala Badan POM pada tanggal 8 April 2016 melakukan pertemuan dengan Menteri Sohn Mun-ngi, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) Republik Korea. Pada pertemuan, Kepala Badan POM didampingi oleh Deputi Bidang Pengawasan Kemanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Kepala Subdit Sertifikasi Pangan, Staf Biro Kerja Sama Luar Negeri, Staf Biro Inspeksi Terapetik, Atase Perdagangan dan Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Seoul. Sedangkan Delegasi ROK selain Menteri MFDS adalah Director General Jiyoung Yan, Director Choi Soon Gon (Livestock Products), Director Heon-woo Hong (Food Policy), Director Kwon Oh Sang (Biopharmaceuticals and Herbal Medicine), Deputy Director Ha Mi-Sook (Export Promotion), Assistant Director Yousoon You (International Cooperation), dan Mr. Muhammad Dongsoo Kim (Chairman Korea Muslim Federation Halal Committee).

Pertemuan menyepakati bahwa kerja sama di bidang pangan, obat dan biological akan dilanjutkan dan dikembangkan lebih lanjut. Untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi antara MFDS dan BPOM, kedua pihak sepakat untuk menunjuk point of contact. Pertemuan juga menyepakati untuk melanjutkan MoU antara MFDS dan BPOM terkait “The Safety and Quality of Processed Food, Medicinal Products, Traditional Medicines, Cosmetics and Food Supplement”, yang ditandatangani pada tahun 2012 dan berakhir pada tahun 2016.

Beberapa kerja sama nyata sebagai hasil dari pertemuan adalah kesepakatan pengembangan Capacity building programs di bidang biological product, blood product dan biosimilar product sebagai sektor baru yang berkembang di Indonesia dan pihak MFDS usulan penyelenggaraan pameran “World Beauty Forum” di Indonesia pada tahun 2017 yang ditanggapi positif oleh BPOM.

"Aroma Surga" Merebak Hingga Korea Selatan

FullSizeRender

Film dokumenter kopi Indonesia besutan Budfilm dan Produksi Film Negara (PFN) seminggu ini muncul di negeri ginseng. Masyarakat Korea bisa menonton sambil menyeruput kopi Indonesia di salah satu cafe di Busan atau pada tayangan bioskop di Seoul.

Pemutaran film ramai dihadiri berbagai kalangan seperti pemilik kafe, mahasiswa dan pecinta kopi yang mendapat informasi dari sosial media site (SNS), Facebook dan Youtube. Mereka terlihat antusias.

Di Seoul, film Aroma of Heaven ditayangkan di bioskop dan dibuka oleh Deputy Chief of Mission KBRI Seoul, Cecep Herawan.  "Film ini tidak hanya memperlihatkan kopi sebagai salah satu komoditas penting Indonesia, tetapi juga merepresentasikan keberagaman budaya dan tradisi bangsa Indonesia yg berakar pada kopi," tegas Cecep pada sambutan pembuka sebelum tayangan film.

Hadirnya film "Aroma of Heaven" yang tandem dengan Sutradara Budi Kurniawan ke Korea Selatan merupakan rangkaian pre event dari kegiatan utama Pameran kopi Coffee Expo Seoul 2016 yang di prakarsai oleh KBRI Seoul bersama Indonesia Trade Promotion Center (ITPC Busan). Pameran yang dihelat 14 sampai 17 April 2016 di COEX Seoul Hall A-400 itu akan diisi oleh 7 perusahaan Kopi Indonesia yang mewakili 7 sentra kopi di Nusantara.

"Film ini memberikan gambaran betapa Indonesia memiliki beragam kopi dibandingkan negara lain. Setelah melihat keindahan Indonesia melalui film ini membuat saya berpikir untuk mengunjungi Indonesia," ujar Joo Gui-nam, salah satu pecinta kopi dan pemilik sertifikat Barista dari kota Busan.

Menurut Indra Wijayanto, Kepala ITPC Busan, Korea Selatan merupakan pasar kopi dengan tingkat konsumsi 2,1 kg/kapita. Kenyataan itulah yang menjadikan Korea Selatan dibidik oleh KBRI sebagai pasar potensial kopi bagi Indonesia dalam rangka meningkatkan devisa dari ekspor non migas. "Peluang ini harus ditangkap oleh pelaku usaha kopi ditanah air untuk melakukan ekspansi di negeri ginseng," ujarnya.

Total impor kopi Korea dari seluruh dunia tahun 2015 senilai $ 547,1 juta, terjadi peningkatan sebesar 4% terhadap impor tahun 2014. Ini menunjukan bahwa dalam kondisi ekonomi yg kurang baguspun permintaan kopi di Korea tetap tumbuh positif.

"Dengan rangkaian kegiatan promosi, yaitu melalui pemutaran film kopi dan berpartisipasi pada pameran, diharapkan Indonesia sebagai negara dengan penghasil kopi terbaik dan terbesar ke 4 di dunia, semakin disadari oleh pelaku usaha dan konsumen kopi di korea, sehingga akhirnya dapat meningkatkan pangsa kehadiran  produk kopi indonesia di pasar Korea yang saat ini masih sekitar 2%," ujar Atase Perdagangan KBRI Seoul, Aksamil Khair. ()

Komisi Pemilihan Umum Perkuat Kerjasama Dengan NEC dan A-Web Republik Korea

IMG 1028

 

Sebagai upaya terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum yang jujur, adil, transparan dan akuntabel dan memperkuat kerjasama internasional guna mendukung perkembangan demokrasi di kawasan, pada Senin, 11 April 2016, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni Kamil Manik telah menandatangani MOU kerjasama dengan National Election Commission (NEC) Republik Korea dan Association of World Election Bodies (A-Web).

 

MOU ini dimaksudkan sebagai landasan kerja sama dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dan pertukaran pengetahuan dalam pemilihan umum, pertukaran pengalaman, informasi, komunikasi dan teknologi yang berkaitan dengan proses pemilihan umum. Penandatangan MOU ini juga diharapkan dapat memperkuat hubungan persahabatan dan kerjasama bilateral antara kedua belah pihak.

 

Mr. Kim Yong-hi, Sekretaris Jenderal NEC dan A-Web, menyampaikan harapan untuk memperkuat kerjasama antara NEC, A-WEB dan KPU guna lebih meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum yang lebih transparan. Pada kesempatan tersebut juga dipresentasikan teknologi pelaksanaan pendataan dan pemungutan suara melalui Multi-functional Voter Identification System (MVIS). Mesin tersebut dapat menyimpan data pemilih melalui sidik jari untuk mencegah pemilihan berulang. Alat tersebut dapat langsung mencetak kartu pemilih dan hasil perhitungan dengan kolom tanda tangan pengawas pemilu setempat sebagai tanda persetujuan hasil pemilu. Alat tersebut juga dilengkapi dengan transmiter dan modem 2G/3G yang memungkinkan pengguna untuk mengirimkan data ke pusat.

 

Ketua KPU, Husni Kamil Manik, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas undangan NEC dan A-Web sehingga KPU dapat berpartisipasi dalam Election Visit Program Republik Korea seraya berharap pemilu legislatif Republik Korea yang akan berlangsung pada 13 April 2016 dapat berjalan sukses, lancar, damai dan dapat membawa masa depan rakyat Republik Korea ke arah yang lebih baik.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014