MoU Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi di TPA Bantar Gebang Bekasi Ditandatangani di Seoul

WhatsApp Image 2016-12-15 at 11.52.20

Pihak Korsel dan Indonesia telah menyepakati untuk pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi di TPA Bantar Gebang Bekasi. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam MoU on Waste to Energy Project yang penandatangannya dilakukan di KBRI Seoul pada Jumat (9/12).

Penandatangan MoU tersebut dilakukan oleh konsorsium Korea Selatan dengan PT NW Abadi yang merupakan perusahaan PMDN pemegang konsesi pengolahan limbah menjadi energi di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Keempat pihak yang menandatangani MoU diwakili masing-masing oleh Jun Young Sam (Executive Director of Capital Market Division KDB), Hyun Moon Sik (Chairman KORBI), Jun Young Doo (Vice President of Environment Division GS E&C), dan Teddy Sujarwanto (Dirut PT NW Abadi) dengan disaksikan oleh Wakil Dubes RI untuk Republik Korea Cecep Herawan.

MoU antara lain menyepakati bahwa pihak konsorsium Korsel akan bertanggung jawab dalam hal penyediaan fasilitas pembiayaan, manajemen proyek dan konstruksi. Sementara dari pihak Indonesia PT NW Abadi yang akan bertanggung jawab dalam hal integrasi sistem dan teknologi waste-to-energy (WTE).

Fasilitas WTE yang akan mulai dibangun di Bekasi, Jawa Barat pada bulan Februari 2017 merupakan fasilitas pengolahan limbah menjadi energi yang pertama di Indonesia dengan kapasitas energi yang akan dihasilkan sebesar 34.6 MW dengan total rencana investasi senilai US$ 120 juta.

Potensi jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia mencapai 184,000 ton per hari (2015). Sampah yang berasal dari Bekasi sendiri potensinya 1,500 ton per hari, belum termasuk sampah dari Jakarta yang dibuang ke Bekasi (TPA Bantar Gebang) sebanyak 7,000 ton per hari. Jadi kalau ditotal sekitar 8,500 ton per hari sampah yang menumpuk di Bekasi.

Kunjungi Korban, Presiden Jokowi Sebut Penanganan Korban Gempa di Pidie Jaya, Aceh, Sudah Sangat Baik

WhatsApp Image 2016-12-09 at 10.50.30

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, penanganan terhadap korban bencana gempa Pidie Jaya, Aceh, sudah sangat baik, dan evakuasi korban sudah mencapai 99 persen. Penilaian ini disampaikan Presiden setelah menjenguk korban bencana gempa Pidie Jaya di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh, Kamis (8/12) malam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gempa bumi tektonik mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Rabu (7/12) pukul 05.36 WIB dengan kekuatan Magnitude 6,5 Skala Richter (SR). Pusat gempa bumi terletak pada 5,19 LU dan 96,36 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh, pada kedalaman 15 km. Gempa bumi ini mengakibatkan sejumlah bangunan roboh dan rusak berat, dan puluhan orang dinyatakan meninggal.

Adapun korban bencana yang mendapatkan perawatan di RS dr. Zainoel Abidin berjumlah 23 orang yang sebagian besar mengalami patah tulang. “Ada 19 tapi tadi masuk lagi 4 orang, yang sudah ditangani operasi ada 8 orang,” kata Presiden.

Jumat pagi ini (9/12), Presiden direncanakan akan berkunjung ke Pidie Jaya, daerah yang paling parah terkena gampa bumi tektonik, untuk melihat penanganan di lapangan termasuk bantuan-bantuan yang akan diberikan.

“Terutama untuk merekonstruksi kembali setelah nanti kita lihat lapangan seperti apa. Yang penting evakuasi penanganan korban di RS sudah ditangani dengan baik,” ucap Presiden.

Sebelumnya dalam rapat koordinasi penanganan bencana gempa bumi di Pidie Jaya dan sekitarnya, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki melaporkan tentang dampak gempa di Pidie Jaya dan sekitarnya. “Korban meninggal 102 tewas dan 1 hilang, 136 luka berat, 616 luka ringan, dan 10.029 mengungsi tersebar di 28 penampungan di tiga kabupaten,” ucap Presiden.

Bencana yang terjadi, lanjut Teten, memberikan dampak di tiga kabupaten yakni Pidie Jaya, Bireuen, dan Pidie. Di Pidie Jaya kerugian material sebanyak 105 unit ruko roboh, 12.560 unit rumah rusak ringan hingga berat, 49 unit masjid roboh, 1 RSUD Pidie rusak berat, beberapa ruas jalan rusak, dan tiang listrik roboh. Sementara di Kabupaten Bireuen sebanyak 41 rumah rusak ringan hingga berat, satu masjid rusak berat, satu bangunan sekolah rusak, dan satu kilang padi rusak berat.

“Di Kabupaten Pidie sebanyak 40 rumah juga rusak berat,” kata Teten.

Gubernur Aceh sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari (7-20 Desember 2016) melalui surat Nomor 39/PER/2016. Masa tanggap darurat ini berlaku untuk tiga kabupaten yaitu Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Bireuen. Penetapan tanggap darurat diperlukan untuk memudahkan penanganan darurat dan kemudahan akses.

Turut menyertai Presiden saat menjenguk korban di RS dr. Zainoel Abidin, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Plt Gubernur Aceh Soedarmo. (sumber: setkab.go.id)

Dubes John A. Prasetio berikan kuliah umum kepada Mahasiswa Sungkyul University

WhatsApp Image 2016-12-05 at 17.00.49

Dubes RI di Seoul John A. Prasetio menyatakan Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk menjadi negara yang sukses di Asia. Namun kesuksesan tersebut akan sangat tergantung pada apakah Presiden Jokowi berhasil untuk terus mengkonsolidasikan berbagai komponen di Indonesia agat memiliki kemauan politik untuk bersama-sama mentransformasi dan membangun Indonesia.  Dan hingga saat ini tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan Presiden Jokowi cukup tinggi.

Hal tersebut disampaikan Dubes RI dalam kuliah umum di depan lebih dari 1000 mahasiswa Sungkyul University, Anyang, pada tanggal 28 November 2016.  Kuliah umum tersebut dibuka oleh President Sungkyul University Profesor Dong Cheol Yoon. 

Dalam pembukaannya, Profesor Yoon menyatakan bahwa Dubes RI sudah melakukan banyak hal untuk memajukan hubungan kerjasama antara Indonesia dan Korea, khususnya telah membantu Sungkyul University untuk menjalin kerjasama dengan Pemkot Bandung dan beberapa universitas di Bandung.

Selain Dubes John Prasetio, turut memberikan presentasi seorang Indonesianis Ms. Daisy Park, yang membawakan paparan berjudul “Why I love Indonesia”.

Melalui kuliah umum tersebut diharapkan pemahaman publik Korea terhadap Indonesia khususnya di kalangan mahasiswa dapat meningkat.  Dalam kesempatan tersebut juga dibuka stand “Wonderful Indonesia” yang menampilkan brosur-brosur dan DVD guna mempromosikan pariwisata Indonesi

Dubes RI Berikan Sambutan pada “SNU GSIS-KOICA DCPP Evaluation Conference”

WhatsApp Image 2016-12-03 at 10.37.49

Dubes RI di Seoul John A. Prasetio menggarisbawahi prinsip Pemerintahan Presiden Jokowi yaitu “kerja, kerja dan kerja” sejalan dengan etos kerja Korea “pali pali” yang berarti “lakukan dengan sigap dan cepat” (2/12). Melalui prinsip tersebut para pegawai pemerintah diharapkan tidak lagi tinggal dalam zona nyaman, bersikap proaktif dan bekerja lebih sigap dan cepat untuk pembangunan negaranya.

Sambutan tersebut disampaikan kepada para mahasiswa dan alumni Development Cooperation Policy Program (DCPP), Graduate School of International Studies, Seoul National University (GSIS SNU) yang hadir pada “SNU GSIS-KOICA DCPP Evaluation Conference: Effective Development Cooperation on Higher Education” pada tanggal 2 Desember 2016 di Seoul.

Konferensi tersebut juga dihadiri oleh Dubes Vietnam di Seoul, Vice President Hyundai Engineering dan Vice President of Global Volunteers and Fellowship Program KOICA.

Dalam sambutannya, Dubes RI juga mengapresiasi Republik Korea dalam membagikan best practices dan pengalaman mereka dalam membangun negaranya menjadi maju seperti sekarang ini kepada negara-negara berkembang. Dikenal sebagai salah satu negara termiskin pada tahun 60-an, Korea Selatan kini masuk dalam 10 besar negara industri, merupakan middle income countries dan merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-12 di dunia. Tentunya pengetahuan dan pengalaman yang didapat para mahasiswa dapat diterapkan di institusi dan negara masing-masing.

Republik Korea telah menjadi negara donor sejak pendirian Korea International Cooperation Agency (KOICA) pada tanggal 1 April 1991 sebagai badan pemerintah yang berfungsi sebagai pelaksana bantuan hibah pemerintah Korea kepada negara berkembang dan program kerjasama teknis.

Pertemuan dihadiri oleh 60 orang para mahasiswa dan alumni Development Cooperation Policy Program (DCPP), GSIS SNU yang merupakan para pengawai pemerintah negara berkembang termasuk Indonesia yang mendapatkan beasiswa Pemerintah Korea untuk melanjutkan studinya di Seoul National University dibawah program DCPP SNU-KOICA.

Selain Dubes John Prasetio, pada awal konferensi, Dubes Vietnam di Seoul dan Dekan International Affairs Professor Geun Lee memberikan sambutan pembukaan menyampaikan apresiasi dan harapan bahwa melalui konferensi ini para mahasiswa dan alumni DCPP dapat memperkuat persahabatan dengan tujuan membangun dunia yang lebih baik. Sambutan pembukaan tersebut disambut dengan tepuk tangan hangat dari mahasiswa dan alumni DCPP SNU yang hadir. 

Special Lecture Dubes RI pada Korea-Indonesia Global Future Forum

WhatsApp Image 2016-12-01 at 16.47.59

Duta Besar RI Seoul John A. Prasetio memberikan special lecture dalam pertemuan Korea-Indonesia Global Future Forum di Press Room, Gedung Korea Press Center, Seoul, Rabu (9/11). Pertemuan dihadiri sekitar 100 orang warga Korea dari kalangan pebisnis dan akademisi yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut Duta Besar John Prasetio menyampaikan paparan mengenai perkembangan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan hubungan bilateral Indonesia – Korea.

Dikatakannya, hubungan bilateral RI-Korea menunjukkan kecenderungan yang terus menguat. Tercermin dari intensitas saling kunjung pejabat dan kepala negara termasuk kunjungan kenegaraan khususnya pada kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Korea bulan Mei 2016.

Terdapat sekitar 70 ribu orang Korea di Indonesia dan 2200 perusahaan Korea di Indonesia dan investasi perusahaan Korea, seperti POSCO, LOTTE, Hankook Tire, LG dan Samsung yang menunjukkan intensnya kerja sama People-to-People Contact dan kerja sama ekonomi antara kedua negara. Di bidang investasi, Republik Korea menempati urutan ke-4 dari total Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia.

Terdapat banyak success story perusahaan dan pebisnis Korea di Indonesia, namun khusus sektor automobile, produk Korea masih memiliki pangsa pasar yang relatif kecil di Indonesia.

Di bidang pertahanan, Indonesia adalah negara pertama yang membeli kapal selam dan pesawat jet trainer tipe T-50 golden eagle dari Korea dan merupakan satu-satunya negara yang bekerja sama dengan Korea dalam mengembangkan pesawat jet fighter dengan teknologi terbaru tipe KFX.

Sementara itu pihak penyelenggara dalam presentasinya memaparkan bahwa tujuan dari kegiatan adalah untuk membangun exchange network antara Korea dan Indonesia di bidang ekonomi, seni budaya, dan pendidikan, khususnya di 10 bidang yaitu pendidikan, pers, seni dan budaya, kecantikan, jasa, hukum, kesehatan dan kesejahteraan, pariwisata, pemberdayaan perempuan, serta pertanian dan perikanan.

Acara Korea-Indonesia Global Future Forum berjalan lancar dan dihadiri oleh berbagai kalangan di Korea dan menunjukkan minat besar Korea terhadap peningkatan hubungan bilateral Korea-Indonesia serta menunjukkan apresiasi warga Korea terhadap perkembangan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi.

Chairman dari kegiatan Korea – Indonesia Global Future Forum Mr. Kim Young-bae adalah juga Chairman of Board dari Korea Institute of Service Industry. Ybs bersama-sama dengan President Asia Journalist Association (AJA) Mr. Lee Sang-ki pada akhir April lalu telah bertemu Presiden Jokowi di Jakarta.

Presiden Jokowi juga telah dianugerahi AJA Award dalam sebuah forum di Ajou University pada saat kunjungan Presiden ke Republik Korea bulan Mei 2016.

Nonsan Siap Jalin Sister City dengan Malang dan Batu

nonsan

Wali Kota Nonsan, Hwang Myeong Seon, dengan gembira menyatakan siap menjalin sister city dengan Kota Malang dan Kota Batu. Bidang pertanian, pendidikan serta sektor layanan publik siap dikerjasamakan.

Dalam kunjungan delegasi KBRI Seoul yang dipimpin Minister Counsellor, M Aji Surya, Selasa (29/11/2016) ke kota tengah negeri ginseng tersebut, dibicarakan tentang kesediaan kota Malang dan Batu untuk kemungkinan menjalin kerjasama di masa depan. Bahkan, Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko telah siap berkunjung ke Monsoon awal tahun depan.

Walikota Hwang Myeong menyatakan siap menerima tamu-tamu dari dua kota tersebut ataupun tidak berkeberatan berkunjung ke sana. Yang jelas, berbagai potensi Nonsan seperti pertanian strawberry serta perusahaan bidang kecantikan serta kerjasama antar-universitas merupakan bidang-bidang yang disiapkan. Bahkan, permintaan kota Malang dan Batu dalam hal pengembangan layanan publik yang lebih baik di kedua kota siap untuk ditindaklanjuti.

"Saya merasa bahwa Wali Kota Nonsan seorang pria muda yang antusias, berpikiran positif dan bersemangat. Hwang langsung menyambut penuh antusias kesediaan Malang dan Batu menjadi sister city Nonsan. Semua potensi kota Nonsan dikemukakan kepada saya untuk dikerjasamakan," ujar Aji Surya yang bulan lalu bertandang ke Malang dan Batu.

Tidak hanya itu, Hwang meminta stafnya untuk langsung mengantarkan rombongan KBRI Seoul untuk segera menengok lahan pertanian strawberry, tomat, pabrik kosmetika penghalus dan pemutih kulit muka serta beberapa obyek wisata disana.

Semua dimaksudkan agar informasi tersebut dapat dijadikan tambahan keyakinan bahwa kerjasama kedua pihak saling menguntungkan.

Kota Nonsan juga berharap kalau nanti MOU akhirnya ditandatangi, akan menjadi jembatan bagi perusahaan di dua belah pihak saling mendekat dan berkolaborasi.

Partisipasi Menteri PAN RB sebagai pembicara dalam Government 3.0 Global Forum 2016 di Busan

image1 1

Government 3.0 Global Forum 2016 diselenggarakan di Busan tanggal 9 -10 November 2016. Acara ini terdiri dari konferensi dan pameran yang bertujuan untuk mempelajari perkembangan dan tren dalam inovasi penyelenggaraan pemerintahan.

Pada forum ini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur sebagai Ketua Delegasi RI dan pembicara di sesi Global Trends and Challenges in Government Innovation menyampaikan inovasi layanan publik dengan mengambil contoh kasus Program Pembasmian Malaria di Teluk Bintuni (Papua Barat) melalui Sistem Diagnosa dan Perawatan Dini.

Selain itu, Indonesia juga menampilkan display sistem proses Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang penyelesaiannya hanya memerlukan satu hari kerja. Selain itu ditampilkan juga aplikasi di smartphone Panic Button yang memudahkan masyarakat untuk melaporkan hal-hal darurat kepada polisi. Respon petugas akan didapatkan dalam waktu kurang dari 5 menit. Display ini diwakili oleh kepolisian Banyuwangi, Jawa Timur.

Kesempatan forum ini juga dimanfaatkan untuk pertemuan 3rd Joint Commission Meeting bersama Ministry of Interior Korea Selatan dengan Kemnpan RB. Forum tersebut juga dimanfaatkan untuk pertemuan bilateral dengan beberapa pihak antara lain pihak Azerbaijan (ASAN Service), pejabat OECD dan NIA (Korea) untuk pengembangan kerja sama e-government. Keseluruhan pertemuan ini mencatat kerja sama baru yang akan direalisasikan dengan target pelaksanaan tahun 2017. 

Government 3.0 Global Forum 2016 diselenggarakan di Busan tanggal 9 -10 November 2016. Acara ini terdiri dari konferensi dan pameran yang bertujuan untuk mempelajari perkembangan dan tren dalam inovasi penyelenggaraan pemerintahan.

 

Pada forum ini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur sebagai Ketua Delegasi RI dan pembicara di sesi Global Trends and Challenges in Government Innovation menyampaikan inovasi layanan publik dengan mengambil contoh kasus Program Pembasmian Malaria di Teluk Bintuni (Papua Barat) melalui Sistem Diagnosa dan Perawatan Dini.

 

Selain itu, Indonesia juga menampilkan display sistem proses Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang penyelesaiannya hanya memerlukan satu hari kerja. Selain itu ditampilkan juga aplikasi di smartphone Panic Button yang memudahkan masyarakat untuk melaporkan hal-hal darurat kepada polisi. Respon petugas akan didapatkan dalam waktu kurang dari 5 menit. Display ini diwakili oleh kepolisian Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Kesempatan forum ini juga dimanfaatkan untuk pertemuan 3rd Joint Commission Meeting bersama Ministry of Interior Korea Selatan dengan Kemnpan RB. Forum tersebut juga dimanfaatkan untuk pertemuan bilateral dengan beberapa pihak antara lain pihak Azerbaijan (ASAN Service), pejabat OECD dan NIA (Korea) untuk pengembangan kerja sama e-government. Keseluruhan pertemuan ini mencatat kerja sama baru yang akan direalisasikan dengan target pelaksanaan tahun 2017. 

Partisipasi Indonesia pada 2016 MIKTA Young Leaders Camp

MIKTA3

Dua mahasiswa Indonesia terpilih untuk mewakili Indonesia dalam forum MIKTA Young Leaders Camp 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Korea Selatan. Forum ini berlangsung dari tanggal, 3 – 4 November 2016 di Gangwon-do, Korea Selatan. Sebanyak 30 mahasiswa terpilih untuk mewakili negara - negara MIKTA yang terdiri dari Meksiko, Indonesia, Korea, Turki dan Australia.

Di MIKTA Young Leaders Camp 2016 sendiri, Indonesia diwakili oleh Hutomo Danu Saputro dan Kok Alvin Kristanto. Hutomo Danu Saputro merupakan mahasiswa tahun akhir di jurusan International and Strategic Studies, University of Malaya, Malaysia. Sedangkan Kok Alvin Kristanto merupakan mahasiswa jurusan International Business Management di Universitas Kristen Petra, Surabaya, yang sedang menjalankan program pertukaran pelajar di Sogang University, Korea Selatan. Mereka terpilih untuk menjadi delegasi Indonesia setelah melalui beberapa tahap seleksi (essay dan wawancara) dari Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.

Pada kesempatan tersebut KBRI Seoul bersama Perwakilan dari Kedutaaan Besar negara MIKTA juga berkesempatan untuk menyampaikan komentar terhadap presentasi rekomendasi peserta Young Leaders Camp dan pandangan mengenai MIKTA bagi Indonesia. Secara umum Perwakilan anggota MIKTA menganggap perlu public awareness mengenai MIKTA itu sendiri kepada publik di negara masing-masing. Presentasi rekomendasi yang disampaikan peserta cukup memadai untuk diwujudkan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa implementasi prioritas kebijakan yang dibahas antara lain public awareness, cyber security, education, dan climate change.

Secara khusus KBRI Seoul menyampaikan pesan-pesan utama dari penyelenggaraan MIKTA Interfaith and Intercultural Dialogue di Yogyakarta 18-19 Oktober 2016. Peserta juga diundang untuk berpartisipasi pada Beasiswa Seni Budaya Indonesia pada tahun 2017 dan diharapkan sekurangnya satu peserta dari negara MIKTA akan menerima beasiswa tersebut.

Pembentukan kelompok ‘middle powers’ MIKTA mulai digagas pada pertemuan informal Menteri Luar Negeri G20 pada bulan Februari 2012 di Los Cabos, Meksiko. Pertemuan pertama “MIKTA Ministerial Meeting” dilakukan di sela-sela Sesi ke-68 SMU PBB pada tahun 2013. MIKTA disepakati sebagai gerakan yang informal untuk mengambil peran sebagai ‘bridge builder’ antara negara-negara berkembang dan maju. Common interest kelima negara diantaranya: demokrasi, situasi ekonomi, serta peran serta aktif dalam berbagai isu global.

 

Aneka Soto Menggoyang Lidah Publik Korea

WhatsApp Image 2016-11-02 at 11.16.20

Sebuah festival makanan yang menyajikan berbagai cita rasa dari 10 negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) berakhir pada Sabtu sore waktu setempat di COEX Convention and Exhibition Center, Seoul, Korea Selatan. Pada acara ini, booth Indonesia yang digawangi Chef Budi Lee menyajikan aneka soto, gado-gado, dan rendang, makan terenak di dunia berdasarkan hasil voting CNN.

ASEAN Culinary Festival 2016 ini dilaksanakan dalam kaitannya dengan pameran industri makanan ASEAN Fair 2016 yang dihelat selama 4 hari penyelenggaraan dan dilaksanakan bersama-sama pameran produk makanan Korea Food Week. Festival kuliner yang diselenggarakan oleh ASEAN-Korea Centre (AKC) dan Kedubes Negara-negara Asean di Korea ini masing-masing menawarkan 3 macam ikon kuliner yang disiapkan oleh chef dari 10 negara ASEAN.

Setelah rendang cukup sukses dikenal publik dunia, Indonesia kini mencoba memperkenalkan soto sebagai ikon kuliner baru Indonesia. “Kami memilih soto sebagai ikon kuliner baru karena makanan ini ada di seluruh Indonesia dengan beragam jenisnya. Makan ini juga mewakili keragaman budaya Indonesia,” kata Deputi Pemasaran Luar Negeri Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Joshua Simandjuntak yang datang ke Seoul turut mendukung kegiatan promosi kuliner ini. Tiga jenis soto yang ditampilkan soto ayam, soto betawi, dan soto tauto Pekalongan.

Duta Besar RI untuk Republik Korea, John A. Prasetio menyatakan bahwa dirinya senang melihat kerumunan orang Korea yang menikmati makanan yang disajikan di booth Indonesia. Selama 4 hari penyelenggaraan festival kuliner, booth Indonesia yang menyajikan rendang, gado-gado, dan aneka soto, selalu mencatat jumlah terbanyak menggoyang lidah pengunjung dengan rata-rata 550 porsi makanan ludes setiap harinya.

Kim Young-sun, Sekjen AKC pada saat upacara pembukaan ASEAN Culinary Festival menyatakan bahwa dirinya berharap ASEAN Fair dapat menjadi jembatan bagi ASEAN dan Korea untuk meningkatkan jaringan bisnis dan kerjasama ekonomi. Kim juga menyatakan bahwa pameran ini akan menyajikan produk makanan yang kompetitif dan budaya makanan ASEAN yang beragam. (*)

Kapal Selam Pesanan Kedua TNI AL Diluncurkan dari Galangan Kapal DSME, Korsel

20161024110120375785

Kapal selam kedua dari tiga kapal selam yang dipesan Indonesia untuk menambah kekuatan armada TNI Angkatan Laut resmi diluncurkan, Senin (24/10) di di Galangan DSME, Okpo, Pulau Geoje, Korea Selatan.

Peluncuran secara simbolis ditandai dengan pemotongan tali oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemhan) Laksamana Madya TNI Widodo, M.Sc yang didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Arie H. Sembiring.

Sebelumnya Kapal Selam Diesel Elektrik (KSDE) DSME-209 (H.7712) yang pertama telah diluncurkan pada tanggal 24 Maret 2016 lalu di tempat yang sama dan dihadiri Menteri Pertahanan (Menhan) RI Ryamizard Ryacudu dan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P.

Pada peluncuran kapal selam kedua tersebut, usai acara simbolis pemotongan tali oleh Sekjen Kemhan, dilanjutkan dengan penandatanganan Berita Acara oleh Dansatgas Yekda Kapal Selam Laksamana Pertama TNI Iwan Isnurwanto, M.A.P., M.Tr (Han) dan Project Manager Indonesian Submarine.

"Indonesia memesan tiga kapal selam baru Diesel Elektrik (KSDE) kelas Changbogo dari Pemerintah Korea Selatan dengan proses alih teknologi yaitu dari Galangan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME)," demikian rilis dari TNI AL.

Dua kapal pertama dibangun keseluruhan di DSME, sedangkan kapal selam ketiga akan diselesaikan di PT PAL, setelah sebelumnya pada bulan Mei lalu telah dilaksanakan keel laying atau pembangunan awal dari konstruksi kapal dan selanjutnya akan dikirim ke Indonesia pada Desember mendatang untuk dikerjakan oleh tenaga ahli Indonesia di galangan PT PAL, Surabaya dengan cara joint section.

Pengadaan kapal perang menjadi prioritas dalam revisi Minimum Essential Force (MEF) 2015-2019 TNI AL, langkah tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) guna mendukung visi World Class Navy. Indonesia mempunyai visi menjadi Poros Maritim Dunia, maka kehadiran TNI AL itu penting, bukan hanya hadir di pangkalan, tapi hadir di laut, baik di permukaan maupun di bawah permukaan.

Turut hadir pada acara peluncuran Kapal Selam kedua tersebut, Senior Executive Vice President of DSME, Mr. Sung Geun Lee, Wakil Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) dan Kepala Dinas Pengadaan Angkatan Laut (Kadisadal).

 

Foto diambil dari: www.ajunews.com

Busana Karya I.K.Y.K dan SOE Jakarta Mendapat Pujian di Pekan Mode Korea

WhatsApp Image 2016-10-20 at 12.54.25

Dua desainer Indonesia I.K.Y.K dan SOE Jakarta tampil percaya diri di Fashion Kode, Seoul, Korea Selatan. Mereka menawarkan busana nuansa etnik Indonesia yang dipadu dengan gaya modern pada anak muda Korea. 

Sebanyak 200-an anak muda Korea memenuhi ruangan fashion show yang dihelat tepat tengah hari Kamis (20/10/2016) waktu setempat. Dibawah temperatur 15 derajat Celcius menjelang musim gugur itu sebanyak 30 busana karya dua desainer Indonesia itu diperagakan. Dan karya I.K.Y.K serta SOE Jakarta mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penonton.

"Menarik, elegan dan pas," ujar seorang penonton yang merupakan mahasiswi universitas terkemuka di Seoul, Korsel. "Ada nuansa inovasi yang cukup menggigit," katanya lagi.

Designer Anandia Marina Putri Harahap dari I.K.Y.K (I Know You Know), mengaku sedang mencoba pasar Korea yang sudah sesak. Ia cukup percaya diri bisa diterima pasar Korea selama bisa menerjemahkan kemauan konsumen secara detail. Karenanya, wanita berhijab ini senantiasa memadukan sisi konvensional dan modernitas yang dipahami masyarakat Korea. Selain itu, ia juga menciptakan pakaian yang longgar, menutup dan nyaman di tubuh. "Saya buktikan bahwa pakaian sopan itu juga laku," akunya.

Sementara Monique Soeriaatmadja dari rumah mode SOE Jakarta lebih menampilkan desainnya dengan unsur tradisi dan etnik Nusantara. Busana-busana karyanya dibuat secara manual oleh tangan-tangan pengrajin yang memahami ide-idenya. Ada yang dibuat di Jawa Tengah maupun Indonesia bagian Timur. Diharapkan penggunanya memiliki citra rasa campuran antara tradisi dan modern.

Kehadiran I.K.Y.K dan Soe Jakarta di Fashion Kode 2016 ini merupakan bagian dari pertukaran misi budaya antara Indonesia dan Korea yang diinisiasi Jakarta Fashion Week (JFW). "Kita pilih mereka karena produknya cocok dengan karakter calon pembeli," kata Ai Syarif sebagai Wakil dari Jakarta Fashion Week.

Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI Seoul, Cecep Herawan, ikut mengapresiasi kehadiran dua desainer Indonesia di ajang Fashion Kode. Ini, katanya, menunjukkan bahwa desainer Indonesia inovatif, percaya diri dan punya keberanian. "Bersaing di Korea memang bukan perkara mudah. Namun juga bukan hal yang mustahil, khususnya bagi mereka yang nyata-nyata punya nyali dan inovasi," pungkasnya. 

Tarian Betawi dan Madura Meramaikan “2016 Itewon Global Village Festival”

WhatsApp Image 2016-10-16 at 19.01.04

Tari dan Produk Kerajinan Tangan Indonesia Tampil pada festival budaya di Pusat Turis Kota Seoul. Di tengah cuaca cerah dan suhu yang sejuk pada musim gugur, penampilan Indonesia mendapat sambutan hangat dari pengunjung festival.

Promosi budaya dan pariwisata Indonesia tersebut digawangi oleh KBRI Seoul melalui partisipasi dalam festival budaya "2016 Itaewon Global Village Festival", yang diadakan selama 2 hari berturut-turut Sabtu dan Minggu di Itaewon yang terkenal sebagai zona khusus turis kota Seoul (15-16/10).

Festival budaya tahunan ini diramaikan hampir 100 stand terutama dari komunitas manca negara yang terdiri dari komunitas restoran dan budaya, termasuk 19 stand dari kedutaan asing di Seoul Korea.

Indonesia yang diwakili KBRI Seoul turut meramaikan festival yang diadakan di pusat turis kota Seoul ini. Kelompok Tari Tradisional Indonesia (KTTI) binaan KBRI Seoul tampil di panggung utama dalam event world performance. Secara medley 10 orang penarinya yang terdiri dari mahasiswa Indonesia di Korea ini membawakan tari Lenggang Nyai (Betawi) dan tari Sape Kerab (Madura). Tampil di urutan ketiga dari 6 negara, yang berlatih tiap minggu di KBRI Seoul tersebut mendapat sambutan hangat dari ratusan penonton yang duduk di panggung utama.

WhatsApp Image 2016-10-16 at 19.00.42

Selain tampil di panggung utama, Indonesia juga ikut dalam pawai Parade Budaya yang menempuh jarak sekitar 1,5 km dan mendapat tepukan riuh dari ribuan pengunjung di sepanjang jalan utama distrik Itaewon, Seoul. Peserta parade dari Indonesia berjalan sambil terus membuat gerakan tari-tari mulai dari Poco-poco, goyang Lenggang Nyai yang menghibur pengunjung festival yang dikunjungi lebih dari 1 juta orang ini.

Bazaar produk-produk kerajinan Indonesia yang ditawarkan di booth Indonesia juga diminati pengunjung. Produk-produk batik mulai dari scarf, taplak meja, tas hingga payung motif batik, taplak meja kayu wangi, serta berbagai asesoris dan souvenir dari kayu seperti kalung dan gelang laris terjual.

Diharapkan dengan keikutsertaan Indonesia pada festival budaya ini, akan mampu mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dari Korea ke Indonesia di tahun 2016 ini guna memenuhi target 400 ribu wisatawan. Tahun lalu, wisatawan asal Korea menempati peringkat ke-6 wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. (*)

Bos Go-Jek Terima ASEAN Entrepreneur Award di Seoul

WhatsApp Image 2016-10-12 at 19.27.47

CEO Go-Jek, Nadiem Anwar Makarim, malam ini menerima penghargaan ASEAN Entrepreneur Award dari World Knowledge Forum di Seoul, Korea Selatan. Go-Jek dianggap sebagai salah satu perusahaan yang melesat dalam hal inovasi.

Penghargaan diserahkan oleh pendiri World Knowledge Forum, Chang Dar-whan, dalam acara 17th World Knowledge Forum di Seoul, Rabu (12/10/2016). 

Selain Nadiem, satu penerima award lainnya adalah perempuan pengusaha asal Vietnam, Nguyuen Thi Nga. Nadiem dan Nguyuen adalah dua orang pertama yang menerima award dari World Knowloedge Forum.

"Saya tak menyangka semua akan terjadi. Hidup itu harus percaya padaluck, keberuntungan. Luck adalah teman saya," kata Nadiem dalam sambutannya.

Nadiem yang mengenakan jas dan celana warna gelap ini mengatakan, dalam berbisnis tak perlu merisaukan aturan. Meski belum ada aturan, bisnis harus jalan terus. 

"Nanti akan muncul aturan yang mengekor inovasi," katanya.

Kemunculan Go-Jek memang kontroversial. Mulai dari perseteruan dengan ojek pangkalan hingga aturan-aturan baru dalam bidang transportasi. Meski demikian, ojek berbasis online ini tumbuh pesat dan menyasar ke berbagai bidang.

"Saya senang dapat award ini. Atas nama 200 ribu pengendara Go-Jek yang menyapa pelanggan tiap hari, saya ucapkan terima kasih," kata Nadiem.

"Semoga lebih banyak orang Indonesia terinspirasi," tutup pria 32 tahun ini disambut tepuk tangan 600-an peserta yang hadir. 

Enam Karya Sineas Indonesia Ikut Serta dalam Ajang BIFF ke-21

Indonesian Cinema

Enam film karya sineas Indonesia tampil dalam ajang festival film terbesar Asia, Busan International Film Festival (BIFF) ke-21 yang berlangsung 8-14 Oktober 2016 di Busan, Korea Selatan. Partisipasi sineas Indonesia di BIFF tersebut tak lepas berkat dukungan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan mengusung nama "Indonesian Cinema".

Terpilih enam film Indonesia dalam festival tersebut, yaitu Nyai, Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude), Three Sassy Sister (Tiga Dara), dan Athirah, serta dua film pendek Memoria dan On The Origin Of Fear. Selama 7 hari festival keenam film tersebut diputar di bioskop-bioskop ternama di wilayah Haeundae dan Centum City Busan, seperti CGV, Lotte Cinema, dan Megabox .

Untuk meningkatkan kesempatan para pembuat film Indonesia berinteraksi dengan calon-calon investor, Bekraf juga mengadakan acara networking bertajuk "Indonesian Night", Senin malam (10/10) di Park Hyatt Hotel, hotel bergengsi di Busan. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain sutradara kondang Nia Dinata, Joko Anwar, Yosep Anggi Noen, dan Bayu Prihantoro.

“Melalui dukungan Bekraf, diharapkan industri perfilman Indonesia dapat berkembang dan menembus pangsa pasar luar negeri,” demikian Ricky Pesik, Wakil Kepala Bekraf yang membuka acara.

Tak berhenti di situ, Bekraf juga membantu pengadaan booth promosi untuk film terpilih dan film Indonesia pada umumnya di BIFF.

Antusiasme kalangan film Korea terhadap karya sineas Indonesia cukup baik, terlihat dari kehadiran sekitar 150 orang kalangan film peserta Busan International Film Festival pada coctail party yang diadakan Bekraf, selain jumlah kunjungan ke booth Cinema Indonesia.

BIFF merupakan festival paling bergengsi di seluruh Asia yang diadakan sejak tahun 1998. "Di samping acara Market Screening, promosi para sienas muda melalui Asian Film Market (AFM), merupakan acara penting yang menjadi bagian dari festival," demikian dijelaskan Boni Pudjianto, Direktur International Marketing, Bekraf yang menggawangi selama kegiatan di Busan.

"Lewat AFM, banyak sutradara film yang kemudian memperoleh pendanaan dari investor dimana permodalan ini penting bagi produksi film," pungkas Boni. (*)

Film 1

Film 2

Film 3

Diaspora Indonesia di Korea Antusias Berdialog dengan Ridwan Kamil

WhatsApp Image 2016-10-07 at 13.47.29

“Perubahan harus dijemput bukan ditunggu”, kata Walikota Bandung di depan Diaspora Indonesia di Korea Selatan pada Jumat (6/10).

Pertemuan Walikota Bandung, Ridwan Kamil dengan Diaspora Indonesia dilakukan disela-sela kunjungan kerja ke Republik Korea (6/10). Dipandu oleh Dubes RI John Aristianto Prasetio, pertemuan dilaksanakan dalam bentuk talk show dengan suasana penuh keakraban.

Mengawali acara, Dubes RI memperkenalkan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Korea yang beberapa diantaranya berasal dari Bandung. Para mahasiswa juga ingin mendengar langsung bagaimana Walikota Bandung menghadapi prioritas dan tantangan dalam menjadikan Bandung sebagai kota dunia.

Ridwan Kamil yang akrab dipanggil Kang Emi menekankan bahwa Pemerintah harus pro-aktif, termasuk aktif dalam hubungan internasional terutama untuk sektor perkotaan. Untuk itu Bandung memiliki dua “Duta Besar bayangan” yang bertugas connecting the doors dan menjalin kerjasama.

Diakuinya bahwa infrastruktur di Indonesia lambat karena mengandalkan dana pemerintah. Sementara negara lain telah menerapkan konsep public private partnership (PPP) untuk pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu dirinya pro-aktif menjalin kerjasama dengan pihak negara lain, termasuk kerjasama dengan Pemerintah Kota Seoul dalam berbagai bidang.

Talkshow ini disambut antusias oleh Diaspora Indonesia, terutama para pelajar. Bahkan pelajar dari luar kota Seoul juga bersemangat hadir. Usai acara, masyarakat Indonesia berebut untuk foto bersama dengan Ridwan Kamil. 

Bandung dan Seoul Tandatangani MoU Kerjasama

WhatsApp Image 2016-10-07 at 16.28.35

Walikota Bandung Ridwan Kamil dan Walikota Seoul Park Wonsoon menandatangani MoU kerjasama di berbagai bidang di City Hall, Seoul, pada Jumat siang (7/10), disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Republik Korea John A. Prasetio.

Kedua Walikota sepakat untuk melakukan pertukaran dan kerja sama melalui berbagi keahlian dan praktik-praktik terbaik dalam 4 bidang: ekonomi perkotaan, perencanaan kota, transportasi perkotaan, dan e-government.

“Saya yakin dengan penandatanganan MoU ini akan menginspirasi lebih banyak aktivitas innovatif dan sinergi antara kedua Kota Bandung dan Seoul serta akan meningkatkan kerja sama pembangunan di keempat bidang tersebut ”, demikian dikatakan Walikota Bandung Ridwan Kamil dalam sambutannya.

Di samping itu kedua pemerintah kota akan berbagi pengalaman dan melakukan program pertukaran dalam bidang kebudayaan, seni, dan pariwisata, serta melakukan diskusi aktif mengenai kebijakan-kebijakan dalam bidang kebudayaan dan seni melalui kunjungan satu sama lain serta pertukaran-pertukaran lainnya.

WhatsApp Image 2016-10-07 at 16.28.38

 

Kedua kota juga akan berbagi informasi mengenai kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi dan dengan demikian mendorong ekonomi lokal, serta dapat memberikan dukungan dengan menghubungkan bisnis dan minat investasi kepada satu sama lain.  Kedua pihak akan secara aktif memfasilitasi pertukaran praktis dan kolaborasi melalui program-program seperti pertukaran personel dan pelatihan jangka pendek ataupun panjang.

Kerjasama kedua kota dimulai sejak pendatanganan LOI pada Mei 2015. Kerjasama berjalan intensif dengan kunjungan tim ahli Seoul, antara lain dalam menyusun master plan sistem  transportasi Bandung yang cepat dan tertata baik. Seoul juga diharapkan dapat membantu rehabilitasi sungai dan memperkuat techno park di Bandung.

Selain menandatangani Mou dengan Kota Seoul, Walikota Bandung yang akrab disapa Kang Emil ini direncanakan juga akan ke Suwon untuk menghadiri International Sister Cities Culinary Festival pada Sabtu (8/10) dimana Bandung dan Suwon telah menandatangani MoU Sister City pada tahun 1997.  Kang Emil juga berkesempatan bertemu sekitar 40 orang Diaspora Indonesia di Korea pada Jumat pagi (7/10) di Wisma Duta, KBRI Seoul, untuk berbagi kiat dan pengalaman dalam memimpin dan membangun Bandung.  Kunjungan kali ini juga dimanfaatkan untuk penjajagan lokasi pendirian "Little Bandung" di Korea. (*KBRI Seoul*)

“Gundala-gundala Bondres” Ramaikan ASEAN Gala Show

20161002 174027 01

Tari Topeng Indonesia ‘Gundala-gundala Bondres’ ikut meramaikan ASEAN Gala Show di kota Gwangju (1/10) dan Andong (2-3/10), Republik Korea.

Indonesia yang diwakili oleh Phil Studio Karo Arts Partitur menampilkan tari topeng kontemporer yang merupakan fusion dari topeng Bondres (Bali) dan Gundala-gundala (Batak Karo). Tarian yang menggambarkan perpaduan dua budaya tersebut melambangkan persatuan dalam keragaman (Bhineka Tunggal Ika).

Penampilan Indonesia mendapatkan sambutan meriah dari sekitar 250 penonton di Asia Culture Centre, kota Gwangju. Sementara lebih dari 1000 penonton memenuhi Mask Dance Theater, tempat diselenggarakannya ASEAN Gala Show di kota Andong.

Bersama grup penari dari 9 negara ASEAN lain, Indonesia tampil pada ASEAN Gala Show yang diadakan tanggal 1-3 Oktober 2016 di kedua kota tersebut. ASEAN Gala Performance merupakan rangkaian kegiatan 2016 ASEAN Culture and Tourism Fair yang menampilkan tari-tarian negara-negara ASEAN. Acara yang diselenggarakan oleh ASEAN – Korea Center tersebut, juga untuk menyambut ASEAN – Korean Exchange Year 2017.

 

Aktor Indonesia Joe Taslim Mendapat Award di Ajang "2016 Asia-Pacific Actors Network Star Awards"

WhatsApp Image 2016-10-04 at 11.09.14

Aktor kebanggaan Indonesia Joe Taslim mendapatkan penghargaan pada ajang "2016 Asia-Pacific Actors Network Star Awards" (2016 APAN Star Awards) yang diselenggarakan di MBC Sangam pada Minggu, 2 oktober 2016. Joe, yang baru-baru ini membintangi Star Trek: Beyond, dianugerahi penghargaan ini bersama dengan beberapa aktor Asia-Pacifik lainnya diantaranya Tanayong Wongtrakul (Thailand), Jessy Mendiola (Filiphina), Narimiya Hiroki (Jepang), Kim Hee-sun (Korea Selatan) dan Song Joong-ki (Korea Selatan), yang menjadi aktor megahit Korea setelah membintangi drama "Descendant of the Sun". Song Joong-ki juga mengunggah fotonya bersama Dubes John dan Joe Taslim di akun twitternya (@SONGJOONGFKI).

Pada acceptance speech-nya Joe menyatakan bahwa dirinya berharap agar dapat lebih banyak lagi kolaborasi yang tercipta di Asia-Pasifik. Selain menerima penghargaan, Joe juga didaulat untuk berduet bersama Eru dan menyanyikan lagu berjudul "Black Glasses", sebuah lagu yang direkam Eru bersama artis kenamaan Indonesia, Atika Hasiholan. Ajang "2016 Asia-Pacific Actors Network Star Awards" ini merupakan bagian dari Digital Media City Festival yang diselenggarakan oleh MBC dan berlangsung mulai 1-11 Oktober 2016. Duta Besar Indonesia untuk Republik Korea John A. Prasetio juga berkesempatan hadir pada acara tersebut.

 

Dubes John Prasetio Wisuda Sarjana TKI Korea Selatan

WhatsApp Image 2016-10-03 at 17.26.46

Seoul. Lima belas TKI resmi jadi sarjana dari Universitas Terbuka Cabang Korea. Mereka layak menyandang gelar sarjana setelah kisaran 5 tahun banting tulang kerja sambil belajar. Dubes John Prasetio mengingatkan bahwa kompetisi ke depan makin sengit.

Hanya delapan dari TKI mahasiwa UT Korea yang kemarin (02/10/12) yang ikut wisuda sarjana di KBRI Seoul. Salah satu wisudawan tidak hadir karena harus masuk kerja sedangkan lainnya sudah keburu pulang karena kontrak kerjanya sudah habis.

Bertempat di aula KBRI Seoul, perhelatan wisuda sarjana UT Korea dilaksanakan dengan penuh khidmat. Hadir 200-an pengunjung yang memenuhi ruangan walaupun hujan deras mengguyur kota Seoul sejak siang hari. Selain Dubes, ikut mewisuda Wakil Dubes Cecep Herawan dan Koordinator Umum UT Korea, Syarif Hidayat.

Lulusan yang kali ini mengambil jurusan Bahasa Inggris dan Management ini adalah para pekerja bidang manufaktur yang bekerja dari Senin sampai Sabtu. Rata-rata, mereka Pulang kerja baru pukul 20.00 malam. Tidak hanya itu, hari Minggu pun terkadang dihabiskan untuk lembur. Tidak heran Kalau waktu untuk belajar sangatlah minim.

Dubes RI untuk Korea Selatan yang memberikan orasi ilmiah memberikan apresiasi yang tinggi atas capaian para TKI. Para pekerja itu disebut telah meningkatkan daya tawar mereka dengan ilmu pengetahuan yang dicapainya sehingga bisa pulang kampung dengan kepala yang tegak.

"Dunia saat ini diwarnai dengan kompetisi yang sangat ketat. Bangsa Indonesia hanya akan menjadi salah satu negara yang disegani manakala memiliki daya kompetisi yang tinggi. Prediksi positif masa depan Indonesia hanya bisa terwujud dengan kualitas SDM yang tinggi," ujar John Prasetio.

WhatsApp Image 2016-10-03 at 17.32.06

KBRI Seoul menjadikan wisuda kali ini sebagai perhelatan yang sangat wow. Selain kemeriahan acara, berbagai BUMN, perusahaan lokal dan organisasi kemasyarakatan memberikan hadiah serta apresisasi bagi wisudawan. Dijamin, wisudawan akan kerepotan dalam membawa pulang bingkisan.

Tidak hanya itu, mahasiswa yang hadir wisuda berhasil menjadikan #TKIjadisarjana sebagai trending topik dunia Twitter selama satu jam lamanya. Mereka tampak girang karena biasanya hanya bermain Facebook. "Ayo pertahankan. Jangan sampai meorot," ujar mereka.

BNI Cabang Seoul ikut memfasilitasi kemeriahan acara wisuda. Menurut GM BNI, Wan Andi Aryadi TKI yang menjadi sarjana berarti menambah bekal pulang, selain modal dan pengalaman kerja. "Untuk itu, kami siapkan buat mereka dengan Skema Kredit Usaha Rakyat," katanya. ()

Korsel Jadi Negara Prioritas Investor

thomas-lembong-korsel2

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong menilai Korea Selatan merupakan negara prioritas bagi Indonesia dalam hal investasi. Dalam beberapa tahun terakhir investasi dari negeri gingseng tersebut terjadi peningkatan. 

Thomas mengatakan Indonesia memiliki potensi besar pada sektor industri manufaktur dan padat karya. Kedua sektor tersebut juga merupakan industri yang diminati investor Korsel. Selain itu, Thomas juga menyatakan komitmen pemerintah untuk memangkas regulasi yang dinilai menghambat investasi.

"Deregulasi serta paket kebijakan ekonomi Pemri yang membuat Indonesia menjadi lebih kondusif dan investor-friendly," kata Thomas dalam acara bertajuk Indonesia Business Forum: Investment Opportunities in Manufacturing  Sector, Senin (29/8). Acara ini dihadiri 100 pengusaha papan atas dan investor potensial sektor manufaktur di Korea. 

Dalam kesempatan sama, Duta Besar Indonesia untuk Korsel, John A Prasetio mengatakan Korea merupakan mitra penting bagi Indonesia. Ia juga menyampaikan mengenai angka pertumbuhan kuartal kedua 2016 Indonesia sebesar 5,2% berdasarkan laporan Bank Dunia baru-baru ini yang menunjukkan hasil nyata proses reformasi ekonomi. 

John juga menjabarkan kepada para investor mengenai hasil kunjungan Presiden Jokowi ke Korea bulan Mei yang lalu. "Pada kunjungan kenegaraan tersebut, Presiden Joko Widodo secara khusus menekankan Republik Korea sebagai mitra Indonesia dalam percepatan industrialisasi," kata John. 

Acara juga diisi dengan diskusi panel yang menampilkan Ikmal Lukman, Direktur Promosi Sektoral BKPM, Lili Soleh Wartadipraja, Kepala BKPMD Jatim dan Mr. Shim Man Kee, Ketua Asosiasi Perusahaan Sepatu Korea di Indonesia. Bertindak selaku moderator Vedi Buana, Korfung Ekonomi KBRI Seoul. 

Pada kesempatan di Busan, Thomas didampingi Imam Soejoedi, Pejabat Promosi Investasi di Korea, juga lakukan one on one meeting dengan beberapa pimpinan perusahaan besar Korea. Thomas Lembong juga sudah dijadwalkan melakukan beberapa pertemuan penting lainnya di Seoul dengan Chairman perusahaan utama Korea yang akan berinvestasi dan mengembangkan usahanya di Indonesia. 

 

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014