28 Anak Muda Korea siap Kuliah di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-09 at 2.40.04 PM

Indonesia menjadi salah satu tujuan belajar bagi anak muda Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil merupakan magnet yang tidak bisa dikesampingkan.

Sebanyak 28 anak muda Korsel siap belajar di Indonesia. Mereka yang lolos dalam program beasiswa Darmasiswa Korea tahun ini akan berangkat ke Indonesia pada tanggal 29 Agustus 2017. Umumnya, akan belajar Bahasa Indonesia di beberapa universitas terkemuka di Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, Medan dan Aceh.

Pada Selasa (8/8), seluruh peserta Darmasiswa Korea tahun 2017/2018 ini telah mengikuti pre-departure breifing di KBRI Seoul. Fungsi Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Seoul memberikan penjelasan tentang budaya, ekonomi dan berbagai hal penting tentang hidup di Indonesia.

"Saya siap berangkat ke Indonesia. Tidak ada keraguan sedikitpun. Di mata saya, Indonesia adalah negara yang indah, bagus dan luar biasa," ujar salah seorang peserta dengan penuh keyakinan.

"Saya ingin belajar Bahasa Indonesia karena melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi ekonomi yang besar," kata peserta lain.

Peserta juga diberi penjelasan terkait persiapan yang harus dilakukan menjelang keberangkatan seperti visa dan kedatangan. Selain itu mereka juga dibekali informasi mengenai Indonesia dan beberapa kota yang menjadi tujuannya para peserta Darmasiswa.

Minat masyarakat Korea untuk mempelajari Bahasa Indonesia menunjukkan peningkatan. Hal tersebut terlihat dari besarnya pelamar beasiswa Darmasiswa dari Korea yang mayoritas ingin mempelajari Bahasa Indonesia. Pada tahun lalu terdapat sekitar seratus pelamar program Darmasiswa dari Korea untuk tahun ajaran 2017/2018, namun hanya 28 orang yang lolos seleksi.

"Selain itu, hampir setiap hari KBRI juga menerima permohonan surat keterangan bagi masyarakat Korea yang akan belajar belajar Bahasa Indonesia di Pusat-pusat Bahasa di Indonesia," ujar Anggun dari KBRI Seoul.

Banyaknya perusahaan Korea di Indonesia juga menjadi penyebab besarnya minat pelajar Korea untuk dapat bekerja di Indonesia dan mempelajari Bahasa Indonesia. Mereka melihat bahwa kemampuan berbahasa Indonesia akan menjadi nilai tambah dalam persaingan dunia kerja.()

Yuk, Jalin Persatuan melalui HUT RI di Korsel

WhatsApp Image 2017-08-07 at 1.29.16 PM

Nuansa merah dan putih mulai mewarnai KBRI Seoul seiring semakin dekatnya perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebagai pembuka rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 ini, pada 6 Agustus 2017 diadakan pertandingan tenis meja serta lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak.

Acara HUT RI diadakan dengan sederhana tetapi tetap meriah dengan partisipasi dari berbagai kelompok dan organisasi masyarakat Indonesia di Korea. Dubes Umar Hadi dalam sambutannya menandaskan bahwa yang terpenting adalah kemeriahan dan kebersamaan ini dapat dirasakan oleh semua pihak terutama anak-anak.

"Sulit bagi anak-anak yang tinggal di luar negeri untuk merasakan pengalaman kebersamaan perayaan Hari Kemerdekaan semeriah di Indonesia," katanya.

Diluar dugaan, anak-anak yang berpartisipasi dalam lomba mewarnai dan menggambar tampak semangat menuangkan interpretasi Kemerdekaan Indonesia dalam berbagai warna dan cerita dalam gambar. Salah seorang anak bahkan menggambarkan sejarah Kemerdekaan Indonesia dalam bentuk comic stripe. Bukan main memang anak Indonesia, penuh dengan kreatifitas tanpa batas.

Rangkaian Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ini akan dilanjutkan dengan lomba-lomba olahraga lainnya pada minggu depan diikuti dengan upacara bendera pada 17 Agustus dan diakhiri dengan resepsi diplomatik yang rencananya akan diadakan pada bulan September.

"Semoga perayaan ini dapat semakin menumbuhkan semangat persatuan, semangat kebesamaan, gotong-royong dan solidaritas terutama diantara sesama masyarakat Indonesia di Korea Selatan," ujar Dubes. ()

Menuju Perlindungan WNI yang Seragam

SOS 5616

Perlindungan WNI di luar negeri merupakan keniscayaan. Yang menjadi isu saat ini adalah standarisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang beragam.

Dirjen Protokol dan Konsuler, Andri Hadi, menegaskan bahwa Kemlu beserta seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri sedang mengusahakan penyeragaman model perlindungan. Nantinya, formulir hingga aplikasi perlindungan akan sama.

"Dalam acara ini, kita bahas soal penyeragaman. Bagi yang ingin punya aplikasi perlindungan, tahan dulu. Lihat dulu aplikasi yang sudah maju seperti milik Seoul, Singapura dan perwakilan lain," ujarnya.

Demikianlah inti dari Bimbingan Teknis Peningkatan Pelayanan Publik dan Perlindungan WNI yang dibuka 4 Agustus 2017 di Seoul, Korsel. Hadir dalam kesempatan tersebut, Dubes RI Umar Hadi, Direktur Konsuler Didik Eko serta pejabat dari Imigrasi, Kemenag, dan lainnya.

Lebih lanjut dikatakan, bagi perwakilan yang sudah punya aplikasi maka diharapkan menyelaraskan pattern arahan Pusat. Bagi yang belum punya, agar tidak mengembangkan aplikasi sendiri melainkan memanfaatkan portal pelayanan yang sedang dikembangkan Kemlu.

"Penyeragaman dan standarisasi pelayanan memerlukan komitmen pusat dan semua perwakilan dengan tujuan menjamin mutu pelayananan, kepastian hukum dan kemudahan bagi masyarakat," ujarnya.

Sejalan dengan itu, Dubes Umar Hadi menyatakan bahwa pasca tahun 2002, pelayanan bagi WNI sudah merupakan keharusan yang tidak butuh diskusi lagi. Untuk itulah, diperlukan revolusi mental bagi seluruh diplomat Indonesia.

"Apakah saat ini sudah baik? Mari kita merenung sejenak, zooming out, mengaca diri. Apakah dalam perlindungan sudah efisien dan tepat sasaran," katanya.

Dalam bimbingan teknis tersebut, akan dibahas juga tentang penerapan sistem informasi manajemen keimigrasian (SIMKIM), pencatatan kependudukan dan pernikahan WNI di luar negeri. Bimtek dilaksanakan selama dua hari dan diikuti 28 perwakilan RI di wilayah Asia. ()

KBRI Seoul Siap Helat Peringatan HUT RI

WhatsApp Image 2017-08-04 at 2.36.12 PM

Sesuai tema “72 Tahun Indonesia Merdeka Kerja Bersama”, KBRI Seoul akan melibatkan diaspora Indonesia di Korea Selatan untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI. Sejumlah kegiatan akan dilaksanakan di seluruh penjuru Korea selama bulan Agustus hingga September ini.

Rangkaian peringatan dimulai pada 6 Agustus 2017, bertempat di KBRI Seoul dengan perlombaan perdana mewarnai dan menggambar untuk anak-anak.

Bekerja sama dengan mahasiswa Indonesia dibawah PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea), KBRI Seoul akan menyelenggarakan kegiatan “PERPIKALIMPIC 2017” pada tanggal 19 Agustus 2017. Sejumlah pertandingan olah raga seperti badminton, futsal dan basket akan digelar di Sport Complex, KAIST, Daejeon.

HUT RI juga dimeriahkan dengan pemberdayaan ayam potong dengan menghadirkan Hadi dari Pati. Waktu dan tempat akan ditentukan kemudian.

Sementara, HUT RI juga akan diperingati oleh diaspora Indonesia yang dipusatkan di kota Ansan. Beberapa pertandingan akan diperlombakan pada tanggal 20 Agustus 2017, antara lain voli, futsal dan badminton.

Guna semakin meramaikan peringatan 17 Agustus tahun ini, akan dilaksanakan wisuda UT (Universitas Terbuka) Korea pada tanggal 13 Agustus 2017 di KBRI Seoul. Sebelum pelaksanaan wisuda, di tempat dan hari yang sama UT Korea juga akan mengadakan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Dies Natalis.

Sebagai puncak acara akan dilaksanakan Upacara Bendera pada tanggal 17 Agustus 2017 di lapangan upacara KBRI. Rangkaian peringatan HUT RI ke-72 akan ditutup dengan penyelenggaraan resepsi diplomatik pada akhir September 2017.

Perbanyak Minum, Udara Panas Melanda Korea

Artikel tentang musim panas korea
 
Panas bukan hanya milik Indonesia. Di Korea Selatan, di hari kedua Agustus ini mencapai 35'C. Tidak tertutup kemungkinan menjadi tambah panas di hari-hari mendatang.
 
Seluruh warga yang tinggal di Korea Selatan, belakangan ini sering mendapatkan pesan darurat atau peringatan keadaan cuaca yang ekstrim yang dikirim oleh Ministry of Interior and Safety melalui berbagai provider hape. Maklum akhir Juli ke awal Agustus memang merupakan puncak-puncaknya musim panas di Korea. 
 
Temperatur tahun ini, kabarnya, dapat mencapai 38 derajat  Celcius di puncak musim panas dengan tingkat kelembaban 70%-80%. Tidak heran, peringatan juga berisi himbauan seperti 'kurangi aktivitas di luar ruangan' dan 'perbanyak minum'. 
 
Bagi orang Korea yang tinggal di negara 4 musim, perubahan cuaca yang ekstrim mungkin terasa lebih berat bila dibandingkan dengan orang Indonesia. Untuk mengatasi panas yang terik selama musim panas, masyarakat Korea pun mengakalinya dengan berbagai cara.
 
Menurut pengalaman banyak WNI yang sudah lama tinggal di Korea, salah satu barang paling populer selama musim panas 2017 adalah kipas angin portable. Banyak orang Korea yang terlihat berjalan-jalan dengan menggenggam kipas angin yang tersedia dalam berbagai warna dan bentuk yang menarik hati ini. 
 
"Harganya berkisar kisaran Rp 180 ribu. Para pengguna kipas angin portable ini tidak perlu capek menggerak-gerakkan tangannya seperti saat menggunakan kipas angin tradisional. Kipas angin ini juga praktis karena bisa dicas menggunakan charger hape," kata seorang WNI.
 
Tempat lain yang juga populer dikunjungi saat musim panas adalah "gyegok". Gyegok adalah aliran sungai yang biasanya terdapat di gunung atau pedesaan. Masyarakat Korea biasanya bermain air di aliran air sambil membawa semangka. Semangka yang mereka bawa disimpan selama beberapa waktu di sungai yang berfungsi sebagai kulkas alam, agar lebih segar saat dimakan. ()Panas bukan hanya milik Indonesia. Di Korea Selatan, di hari kedua Agustus ini mencapai 35'C. Tidak tertutup kemungkinan menjadi tambah panas di hari-hari mendatang.
 
Seluruh warga yang tinggal di Korea Selatan, belakangan ini sering mendapatkan pesan darurat atau peringatan keadaan cuaca yang ekstrim yang dikirim oleh Ministry of Interior and Safety melalui berbagai provider hape. Maklum akhir Juli ke awal Agustus memang merupakan puncak-puncaknya musim panas di Korea. 
 
Temperatur tahun ini, kabarnya, dapat mencapai 38 derajat  Celcius di puncak musim panas dengan tingkat kelembaban 70%-80%. Tidak heran, peringatan juga berisi himbauan seperti 'kurangi aktivitas di luar ruangan' dan 'perbanyak minum'. 
 
Bagi orang Korea yang tinggal di negara 4 musim, perubahan cuaca yang ekstrim mungkin terasa lebih berat bila dibandingkan dengan orang Indonesia. Untuk mengatasi panas yang terik selama musim panas, masyarakat Korea pun mengakalinya dengan berbagai cara.
 
Menurut pengalaman banyak WNI yang sudah lama tinggal di Korea, salah satu barang paling populer selama musim panas 2017 adalah kipas angin portable. Banyak orang Korea yang terlihat berjalan-jalan dengan menggenggam kipas angin yang tersedia dalam berbagai warna dan bentuk yang menarik hati ini. 
 
"Harganya berkisar kisaran Rp 180 ribu. Para pengguna kipas angin portable ini tidak perlu capek menggerak-gerakkan tangannya seperti saat menggunakan kipas angin tradisional. Kipas angin ini juga praktis karena bisa dicas menggunakan charger hape," kata seorang WNI.
 
Tempat lain yang juga populer dikunjungi saat musim panas adalah "gyegok". Gyegok adalah aliran sungai yang biasanya terdapat di gunung atau pedesaan. Masyarakat Korea biasanya bermain air di aliran air sambil membawa semangka. Semangka yang mereka bawa disimpan selama beberapa waktu di sungai yang berfungsi sebagai kulkas alam, agar lebih segar saat dimakan. ()

Hantu Kuntilanak Takuti Publik Korea

kuntilanak3

Soal menakut-nakuti publik, mungkin Indonesia termasuk jagoan. Hantu kuntilanak yang merupakan hal mistis di Indonesia, telah membuat warga Korea ketakutan.

Meskipun baru pertama kalinya Indonesia diundang dalam Daegu International Horror Festival, Korea Selatan, tampilan artis Indonesia bisa dibilang sukses. Banyak penonton histeris, bahkan diantaranya lari dari tempat duduknya saat beberapa kuntilanak muncul dan bergelantungan di kegelapan malam, ditingkahi lagu magis dan aroma-aroma tidak normal.

Siapa sih para pembuat takut tersebut? Mereka adalah kelompok teater dari Jakarta, Stage Corner Community yang menjadi grup Indonesia pertama yang tampil di festival horor tersebut. Stage Corner membawakan lakon “Lingsir Wengi: Repertoire Kuntilanak”, yang diangkat dari lagu Lingsir Wengi karya Sunan Kalijaga. Menjadi grup penutup pada festival tersebut Minggu (30/7), Stage Corner Community berhasil menakuti penonton dengan penampilan kuntilanak yang melayang.

Disutradarai oleh Dadang Badoet, Stage Corner Community tampil total dengan membawa nuansa mistis dan horor khas Indonesia dengan aroma bunga dan kemenyan, nyala obor, serta diiringi tembang Lingsir Wengi.

kuntilanak4

"Wujud hantu “Kuntilanak” Indonesia memiliki kemiripan dengan hantu “Gwisin” yang ditakuti di Korea, sehingga penonton serentak berteriak saat kemunculan kuntilanak melayang," ujar seorang penonton.

Lima ratusan penonton yang memenuhi Daegu Stadium, Citizen Square, Daegu Town Small Theater, memberikan sambutan yang meriah usia pertunjukan dan rela mengantri untuk berfoto dengan para pemain.

"The best performance, especially with the flying ghost,” puji salah seorang panitia.

Dadang mengaku puas bisa menakut-nakuti publik Korea Selatan. Perpaduan pengetahuan budaya dan artikulasi pentas panggung dianggap pas untuk sebuah pementasan honor di Korea. Ia dan timnya siap datang lagi untuk membuat mereka lebih takut lagi.

Menurut Anggun dari KBRI Seoul, selain kelompok dari Indonesia dan dalam negeri Korea sendiri, juga hadir kelompok teater dari Jepang, Taiwan dan China. Daegu International Horror Performance and Arts Festival merupakan agenda tahunan Pemerintah kota Daegu dimana tahun ini telah diselenggarakan yang ke-14 kalinya. Festival ini berlangsung selama empat hari dari tanggal 27 – 30 Juli 2017 di Daegu Stadium. ()

Demi Layanan yang lebih baik, KBRI Seoul Kukuhkan Atase Imigrasi

WhatsApp Image 2017-08-01 at 3.43.14 PM

The public service has become the commitment of the IndonesianGovernment. Hence, the Indonesian Embassy in Seoul is trying to improve its service by assigning an Immigration Attaché.

In the inauguration ceremony of the Immigration Attaché, Mr. Sugito  at the Indonesian Embassy in Seoul on 31July 2017, Indonesian Ambassador Umar Hadi emphasized the importance of citizen protection and service by compiling an accurate database of Indonesian citizens. Thus, the services and policies can be in line with the target and avoid inefficiency.

"Out of approximately 40,000 Indonesian Citizens in South Korea, 36,000 are workers with their education levels starting from junior high schools to undergraduates, and scattered almost evenly across South Korea.Thus, it needs to establish an appropriate system of services and facilities  respecting to the conditions of Indonesian citizens in South Korea,"he said.

The existence of Immigration Attaché at the Indonesian Embassy in Seoul also will be the initial step of enforcing the Immigration Managementand Information System (SIMKIM), as it is also applied in someIndonesian representatives abroad. SIMKIM is a systemwhich is built to improve the service and quality of travel documents so that it becomes more secure and in accordance with the international standards. A good quality of travel document will give assurance forthe passport holders in traveling abroad.

It is realized that the implementation of SIMKIM will cause changes in procedures, time and quality of work compared to the procedures previouslypracticed. Therefore, it is necessary to carry out the  socialization and information dissemination to Indonesian citizens in South Korea about the benefits and significance of SIMKIM as an effort to improve the citizen service and protection.

"Bymaking a comprehensive planning and collaborating with all parties, challenges and problems can be resolved," added the Ambassador.

Since 2014, the Indonesian Embassy in Seoul has implemented an online system for passport extension and visa application. In addition, since last year the applicationfor citizen protection has beenintroduced which is called M KBRI Seoul. Both services have been provenfor giving good quality of services with a public satisfaction level above 80 percent

Korean Air Terbang Perdana Seoul/Incheon – Lombok

WhatsApp Image 2017-07-31 at 9.23.27 AM

Seoul - Pesona Lombok mulai 'menyihir' wisatawan dari Korea Selatan. Buktinya, maskapai Korean Air mulai terbang ke Lombok Sabtu pagi (29/7). Kali pertama!

Pagi, 29 Juli 2017, menjadi sejarah penerbangan bagi Indonesia. Korean Air, untuk pertama kali terbang langsung dari Bandara Incheon, Seoul menuju Lombok.

Sebanyak 183 penumpang tampak riang dan antusias menunggu penerbangan perdana Korean Air berkode KE9629 menuju pulau tetangga Bali, Lombok. Walaupun rata-rata belum pernah ke Indonesia, namun semua yakin bahwa pulau tujuan mereka sangat indah.

WhatsApp Image 2017-07-31 at 9.23.25 AM

 

Penerbangan ke Lombok tergolong relatif lama, sekitar 6 jam 20 menit. Namun semua penumpang tak peduli. Lombok sepertinya telah menjadi magnet yang tidak mungkin digantikan oleh tempat lain di dunia.

"Saya bersama dua anak memang mau liburan, dan saya pikir Lombok merupakan tujuan yang menarik. Saya yakin itu setelah melihat Lombok dari acara di stasiun TV Korea," ujar seorang ibu bersama dua anaknya.

"Saya belum pernah ke Indonesia, tetapi setelah menonton serial acara memasak di TV yang mengambil lokasi di sebuah pantai di Lombok, saya jadi tertarik pergi ke sana," kata penumpang lain yang masih mahasiswa.

Rupanya, rata-rata penumpang penerbangan perdana langsung ke Lombok ini terhipnotis oleh serial Reality Show kuliner Youn's Kitchen yang lokasi shootingnya di salah satu pantai Lombok. Reality Show yang ditayangkan di TV Korea Selatan itu pun telah tayang sembilan kali dan menjadikan Lombok buah bibir di masyarakat Korea.

KBRI Seoul juga merasakan dampak Youn's Kitchen yang mendapat banyak telepon dari masyarakat Korea yang ingin tahu eksotika pulau Lombok. 

WhatsApp Image 2017-07-31 at 9.23.26 AM

Tak pelak, maskapai penerbangan Korean Air ingin mengambil keuntungan dari popularitas Youn's Kitchen. Lantas dibuatlah paket kunjungan penerbangan dan wisata ke Lombok selama empat malam dengan tujuan yang bervariasi seperti paket Gili, Rinjani hingga bermain golf.

Akan ada lima penerbangan perdana ini, masing-masing tanggal 29 Juli, 2 Agustus, 6 Agustus, dan saat libur panjang Chuseok awal Oktober, semuanya masih berupa penerbangan charter. Pesawat yang dipergunakan adalah pesawat Airbus tipe A330-200Q berkapasitas 218 penumpang. Bila dianggap menguntungkan, tidak tertutup kemungkinan suatu saat nanti akan menjadi penerbangan reguler. Dari data yang ada saat ini, tingkat booking seat saat ini rata-rata sudah di atas 90 persen. Bahkan ada yang fully booked!

Dubes Umar Hadi menyambut baik penerbangan perdana ini. Baginya, ini merupakan buah dari upaya bersama dalam mendorong lebih banyak wisatawan Korea datang ke Indonesia. Masih banyak promosi lain yang akan dikembangkan.

"Tunggu saja kejutan selanjutnya," ujar Dubes Umar.

Wow! Ada Little Bandung di Seoul

Little Bandung 1

Sehari setelah menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Korsel, Dubes RI di Seoul Umar Hadi langsung bekerja. Pada Kamis pagi (20/7) harinya  Dubes Umar membuka pavilion Indonesia pada Handmade Korea Summer 2017 di Convention and Exhibition Center (COEX), Seoul yang diikuti 23 pengusaha UKM dari Bandung, Yogyakarta, Bali, Lampung, Surabaya, dan Jakarta.  Siang harinya Dubes Umar meresmikan “Little Bandung Wall” yang berada di restoran Bali Bistro bersama-sama dengan Ketua Dekranasda Bandung Atalia Praratya Kamil.

“Hampir 30% dari nilai ekspor non migas Indonesia ke Korea adalah batubara.  Sementara kebijakan pemerintah baru Korea akan menghapus secara bertahap pembangkit listrik tenaga batubara, oleh karena itu kita harus bekerja keras mencari alternatif produk non migas lainnya untuk menggantikan posisi batubara yang kedepannya permintaan dari Korea pasti menurun,” demikian dijelaskan Dubes Umar Hadi.

Little Bandung 2

Dubes Umar Hadi yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Bandung ini, tahu persis potensi yang dimiliki kota yang terkenal dengan julukan Paris van Java ini.  “Bandung merupakan kota yang banyak anak-anak muda kreatif, yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi, bisa menjadikan Korea sebagai salah satu pasar potensial bagi produk-produk tersebut”, jelas Umar.

Selain di Bali Bistro milik pengusaha muda Korea kelahiran Bandung Mr. Gidong Lee yang berada di daerah Mapo-gu, Seoul, Little Bandung Wall juga dibuka di Fun Road Cafe di daerah Anyang-si. “Pembukaan Little Bandung Wall di dua tempat sekaligus di Seoul, Korea merupakan langkah awal yang strategis dalam upaya memasarkan produk-produk asal kota Bandung, khususnya produk-produk UKM untuk menerobos pasar Korea,” demikian tutur Atalia pada saat sambutan.

Pada saat acara peresmian dilakukan video call antara Dubes Umar Hadi dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil.  “Pemkot Bandung sangat mengapresiasi dukungan seluruh jajaran KBRI Seoul yang secara aktif mencarikan mitra di Korea untuk terealisirnya peresmian Little Bandung Wall pada hari ini,” demikian imbuh Ridwan Kamil.

Little Bandung 3

Produk-produk yang ditampilkan di Little Bandung Wall terdiri dari produk makanan, produk kerajinan tangan dan produk fashion.   Kuliner khas Bandung seperti pancake durian, cokelat, keripik jamur tiram, keripik kentang mustofa, dan berbagai produk kerajinan, serta produk fashion seperti tas, sepatu, pakaian, kacamata, dll, dipajang sebagai contoh produk.  Produk yang dipasarkan lengkap dimuat dalam katalog Little Bandung.  Calon pembeli yang tertarik terhadap produk dapat menghubungi produser eksportir yang secara lengkap dimuat dalam katalog.  Kedepannya pihak Pemkot Bandung akan mendirikan Little Bandung Store yang dapat menjual secara langsung produknya kepada konsumen Korea.

Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung, ekspor dari kota Bandung ke Korea cenderung meningkat. “Pada 2016 tercatat USD 13 juta meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD 11 juta, dengan komoditi utama seperti alat kesehatan, fashion, furniture, dan makanan,” demikian pungkas Eric M. Atthauriq, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung. (*)

Dubes Umar Hadi Serahkan Surat Kepercayaan Kepada Presiden Moon

dc7f1542-58f8-4f86-87d1-aa8ec8775449

Setelah menunggu sebulan lebih, Dubes RI untuk Korsel, Umar Hadi, secara resmi menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Moon Jae-in di Istana Cheong Wa Dae (Blue House), Seoul (18/7). Presiden Korsel yakin hubungan bilateral akan terus meningkat di masa datang.

Upacara penyerahan Surat Kepercayaan juga dihadiri oleh Menlu Kang Kyung-wha serta sejumlah pejabat tinggi Republik Korea. Dubes Umar Hadi didampingi istrinya Siti Nila Purnama Hadi dan putrinya Ratna Aini Hadi, serta Atase Pertahanan Kolonel (Laut) Oka Wirayudha dan Koordinator Fungsi Politik KBRI Seoul Tudiono.

Dalam pertemuan yang begitu hangat pasca penyerahan surat kepercayaan, Dubes Umar Hadi menyampaikan salam dari Presiden RI Joko Widodo dan seluruh rakyat Indonesia kepada Presiden Moon dan seluruh rakyat Korea Selatan. Dubes RI juga menyampaikan undangan dari Presiden Jokowi kepada Presiden Moon yang baru terpilih dalam Pemilu bulan Mei yang lalu untuk dapat berkunjung ke Indonesia.

Dubes Umar Hadi mengapresiasi hubungan yang telah terjalin selama ini antara Indonesia dan Republik Korea. Korea Selatan adalah mitra strategis Indonesia sejak tahun 2006, dimana sejak itu hubungan bilateral kedua negara semakin berkembang. Dia juga memastikan komitmen Pemerintah RI untuk terus memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Republik Korea dan berharap dapat mendorong implementasi kemitraan strategis kedua negara yang lebih dalam dan luas serta mendatangkan manfaat bagi rakyat kedua negara.

Sementara itu, Presiden Moon percaya bahwa kedua negara akan dapat memperkuat hubungan bilateralnya. Secara khusus Presiden Moon mencatat kemajuan kerjasama yang menggembirakan di bidang industri pertahanan. Selain itu, Korea Selatan juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap kerjasama dengan ASEAN, oleh karena itu Presiden Moon telah mengirim Utusan Khusus untuk ASEAN guna bertemu Presiden Jokowi pada akhir Mei 2017 yang lalu.

97e0b0bc-1ed7-42d2-9aac-de90b8f856dd

Korea Selatan selama ini adalah salah satu mitra terpenting dan strategis di kawasan bagi Indonesia. Indonesia dan Korea Selatan memiliki forum Joint Commission Meeting pada tingkat Menlu dan Strategic Dialogue pada tingkat Wamenlu untuk membahas isu-isu strategis kedua negara.

Di bidang pertahanan khususnya dalam pengadaan alutsista, Indonesia dan Republik Korea telah mengimplementasikan Strategic Partnership dengan meletakkan trust and confidence sebagai prinsip kerjasama. Saat ini tengah dibangun 3 unit kapal selam untuk TNI AL yang disertai dengan proses transfer teknologi kepada PT PAL. Indonesia juga pemesan pertama produk jet trainer T50 dan saat ini tengah dilakukan program pengembangan bersama pesawat tempur KFX/IFX.

Di bidang ekonomi, kerjasama kedua negara terus menunjukkan prospek yang menggembirakan. Investasi Korea Selatan ke Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 dengan total realisasi investasi pada tahun 2016 sebesar USD 1.065,8 juta. Di bidang perdagangan, Korea Selatan bagi Indonesia merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-6, dan negara asal impor terbesar ke-5.

Di sektor pariwisata, wisatawan asal Korea Selatan menempati urutan ke-6 negara asal wisman yang berlibur ke Indonesia tahun 2016 berjumlah 350 ribu, sementara wisatawan asal Indonesia yang berlibur ke Korea juga terus meningkat mencapai hampir 300 ribu orang. Sementara itu, Korea merupakan salah satu tujuan mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri. Saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di berbagai universitas di Korea mencapai 1200 orang dengan tren yang terus meningkat pada tahun-tahun yang akan datang.

Yang juga tidak kalah menariknya, negeri ginseng adalah "rumah" bagi TKI. Sebanyak 35an ribu pekerja Indonesia mendulang devisa di berbagai industri dengan perlakuan yang sama dengan pegawai setempat. Rata-rata penghasilan sebulan mereka antara Rp 20 -Rp 30 juta.

Dubes Umar Hadi merupakan diplomat karier senior. Dia dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Dubes RI untuk Republik Korea pada tanggal 13 Maret 2017 lalu. Sebelum menjadi Dubes RI di Seoul, Umar Hadi menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Los Angeles (2014-2017), Direktur Eropa Barat (2012-2014), Wakil Dubes RI di Den Haag (2009-2012), dan Direktur Diplomasi Publik (2005-2009). Dubes Umar Hadi juga pernah bertugas di Perutusan Tetap RI untuk PBB di Jenewa. (*)

Importir Korea Bakal Borong Produk Karet Hingga Tekstil RI

0e4961d1-745b-4d9c-b6f6-8a6e595bc126

Seoul - Delegasi importir Korsel berencana datang ke Indonesia untuk memborong berbagai produk tanah air. Misi dagang ini akan dipimpin langsung oleh pimpinan Asosiasi Importir Korea (KOIMA) bersama Wakil Dubes RI.

Tidak main-main, lebih 100 importir produk Korea Selatan telah disiapkan oleh KBRI Seoul untuk bertandang ke tanah air. Pada kunjungan 12-15 Juli 2017 itu akan dilaksanakan serangkaian kegiatan, yang meliputi business forum, one-on-one business matching dan industrial visit. Delegasi dipimpin langsung oleh Wakil Duta Besar Indonesia, Cecep Herawan serta Chairman KOIMA, Myoung-Jin Shin.

Menurut Atase Perdagangan KBRI Seoul, Aksamil Khair, sampai saat ini tercatat jumlah delegasi mencapai 120 orang terdiri dari para pimpinan (CEO/President) perusahaan serta official dari KOIMA sendiri. 

Produk yang diminati oleh anggota delegasi cukup beragam diantaranya produk karet, CPO, elektronik, tekstil, kayu, produk kelapa, produk kimia, building material, bahan untuk kosmetik, produk dari gelas, handicraft, produk makan dan lainnya.

 
Agar misi ini dapat menghasilkan kontrak dagang maka jauh hari sebelum berangkat, mereka telah difasilitasi komunikasi dengan para pemasok potensial dari tanah air. Dengan demikian, ketika datang nanti tinggal finalisasi serta mengembangkan di masa datang.

Dubes RI Seoul, Umar Hadi, telah melakukan pembicaraan secara intens dengan Chairman KOIMA dalam upaya peningkatan perdagangan Indonesia-Korea Selatan. Salah satunya adalah kesepakatan pengiriman misi importir dalam jumlah yang lebih besar kali ini.

"Saya yakin, kunjungan kali ini dapat memompa kembali performa perdagangan bilateral yang sempat mengalami penurunan," kata Dubes Umar Hadi serius.

Total perdagangan Indonesia-Korea tahun 2016 tercatat sebesar US$ 14,8 miliar, atau terjadi penurunan sebesar 11% terhadap total perdagangan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, terdapat surplus di sisi Indonesia sebesar US$ 1,6 miliar.

Sementara itu, pada tahun 2017 (Januari-Mei) total perdagangan sebesar US$ 7,3 miliar atau terjadi peningkatan sebesar 22,6% terhadap tahun 2016.

Impor Korea dari Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan barang setengah jadi seperti batu bara, karet, plywood, produk tambang lainnya, dan komponen elektronik, namun juga juga terdapat produk lainnya seperti garmen, alas kaki, vegetable oil dan produk non-migas lainnya yang menunjukkan peningkatan di 2 tahun terakhir.

Dubes Umar Hadi Beri Enam Kiat bagi TKI di Korea

8c80979d-6a15-49f1-b808-8a592bdb1e8c

KBRI Seoul kembali mengadakan pembekalan tambahan kepada TKI yang baru datang di Korea. Kali ini, Dubes RI Seoul Umar Hadi datang langsung dan memberikan pembekalan kepada 54 TKI sektor manufaktur di gedung pelatihan Federation of Small-Medium Enterprizes (KBIZ) di Hwaseong, berjarak 70 km dari kota Seoul.

"Kesempatan 4 tahun 10 bulan disini hendaknya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh seluruh pekerja Indonesia untuk menyerap ilmu, teknologi dan etos kerja di negeri ginseng ini. Jadikan semuanya sebagai modal untuk membangun Industri di Indonesia," demikian ujar Dubes Umar Hadi.

Umar Hadi juga berpesan agar semua TKI dapat kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan kontraknya. "Kembalilah dan bangunlah Indonesia dengan usaha mandiri setelah selesai kontrak. Indonesia membutuhkan kemampuan dan kreatifitas teman-teman semua," pesan Umar Hadi yang disambut tepuk tangan meriah oleh peserta.

Umar Hadi menekankan 6 hal yang perlu diperhatikan agar selamat di Korea. Pertama, jaga kesehatan. Menjaga kesehatan dengan olahraga yang cukup, makan dan tidur teratur harus dilakukan agar dapat bekerja dengan baik. Kedua, jangan berkelahi baik sesama warga indonesia maupun warga asing. Ketiga, jaga pergaulan baik di lingkungan kerja maupun di luar.

Keempat dan ini sangat penting, hindari kecelakaan kerja. Ini dapat dilakukan antara lain dengan tidak tidur terlalu malam atau minum-minuman keras. Kebiasaan ini dapat merusak konsentrasi saat bekerja dan akhirnya kecelakaan. Kelima, unduh aplikasi m-kbri seoul di Handphone nya. Laporkan masalahnya melalui pengaduan kasus atau hotline. KBRI selalu siap membantu dan melindungi seluruh WNI sesuai ketentuan yang berlaku.

Keenam, Ojo dumeh ojo gumunan ojo kagetan. "Ini falsafah Jawa kuno yang sering diberikan orang tua ke kita anak-anaknya. Artinya, jangan mentang, jangan heran dan kagetan. Dengan memegang falsapah ini, kita akan tetap rendah hati dan selalu waspada serta ingat negeri kita tercinta," demikian tukas Umar Hadi.

Disela-sela kunjungan, Dubes Umar Hadi juga mengadakan pertemuan dengan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Korea KBIZ, Kim Bong. Dalam pertemuan, kedua pihak menekankan pentingnya kerjasama yang lebih erat di masa mendatang khususnya dalam penanganan TKI di Korea.

KBRI Seoul memiliki banyak program bagi TKI di Korea. Dua diantaranya adalah Pembekalan tambahan dan  welcoming programme (penyambutan) TKI baru di bandara incheon setiap kedatangan.

Sebagai informasi, dalam tahun ini, sudah 1640 TKI baru. Tahun lalu, kuota TKI Indonesia sebanyak 5300 atau ketiga setelah Vietnam dan Kamboja.

Heboh! Panggung Kemenangan 1438H di Seoul Digoyang Dubes Timor Leste

 

Dubes Ximenes pimpin tari poco poco, KBRI Seoul, 25 Juni 2017 (Dok GATRAnews/KBRI Seoul/Ondengan)
Dubes Ximenes pimpin tari poco poco, KBRI Seoul, 25 Juni 2017 (Dok GATRAnews/KBRI Seoul/Ondengan)

 

Seoul, GATRAnews - Sekitar Seribuan warga Negara Indonesia di Seoul serasa pulang kampung ke KBRI pada hari Lebaran, Minggu (25/6/17). Mereka menyerbu KBRI Seoul, melampiaskan rasa kangen kampung halaman dengan mencicipi aneka jajanan hingga panggung hiburan bertema "Panggung Kemenangan 1438H".

Sejak Open house lebaran KBRI Seoul dibuka jam 14.00, masyarakat langsung mengular untuk bersalaman dan foto bersama Duta besar Umar Hadi dan keluarganya. 

Diiringi suara hingar-bingar dari "Panggung Kemenangan 1438H". Pentas dari warga untuk warga ini dimeriahkan dengan pencak silat, barongan, akustikan, band rock hingga dangdut dan poco-poco. Di panggung ini boleh berakting ala profesional maupun bernyanyi dengan suara sumbang. Tepuk tangan dan teriakan terdengar diantara keramaian.

Tak kalah meriah, dan tentu ini yang paling ditunggu warga perantauan, hidangan lebaran yang disediakan KBRI secara gratis. Ada lontong sayur, sambel goreng kentang hati, rendang, krupuk, sambal dan buah semangka. Tidak lupa, tersedia beberapa makanan khas lebaran seperti kue sagu.

Bila masih belum puas, bisa lari ke ujung KBRI. Di sana ada bazar dari beberapa kelompok WNI. Tersedia bakso, mpek-mpek, jus alpokat, martabak telor dan es teler dan tempe mendoan. Semua dijamin memanjakan lidah setelah sebulan berpuasa.

Ibu Ibu KBRI Seoul melayani WNI mencicipi hidangan lebaran di Seoul, 25 Juni 2016. (Dok GATRAnews/KBRI Seoul/Ondengan)
Ibu Ibu KBRI Seoul melayani WNI mencicipi hidangan lebaran di Seoul, 25 Juni 2016. (Dok GATRAnews/KBRI Seoul/Ondengan)

"Wow, luar biasa. KBRI menyediakan obat kangen keluarga saat lebaran. Sudah bertahun-tahun kami pengin suasana meriah seperti ini," ujar seorang WNI yang biasa dipanggil Ari Odengan.

Yang unik, menurut Minister Counsellor M Aji Surya, diantara 2000-an WNI yang hadir, terselip seorang wanita negara sahabat yang fasih berbahasa Indonesia. Ia ikut bernyanyi dan berjoget tanpa basa-basi. Wanita bergelar duta besar itu bernama Adalgisa Maria Soares Ximenes berasal dari Timor Leste.

Maklumlah, Duta Besar Timor Leste untuk Korea Selatan ini menghabiskan masa mudanya mencari Ilmu di Universitas Muhammadiyah Malang, Jatim. Pertemuan  lebaran ini pasti mengingatkan susasana akrab di Indonesia dahulu. Tak pelak, ia baru mau beranjak pulang setelah acara berakhir pukul 18.00.

Padahal dia datang ke KBRI sejak jam 11 pagi, bersama beberapa Dubes negara sahabat seperti Laos, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Selandia Baru dan Amerika Serikat, untuk mengucapkan selamat hari raya idul fitri kepada Dubes Umar Hadi.

"Terimakasih untuk acara hari ini. Semoga menambah kekuatan  rasa silaturahmi semua wni yang tinggal di korea ini. Sehat selalu untuk semua warga WNI," kata seorang warga bernama Anna Kusumah yang sudah lama tinggal di negeri ginseng

Dubes Umar Hadi: Sebagai Minoritas di Korsel WNI Harus Bersyukur

Seoul - Umat Islam, termasuk WNI muslim, adalah kaum minoritas. Namun tetap harus mengucapkan syukur alhamdulillah. Mengapa?

Demikian sambutan Dubes RI untuk Korsel, Umar Hadi, sebelum dilaksanakannya salat Idul Fitri di taman Yeongdeungpo, Seoul (25/6/2017). Salat Id di kalangan WNI tersebut diikuti tidak kurang dari 1000 orang dari wilayah sekitar ibu kota.

Dikatakan, umat Islam Indonesia di Korsel hanya 35 ribuan dari lebih 50 juta penduduk Negeri Ginseng. Namun sejauh ini mereka memiliki kebebasan melakukan ibadah dan menjalankan kewajiban keagamannya.

Pemerintah dan masyarakat Korea melihat pekerja Indonesia di sana merupakan 'sahabat' yang ikut berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Itulah mengapa kaum muslim Indonesia di Negeri Kimchi saat ini boleh memiliki 57 masjid dan musala.

"Salat Idul Fitri ini merupakan sebuah kenyataan yang harus disyukuri. Sebagai minoritas, kita mesti berterima kasih kepada Allah atas nikmat keimanan dan pelaksanaan ketakwaan ini. Jangan pernah lupakan itu," ujar Umar dengan mimik serius.

Dalam kesempatan itu, Umar juga mengajak masyarakat Indonesia di Korea Selatan merawat kebinekaan untuk meraih Indonesia yang lebih baik di masa datang. Berbagai pertikaian yang pernah ada harus pupus begitu datang Ramadan dan Idul Fitri.

Di akhir acara, Umar membagikan dua sepeda lipat. Satu diberikan kepada TKI bidang baja yang berhasil menghafal teks proklamasi. Sedangkan satu lagi direbut mahasiswa bidang bioteknologi yang agak terbata-bata mengucapkan rukun iman.

"Selain bekerja dan belajar, jangan lupa mengaji, ya," begitu nasihat umar yang disambut meriah tepuk tangan.

Pesantren Kilat di KBRI Seoul

19113880 1246814385447713 4939676718393006260 n

Sore itu, anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan Pesantren Kilat di KBRI Seoul (17/6). Kegiatan ini merupakan kerjasama antara KBRI dengan Rumah Muslimah Indonesia di Korea Selatan (Rumaisa School), dan sebagai bagian dari program kegiatan KBRI selama bulan Ramadhan 1438 H.

Pesantren dibuka oleh Ketua DWP, nyonya Nila Umar Hadi, yang menyampaikan penghargaan dan apresiasinya atas pelaksanaan Pesantren Kilat tersebut. Ketua DWP menyambut positif kegiatan ini karena memungkinkan anak-anak muslim Indonesia di Republik Korea tetap dapat belajar agama Islam.

Pesantren kilat diikuti oleh sekitar 30 anak-anak Indonesia berusia 2 (dua) tahun keatas. Pesantren kilat dengan tema “Ramadhan Bertualang, Ramadhan Berbagi” ini mengajak anak-anak untuk belajar Iqra, Asmaul Husna dan cerita Islam dengan cara yang menyenangkan, yaitu melalui kegiatan seni dan permainan. Selain pesantren kilat untuk anak-anak, pada saat yang bersamaan juga dilaksanakan kajian Islam yang diikuti oleh ibu-ibu muslimah.

Selama bulan Ramadhan ini, KBRI Seoul menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang melibatkan WNI di Korea Selatan, seperti buka bersama setiap sabtu, sholat tarawih, pengajian untuk anak-anak dan ibu-ibu. Untuk kegiatan bulan Ramadhan, KBRI secara khusus mendatangkan Ustad Faiz Husaini dari Kairo.

Bubuy Bulan Terlantun Merdu di Ansan

19113876 1244821745646977 3406665161815290460 n

Dubes Umar Hadi berpesan kepada generasi muda Korsel untuk tidak segan-segan menjelajahi Indonesia dan Asia Tenggara. Peran kawasan tersebut diyakini semakin penting bagi masyarakat Korsel di masa depan.

"Pada 10 tahun mendatang, kawan-kawan kalian dari Indonesia dan negara ASEAN lainnya akan datang ke Korea untuk bekerja, dan sebaliknya kalian pun dapat ke sana untuk bekerja," ujar Dubes RI Seoul, Umar Hadi di hadapan siswa-siswa sekolah menengah pertama dalam ASEAN School Tour Program, di Kota Ansan (15/6).

Sebanyak 800 siswa sekolah menengah pertama dari berbagai penjuru kota Ansan memenuhi Dalmaji Theater guna mengikuti ASEAN School Tour Program yang diselenggarakan oleh ASEAN Korea Centre. Perhelatan tahunan ini diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan ASEAN dan kawasan Asia Tenggara kepada masyarakat Korea Selatan, khususnya generasi muda. Selain Dubes RI Seoul, turut hadir dalam acara tersebut berbagai perwakilan dari negara-negara anggota ASEAN.

Acara ini dikemas secara interaktif, dimana para siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti talk show, kuis berhadiah, pameran foto, pertunjukkan seni dan peragaan busana. Tampak antusiasme yang tinggi dari para siswa atas kesenian Indonesia saat Dubes Umar melantunkan lagu "Bubuy Bulan" di atas panggung. Dalam kesempatan tersebut, busana Indonesia yang diperagakan oleh siswa Korsel meraih penghargaan terbaik dalam kategori "Team Impact".

Korsel merupakan salah satu negara dengan jumlah WNI yang cukup signifikan. Sekitar 38 ribu jiwa WNI tinggal di Korsel dan tergabung dalam komunitas pekerja, pelajar, maupun mixed marriage. Kota Ansan sendiri merupakan salah satu kota dengan konsentrasi WNI yang terbilang tinggi, dan merupakan salah satu "Indonesia Town" di Korsel.

KBRI Seoul Sukses Helat Pelatihan Bisnis Bakso

WhatsApp Image 2017-06-05 at 12.32.20 PM

Di bulan penuh kesalehan sosial ini, Bakso Bejo Korea berbagi ilmu dengan publik. Sebanyak 40 WNI yang telah mendaftar di Facebook KBRI Seoul dididik menjadi pebisnis bakso. Acara dihelat mulai 17.30 hingga buka puasa pada 4 Juni 2017 di Ruang Pertemuan KBRI Seoul.

Selain berbagi kiat sukses bisnis bakso, Subandi, pria asal Lampung mantan TKI yang juga menjadi pemilik Bakso Bejo Korea ini membagikan resep membuat bakso enak dan kenyal. Menurutnya, sukses dalam bisnis apapun termasuk jualan bakso adalah tidak mudah menyerah dan terjun langsung.

"Jangan sempat berpikir bahwa dengan modal melimpah bisa berbisnis dengan sukses. Kita harus terjun langsung dan paham seluk beluk bisnis dari A sampai Z," ujarnya.

Subandi dan timnya juga tidak enggan buka-bukaan cara membuat bakso. Peserta juga diajak praktek langsung membuat bakso dan memasak sendiri. Meracik bumbu bakso dan kuahnya didampingi langsung oleh ahlinya membuat pelatihan kali ini sangat menarik. "Luar biasa, sangat bagus untuk bekal usaha TKI purna dari Korea," demikian ungkap Ikhsan, salah satu peserta asal Pocon.

Yang lebih menarik lagi, Duta Besar RI di Korea, Umar Hadi, hadir dari awal hingga akhir acara. Dalam pembukaannya, Dubes Umar Hadi berpesan kepada seluruh peserta untuk berpikir tidak lagi mencari kerja, tetapi menciptakan lapangan kerja. Ekonomi Indonesia terus berkembang. Rata-rata penduduk Indonesia sangat muda, yaitu 28 tahun. Dengan kondisi seperti itu, jumlah pencari kerja jauh lebih banyak dari lapangan kerja yang ada.

"Dengan modal yang dimiliki dari Korea, saya berharap teman-teman semua mulai usaha saat kembali ke Indonesia," pesan Dubes Umar Hadi kepada peserta.

Pelatihan bisnis dan praktek membuat bakso adalah bagian dari kegiatan KBRI Seoul dalam rangka pemberdayaan WNI terutama Pekerja di Korea. Melalui pelatihan ini, diharapkan TKI purna asal Korea memiliki modal ilmu yang cukup untuk membuka usaha saat kembali Indonesia.

Dalam tahun ini, KBRI Seoul telah menyelenggarakan 5 kali pelatihan wirausaha, yaitu budidaya lele, penyablonan dan pelatihan komputer di bagian utara dan selatan serta bisnis bakso. Hingga Desember nanti, akan diselenggarakan lagi acara serupa. ()

Diplomasi Taman: Megawati Garden diresmikan di Jeju, Korea Selatan

WhatsApp Image 2017-06-01 at 2.38.21 PM

Presiden kelima RI meresmikan kebun raya Megawati Soekarnoputri di daerah Seigeipo, Jeju, Korea Selatan. Taman ini bisa dibilang kado indah warga Jeju kepada Indonesia menjelang peringatan Hari Kelahiran Pancasila.

Kebun Raya Megawati diresmikan hari ini, Rabu (31/5/2017). Megawati bersama pemilik lahan Kim Sung Soo, Dubes Umar Hadi, Rokhmin Dahuri, dan beberapa petinggi Provinsi Jeju menarik tali pembukaan taman. Penantian panjang selama 4 tahun terpenuhi sudah. 

Kebun Megawati Soekarnoputri seluas 100 ribu meter persegi ini berada dalam sebuah lingkungan resor kesehatan 240 ribu meter persegi. Kebun ini terdiri dari lapangan terbuka, jalan setapak, dan hutan buatan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah pohon yang berbunga merah-putih yang ditanam Megawati pada Maret 2013 bersama mantan Menteri Kelautan Rokhmin Dahuri.

Ketika pagi datang, kabut tipis menyelimuti area Megawati Garden dan sekitarnya. Suhu relatif dingin. Sedangkan pada siang hari, suhu cukup hangat sehingga sangat cocok untuk jalan-jalan dan trekking. Adapun pada malam hari, suasana layaknya hutan lebat dengan suara-suara alam.

Di kebun raya Megawati masih sering ditemui berbagai binatang, khususnya ayam-ayam liar. Mereka datang dan pergi tanpa ada yang mengganggu. Burung bebas berkicau dan bisa dinikmati di setiap waktu.

Berdekatan dengan Megawati Garden terdapat hotel eksklusif bintang lima, WE Hotel. Inilah mungkin satu-satunya resor kesehatan di Korea yang menggabungkan hotel, rumah sakit, dan alam. Sebuah konsep perpaduan apik dan ciamik. Tidak ada kebisingan sama sekali. Maklumlah, jarak tempat ini dengan Kota Jeju relatif jauh, berkisar 15 km. 

"Terima kasih Ibu Megawati atas ide brilian dan dukungan yang atas konsep hotel dan lingkungannya," ujar Kim Sung Soo.

Dalam pidatonya, Megawati mengaku kaget dan terhormat atas penamaan kebun raya ini. Menurutnya, semua ini terjadi karena dia dan Kim Sung Soo memiliki hobi yang sama, yakni mencintai alam dan tumbuh-tumbuhan.

"Saya selalu memotivasi untuk pembangunan kebun raya, karena akan menjadi sarana rekreasi, pendidikan, riset, dan pertumbuhan plasma nutfah. Dahulu Indonesia hanya punya 5 kebun raya, namun saat ini sudah ada 32 buah," katanya.

Megawati juga mengingatkan bahwa dengan adanya global warming, banyak hutan yang mudah rusak dan tanaman jadi mati. Semua pihak diharapkan ikut serta menyelamatkan bumi dan isinya.

Menurut pemilik lahan yang juga merupakan salah satu orang terkaya di pulau perdamaian Jeju, Kim Sung Soo, Megawati Garden adalah sebuah simbol keakraban dan penghargaan bangsa Korea terhadap Indonesia.

"Pada saat Korea Selatan dalam keadaan sulit di masa lalu, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno memberikan bantuan. Kita tidak akan lupakan itu. Kebun raya ini saya harap menjadi simbol hubungan yang saling mengisi antara kedua bangsa," ujar dokter bedah dan pemilik rumah sakit terbesar di Jeju ini.

Megawati datang pertama kali ke kebun ini pada 2013 atas undangan Kim Sung Soo. Saat itu Mega sangat tertarik terhadap konsep taman yang penuh dengan bunga dan aneka tumbuhan yang sangat lebat. Megawati kemudian memberikan banyak masukan atas konsep lingkungan yang sedang dibangun itu. 

Melihat ketertarikan yang begitu tinggi, Kim Sung Soo langsung setuju menamai kebun raya tersebut 'Megawati Garden' atau 'Megawati Jongwon'. Peresmian telah direncanakan beberapa kali namun belum menemukan momentum yang tepat.

Bagi Kim sendiri, Megawati adalah sosok politikus yang tangguh. Pertemuan beberapa kali setelah 2013 itu memberikan tambahan keyakinan bahwa Megawati adalah seseorang yang suka menebar perdamaian dan pencinta lingkungan hidup.

"Secara pribadi, saya dapat katakan bahwa Megawati adalah sosok teduh dan hangat, bagaikan kakak perempuan saya," tuturnya.

Kim Sung Soo, yang juga pemilik Halla University dan Halla Hospital di Jeju, sangat berharap kiranya konsep perdamaian Soekarno yang, antara lain, tertuang dalam Pancasila itu dapat terus berkembang dan menginspirasi dunia. Jeju sendiri telah dinyatakan sebagai pulau perdamaian.

"Pohon Korea yang ditanam Ibu Megawati 3 tahun lalu kini semakin besar dan hijau. Semoga hubungan Indonesia-Korea Selatan juga tumbuh seiring makin subur dan dewasanya pohon tersebut," ujarnya.

Megawati sempat menggarisbawahi tentang momen penting lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno tentang Pancasila dan keputusan BPUPKI secara aklamasi saat itu telah menjadi cikal-bakal kemerdekaan dan memperkokoh kebangsaan Indonesia. Konsep Pancasila rencananya akan diangkat kembali oleh Megawati dalam Jeju Forum, yang akan dihelat pada 1 Juni 2017.

Pembukaan Kebun Raya Megawati disemarakkan dengan tarian dan musik tradisional khas Jeju. Suara seruling dan beduk terdengar nyaring dan bersih mengiringi lagu Arirang. Megawati Garden diharapkan makin berkembang. 

Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri di Jeju Forum: Pancasila Mampu Menjawab Persoalan Dunia

WhatsApp Image 2017-06-01 at 2.14.10 PM

Jeju - Di hari lahirnya Pancasila, Megawati berbicara di depan forum internasional. Pancasila, dikatakan masih tetap relevan dan dapat menjadi formula ampuh untuk mengatasi aneka pergolakan dunia saat ini.

Menurut Presiden Kelima RI ini, Pancasila merupakan panduan hidup tidak hanya bagi bangsa Indonesia, namun seluruh warga dunia. Penting dan urgensi lima sila tersebut tidak bisa dinafikan oleh siapapun juga.

Demikian inti pidato Megawati Soekaenoputri di Sesi Pemimpin Dunia, Jeju Forum pagi ini (1/6/17) yang dihadiri beberapa tokoh dunia seperti mantan Wapres AS Al Gore, mantan Presiden Portugal Anibal Cavaco Silva, dan mantan Presiden Mongolia Punsalma Ochirbat serta Mantan PM Korsel Lee Hong-ko.

Dikatakan, Pancasila adalah sebuah konsep dasar untuk mengatasi berbagai perbedaan di tengah-tengah konflik, khususnya yang terkait dengan isu keagamaan dan terorisme. Pancasila akan membawa sebuah pemahaman tentang pentingnya persatuan dalam kebhinekaan.

Sila-Sila yang ada dalam Pancasila merupakan kumpulan norma yang relevan untuk mengatasi aneka intoleransi primordial yang berkembang beberapa waktu terakhir ini. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, memiliki nilai-nilai yang dimiliki oleh semua bangsa.

Sementara sila ketiga dapat ditafsirkan sebagai internasionalisme. Internasionalisme yang tetap hidup subur diatas nasionaliame. Internasionalisme yang menghargai dan menjaga hak-hak semua negara dan meninggalkan supremasi rasial.

"Pancasila memiliki makna universal dan bisa diimplementasikan secara global. Pancasila bisa dijadikan nilai-nilai untuk mencari solusi untuk hidup bersama di abad 21. Dengan semangat Pancasila, saya yakin Asia bisa lebih adil dan makmur hari ini dan mendatang," imbuhnya.

Megawati juga mengingatkan tentang pelajaran penting dari Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pertemuan itu, katanya merupakan sebuah contoh bagaimana berbagai bangsa yang berbeda agama dan budaya namun mampu menyatu demi tujuan bersama.

Konferensi Asia Afrika tidak hanya menginspirasi bangsa di Asia dan Afrika namun juga Amerika latin. Itu semua bisa terjadi karena adanya toleransi yang tinggi diantara mereka.

"Perbedaan yang ada bukan hanya untuk kepentingan bangsanya, namun bisa menjadi kekuatan untuk menelorkan dan mendorong peradaban baru bagi manusia," katanya.

"Inilah saatnya kita belajar dari founding fathers. Belajar dari Konferensi Asia Afrika. Perbedaan harus dijaga dengan cara bekerja sama," ujarnya.

Di sesi awal, mantan Wakil Presiden AS, Al Gore mengingatkan hadirin tentang bahaya pemanasan bumi. Digarisbawahi bahwa global warming adalah sesuatu yang nyata dan telah berdampak pada perubahan alam, persediaan pangan, berkembangnya aneka penyakit, memicu pergolakan sosial politik serta mengancam mangancam keberlangsungan kehidupan manusia.

Al Gore menekankan perlunya untuk terus mengembangkan energi yang terbarukan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup manusia. Penghentian penggunaan energi fosil dan perbaikan lingkungan akan menyelamatkan kehidupan umat manusia.

"Saya sepenuhnya setuju dengan ide-ide yang dilontarkan oleh mantan Wapres Al Gore. Kita semua harus bergerak bersama untuk mengatasi global warming yang ada di depan mata," kata Megawati.

Jeju Forum merupakan platfom dialog tahunan tokoh-tokoh internasional untuk penyelesaian masalah Semenanjung Korea dan Asia yang di bawah tema perdamaian dan kemakmuran. Selain Megawati, Menko PMK Puan Maharani dan mantan Menlu Marty Natalegawa juga menjadi salah pembicara. ()

Duta Besar Umar Hadi Memulai Tugasnya di KBRI di Seoul

DSC 4207

Selasa (16/5),  telah dilakukan serah terima jabatan Kepala Perwakilan RI di Seoul dari KUAI Cecep Herawan kepada Duta Besar Umar Hadi  bertempat di lobi KBRI. Acara serah terima jabatan dilaksanakan secara sederhana dan diikuti oleh seluruh staf KBRI Seoul, IIPC, ITPC Busan, serta perwakilan dari kantor BNI dan Garuda Indonesia di Seoul.

Dalam sambutannya, Dubes Umar Hadi mengingatkan seluruh staf pada moto Presiden Joko Widodo "Kerja, Kerja, Kerja" dari semua pihak dalam mewujudkan kepentingan Republik Indonesia di Republik Korea. Misi perwakilan untuk menjaga dan meningkatkan hubungan dan kerjasama bilateral Pemerintah Indonesia dengan ROK, memerlukan "kerja keras", "kerja cermat" dan "kerja sama" dari seluruh staf.

“Untuk itu semua stakeholder Pemerintah Indonesia yang berada di ROK diharapkan dapat bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara Indonesia,” demikian disampaikan Dubes Umar Hadi.

Seusai acara Serah Terima Jabatan, Duta Besar RI melakukan perkenalan dan ramah tamah dengan semua staf KBRI dan perwakilan instansi Pemerintah dan BUMN Indonesia di Republik Korea.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014