KBRI Seoul Terus Mengikuti Perkembangan Kecelakaan Kapal Korea Selatan di Laut Bering

oriong 501

         An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

Kapal penangkap ikan jenis trawler dengan nama lambung Oryeong 501 berangkat tanggal 10 Juli 2014 pukul 14.00 waktu Korea dari Pelabuhan Busan menuju Rusia. Para ABK ditugaskan melakukan fishing 40-50 hari terhitung sejak ketibaan mereka di Laut Bering sekitar akhir bulan November. Oleh karena itu, mereka seharusnya dijadwalkan kembali lagi ke Korea bulan Januari 2015.

Pada tanggal 1 Desember 2014, kapal tersebut tenggelam di Laut Bering, Rusia sekitar pukul 14.00 (pukul 12.00 waktu Korea). Kapal diyakini tenggelam karena cuaca buruk. Kru yang berada dalam kapal berjumlah enam puluh (60) orang, yakni tiga puluh lima (35) orang WNI, tiga belas (13) orang warga Phillipine, sebelas (11) orang warga Korea, dan satu (1) orang Rusia.

Sampai saat ini terdapat delapan (8) kru yang berhasil diselamatkan, yaitu tiga (3) orang warga Indonesia, (3) tiga orang warga Philipine, (1) satu orang warga Rusia. Kapal yang menyelamatkan (3) tiga orang warga Indonesia adalah kapal nelayan Rusia (Carolina 77) dan kapal nelayan Korea-Rusia (Zaliv Zabiyaka)

KBRI Seoul terus bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Korea guna memastikan kondisi para awak kapal termasuk upaya penyelamatan yang dilakukan. KBRI Seoul juga berkoordinasi dengan Kepolisian/Coast guard, perusahaan pemilik kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadi berada di wilayah Rusia. Adapun agensi dari Indonesia pengirim ABK terdiri dari 4 perusahaan, yang saat ini tengah dalam proses pencarian informasi dan koordinasi selanjutnya

Mengenai nama-nama dari awak kapal, saat ini KBRI Seoul dan Kementerian Luar Negeri RI terus mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan Kemlu RI akan mengumumkan nama nama tersebut pada kesempatan pertama.

            Pimpinan dan seluruh staf KBRI Seoul turut prihatin atas kejadian tersebut dan akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait serta akan segera menyampaikan kabar terkini mengenai perkembangan kejadian tersebut. (KBRI Seoul, Korea Selatan)

Kecelakaan Kapal Pencari Ikan Korea Selatan

oriong 501

An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

 

Kementerian Luar Negeri Republik Korea telah mengonfirmasikan kecelakaan yang menyebabkan tenggelamnya kapal penangkap ikan jenis trawler dengan nama lambung Oryong 501. Kapal tersebut dimiliki oleh Sajo Industries, perusahaan yang berbasis di Republik Korea. Kecelakaan terjadi di Laut Bering, Rusia sekitar pukul 14.00 waktu Korea (12.00 WIB). Kapal tersebut diyakini telah tenggelam dikarenakan kondisi cuaca yang memburuk.

Jumlah kru berdasarkan informasi yang diterima dari Kementerian Luar Negeri Korea adalah (60) enam puluh orang, masing-masing (35) tiga puluh lima orang WNI, (13) tiga belas orang warga Philipine, (11) sebelas orang warga Korea, dan (1) satu orang Rusia.

Upaya penyelamatan terus dilakukan oleh otoritas Rusia dengan dibantu kapal-kapal yang berada disekitar tempat kejadian. Sampai saat ini, terdapat delapan kru yang berhasil diselamatkan : (3) tiga dari Indonesia, (3) tiga dari Philipinne, (1) satu dari Rusia, dan (1) satu orang meninggal dunia Warga Negara Republik Korea.

Data ABK yang selamat tersebut masih terus berubah mengingat proses penyelamatan dan identifikasi terus berjalan. Pemerintah Republik Korea telah membentuk gugus tugas yang dikoordinir Kementerian Luar Negeri setempat.

Duta Besar RI Seoul telah menghubungi Menteri Luar Negeri Republik Korea. Menteri Luar Negeri Republik Korea menyampaikan ucapan simpati bagi seluruh keluarga dari awak kapal yang masih belum diketahui nasibnya. KBRI Seoul telah pula membentuk gugus tugas dan menetapkan nomor hotline yang bisa dihubungi yaitu +821053942546.

KBRI Seoul terus bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Korea guna memastikan kondisi para awak kapal termasuk upaya penyelamatan yang dilakukan. KBRI Seoul berkoordinasi pula dengan Kepolisian/Coast guard, perusahaan pemilik kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadian berada di wilayah Rusia.

(Sumber : KBRI Seoul)

Mantan Presiden SBY Menerima Penghargaan Di Korea Selatan

IMGL8557 - buat website

Pada tanggal 19 November 2014, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan The Grand Order of Mugunghwa dari Presiden Park Geun Hye dalam kunjungan 5 hari beliau ke Korea Selatan dalam rangka sidang konferensi Green Global Growth Institute dimana SBY bertugas sebagai Presiden GGGI.

The Grand Order of mugunghwa merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Korea Selatan kepada individu yang telah banyak memberikan kontribusi kepada Pemerintah Korea, termasuk dalam peningkatan hubungan bilateral dengan negara sahabat.

Mantan Presiden SBY dinilai telah banyak memberikan kontribusi terhadap peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dan hubungan tersebut menjadi semakin erat ditandai dengan meningkatnya pedagangan dan investasi di kedua negara. Selain itu, meningkatnya hubungan antara kedua bangsa juga semakin meningkat dengan banyak lalu lintas orang antara Indonesia dengan Korea Selatan baik untuk bisnis, belajar maupun wisata.

Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono Resmi Terpilih Sebagai Presiden GGGI

IMGL8419 - buat website

Pada pertemuan ke-3 Assembly of the Global Green Growth Institute (GGGI) dan sidang ke-6 Council of the GGGI yang dilaksanakan di Seoul pada hari Selasa, tanggal 18 November 2014, DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah terpilih dan disahkan secara aklamasi sebagai Presiden Assembly GGGI dan Chair of the GGGI Council.

SBY telah memimpin pertemuan ke-6 Council GGGI tersebut, setelah Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Mr. Yun Byung Se selaku Acting Chair pada awal pertemuan, menyerahkan kepemimpinan dengan disahkannya SBY secara aklamasi sebagai Ketua Council.

Menteri Luar Negeri Republik Korea, H.E. Yun Byung Se, serta perwakilan dari berbagai negara anggota GGGI lainnya menyatakan keyakinan dan harapannya akan kepemimpinan SBY yang dapat mengangkat inisiatif dan program-program GGGI ke level yang lebih tinggi serta meningkatkan international prominence dan relevance dari inisiatif GGGI.

Dalam pertemuan tersebut telah disepakati juga penggabungan fungsi 2 (dua) organ GGGI yaitu Assembly dan Council dalam rangka perampingan struktur manajemen dan peningkatan efisiensi pertemuan.

Dalam pertemuan tersebut juga telah dibahas isu-isu penting GGGI kedepan, antara lain mengesahkan Strategic Plan untuk tahun 2015-2020, serta rencana kerja dan anggaran untuk tahun 2015-2016. Diskusi agenda pada pertemuan telah memberikan masukan untuk peningkatan lebih lanjut peran GGGI dalam upaya pencapaian global green growth.

GGGI juga perlu meningkatkan program yang lebih inklusif dan menarik minat negara-negara lain untuk menjadi anggota dengan cara membuat program-program yang menarik dan relevan. Untuk penguatan ini, GGGI juga perlu memperkuat kelembagaan dan organisasinya.

Sby berpandangan bahwa GGGI memiliki pendekatan unik yang menggabungkan kerja sama dan komitmen berbagai aktor negara dan non-negara serta para pakar dalam pembahasan strategi pertumbuhan hijau. "GGGI can not do everything, but GGGI can do a lot of things. Value added dari GGGI adalah sebagai bagian dari upaya global dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan berwawasan lingkungan". Dalam perkembangannya, program inisiatif GGGI diharapkan dapat menggerakkan banyak pihak dan seluruh pemangku kepentingan sehingga kebijakan dan solusi yang ditawarkan oleh GGGI dapat diimplementasikan oleh berbagai negara.

Disela-sela pertemuan tersebut juga telah diadakan penandatanganan aksesi Senegal sebagai anggota GGGI dan penandatanganan kesepakatan antara Sekretariat GGGI dengan Pemerintahan Kota Incheon.

Sidang menyetujui tanggal pertemuan berikutnya yaitu tanggal 15-16 Juni 2015 dan minggu ketiga November 2015.

Ini Tugas Baru SBY Sebagai Presiden GGGI

Sby05

Jakarta - Susilo Bambang Yudhoyono didaulat untuk memimpin Global Green Growth Institute (GGGI). Selain terpilih sebagai Chair of the Council, SBY juga ditunjuk sebagai President of Assembly dari perkumpulan filantropis ini. Sebenarnya apa tugas dan peranan SBY sebagai presiden di organisasi yang berpusat di Seoul, Korea Selatan ini?

GGGI adalah organisasi yang mempromosikan 'pertumbuhan hijau' yakni paradigma pertumbuhan yang ditandai dengan keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. GGGI mendukung 'pertumbuhan hijau' terutama di negara-negara berkembang untuk menggantikan paradigma yang menitikberatkan pada pengembangan industri.

GGGI awalnya diluncurkan sebagai think tank oleh Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak pada tahun 2010. Bentuknya berubah menjadi organisasi berbasis perjanjian internasional saat Rio + 20 Summit di Brazil pada tahun 2012. Pada Desember 2013, GGGI mendapat Observer Status dari Majelis PBB yang diserahkan pada Konferensi Para Pihak (COP) di Warsawa.

Tiga hasil yang ingin dicapai oleh GGGI adalah adopsi dan pelaksanaan rencana pertumbuhan hijau, penyediaan penelitian bagi para pembuat kebijakan, dan keterlibatan sektor swasta dalam pelaksanaan rencana pertumbuhan hijau nasional. Negara-negara anggota GGGI adalah Australia, Kamboja, Kosta Rika, Denmark, Ethiopia, Guyana, Indonesia, Kiribati, Korea, Meksiko, Mongolia, Norwegia, Papua Nugini, Paraguay, Filipina, Qatar, Rwanda, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Vietnam sebagai Majelis. Sementara Guyana, Filipina, Inggris, dan Kamboja berlaku sebagai Biro Majelis.

GGGI tak hanya memberi dukungan untuk perencanaan pertumbuhan hijau dan implementasi dalam mengembangkan individu serta negara berkembang. Organisasi ini juga bertujuan untuk menciptakan platform global sebagai sarana berbagi pengalaman antarnegara yang mengejar strategi pertumbuhan hijau.

Pemimpin dari komunitas pertumbuhan hijau ini memposisikan diri sebagai forum untuk bertukar saran. GGGI menjadi 'kolam global' bagi para pakar dan pembuat kebijakan.

SBY bertolak ke Seoul sejak Jumat (14/11) malam lalu. Di ibukota Korea Selatan itu, SBY mendapatkan pengarahan dari Direktur Jenderal GGGI Yvo de Boer. Foto briefing tersebut diunggah SBY di akun Twitter nya. Suami Ani Yudhoyono itu juga memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Yonsei, Korea Selatan.

Selamat menjalankan tugas baru, Pak SBY! (Detikcom)

Ngobrol 1 Jam dengan Dubes Korsel, Susi Ingin Genjot Ekspor Ikan ke Korea

susikorsel

Jakarta -Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ingin nilai ekspor produk perikanan ke Korea Selatan (Korsel) digenjot. Hari ini Susi bertemu dan dengan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Cho Tai Young.

Dalam pertemuan yang berlangsung hampir 1 jam itu, Susi menyatakan ekspor produk perikanan ke Korea Selatan masih rendah. Nilainya sekitar kurang dari Rp 1 triliun per tahun atau US$ 80 juta.

"Ke depan kita ingin memperluas pasar, sekarang ekspor produk perikanan kita ke Korea baru US$ 80 juta per tahun," ungkap Susi di Gedung Mina Bahari I, kantor pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Susi yang menggunakan pakaian kebaya putih dan selendang batik bermotif, melihat hal itu bisa terjadi karena peluang pasar di Korsel yang cukup besar. Apalagi mayoritas kebiasaan masyarat Korsel mengkonsumsi produk perikanan.

"Korea ini sangat besar pasarnya dan sama dengan Jepang, sama-sama banyak makan sea food. Potensi pasar masih cukup lebar," imbuhnya.

Selain peningkatan ekspor produk perikanan Indonesia ke Korsel, kedua negera tersebut menyepakati beberapa hal seperti penangkapan ikan yang berkelanjutan sesuai tata kelola internasional.

Sementara itu Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Cho Tai Young mengaku senang bertemu dengan Susi. Ini adalah kali pertama ia bertemu langsung dan berdiskusi serta menyepakati berbagai hal dengan mantan bos Susi Air itu.

"Saya senang bertemu dan berdiskusi dengan bu menteri dan Indonesia Korea itu teman dan sekarang kita bekerja sama di sektor kelautan dan perikanan," tuturnya.

"Kami sekarang berdiskusi dan melakukan MOU untuk hubungan dua negara. Kami akan terus meningkatkan hubungan ini. Ini yang saya akan menunjukan kepada kalian hari ini," katanya. (Detik.com)

Pidato Kenegaraan Pertama Jokowi

jokowi 7

Inilah pidato pertama Jokowi sebagai Presiden RI

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam samai sejahtera untuk kita semua,

Om Swastiastu,

Namo Buddhaya

Baru saja kami mengucapkan sumpah, sumpah itu memiliki makna spritual yang dalam, yang menegaskan  komitmen untuk bekerja keras mencapai kehendak kita  bersama sebagai bangsa yang besar.

Kini saatnya kita menyatukan hati dan tangan. Kini saatnya bersama-sama melanjutkan ujian sejarah berikutnya yang maha berat, yakni mencapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Saya yakin tugas sejarah yang berat itu akan bisa kita pikul bersama dengan persatuan, gotong royong dan kerja keras. Persatuan dan gotong royong adalah syarat bagi kita untuk menjadi bangsa besar.

Kita tidak akan pernah besar jika terjebak dalam keterbelahan dan keterpecahan. Dan, kita tidak pernah betul-betul merdeka tanpa kerja keras.

Pemerintahan yang saya pimpin akan bekerja untuk memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok tanah air, merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan. Saya juga mengajak seluruh lembaga Negara untuk bekerja dengan semangat yang sama dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.

Saya yakin, negara ini akan semakin kuat dan berwibawa jika semua lembaga negara bekerja memanggul mandat yang telah diberikan oleh Konstitusi.

Kepada para nelayan, buruh, petani, pedagang bakso, pedagang asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, POLRI, pengusaha dan kalangan profesional, saya menyerukan  untuk bekerja keras, bahu membahu, bergotong rotong. Inilah, momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama untuk bekerj, bekerja, dan bekerja

Hadirin Yang Mulia,

Kita juga ingin hadir di antara bangsa-bangsa dengan kehormatan, dengan  martabat, dengan harga diri. Kita ingin menjadi bangsa yang bisa menyusun peradabannya sendiri. Bangsa besar yang  kreatif yang bisa ikut menyumbangkan keluhuran bagi peradaban global.

Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk.

Kini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva Jayamahe, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Kerja besar membangun bangsa tidak mungkin dilakukan sendiri oleh presiden, wakil presiden ataupun jajaran pemerintahan yang saya pimpin, tetapi  membutuhkan topangan kekuatan kolektif yang merupakan kesatuan seluruh bangsa.

Lima tahun ke depan menjadi momentum pertaruhan kita sebagai bangsa merdeka. Oleh sebab itu, kerja, kerja, dan kerja adalah yang utama. Saya yakin, dengan kerja keras dan gotong royong, kita akan akan mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.


Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Atas nama rakyat dan pemerintah Indonesia, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia kepala negara dan pemerintahan serta utusan khusus dari negara-negara sahabat.

Saya ingin menegaskan, di bawah pemerintahan saya, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sebagai negara kepulauan, dan sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, akan terus menjalankan politik luar negeri bebas-aktif, yang diabdikan untuk kepentingan nasional, dan ikut serta dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Pada kesempatan yang bersejarah ini, perkenankan saya, atas nama pribadi, atas nama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan atas nama bangsa Indonesia  menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Prof. Dr. Boediono yang telah memimpin penyelenggaraan pemerintahan selama lima tahun terakhir.


Hadirin yang saya muliakan,

Mengakhiri pidato ini, saya mengajak saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk mengingat satu hal yang pernah disampaikan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Bung Karno, bahwa untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai, kita harus memiliki jiwa cakrawarti samudera; jiwa pelaut yang berani mengarungi gelombang dan hempasan ombak yang menggulung.

Sebagai nahkoda yang dipercaya oleh rakyat, saya mengajak semua warga bangsa untuk naik ke atas kapal Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia Raya. Kita akan kembangkan layar yang kuat.  Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di bawah kehendak rakyat dan Konstitusi. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa merestui upaya kita bersama.

Merdeka !!!, Merdeka !!! Merdeka !!!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga Tuhan memberkati,

Om Shanti Shanti Shanti Om.”

 

Wiryanti Sukamdani: Tiongkok dan Korsel Pasar Potensial Indonesia

yanti

Tiongkok dan Korea Selatan merupakan pasar pariwisata potensial bagi Indonesia, mengingat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di kedua negara tersebut berdampak dengan meningkatnya jumlah masyarakatnya yang berlibur ke luar negeri.

Berdasarkan data BPS pada tahun 2013 tercatat wisatawan Tiongkok (RRT) 747.921 orang dan Korea Selatan sebesar 343.627 orang masuk ke Indonesia. Meski relatif masih sedikit namun potensi pertumbuhannya cukup besar. Demi lebih menggenjot pertumbuhan wisatawan di kedua negara tersebut, baru-baru ini Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) menggelar kegiatan sales mission di kedua negara tersebut.

BPPI meggelar kegiatan sales mission di Shanghai, Tiongkok pada 5 September 2014 dan Busan, Korea Selatan pada 15 September 2014. Event Nichemarket di Shanghai, Tiongkok merupakan ajang promosi pariwisata yang bersifat b to b (business to business) di mana para narasumber Nichemarket berlaku sebagai sellers melakukan presentasi yang berujung pada pertemuan bisnis dengan para industri pariwisata Tiongkok sebagai buyers.

Ketua BPPI SB Wiryanti Sukamdani yang menginisiasi kegiatan Nichemarket tersebut sangat optimis bisa membantu pencapaian target kunjungan wisatawan dari Tiongkok sebesar 1,1 juta pada tahun 2014. Selain agenda Nichemarket ini, sebelumnya BPPI juga melaksanakan kegiatan sales mission di Xiamen dan Hangzhou pada 26-31 Agustus 2014.

Pada kesempatan tersebut Wiryanti Sukamdani memberikan paparan tentang perspektif dan potensi pariwisata Indonesia dihadapan para buyers industri pariwisata Tiongkok. Kegiatan Nichemarket 2014 ini juga dihadiri Dubes RI untuk Tiongkok Soegeng Rahardjo dan Konjen RI di Shanghai Kenssy D Ekaningsih.

"Dengan kemajuan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di Tiongkok, pada tahun 2013 saja jumlah outbound-nya sebesar 60 juta, dan Indonesia baru bisa meraih 747.921 wisatawan Tiongkok. Itu belum mencapai 1 persen. Sementara negara tetangga kita seperti Singapura, Malaysia dan Thailand sudah meraih lebih dari 2-3 juta kunjungan wisatawan dari Tiongkok," ujar Wiryanti Sukamdani di Jakarta, Jumat (26/9/2014).

Wiryanti menjelaskan, sangatlah mungkin jika dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang cukup tinggi dengan potensi outbound tahun 2014 diperkirakan mencapai 100 juta. Maka sudah selayaknya Indonesia berperan lebih aktif dengan melakukan promosi yang gencar guna mencapai cita– ita kunjungan wisatawan Tiongkok sebesar 3 juta pada akhir tahun 2019.

Target 400.000 Wisatawan Korsel

Kegiatan sales mission BPPI di Korea Selatan dipusatkan di Busan pada tanggal 15 september 2014, dikemas dalam bentuk presentasi oleh Ketua BPPI, Ayodya Hotel Bali, Vito (visit indonesia tourism officer) Korsel dan Cathay Pacific, serta penampilan sejumlah tarian tradisional Indonesia. BPPI menargetkan kunjungan wisatawan Korsel ke Indonesia meningkat menjadi 400.000 orang.

Pembukaan dihadiri lebih dari 100 industri pariwisata Korsel. Dalam kegiatan tersebut, Wiryanti Sukamdani mempresentasikan potensi pariwisata indonesia terutama yang sangat disukai dan digemari oleh wisatawan Korsel yaitu tempat–tempat bulan madu (honeymoon destination) serta marine tourism.

Wiryanti juga berkesempatan melanjutkan pertemuan dengan Dubes RI untuk Korsel John Prasetyo di Seoul. Selain itu juga menemui beberapa travel agent yang banyak berkontribusi untuk menjual paket ke Indonesia seperti paket golf, honeymoon, industrial estate tours dan paket-paket wisata bahari.

"Pemerintah Indonesia menetapkan target kunjungan wisatawan dari Korsel sebesar 400.000 orang pada tahun 2014. Kiranya target tersebut dapat dicapai dengan adanya sejumlah penerbangan langsung seperti Garuda Indonesia, Korean Air, Asiana Air dan Cathay Pacific. Tren kunjungan wisatawan Korsel pun meningkat setiap tahun," ujarnya.

Wiryanti yakin pasar Korsel dengan inbound 20 juta sangat potensial Indonesia bisa menjaring wisatawan Korsel lebih banyak lagi. (Kompas.com)

 

SBY Pimpin GGGI, Marty: Ini Pengakuan Internasional terhadap Indonesia

SBY2

Posisi Indonesia dalam upaya pelestarian lingkungan sudah diakui dunia internasional. Indonesia sudah dinilai sebagai bagian dari solusi. Pengakuan dan kepercayaan internasional terhadap Indonesia semakin tinggi setelah Presiden SBY juga dipercaya menjadi Presiden Majelis sekaligus Ketua Dewan Global Green Growth Institute (GGGI).

"Ini bukan saja trust masyarakat internasional kepada beliau sebagai pribadi dan Indonesia, tapi juga semacam pengakuan Indonesia bisa menjembatani berbagai kepentingan yang perlu direkonsiliasi," kata Menlu Marty Natalegawa seusai menghadiri resepsi penerimaaan SBY sebagai pemimpin CGGI di Markas Besar PBB, New York, Selasa (23/9/2014).

Menurut Marty, hal unik dari GGGI adalah perlu ditumbuhkembangkannya kemitraan antara pemerintah, masyarakat madani, komunitas saintifik, dan pelaku bisnis. "Jadi empat komponen utama ini yang perlu dipertemukan. Dan saya kira Bapak Presiden dianggap sebagai figur yang menyuarakan dan mempersatukan kepentingan-kepentingan yang dianggap berseberangan," ujar Marty.

Banyaknya kepentingan ini telah disinggung oleh mantan Presiden Guyana Bharrat Jagdeo yang bertindak sebagai Presiden Majelis GGGI 2012-2014. "Jadi di antara negara berkembang, ada anggapan bahwa green gowth (pertumbuhan hijau) sebagai sesuatu yang seolah-olah dicurigai apa maksud dan tujuannya. Apa ini persyaratan dari negara-negara maju terhadap negara berkembang, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi mereka ataua bagaimana. Saya kira Presiden SBY melalui peranan beliau bisa menembatani untuk menghapus anggapan-anggapan itu," kata Marty.

Seperti diberitakan, Presiden SBY resmi menerima tawaran untuk menjadi Presiden Majelis sekaligus Ketua Dewan Global GGGI. SBY berkomitmen GGGI akan memainkan peran kunci dalam pertumbuhan hijau, pertumbuhan ekonomi yang berwawasan lingkungan. "Saya yakin GGGI dapat memainkan peran kunci dalam mengarusutamakan pertumbuhan hijau, pertumbuhan berwawasan lingkungan. GGGI harus menjadi yang terdepan dari pembahasan mengenai isu-isu global," kata Presiden SBY dalam pidato penerimaannya sebagai pemimpin GGGI.

SBY menggantikan Lars Lokke Rasmussen (mantan PM Denmark) dan Bharrat Jagdeo sekaligus, yang saat ini menjabat Ketua Dewan dan Presiden Majelis GGGI. SBY akan memulai mengemban dua jabatan ini pada 18 November 2014. Pada saat itu, SBY sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden Indonesia. Organisasi ini berpusat di Seoul.

GGGI memiliki dua badan, yakni Majelis dan Dewan. Majelis merupakan organ tertinggi, sedangkan Dewan bertindak sebagai eksekutif. Organisasi ini memiliki kantor operasi di lima benua dan memiliki 20 negara anggota. Lembaga ini bertujuan membantu memberikan asistensi pada negara-negara berkembang dalam merumuskan pembangunan yang ramah lingkungan. GGGI juga memberikan asistensi bagi program kerja sama pemerintah dan swasta.

Presiden Korsel Park Geun-hye yang hadir dalam resepsi penerimaan SBY sebagai pemimpin GGGI, menjelaskan alasannya meminta SBY memimpin organisasi yang diinisiasi Korea Selatan itu. Indonesia, ujar Park, kini telah menjadi bagian dari solusi, sehingga dunia menempatkan pelestarian hutan sebagai bagian inti dari permasalahn lingkungan. "Ini berkat upaya keras Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY," kata Park Geun-hye. (Detik.com)

OCA Setuju Indonesia Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018

AseanGames1

Badan Eksekutif Dewan Olimpiade Asia (OCA) menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Pernyataan ini dikeluarkan di Incheon, Korea Selatan, Jumat (19/9/2014). Pesta olahraga antarbangsa Asia itu sempat mengalami masalah tempat penyelenggaraan setelah Vietnam yang sebelumnya ditunjuk ternyata mengundurkan diri karena masalah dana.

"Hari ini badan eksekutif telah menyetujui tahun 2018 nanti Asian Games akan berlangsung di Jakarta, Indonesia," kata Presiden OCA Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah. Sidang pleno OCA akan berlangsung Sabtu (20/9/2014), yang agendanya juga akan mengesahkan penunjukan tersebut.

Namun, Sheikh Amad menegaskan bahwa pertemuan khusus OCA sebelumnya telah memberikan dia "wewenang untuk memutuskan dan menemukan tuan rumah pengganti Vietnam".

Pertemuan eksekutif OCA di Incheon hari Jumat itu berlangsung menjelang dibukanya Asia Games ke-17 yang diikuti sekitar 13 ribu atlet dan ofisial dari 45 negara.

Vietnam semula mendapat hak sebagai tuan rumah Asian Games ke-18 pada 2019, tetapi mengundurkan diri karena krisis ekonomi. Indonesia menjadi favorit sebagai pengganti, sementara kandidat lainnya kurang serius.

OCA semula menjadwalkan event itu pada 2019 untuk menghindari benturan dengan Olimpiade musim dingin yang berlangsung di Korea Selatan pada 2018.

Namun, pihak Indonesia menyampaikan kepada OCA bahwa jika terpilih menjadi tuan rumah Asian Games, waktu penyelenggaraannya harus setahun lebih awal dari jadwal semula, yakni 2018, karena pada 2019 ada pemilihan presiden. (Kompas.com)

Ini Urutan Parade 45 Negara Peserta Asian Games ke-17

incheon-asian-gamesJumat, 19 September 2014

UPACARA pembukaan pesta olahraga Asian Games ke-17 yang akan digelar malam nanti di Incheon Asiad Main Stadium yang terletak di wilayah Yeonhi-dong akan menampilkan parade atlet dari 45 negara peserta yang tergabung dalam Olympics Council of Asia (OCA).

Menurut rilis dari laman resmi Asian Games ke-17, parade atlet akan diurutkan berdasarkan alfabet dari nama resmi masing-masing negara peserta. Sebagai perumpamaan, Indonesia diurutkan atas nama resminya yakni Republic of Indonesia atau Nepal akan diurutkan berdasarkan nama resminya, Federal Democratic Republic of Nepal. Namun pengecualian bagi tuan rumah, Korea Selatan yang akan muncul dalam urutan terakhir di parade itu.

Selengkapnya...

Meriahnya Puncak Acara Sail Raja Ampat

rajaampat1

Meski bumi Cenderawasih masih diguyur hujan lebat dan sesekali hujan, dibarengi dengan angin yang bertiup kencang, tak sedikitpun mengurungkan niat masyarakat Kabupaten Raja Ampat dan sekitarnya membanjiri Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat.

Warga datang untuk menyaksikan secara langsung jalannya puncak acara Sail Raja Ampat 2014 yang dibuka secara resmi oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu (23/8/2014).

Sabtu pagi, bumi pertiwi seakan miring ke timur. Pasalnya, tak hanya masyarakat Kabupaten Raja Ampat saja yang berharap dapat melihat dari dekat jalannya hajat akbar tersebut, tetapi ribuan masyarakat dari luar wilayah Kabupaten Raja Ampat pun juga turut tumpah ruah ingin menyaksikan berbagai aktraksi yang ditampilkan para prajurit TNI Angkatan Laut dalam puncak acara Sail Raja Ampat 2014.

Ribuan warga dari balita hingga kakek nenek memberikan tepuk tangan membahana ketika para penerjun dari Batalyon Intai Amfibi 1 Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang dikomandani Mayor Marinir Fredy Ardianzah itu, mendarat tepat di titik dropping zone yang sudah ditentukan di depan podium yang berada dibibir pantai WTC.

Para penerjun andal tersebut sebelumnya diangkut dengan menggunakan 2 pesawat TNI AL jenis Cassa NC 212 dari Skuadron 600 Wing Udara-1 Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) pada ketinggian 6.000 feet.

Kedua pesawat Cassa tersebut yakni Cassa NC 212 nomor lambung 622 dengan pilot Mayor Laut (P) Rahmat dan Co Pilot Kapten Laut (P) Adi Nugroho, sedangkan Cassa NC 212 nomor lambung 623 dengan pilot Kapten Laut (P) Ervan dan Co Pilot Lettu Laut (P) Adi Nugroho.

Warga Waisai dan sekitarnya makin menyemut ketika seluruh kapal perang yang tengah melakukan sailling pass memberi penghormatan kepada Presiden RI yang kala itu didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Marsetio.

Defile belasan kapal perang itu diikuti pula sejumlah kapal asing, kapal-kapal pemerintah dan swasta, serta puluhan kapal tradisional nelayan dari wilayah Waisai dan sekitarnya. Pengunjung larut dalam decak kagum, wajah-wajah mereka riang, dan lepas tanpa beban.

Warga berdatangan ke lokasi itu bukan hanya dari kota Waisai, tetapi juga dari desa desa di beberapa kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Papua Barat.

"Saya sendiri berasal dari Pulau Waigeo, salah satu pulau yang ada di kabupaten Raja Ampat," kata Waromi (39).

Ia mengatakan berada di Waisai sejak seminggu yang lalu. Waromi yang hanya seorang nelayan musim itu tidak sendirian datang ke ibu kota Kabupaten, tetapi ditemani 4 warga Pulau Waigeo.

Tujuan mereka ke Waisai hanya satu yaitu untuk menyaksikan langsung puncak acara Sail Raja Ampat 2014 yang dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejumlah menteri, dan pejabat tinggi lainnya.

Hal senada juga dituturkan Payay (18), warga Kampung Wailebet Pulau Batanta. Dirinya mengaku sengaja datang ke Waisai khusus untuk melihat berbagai kegiatan Sai Raja Ampat 2014 yang dilaksanakan di WTC.

"Saya baru pertama kali melihat secara langsung dan dari jarak dekat berbagai macam atraksi dimainkan secara rapi oleh pasukan elitnya TNI Angkatan Laut," katanya.

Beberapa warga dari Kampung Kalyam Pulau Salawati mengaku pada malam harinya pihaknya sengaja menyiapkan berbagai aneka makanan buat dimakan di pantai WTC.

"Mama saya sengaja bikin banyak makanan untuk bekal hari ini. Saya sangat menikmati, ini rekreasi yang sempurna," ujarnya. (Tribunnews)

280 peneliti ikuti konferensi iptek ASEAN

menristek

Sebanyak 280 peneliti dari berbagai negara mengikuti Konferensi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ASEAN 2014 (The 4th Science Congress and Sub Committee Conference of ASEAN) di Bogor, Jawa Barat, 18-19 Agustus 2014.

"Ini acara tiga tahunan Komite Iptek ASEAN. Secara kebetulan pelaksanaannya di bulan Agustus, jadi kita masukkan saja dalam rangkaian Harteknas (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional)," kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta usai membuka konferensi Iptek bertema Inovasi untuk Komunitas ASEAN yang Lebih Baik tersebut di IPB Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin.

Dalam konferensi ini, menurut dia, Komite Iptek ASEAN akan berbicara soal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, saling bertukar pikiran soal Iptek, bahkan memungkinkan terdapat transaksi antar negara ASEAN terkait teknologi dari 10 negara di Asia Tenggara.

"Kita ingin ASEAN berubah dari menekankan penggunaan bahan material ke knowledge base economy sehingga ada nilai tambah di sana," ujar Menristek.

Jika teknologi telah dikuasai dari hulu hingga hilir, ia merasa yakin akan membuka kesempatan kerja lebih besar bagi masyarakat ASEAN.

Sebelumnya, pada pembukaan konferensi, ia mengatakan bahwa pembahasan akan terfokus pada topik inovasi pangan, energi, dan air, serta topik lain terkait pengembangan ASEAN.

Konferensi juga dibagi dalam delapan sesi paralel yakni subkomite Iptek kelautan, Iptek material, Iptek energi berkelanjutan, Mikroelektronika dan Teknologi Informasi, bioteknologi, meteorologi dan geofisika, dan subkomite teknologi antariksa.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana The ASEAN Conference Science and Technology 2014 (ASEAN COST) Estiko Rijanto dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan sebanyak 280 peserta dan undangan dalam konferensi ini hanya 70 persen dari total pendaftar.

"Sebenarnya yang mendaftar banyak, tapi karena keterbatasan waktu dan tempat kita pilih 280 peserta dan undangan. Selain pembicara kunci ada 140 pembicara lain dari Indonesia," ujar dia.

Pembicara asing yang dihadirkan Kementerian Riset dan Teknologi di antaraya berasal dari Swedia, Seychelles, India, Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. Total pembicara asing 45 orang, sedangkan peserta asing sebagai pendengar 12 orang dan dari Indonesia 83 orang.

Beberapa pakar yang akan mengisi konferensi antara lain CEO LundaVision dari Swedia Dr Sven-Thore Holm, CEO EdWarTech and Ctech Dr Warsito P Taruno, Dr Haruo Takeda dari Hitachi Ltd Japan, Director Central Food Technological Research Institute India Profesor Ram Rajasekhran. (Heppy Ratna/Antara News)

Kunjungan Kehormatan Duta Besar Myanmar kepada Duta Besar RI, Seoul

menluu

Pada tanggal 08 Agustus 2014 pukul 09.30 di Wisma Duta, Duta Besar RI Seoul menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Myanmar yang baru untuk Korea Selatan H.E. Ambassador U Soe Lwin. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama kali yang bertujuan untuk memperkenalkan diri sebagai Duta Besar Myanmar untuk Republik Korea.

Pada kunjungan tersebut kedua belah pihak selain memperkenalkan diri juga berharap kedepannya dapat meningkatkan hubungan pribadi maupun kedinasan. Dalam kesempatan tersebut kedua belah pihak juga berharap dapat saling tukar menukar informasi mengenai perkembangan situasi masing-masing negara, situasi di kawasan yang terkait dengan hubungan Korea Utara dan Korea Selatan dan juga menyinggung persiapan penyelenggaraan ASEAN-ROK Commemorative Summit pada bulan Desember 2014 di Busan. Pertemuan berjalan dalam suasana yang penuh keakraban dan kehangatan. (KBRI Seoul)

Pagelaran Budaya dan Konser Amal di Universitas Ulsan

Ulsan2Dalam rangka perayaan Hari Raya Idul Fitri 1435 H, Komunitas Muslim Indonesia (KMI) wilayah Selatan, pada tanggal 3 Agustus 2014 menyelenggarakan kegiatan pagelaran budaya dan konser amal di Universitas Ulsan, Ulsan, Korea Selatan. Pada acara tersebut hadir dari KBRI Seoul, Wakil Kepala Perwakilan (Wakeppri) Bapak Cecep Herawan dan Dekan Urusan Hubungan Internasional Fakultas Ulsan, Prof Chang Woo Nam.

Pada kegiatan tersebut diisi dengan berbagai acara kesenian seperti Tari, Pencak Silat, Reog Ponorogo, Band Pelajar dan Pekerja Indonesia dan Kesenian Rebana, dengan acara puncak  tausiah dari Emha Ainun Nadjib yang diselingi dengan nyanyian dari Letto dan Novia Kolopaking.

Sebelum acara puncak acara diisi dengan sambutan dari Dekan Hubungan International, Fakultas Ulsan, Prof Chang Woo Nam, sambutan dari Imam Mesjid Ulsan dan sambutan dari bapak Wakeppri. Pada kesempatan tersebut bapak Wakeppri menyampaikan salam dan selamat lebaran kepada para hadirin dari bapak Duta Besar dan seluruh staf KBRI Seoul serta menyampaikan mohon maaf karena bapak Duta Besar tidak bisa hadir karena ada acara lain. Selanjutnya beliau juga menyampaikan pesan agar para tenaga kerja Indonesia bisa menjadi warga negara asing teladan yang dihargai oleh masyarakat Korea Selatan melalui sikap dan tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari dengan istilah meninggalkan "Soju menjadi Sujud", dan juga didalam bekerja sehingga menjadi pekerja yang diandalkan serta dikenal sebagai pegawai yang tekun, jujur dan pekerja keras. Pada acara tersebut juga diisi dengan pengumpulan dana bagi warga Palestina. (KBRI Seoul)

Dialog Menyongsong Pemilu Presiden 2014

Semkebangsaan

Pada hari Minggu tanggal 29 Juni 2014 bertempat di Aula KBRI Seoul Korea Selatan, KBRI Seoul bekerjasama dengan Panwaslu Korea Selatan, Indonesian Community in Corea (ICC) dan Dompet Dhuafa menggelar dialog kebangsaan bertajuk Menyongsong Pemilu Presiden 2014. Acara yang disambung dengan buka puasa bersama tersebut dihadiri oleh sekitar 250 orang WNI yang terdiri dari mahasiswa, pekerja dan para staf KBRI. Acara dibuka oleh sambutan dari Ketua Panitia, Asri Julianti dan dilanjutkan dengan dialog santai bersama beberapa pembicara yakni Didik Eko Pujianto dan Bambang Witjaksono (KBRI Seoul), Chairul Hudaya (Panwaslu Korea) dan Saiful Islam (Mahasiswa S3 dari Kemkeu).

Dalam dialog yang mengangkat tema partisipasi aktif WNI pada Pilpres 2014 itu, Didik menyampaikan bahwa sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, seyogyanya tetap berperan aktif dalam pemilu serta meningkatkan rasa toleransi antar suku/daerah asal. Hal senada juga ditambahkan oleh Bambang Witjaksono perihal WNI yang harus menyeimbangkan hubungan dengan Tuhan dan juga hubungan dengan sesama manusia.

Dalam dialog selanjutnya, Chairul Hudaya memaparkan mengenai sejarah pemilu di Indonesia dan tugas pokok serta fungsi Panwaslu Korea. Sebagai pengawas pemilu, Chairul mengajak seluruh WNI di Korea untuk bersama-sama aktif berpartisipasi dan ikut mengawasi jalannya Pilpres mendatang. Sementara Saiful Islam menyampaikan tentang pentingnya musyawarah dengan mengutip kitab suci Al-Quran dalam memilih pemimpin yang amanah. Hal ini berhubungan dengan penyelenggaraan pemilu sebagai representasi proses pemilihan pemimpin oleh rakyat.

Pada kesempatan yang sama hadir pula Duta Besar RI untuk Korea Selatan, John A. Prasetio yang mengucapkan selamat datang kepada para peserta dialog serta pesan bagi WNI di Korea agar dapat memenangkan hati orang Korea, supaya kita lebih dihargai dan dihormati sebagai orang Indonesia. Selanjutnya Dubes menyampaikan bahwa agar kita lebih dihargai maka kita harus dapat lebih baik dalam segala hal baik itu lebih rajin, lebih baik dalam kebersihan, lebih baik dalam etos kerja, lebih santun, sopan dan bersahabat. Selain itu, hadir pula Wakil Duta Besar, Cecep Herawan, yang menyampaikan perkenalan dan harapannya agar dapat mendampingi WNI di Korea.

Indonesia Pimpin Dialog ASEAN – ROK ke-18 di Busan pada tanggal 18-20 Juni 2014

Asean3

Dirjen Kerjasama ASEAN Kemlu RI, Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, telah menghadiri Pertemuan 18th ASEAN-Republik Korea (ROK) Dialogue di Busan, Republik Korea, tanggal 18-20 Juni 2014. Dalam kapasitas Indonesia selaku country coordinator kerja sama kemitraan ASEAN-ROK untuk periode tahun 2012-2015, pada pertemuan tingkat SOM tersebut beliau telah bertindak sebagai Co-Chair bersama dengan Dubes Lee Kyung-Soo, Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Politik Republik Korea.

Pertemuan telah membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama seperti arah kerja sama ASEAN-ROK di masa mendatang dan konektivitas di antara kedua kawasan, Semenanjung Korea termasuk isu denuklirisasi Semenanjung Korea dan kelanjutan Six Party Talks (SPT), isu-isu global dan internasonal, seperti perkembangan di Suriah, Palestina dan Ukraina, kondisi perekonomian global, ketahanan pangan, energi, dan penanganan bencana. Pertemuan menggarisbawahi sikap proaktif ASEAN dan ROK atas kepeduliannya terhadap isu-isu global. Untuk pertama kalinya, pertemuan telah membahas secara khusus isu keamanan dalam agenda yang terpisah. Pertemuan juga membahas proyeksi peningkatan nilai perdagangan ASEAN-ROK menjadi US$ 150 juta pada tahun 2015 dan US$ 200 juta pada tahun 2020.

Tahun 2014 juga merupakan momentum khusus bagi hubungan kerja sama ASEAN-ROK karena ASEAN-ROK memperingati 25 tahun kemitraannya. Dalam kesempatan ini, turut dibahas persiapan penyelenggaraan ASEAN-ROK Commemorative Summit di ROK pada bulan Desember 2014. Pertemuan tingkat Kepala Negara tersebut diharapkan akan menghasilkan capaian substantif bagi peningkatan kerja sama ASEAN-ROK di masa mendatang.

Kemitraan ASEAN dan ROK dirintis pada bulan November 1989. Kemitraan ini mengalami peningkatan dengan menjadi sebuah kemitraan strategis pada tahun 2010 dan diperkuat dengan dibukanya Perwakilan Tetap Republik Korea untuk ASEAN di Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2012.

Top! Mobil Listrik dan Hybrid Mahasiswa Indonesia Berjaya di Korea

greencar2

Jakarta -Jerih payah mahasiswa Yogyakarta membuat mobil hybrid dan listrik berhasil mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaran International Student Green Car Competition 2014, di Korea. Tim yang dikenal dengan Garuda UNY Racing Team (GURT) berhasil meraih peringkat satu dan tiga di kategori acceleration.

"Garuda UNY Racing Team telah mendobrak Korea Selatan di hari pertama pelaksanaan 2014 International Student Green Car Competition, Jumat (23/5). Kedua tim yang masing-masing mengusung EVO (Electric Vehicle Odyssey) dan HYVO (Hybrid Vehicle Odyssey) sebagai jago lajunya mampu bersaing dan mengungguli lawan-lawan yang berasal dari negara-negara di Asia," ujar Public Relation GURT, Dyah Nurul Hajar dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (24/5/2014).

Diceritakan Dyah kompetisi dibagi menjadi dua kategori untuk diperlombakan yaitu acceleration dan maneuverability. HYVO sendiri merupakan mobil formula hybrid pertama buatan anak Indonesia.

"Dalam katagori acceleration, tim berhasil menempati posisi pertama dengan catatan waktu terbaik yaitu 12.25 detik dan 10.56 detik untuk dua kali kesempatan yang diberikan. HYVO ini bersaing dengan 15 tim mobil hybrid lainnya," tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan di hari yang sama dalam kompetisi, EVO mobil listrik genarasi kedua mahasiswa UNY berhasil menempati posisi nomor tiga.

"Mobil listrik UNY yang dilombakan dalam ISGCC juga mampu mendobrak 41 deret tim mobil lawan dengan menempati posisi ketiga dalam kategori acceleration dengan catatan waktu 11.76 detik," lanjutnya

Menurutnya kesuksesan yang diraih tim Garuda UNY ini berkat keuletan Roni Suprapto pada mobil hybrid dan Hasbi Brilian Kumara pada mobil Electric sebagai pengemudi. Serta kesiapan yang dilakukan sebelum perlombaan oleh tim.

"Tim yang meliputi perakitan kembali kemudian melakukan test drive final sebelum mobil siap berlaga dalam perlombaan dilaksanakan selama dua hari. Waktu yang sedikit tersebut digunakan sebaik mungkin oleh anggota tim untuk mempersiapkan dan merakit kembali kendaraan yang sebelumnya telah dikirim ke Korea Selatan pada tanggal 12 Mei lalu via Garuda Cargo. Kedua mobil sendiri diberangkat ke Korea melalui Bandara Adisucipto Yogyakarta dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia,"

Dyah mengatakan usaha tim dalam kompetisi ini belumlah selesai. Meski sempat ada sedikit masalah dalam manuverbility hal itu tidak akan mematahkan semangat untuk memberikan penampilan terbaik.

"Hari ini akan dilaksanakan perlombaan untuk kategori endurance yang dilanjutkan dengan penentuan juara umum dan the best creative technology. Kita doakan saja semoga tim mobil kebanggaan Indonesia ini mampu membawa bendera kemenangan tertinggi dalam kompetisi tersebut, untuk Indonesia," ungkapnya. (detikOto)

KRI Banjarmasin Berlabuh di Busan

KRIbanjarmasin

KRI Banjarmasin-592 telah merapat ke pelabuhan Busan dalam rangkaian kunjungan persahabatan ke Korea Selatan (Korsel) pada tanggal 27-29 April 2014. Kapal Angkatan Laut RI yang mengangkut 132 awak dan 89 Taruna AAL ini berkunjung ke Korsel dalam rangkaian pelayaran Kartika Jala Krida (KJK) ke beberapa negara sahabat, yaitu RRT, Korea Selatan, Jepang dan Filipina. Lawatan persahabatan tersebut sekaligus dipergunakan untuk memperkenalkan KRI Banjarmasin yang merupakan kapal perang hasil karya anak bangsa, yaitu PT. PAL, dan mulai dioperasikan di jajaran TNI AL pada tahun 2009.

Selengkapnya...

Lantik Pejabat Eselon I, Menlu RI Tekankan Etos Kebersamaan dalam Tugas

Eselon1.1

Menteri Luar Negeri RI Dr. R. M. Marty M. Natalegawa, telah melantik tujuh pejabat Eselon I di Lingkungan Kementerian Luar Negeri RI pada hari Rabu (23/04) bertempat di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI. Menlu RI menekankan etos kebersamaan dalam pelaksanaan tugas sembari mengucapkan selamat kepada para pejabat yang dilantik.

Menlu Marty juga menyampaikan harapannya agar tugas berat dapat dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesungguhan.

Situasi nasional dan internasional, lanjut Menlu RI, menuntut seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri untuk bekerja lebih keras lagi dalam melanjutkan karya bakti pada Nusa dan Bangsa.

Tugas-tugas strategis dalam pengelolaan informasi dan kerja sama teknik, penasehat Pemerintah RI terkait hukum internasional, pengkajian kebijakan untuk menggali potensi dan tantangan yang ada menjadi peluang ke depan, serta mengembangkan SDM, manajemen, hubungan kelembagaan sesuai dengan tertib administrasi, keuangan dan segala bentuk tertib lainnya.

Di akhir sambutannya, Menlu RI menekankan pentingnya untuk selalu memupuk etos team work yang baik, "karena tugas-tugas yang berat akan lebih ringan dirasakan dengan kerja sama dan tanggung jawab bersama".

Dalam kesempatan tersebut, para pejabat struktural Eselon I yang dilantik adalah:

1. Drs. Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo sebagai Sekretaris Jenderal;
2. Muhammad Ibnu Said, S.H. sebagai Inspektur Jenderal;
3. Ferry Adamhar, S.H., LL.M. sebagai Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional;
4. Dra. R. A. Esti Andayani sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik;
5. Drs. Darmansjah Djumala, M.A. sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan;
6. Salman Al Farisi, S.E. sebagai Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan; dan
7. R. Bagas Hapsoro, S.H., M.A. sebagai Staf Ahli Bidang Manajemen. (Sumber: Dit. Infomed)

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014