RI Gaet Investor Infrastruktur asal Korsel

21617613 1331304720332012 5277916658761567051 n

Niat Pemerintah untuk membangun infrastruktur tidak main-main. Untuk menuntaskan program yang telah dicanangkan, Menteri PPN berusaha gaet investor Korea Selatan.

Demikian inti dari kegiatan Indonesia Infrastructure Investment Forum (IIIF) yang dihelat di Seoul, 20 September 2017. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas), Bambang Brodjonegoro menandaskan, Indonesia pantang surut langkah dalam meningkatkan pembangunan infrastruktur nasional.

"Infrastruktur adalah prioritas pembangunan karena merupakan bagian penting dari Nawacita. Indonesia ingin menarik investasi Korsel melalui kemitraan pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP)," ujarnya. "Sejak dulu kami percaya dengan Korsel. Jagorawi adalah proyek tol pertama di Indonesia yang dibangun oleh kontraktor Korea," imbuhnya.

Dihadapan 200 calon investor negeri ginseng, Bambang meyakinkan bahwa Indonesia tetap merupakan negara tujuan ideal bagi investasi. Dengan populasi sebesar 255 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Indonesia merupakan negara yang menarik bagi investor asing.

Gayung bersambut. Antusiasme hadirin terlihat jelas pada forum investasi ini. Pertanyaan-demi-pertanyaan terkait proyek infrastruktur dilontarkan. Secara lugas para peserta menggali info riil seperti prosedur pembebasan lahan; insentif-insentif yang ditawarkan Pemri; hingga peluang-peluang investasi yang bersifat non-konvensional.

Untuk menyukseskan kemitraan tersebut Bappenas menggandeng KEXIM selaku bank pendanaan proyek investasi Korsel di luar negeri. Bappenas bersama KEXIM menawarkan lebih dari 50 proyek di bidang energi, jalan tol, bandara udara dan pelabuhan. Dalam IIIF ini Bappenas mengajak mitra kerja dari Indonesia untuk bertemu langsung dengan komunitas bisnis Korsel. 

Dalam kesempatan itu, Dubes Umar Hadi sempat menjelaskan logika target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang antara lain harus ditopang infrastruktur yang memadai. Adapun Wakil Presiden KEXIM menggaransi bahwa pihaknya akan mendukung pembiayaan bagi proyek infrastruktur di Indonesia.

Selain hadir di bisnis forum IIIF, Menteri PPN bertemu dengan berbagai CEO perusahaan besar Korsel yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek di bidang energi, jalur kereta api, pengolahan minyak dan jalan tol. ()

 

Diresmikan, Kelas Gamelan bagi Warga Korea

Opening Gamelan

Antusiasme warga Korsel untuk belajar menabuh gamelan Jawa tak terbendung. Kelas yang disediakan sempat tidak muat.

Pembukaan kelas gamelan Jawa di halaman KBRI Seoul (17/09/17) untuk warga negeri kimchi berlangsung meriah. Selain dihadiri oleh puluhan calon peserta kelas gamelan, juga hadir para indonesianis dan alumnus penerima beasiswa Darmasiswa serta seni budaya.

Acara di Minggu sore tersebut dimeriahkan oleh group gamelan Laras Garis asuhan ki Sugiarto dan tarian oleh Kelompok Tari Tradisional Indonesia yang telah lebih dahulu berdiri. Selain itu, ada juga kelompok reog Singo Mudho Korea yang dimotori oleh para pekerja Indonesia di Korea.

Dalam sambutannya, Dubes Umar Hadi menerangkan filosofi dari gamelan yang merupakan esensi dari kehidupan yang harmonis. Menurutnya, irama musik gamelan yang bersahutan dengan teratur merupakan sebuah cita-cita kehidupan manusia, yakni saling mengisi dan bersinergi.

"Gamelan yang dimainkan oleh orang asing juga merupakan sebuah fenomena pertemuan budaya. Saya berharap, gamelan juga bisa memperkaya budaya dunia," ujarnya.

Kursus gamelan Jawa bagi warga Korea angkatan pertama, awalnya hanya dibuka untuk satu kelas saja. Namun karena yang mendaftar mencapai 39 warga Korea, maka dibuat dua kelas sekaligus. Mereka akan berlatih setiap hari Sabtu di KBRI Seoul dibawah asuhan ki Sugiarto.

Dua bulan lalu, Group Laras Garis yang terdiri dari warga Indonesia dan Korea Selatan telah mampu mengoptimalkan gamelan Jawa yang ada di KBRI. Group Inilah yang kemudian mematik banyak warga Korsel untuk belajar gamelan.

Di masa datang, KBRI Seoul ingin menyelenggarakan festival gamelan di Korsel. Terdapat beberapa universitas dan kelompok masyarakat Indonesia yang memiliki gamelan.

Gamelan adalah alat musik tradisional Jawa yang sudah berusia ratusan tahun. Musik ini dimainkan secara bersama-sama sehingga menghasilkan bunyi yang indah dan harmonis. ()

Mengapa Wisatawan Korea ke Indonesia Meningkat lebih dari 45%?

17264162 1142873799156567 1632917667955318402 n

Data yang dirilis Korea Tourism Organization (KTO) menunjukkan jumlah wisatawan Korea Selatan  yang bepergian ke luar negeri pada Juli 2017 berada pada angka 2.384.447 atau naik sebesar 14,5% dari tahun lalu. Dari angka tersebut jumlah wisatawan yang ke Indonesia meningkat hingga 45,2% dibandingkan tahun lalu. Fantastis!

Salah satu faktor yang diperkirakan menjadi pendorong meningkatnya jumlah wisatawan Korsel ke Indonesia adalah kepopuleran acara Youn's Kitchen yang ditayangkan oleh stasiun televisi TvN yang tayang pada Maret-Mei 2017.

Pada awal 2017, seorang penulis dan produser dari stasiun televisi TvN datang ke KBRI Seoul untuk menginfokan pihak KBRI Seoul perihal rencana syuting di Indonesia dan meminta rekomendasi tempat syuting. Pejabat Fungsi Pensosbud Diplik yang pada saat itu menemui kedua orang dari TvN kemudian merekomendasikan Lombok sebagai tempat syuting.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada KBRI Seoul atas rekomendasi yang diberikan," ujar Lee Jinju, salah satu produser Youn's Kitchen pada acara konferensi pers penayangan Youn's Kitchen.

Benar saja, tayangan tersebut mendapat sambutan yang heboh dari masyarakat negeri ginseng. Kemasan dan pengambilan gambar yang menarik membuat Lombok tampak seronok dan menggoda masyarakat Korea Selatan untuk singgah.

Sambutan yang positif dari masyarakat Korea kemudian mendorong Korean Air berani untuk membuka charter flight Incheon-Lombok selama 5 gelombang. Tiga penerbangan yang telah berangkat diantaranya penerbangan tanggal 29 Juli, 2 Agustus dan 6 Agustus. Dua flight lainnya akan terbang pada 1 Oktober dan 5 Oktober mendatang.

Sales record 3 penerbangan pertama mencapai rata-rata 94%. Penjualan tiket penerbangan pada 2 Agustus bahkan mencapai 100%. Wow!

Selain Youn's Kitchen, beberapa acara televisi populer lain yang mengambil lokasi syuting di Indonesia pada tahun 2017 diantaranya adalah Law of the Jungle edisi Sumatra dan Pulau Komodo (SBS), Battle Trip di Bali (KBS), dan Running Man di Yogyakarta (SBS). Program Running Man saat ini sedang menunggu jadwal tayang.

Menurut M. Aji Surya, Koordinator Fungsi Pensosbud Diplik KBRI Seoul, penayangan reality show yang berlokasi di Indonesia merupakan cara promosi pariwisata yang cukup efektif untuk menggaet turis Korea Selatan bertandang ke Indonesia.

"Melalui acara-acara televisi tersebut masyarakat negeri kimchi ternganga melihat keindahan dan keunikan Indonesia yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Pesonanya membuat mereka berbondong-bondong berlibur ke Indonesia," ujar Aji.

Karenanya KBRI pun berjanji akan terus mengajak pihak-pihak terkait di Indonesia untuk memberikan perhatian lebih pada para pelamar visa awak syuting. "Situasi di bidang pertelevisian kerap kali menuntut pembuatan visa yang lebih cepat. Saya berjanji akan terus berupaya memberikan pelayanan yang baik dan mengajak pihak-pihak terkait di Indonesia untuk memroses pembuatan visa syuting bisa lebih cepat," tandas Aji.

Pada awal Oktober, tepatnya 2-9 Oktober 2017, masyarakat Korea Selatan akan menikmati libur panjang. Jumlah turis outbound diperkirakan akan meningkat daripada tahun lalu, begitu pula dengan jumlah turis yang melancong ke Indonesia.

Sst, Indonesia Pamer Sarung di Gwangju

WhatsApp Image 2017-09-08 at 3.47.13 PM

Tanpa disadari, sarung Indonesia dinilai banyak orang eksotik. Tidak heran kalau sarung-sarung Indonesia dipamerkan di Korsel.

Aneka sarung khas indonesia "berkibar" di Gwangju. Warna-warninya yang begitu meriah membuat banyak pengunjung pameran tertegun dan mematik aneka pertanyaan.

Begitulah salah satu sudut Gwangju Design Biennale 2017 yang dibuka oleh Walikota Gwangju, Yoon Jang-hyun dan Presiden Gwangju Design Center, Park You-bok, 7 September lalu. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh Gwangju, beberapa perwakilan diplomatik (Hungary dan Denmark) dan masyarakat kota Gwangju.

"Terima kasih Indonesia telah ikutserta. Gwangju juga memerupakan sister city dengan Medan lho," ujar sang Walikota.

Dalam sambutan pembukaannya, Presiden Gwangju Design Center menyampaikan bahwa Gwangju Design Biennale ini bertujuan untuk menampilkan visi desain, nilai dan perannya dalam masyarakat yang berbasis pengetahuan masa depan dalam menyambut Revolusi Industri Keempat. Sementara Walikota Yoon menyampaikan bahwa Gwangju Design Biennale telah menjadikan Gwangju sebagai hub budaya di Asia.

Pameran tersebut diselenggarakan di Gwangju Museum of Art, Asia Culture Center, Gwangju, Provinsi Jeolla Selatan dari tanggal 8 September – 23 Oktober 2017. Dengan mengangkat tema “future” yang mencerminkan kekuatan desain dalam masyarakat kreatif di masa depan, pameran ini diikuti oleh 222 artis, 174 perusahaan dari 30 negara, termasuk Indonesia. Pameran tersebut diperkirakan akan didatangi oleh 200 ribu pengunjung.

KBRI ikut berpartisipasi dengan memamerkan aneka sarung Nusantara di event tersebut. Sarung Indonesia dipajang di salah satu corner bersama dengan negara-negara ASEAN.

Selain sarung, produk Indonesia yang ikut dipamerkan adalah seperangkat sofa rotan (linger bench) yang didesain oleh Alvin Tjitrowirjo dan boneka kain berbentuk ayam yang merupakan koleksi pribadi Direktur Gwangju Design Center. ()

Arsitek Indonesia Unjuk Gigi di Seoul

WhatsApp Image 2017-09-04 at 3.38.04 PM

Sebanyak 54 karya arsitek Indonesia dipamerkan di sebuah art-space di Seoul pada event bertajuk "Indonesian Architect Week @Seoul 2017". Tidak tanggung-tanggung, 198 arsitek Indonesia hadir saat pembukaan.

Pihak penyelenggara berharap ajang ini dapat ikut mempopulerkan peran dan karya arsitek Indonesia di dunia internasional. Para komunitas arsitek maupun penikmat arsitektur di Korea dapat menikmati karya-karya tersebut mulai 2 - 10 September mendatang.

Duber Umar Hadi yang hadir untuk dalam pembukaan acara tersebut pada Sabtu (2/9) menyatakan dirinya sangat bangga dapat melihat karya para arsitek Indonesia dipamerkan di Korea.

"Saya bangga dapat melihat karya-karya arsitek Indonesia di Korea dan saya sangat senang melihat para arsitek muda Indonesia masa kini lebih asertif untuk menjalin kerjasama dan hubungan baik dengan arsitek dari luar negeri lainnya," ujar Dubes Umar Hadi yang disambut riuh tepuk tangan para tamu undangan.

"Dari apa yang dipamerkan saya menangkap adanya kejelian para arsitek untuk meng capture hubungan harmonis antara manusia - alam dan sang pencipta," imbuhnya.

Kegiatan sejenis sebelumnya pernah diadakan arsitek Indonesia di Jepang dengan tajuk "Architects Weeks @Tokyo 2011". Salah satu hal yang menjadikan pameran di Seoul lebih unik adalah tempat penyelenggaraan yang dulunya merupakan pemandian umum dengan nama Haenghwatang.

Haenghwatang dibangun pada tahun 1958 namun kemudian ditutup pada tahun 2000 seiring dengan menjamurnya fasilitas sauna dan spa mewah lainnya. Pada tahun 2016, Seo Sanghyeok, seorang produser kreatif, menjadikan tempat tersebut sebagai multi-cultural art-space.

Seo nampaknya tidak ingin menghilangkan nuansa pemandian umum dari tempat tersebut. Dinding di ruang display masih berupa dinding keramik khas pemandian umum, salah satu sisi tembok bahkan dihiasi papan yang terlihat seperti loker untuk menyimpan peralatan mandi.

Menurut Danny Wicaksono, salah seorang kurator pameran, konsep art space ini cocok dengan tema kongres Persatuan Arsitek Dunia (UIA) tahun ini yaitu "Soul of City".

"Dengan konsep Soul of City, kami bermaksud menyampaikan cerita mengenai reaksi para arsitek Indonesia dalam menghadapi situasi perkotaan yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Sensitivitas dan kecerdikan arsitek-arsitek profesional Indonesia dalam mengolah gagasan arsitektur ketika berhadapan dengan masalah perkotaan dapat terlihat dalam karya-karya yang dipamerkan," ujar Danny.

Pada hari yang sama, telah diselenggarakan pula pembukaan Seoul Bienalle of Architecture and urbanism di Dongdaemun Design Plaza yang juga diikuti oleh para arsitek Indonesia. Seoul Bienalle merupakan acara yang diorganisir oleh Pemerintah Kota Seoul dan Seoul Design Foundation. ()

Indonesia Pimpin Kelompok Kerja di PTM FEALAC

fealac2

Mengawali Pertemuan Tingkat Menteri Forum for East Asia – Latin America Cooperation (FEALAC) ke-8, Indonesia memimpin kelompok kerja (pokja) perdagangan guna membahas langkah konkret optimalisasi perdagangan antara kawasan Asia TImur dan Amerika Latin.

Pertemuan tersebut antar lain telah membahas proyek-proyek yang telah dilaksanakan oleh negara-negara anggota FEALAC sejak tahun 2015, proyek usulan baru tahun 2017, serta usulan pemilihan Co-Chairs Pokja periode 2017-2019.

“FEALAC saat ini mewakili 38 persen ekonomi dunia dan 33 persen perdagangan global. FEALAC perlu memaksimalkan peluang ekonomi yang tersedia di kedua kawasan,” kata Dewi Gustina Tobing, Direktur Kerja Sama Intra Kawasan Amerika Eropa – Kementerian Luar Negeri sebagai Alternate FEALAC SOM Leader-Indonesia saat membuka pertemuan pokja tersebut di Busan, Korea Selatan tanggal 29 Agustus 2017.

Selain kelompok kerja perdagangan, investasi pariwisata dan UKM, pertemuan juga membahas isu kerja sama sosial politik dan pembangunan berkelanjutan, budaya, pemuda, gender dan olahragi, ilmu pengetahuan, teknololgi, inovasi dan pendidikan pada pokja berbeda.

Saat ini Indonesia menjabat sebagai Ketua Pokja perdagangan, investasi pariwisata dan UKM periode 2015-2017 mewakili kawasan Asia Timur, bersama dengan Honduras yang mewakili kawasan Amerika Latin.

Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-8 FEALAC dan rangkaian kegiatannya diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus – 1 September 2017 di Busan, Korea Selatan. Selaku tuan rumah, Korsel merupakan Koordinator Regional FEALAC kawasan Asia Timur bersama dengan Guatemala selaku Koordinator Regional FEALAC kawasan Amerika Latin periode 2015-2017.

FEALAC adalah satu-satunya organisasi yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Amerika Latin. FEALAC dibentuk sejak tahun 1999 dan saat ini beranggotakan 36 negara; 16 negara kawasan Asia Timur dan 20 negara kawasan Amerika Latin.

Proyek-proyek dalam kerangka kerja sama FEALAC bertujuan untuk mempererat hubungan antara kedua kawasan antara lain melalui kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, transportasi maupun people-to-people. ()

Welcome FEALAC Youth Forum and FEALAC Youth Center

fealac1

Anak muda dari kawasan yang secara geografis terletak berjauhan, sebentar lagi dapat berinteraksi dengan mudah melalui satu forum yang dinamakan FEALAC Youth Forum and FEALAC Youth Center. Usulan ini merupakan perwujudan dari Konferensi Pemuda FEALAC di Bandung tahun 2015 yang lalu.

Komitmen ini Indonesia sampaikan pada Pertemuan ke-18 Pejabat Senior FEALAC (Forum for East Asia – Latin America Cooperation) yang diselenggarakan di Busan, Korea Selatan pada tanggal 30 Agustus 2017. Pertemuan dipimpin oleh Korea Selatan, Koordinator Regional FEALAC kawasan Asia Timur, bersama dengan Guatemala, Koordinator Regional FEALAC kawasan Amerika Latin periode 2015-2017.

“FEALAC Youth Forum akan menjadi wadah online bagi para pemuda di Asia Timur dan Amerika Latin untuk saling berinteraksi dan melakukan kegiatan yang dapat memacu kreativitas anak muda kedua kawasan,” ujar Dewi Gustina Tobing, Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa selaku Alternate FEALAC Senior Officials’ Meeting (SOM) Leader Indonesia.

“Sementara itu, FEALAC Youth Center yang berlokasi di Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi kegiatan yang diselenggarakan oleh FEALAC Youth Forum, termasuk menyebarkan dan mendiskusikan rencana kegiatan yang menarik minat para pemuda di kawasan Asia Timur dan Amerika Latin tersebut”, Umar Hadi, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan yang hadir pada pertemuan tersebut menambahkan.

Keseriusan Indonesia mewadahi forum pemuda antar dua kawasan tersebut berlanjut dengan kesediaan Indonesia yang didukung Ekuador untuk menjadi Ketua Kelomok Kerja FEALAC Budaya, Pemuda, Gender dan Olahraga periode 2017-2019.

Pertemuan lebih lanjut menyambut baik usulan Indonesia untuk menetapkan “FEALAC Day” agar dapat diperingati oleh setiap negara anggota FEALAC sebagai bagian dari meningkatkan FEALAC Awareness. Hal ini akan dibahas kembali pada Pertemuan ke-19 Pejabat Senior FEALAC tahun 2018.

FEALAC merupakan satu-satunya organisasi yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Amerika Latin. FEALAC dibentuk sejak tahun 1999 dan saat ini beranggotakan 36 negara; 16 negara kawasan Asia Timur dan 20 negara kawasan Amerika Latin. Proyek-proyek dalam kerangka kerja sama FEALAC bertujuan untuk mempererat hubungan antara kedua kawasan antara lain melalui kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, transportasi maupun people-to-people.

Begini Profil Hajat, TKI Teladan 2017 Ala KBRI Seoul

WhatsApp Image 2017-08-31 at 9.13.11 AM

Agustus 2017 mungkin menjadi bulan yang keramat bagi Hajat Febrianto (31), seorang TKI asal Kendal yang telah bekerja selama 6 tahun di Korea Selatan. Pasalnya, kerja keras dan dedikasinya terhadap pekerjaannya telah diganjar Ambassador Award serta uang tabungan sebesar 2 juta won (Rp 23 juta) dari BNI dan BPJS Ketenagakerjaan (27/08/17). Alhamdulillah.

Hajat adalah pria yang bisa dibilang sangat ulet. Datang ke Korea Selatan pada tahun 2011 dengan visa setengah terampil (E-9). Namun, tahun lalu, pria sederhana itu telah mampu mengubahnya menjadi visa terampil (E-7). Visa E-7 merupakan visa yang diberikan kepada warga negara asing di Korea yang memiliki skill tertentu, alias seorang yang dalam katagori ahli.

Untuk mendapatkan visa jenis ini seorang TKI harus sudah bekerja minimal 4 tahun di perusahaan yang sama (tidak pindah), meraih sertifikat kemampuan bahasa Korea tingkat menengah (TOPIK II level 3 atau 4), serta mendapat rekomendasi dari perusahaan.

"Direktur saya yang memberikan informasi dan merekomendasi untuk ganti visa dari E-9 ke E-7," ujar Hajat. "Wakil CEO saya bahkan ikut membantu saya membuatkan kliping pelajaran bahasa Korea sehingga saya bisa lolos level 3 TOPIK II," tambah bapak dari dua anak ini.

Menurut Hajat, sikapnya yang berdedikasi kepada perusahaan merupakan salah satu faktor perusahaannya berani memberikan rekomendasi untuk mengganti status visanya di Korea. Selama 6 tahun bekerja, Hajat mengaku belum pernah bolos ataupun tidak masuk karena alasan apapun.

Selain tugas utama dalam pekerjaan, Hajat juga kerap kali membantu hal-hal lainnya seperti menyapu area di sekitar pabrik dan menjadi jembatan komunikasi antara bos perusahaan (sajangnim) dan pekerja Indonesia lainnya.

Dedikasi merupakan hal yang sulit dipertahankan karena dari kanan kiri banyak tawaran untuk bekerja dengan gaji yang lebih menggiurkan. Apalagi dengan skill Hajat yang menguasai hampir semua mesin di tempat kerjanya.

Hajat mengaku pernah menolak tawuran untuk bekerja di tempat lain dengan gaji sekitar 2,5 juta won per bulan (Rp 29 juta), padahal di tempatnya sekarang Hajat hanya menerima sekitar 2,1 juta won (Rp 25 juta) per bulan.

"Saya pernah dapat tawaran untuk bekerja di tempat lain, waktu kerjanya lebih pendek dan ditawari gaji lebih besar, tapi perusahaan ini sudah membawa perubahan besar kepada saya dan keluarga. Saya sangat berterima kasih pada perusahaan ini," ungkap Hajat.

Dengan visa E-7 yang kini dipegangnya Hajat bisa terus tinggal dan bekerja di Korea Selatan selama perusahaan memperbaharui kontraknya setiap tahun.

Perusahaannya bahkan meminta untuk kembali meng-upgrade status visanya serta menawarinya untuk menghijrahkan keluarganya tinggal di negeri kimchi dengan bantuan fasilitas rumah tinggal. Namun, godaan ini tidak serta merta ia terima.

"Saya rencananya mau pulang tahun depan. Rencananya saya mau buka toko kamera dan lampu LED di Grogol dengan Kakak saya," kata Hajat yang sudah menghasilkan rumah dan sawah serta modal untuk usaha di Indonesia.

Hajat saat ini bekerja di perusahaan metal. Sebelum ke Korsel, ia pernah bekerja jadi teknisi eletronik hingga bidang pemasaran. Ia kini telah memiliki toko alat listrik di daerah Boja, Kendal.

Hajat memang tepat dipilih sebagai TKI Teladan dan mendapatkan Ambassador Award. Ia merupakan salah seorang TKI ideal menurut kriteria Dubes Umar Hadi: Setelah sukses di Korea segera pulang untuk meraih sukses yang lebih tinggi di Indonesia sebagai pengusaha. ()

"Ambassador Award" bagi CEO dan TKI berprestasi

WhatsApp Image 2017-08-28 at 4.56.07 PM

TKI di Korsel paling mujur dari sisi perlindungan dan pendapatan. Namun peningkatan masih terus diupayakan. Itulah mengapa "Ambassador Award" diberikan.

Saat matahari pulang ke peraduannya kemarin, Dubes Umar Hadi menganugerahkan "Ambassador Award" kepada dua pimpinan perusahaan Korsel. Keduanya dinilai memberikan hak-hak lebih kepada TKI. Inilah salah satu cara KBRI Seoul melindungi warganya.

Kegiatan yang dihelat Minggu sore ini (27/08) merupakan acara tahunan KBRI Seoul yang dimulai tahun lalu, namun kali ini lebih spesial. Khusus CEO penerima penghargaan, selain harus memenuhi kriteria peningkatkan hak-hak TKI, di perusahannya juga harus tidak pernah ada TKI yang meninggal atau mengalami kecelakaan kerja.

CEO penerima anugerah kali ini adalah Kim Moon-go (Senyeong Precise Enginerinh Co.) dan Seo Bo-Sung (Daewon GSI Co.). Perusahaan pertama mempekerjakan 11 TKI dan bergerak di bidang pembuatan kompor gas dan alat rumah tangga. Perusahaan kedua memiliki 12 TKI yang berfokus pada pembuatan mesin penggilas padi. Perusahaan dimaksud sejak 2004/2005 hanya mempekerjakan tenaga kerja Indonesia.

WhatsApp Image 2017-08-28 at 4.56.07 PM1

"Jujur saja, sampai sekarang saya belum berpikir untuk mengambil tenaga kerja selain dari Indonesia. Mereka berhati hangat, rajin dan ulet," kata Kim Moon-go. "Kalau saya, selalu usahakan agar mereka (TKI) bisa beribadah pada waktunya," sahut Seo Bo-Sung diatas panggung.

Dubes Umar menggarisbawahi pentingnya Ambassador Award ini karena dapat memotivasi perusahaan lain melakukan hal yang sama bagi TKI di Korea yang jumlahnya mencapai 36 ribu orang. Kedua CEO telah terpilih melalui seleksi yang sangat ketat yang dilakukan oleh tim khusus yang terdiri dari perwakilan organisasi masyarakat bersama KBRI.

"Atas nama Pemerintah Indonesia, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada kedua sajangnim (CEO). Anda telah memperlakukan TKI dengan sangat baik. Anda adalah inspirasi bagi para CEO. Selain penghargaan, Anda juga berhak tiket liburan ke Indonesia PP," kata Dubes yang disambut dengan tepuk tangan 200 hadirin yang memenuhi ruang tamu Wisma Duta.

Di sisi lain, Dubes menyatakan prihatin atas beberapa musibah yang dialami WNI dalam dua tahun terakhir. Dikatakan, pada dasarnya, keselamatan dan kesehatan pekerja di Negeri Kimchi sudah relatif baik, namun harus terus ditingkatkan demi kesejahteraan TKI. Jadi bukan soal angka, tetapi lebih ke soal pencegahan.

"Oleh karenanya, hari ini saya nyatakan sebagai hari mulainya kampanye keselamatan dan kesehatan kerja. KBRI akan melakukan pendekatan sistematis kepada perusahaan pengguna TKI, Pemerintah Korsel dan juga para TKI. Targetnya, tidak ada lagi korban sia-sia. TKI harus sukses di Korea Selatan dan sukses jadi pengusaha saat pulang kelak," ujarnya.

Menurut Kepala Fungsi Penerangan KBRI, M Aji Surya, yang juga berbeda dari tahun lalu, kali ini Ambassador Award juga diberikan kepada 3 WNI/TKI. Hajat Febrianto dinobatkan sebagai TKI teladan, Suwardi menjadi WNI Peduli budaya dan persatuan WNI, sedangkan Eko Darmiyanti sebagai diaspora peduli TKI di Korea. Masing-masing diganjar dengan Ambassador Award dari KBRI dan tabungan 2 juta Won (Rp 23 juta) dari BNI dan BPJS Ketenagakerjaan.

Pemilihan ketiga WNI tersebut didasarkan beberapa kriteria yang diputuskan oleh perwakilan masyatakat Indonesia di negeri ginseng. Penerima anugerah dinilai bisa menjadi contoh TKI lain dan warga Indonesia di luar negeri.

"Saya berpesan kepada teman-teman disini agar memperhatikan keselamatan dalam bekerja. Jangan lupa menggunakan helm dan peralatan keselamatan lain," kata Hajat. "Kalau saya boleh menghimbau, mari kita saling membantu satu dan lainnya agar beban makin ringan," kata Suwardi.

Malam penganugerahan yang dihadiri mantan Menlu Hasan Wirajuda itu juga ditandai dengan penandatanganan pemberdayaan TKI antara BNI dan KBRI Seoul yang diwakili oleh Managing Direktur Hubungan Kelembagaan BNI, Adi Sulistyowati, dan Koordinator Fungsi Protokol Konsuler KBRI, Fuad Adriansyah.

Selain itu, 5 TKI yang berstatus mahasiswa Universitas Terbuka cabang Korea Selatan juga mendapat beasiswa dari BNI karena nilai dan kerajinannnya diatas rata-rata.()

Dong-Jin akan Produksi Tekstil untuk Sepatu Papan Atas di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-24 at 10.05.41 AM

PT Dong-Jin Textile Indonesia, perusahaan PMA 100% asal Korea Selatan, akan mulai produksi tekstil bahan sepatu 'sneakers' di Karawang, Jawa Barat, mulai awal tahun 2019. Dengan rencana investasi sekitar Rp 330 milyar, perusahaan ini tahun depan bergegas pembangunan pabriknya kawasan industri di Karawang. Nantinya pabrik tersebut akan mempekerjakan 500-an orang karyawan.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Presiden dan pemilik Dong-Jin Textile Co., LTD, Choi Woo-Chui, dalam kunjunga Dubes Umar Hadi ke kantonya di kota Busan, Korea Selatan, hari Rabu, 23 Agustus 2017. Keduanya bersama tim membahas cara-cara pengembagan usaha Dong-jin Textie di Indonesia.

Dubes Umar Hadi menyampaikan concern terhadap investasi dari Korea Selatan yang tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja juga sebagai substitusi impor yang sekaligus menambah komoditas ekspor.

"KBRI Seoul akan membantu menghubungkan perusahaan dengan lembaga-lembaga pendidikan seperti SMK dan Sekolah Tinggi Tekstil di Indonesia agar bisa mulai merekrut tenaga-tenaga terampil," kata Dubes RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi.

Pimpinan Dong-Jin menjelaskan bahwa pabriknya di Karawang akan menjadi fasilitas produksi ke-4 di luar Korea Selatan. Sebelumnya, 3 pabrik sudah dibangun dan berproduksi di Vietnam. Produk Dong-Jin adalah tekstil sintetis bahan sepatu 'sneakers' yang sebagian besar menjadi pasokan bagi merek terkenal seperti Nike dan Adidas. Tekstil produksinya dikenal berkualitas tinggi, ringan, dan nyaman di kaki (breathable). Teknologi tinggi diterapkan baik dalam desain produk maupun proses produksinya.

Pabrik yang akan didirikan di Karawang akan menerapkan standar teknologi yang sama dengan di Korea Selatan, termasuk dalam soal pengolahan limbah. Jadi aman untuk lingkungan.

Pada kesempatan kunjungan ke pabrik Dong-Jin itu, Dubes Umar diperkenalkan kepada 8 orang TKI yang bekerja di sana. Imam, 27 tahun, asal Ngawi, yang sudah bekerja hampir 2 tahun, mengatakan bahwa meskipun kerjanya berat, dia merasa senang karena gaji cukup besar, dapat kamar asrama di lokasi pabrik dan dapat makan tiga kali sehari. "Kami tidak ada keluhan apa pun Pak," kata Imam kepada Dubes Umar.

Dubes Umar Hadi berpesan agar Imam dan kawan-kawan menjaga kesehatan dan disiplin dalam hal keselamatan kerja. "Setelah bekerja di sini sesuai kontraknya, adik-adik harus bisa pulang ke kampung halaman dengan badan sehat, pengalaman kerja, dan tabungan banyak, sehingga bisa buka usaha sendiri nantinya," pesan sang Dubes.

Saat ini, terdapat sekitar 2000 perusahaan Korea Selatan berinvestasi di Indonesia. Pada saat yang sama, 36 ribu pendulang devisa Indonesia bekerja di berbagai perusahaan di negeri ginseng. ()

Teknologi Hybrid Antarkan Anak Solo Jadi Doktor di Korea

WhatsApp Image 2017-08-23 at 12.46.30 PM

Pendekatan baru yang dikenal dengan hybrid ternyata bisa dipakai dalam pemisahan senyawa kimia. Tidak main-main, teori itu ditemukan oleh seorang anak muda Indonesia di Yeungnam University, Korsel.

Anak muda asal Solo yang besar di Jakarta dan Yogyakarta itu mengaku langsung mendapat pekerjaan "basah" di Korea. Setelah jago, ia baru akan pulang kampung.

Dengan disertasi berjudul "Hybrid Separation Approach for Solving Azeotropic and Close-Boiling Mixtures", Gregorius Rionugroho Harvianto menawarkan suatu pendekatan yang efisien. Diharapkan, teorinya ini bisa dikembangkan untuk kemnafaatan yang lebih besar.

Sebagaimana diketahui, teknologi pemisahan senyawa kimia merupakan proses yang digunakan untuk mendapatkan produk yang murni dari campuran senyawa kimia.

Pengolahan minyak bumi yang merupakan campuran hidrokarbon, misalnya, akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dalam keadaan murni seperti produk yang dikenal di pasaran, layaknya LPG, pelumas, aspal, avtur, gasoline. Teknologi pemisahan yang hemat energi dan efektif sangat dibutuhkan dalam keberlanjutan industri kimia dan petrokimia.

Salah satu permasalahan utama dalam pemisahan adalah saat terdapat campuran senyawa kimia yang memiliki kondisi tidak ideal (biasa disebut azeotrop) dan atau titik didih yang sangat dekat antara satu senyawa dengan senyawa lainnya.

Secara konvensional, dibutuhkan teknologi yang kompleks dan mahal untuk mendapatkan produk dengan kemurnian tinggi jika di dalam senyawa kimia yang akan dipisahkan terdapat permasalahan tersebut.

Terdapat bermacam proses pemisahan yang umumnya beroperasi secara individu, seperti: distilasi, ekstraksi, membran, absorpsi, dll.

Disertasi ini menawarkan pendekatan teknologi hybrid yang secara signifikan dapat mengurangi kebutuhan biaya dan energi demi keberlangsungan industri. Teknologi hybrid ini memaksimalkan potensial masing-masing teknologi pemisahan yang digabungkan serta mengeliminasi kekurangan dari masing-masing teknologi tersebut.

Teknologi hybrid ini didesain dengan pendekatan melalui proses simulasi dengan menggunakan simulator komersial yang umumnya digunakan di industry.

Menurut Rio, demikian ia dipanggil, teorinya disusun selama 3.5 tahun dengan berbagai kesulitan, seperti data eksperimen yang belum ada untuk senyawa tertentu, sehingga harus melakukan eksperimen untuk pengujian sebelum membuat desain teknologi hybrid tersebut.

Selain itu, model membran yang tidak terdapat dalam simulator, sehingga pembuatan model matematis diperlukan terlebih dahulu sebelum menawarkan desain.

Dalam disertasi ini, terdapat berbagai contoh studi kasus pada industri kimia dimana teknologi hybrid yang diajukan menunjukkan performa yang lebih baik (dari segi biaya dan ramah lingkungan) dibandingkan teknologi konvensional yang saat ini digunakan di industri.

Setelah lulus, Rio mengaku akan bekerja sebagai konsultan teknik kimia di kota Ulsan, tepatnya di kawasan industry “Onsan Industrial Complex” dimana terdapat “Onsan Refinery” merupakan kilang minyak terbesar ke-5 di seluruh dunia dengan kapasitas sebesar 669.000 barrel per hari.

"Di sana saya akan belajar lebih dalam mengenai teknologi tingkat tinggi dalam proses pemisahan senyawa industry kimia, khususnya implementasi secara nyata. Sehingga, besar harapannya semua teknologi tingkat tinggi, termasuk teknologi hybrid ini dapat diimplementasikan secara masif di industri kimia dan petrokimia yang terdapat di Indonesia," ujar anak kelahiran 1991 ini.

Manfaat yang diharapkan dengan teknologi ini adalah didapatkan laju produksi industry kimia yang semakin meningkat dengan biaya modal dan biaya operasi yang rendah serta gas buang ke lingkungan yang rendah. (MAS)

KBRI Akan Hadir di Setiap Sidang Disertasi

WhatsApp Image 2017-08-22 at 9.52.59 PM

Untuk pertama kali, Dubes Umar Hadi hadir dalam wisuda di Universitas Yeungnam. Inilah awal dari rencananya untuk datang pada setiap sidang disertasi WNI di Korsel.

Kedatangan Dubes kali kali ini (23/08/17) awalnya dimaksudkan untuk menghadiri wisuda doktor Gregorius Rionugroho Harvianto asal Yogyakarta. Namun pada saat yang bersamaan rupanya terdapat 3 mahasiswa Indonesia lain yang diwisuda (S2), yakni Danasesha Paradinda Putra, Rizcha Maulidiya Nurwan dan Sela Jayani.

Dubes menandaskan bahwa dalam periode kepemimpinannya, KBRI akan hadir dalam setiap sidang terbuka untuk mempertahankan disertasi. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan dukungan kepada usaha WNI dalam meraih gelar tertinggi akademis.

Dalam kunjungan ke Yeungman university ini, Dubes yang didampingi Minister Counsellor Pensosbud - Diplik, M Aji Surya, dan Sekretaris Satu Riza Wardhana, sempat bertemu dengan 47 mahasiswa Indonesia dan Presiden Universitas.

"Saya ikut gembira atas kelulusan 4 mahasiswa Indonesia dan berharap agar yang lain merasa terpacu untuk belajar dan lulus segera. Saya senang melihat wajah-wajah mahasiswa Indonesia yang tampak bagus kehidupannya. Tetaplah kompak dan bangun terus solidaritas," ujarnya.

Bersama Presiden Universitas, Sur Gil-soo, PhD, Dubes membicarakan tentang kemungkinan kerjasama dengan universitas di Indonesia dalam bentuk joint research, joint publication dan pertukaran mahasiswa serta dosen. Dubes juga berharap nantinya terdapat Indonesian corner di universitas swasta dengan rangking 15 di Korea Selatan tersebut. ()

Alhamdulillah, 208 TKI Korsel Naik Haji

WhatsApp Image 2017-08-22 at 8.47.53 AM

Ketika sebagian besar warga Indonesia menunggu lebih 10 tahun lebih untuk bisa baik haji, TKI di Korsel justru bisa melakukannya setiap saat. Yang diperlukan hanya kemauan.

Sebanyak 208 TKI di negeri ginseng, kemarin dan hari ini (23 Agustus 2017) dengan muka ceria berangkat menunaikan ibadah haji. Dilepas Dubes Umar Hadi di masjid Jami Itaewon, Seoul, mereka tampak antusias. Menunaikan ibadah haji, layaknya "melancong" ke negeri lain saja, ringan tidak banyak beban. Maklumlah, TKI disana relatif berkantong tebal dan kuota haji masih terbuka lebar-lebar.

Kepada para jamaah haji para TKI ini, dengan sungguh-sungguh Dubes berpesan tiga hal. Pertama, luruskan niat untuk senantiasa beryukur atas nikmat Tuhan. Mereka ini mendapatkan limpahan rahmat berupa kemudahan ibadah haji yang luar biasa.

"Teman-teman alhamdulillah diberi kemudahan mendapatkan rejeki, tidak perlu antri dan masih berbadan kuat karena masih muda," katanya.

Kedua, diingatkan, walaupun berangkat dari Korea Selatan, mereka tetap seorang warga Indonesia. Untuk itu sikap ramah dan saling tolong menolong harus dikedepankan. Istilahnya, garuda tetap ada di dalam dada.

"Terakhir, ketika pulang semoga jadi haji mabrur. Meningkat keikhlasannya, bertambah amal kebajikannya, serta mendoakan yang lain bisa mengikuti jejaknya datang ke baitullah," katanya.

Naik haji bagi TKI di Korea saat ini bukanlah suatu yang sulit dijangkau. Dengan pendapatan per bulan kisaran Rp 22 juta serta kuota haji yang masih begitu terbuka di Korsel, maka mereka hanya memerlukan niat saja.

Untuk berangkat haji, seorang TKI di Korsel harus merogoh kantong 4 juta 500 ribu won, atau Rp 50 juta, atau kisaran tiga kali tabungan gaji. Di Makkah, mereka akan mendapatkan akomodasi di hotel bintang lima yang berjarak satu km dari ka'bah, dan hotel bintang tiga di Madinah yang jauhnya 500 meter dari masjid Nabawi.

Beberapa hari sebelum barangkat, para calon haji dari TKI itu raya-rata melakukan syukuran seperti halnya di Indonesia. Mereka mengumpulkan teman-temannya di masjid Indonesia lalu meantunkan lagu-lagu religi seperti barzanji, pengajian, berwasiat dan potong tumpeng serta bersalam-salaman.

"Saya mohon maaf atas semua kesalahan. Saya serahkan semua jiwa dan raga saya kepada sang Pemilik. Kalaupun saya tidak pulang, maka semua harta, saya hubahkan bagi yatim piyatu," ujar Saifullah seorang TKI yang sudah berada di Korea selama dua tahun.

Menurut Anggun, pejabat KBRI Seoul, peminat naik haji dari kalangan TKI di Korsel tiap tahun meningkat cukup pesat. Dibanding tahun lalu, jamaah haji tahun ini naik 20an persen.

Umat Islam di Korea sampai saat ini berjumlah 35 ribu orang. Sebagian besar masyarakat tidak beragama, sisanya beragama Buddha dan Kristen. Kuota di Korea Selatan sebagian besar justru dipakai oleh muslim warga negara asing yang bermukim atau punya izin tiinggal disana, termasuk warga negara Indonesia.

"Saya tengarai, mereka sadar bahwa menunaikan ibadah haji dari Indonesia makin sulit, baik dari sisi dana ataupun waktu tunggu yang makin lama. Karenanya, mereka memanfaatkan betul berbagai kemudahan selama di Korea Selatan," katanya. ()

⁠⁠⁠⁠⁠So Eun Kim, Gadis Korea Pengagum Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-18 at 12.01.41 PM

Diam-diam, masih banyak warga asing justru mengagumi Indonesia. Sebagian dari mereka tinggal di Korea Selatan.

Salah satunya adalah seorang YouTuber bersama So Eun Kim. Gadis Korea yang lincah ini, kemarin, sengaja datang ke acara pengibaran bendera pada HUT RI ke 72 di KBRI Seoul. Tidak main-main, bersamanya tiga tentara muda Korea dengan pakaian lengkap berwarna hijau. Mereka mengikuti upacara dengan khidmat lalu ramai-ramai hadir acara potong tumpeng.

Tidak terlihat rasa canggung dari wajah So Eun, walaupun ia minoritas. Bersama tentara yang ternyata muridnya pelajaran bahasa Indonesia itu, casciscus dengan semua orang. So Eun memang cukup lama tinggal di Indonesia dan lulus dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Itulah mengapa ia fasih berbahasa Indonesia.

Uniknya, So Eun ini sengaja mengajak tiga muridnya ke peringatan hari kemerdekaan RI dengan maksud agar mereka mengetahui kehidupan masyarakat Indonesia. Di matanya, orang Indonesia itu sangat mencintai bangsa dan negaranya yang antara lain dimanifestasikan dalam bentuk suka rela datang untuk upacara bendera HUT negerinya.

"Dua hari lalu (15 Agustus 2017), kami juga memperingati kemerdekaan Republik Korea yang ke 72. Namun saya dan kebanyakan orang Korea ya hanya tinggal di rumah saja. Apa yang terjadi di Indonesia dan KBRI di Seoul ini sesuatu yang luar biasa bagi orang Korea. Mereka datang untuk menghargai dan mendoakan pahlawan yang telah merebut kemerdekaan. Positif," ujarnya.

Menurutnya, tiga perwira yang sedang belajar bahasa Indonesia itu juga sempat terkagum-kagum atas kenyataan di KBRI Seoul. Mereka melihat sesuatu yang baru. Sebuah kebersamaan yang unik dan harmonis. Dan itulah yang ingin diajarkan gadis belia Se Eun.

Sebenarnya So Eun Kim hanyalah bagian kecil dari banyak orang Korea yang hormat terhadap Indonesia. Ada juga Sunny Dahye, blogger alumni Indonesia yang saat ini masih hapal Pancasila luar Kepala.

Dalam KBRI Seoul, terdapat sekitar 15 dosen atau professor Korea yang ahli tentang Indonesia, atau sering disebut Indonesianis. Selain itu, hampir 200 anak muda Korea telah ikut program beasiswa Dharmasiswa. Khusus tahun ini, 28 mahasiswa Korea berangkat ke Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia selama setahun di berbagai universitas.

Maraknya pendalaman bahasa dan budaya Indonesia di kalangan anak muda Korea sangat terkait dengan hubungan bilateral yang makin hangat. Saat ini terdapat kisaran 50 ribu warga Korea Selatan di Indonesia dan 40 ribu WNI di negeri ginseng. Indonesia, juga, baru saja membeli kapal selam Korsel dan kedua bangsa yang bersahabat ini tengah mengembangkan pembuatan pesawat jet tempur bersama. ()

Putri Muslimah 2017 Semarakkan HUT RI di Seoul

WhatsApp Image 2017-08-17 at 1.13.37 PM

Seperti biasanya, kali ini KBRI Seoul kembali mengadakan upacara bendera memperingati HUT RI ke-72. Cuaca yang mendung rupanya jadi berkah, memayungi para hadirin, diaspora dan Indonesianis di Korea dalam acara ini.

Persis jam 09.00 waktu setempat, atau 2 jam sebelum WIB, upacara dimulai dan bendera dikibarkan. Sebanyak 200 an warga Indonesia dan simpatisan hadir mengikuti acara dengan khidmad.

Dubes Umar Hadi menghimbau kepada seluruh WNI di Korea Selatan untuk menjaga kerukunan dan merajut persatuan. Selain itu diharapkan semua bekerja keras untuk mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Satu hal yang berbeda dari penyelenggaraan upacara tahun-tahun sebelumnya adalah kedatangan 3 orang Putri Muslimah 2017. Mereka adalah Syifa Fatimah, Tiara Sukmasari dan Salsabela Kanzu.

Korea Tojurism Organization (KTO) rupanya mengundang ketiganya ke Korea sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberagaman wisatawan yang mengunjungi Korea. Mereka berkunjung ke berbagai obyek wisata dan tempat-tempat yang memberikan servis halal.

Rupanya ketiganya datang ke upacara HUT RI ini dengan penuh kesungguhan dengan menggunakan bus. Maklumlah, kegiatan ini dianggap penting sebagai warga negara Indonesia.

Bagaimana peraaaan mereka setelah mengikuti upacara? "Saya sangat terharu. Sangat excited. Merasa bangga bendera Merah Putih bisa berkibar di negeri Korea," ujar Syifa. "Semoga Indonesia tetap harmonis sesuai dengan Pancasila," ujar Tara Sukmasari.

Vedi Buana, Ketua Panitia HUT RI KBRI Seoul, menyatakan dirinya sangat senang melihat antusias berbagai kalanhan untuk ikut serta dalam upacara 17 Agustus kali ini. "Saya tidak menyangka antusias para diaspora dan indonesianis di Korea sangat tinggi. Padahal bukan hari libur Korea dan cuaca pun tampak tidak mendukung," ujarnya. ()

Wow, Blogger Kece Asal Korea ini Fasih Pancasila

WhatsApp Image 2017-08-16 at 11.15.29 PM

Diam-diam, seorang blogger cantik Korea, Sunny Dahye hafal lima butir Pancasila. Hadir dalam wawancara mengenai hari kemerdekaan Korea dan Indonesia di KBS World Radio, Seoul, Rabu (16/8), Sunny menerima tantangan Dubes Umar Hadi untuk menyebutkan kelima butir Pancasila tersebut.

"Pancasila. Satu, Ketuhanan yang maha esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia," ujarya lancar dan fasih.

Tinggal selama beberapa tahun di Indonesia, telah membuat Sunny hafal luar kepala Pancasila dan beberapa lagu nasional. Ia bahkan mengaku mencintai Indonesia dan merasa sebagai orang Indonesia. Saat kembali ke Korea, tidak membuatnya melepas hubungannya dengan Indonesia.

"Saya lebih terkesan dengan peringatan kemerdekaan di Indonesia. Saya masih kontak teman-teman di Indonesia, tanya apa yang mereka lakukan untuk 17-an tahun ini," akunya.

Selain Dubes RI dan Sunny Dahye, hadir pula seorang blogger kecantikan asal Indonesia bernama Sasyachi yang kebetulan sedang berada di Korea. Sebagai blogger tentang kecantikan, Sasyachi mengungkapkan pengalamannya dalam meramaikan peringatan kemerdekaan 17 Agustus.

"Bersama teman-teman kami mengadakan lomba makan kerupuk sambil memakai kuteks dan lomba memasukkan pensil kedalam botol sambil memakai eyeliner,” ceritannya. Sasyachi pun menerima tantangan Dubes RI untuk menyanyikan lagu Hari Merdeka.

Mengapresiasi kedua blogger cantik itu dalam semangat kemerdekaan dan nasionalisme, Dubes Umar Hadi memberikan cinderamata berbentuk gelang perak dari Bali. Mereka terlihat girang dan berbinar.

Menurut Anggun, pejabat devisi Diplomasi Publik KBRI Seoul, wawancara oleh KBS World Radio tersebut dilakukan dalam rangka hari kemerdekaan Korea dan Indonesia yang hanya beda dua hari yaitu 15 dan 17 Agustus dan disiarkan live secara internasional melalui berbagai saluran, termasuk Facebook.()

KBRI Buka Gamelan Bagi Anak Muda Korea

WhatsApp Image 2017-08-16 at 12.23.24 PM

Sukses dengan kelas gamelan yang dibuka untuk umum pada 13 Mei 2017 lalu, kini KBRI Seoul akan membuka kelas gamelan Jawa khusus untuk warga Korea Selatan.

Banyaknya minat anak muda Korea Selatan terhadap Indonesia ditangkap oleh KBRI Seoul. Mulai pertengahan bulan depan, sebagian dari mereka diharapkan sudah mulai berlatih rutin memainkan musik gamelan. Inilah program baru yang diperperkenalkan Fungsi Pensosbud Diiplik KBRI Seoul.

"Ada banyak anak muda Korea yang sudah mendapatkan beasiswa di Indonesia dan kuliah bahasa Indonesia di berbagai universitas di Korea. Mereka semua haus terhadap pendalaman budaya Indonesia," ujar Dubes Umar Hadi.

Dalam catatan KBRI, sejak tahun 2009 setidaknya terdapat 196 anak muda Korea yang mengenyam pendidikan bahasa dan budaya Indonesia melalui beasiswa Dharmasiswa. Mereka tersebar di berbagai penjuru negeri.

Menurut Sugianto, pelatih gamelan KBRI Seoul, sejauh ini sudah terdapat 5 warga Korea yang mendaftar. Salah satu diantaranya adalah seorang professor dari Chonnam National Univeristy, pengajar musik tradisional Korea.

KBRI berharap pada tahap pertama ini akan diikuti 15 peserta Korea. Selanjutnya, mereka akan dikolaborasikan dengan permainan musik modern yang bisa mengisi berbagai kesempatan yang ada.

Mengingat banyaknya warga korea yang tertarik dengan budaya Indonesia, KBRI akan mencoba mengintensifkan kursus gamelan dan diskusi tentang budaya Indonesia. Bahkan KBRI juga berharap bisa berkolaborasi dengan Pemda di Indonesia dalam memperkenalkan Budaya Indonesia yang lebih luas.

Sejak kedatangan pelatih dari Indonesia enam bulan silam, KBRI Seoul melakukan latihan rutin menabuh gamelan dengan para diaspora Indonesia yang berminat. Mereka bahkan sudah beberapa kali tampil di acara resmi Pemerintah Negeri Ginseng.

Dubes Umar Hadi telah memberikan nama untuk grup gamelan di KBRI “Laras GARIS”. Kata “laras” memiliki arti nada atau bunyi musik, sedangkan kata “GARIS” merupakan singkatan dari “Gamelan KBRI Seoul”. Dengan demikian, nama grup Laras GARIS adalah sebuah interpretasi dari nada-nada yang mengalun indah dari KBRI Seoul. ()

Luar Biasa, 11 TKI Diarak Jadi Sarjana

WhatsApp Image 2017-08-14 at 8.17.43 AM

Ternyata, menjadi sarjana bukan "hil yang mustahal" bagi kalangan TKI. Yang diperlukan hanyalah semangat baja, pantang menyerah.

Bagi Waras asal Trenggalek, salah satu wisudawan Program Studi Manajemen universitas Terbuka (UT) Korea, kesarjanaan adalah sesuatu, namun tidak sertamerta bisa diartikan puncak kesuksesan. Wisuda ini justru dianggapnya sebagai tangga awal untuk meraih keberhasilan yang penuh persaingan di masa datang.

"Mari kita tunjukkan bahwa alumni UT tidak kalah dengan alumni universitas terkemuka lainnya. Kita tidak hanya wajib bisa bekerja namun juga harus mampu menciptakan lapangan kerja," katanya yang disambut tepuk tangan riuh 300an hadirin.

Sebanyak 11 mahasiswa TKI Universitas Terbuka Indonesia cabang Korea Selatan, hari Minggu sore kemarin (13 Agustus 2017), diarak menjadi sarjana. Mereka diwisuda di lapangan upacara KBRI Seoul oleh Dubes, Umar Hadi, Wakil Rektor II UT, Dewi A Padmo, PhD, serta Koordinator UT Korea, Syarif Hidayat.

Dewi A Padmo mengacungi jempol kepada para wisudawan. Sebagai TKI yang bergelut enam hari seminggu dengan pekerjaan berat dari pagi hingga malam, masih memiliki semangat untuk belajar. Bahkan diantaranya bisa menyelesaikan kuliah dan meraih titel strata satu.

Kesarjanaan ini diyakini akan membuat lulusan UT semakin mampu mengaktualisasikan diri dengan tingkat rasa percaya diri yang lebih tinggi. Bahkan juga dipercaya mampu meningkatkan posisi tawar saat pulang ke tanah air kelak.

Sementara, dalam pidato kelulusan, Dubes Umar Hadi menilai wisuda kali ini sebagai peristiswa yang penting, karena bertepatan dengan bulan keramat, Agustus. Suatu bulan yang mengingatkam titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan melawan Belanda dan arus global, saat itu.

Kepada hadirin dan wisudawan, Dubes memesankan agar tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Menurutnya, kemerdekaan yang telah dibayar dengan peluh dan darah tidak boleh disia-siakan, namun diisi dengan pembangunan yang dilakukan generasi muda yang punya pengetahuan.

Wisudawan kali ini sangat beruntung. Selain mengantongi kesarjanaan, juga meraup banyak hadiah. Selain dari BNI Seoul, mereka juga menerima aneka hadiah dari berbagai kelompok masyarakat seperti Komunitas Muslim Indonesia, NU Cabang Korea, Indonesia Trade Promition Centre, Bakso Bejo Korea dan banyak lagi yang lainnya. Para wisudawan tampak kesulitan membawa pulang hadiah yang berjibun.

UT di negeri ginseng sendiri kini memiliki mahasiswa aktif kisaran 400an yang umumnya adalah TKI. Sejak didirikan 6 tahun lalu UT Korea telah meluluskan 86 TKI yang berasal dari 3 jurusan yang ada, yakni manajemen, bahasa Inggris dan komunikasi. Tahun depan, menurut perkiraan, akan terjadi peningkatan kelulusan secara signifikan, kisaran 40 persen, atau sebanyak 30 orang. ()

Tim Voli Yochon Rebut Piala Dubes

WhatsApp Image 2017-08-13 at 8.18.04 PM

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Karena itulah, pertandingan voli antar masyarakat Indonesia di Korsel dihelat.

Permainan berlangsung seru dengan perolehan skor saling menyusul antara tim yang bertanding. Smash, passing dan tossing silih berganti dengan rally yang panjang dan penuh semangat. Seluruh tim tampak telah berlatih dengan baik dan tampil layaknya pertandingan voli profesional.

Ketika malam hampir datang Tim Yongchon mengambil kendali dan merebut piala Dubes. Juara kedua diambil tim Jilyang.

"Seru habis. Yochon langsung menggulung Jilyang 15-9 dan 15-13. Mungkin Jilyang sudah kelelahan," ujar Redo, seorang penonton dari Seoul.

KBRI Seoul bersama sekitar 130 diaspora Indonesia di Korsel merayakan HUT ke-72 RI dengan selenggarakan kompetisi bola voli pada 13 Agustus di Paran, Gyeonggi-do. Diikuti 13 tim yang terdiri dari pekerja dan mahasiswa di berbagai kota di Korsel bertanding memperebutkan Piala Bergilir Kemerdekaan RI dari KBRI Seoul.

Tim terlihat mempersiapkan diri dengan baik terlihat dari beberapa pertandingan yang berlangsung sangat seru dan perolehan skor yang sangat ketat.

Wakil KBRI Seoul pada pembukaan pertandingan menyampaikan salam dari Dubes RI Seoul dan pesan untuk bertanding secara sportif serta tetap menjaga nama baik Indonesia di Korsel.

Pertandingan juga turut dihadiri Kepala Kesejahteraan Pekerja Indonesia dari pihak Korea Selatan yang menaungi pekerja Indonesia dan jembatan jika ada permasalahan yang dialami pekerja Indonesia dengan pihak perusahaaan.

Hebat! Sebelas TKI jadi Sarjana

636002910335971734-ThinkstockPhotos-462114095

Bekerja 6 hari dalam seminggu bukan berarti harus melupakan pentingnya ilmu pengetahuan. Buktinya, banyak TKI di Korea menjadi sarjana. Mereka akan pulang membawa uang, pengetahuan dan pengalaman. Wow!

Pada 13 Agustus nanti akan ada sebelas orang pemuda-pemudi Indonesia yang siap memberikan hadiah terindah bagi bangsanya menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebelas Tenaga Kerja Indonesia yang mengikuti pembelajaran di Universitas Terbuka di Korea akan menjalani upacara kelulusan yang rencananya akan diselenggarakan di KBRI Seoul. Tidak cukup nampaknya bagi mereka bila hanya berbakti bagi bangsa dengan menyumbangkan devisa bagi negara. Hebat!

Kesebelas calon wisadawan tersebut; Muslim, Totok Wahyudi, Rahmat Yohanes Mandagie, Agus Budi Santosa, Lutfi Muhtar Hasan, hana Febri Nugroho, Nanang Mualim, Waras, Romie Kistaraga, Shanita dan Ahmad, telah menyelesaikan program pendidikan S1 di tengah kesibukan mereka sebagai pekerja di Korea.

"Saya rela menghabiskan waktu istirahat saya untuk belajar demi mencapai cita-cita," ujar Luthfi, seorang calon wisudawan jurusan manajemen yang bercita-cita menjadi pengusaha. Luthfi sendiri saat ini masih bekerja di Gumsung Industry.

Koordinator Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Seoul, Aji Surya, yang mengikuti gladi resik upacara kelulusan pun turut memuji para TKI ini. "Biasanya orang kalau sudah berpenghasilan besar akan malas untuk belajar, tetapi teman-teman TKI ini malah rajin sekali menuntut ilmu. Kelulusan ini benar-benar hadiah terindah menjelang Hari Kemerdekaan bagi Ibu Pertiwi," tandasnya.

Sebagai bentuk penghargaan, beberapa institusi dan perusahaan Indonesia yang berada di Korea seperti ITPC, BNI, Garuda, KMI, ICC, NU Korea dan Muhammadiah rencananya akan memberikan hadiah bagi para calon wisudawan, menambah kebahagiaan dan semangat untuk terus berkarya.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014