Dong-Jin akan Produksi Tekstil untuk Sepatu Papan Atas di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-24 at 10.05.41 AM

PT Dong-Jin Textile Indonesia, perusahaan PMA 100% asal Korea Selatan, akan mulai produksi tekstil bahan sepatu 'sneakers' di Karawang, Jawa Barat, mulai awal tahun 2019. Dengan rencana investasi sekitar Rp 330 milyar, perusahaan ini tahun depan bergegas pembangunan pabriknya kawasan industri di Karawang. Nantinya pabrik tersebut akan mempekerjakan 500-an orang karyawan.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Presiden dan pemilik Dong-Jin Textile Co., LTD, Choi Woo-Chui, dalam kunjunga Dubes Umar Hadi ke kantonya di kota Busan, Korea Selatan, hari Rabu, 23 Agustus 2017. Keduanya bersama tim membahas cara-cara pengembagan usaha Dong-jin Textie di Indonesia.

Dubes Umar Hadi menyampaikan concern terhadap investasi dari Korea Selatan yang tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja juga sebagai substitusi impor yang sekaligus menambah komoditas ekspor.

"KBRI Seoul akan membantu menghubungkan perusahaan dengan lembaga-lembaga pendidikan seperti SMK dan Sekolah Tinggi Tekstil di Indonesia agar bisa mulai merekrut tenaga-tenaga terampil," kata Dubes RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi.

Pimpinan Dong-Jin menjelaskan bahwa pabriknya di Karawang akan menjadi fasilitas produksi ke-4 di luar Korea Selatan. Sebelumnya, 3 pabrik sudah dibangun dan berproduksi di Vietnam. Produk Dong-Jin adalah tekstil sintetis bahan sepatu 'sneakers' yang sebagian besar menjadi pasokan bagi merek terkenal seperti Nike dan Adidas. Tekstil produksinya dikenal berkualitas tinggi, ringan, dan nyaman di kaki (breathable). Teknologi tinggi diterapkan baik dalam desain produk maupun proses produksinya.

Pabrik yang akan didirikan di Karawang akan menerapkan standar teknologi yang sama dengan di Korea Selatan, termasuk dalam soal pengolahan limbah. Jadi aman untuk lingkungan.

Pada kesempatan kunjungan ke pabrik Dong-Jin itu, Dubes Umar diperkenalkan kepada 8 orang TKI yang bekerja di sana. Imam, 27 tahun, asal Ngawi, yang sudah bekerja hampir 2 tahun, mengatakan bahwa meskipun kerjanya berat, dia merasa senang karena gaji cukup besar, dapat kamar asrama di lokasi pabrik dan dapat makan tiga kali sehari. "Kami tidak ada keluhan apa pun Pak," kata Imam kepada Dubes Umar.

Dubes Umar Hadi berpesan agar Imam dan kawan-kawan menjaga kesehatan dan disiplin dalam hal keselamatan kerja. "Setelah bekerja di sini sesuai kontraknya, adik-adik harus bisa pulang ke kampung halaman dengan badan sehat, pengalaman kerja, dan tabungan banyak, sehingga bisa buka usaha sendiri nantinya," pesan sang Dubes.

Saat ini, terdapat sekitar 2000 perusahaan Korea Selatan berinvestasi di Indonesia. Pada saat yang sama, 36 ribu pendulang devisa Indonesia bekerja di berbagai perusahaan di negeri ginseng. ()

Teknologi Hybrid Antarkan Anak Solo Jadi Doktor di Korea

WhatsApp Image 2017-08-23 at 12.46.30 PM

Pendekatan baru yang dikenal dengan hybrid ternyata bisa dipakai dalam pemisahan senyawa kimia. Tidak main-main, teori itu ditemukan oleh seorang anak muda Indonesia di Yeungnam University, Korsel.

Anak muda asal Solo yang besar di Jakarta dan Yogyakarta itu mengaku langsung mendapat pekerjaan "basah" di Korea. Setelah jago, ia baru akan pulang kampung.

Dengan disertasi berjudul "Hybrid Separation Approach for Solving Azeotropic and Close-Boiling Mixtures", Gregorius Rionugroho Harvianto menawarkan suatu pendekatan yang efisien. Diharapkan, teorinya ini bisa dikembangkan untuk kemnafaatan yang lebih besar.

Sebagaimana diketahui, teknologi pemisahan senyawa kimia merupakan proses yang digunakan untuk mendapatkan produk yang murni dari campuran senyawa kimia.

Pengolahan minyak bumi yang merupakan campuran hidrokarbon, misalnya, akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dalam keadaan murni seperti produk yang dikenal di pasaran, layaknya LPG, pelumas, aspal, avtur, gasoline. Teknologi pemisahan yang hemat energi dan efektif sangat dibutuhkan dalam keberlanjutan industri kimia dan petrokimia.

Salah satu permasalahan utama dalam pemisahan adalah saat terdapat campuran senyawa kimia yang memiliki kondisi tidak ideal (biasa disebut azeotrop) dan atau titik didih yang sangat dekat antara satu senyawa dengan senyawa lainnya.

Secara konvensional, dibutuhkan teknologi yang kompleks dan mahal untuk mendapatkan produk dengan kemurnian tinggi jika di dalam senyawa kimia yang akan dipisahkan terdapat permasalahan tersebut.

Terdapat bermacam proses pemisahan yang umumnya beroperasi secara individu, seperti: distilasi, ekstraksi, membran, absorpsi, dll.

Disertasi ini menawarkan pendekatan teknologi hybrid yang secara signifikan dapat mengurangi kebutuhan biaya dan energi demi keberlangsungan industri. Teknologi hybrid ini memaksimalkan potensial masing-masing teknologi pemisahan yang digabungkan serta mengeliminasi kekurangan dari masing-masing teknologi tersebut.

Teknologi hybrid ini didesain dengan pendekatan melalui proses simulasi dengan menggunakan simulator komersial yang umumnya digunakan di industry.

Menurut Rio, demikian ia dipanggil, teorinya disusun selama 3.5 tahun dengan berbagai kesulitan, seperti data eksperimen yang belum ada untuk senyawa tertentu, sehingga harus melakukan eksperimen untuk pengujian sebelum membuat desain teknologi hybrid tersebut.

Selain itu, model membran yang tidak terdapat dalam simulator, sehingga pembuatan model matematis diperlukan terlebih dahulu sebelum menawarkan desain.

Dalam disertasi ini, terdapat berbagai contoh studi kasus pada industri kimia dimana teknologi hybrid yang diajukan menunjukkan performa yang lebih baik (dari segi biaya dan ramah lingkungan) dibandingkan teknologi konvensional yang saat ini digunakan di industri.

Setelah lulus, Rio mengaku akan bekerja sebagai konsultan teknik kimia di kota Ulsan, tepatnya di kawasan industry “Onsan Industrial Complex” dimana terdapat “Onsan Refinery” merupakan kilang minyak terbesar ke-5 di seluruh dunia dengan kapasitas sebesar 669.000 barrel per hari.

"Di sana saya akan belajar lebih dalam mengenai teknologi tingkat tinggi dalam proses pemisahan senyawa industry kimia, khususnya implementasi secara nyata. Sehingga, besar harapannya semua teknologi tingkat tinggi, termasuk teknologi hybrid ini dapat diimplementasikan secara masif di industri kimia dan petrokimia yang terdapat di Indonesia," ujar anak kelahiran 1991 ini.

Manfaat yang diharapkan dengan teknologi ini adalah didapatkan laju produksi industry kimia yang semakin meningkat dengan biaya modal dan biaya operasi yang rendah serta gas buang ke lingkungan yang rendah. (MAS)

KBRI Akan Hadir di Setiap Sidang Disertasi

WhatsApp Image 2017-08-22 at 9.52.59 PM

Untuk pertama kali, Dubes Umar Hadi hadir dalam wisuda di Universitas Yeungnam. Inilah awal dari rencananya untuk datang pada setiap sidang disertasi WNI di Korsel.

Kedatangan Dubes kali kali ini (23/08/17) awalnya dimaksudkan untuk menghadiri wisuda doktor Gregorius Rionugroho Harvianto asal Yogyakarta. Namun pada saat yang bersamaan rupanya terdapat 3 mahasiswa Indonesia lain yang diwisuda (S2), yakni Danasesha Paradinda Putra, Rizcha Maulidiya Nurwan dan Sela Jayani.

Dubes menandaskan bahwa dalam periode kepemimpinannya, KBRI akan hadir dalam setiap sidang terbuka untuk mempertahankan disertasi. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan dukungan kepada usaha WNI dalam meraih gelar tertinggi akademis.

Dalam kunjungan ke Yeungman university ini, Dubes yang didampingi Minister Counsellor Pensosbud - Diplik, M Aji Surya, dan Sekretaris Satu Riza Wardhana, sempat bertemu dengan 47 mahasiswa Indonesia dan Presiden Universitas.

"Saya ikut gembira atas kelulusan 4 mahasiswa Indonesia dan berharap agar yang lain merasa terpacu untuk belajar dan lulus segera. Saya senang melihat wajah-wajah mahasiswa Indonesia yang tampak bagus kehidupannya. Tetaplah kompak dan bangun terus solidaritas," ujarnya.

Bersama Presiden Universitas, Sur Gil-soo, PhD, Dubes membicarakan tentang kemungkinan kerjasama dengan universitas di Indonesia dalam bentuk joint research, joint publication dan pertukaran mahasiswa serta dosen. Dubes juga berharap nantinya terdapat Indonesian corner di universitas swasta dengan rangking 15 di Korea Selatan tersebut. ()

Alhamdulillah, 208 TKI Korsel Naik Haji

WhatsApp Image 2017-08-22 at 8.47.53 AM

Ketika sebagian besar warga Indonesia menunggu lebih 10 tahun lebih untuk bisa baik haji, TKI di Korsel justru bisa melakukannya setiap saat. Yang diperlukan hanya kemauan.

Sebanyak 208 TKI di negeri ginseng, kemarin dan hari ini (23 Agustus 2017) dengan muka ceria berangkat menunaikan ibadah haji. Dilepas Dubes Umar Hadi di masjid Jami Itaewon, Seoul, mereka tampak antusias. Menunaikan ibadah haji, layaknya "melancong" ke negeri lain saja, ringan tidak banyak beban. Maklumlah, TKI disana relatif berkantong tebal dan kuota haji masih terbuka lebar-lebar.

Kepada para jamaah haji para TKI ini, dengan sungguh-sungguh Dubes berpesan tiga hal. Pertama, luruskan niat untuk senantiasa beryukur atas nikmat Tuhan. Mereka ini mendapatkan limpahan rahmat berupa kemudahan ibadah haji yang luar biasa.

"Teman-teman alhamdulillah diberi kemudahan mendapatkan rejeki, tidak perlu antri dan masih berbadan kuat karena masih muda," katanya.

Kedua, diingatkan, walaupun berangkat dari Korea Selatan, mereka tetap seorang warga Indonesia. Untuk itu sikap ramah dan saling tolong menolong harus dikedepankan. Istilahnya, garuda tetap ada di dalam dada.

"Terakhir, ketika pulang semoga jadi haji mabrur. Meningkat keikhlasannya, bertambah amal kebajikannya, serta mendoakan yang lain bisa mengikuti jejaknya datang ke baitullah," katanya.

Naik haji bagi TKI di Korea saat ini bukanlah suatu yang sulit dijangkau. Dengan pendapatan per bulan kisaran Rp 22 juta serta kuota haji yang masih begitu terbuka di Korsel, maka mereka hanya memerlukan niat saja.

Untuk berangkat haji, seorang TKI di Korsel harus merogoh kantong 4 juta 500 ribu won, atau Rp 50 juta, atau kisaran tiga kali tabungan gaji. Di Makkah, mereka akan mendapatkan akomodasi di hotel bintang lima yang berjarak satu km dari ka'bah, dan hotel bintang tiga di Madinah yang jauhnya 500 meter dari masjid Nabawi.

Beberapa hari sebelum barangkat, para calon haji dari TKI itu raya-rata melakukan syukuran seperti halnya di Indonesia. Mereka mengumpulkan teman-temannya di masjid Indonesia lalu meantunkan lagu-lagu religi seperti barzanji, pengajian, berwasiat dan potong tumpeng serta bersalam-salaman.

"Saya mohon maaf atas semua kesalahan. Saya serahkan semua jiwa dan raga saya kepada sang Pemilik. Kalaupun saya tidak pulang, maka semua harta, saya hubahkan bagi yatim piyatu," ujar Saifullah seorang TKI yang sudah berada di Korea selama dua tahun.

Menurut Anggun, pejabat KBRI Seoul, peminat naik haji dari kalangan TKI di Korsel tiap tahun meningkat cukup pesat. Dibanding tahun lalu, jamaah haji tahun ini naik 20an persen.

Umat Islam di Korea sampai saat ini berjumlah 35 ribu orang. Sebagian besar masyarakat tidak beragama, sisanya beragama Buddha dan Kristen. Kuota di Korea Selatan sebagian besar justru dipakai oleh muslim warga negara asing yang bermukim atau punya izin tiinggal disana, termasuk warga negara Indonesia.

"Saya tengarai, mereka sadar bahwa menunaikan ibadah haji dari Indonesia makin sulit, baik dari sisi dana ataupun waktu tunggu yang makin lama. Karenanya, mereka memanfaatkan betul berbagai kemudahan selama di Korea Selatan," katanya. ()

⁠⁠⁠⁠⁠So Eun Kim, Gadis Korea Pengagum Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-18 at 12.01.41 PM

Diam-diam, masih banyak warga asing justru mengagumi Indonesia. Sebagian dari mereka tinggal di Korea Selatan.

Salah satunya adalah seorang YouTuber bersama So Eun Kim. Gadis Korea yang lincah ini, kemarin, sengaja datang ke acara pengibaran bendera pada HUT RI ke 72 di KBRI Seoul. Tidak main-main, bersamanya tiga tentara muda Korea dengan pakaian lengkap berwarna hijau. Mereka mengikuti upacara dengan khidmat lalu ramai-ramai hadir acara potong tumpeng.

Tidak terlihat rasa canggung dari wajah So Eun, walaupun ia minoritas. Bersama tentara yang ternyata muridnya pelajaran bahasa Indonesia itu, casciscus dengan semua orang. So Eun memang cukup lama tinggal di Indonesia dan lulus dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Itulah mengapa ia fasih berbahasa Indonesia.

Uniknya, So Eun ini sengaja mengajak tiga muridnya ke peringatan hari kemerdekaan RI dengan maksud agar mereka mengetahui kehidupan masyarakat Indonesia. Di matanya, orang Indonesia itu sangat mencintai bangsa dan negaranya yang antara lain dimanifestasikan dalam bentuk suka rela datang untuk upacara bendera HUT negerinya.

"Dua hari lalu (15 Agustus 2017), kami juga memperingati kemerdekaan Republik Korea yang ke 72. Namun saya dan kebanyakan orang Korea ya hanya tinggal di rumah saja. Apa yang terjadi di Indonesia dan KBRI di Seoul ini sesuatu yang luar biasa bagi orang Korea. Mereka datang untuk menghargai dan mendoakan pahlawan yang telah merebut kemerdekaan. Positif," ujarnya.

Menurutnya, tiga perwira yang sedang belajar bahasa Indonesia itu juga sempat terkagum-kagum atas kenyataan di KBRI Seoul. Mereka melihat sesuatu yang baru. Sebuah kebersamaan yang unik dan harmonis. Dan itulah yang ingin diajarkan gadis belia Se Eun.

Sebenarnya So Eun Kim hanyalah bagian kecil dari banyak orang Korea yang hormat terhadap Indonesia. Ada juga Sunny Dahye, blogger alumni Indonesia yang saat ini masih hapal Pancasila luar Kepala.

Dalam KBRI Seoul, terdapat sekitar 15 dosen atau professor Korea yang ahli tentang Indonesia, atau sering disebut Indonesianis. Selain itu, hampir 200 anak muda Korea telah ikut program beasiswa Dharmasiswa. Khusus tahun ini, 28 mahasiswa Korea berangkat ke Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia selama setahun di berbagai universitas.

Maraknya pendalaman bahasa dan budaya Indonesia di kalangan anak muda Korea sangat terkait dengan hubungan bilateral yang makin hangat. Saat ini terdapat kisaran 50 ribu warga Korea Selatan di Indonesia dan 40 ribu WNI di negeri ginseng. Indonesia, juga, baru saja membeli kapal selam Korsel dan kedua bangsa yang bersahabat ini tengah mengembangkan pembuatan pesawat jet tempur bersama. ()

Putri Muslimah 2017 Semarakkan HUT RI di Seoul

WhatsApp Image 2017-08-17 at 1.13.37 PM

Seperti biasanya, kali ini KBRI Seoul kembali mengadakan upacara bendera memperingati HUT RI ke-72. Cuaca yang mendung rupanya jadi berkah, memayungi para hadirin, diaspora dan Indonesianis di Korea dalam acara ini.

Persis jam 09.00 waktu setempat, atau 2 jam sebelum WIB, upacara dimulai dan bendera dikibarkan. Sebanyak 200 an warga Indonesia dan simpatisan hadir mengikuti acara dengan khidmad.

Dubes Umar Hadi menghimbau kepada seluruh WNI di Korea Selatan untuk menjaga kerukunan dan merajut persatuan. Selain itu diharapkan semua bekerja keras untuk mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Satu hal yang berbeda dari penyelenggaraan upacara tahun-tahun sebelumnya adalah kedatangan 3 orang Putri Muslimah 2017. Mereka adalah Syifa Fatimah, Tiara Sukmasari dan Salsabela Kanzu.

Korea Tojurism Organization (KTO) rupanya mengundang ketiganya ke Korea sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberagaman wisatawan yang mengunjungi Korea. Mereka berkunjung ke berbagai obyek wisata dan tempat-tempat yang memberikan servis halal.

Rupanya ketiganya datang ke upacara HUT RI ini dengan penuh kesungguhan dengan menggunakan bus. Maklumlah, kegiatan ini dianggap penting sebagai warga negara Indonesia.

Bagaimana peraaaan mereka setelah mengikuti upacara? "Saya sangat terharu. Sangat excited. Merasa bangga bendera Merah Putih bisa berkibar di negeri Korea," ujar Syifa. "Semoga Indonesia tetap harmonis sesuai dengan Pancasila," ujar Tara Sukmasari.

Vedi Buana, Ketua Panitia HUT RI KBRI Seoul, menyatakan dirinya sangat senang melihat antusias berbagai kalanhan untuk ikut serta dalam upacara 17 Agustus kali ini. "Saya tidak menyangka antusias para diaspora dan indonesianis di Korea sangat tinggi. Padahal bukan hari libur Korea dan cuaca pun tampak tidak mendukung," ujarnya. ()

Wow, Blogger Kece Asal Korea ini Fasih Pancasila

WhatsApp Image 2017-08-16 at 11.15.29 PM

Diam-diam, seorang blogger cantik Korea, Sunny Dahye hafal lima butir Pancasila. Hadir dalam wawancara mengenai hari kemerdekaan Korea dan Indonesia di KBS World Radio, Seoul, Rabu (16/8), Sunny menerima tantangan Dubes Umar Hadi untuk menyebutkan kelima butir Pancasila tersebut.

"Pancasila. Satu, Ketuhanan yang maha esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia," ujarya lancar dan fasih.

Tinggal selama beberapa tahun di Indonesia, telah membuat Sunny hafal luar kepala Pancasila dan beberapa lagu nasional. Ia bahkan mengaku mencintai Indonesia dan merasa sebagai orang Indonesia. Saat kembali ke Korea, tidak membuatnya melepas hubungannya dengan Indonesia.

"Saya lebih terkesan dengan peringatan kemerdekaan di Indonesia. Saya masih kontak teman-teman di Indonesia, tanya apa yang mereka lakukan untuk 17-an tahun ini," akunya.

Selain Dubes RI dan Sunny Dahye, hadir pula seorang blogger kecantikan asal Indonesia bernama Sasyachi yang kebetulan sedang berada di Korea. Sebagai blogger tentang kecantikan, Sasyachi mengungkapkan pengalamannya dalam meramaikan peringatan kemerdekaan 17 Agustus.

"Bersama teman-teman kami mengadakan lomba makan kerupuk sambil memakai kuteks dan lomba memasukkan pensil kedalam botol sambil memakai eyeliner,” ceritannya. Sasyachi pun menerima tantangan Dubes RI untuk menyanyikan lagu Hari Merdeka.

Mengapresiasi kedua blogger cantik itu dalam semangat kemerdekaan dan nasionalisme, Dubes Umar Hadi memberikan cinderamata berbentuk gelang perak dari Bali. Mereka terlihat girang dan berbinar.

Menurut Anggun, pejabat devisi Diplomasi Publik KBRI Seoul, wawancara oleh KBS World Radio tersebut dilakukan dalam rangka hari kemerdekaan Korea dan Indonesia yang hanya beda dua hari yaitu 15 dan 17 Agustus dan disiarkan live secara internasional melalui berbagai saluran, termasuk Facebook.()

KBRI Buka Gamelan Bagi Anak Muda Korea

WhatsApp Image 2017-08-16 at 12.23.24 PM

Sukses dengan kelas gamelan yang dibuka untuk umum pada 13 Mei 2017 lalu, kini KBRI Seoul akan membuka kelas gamelan Jawa khusus untuk warga Korea Selatan.

Banyaknya minat anak muda Korea Selatan terhadap Indonesia ditangkap oleh KBRI Seoul. Mulai pertengahan bulan depan, sebagian dari mereka diharapkan sudah mulai berlatih rutin memainkan musik gamelan. Inilah program baru yang diperperkenalkan Fungsi Pensosbud Diiplik KBRI Seoul.

"Ada banyak anak muda Korea yang sudah mendapatkan beasiswa di Indonesia dan kuliah bahasa Indonesia di berbagai universitas di Korea. Mereka semua haus terhadap pendalaman budaya Indonesia," ujar Dubes Umar Hadi.

Dalam catatan KBRI, sejak tahun 2009 setidaknya terdapat 196 anak muda Korea yang mengenyam pendidikan bahasa dan budaya Indonesia melalui beasiswa Dharmasiswa. Mereka tersebar di berbagai penjuru negeri.

Menurut Sugianto, pelatih gamelan KBRI Seoul, sejauh ini sudah terdapat 5 warga Korea yang mendaftar. Salah satu diantaranya adalah seorang professor dari Chonnam National Univeristy, pengajar musik tradisional Korea.

KBRI berharap pada tahap pertama ini akan diikuti 15 peserta Korea. Selanjutnya, mereka akan dikolaborasikan dengan permainan musik modern yang bisa mengisi berbagai kesempatan yang ada.

Mengingat banyaknya warga korea yang tertarik dengan budaya Indonesia, KBRI akan mencoba mengintensifkan kursus gamelan dan diskusi tentang budaya Indonesia. Bahkan KBRI juga berharap bisa berkolaborasi dengan Pemda di Indonesia dalam memperkenalkan Budaya Indonesia yang lebih luas.

Sejak kedatangan pelatih dari Indonesia enam bulan silam, KBRI Seoul melakukan latihan rutin menabuh gamelan dengan para diaspora Indonesia yang berminat. Mereka bahkan sudah beberapa kali tampil di acara resmi Pemerintah Negeri Ginseng.

Dubes Umar Hadi telah memberikan nama untuk grup gamelan di KBRI “Laras GARIS”. Kata “laras” memiliki arti nada atau bunyi musik, sedangkan kata “GARIS” merupakan singkatan dari “Gamelan KBRI Seoul”. Dengan demikian, nama grup Laras GARIS adalah sebuah interpretasi dari nada-nada yang mengalun indah dari KBRI Seoul. ()

Luar Biasa, 11 TKI Diarak Jadi Sarjana

WhatsApp Image 2017-08-14 at 8.17.43 AM

Ternyata, menjadi sarjana bukan "hil yang mustahal" bagi kalangan TKI. Yang diperlukan hanyalah semangat baja, pantang menyerah.

Bagi Waras asal Trenggalek, salah satu wisudawan Program Studi Manajemen universitas Terbuka (UT) Korea, kesarjanaan adalah sesuatu, namun tidak sertamerta bisa diartikan puncak kesuksesan. Wisuda ini justru dianggapnya sebagai tangga awal untuk meraih keberhasilan yang penuh persaingan di masa datang.

"Mari kita tunjukkan bahwa alumni UT tidak kalah dengan alumni universitas terkemuka lainnya. Kita tidak hanya wajib bisa bekerja namun juga harus mampu menciptakan lapangan kerja," katanya yang disambut tepuk tangan riuh 300an hadirin.

Sebanyak 11 mahasiswa TKI Universitas Terbuka Indonesia cabang Korea Selatan, hari Minggu sore kemarin (13 Agustus 2017), diarak menjadi sarjana. Mereka diwisuda di lapangan upacara KBRI Seoul oleh Dubes, Umar Hadi, Wakil Rektor II UT, Dewi A Padmo, PhD, serta Koordinator UT Korea, Syarif Hidayat.

Dewi A Padmo mengacungi jempol kepada para wisudawan. Sebagai TKI yang bergelut enam hari seminggu dengan pekerjaan berat dari pagi hingga malam, masih memiliki semangat untuk belajar. Bahkan diantaranya bisa menyelesaikan kuliah dan meraih titel strata satu.

Kesarjanaan ini diyakini akan membuat lulusan UT semakin mampu mengaktualisasikan diri dengan tingkat rasa percaya diri yang lebih tinggi. Bahkan juga dipercaya mampu meningkatkan posisi tawar saat pulang ke tanah air kelak.

Sementara, dalam pidato kelulusan, Dubes Umar Hadi menilai wisuda kali ini sebagai peristiswa yang penting, karena bertepatan dengan bulan keramat, Agustus. Suatu bulan yang mengingatkam titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan melawan Belanda dan arus global, saat itu.

Kepada hadirin dan wisudawan, Dubes memesankan agar tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Menurutnya, kemerdekaan yang telah dibayar dengan peluh dan darah tidak boleh disia-siakan, namun diisi dengan pembangunan yang dilakukan generasi muda yang punya pengetahuan.

Wisudawan kali ini sangat beruntung. Selain mengantongi kesarjanaan, juga meraup banyak hadiah. Selain dari BNI Seoul, mereka juga menerima aneka hadiah dari berbagai kelompok masyarakat seperti Komunitas Muslim Indonesia, NU Cabang Korea, Indonesia Trade Promition Centre, Bakso Bejo Korea dan banyak lagi yang lainnya. Para wisudawan tampak kesulitan membawa pulang hadiah yang berjibun.

UT di negeri ginseng sendiri kini memiliki mahasiswa aktif kisaran 400an yang umumnya adalah TKI. Sejak didirikan 6 tahun lalu UT Korea telah meluluskan 86 TKI yang berasal dari 3 jurusan yang ada, yakni manajemen, bahasa Inggris dan komunikasi. Tahun depan, menurut perkiraan, akan terjadi peningkatan kelulusan secara signifikan, kisaran 40 persen, atau sebanyak 30 orang. ()

Tim Voli Yochon Rebut Piala Dubes

WhatsApp Image 2017-08-13 at 8.18.04 PM

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Karena itulah, pertandingan voli antar masyarakat Indonesia di Korsel dihelat.

Permainan berlangsung seru dengan perolehan skor saling menyusul antara tim yang bertanding. Smash, passing dan tossing silih berganti dengan rally yang panjang dan penuh semangat. Seluruh tim tampak telah berlatih dengan baik dan tampil layaknya pertandingan voli profesional.

Ketika malam hampir datang Tim Yongchon mengambil kendali dan merebut piala Dubes. Juara kedua diambil tim Jilyang.

"Seru habis. Yochon langsung menggulung Jilyang 15-9 dan 15-13. Mungkin Jilyang sudah kelelahan," ujar Redo, seorang penonton dari Seoul.

KBRI Seoul bersama sekitar 130 diaspora Indonesia di Korsel merayakan HUT ke-72 RI dengan selenggarakan kompetisi bola voli pada 13 Agustus di Paran, Gyeonggi-do. Diikuti 13 tim yang terdiri dari pekerja dan mahasiswa di berbagai kota di Korsel bertanding memperebutkan Piala Bergilir Kemerdekaan RI dari KBRI Seoul.

Tim terlihat mempersiapkan diri dengan baik terlihat dari beberapa pertandingan yang berlangsung sangat seru dan perolehan skor yang sangat ketat.

Wakil KBRI Seoul pada pembukaan pertandingan menyampaikan salam dari Dubes RI Seoul dan pesan untuk bertanding secara sportif serta tetap menjaga nama baik Indonesia di Korsel.

Pertandingan juga turut dihadiri Kepala Kesejahteraan Pekerja Indonesia dari pihak Korea Selatan yang menaungi pekerja Indonesia dan jembatan jika ada permasalahan yang dialami pekerja Indonesia dengan pihak perusahaaan.

Hebat! Sebelas TKI jadi Sarjana

636002910335971734-ThinkstockPhotos-462114095

Bekerja 6 hari dalam seminggu bukan berarti harus melupakan pentingnya ilmu pengetahuan. Buktinya, banyak TKI di Korea menjadi sarjana. Mereka akan pulang membawa uang, pengetahuan dan pengalaman. Wow!

Pada 13 Agustus nanti akan ada sebelas orang pemuda-pemudi Indonesia yang siap memberikan hadiah terindah bagi bangsanya menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebelas Tenaga Kerja Indonesia yang mengikuti pembelajaran di Universitas Terbuka di Korea akan menjalani upacara kelulusan yang rencananya akan diselenggarakan di KBRI Seoul. Tidak cukup nampaknya bagi mereka bila hanya berbakti bagi bangsa dengan menyumbangkan devisa bagi negara. Hebat!

Kesebelas calon wisadawan tersebut; Muslim, Totok Wahyudi, Rahmat Yohanes Mandagie, Agus Budi Santosa, Lutfi Muhtar Hasan, hana Febri Nugroho, Nanang Mualim, Waras, Romie Kistaraga, Shanita dan Ahmad, telah menyelesaikan program pendidikan S1 di tengah kesibukan mereka sebagai pekerja di Korea.

"Saya rela menghabiskan waktu istirahat saya untuk belajar demi mencapai cita-cita," ujar Luthfi, seorang calon wisudawan jurusan manajemen yang bercita-cita menjadi pengusaha. Luthfi sendiri saat ini masih bekerja di Gumsung Industry.

Koordinator Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Seoul, Aji Surya, yang mengikuti gladi resik upacara kelulusan pun turut memuji para TKI ini. "Biasanya orang kalau sudah berpenghasilan besar akan malas untuk belajar, tetapi teman-teman TKI ini malah rajin sekali menuntut ilmu. Kelulusan ini benar-benar hadiah terindah menjelang Hari Kemerdekaan bagi Ibu Pertiwi," tandasnya.

Sebagai bentuk penghargaan, beberapa institusi dan perusahaan Indonesia yang berada di Korea seperti ITPC, BNI, Garuda, KMI, ICC, NU Korea dan Muhammadiah rencananya akan memberikan hadiah bagi para calon wisudawan, menambah kebahagiaan dan semangat untuk terus berkarya.

28 Anak Muda Korea siap Kuliah di Indonesia

WhatsApp Image 2017-08-09 at 2.40.04 PM

Indonesia menjadi salah satu tujuan belajar bagi anak muda Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil merupakan magnet yang tidak bisa dikesampingkan.

Sebanyak 28 anak muda Korsel siap belajar di Indonesia. Mereka yang lolos dalam program beasiswa Darmasiswa Korea tahun ini akan berangkat ke Indonesia pada tanggal 29 Agustus 2017. Umumnya, akan belajar Bahasa Indonesia di beberapa universitas terkemuka di Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, Medan dan Aceh.

Pada Selasa (8/8), seluruh peserta Darmasiswa Korea tahun 2017/2018 ini telah mengikuti pre-departure breifing di KBRI Seoul. Fungsi Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Seoul memberikan penjelasan tentang budaya, ekonomi dan berbagai hal penting tentang hidup di Indonesia.

"Saya siap berangkat ke Indonesia. Tidak ada keraguan sedikitpun. Di mata saya, Indonesia adalah negara yang indah, bagus dan luar biasa," ujar salah seorang peserta dengan penuh keyakinan.

"Saya ingin belajar Bahasa Indonesia karena melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi ekonomi yang besar," kata peserta lain.

Peserta juga diberi penjelasan terkait persiapan yang harus dilakukan menjelang keberangkatan seperti visa dan kedatangan. Selain itu mereka juga dibekali informasi mengenai Indonesia dan beberapa kota yang menjadi tujuannya para peserta Darmasiswa.

Minat masyarakat Korea untuk mempelajari Bahasa Indonesia menunjukkan peningkatan. Hal tersebut terlihat dari besarnya pelamar beasiswa Darmasiswa dari Korea yang mayoritas ingin mempelajari Bahasa Indonesia. Pada tahun lalu terdapat sekitar seratus pelamar program Darmasiswa dari Korea untuk tahun ajaran 2017/2018, namun hanya 28 orang yang lolos seleksi.

"Selain itu, hampir setiap hari KBRI juga menerima permohonan surat keterangan bagi masyarakat Korea yang akan belajar belajar Bahasa Indonesia di Pusat-pusat Bahasa di Indonesia," ujar Anggun dari KBRI Seoul.

Banyaknya perusahaan Korea di Indonesia juga menjadi penyebab besarnya minat pelajar Korea untuk dapat bekerja di Indonesia dan mempelajari Bahasa Indonesia. Mereka melihat bahwa kemampuan berbahasa Indonesia akan menjadi nilai tambah dalam persaingan dunia kerja.()

Yuk, Jalin Persatuan melalui HUT RI di Korsel

WhatsApp Image 2017-08-07 at 1.29.16 PM

Nuansa merah dan putih mulai mewarnai KBRI Seoul seiring semakin dekatnya perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebagai pembuka rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 ini, pada 6 Agustus 2017 diadakan pertandingan tenis meja serta lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak.

Acara HUT RI diadakan dengan sederhana tetapi tetap meriah dengan partisipasi dari berbagai kelompok dan organisasi masyarakat Indonesia di Korea. Dubes Umar Hadi dalam sambutannya menandaskan bahwa yang terpenting adalah kemeriahan dan kebersamaan ini dapat dirasakan oleh semua pihak terutama anak-anak.

"Sulit bagi anak-anak yang tinggal di luar negeri untuk merasakan pengalaman kebersamaan perayaan Hari Kemerdekaan semeriah di Indonesia," katanya.

Diluar dugaan, anak-anak yang berpartisipasi dalam lomba mewarnai dan menggambar tampak semangat menuangkan interpretasi Kemerdekaan Indonesia dalam berbagai warna dan cerita dalam gambar. Salah seorang anak bahkan menggambarkan sejarah Kemerdekaan Indonesia dalam bentuk comic stripe. Bukan main memang anak Indonesia, penuh dengan kreatifitas tanpa batas.

Rangkaian Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ini akan dilanjutkan dengan lomba-lomba olahraga lainnya pada minggu depan diikuti dengan upacara bendera pada 17 Agustus dan diakhiri dengan resepsi diplomatik yang rencananya akan diadakan pada bulan September.

"Semoga perayaan ini dapat semakin menumbuhkan semangat persatuan, semangat kebesamaan, gotong-royong dan solidaritas terutama diantara sesama masyarakat Indonesia di Korea Selatan," ujar Dubes. ()

Menuju Perlindungan WNI yang Seragam

SOS 5616

Perlindungan WNI di luar negeri merupakan keniscayaan. Yang menjadi isu saat ini adalah standarisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang beragam.

Dirjen Protokol dan Konsuler, Andri Hadi, menegaskan bahwa Kemlu beserta seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri sedang mengusahakan penyeragaman model perlindungan. Nantinya, formulir hingga aplikasi perlindungan akan sama.

"Dalam acara ini, kita bahas soal penyeragaman. Bagi yang ingin punya aplikasi perlindungan, tahan dulu. Lihat dulu aplikasi yang sudah maju seperti milik Seoul, Singapura dan perwakilan lain," ujarnya.

Demikianlah inti dari Bimbingan Teknis Peningkatan Pelayanan Publik dan Perlindungan WNI yang dibuka 4 Agustus 2017 di Seoul, Korsel. Hadir dalam kesempatan tersebut, Dubes RI Umar Hadi, Direktur Konsuler Didik Eko serta pejabat dari Imigrasi, Kemenag, dan lainnya.

Lebih lanjut dikatakan, bagi perwakilan yang sudah punya aplikasi maka diharapkan menyelaraskan pattern arahan Pusat. Bagi yang belum punya, agar tidak mengembangkan aplikasi sendiri melainkan memanfaatkan portal pelayanan yang sedang dikembangkan Kemlu.

"Penyeragaman dan standarisasi pelayanan memerlukan komitmen pusat dan semua perwakilan dengan tujuan menjamin mutu pelayananan, kepastian hukum dan kemudahan bagi masyarakat," ujarnya.

Sejalan dengan itu, Dubes Umar Hadi menyatakan bahwa pasca tahun 2002, pelayanan bagi WNI sudah merupakan keharusan yang tidak butuh diskusi lagi. Untuk itulah, diperlukan revolusi mental bagi seluruh diplomat Indonesia.

"Apakah saat ini sudah baik? Mari kita merenung sejenak, zooming out, mengaca diri. Apakah dalam perlindungan sudah efisien dan tepat sasaran," katanya.

Dalam bimbingan teknis tersebut, akan dibahas juga tentang penerapan sistem informasi manajemen keimigrasian (SIMKIM), pencatatan kependudukan dan pernikahan WNI di luar negeri. Bimtek dilaksanakan selama dua hari dan diikuti 28 perwakilan RI di wilayah Asia. ()

KBRI Seoul Siap Helat Peringatan HUT RI

WhatsApp Image 2017-08-04 at 2.36.12 PM

Sesuai tema “72 Tahun Indonesia Merdeka Kerja Bersama”, KBRI Seoul akan melibatkan diaspora Indonesia di Korea Selatan untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI. Sejumlah kegiatan akan dilaksanakan di seluruh penjuru Korea selama bulan Agustus hingga September ini.

Rangkaian peringatan dimulai pada 6 Agustus 2017, bertempat di KBRI Seoul dengan perlombaan perdana mewarnai dan menggambar untuk anak-anak.

Bekerja sama dengan mahasiswa Indonesia dibawah PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea), KBRI Seoul akan menyelenggarakan kegiatan “PERPIKALIMPIC 2017” pada tanggal 19 Agustus 2017. Sejumlah pertandingan olah raga seperti badminton, futsal dan basket akan digelar di Sport Complex, KAIST, Daejeon.

HUT RI juga dimeriahkan dengan pemberdayaan ayam potong dengan menghadirkan Hadi dari Pati. Waktu dan tempat akan ditentukan kemudian.

Sementara, HUT RI juga akan diperingati oleh diaspora Indonesia yang dipusatkan di kota Ansan. Beberapa pertandingan akan diperlombakan pada tanggal 20 Agustus 2017, antara lain voli, futsal dan badminton.

Guna semakin meramaikan peringatan 17 Agustus tahun ini, akan dilaksanakan wisuda UT (Universitas Terbuka) Korea pada tanggal 13 Agustus 2017 di KBRI Seoul. Sebelum pelaksanaan wisuda, di tempat dan hari yang sama UT Korea juga akan mengadakan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Dies Natalis.

Sebagai puncak acara akan dilaksanakan Upacara Bendera pada tanggal 17 Agustus 2017 di lapangan upacara KBRI. Rangkaian peringatan HUT RI ke-72 akan ditutup dengan penyelenggaraan resepsi diplomatik pada akhir September 2017.

Perbanyak Minum, Udara Panas Melanda Korea

Artikel tentang musim panas korea
 
Panas bukan hanya milik Indonesia. Di Korea Selatan, di hari kedua Agustus ini mencapai 35'C. Tidak tertutup kemungkinan menjadi tambah panas di hari-hari mendatang.
 
Seluruh warga yang tinggal di Korea Selatan, belakangan ini sering mendapatkan pesan darurat atau peringatan keadaan cuaca yang ekstrim yang dikirim oleh Ministry of Interior and Safety melalui berbagai provider hape. Maklum akhir Juli ke awal Agustus memang merupakan puncak-puncaknya musim panas di Korea. 
 
Temperatur tahun ini, kabarnya, dapat mencapai 38 derajat  Celcius di puncak musim panas dengan tingkat kelembaban 70%-80%. Tidak heran, peringatan juga berisi himbauan seperti 'kurangi aktivitas di luar ruangan' dan 'perbanyak minum'. 
 
Bagi orang Korea yang tinggal di negara 4 musim, perubahan cuaca yang ekstrim mungkin terasa lebih berat bila dibandingkan dengan orang Indonesia. Untuk mengatasi panas yang terik selama musim panas, masyarakat Korea pun mengakalinya dengan berbagai cara.
 
Menurut pengalaman banyak WNI yang sudah lama tinggal di Korea, salah satu barang paling populer selama musim panas 2017 adalah kipas angin portable. Banyak orang Korea yang terlihat berjalan-jalan dengan menggenggam kipas angin yang tersedia dalam berbagai warna dan bentuk yang menarik hati ini. 
 
"Harganya berkisar kisaran Rp 180 ribu. Para pengguna kipas angin portable ini tidak perlu capek menggerak-gerakkan tangannya seperti saat menggunakan kipas angin tradisional. Kipas angin ini juga praktis karena bisa dicas menggunakan charger hape," kata seorang WNI.
 
Tempat lain yang juga populer dikunjungi saat musim panas adalah "gyegok". Gyegok adalah aliran sungai yang biasanya terdapat di gunung atau pedesaan. Masyarakat Korea biasanya bermain air di aliran air sambil membawa semangka. Semangka yang mereka bawa disimpan selama beberapa waktu di sungai yang berfungsi sebagai kulkas alam, agar lebih segar saat dimakan. ()Panas bukan hanya milik Indonesia. Di Korea Selatan, di hari kedua Agustus ini mencapai 35'C. Tidak tertutup kemungkinan menjadi tambah panas di hari-hari mendatang.
 
Seluruh warga yang tinggal di Korea Selatan, belakangan ini sering mendapatkan pesan darurat atau peringatan keadaan cuaca yang ekstrim yang dikirim oleh Ministry of Interior and Safety melalui berbagai provider hape. Maklum akhir Juli ke awal Agustus memang merupakan puncak-puncaknya musim panas di Korea. 
 
Temperatur tahun ini, kabarnya, dapat mencapai 38 derajat  Celcius di puncak musim panas dengan tingkat kelembaban 70%-80%. Tidak heran, peringatan juga berisi himbauan seperti 'kurangi aktivitas di luar ruangan' dan 'perbanyak minum'. 
 
Bagi orang Korea yang tinggal di negara 4 musim, perubahan cuaca yang ekstrim mungkin terasa lebih berat bila dibandingkan dengan orang Indonesia. Untuk mengatasi panas yang terik selama musim panas, masyarakat Korea pun mengakalinya dengan berbagai cara.
 
Menurut pengalaman banyak WNI yang sudah lama tinggal di Korea, salah satu barang paling populer selama musim panas 2017 adalah kipas angin portable. Banyak orang Korea yang terlihat berjalan-jalan dengan menggenggam kipas angin yang tersedia dalam berbagai warna dan bentuk yang menarik hati ini. 
 
"Harganya berkisar kisaran Rp 180 ribu. Para pengguna kipas angin portable ini tidak perlu capek menggerak-gerakkan tangannya seperti saat menggunakan kipas angin tradisional. Kipas angin ini juga praktis karena bisa dicas menggunakan charger hape," kata seorang WNI.
 
Tempat lain yang juga populer dikunjungi saat musim panas adalah "gyegok". Gyegok adalah aliran sungai yang biasanya terdapat di gunung atau pedesaan. Masyarakat Korea biasanya bermain air di aliran air sambil membawa semangka. Semangka yang mereka bawa disimpan selama beberapa waktu di sungai yang berfungsi sebagai kulkas alam, agar lebih segar saat dimakan. ()

Hantu Kuntilanak Takuti Publik Korea

kuntilanak3

Soal menakut-nakuti publik, mungkin Indonesia termasuk jagoan. Hantu kuntilanak yang merupakan hal mistis di Indonesia, telah membuat warga Korea ketakutan.

Meskipun baru pertama kalinya Indonesia diundang dalam Daegu International Horror Festival, Korea Selatan, tampilan artis Indonesia bisa dibilang sukses. Banyak penonton histeris, bahkan diantaranya lari dari tempat duduknya saat beberapa kuntilanak muncul dan bergelantungan di kegelapan malam, ditingkahi lagu magis dan aroma-aroma tidak normal.

Siapa sih para pembuat takut tersebut? Mereka adalah kelompok teater dari Jakarta, Stage Corner Community yang menjadi grup Indonesia pertama yang tampil di festival horor tersebut. Stage Corner membawakan lakon “Lingsir Wengi: Repertoire Kuntilanak”, yang diangkat dari lagu Lingsir Wengi karya Sunan Kalijaga. Menjadi grup penutup pada festival tersebut Minggu (30/7), Stage Corner Community berhasil menakuti penonton dengan penampilan kuntilanak yang melayang.

Disutradarai oleh Dadang Badoet, Stage Corner Community tampil total dengan membawa nuansa mistis dan horor khas Indonesia dengan aroma bunga dan kemenyan, nyala obor, serta diiringi tembang Lingsir Wengi.

kuntilanak4

"Wujud hantu “Kuntilanak” Indonesia memiliki kemiripan dengan hantu “Gwisin” yang ditakuti di Korea, sehingga penonton serentak berteriak saat kemunculan kuntilanak melayang," ujar seorang penonton.

Lima ratusan penonton yang memenuhi Daegu Stadium, Citizen Square, Daegu Town Small Theater, memberikan sambutan yang meriah usia pertunjukan dan rela mengantri untuk berfoto dengan para pemain.

"The best performance, especially with the flying ghost,” puji salah seorang panitia.

Dadang mengaku puas bisa menakut-nakuti publik Korea Selatan. Perpaduan pengetahuan budaya dan artikulasi pentas panggung dianggap pas untuk sebuah pementasan honor di Korea. Ia dan timnya siap datang lagi untuk membuat mereka lebih takut lagi.

Menurut Anggun dari KBRI Seoul, selain kelompok dari Indonesia dan dalam negeri Korea sendiri, juga hadir kelompok teater dari Jepang, Taiwan dan China. Daegu International Horror Performance and Arts Festival merupakan agenda tahunan Pemerintah kota Daegu dimana tahun ini telah diselenggarakan yang ke-14 kalinya. Festival ini berlangsung selama empat hari dari tanggal 27 – 30 Juli 2017 di Daegu Stadium. ()

Demi Layanan yang lebih baik, KBRI Seoul Kukuhkan Atase Imigrasi

WhatsApp Image 2017-08-01 at 3.43.14 PM

The public service has become the commitment of the IndonesianGovernment. Hence, the Indonesian Embassy in Seoul is trying to improve its service by assigning an Immigration Attaché.

In the inauguration ceremony of the Immigration Attaché, Mr. Sugito  at the Indonesian Embassy in Seoul on 31July 2017, Indonesian Ambassador Umar Hadi emphasized the importance of citizen protection and service by compiling an accurate database of Indonesian citizens. Thus, the services and policies can be in line with the target and avoid inefficiency.

"Out of approximately 40,000 Indonesian Citizens in South Korea, 36,000 are workers with their education levels starting from junior high schools to undergraduates, and scattered almost evenly across South Korea.Thus, it needs to establish an appropriate system of services and facilities  respecting to the conditions of Indonesian citizens in South Korea,"he said.

The existence of Immigration Attaché at the Indonesian Embassy in Seoul also will be the initial step of enforcing the Immigration Managementand Information System (SIMKIM), as it is also applied in someIndonesian representatives abroad. SIMKIM is a systemwhich is built to improve the service and quality of travel documents so that it becomes more secure and in accordance with the international standards. A good quality of travel document will give assurance forthe passport holders in traveling abroad.

It is realized that the implementation of SIMKIM will cause changes in procedures, time and quality of work compared to the procedures previouslypracticed. Therefore, it is necessary to carry out the  socialization and information dissemination to Indonesian citizens in South Korea about the benefits and significance of SIMKIM as an effort to improve the citizen service and protection.

"Bymaking a comprehensive planning and collaborating with all parties, challenges and problems can be resolved," added the Ambassador.

Since 2014, the Indonesian Embassy in Seoul has implemented an online system for passport extension and visa application. In addition, since last year the applicationfor citizen protection has beenintroduced which is called M KBRI Seoul. Both services have been provenfor giving good quality of services with a public satisfaction level above 80 percent

Korean Air Terbang Perdana Seoul/Incheon – Lombok

WhatsApp Image 2017-07-31 at 9.23.27 AM

Seoul - Pesona Lombok mulai 'menyihir' wisatawan dari Korea Selatan. Buktinya, maskapai Korean Air mulai terbang ke Lombok Sabtu pagi (29/7). Kali pertama!

Pagi, 29 Juli 2017, menjadi sejarah penerbangan bagi Indonesia. Korean Air, untuk pertama kali terbang langsung dari Bandara Incheon, Seoul menuju Lombok.

Sebanyak 183 penumpang tampak riang dan antusias menunggu penerbangan perdana Korean Air berkode KE9629 menuju pulau tetangga Bali, Lombok. Walaupun rata-rata belum pernah ke Indonesia, namun semua yakin bahwa pulau tujuan mereka sangat indah.

WhatsApp Image 2017-07-31 at 9.23.25 AM

 

Penerbangan ke Lombok tergolong relatif lama, sekitar 6 jam 20 menit. Namun semua penumpang tak peduli. Lombok sepertinya telah menjadi magnet yang tidak mungkin digantikan oleh tempat lain di dunia.

"Saya bersama dua anak memang mau liburan, dan saya pikir Lombok merupakan tujuan yang menarik. Saya yakin itu setelah melihat Lombok dari acara di stasiun TV Korea," ujar seorang ibu bersama dua anaknya.

"Saya belum pernah ke Indonesia, tetapi setelah menonton serial acara memasak di TV yang mengambil lokasi di sebuah pantai di Lombok, saya jadi tertarik pergi ke sana," kata penumpang lain yang masih mahasiswa.

Rupanya, rata-rata penumpang penerbangan perdana langsung ke Lombok ini terhipnotis oleh serial Reality Show kuliner Youn's Kitchen yang lokasi shootingnya di salah satu pantai Lombok. Reality Show yang ditayangkan di TV Korea Selatan itu pun telah tayang sembilan kali dan menjadikan Lombok buah bibir di masyarakat Korea.

KBRI Seoul juga merasakan dampak Youn's Kitchen yang mendapat banyak telepon dari masyarakat Korea yang ingin tahu eksotika pulau Lombok. 

WhatsApp Image 2017-07-31 at 9.23.26 AM

Tak pelak, maskapai penerbangan Korean Air ingin mengambil keuntungan dari popularitas Youn's Kitchen. Lantas dibuatlah paket kunjungan penerbangan dan wisata ke Lombok selama empat malam dengan tujuan yang bervariasi seperti paket Gili, Rinjani hingga bermain golf.

Akan ada lima penerbangan perdana ini, masing-masing tanggal 29 Juli, 2 Agustus, 6 Agustus, dan saat libur panjang Chuseok awal Oktober, semuanya masih berupa penerbangan charter. Pesawat yang dipergunakan adalah pesawat Airbus tipe A330-200Q berkapasitas 218 penumpang. Bila dianggap menguntungkan, tidak tertutup kemungkinan suatu saat nanti akan menjadi penerbangan reguler. Dari data yang ada saat ini, tingkat booking seat saat ini rata-rata sudah di atas 90 persen. Bahkan ada yang fully booked!

Dubes Umar Hadi menyambut baik penerbangan perdana ini. Baginya, ini merupakan buah dari upaya bersama dalam mendorong lebih banyak wisatawan Korea datang ke Indonesia. Masih banyak promosi lain yang akan dikembangkan.

"Tunggu saja kejutan selanjutnya," ujar Dubes Umar.

Wow! Ada Little Bandung di Seoul

Little Bandung 1

Sehari setelah menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Korsel, Dubes RI di Seoul Umar Hadi langsung bekerja. Pada Kamis pagi (20/7) harinya  Dubes Umar membuka pavilion Indonesia pada Handmade Korea Summer 2017 di Convention and Exhibition Center (COEX), Seoul yang diikuti 23 pengusaha UKM dari Bandung, Yogyakarta, Bali, Lampung, Surabaya, dan Jakarta.  Siang harinya Dubes Umar meresmikan “Little Bandung Wall” yang berada di restoran Bali Bistro bersama-sama dengan Ketua Dekranasda Bandung Atalia Praratya Kamil.

“Hampir 30% dari nilai ekspor non migas Indonesia ke Korea adalah batubara.  Sementara kebijakan pemerintah baru Korea akan menghapus secara bertahap pembangkit listrik tenaga batubara, oleh karena itu kita harus bekerja keras mencari alternatif produk non migas lainnya untuk menggantikan posisi batubara yang kedepannya permintaan dari Korea pasti menurun,” demikian dijelaskan Dubes Umar Hadi.

Little Bandung 2

Dubes Umar Hadi yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Bandung ini, tahu persis potensi yang dimiliki kota yang terkenal dengan julukan Paris van Java ini.  “Bandung merupakan kota yang banyak anak-anak muda kreatif, yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi, bisa menjadikan Korea sebagai salah satu pasar potensial bagi produk-produk tersebut”, jelas Umar.

Selain di Bali Bistro milik pengusaha muda Korea kelahiran Bandung Mr. Gidong Lee yang berada di daerah Mapo-gu, Seoul, Little Bandung Wall juga dibuka di Fun Road Cafe di daerah Anyang-si. “Pembukaan Little Bandung Wall di dua tempat sekaligus di Seoul, Korea merupakan langkah awal yang strategis dalam upaya memasarkan produk-produk asal kota Bandung, khususnya produk-produk UKM untuk menerobos pasar Korea,” demikian tutur Atalia pada saat sambutan.

Pada saat acara peresmian dilakukan video call antara Dubes Umar Hadi dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil.  “Pemkot Bandung sangat mengapresiasi dukungan seluruh jajaran KBRI Seoul yang secara aktif mencarikan mitra di Korea untuk terealisirnya peresmian Little Bandung Wall pada hari ini,” demikian imbuh Ridwan Kamil.

Little Bandung 3

Produk-produk yang ditampilkan di Little Bandung Wall terdiri dari produk makanan, produk kerajinan tangan dan produk fashion.   Kuliner khas Bandung seperti pancake durian, cokelat, keripik jamur tiram, keripik kentang mustofa, dan berbagai produk kerajinan, serta produk fashion seperti tas, sepatu, pakaian, kacamata, dll, dipajang sebagai contoh produk.  Produk yang dipasarkan lengkap dimuat dalam katalog Little Bandung.  Calon pembeli yang tertarik terhadap produk dapat menghubungi produser eksportir yang secara lengkap dimuat dalam katalog.  Kedepannya pihak Pemkot Bandung akan mendirikan Little Bandung Store yang dapat menjual secara langsung produknya kepada konsumen Korea.

Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung, ekspor dari kota Bandung ke Korea cenderung meningkat. “Pada 2016 tercatat USD 13 juta meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD 11 juta, dengan komoditi utama seperti alat kesehatan, fashion, furniture, dan makanan,” demikian pungkas Eric M. Atthauriq, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung. (*)

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014