Warga Korea Selatan Korban AirAsia QZ8501 Teridentifikasi

airasia1

Tim Disaster Victim Identification (DVI) kembali berhasil mengidentifikasi tiga jasad korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Dua di antaranya berhasil dikenali dari gigi emasnya.

Jasad pertama diketahui bernama Kyung Hwa Lee, perempuan, 34 tahun, warga negara Korea Selatan. Lee dikenali berdasarkan pencocokan antara antemortem berupa jenis kelamin, usia, serta properti berupa bra khusus untuk menyusui dengan data postmortem-nya.

"Data itu diperkuat dengan data primer, yakni kecocokan antara data antemortem tambalan gigi berbahan emas dengan data postmortem," ujar Ketua Tim DVI Kombes Budiyono di kompleks Mapolda Jawa Timur, Minggu (11/1/2015).

Jasad kedua diketahui bernama Seong Beom Park, laki-laki, 37 tahun, warga negara Korea Selatan. Park dikenali berdasarkan pencocokan antara antemortem berupa usia, jenis kelamin, serta properti, yakni gendongan bayi dengan postmortem.

"Hal itu juga diperkuat dengan pencocokan antara data antemortem, yakni foto panoramic gigi tambalan berbahan emas korban dengan data postmortem," lanjut dia.

Berdasarkan manifes pesawat, Lee dan Park adalah sepasang suami istri. Keduanya diketahui membawa bayi mereka yang masih berusia satu tahun. Meski demikian, sang bayi belum ditemukan hingga saat ini.

Adapun jasad ketiga yakni diketahui atas nama Vera Chandra Kho, perempuan berusia 19 tahun dengan label jenazah B037. Vera dikenali dari kecocokan data sekunder, yakni jenis kelamin, usia, dan properti anting antara data antemortem dengan postmortem.

"Data itu diperkuat setelah tim DVI mendapat rekam medis gigi kirban dari dokter gigi yang pernah merawat korban. Hasilnya cocok," ujar Budiyono.

Dengan teridentifikasinya tiga jasad tersebut, tim DVI telah berhasil mengidentifikasi 32 jasad dari 48 jasad yang masuk ke Rumah Sakit Bhayangkara. Adapun, dari 32 jasad itu, 29 jasad di antaranya telah diserahkan kepada keluarganya masing-masing untuk dikebumikan atau diperabukan. (kompas.com)

KBRI Seoul Menyerahkan Langsung Jenazah Korban Oryong 501

oriong 501

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi hari Jumat (9/12/2015) menerima penyerahan 13 jenazah warga negara Indonesia yang menjadi korban tenggelamnya kapal Oryong 501 milik Korea Selatan di Selat Bering, Rusia. Penyerahan 13 jenazah yang telah diidentifikasi tersebut dilaksanakan di terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta.

Melalui kerjasama KBRI Seoul  dengan pemerintah Korea Selatan proses identifikasi dapat diselesaikan dengan cepat dan jenazah diserahkan langsung oleh Wakil Kepala Perwakilan RI, Seoul, Korsel, Cecep Herawan.

Dalam serah terima tersebut selain pihak Kemlu RI melalui KBRI Seoul dan KBRI Moskwa yang selama ini memang intensif memantau pencarian dan identifikasi, turut hadir pula perwakilan daerah asal korban yaitu dari Pemerintah Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Dengan dipulangkannya 13 jenazah ini, total 19 korban Oryong telah ditemukan.

Pekan lalu, tiga korban selamat yaitu Wanto asal Brebes, Teguh Hariono asal Lumajang, dan Naryanto Bin Wastara asal Indramayu telah dipulangkan. Sementara itu, ada tiga jenasah yang saat ini masih dalam tahap identifikasi akan dikirimkan ke Indonesia secepatnya.

Seperti dilaporkan Kemlu sebelumnya, Kapal Oryong 501 yang tenggelam di Selat Bering, Rusia pada 1 Desember lalu ini membawa total 35 anak buah kapal (ABK) asal Indonesia. Dengan ditemukannya 19 korban, maka total 16 ABK asal Indonesia belum ditemukan.

Sementara itu Kemlu dan KBRI Seoul berkomitmen untuk menyelesaikan hak-hak korban, baik asuransi maupun kewajiban perusahaan.

Kemlu tunggu proses identifikasi jenazah penumpang QZ8501

airasia1

Kementerian Luar Negeri menunggu proses identifikasi jenazah penumpang Air Asia QZ8501 untuk memastikan proses pemulangan bila terdapat warga negara asing.

"Jadi saya sudah bicara dengan Pak Kapolri kan ini evakuasi sudah dilakukan pihak terkait," kata Menteri Luar Negeri Retno P Marsudi di Kompleks Istana Presiden Jakarta, Selasa.

Menlu mengatakan pihaknya telah menyepakati proses penanganan korban bila berkewarganegaraan asing.

"Kita sudah menyepakati mekanisme dengan Kapolri karena itu (proses identifikasi) di bawah mereka. (jika) ada warga negara asing, Kemenlu yang akan memberikan notifikasi kepada kedutaan warga negaranya yang sudah teridentifikasi," kata Menlu.

Menlu Retno mengatakan, kementerian luar negeri akan dilibatkan untuk proses pemulangan jenazah penumpang yang berkewarganegaraan asing.

"Notifikasi, karena mengenai masalah pemulangan jenazah diurus operator, jadi tugas kementerian luar negeri adalah memberikan notifikasi kepada kedutaan besar dimana warga negaranya teridentifikasi," kata Menlu.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur kepada wartawan di Surabaya, Selasa, mengatakan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim pada Selasa pagi akan melaksanakan rapat rekonsiliasi terhadap 21 jenazah yang sudah selesai pendataan post mortem untuk menemukan identitas jenazah. (Antara news)

Pesawat Korsel Temukan 6 Jenazah

airasia1

Pesawat P3-C Orion KN-01 milik Korea Selatan yang kepas landas dari Lanud Halim Perdanakusuma tak membawa tangan kosong dalam operasi pencarian hari keduanya. Pesawat ini berhasil menemukan 6 jenazah korban Pesawat AirAsia yang jatuh di selatan Perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

"Setelah menyisir area pencarian selama lebih dari 2 jam akhirnya pada pukul 11.58 mereka berhasil menemukan 3 jenazah duduk di kursi dalam satu baris (row) pada koordinat 03.52.34.S dan 110.29.50.E," demikian tertulis dalam siaran pers Dispen TNI AU, Jumat (2/1/2015).

Penemuan selanjutnya dari operasi Pesawat Orion yang berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pagi tadi terjadi pada pukul 12.31 WIB, 12.48 WIB, dan terakhir pukul 13.00 WIB. Salah satu jenazah terlihat dari pantauan udara dengan posisi terlentang.

"Ketiganya terletak di lokasi tidak jauh dari 3 jenazah pertama. Setiap penemuan korban segera disampaikan lewat radio di samping melempar suar pendanda posisi setiap korban untuk dievakuasi oleh KRI 357 Bung Tomo yang juga mengatur kapal lain termasuk USS Sampson di dekat situ," lanjut keterangan Dispenau.

Pesawat Korsel dibawah pimpinan Mission Commander Colonel Yoon Kiheui itu saat ini telah kembali mendarat di Lanud Halim. Dalam operasi SAR AirAsia hari kedua Orion Korsel, pesawat intai anti kapal selam tersebut terbang cukup rendah pada ketinggian 300 feet atau 100 meter dari permukaan laut. (detik.com)

Ini Kronologi Penemuan AirAsia QZ8501

airasia1

Setelah melakukan pencarian terus menerus pada hari ke 3, Selasa 30 Desember 2014 , Badan SAR Nasional (Basarnas) bersama tim berhasil menemukan serpihan pesawat AirAsia QZ8501 dan jenazah penumpang. Temuan ini berpusat di Laut Jawa, dekat dengan Selat Karimata.

Berikut kronologi proses penemuan tersebut seperti disampaikan Kepala Basarnas Marsdya FHB Soelistyo di kantornya, Jl Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat sebagai berikut:

Pukul 10.05 WIB
Pesawat C295 milik TNI AU menemukan benda-benda berupa serpihan yang mengapung pada posisi 03°46' 50'', dan 110° 29' 27''.

Pukul 11.07 WIB
Pesawat Hercules TNI AU °°menemukan kembali lempengan logam pada posisi 08° 50'' 43', dan 110° 29''21.8'.

Pukul 12.50 WIB
Pesawat Hercules TNI AU menemukan objek yang menggambarkan bayangan di dalam laut seperti diduga bentuk pesawat.

Pukul 13.25 WIB
Pencarian kembali dilakukan untuk meyakinkan temuan-temuan itu, dan tim pencari kembali melihat benda mengapung yang diduga salah satu jasad penumpang.

Pukul 13.50 WIB
Unsur TNI AL yaitu KRI Bung Tomo melihat benda terapung yang diduga emergency exit door dari pesawat.

Pukul 14.00 WIB
KRI Bung Tomo bersama-sama dengan helikopter Basarnas melaksanakan pencarian untuk meyakinkan sekaligus mengevakuasi serpihan berupa emergency exit menuju kapal KRI Bung Tomo. (Photo : Merdeka.com)

Pesawat Air Asia Hilang Kontak

airasia1

by. Merdeka.com

Pencarian besar-besaran telah dimulai hari ini untuk menemukan AirAsia yang hilang kontak saat terbang dari Surabaya menuju Singapura. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tak ada batas waktu pencarian pesawat bernomor QZ8501.

"Pemeritah tidak akan pernah putus asa dan tak berikan batas waktu kapan pencarian itu, yang penting temukan korbannya dan pesawatnya," kata Jusuf Kalla dalam jumpa pers di Bandara Juanda, Sidoarjo, Senin (29/12/2014).

JK mengatakan semua pihak bekerja keras bahu membahu baik dari Basarnas, TNI, termasuk dari pihak AirAsia sendiri untuk secepat mungkin menemukan pesawat yang mengangkut 162 orang tersebut.

"Semua bekerja sama termasuk AirAsia berusaha keras temukan pesawat itu," ujar ketua umum PMI itu.

"Memang menemukan pesawat di lautan yang luas, tentu tidak semudah ditemukan di darat. Tapi usaha keras selalu kita usahkan apalagi di dalam cuaca buruk," tegas JK.
Pesawat AirAsia hilang kontak dalam penerbangan dari Surabaya menuju Singapura pada Ahad pagi, 28 Desember 2014. Pesawat dijadwalkan tiba di Singapura pukul 07.20 WIB.

Pesawat jenis Airbus A320-200 ini membawa 155 penumpang, terdiri atas 138 orang dewasa, 16 anak, dan 1 bayi, serta 2 pilot, 4 awak kabin, dan 1 teknisi. Pesawat diterbangkan oleh Kapten Irianto.

AirAsia berangkat dari Surabaya pukul 06.36 WIB. Perjalanan dari Singapura ke Surabaya seharusnya memakan waktu 2 jam 20 menit.
Berikut 155 nama penumpang pesawat AirAsia yang hilang kontak tersebut, seperti yang di dapatkan dari manifes pesawat, Minggu (28/12) sbb:

1. Abraham, Viona Florensa
2. Alain Oktavianus, Siauw
3. Andriani, Ratri Sri
4. Andrijany, Vicencia Sri
5. Ang, Sharon Michelle
6. Ang, Steven Michael
7. Angelina, Ong
8. Anggara, Lindawati
9. Anggraini, Monica
10. Anggreni, Linda
11. Ann Santiago, Jasmine Rose
12. Ardhi, Jayden Cruz
13. Ardhi, Reggy
14. Astutik, Yuni
15. Aurelia, Thirza
16. Biantoro, Djarot
17. Biantoro, Kevin
18. Chandra, Gani
19. Choi, Chi Man
20. Choi, Zoe Man Suen
21. Claudia Ardhi, Marianne
22. Clemency Ardhi, Michelle
23. Darmaji, The
24. Diani, Inda
25. Djomi, Kaylee C
26. Djomi, Marianus
27. Emmanuel, Angeline Esther
28. Ernawati, Ernawati
29. Evientri Wahab, Musaba
30. Febriantus, Edward
31. Fei, Joe Jeng
32. Fernando, Adrian
33. Gani, Susilo
34. Giovanni, Justin
35. Giovani, Nico
36. Go, Feilensia Sularmo
37. Gunawan, David
38. Gunawan, Jie Charly
39, Gunawan, Jie Stephanie
40. Gunawan, Jie Steven
41. Gunawan, Jie Stevie
42. Gunawan, Kayla Audrey
43. Gunawan, Kenneth Matthew
44. Gunawan Syawal, Hendra
45. Halim, Hindarto
46. Hamid, Hayati Lutfiah
47. Handayani, Finna
48. Handoyo, Roni
49. Haripin, Sukiatna
50. Harja Subagio, Prawira
51. Hartono, David
52. Harwon, Lice, Caroline
53. Ho, Juliana
54. Hutama, Christanto Leoma
55. Indri, Jo
56. Jauw, Monita Wahyuni
57. Jessica, Jessica
58. Jong, Ang Mie
59. Josal, Shiane
60. Kho, Kosuma Chandra
61. Kho, Vera Chandra
62. Krisputra, Sesha Aldi
63. Krisputri, Felicia Sabrina
64. Kristiyono, Kristiyono
65. Kusuma, Nelson
66. Kusumo, Wirantono
67. Lee, Kyung Hwa
68. Liangsih, Indahju
69. Liem, Fransisca Lanny Winat
70. Ligo, Ekawati
71. Lim, Yan Koen
72. Liman, Susandhini
73. Limantara, Juanita
74. Linaksita, Grayson Herbert
75. Linaksita, Kathleen Fulvia
76. Linaksita, Tony
77. Linggarwati, Sri
78. Megawati, Megawati
79. Merry, Merry
80. Muttaqin, Abdullah
81. Noventus, Andrian
82. Nurwatie, Donna Indah
83. Octavani, Lanny
84. Oci, Jinny Sentosa Winata
85. Oktavianus, Denny
86. Ong, Sherlly
87. Pai, Soemamik Saeran
88. Park, Seongbeom
89. Permata, Gusti Atu Putriyan
90. Poo, Andri Wijaya
91. Pornomo, Christien Aulia
92. Pornomo, Ferni Yufina
93. Puspitasari, Ruth Natalia M
94. Putri, Gusti Ayu Made Keish
95. Ranuwidjojo, Mulyahadikusum
96. Ratna Sari, Ria
97. Romlah, Siti
98. Santoso, Fandi
99. Santoso, Karina
100. Santoso, Nikolas Theo
101. Sari, Lia
102. Sebastian, Yonatan
103. Sentoso, Samuel Joyo
104. Sholeh, Marwin
105. Sia, Soetikno
106. Sidartha, Gusti Made Bobi
107. Sii, Chung Huei
108. Soesilo, Elbert
109. Soetanto, Aris
110. Soetanto, Lima
111. Soetjipto, Cindy Clarissa
112. Soetjipto, Kevin Alexander
113. Soetjipto, Rudy
114. Soewono, Yenni
115. Su, Bundi
116. Sukianto, Kartika Dewi
117. Sulastri, Sulastri
118. Suryaatmadja, Hanny
119. Suseno, Djoko
120. Suseno, Naura Kanita Rosada
121. Susiyah, Susiyah
122. Tanus, Herumanto
123. Thejakusuma, The Meiji
124. Theodoros, Hendra
125. Theodoros, Raynaldi
126. Theodoros, Winoya
127. Usin, Suriani
128. Utomo, Soesilo
129. Wahyuni, Eny
130. Wen, Oktaria
131, Wicaksana, Bima Ali
132. Widjaja, Andreas
133. Widjaja, Djoko Satryo Tanoe
134. Widjaja, Eko
135. Widodo, Florentina Maria
136. Widodo, Nanang Priyo
137. Widyawati, Anna
138. Wijaya, Alfred
139. Wijaya, Bob Hartanto
140. Wijaya, Marilyn
141. Wijaya, William
142. Wijaya, Kwee Indar Prasetyo
143. Winata, Boby Hartanto
144. Winata, Inggrid Jessica
145. Wuntarjo, Natalina
146. Yani, Indri
147. Yongki, Jou
148. Youvita, Elisabeth
149. Youvito, Brian
150. Yuanita, Jou Christine
151. Yulianto, Albertus Eka Sury
152. Yulianto, Indra
153. Yulianto. Stephanie
154. Yuni, Indah
155. Infant: Park, Yuna

Korban Tenggelamnya Kapal Oryong 501 tiba di Busan

Oryong26des142

Pada hari Jumat, tanggal 26 September 2014, para awak kapal Oryong 501 yang tenggelam di selat Bering, Rusia tanggal 1 Desember 2014, telah sampai di pelabuhan Busan setelah melakukan perjalanan dari lokasi selama sekitar 17 hari. Para awak kapal yang dibawa oleh kapal Rusia ini terdiri dari 6 awak yang selamat dan 21 awak Indonesia dan Philipina yang meninggal. Sedangkan Awak kapal Korea Selatan yang meninggal akan dibawa dengan kapal lainnya.

Sampai saat ini pencarian masih terus dilakukan yang melibatkan 14 kapal Korea Selatan, Rusia dan Amerika Serikat ditambah dengan beberapa kapal Ikan yang berada selat tersebut. Dari perkembangan terakhir dari 60 awak kapal Oryong 501, korban yang ditemukan berjumlah 34 orang dengan 7 selamat dan 27 orang ditemukan telah meninggal sehingga 16 awak masih dalam proses pencarian. Dari 7 kru yang selamat terdapat 3 WNI, 3 Filipina dan 1 warga Rusia. Sedangkan dari 27 kru yang meninggal dunia 14 diantaranya WNI sedangkan yang lain terdapat 6 warga Korea, 6 warga Filipina dan 1 belum teridentifikasi. Sampai saat ini pencarian awak kapal yang tenggelam tersebut masih terus dilakukan.

Pada hari Jumat pagi seluruh korban yang ditemukan selamat maupun meninggal telah diterima oleh pihak berwenang Korea Selatan dan perwakilan masing-masing negara. Dari Indonesia tampak Wakil Kepala Perwakilan RI, Cecep Herawan dan beberapa Staf KBRI Seoul menyambut dengan penuh duka ke 3 WNI yang selamat dan 14 WNI yang telah meninggal.

Ke 3 WNI selamat, setelah tiba akan menjalani chek kesehatan dan beberapa prosedur administrasi dan dokumen lainnya serta juga akan menjalani pendalaman oleh pihak yang berwenang untuk mendapatkan informasi tentang kecelakaan tersebut. Selama proses tersebut para WNI terus didampingi oleh staf dari KBRI Seoul. Setelah seluruh proses selesai awak kapal Indonesia yang selamat tersebut secepatnya akan dipulangkan ke Indonesia.

Sedangkan untuk para korban WNI yang meninggal juga akan dilakukan proses identifikasi ulang oleh Tim Disaster Victim Identification yang berasal dari Indonesia dan Korea Selatan dan secepatnya korban WNI yang meninggal tersebut juga akan dikirimkan ke Indonesia.

Perayaan Natal Diisi Doa Bersama Terhadap Korban Kapal Oryong

Natal142

Pada hari Kamis, tanggal 25 Desember 2014, warga negara Indonesia yang beragama Kristen di Korea Selatan, melakukan Natal bersama di gereja Youido. Pada Acara yang dihadiri oleh sekitar 300 undangan tersebut berlangsung khidmat dan meriah.

Pada acara tersebut dari KBRI Seoul, Korea Selatan hadir Wakil Kepala Perwakilan RI (Wakeppri) Bapak Cecep Herawan dan beberapa staf KBRI. Pada kesempatan tersebut Bapak Wakeppri atas nama pimpinan dan staf KBRI Seoul menyampaikan selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh undangan dan warga negara Indonesia yang merayakannya.

Pada kesempatan tersebut bapak Wakeppri juga menginfokan bahwa para korban tenggelamnya kapal Oryong 501 akan tiba di Busan pada Jumat, tanggal 26 Desember 2014, dimana diantara korban terdapat warga negara Indonesia. Pencarian sampai saat ini masih terus dilakukan dan sampai saat ini awak kapal Indonesia yang telah ditemukan 3 korban selamat dan 14 lainnya ditemukan telah meninggal. Pada kesempatan tersebut Bapak Wakeppri mengajak para hadirin untuk berdoa bersama terhadap para korban tersebut.

Jokowi Perintahkan BNP2TKI Pulangkan 1,8 Juta TKI Ilegal

jokowi2

Jakarta - BNP2TKI diberi mandat Presiden Joko Widodo untuk bisa memulangkan 1,8 juta TKI ilegal dari seluruh dunia. Nantinya mereka akan diberi pelatihan agar tidak tergiur kembali ke luar negeri.

"Perintahnya disuruh mulangin 1,8 juta TKI ygang nonprosedural dan ilegal di seluruh dunia," kata Kepala BNP2TKI Nusron Wahid di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/12/2014).

Aksi ini akan dikoordinir oleh Menko PMK Puan Maharani. Tujuan penarikan tersebut tentu saja agar keberadaan TKI itu tidak menjadi masalah di negara sahabat.

Ada tiga negara yang menjadi tempat favorit TKI Ilegal. Mulai dari Timur Tengah, Malaysia dan Korea. Semua biaya pemulangan itu akan dicover oleh APBN.

Jika berhasil memulangkan, mereka akan diajarkan berbagai ketrampilan. Harapannya agar mereka tidak lagi tergiur untuk mengadu nasib ke negeri orang.

"Jadi nanti ada tenaga kerja yang tersedia sebanyak 1,8 juta orang," lanjut politisi Golkar ini. (detik.com)

Pemerintah Berencana Pulangkan 1,8 Juta TKI Non Prosedural

jokowi2

Jakarta, BNP2TKI, Kamis (18/12) - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Nusron Wahid, mengatakan pemerintah berencana memulangkan 1,8 juta TKI non prosedural dari Indonesia yang bekerja di luar negeri. Proses pemulangan para TKI non prosedural itu akan menggunakan anggaran negara.

"Akan dibahas untuk memulangkan 1,8 juta TKI non prosedural yang tidak punya kontrak. Dana disediakan dari APBN," ujar Nusron di Kantor Presiden, Rabu (17/12/2014).

Nusron mengaku sejumlah menteri akan membahas teknis pemulangan para TKI non prosedural itu. Pemerintah juga akan mempertimbangkan proses hukum yang berlaku di tempat tersebut.

Saat ini 1,8 juta TKI non prosedural itu, menurut Nusron, paling banyak berada di Malaysia sebanyak 1,2 juta orang. Sementara sisanya tersebar di kawasan Timur Tengah, Korea, Taiwan, dan Hongkong. Saat ini setidaknya ada 6,2 juta tenaga kerja Indonesia, jumlah itu sudah mencakup TKI non prosedural.

Meski tetap melakukan penindakan, Nusron mengungkapkan bahwa upaya pencegahan TKI non prosedural berangkat ke luar negeri tetap dilakukan. Salah satunya adalah memangkas biaya dan memudahkan syarat untuk menjadi tenaga kerja Indonesia resmi.

Nusron mengakui proses menjadi TKI prosedural sangat lama dan mahal. Karena itu pemerintah akan mengambil kebijakan menurunkan cost of structure dan pengawasan di daerah tertentu.

Mantan anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bidang Keuangan ini mengatakan akan berkomunikasi instansi pemerintah lainnya untuk koordinasi pemulangan para TKI ini.

PENGUMUMAN: KUKRI Busan tutup pada tanggal 11 dan 12 Desember 2014

PEMBERITAHUAN/공지 사항/NOTIFICATION

 

-

PENGUMUMAN: Pelayanan Konsuler Akan Tutup Sementara

PEMBERITAHUAN/공지 사항/NOTIFICATION

 

PELAYANAN KONSULER KBRI SEOUL DAN KUKRI BUSAN AKAN TUTUP PADA TANGGAL 22 - 31 DESEMBER 2014 DAN 1 JANUARI 2015. PELAYANAN KONSULER AKAN DIBUKA KEMBALI PADA TANGGAL 2 JANUARI 2015.

PEMBAYARAN BIAYA PELAYANAN KEKONSULERAN HARUS DILAKUKAN PALING LAMBAT PADA TANGGAL 19 DESEMBER 2014.

 

 

주한 인도네시아 대사관과 부산 인도네시아 영사관  연말 접수 마감일은 12 19일까지 입니다.

2014 12 22일부터  12 31일까지는 비자 접수가 불가합니다.

.  1 2일부터 정상근무 합니다.

 


CONSULAR SERVICE OF THE INDONESIAN EMBASSY IN SEOUL AND THE CONSULAR OFFICE IN BUSAN WILL BE CLOSED FROM DECEMBER 22-31, 2014 AND JANUARY 1, 2015. WE WILL REOPEN ON JANUARY 2, 2015.

PAYMENT FOR ALL CONSULAR SERVICE FEE MUST BE PAID ON DECEMBER 19, 2014 AT THE LATEST. 

Dubes RI Meminta Pemerintah Korea Agar Pencarian Awak Kapal Ikan yang Tenggelam Lebih diIntensifkan Lagi

oryong3

Sehubungan dengan tenggelamnya kapal penangkap ikan Korea Selatan, Oryong 501 di laut Bering, Rusia tanggal 1 Desember yang lalu, sampai saat ini, KBRI Seoul terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Korea Selatan untuk mendorong pihak-pihak tersebut untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi dari korban mengingat dari 60 kru kapal tersebut ada 35 kru merupakan WNI.

Pada hari Jumat ini Duta Besar RI didampingi oleh pejabat-pejabat senior KBRI Seoul, Korea Selatan bertemu dengan Direktur Jenderal Asia Selatan dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Korea Selatan (ROK). Pada pertemuan tersebut Dubes RI menekankan pentingnya pemerintah Korea Selatan untuk lebih intensif lagi melakukan pencarian terhadap korban kecelakaan tersebut. Mengingat sampai saat ini masih cukup banyak korban yang belum ditemukan.

Selanjutnya pihak ROK menyampaikan pada kesempatan tersebut bahwa pemerintah ROK sangat serius dalam penanganan masalah tersebut dengan ditunjuknya First Vice Minister Mofa sebagai koordinator pencarian korban kapal Oryong 501 tersebut.

Selain itu disampaikan juga bahwa selain kapal-kapal yang sudah melakukan pencarian saat ini pemerintah ROK juga akan segera menambah 2 kapal penyelamat angkatan udara untuk dikirimkan ke lokasi kecelakaan ditambah dengan 1 kapal laut (surveillance vessel). Sehingga seluruh kapal yang akan melakukan pencarian menjadi 6 kapal Korea Selatan, 6 kapal Rusia, 1 kapal Coast Guard Amerika Serikat dan 1 kapal Rusia.

Pada hari ini juga KBRI Seoul mengirimkan seorang pejabat senior untuk bertemu dengan chairman dari Sajo Industry untuk meminta agar perusahaan tersebut lebih intensif lagi melakukan pencarian terhadap korban.

Sampai hari Jumat tanggal 5 Desember 2014 kru yang ditemukan berjumlah 34 orang dengan 7 selamat dan 27 orang ditemukan telah meninggal. Dari 7 kru yang selamat terdapat 3 WNI, 3 Filipina dan 1 warga Rusia. Sedangkan dari 27 kru yang meninggal dunia 14 diantaranya WNI sedangkan yang lain terdapat 6 warga Korea, 6 warga Filipina dan 1 belum teridentifikasi.

Rencananya seluruh kru yang telah ditemukan akan dibawa ke Busan pada tanggal 7 Desember dan diharapkan akan tiba di Busan pada tanggal 20 Desember 2014. Untuk kru yang telah meninggal akan dilakukan proses identifikasi lebih lanjut (post mortem). Dan selanjutnya secepatnya akan langsung dikirim ke Indonesia. (KBRI Seoul) (photo : Metronews.com)

Korban Kapal Oryong 501 Terus Bertambah

oriong 501

        An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

Sehubungan dengan tenggelamnya kapal penangkap ikan Korea Selatan Oryong 501 di laut Bering, Rusia, pencarian terhadap awak terus berlangsung.

Sampai dengan tanggal 4 Desember 2014, korban yang meninggal dunia sudah mencapai 20 (duapuluh) orang yang sudah diketemukan. Diantara korban yang meninggal, terdapat 9 (sembilan) WNI; 6 (enam) Warga Korea; 3 (tiga) Warga Filipina; 2 (dua) jenazah tidak teridentifikasi.

Sedangkan untu korban yang selamat sampai berita ini diturunkan sebanyak 7 orang, 3 (tiga) WNI, 3 (tiga) Filipine dan 1 (satu) Rusia. Mengenai nama-nama korban terus dilakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Korea Selatan dan di Pusat serta akan diumumkan oleh Kemlu Pusat.

Jumlah kru berdasarkan informasi yang diterima dari Kementerian Luar Negeri Korea adalah (60) enam puluh orang, masing-masing (35) tiga puluh lima orang WNI, (13) tiga belas orang warga Philipine, (11) sebelas orang warga Korea, dan (1) satu orang Rusia. Sehingga sampai saat ini masih 33 kru lagi yang dalam proses pencarian dimana 23 diantaranya adalah WNI.

KBRI Seoul terus bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Korea guna memastikan kondisi para awak kapal termasuk upaya penyelamatan yang dilakukan. KBRI Seoul juga berkoordinasi dengan Kepolisian/Coast guard, perusahaan pemilik kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadi berada di wilayah Rusia. Adapun agensi dari Indonesia pengirim ABK terdiri dari 4 (empat) perusahaan, yang saat ini tengah dalam proses pencarian informasi dan koordinasi selanjutnya. KBRI Seoul juga telah mengidentifikasi alamat dan keluarga semua korban. (KBRI Seoul)

10 orang telah ditemukan tewas pada kecelakaan Kapal Penangkap Ikan Korea Selatan

oriong 501

        An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

Proses pencarian terhadap awak kapal Pencari Ikan Oryong 501 yang tenggelam di laut Bering sampai saat ini terus berlangsung.Hingga saat ini, ada empat (4) kapal yang dikirimkan untuk membantu proses evakuasi, yaitu satu (1) kapal dari perusahaan Sajo Industry, satu (1) kapal dari Russia, dan dua (2) kapal perusahaan lain. Sementara itu, terdapat kapal lain yang juga menuju ke tempat kecelakaan untuk membantu proses evakuasi.

Berdasarkan berita yang didapat dari Sajo Industry, Sore hari ini (Rabu 3/12) telah ditemukan sepuluh jasad ABK, yang terdiri dari dua warga Korea, satu warga Phillipinne, dan tujuh jasad WNI. Dengan demikian, terdapat tujuh ABK Indonesia yang diketahui telah meninggal dunia. Saat ini, ketujuh jasad ABK Indonesia tersebut empat berada dalam Kapal Carolina 77 sedangkan tiga lagi di Kapal Zaliv Zabiyaka. Sedangkan Tiga orang yang selamat juga berada di kapal Carolina 77 dan Zaliv Zabiyaka. Untuk nama korban masih dalam proses verifikasi lebih lanjut dan akan diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri RI dalam kesempatan pertama.

Sampai saat ini KBRI terus menerus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Korea Selatan maupun Indonesia sehingga dapat menerima info yang dibutuhkan secepat mungkin untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait maupun untuk keluarga di Indonesia.

Adapun, upaya yang dilakukan KBRI Seoul, antara lain: membuka hotline yang dapat dihubungi; membentuk satgas untuk melakukan pemantauan, bahkan KBRI Seoul telah mengirimkan staf ke Busan untuk memperoleh perkembangan informasi dari Pihak Sajo Industry; bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Korea guna memastikan kondisi para awak kapal termasuk upaya penyelamatan yang dilakukan dan berkoordinasi dengan Kepolisian/Coast guard, perusahaan pemilik kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadian berada di wilayah Rusia. Bahkan, Coast Guard Amerika ikut membantu pencarian ABK yang masih belum diketahui. (KBRI Seoul)

 

Perkembangan Berita Kecelakaan Kapal Oryeong 501

oriong 501

          An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

Pada tanggal 1 Desember 2014, kapal Oryeong 501 tenggelam di Laut Bering, Rusia. Sebelum tenggelam, Para ABK mendapat perintah untuk meninggalkan kapal. Terdapat beberapa ABK yang keluar dengan life raft kemudian diselamatkan oleh kapal lain. Sedangkan, sisa ABK lainnya kemungkinan keluar memakai pelampung (life vest). Terdapat 4 life raft untuk dua puluh orang (20) orang dan empat (4) life raft untuk 16 orang. Kapal diyakini tenggelam karena cuaca buruk, dengan kecepatan angin 20 m/s dan ombak 4m.

Kapal Oryong 501 dibuat di Spanyol pada November 1978 dan selanjutnya pada tahun 2010 kapal tersebut serah terima kepada Sajo Industry untuk menggantikan kapal yang lebih tua. Setelah Februari 2014, kapal Oryong 501 menjadi milik Korea. Sebelumnya, kapal ini memiliki dua kebangsaan dengan perjanjian codeshare, Korea, dan Rusia.

Sampai saat ini tim penyelamat masih bekerja keras untuk mencari kru yang masih hilang. Dimana dari 60 kru baru 8 orang yang ditemukan dengan 7 orang selamat 3 diantaranya warga Indonesia sedangkan 1 orang warga Korea Selatan ditemukan meninggal dunia sehingga masih 52 orang dalam proses pencarian dan 32 orang diantaranya warga Indonesia.

Kapal yang menyelamatkan 3 orang warga Indonesia adalah kapal nelayan Rusia (Carolina 77) dan kapal nelayan Korea-Rusia (Zaliv Zabiyaka). Hingga saat ini, ada 4 kapal yang dikirimkan untuk membantu proses evakuasi, yaitu 1 kapal dari perusahaan Sajo Industry, 1 kapal dari Rusia, dan 2 kapal perusahaan lain. Sementara itu, terdapat kapal lain yang juga menuju ke tempat kecelakaan untuk membantu proses evakuasi. Pihak Sajo Industry terus berkomunikasi dengan tim penyelamat dan proses evakuasi difokuskan pada ABK terlebih dahulu.

KBRI Seoul terus melakukan pemantauan dengan seksama mengenai insiden ini. Sampai saat ini KBRI telah menerima data, nama dan alamat  para kru Indonesia dari Kemlu ROK  guna proses verifikasi lebih lanjut dengan data dari agensi dan perusahaan. KBRI Seoul terus berkoordinasi guna memperoleh berita terkini dengan Kementerian Luar Negeri Korea, Kepolisian, Perusahaan Pemilik Kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadian berada di wilayah Rusia. Bahkan, Coast Guard Amerika ikut membantu pencarian ABK yang masih belum diketahui.

Sebagai info, pagi ini Menlu ROK telah menelepon Menlu RI mengenai insiden ini dan menyampaikan rasa simpati dan prihatin yang mendalam atas insiden tersebut. Pihaknya akan melakukan upaya terbaik untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan dan penanganan terhadap para korban dan berkoordinasi dengan pemerintah Rusia.

KBRI Seoul Terus Mengikuti Perkembangan Kecelakaan Kapal Korea Selatan di Laut Bering

oriong 501

         An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

Kapal penangkap ikan jenis trawler dengan nama lambung Oryeong 501 berangkat tanggal 10 Juli 2014 pukul 14.00 waktu Korea dari Pelabuhan Busan menuju Rusia. Para ABK ditugaskan melakukan fishing 40-50 hari terhitung sejak ketibaan mereka di Laut Bering sekitar akhir bulan November. Oleh karena itu, mereka seharusnya dijadwalkan kembali lagi ke Korea bulan Januari 2015.

Pada tanggal 1 Desember 2014, kapal tersebut tenggelam di Laut Bering, Rusia sekitar pukul 14.00 (pukul 12.00 waktu Korea). Kapal diyakini tenggelam karena cuaca buruk. Kru yang berada dalam kapal berjumlah enam puluh (60) orang, yakni tiga puluh lima (35) orang WNI, tiga belas (13) orang warga Phillipine, sebelas (11) orang warga Korea, dan satu (1) orang Rusia.

Sampai saat ini terdapat delapan (8) kru yang berhasil diselamatkan, yaitu tiga (3) orang warga Indonesia, (3) tiga orang warga Philipine, (1) satu orang warga Rusia. Kapal yang menyelamatkan (3) tiga orang warga Indonesia adalah kapal nelayan Rusia (Carolina 77) dan kapal nelayan Korea-Rusia (Zaliv Zabiyaka)

KBRI Seoul terus bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Korea guna memastikan kondisi para awak kapal termasuk upaya penyelamatan yang dilakukan. KBRI Seoul juga berkoordinasi dengan Kepolisian/Coast guard, perusahaan pemilik kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadi berada di wilayah Rusia. Adapun agensi dari Indonesia pengirim ABK terdiri dari 4 perusahaan, yang saat ini tengah dalam proses pencarian informasi dan koordinasi selanjutnya

Mengenai nama-nama dari awak kapal, saat ini KBRI Seoul dan Kementerian Luar Negeri RI terus mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan Kemlu RI akan mengumumkan nama nama tersebut pada kesempatan pertama.

            Pimpinan dan seluruh staf KBRI Seoul turut prihatin atas kejadian tersebut dan akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait serta akan segera menyampaikan kabar terkini mengenai perkembangan kejadian tersebut. (KBRI Seoul, Korea Selatan)

Kecelakaan Kapal Pencari Ikan Korea Selatan

oriong 501

An undated photo of the Oriong-501 fishing vessel. Photograph: Yonhap/AFP/Getty

 

Kementerian Luar Negeri Republik Korea telah mengonfirmasikan kecelakaan yang menyebabkan tenggelamnya kapal penangkap ikan jenis trawler dengan nama lambung Oryong 501. Kapal tersebut dimiliki oleh Sajo Industries, perusahaan yang berbasis di Republik Korea. Kecelakaan terjadi di Laut Bering, Rusia sekitar pukul 14.00 waktu Korea (12.00 WIB). Kapal tersebut diyakini telah tenggelam dikarenakan kondisi cuaca yang memburuk.

Jumlah kru berdasarkan informasi yang diterima dari Kementerian Luar Negeri Korea adalah (60) enam puluh orang, masing-masing (35) tiga puluh lima orang WNI, (13) tiga belas orang warga Philipine, (11) sebelas orang warga Korea, dan (1) satu orang Rusia.

Upaya penyelamatan terus dilakukan oleh otoritas Rusia dengan dibantu kapal-kapal yang berada disekitar tempat kejadian. Sampai saat ini, terdapat delapan kru yang berhasil diselamatkan : (3) tiga dari Indonesia, (3) tiga dari Philipinne, (1) satu dari Rusia, dan (1) satu orang meninggal dunia Warga Negara Republik Korea.

Data ABK yang selamat tersebut masih terus berubah mengingat proses penyelamatan dan identifikasi terus berjalan. Pemerintah Republik Korea telah membentuk gugus tugas yang dikoordinir Kementerian Luar Negeri setempat.

Duta Besar RI Seoul telah menghubungi Menteri Luar Negeri Republik Korea. Menteri Luar Negeri Republik Korea menyampaikan ucapan simpati bagi seluruh keluarga dari awak kapal yang masih belum diketahui nasibnya. KBRI Seoul telah pula membentuk gugus tugas dan menetapkan nomor hotline yang bisa dihubungi yaitu +821053942546.

KBRI Seoul terus bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Korea guna memastikan kondisi para awak kapal termasuk upaya penyelamatan yang dilakukan. KBRI Seoul berkoordinasi pula dengan Kepolisian/Coast guard, perusahaan pemilik kapal, dan KBRI Moskow mengingat tempat kejadian berada di wilayah Rusia.

(Sumber : KBRI Seoul)

Mantan Presiden SBY Menerima Penghargaan Di Korea Selatan

IMGL8557 - buat website

Pada tanggal 19 November 2014, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan The Grand Order of Mugunghwa dari Presiden Park Geun Hye dalam kunjungan 5 hari beliau ke Korea Selatan dalam rangka sidang konferensi Green Global Growth Institute dimana SBY bertugas sebagai Presiden GGGI.

The Grand Order of mugunghwa merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Korea Selatan kepada individu yang telah banyak memberikan kontribusi kepada Pemerintah Korea, termasuk dalam peningkatan hubungan bilateral dengan negara sahabat.

Mantan Presiden SBY dinilai telah banyak memberikan kontribusi terhadap peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dan hubungan tersebut menjadi semakin erat ditandai dengan meningkatnya pedagangan dan investasi di kedua negara. Selain itu, meningkatnya hubungan antara kedua bangsa juga semakin meningkat dengan banyak lalu lintas orang antara Indonesia dengan Korea Selatan baik untuk bisnis, belajar maupun wisata.

Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono Resmi Terpilih Sebagai Presiden GGGI

IMGL8419 - buat website

Pada pertemuan ke-3 Assembly of the Global Green Growth Institute (GGGI) dan sidang ke-6 Council of the GGGI yang dilaksanakan di Seoul pada hari Selasa, tanggal 18 November 2014, DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah terpilih dan disahkan secara aklamasi sebagai Presiden Assembly GGGI dan Chair of the GGGI Council.

SBY telah memimpin pertemuan ke-6 Council GGGI tersebut, setelah Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Mr. Yun Byung Se selaku Acting Chair pada awal pertemuan, menyerahkan kepemimpinan dengan disahkannya SBY secara aklamasi sebagai Ketua Council.

Menteri Luar Negeri Republik Korea, H.E. Yun Byung Se, serta perwakilan dari berbagai negara anggota GGGI lainnya menyatakan keyakinan dan harapannya akan kepemimpinan SBY yang dapat mengangkat inisiatif dan program-program GGGI ke level yang lebih tinggi serta meningkatkan international prominence dan relevance dari inisiatif GGGI.

Dalam pertemuan tersebut telah disepakati juga penggabungan fungsi 2 (dua) organ GGGI yaitu Assembly dan Council dalam rangka perampingan struktur manajemen dan peningkatan efisiensi pertemuan.

Dalam pertemuan tersebut juga telah dibahas isu-isu penting GGGI kedepan, antara lain mengesahkan Strategic Plan untuk tahun 2015-2020, serta rencana kerja dan anggaran untuk tahun 2015-2016. Diskusi agenda pada pertemuan telah memberikan masukan untuk peningkatan lebih lanjut peran GGGI dalam upaya pencapaian global green growth.

GGGI juga perlu meningkatkan program yang lebih inklusif dan menarik minat negara-negara lain untuk menjadi anggota dengan cara membuat program-program yang menarik dan relevan. Untuk penguatan ini, GGGI juga perlu memperkuat kelembagaan dan organisasinya.

Sby berpandangan bahwa GGGI memiliki pendekatan unik yang menggabungkan kerja sama dan komitmen berbagai aktor negara dan non-negara serta para pakar dalam pembahasan strategi pertumbuhan hijau. "GGGI can not do everything, but GGGI can do a lot of things. Value added dari GGGI adalah sebagai bagian dari upaya global dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan berwawasan lingkungan". Dalam perkembangannya, program inisiatif GGGI diharapkan dapat menggerakkan banyak pihak dan seluruh pemangku kepentingan sehingga kebijakan dan solusi yang ditawarkan oleh GGGI dapat diimplementasikan oleh berbagai negara.

Disela-sela pertemuan tersebut juga telah diadakan penandatanganan aksesi Senegal sebagai anggota GGGI dan penandatanganan kesepakatan antara Sekretariat GGGI dengan Pemerintahan Kota Incheon.

Sidang menyetujui tanggal pertemuan berikutnya yaitu tanggal 15-16 Juni 2015 dan minggu ketiga November 2015.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014