PENGUMUMAN: KBRI Seoul Tutup Pada Tanggal 3-5 April 2015

office closed

PELAYANAN KONSULER KBRI SEOUL DAN KUKRI BUSAN AKAN TUTUP PADA TANGGAL 3, 4, 5 APRIL 2015. PELAYANAN KONSULER AKAN DIBUKA KEMBALI PADA TANGGAL 6 APRIL 2015.

  

주한 인도네시아대사관과 부산 인도네시아영사관은

2015 4 03일부터 4 5일까지

휴무입니다.    4 6일부터 정상근무 합니다.

 

 

CONSULAR SERVICE OF THE INDONESIAN EMBASSY IN SEOUL AND CONSULAR OFFICE IN BUSAN WILL BE CLOSED FROM 3-5 APRIL 2015. WE WILL RESUME OFFICE ON APRIL 6, 2015.

Kelas Menengah di Indonesia Mencapai 170 juta Pada Tahun 2015

photoseminarekonomi2

Pada 24 Maret 2015, Duta Besar RI, Bapak John A.Prasetio bersama Duta Besar Malaysia, Philippina, Vietnam dan Myanmar menghadiri Seminar on ASEAN Investment and Market Strategy yang diselenggarakan oleh Korea International Trade Association. Seminar diikuti oleh lebih dari 100 pengusaha Korea Selatan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyampaikan informasi terkini dan mengeksplor peluang-peluang bisnis di negara-negara ASEAN terutama terkait dengan segera berlakunya ASEAN Economic Community (AEC) pada Desember tahun ini. Acara tersebut juga memberikan fasilitasi kepada para pengusaha untuk one on one meeting dengan menyediakan booth khusus per negara. Seminar membahas informasi dan peluang bisnis dan investasi di 5 negara : Indonesia, Vietnam, Malaysia, Philippina dan Myanmar.

Dengan segera berlakunya AEC maka peluang usaha, investasi dan pasar pengusaha-pengusaha Korea Selatan semakin terbuka. Kawasan tersebut akan menawarkan single market and production base, ekonomi yang kompetitif, pembangunan ekonomi yang dinamis, dan integrasi pada ekonomi global. Implementasi AEC akan memungkinkan pergerakan arus barang, jasa dan tenaga kerja terampil, investasi yang bebas diantara ekonomi ASEAN dan secara bertahap menghilangkan pembatasan dan hambatan investasi yang dilakukan secara suka rela. AEC akan menjadi gerbang untuk mengakses pasar yang memiliki 600 juta konsumen, 300 juta tenaga kerja. GDP Ekonomi ASEAN mencapai US$3,000 dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pertahun sebesar 5%.

Indonesia menjadi tujuan investasi yang menarik, yang penting untuk dipertimbangkan oleh pengusaha Korea Selatan. Pertama karena kinerja ekonomi makro yang kuat, pertumbuhan ekonomi yang baik dan stabil, sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang terus tumbuh dan berkembang dan lokasi strategis. Kedua kelas menengah yakni kelompok penduduk dengan kekuatan "expenditure" per hari antara US$ 2 - 20 di Indonesia tumbuh signifikan dari 45 juta pada 1999 (25% dari jumlah penduduk) menjadi 134 juta pada 2010 dan pada 2015 kelas menengah tersebut mencapai 170 juta atau 70% dari jumlah penduduk. Ketiga, banyak peluang bisnis dan investasi di Indonesia termasuk proyek-proyek infrastruktur yang diluncurkan pada pemerintahan Presiden Jokowi.

Kunjungan Delegasi Harvard World Model United Nation 2015 ke KBRI Seoul

harvard mun

Delegasi Harvard World Model United Nation 2015 (Harvard World MUN) mengunjungi KBRI Seoul pada hari Selasa tanggal 24 Maret 2015. Kunjungan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh para Delegasi, dimana kunjungan mereka ke Korea Selatan adalah dalam rangka mengikuti kompetisi Harvard World Model United Nation 2015 di Kintex, Ilsan. Para Delegasi terdiri dari mahasiswa dari Universitas Parahyangan, Pelita Harapan, UGM dan mahasiswa binaan Djarum Foundation.

Acara tersebut dihadiri oleh Bapak Dubes John A. Prasetio dan Koordinator Fungsi Pensosbud,  Adriansyah Rasul. Dalam pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam, Bapak Dubes berdialog dengan para mahasiswa tentang Indonesia dan bagaimana Indonesia dapat belajar dari kemajuan ekonomi dan teknologi Korea Selatan.

Selain itu disiplin dan etos kerja yang tinggi juga merupakan nilai-nilai yang patut ditiru oleh Indonesia. Pada tahun 1960 an bangsa Korea Selatan melalui Presiden kala itu, Park Chun Hee berhasil mengubah jati diri mereka dari bangsa yang kalah menjadi bangsa pemenang. Sehingga hasilnya saat ini negara Korea Selatan menjadi salah satu negara maju di dunia.

Dialog tersebut berlangsung dengan sangat antusias dan Bapak Dubes menyatakan rasa senang berdialog dengan mahasiswa karena dapat memberikan ide-ide segar. Kunjungan tersebut ditutup dengan acara foto bersama di Wisma Duta.

Diplomasi Budaya Melalui Pengenalan Makanan Indonesia

SNU1

Pada hari Senin tanggal 16 Maret 2015, Professor Keum Taek Hwang dari fakultas Food dan Nutrisi, Seoul National University meminta KBRI Seoul untuk memberikan kuliah tentang Makanan dan Kebudayaan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Saya sebagai Duta Besar RI melihat kesempatan ini merupakan salah satu media yang baik untuk memperkenalkan Indonesia melalui diplomasi budaya dan kuliner. Oleh karena itu, Saya meminta Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Seoul, Sdr. Adriansyah dengan dibantu oleh Pelaksana Fungsi Ekonomi, Sdr. Riza H. Wardhana, untuk menyampaikan kuliah mengenai hal tersebut.

Kuliah yang dihadiri oleh 21 mahasiswa postgraduate Korea Selatan tersebut dimulai dengan memperkenalkan tentang Indonesia secara umum. Ternyata banyak dari para mahasiswa Korea tersebut belum tahu tentang Indonesia. Mereka tidak menyangka kalau Indonesia berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa dan merupakan pasar yang sangat besar bagi produk makanan halal. Bahkan ada yang menanyakan kembali mengenai pulau di Indonesia yang berjumlah lebih 13 ribu pulau.

Selanjutnya kuliah yang banyak diisi dengan diskusi tersebut dilanjutkan dengan pemutaran video mengenai 30 ikon kuliner tradisional Indonesia yang terdiri dari makanan pembuka, makanan utama, kudapan hingga minuman. Pada kesempatan tersebut juga dijelaskan lebih jauh mengenai beberapa makanan Indonesia seperti Rendang yang merupakan makanan nomor 1 terlezat dari 50 makanan di dunia hasil dari jajak pendapat yang dilakukan oleh CNN pada tahun 2011.

Begitu juga dijelaskan mengenai Asinan yang oleh orang asing banyak disebut sebagai Indonesian Kimchi. Selanjutnya juga dijelaskan mengenai makanan Tumpeng yang oleh pemerintah Indonesia didaulat sebagai makanan lambang pemersatu dari makanan Indonesia yang beragam. Kemudian juga dijelaskan mengenai makanan Gado-Gado yang merupakan makanan vegetarian khas Indonesia.

Tak lupa pada kuliah tersebut juga diperkenalkan salah satu chef Indonesia terkenal, Farrah Quinn. Selama kuliah peserta juga dihidangkan Keripik Singkong dan juga permen kopi khas Indonesia. Acara ditutup dengan penjelasan mengenai beberapa daerah tujuan wisata Indonesia dan membagikan brosur mengenai makanan dan daerah wisata di Indonesia. (KBRI Seoul)

Peluncuran Buku “Menggapai Asa di Korea”

peluncuran buku

Hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015 bertempat di Ruang Serbaguna KBRI Seoul, Perpika bekerjasama dengan Senior Public Diplomacy Group, MoFA meluncurkan buku “Menggapai Asa di Korea”. Buku ini berkisah tentang berbagai cerita kehidupan pelajar Indonesia di Korea Selatan. Peluncuran buku dihadir oleh Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio, perwakilan dari Senior Public Diplomacy Group, MoFA yang dipimpin oleh Bapak Choi Ha-kyung, Prof. Yang Seung Yoon dari Hankuk University of Foreign Studies, Staf KBRI Seoul, Pengurus Perpika, para penulis buku dan mahasiswa Indonesia lainnya.

Dalam sambutannya Dubes RI menyatakan bahwa buku ini merupakan cerminan perjuangan pelajar Indonesia di Korea, terutama bagi pekerja Indonesia yang juga tergabung dalam Univeritas Terbuka Korea. Selain bekerja juga harus menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Seperti film Korea “Ode to My Father” yang menceritakan seorang anak yang berjuang dalam hidupnya untuk menjadi sukses dengan membawa pesan-pesan dari ayahnya. Buku ini juga menerangkan adanya perbedaan budaya antara Indonesia dengan Korea yang harus dijembatani oleh para pelajar Indonesia di Korea.

Presiden Senior Public Diplomacy Group, MoFA, Bapak Choi Ha-kyung menyatakan kebanggannya atas terbitnya buku ini dan diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi pelajar-pelajar lainnya. Peluncuran buku ini ditutup dengan acara pembagian buku, foto bersama dengan para penulis dan jamuan makan malam.

Duta Besar RI Bahas Upaya Tingkatkan Hubungan Bilateral dengan Vice Minister of Foreign Affairs H.E. Cho Tae-yong

Dubesviceminister3

Dalam pertemuan dengan Vice Minister of Foreign Affairs H.E. Cho Tae-yong di kantor Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, 12 Maret 2015, Duta Besar RI membahas upaya-upaya peningkatan kerjasama bilateral RI-ROK dan tindak lanjut pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Park Geun-hye pada 11 Desember 2014 di Busan.

Duta Besar RI juga menginformasikan penyelenggaraan Commemoration of the 60th Anniversary of the Asian African Conference and the 10th Anniversary of the New Asian-African Strategic Partnership (NAASP), Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika, dan Pertemuan Tingkat Menteri Asia Afrika pada April 2015. Undangan Pemri mengenai hal ini telah disampaikan sebelumnya.

Dalam pertemuan tersebut, H.E. Cho Tae-yong menyampaikan bahwa Pemerintah ROK menempatkan Indonesia sebagai mitra kerjasama yang sangat penting. Hubungan dan kerjasama kedua negara telah berkembang dan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Dalam pemerintahan baru Presiden Jokowi, ROK berharap hubungan dan kerjasama yang telah berjalan sangat baik dapat terus dijaga dan diperkuat, sehingga bisa lebih maju "from strength to strength". (KBRI Seoul)

Pertemuan Duta Besar RI, Seoul dengan Bupati Banyuwangi

Banyuwangi11

Pada Selasa tanggal 3 Maret 2015, bertempat di Wisma Duta KBRI Seoul Korea Selatan, Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio mengundang Bupati Banyuwangi, Bapak Abdullah Azwar Anas dan delegasi untuk berkunjung. Pada kesempatan tersebut sebelum jamuan makan malam, Dubes RI menjelaskan beberapa hasil karya seni, seniman Indonesia dan Korea Selatan terkenal yang ada di Wisma Duta dan menonton film kegiatan Duta Besar. Setelah jamuan makan malam, Bupati Banyuwangi juga menunjukkan film promosi mengenai Banyuwangi kepada hadirin.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut juga diisi dengan tukar menukar informasi tentang Korea Selatan dan perkembangan Kabupaten Banyuwangi. Duta Besar menerangkan mengenai usaha KBRI dalam meningkatkan infrasturktur ICTnya. Saat ini dengan berbagai usaha dan dana yang terbatas, KBRI Seoul termasuk perwakilan yang mempunyai website yang aktif dan dalam pelayanan publik, KBRI Seoul telah menerapkan pelayanan secara online melalui e-Konsuler. Selain itu untuk menambah aliran informasi dan dalam rangka keterbukaan informasi ke publik, KBRI Seoul juga telah menggunakan Twitter, Facebook dan Forum Komunikasi.

Selanjutnya Dubes RI menjelaskan mengenai kondisi tenaga kerja Indonesia di Korea Selatan yang rata-rata berada pada kondisi yang sangat baik. Hal ini disebabkan karena adanya peraturan bahwa tenaga kerja asing yang bekerja pada sektor Industri di Korea Selatan harus dibayar sesuai dengan ketentuan upah yang berlaku sama seperti bagi warga Korea Selatan. Bagi perusahaan yang tidak mentaati peraturan tersebut maka akan dikenakan hukuman.

Dubes RI juga menyampaikan mengenai pemerintahan Presiden Park Geun Hye saat ini yang salah satu program unggulannya adalah mengenai Demokratisasi Ekonomi. Presiden Park menyadari bahwa saat ini perekonomian Korea Selatan sangatlah bergantung pada para Caebol (Konglomerat) dimana lebih dari 55% ekonomi Korea Selatan dihasilkan oleh para Caebol. Oleh karenanya untuk pemerataan pendapatan dan kesempatan maka Presiden Park banyak menelurkan peraturan-peraturan yang memberikan kesempatan pada pengusaha kecil untuk berkembang. Selain itu Presiden Park juga menaruh perhatian yang besar pada pengembangan kreatif industri.

Pada kesempatan tersebut Bupati Banyuwangi menjelaskan bahwa kedatangannya ke Korea Selatan merupakan penghargaan karena Banyuwangi diberi predikat Kabupaten Digital terbaik di Indonesia, sedangkan predikat kota digital terbaik diraih oleh Surabaya. Penghargaan tersebut berupa kesempatan untuk melakukan studi banding ke Korea Selatan khususnya ke kota Incheon dan Seoul, untuk mempelajari bagaiman kota ini menerapkan ICT dalam tata pemerintahannya. Saat ini Banyuwangi terus meningkatkan infrastruktur ICTnya dan sampai sekarang diseluruh Banyuwangi telah terpasang wifi sebanyak 1400 tempat dan akan terus ditambah.

Pada kesempatan tersebut Duta Besar juga menyampaikan kegembiraannya akan kedatangan delegasi dan menyampaikan bahwa jika ingin belajar ICT, Korea Selatan merupakan contoh terbaik untuk hal tersebut.

Pertemuan Dubes RI dengan Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri, Parlemen Korea Selatan

Photo1.1

Pada hari ini, Selasa 3 Maret 2015, Duta besar RI, Bapak John A. Prasetio bertemu dengan ketua Komisi Hubungan Luar Negeri, Parlemen Korea Selatan, Kim Jeong-hoon bertempat di Kantor Parlemen Korea Selatan. Pada pertemuan tersebut, Duta Besar RI didampingi oleh Atase Perdagangan dan Korsi Pensosbud KBRI Seoul.

Pada pertemuan, dibahas berbagai hal mulai dari perkembangan hubungan bilateral di bidang ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan sampai dengan bagaimana Korea Selatan berhasil mengubah mind set dari Nation of Loser menjadi Nation of Winner. Kim Jeon-hoon yang merupakan mantan menteri Perdagangan pada era presiden Lee Myung-bak pada kesempatan tersebut juga menjelaskan bagaimana pertama kali Saemeul Undong (Pemberdayaan Masyarakat Desa) dilahirkan pada zaman Presiden Park Chun Hee pada tahun 1970 an.

Saemeul Undong ini adalah salah satu program yang dijalankan oleh Presiden Park karena melihat masyarakat pedesaan yang rata-rata tingkat perekonomiannya jauh lebih rendah dari masyarakat kota. Salah satu sebabnya ialah banyak masyarakat desa pada musim dingin karena lahan yang tidak memungkinkan mereka banyak menganggur di rumah. Akibatnya banyak dari mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Oleh karenanya dibuatlah program oleh pemerintah, sehingga masyarakat desa dapat melakukan kegiatan yang bermanfaat dan produktif. Peningkatan kesejahteraan masyarakat desa tersebut dilakukan melalui pembelajaran bagaimana meningkatkan produksi pertanian, pemberdayaan rumah tangga dan masyarakat desa serta peningkatan partisipasi wanita dalam menggerakkan ekonomi rumah tangga.

Selanjutnya, Kim yang merupakan salah satu politisi senior dari partai berkuasa saat ini, Saenuri Party menyampaikan bahwa salah satu yang membuat bangsa Korea Selatan dapat maju seperti sekarang ini adalah keinginan untuk mengecap pendidikan setinggi mungkin dan hal ini secara konsisten dan disiplin didukung oleh pemerintah. Pada awal tahun 1970, di mana saat itu wajib belajar 6 tahun diterapkan maka pemerintah dengan ketat mengawasi pelaksanaan program tersebut. Bagi orang tua yang memaksa tidak menyekolahkan anaknya karena harus membantu mereka bekerja, maka akan dapat hukuman dan anak tersebut akan diawasi oleh pemerintah untuk bersekolah. Pentingnya pendidikan bagi warga Korea Selatan ini dapat dilihat dari data bahwa rata-rata keluarga Korea menghabiskan lebih dari 50% penghasilannya untuk pendidikan.

Logo Resmi Konferensi Asia Afrika di Indonesia Tahun 2015

LogoResmiKAA

 

Gambar di atas yang merupakan sebuah logo dengan latar belakang putih merupakan logo resmi yang bakal digunakan dalam konferensi Asia-Afrika April 2015 mendatang.

‎Tulisannya dari siluetnya terlihat seperti angka 60, tapi terbacanya seperti AA. Logo itu memang tergambar seperti huruf a kecil. Untuk warna merah, menandakan warna Asia. Sementara hijau itu‎ adalah Afrika.

Yang membangg‎akan, logo ini buatan warga Indonesia. Lebih khususnya lagi seorang warga Bandung bernama Firman. Desain ini berlaku sebagai logo resmi untuk semua kegiatan KAA.

‎Mengenai acara, akan dibagi menjadi dua tempat, Jakarta dan Bandung. Namun kota Bandung akan menjadi puncak perayaan konferensi ini.

Silaturahmi Akbar tahun 2015

silakbar4

Pada hari Kamis tanggal 19 Februari 2015, pukul 10.00 sampai 16.00 dilaksanakan Silahturahmi Akbar (Silakbar) warga muslim Indonesia di Korea Selatan bertempat di Kim Daejung Convention Center, Gwangju. Silakbar tersebut diprakarsai oleh Komunitas Muslim Indonesia (KMI) yang mengundang seluruh tenaga kerja Indonesia dan masyarakat Indonesia yang berada di Korea Selatan.

Acara kali ini menjadi Istimewa karena mengundang salah satu ustadz terkenal dari Indonesia yaitu Habib Syeh bin Abdul Qadir Assegaf. Sehingga acara yang biasanya pada tahun-tahun sebelumnya hanya dihadiri sekitar 1000 undangan namun pada Silakbar tahun ini dihadiri oleh lebih dari 2000 warga Indonesia. Selain itu dari Kedutaan Besar Republik Indonesia hadir jugaWakil Kepala Perwakilan RI (Wakeppri), Bapak Cecep Herawan.

Acara dimulai dengan sambutan-sambutan dan ditutup dengan ceramah dan pembacaan zikir serta shalawat bersama yang dipimpin oleh Habib Syeh. Pada kesempatan sambutan tersebut Bapak Wakeppri menyampaikan salam dari Bapak Duta Besar RI karena ada kegiatan lain sehinga beliau tidak dapat hadir pada kegiatan tersebut. Bapak Wakeppri menyambut baik kegiatan-kegiatan positif ini dimana dengan mendengar ceramah dan melakukan zikir serta shalawat diharapkan para teman-teman TKI dapat menjadi lebih baik sesuai dengan tema dari Silakbar kali ini yaitu melalui zikir dan shalawat kita jalin ukhuwah untuk hidup dijalan yang lurus.

Selanjutnya sehubungan dengan tema dari Silakbar tersebut, bapak Wakeppri juga menghimbau pada TKI untuk lebih mempererat kerjasama dan kekompakkan satu dengan yang lainnya, yang senior diharapkan dapat membimbing dan melindungi yang junior dan yang junior mau mendengar dan mengikuti saran yang baik dari senior sehingga situasi yang nyaman dapat tercipta.

Secara keseluruhan acara Silakbar dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Selain acara utama yaitu zikir dan shalawat bersama, pada acara tersebut juga dilaksanakan bazar yang menjual produk-produk Indonesia dan makanan-makanan Indonesia.

Pertemuan Duta Besar RI dengan Ulama Indonesia Terkemuka

silakbar2

Pada hari Rabu tanggal 18 Februari 2015, Duta Besar RI, Seoul, Bapak John A. Presetio menerima tamu salah satu ulama terkemuka Indonesia, Habib Syeh bin Abdul Qadir Assegaf. Pada pertemuan yang berlangsung di KBRI Seoul tersebut bapak Dubes didampingi oleh bapak Wakil Kepala Perwakilan dan beberapa staf, sedangkan Habib Syeh ditemani oleh beberapa pengurus dari Komunitas Muslim Indonesia (KMI).

Kedatangan Habib ke KBRI Seoul adalah dalam rangka silaturahmi dan selanjutnya pada hari Kamis 19 Februari 2015, Ybs akan mengisi acara ceramah dalam rangka Silaturahmi Akbar yang dilaksanakan oleh KMI di Kota Gwangju.

Pada pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Bapak Dubes menyampaikan sekilas mengenai hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan yang berlangsung baik, dalam segala bidang yaitu Investasi, Perdagangan, Pendidikan dan Ketenaga kerjaan. Pelajar Indonesia di Korea Selatan saat ini terus meningkat dari tahun ke tahun sampai saat ini diperkirakan ada sekitar 1300 pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Korea Selatan dan sekitar 80% dari mereka mendapat beasiswa.

Selain itu pada pertemuan tersebut juga disampaikan mengenai kecenderungan makin kurangnya kekompakkan dan kebersamaan diantara masyarakat Indonesia di Korea Selatan, sehingga pada berbagai kesempatan KBRI Seoul terus menerus mendorong para TKI yang merupakan jumlah terbesar dari masyarakat Indonesia, untuk meningkatkan kebersamaan dan kekompakkan diantara mereka, termasuk mendorong agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat bersinergi antara organisasi satu dengan lainnya mengingat saat ini ada sekitar 38 masjid, 18 gereja dan 33 paguyuban masyarakat Indonesia di seluruh Korea Selatan. Oleh karenanya bapak Dubes menyampaikan agar pada kesempatan Silakbar tersebut Habib dapat menyampaikan pula perlunya kerukunan dan kekompakkan antara masyarakat Indonesia yang saat ini tinggal di Korea Selatan.

Selanjutnya juga disinggung dalam ramah tamah tersebut perlunya kearifan dan kesadaran bersama dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh WNI termasuk isu overstayer.

PEMBERITAHUAN/공지 사항/NOTIFICATION

office closed

PELAYANAN KONSULER KBRI SEOUL DAN KUKRI BUSAN AKAN TUTUP PADA TANGGAL 18-21 FEBRUARI 2015. PELAYANAN KONSULER AKAN DIBUKA KEMBALI PADA TANGGAL 23 FEBRUARI 2015.

 


 

 

주한 인도네시아대사관과 부산 인도네시아영사관은

구정연휴기간  2015 2 18일부터 2 21일까지

휴무입니다.    2 23일부터 정상근무 합니다.

 


 

 

CONSULAR SERVICE OF THE INDONESIAN EMBASSY IN SEOUL AND CONSULAR OFFICE IN BUSAN WILL BE CLOSED FROM 18-21 FEBRUARY 2015. WE WILL RESUME OFFICE ON FEBRUARY 23, 2015.

Konferensi Asia-Afrika di Indonesia Tahun 2015

KAA1

Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Indonesia rencananya akan berlangsung di Bandung dan Jakarta pada April 2015, mengusung tema kerja sama promosi perdamaian dan kesejahteraan dunia. Tema yang akan yang akan ditampilkan adalah perkuatan kerja sama selatan-selatan. Pemerintah Indonesia juga menginginkan kerja sama ini memberikan kontribusi dalam mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Meskipun kini sebagian besar negara peserta Konferensi Asia Afrika sudah merdeka dari jajahan kolonialisme, namun masih banyak yang belum terlepas dari kemiskinan, inilah alasan diadakannya kembali KAA di Jakarta dan Bandung pada April 2015 mendatang. Konferensi ini masih sangat relevan untuk dilaksanakan. Kalau dulu tujuan KAA pertama seluruh negara berkumpul untuk merdeka, sekarang semua juga bekerja sama untuk mengupayakan memerdekakan negara Asia- Afrika dari kemiskinan. Salah satu agenda utama KAA di Indonesia, yang akan dihadiri oleh 109 pemimpin negara adalah mengenai kemajuan ekonomi.

Pemerintah Indonesia melalui dukungan negara-negara lainnya akan berusaha mendorong dan memajukan kerja sama selatan-selatan, yang memberikan hasil konkret dan kontribusi nyata untuk kesejahteraan negara di Asia Afrika dan juga akan merevitalisasi kemitraan strategis lainnya. Seperti diketahui, 75 persen penduduk dunia ada di Asia-Afrika. GDP di Asia-Afrika juga mencapai US$21 triliun. Sebanyak satu miliar warganya berasal dari kelas menengah, berarti ada peluang pasar yang besar. Selain masalah ekonomi, KAA juga akan mengangkat sejumlah topik, seperti solidaritas dalam politik, pembangunan, dan hubungan sosial budaya antar-negara Asia dan Afrika.

Pertemuan pejabat tinggi dari kawasan Asia-Afrika akan dihelat di Jakarta pada 22-23 April. Kemudian, pada 24 April, seluruh perwakilan negara akan menuju ke Bandung untuk melakukan prosesi napak tilas KAA.

Semakin dekat dengan waktu penyelenggaraan, persiapan panitia penyelenggara dari kementerian luar negeri dan lintas kementerian lainnya sudah maksimal. Dimana pertemuan dengan stakeholders, pimpinan redaksi media, akademisi, dan para senior untuk memberi masukan KAA telah beberapa kali dilakukan. Selain itu diseminasi informasi juga sudah terlaksana, dimana panitia sudah berkoordinasi dengan kementerian luar negeri negara lain dan kedubes mereka di Jakarta.

Ditunjuknya Indonesia menjadi tuan rumah dalam peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), tentu saja menjadi momen berharga bagi Indonesia untuk kembali memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia. Dalam sejarahnya Konferensi Asia-Afrika pertama kali digelar pada 18-24 April tahun1955.

Indonesia dan negara lainnya seperti Myanmar, Srilanka, India, dan Pakistan menjadi inisiatornya. Selain untuk mempromosikan kerja sama ekonomi dan Asia-Afrika, gerakan ini juga dianggap sebagai sikap melawan kolonialisme Amerika Serikat dan Uni Soviet serta negara imperialis lainnya. Dan discussion board ini pula yang menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961. Selain memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika, dalam perhelatan ini juga akan diperingati 10 tahun kerja sama strategis negara-negara Asia dan Afrika, New Asia-Africa Partnership Strategic (NAPS).

Presiden Jokowi Gelar Rapat Terbatas Soal Pariwisata Indonesia

JKW1

Presiden Joko Widodo hari ini menggelar rapat terbatas di Istana Bogor. Rapat tersebut membahas soal upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia.

Rapat dimulai pukul 10.00 WIB di Gedung Utama Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/2/2015). Dalam sambutannya, Jokowi ingin agar para menterinya bekerja keras meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia.

"Akan kita bahas berkaitan dengan proses-proses pembangunan brand pariwisata yang baik. Kita ingin mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan," kata Jokowi.

Presiden Jokowi mengatakan Indonesia memiliki potensi wisata yang beragam. "Malah jika dibandingkan dengan negara tetangga, kita lebih unggul.

Sebetulnya dengan destinasi wisata Indonesia yang sangat beragam, kultur beragam, jadi potensi, lokasi wisata yang juga jadi sebuah potensi. Harusnya kalau dibandingkan dengan negara tetangga kita harusnya lebih," ujar Jokowi.

"Event-event rutin, strategi besar harus segera dirancang, segera di-action-kan, dengan ini, ekonomi kecil dan produk di kampung, desa bisa kemajuan dan punya efek ekonomi yang lebih besar," tambah Jokowi.

Menteri yang hadir dalam rapat ini di antaranya, Menko PMK Puan Maharani, Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Mendikbud Anies Baswedan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan, Mensesneg Pratikno, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno. (detik.com)

Ketua Parlemen Korea Selatan Bertemu dengan Tenaga Kerja Indonesia di Kota Ansan

PhotoChung

Tanggal 5 Februari 2015, Ketua Parlemen Korea Mr. Chung Ui Hwa didampingi oleh 8 anggota parlemen, Wakil Menteri Tenaga Kerja Korea (MOEL), perwakilan dari Kementerian Luar Negeri (MOFA), Ansan Foreign Worker Support Center dan Wakepri Seoul melakukan kunjungan dan pertemuan dengan 13 orang TKI yang bekerja di Yushin Melamine MFG Co., Ltd, Ansan. Perusahaan tersebut membuat berbagai jenis produk seperti : lantai dari melamin, kimia dan produk kimia.

Kunjungan tersebut didahului dengan melihat proses produksi dilanjutkan dengan dialog dan makan malam bersama dengan para TKI. Dalam sambutannya, Mr. Chung Ui Hwa menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan salah satu bentuk perhatian Pemerintah Korea, khususnya Parlemen terhadap pekerja asing yang ikut mendorong perkembangan industri Korea. Selain itu, disebutkan pula bahwa ini merupakan kelanjutan dari hasil kunjungannya ke Jakarta pada bulan Desember 2014. Ketika di Jakarta, Mr. Chung Ui Hwa bertemu Presiden R.I. dan Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) R.I. yang antara lain meminta agar Parlemen Korea ikut memperhatikan keberadaan puluhan ribu TKI di Korea.

Oleh karena itu, Mr. Chung Ui Hwa minta kepada TKI untuk menyampaikan keluhan atau usulan apapun agar diperhatikan dan dibahas oleh Parlemen. Secara umum TKI di perusahaan tersebut mendapatkan perlakuan baik; tempat tinggal disediakan, makan sehari tiga kali, menerima upah sesuai standar dengan lembur dan bonus serta dilindungi asuransi sesuai ketentuan. Oleh karena itu, tidak ada keluhan apapun dari mereka selama bekerja. Satu hal yang diusulkan oleh para TKI, yaitu kemudahan untuk masuk-bekerja kembali di Korea. Mereka usul untuk kembali bekerja ke Korea tidak dilakukan test dari awal, atau cukup dengan Surat Keterangan dari perusahaan saja.

Pada kesempatan tersebut Wakepri menyampaikan apresiasi kepada Ketua Parlemen dan Pemerintah Korea yang tidak hanya memberikan kesempatan tetapi juga perhatian kepada pekerja Indonesia. Disebutkan bahwa menurut catatan yang ada secara umum kondisi pekerja Indonesia cukup baik, meskipun masih ada ruang untuk melakukan berbagai perbaikan. Wakepri juga menyampaikan terima kasih kepada perusahaan dan berbagai pihak yang selama ini membantu pekerja Indonesia, seperti Foreign Worker Support Center, migrant center dll. Ditegaskan bahwa kerjasama antar Pemerintah dalam penempatan pekerja masih terfokus pada sektor 3-D, padahal banyak pekerja Indonesia yang mampu menguasai berbagai peralatan mekanik dan elektronik. Untuk itu, diharapkan agar kedepannya, kedua negara juga dapat mengembangkan kerjasama untuk mengisi jenis pekerjaan ahli dengan jenis visa pekerja professional.

Selanjutnya, ketua Parlemen mengajak seluruh TKI dari perusahaan Yushin Melamine MFG Co., Ltd untuk makan malam bersama. Dalam acara makan malam tersebut juga disertakan 20 TKI dari dua perusahaan lain, yaitu : Gemseong Jeogi Co. Ltd. dan Hyo Myoung Eng Co. Ltd. Di perusahaan pertama terdapat 10 orang TKI sedangkan di perusahaan kedua terdapat 12 orang TKI. Gemseong Jeogi Co. Ltd. Memproduksi alat-alat listrik dan Hyo Myoung Eng Co. Ltd memproduksi berbagai mesin dan peralatan besar dari baja.

Dalam suasan makan malam yang bersahabat, kembali Mr. Chung Ui Hwa meminta seluruh TKI untuk menggunakan kesempatan tersebut menyampaikan keluhan atau usulan apapun. Tampak para TKI cukup puas dengan kondisi kerjanya masing-masing karena status mereka semua yang hadir legal dan bekerja di perusahaan yang baik sehingga tidak banyak menghadapi masalah dan keluhan. Kembali, satu usulan dari TKI adalah penyederhanaan proses untuk kerja kembali ke Korea. Saat ini ada ketentuan bagi perusahaan yang memiliki pekerja lokal 50 orang atau lebih dibatasi untuk mempekerjakan kembali TKI (menerima program re-entry maupun re-employ). Sementara itu, TKI menilai banyak perusahaan yang berminat untuk mempekerjakan mereka kembali namun tidak bisa karena pembatasan tersebut. Oleh karena itu, mohon agar persyaratan tersebut dikurangi dan bahkan dihapuskan.

Presiden Jokowi: Kepala Perwakilan Harus Tajamkan Insting Lihat Potensi Ekonomi

Joklowi11

Presiden Joko "Jokowi" Widodo membuka Rapat Kerja (Raker) Pimpinan Kementerian Luar Negeri dan Kepala Perwakilan Republik Indonesia (Keppri) di Gedung Pancasila Kemlu RI (2/2).

Presiden Joko Widodo kembali tekankan pentingnya diplomasi ekonomi. Dalam sambutannya, Presiden RI menyebutkan bahwa para kepala perwakilan Indonesia harus mempunyai insting tajam untuk melihat potensi ekonomi yang ada di negara penempatannya.

Menurut Presiden RI, kesempatan selalu terbuka dimana – mana. Ekonomi selalu menjadi fokus dalam hubungan antar negara.

"Selama tiga bulan menjadi presiden, 90 persen urusannya soal ekonomi," kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi juga menuturkan pengalamannya selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selama dua tahun menjabat gubernur DKI Jakarta, 99 persen urusan yang ditanganinya bersama para perwakilan negara sahabat di Indonesia adalah menyangkut ekonomi.

Saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana akan membangun proyek mass rapid transportation (MRT), misalnya, banyak duta besar yang datang menemuinya untuk menanyakan apa saja yang bisa disediakan perusahaan dari negara asal mereka.

Dalam kesempatan doorstop sesudah pembukaan Raker Keppri, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa banyak sekali potensi ekonomi yang dimiliki oleh Indonesia. Begitu banyak, sehingga sulit untuk memilih satu produk unggulan saja.

Presiden mencontohkan satu industri yang beliau hafal diluar kepala, yakni industri produk kayu dan mebel.

"Itu pasarnya 480 milyar dolar AS. Indonesia baru masuk 1,8 milyar AS karena kurang dipromosikan. Perwakilan Indonesia di luar negeri harus bisa melakukan market intelligence, memberitahu kita dan mencari peluang."kata Presiden RI.

"Yang jelas, bekerja itu harus menggunakan target."pungkas Presiden Jokowi. (KemluRI)

Wakil Gubernur Provinsi Gyeongsang Utara Berkunjung ke Wisma Duta RI

 GyeongsangPhoto11

Pada hari Rabu tanggal 28 Januari 2015, Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio mengadakan makan siang bersama wakil gubernur provinsi Gyeongsang Utara, Ambassador Hong Jong-kyoung di Wisma Duta RI. Bersamaan dengan itu juga diundang Bapak Prof. Dr. Arief Rahman yang merupakan ketua komisi Indonesia untuk Unesco, dimana yang bersangkutan datang Korea sebagai wakil Indonesia untuk hadir dalam seminar Internasional Global Citizenship Education in Korea and Asean di Seoul dan bertindak sebagai pembahas pada seminar tersebut.

Selain itu pada pertemuan tersebut Ambassador Hong menyampaikan bahwa provinsi Gyeongsang Utara tahun ini bermaksud untuk melaksanakan Gyeongju World Culture Expo dengan tema Gyeongju Silk Road Festival 2015 yang akan dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus – 18 Oktober 2015 (59 hari). Pada even ini akan terdiri dari 3 acara utama yaitu Performance, Grand Bazaar dan Acara Pembukaan dan Penutupan serta Nasional Day. Pada kesempatan tersebut Ambassador Hong meminta agar KBRI Seoul dapat ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut.

Pada kesempatan tersebut Duta Besar RI menyambut baik ajakan tersebut dan menyampaikan akan menjajagi kemungkinan agar ada tim kesenian dari Indonesia yang bisa ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. Selain itu mengingat bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan mulai bulan Agustus – Oktober 2015, Dubes RI juga menjajaki kemungkinan jika kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan dihubungkan dengan ulang tahun kemerdekaan RI ke 70.

Biak Numfor Kembangkan Pariwisata dan Perikanan Kelautan

biaknumfor9

22 Januari 2015

Kabupaten Biak Numfor, Papua yang berada di perairan Samudera Pasifik tengah mengembangkan potensi pariwisatanya. Pemkab Biak Numfor menyiapkan anggaran hingga Rp7 miliar untuk membangun insfrastruktur kampung wisata di Kepulauan Samberpasi pada 2015. Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor juga akan membangun sarana pendidikan, pengembangan usaha kecil menengah, dan pengembangan Kampung Nelayan Samberpasi.

Plt. Bupati Biak Numfor Thomas Ondy mengutarakan bahwa prasarana yang akan dibangun berupa jalan lingkungan, drainase, lampu jalan, marina, penginapan, bedah rumah, pondok informasi wisata, ruang serbaguna, serta sarana wisata bahari berupa rubberboat, jet sky, peralatan selam, klinik dan playground.

Dengan disiapkan fasilitas pariwisata dan perikanan, diharapkan Kampung Wisata Samberpasi dan sekitarnya menjadi daerah tujuan wisata bahari. Ke depan juga kawasan ini diharapkan dapat memberikan pemasukan dari sektor pariwisata dan perikanan kepada daerah.

Pemkab Biak Numfor berharap semua elemen masyarakat mendukung program sektor pariwisata dan perikanan dalam rangka mengimplementasikan sektor kemaritiman yang menjadi program pemerintahan Presiden Jokowi.

Perairan di sekitar Biak Numfor memiliki kekayaan bahari yang melimpah. Pulau terbesar di antara rantai kepulauan kecil di utara Pulau Papua itu memiliki lahan budidaya laut mencapai 9,9 juta hektare dan lahan budidaya pantai 42 ribu hektare. Lahan tersebut mampu menghasilkan ikan laut 1,5 juta ton per tahun dan hasil tambak 1,6 juta ton per tahun. Oleh karenanya, Presiden Jokowi juga melirik pengembangan pelabuhan di Biak.

"Perlu dipersiapkan pelabuhan modern untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Presiden.

Lokasi penangkapan ikannya berada di Nusi Babaruk, Wundi, dan Miosbefondi (Kepulauan Padaido), Numfor Timur, perairan Numfor Barat, perairan pantai utara Biak, perairan Urfu, Samber dan Waroi (Yendidori ), serta perairan Tanjung Barari.

Hasil perikanan di Kabupaten Biak Numfor telah dipasarkan ke pasar lokal, ke pasar antarpulau, dan pasar internasional dengan pemasaran ke Thailand, Australia, dan Singapora. Komoditi utamanya adalah teripang (31.161 kg), lobster (15.154 kg), dan ikan segar (2.187 kg), dan selebihnya berupa kerang-kerangan, kepiting, sirip ikan hiu, dan ikan asin.

Ketua DPRD Kabupaten Biak Numfor, Zeth Sandy, mengatakan Pemerintah memang akan memprioritaskan sektor pariwisata dan perikanan kelautan. Hal ini sesuai dengan Program Jangka Menengah Daerah 2014-2019.

"Program ini segera disahkan menjadi perda pada 31 Desember mendatang," jelasnya.

Biak Numfor di Pulau Biak sendiri dapat dijangkau dari berbagai pulau di Indonesia dengan memanfaatkan penerbangan ke Bandara Frans Kaisiepo (Maskapai Garuda dan Sriwijaya). Di Biak, tersedia di beberapa penginapan dan waktu seminggu cukup untuk menjelajahi beragam keindahan memukau di sana.

Beberapa lokasi tujuan wisata yang dapat Anda jangkau di antaranya Kepulauan Padaido seluas 137 km2 yang memiliki keindahan bawah laut dan pesisir pantai. Pantai Inpendi di Desa Adoki, Distrik Yendidori dapat ditempuh selama 15 menit dari Kota Biak. Pantai Wari di Kampung Bosnabraidi Distrik Biak Utara dapat ditempuh sekira 1,5 jam dari kota Biak. Pantai Korem dengan teluknya yang melengkung seluas 1 km dan areal pasir delta dapat dijangkau sekira 32 km dari Kota Biak. Pantai Bosnik (Pantai Segara Indah) di Distrik Biak Timur dapat dicapai 25 menit dari Kota Biak. Juga Pantai Asaibori yang cocok untuk berenang, snorkeling serta berjemur dengan pantai berpasir putih bersih dan memiliki garis pantai memanjang.

Bandara Frans Kaisiepo untuk Penerbangan Internasional

Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya beberapa waktu lalu ke Papua mewacanakan pembukaan kembali Bandara Frans Kaisiepo di Biak Numfor, Papua untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah timur Indonesia.

Bandara Frans Kaisiepo direncanakan dibuka kembali untuk penerbangan internasional. Sebelumnya bandara ini pernah disinggahi penerbangan Jakarta - Biak - Honolulu - Los Angeles. Akan tetapi, jalur tersebut ditutup akibat krisis moneter tahun 1997. Kondisi itu berikutnya seakan memperlambat roda perekonomian Pulau Biak.

"Saya memperhatikan aspirasi bupati dan walikota, harapannya untuk membangun daerah dan masyarakat Papua," kata Jokowi setelah bertemu dengan kepala daerah se- Papua, di Pangkalan TNI Angkatan Udara Manuhua, Biak.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan menyatakan masih menunggu permintaan arus penumpang ke Biak untuk membuka penerbangan internasional di Bandara Frans Kaisiepo.

"Kalau demand-nya bagus, nanti maskapai juga akan ke sana," ungkap pelaksana tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Djoko Murj atmodjo.

Menurut Djoko, untuk mendorong permintaan penumpang, mesti ada kerja sama lintas sektor. Misalnya, ada paket-paket wisata, industri pertanian, sampai perikanan.

"Sekarang Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan sedang mengkaji kesiapan bandara dan operasinya."

Sejak dahulu memang Pulau Biak dianggap strategis lokasinya karena berada di tapal batas wilayah NKRI, bahkan pada masa Perang Dunia II, Biak adalah basis strategis Angkatan Laut Jepang di Pasifik sehingga Amerika Serikat membombardirnya pada 29 Mei 1944. Pada 2005, Pemerintah Rusia juga pernah berencana menjadikan Biak sebagai lokasi peluncuran roket dan satelit luar angkasa karena lokasi dipandang strategis.

Belanja pemerintah dalam RAPBN-P 2015 menjadi Rp1.330,8 triliun

jokowi01

Senin, 19 Januari 2015, Pemerintah menetapkan belanja pemerintah dalam RAPBN-P 2015 sebesar Rp1.330,8 triliun, turun Rp61,7 triliun dari pagu sebelumnya dalam APBN yang diproyeksikan sebesar Rp1.392,4 triliun.

"Perubahan belanja pemerintah pusat, terlihat dari belanja Kementerian Lembaga yang lebih tinggi Rp132,2 triliun dari APBN dan belanja non Kementerian Lembaga yang lebih rendah Rp193,9 triliun dari APBN," kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Senin.

Bambang menjelaskan belanja Kementerian Lembaga meningkat dari sebelumnya dalam APBN Rp647,3 triliun menjadi Rp779,5 triliun karena adanya penambahan alokasi anggaran untuk program prioritas Rp120,5 triliun, realokasi belanja Rp9,1 triliun dan berbagai perubahan lainnya.

Sedangkan, belanja non Kementerian Lembaga turun dari sebelumnya Rp745,1 triliun menjadi Rp551,2 triliun dalam RAPBN-Perubahan yang disebabkan penurunan subsidi BBM Rp194,2 triliun, penghematan subsidi elpiji, peningkatan pembayaran bunga utang Rp3,4 triliun dan peningkatan belanja hibah Rp1,1 triliun.

"Ini merupakan struktur anggaran yang baru, karena dalam sepuluh tahun terakhir, belanja Kementerian Lembaga selalu lebih rendah dari belanja non Kementerian Lembaga, kecuali tahun 2013 dan 2015 ini," kata Bambang.

Belanja subsidi BBM telah menyusut dari sebelumnya dalam APBN Rp276 triliun menjadi Rp81,8 triliun, subsidi LPG turun dari sebelumnya Rp55,1 triliun menjadi Rp28,7 triliun, namun subsidi listrik naik dari Rp68,7 triliun menjadi Rp76,6 triliun.

Sementara, ruang fiskal yang didapat dari restrukturisasi belanja subsidi dialihkan antara lain untuk tambahan pembangunan infrastruktur pendukung pertumbuhan ekonomi Rp49,8 triliun, pemenuhan kewajiban dasar Rp20,8 triliun dan pengurangan kesenjangan Rp43,5 triliun.

Selain itu, tambahan dana anggaran prioritas lainnya adalah untuk pembangunan infrastruktur konektivitas sebesar Rp12,9 triliun, penambahan alokasi transfer ke daerah Rp20,5 triliun dan prioritas lainnya sebesar Rp7,7 triliun.

Sedangkan, total anggaran pendidikan sedikit menurun dari Rp409,1 triliun dalam APBN menjadi Rp406,7 triliun dalam RAPBN-Perubahan, meskipun rasio anggaran relatif meningkat dari 20,06 persen menjadi 20,39 persen.

Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pendapatan negara dalam RAPBN-Perubahan 2015 sebesar Rp1.769 triliun atau lebih rendah dari target dalam APBN sebesar Rp1.793,6 triliun, atau ada selisih Rp24,6 triliun.

Sementara, pagu belanja negara dalam RAPBN-Perubahan 2015 diproyeksikan mencapai Rp1.994,9 triliun atau lebih rendah dari pagu dalam APBN sebesar Rp2.039,5 triliun, atau ada selisih sebesar Rp44,6 triliun.

Dengan demikian, defisit anggaran pada 2015 diproyeksikan mencapai Rp225,9 triliun atau 1,9 persen terhadap PDB, lebih rendah dari perkiraan semula dalam APBN sebesar Rp245,9 triliun atau 2,21 persen terhadap PDB.

Penyusunan draf RAPBN-Perubahan 2015 ini dilakukan berdasarkan asumsi makro yaitu pertumbuhan ekonomi 5,8 persen, tingkat inflasi 5,0 persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp12.200 dan tingkat bunga SPN 3 bulan 6,2 persen.

Selain itu, asumsi makro lainnya dalam RAPBN-Perubahan 2015 antara lain harga ICP minyak 70 dolar AS per barel, lifting minyak 849 ribu barel per hari dan lifting gas 1.177 ribu barel setara minyak per hari.

CVR AirAsia QZ8501 akhirnya ditemukan

kotakhitam

Komite Nasional Kecelakaan Pesawat (KNKT) menyatakan 100 persen kotak hitam --baik itu perekam data penerbangan Flight Data Recorder (FDR) yang sudah ditemukan lebih dulu kemarin dan perekam suara di kokpit pesawat Cockpit Voice Recorder (CVR)-- pesawat AirAsia QZ8501 telah berhasil ditemukan.

"Ini 100 persen sudah bisa didapatkan. Jika dilihat secara fisik keduanya (FDR dan CVR) dalam keadaan baik," kata Ketua KNKT Tatang Kurniadi didampingi Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda TNI Agus Dwi Putranto dan Panglima Komando RI Armada Wilayah Barat Laksamana Muda TNI Widodo di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Selasa.

Ia sempat mengkhawatikanr kotak hitam sulit ditemukan karena kondisi alam yang menyulitkan "ping" kotak hitam bisa terdeteksi.

CVR langsung dibawa ke kantor KNKT di Jakarta.

Menurut dia, FDR yang telah ditemukan dan dibawa ke Jakarta, kemarin (12/1), telah dibuka pada pukul 09.00 WIB. Modul memori dikeringkan dan setelahnya akan mulai diunduh.

"Kalau di download (diunduh) tidak lama. Yang lama ketika grafik atau parameter harus dibaca," ujar dia.

Sementara itu Pangarmabar Laksda TNI Widodo mengatakan setelah operasi SAR gabungan berjalan 17 hari, tim gabungan telah berhasil menemukan dan mengangkat ekor pesawat, FDR, dan CVR AirAsia yang dicari.

Dengan demikian karena sebagian besar yang dicari telah ditemukan parfa prajurit dengan dukungan KN Jadayat, kapal riset Baruna Jaya I, kapal Crest Onyx milik SKK Migas, kapal survei Geosurvey, dan kapal-kapal lain, maka hasil operasi dinyatakan optimal.

Yang menemukan CVR adala Lettu Aang Zainal, Sertu Widodo Hadi, dan Serda Rajak Suwarno. CVR tidak ditemukan di bawah sayap pesawat, tetapi di bawah puing-puing yang tertutup pasir.

"Setelah pasir disingkirkan ternyata itu mesin pesawat. Penyelam sudah menandai dengan buoy berwarna kuning sehingga keluarga bisa melakukan tabur bunga di sana," ungkap dia.

Ia mengatakan posisi mesin pesawat ditemukan tersebar dan berserakan 1,7 mil laut atau sekitar 3,4 kilometer dari ekor pesawat. Jarak dari lokasi penemuan FDR sekitar 500 meter di kedalaman 32 meter. (Antaranews)

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014