Saat Ribuan WNI Khusyuk Ikuti Pengajian Akbar di Gumi Korsel

silakbar 2016

Silaturahmi Akbar 2016 yang dihelat oleh Komunitas Muslim Indonesia (KMI) Korsel berlangsung seru. Ribuan pekerja Indonesia hadir di kota kecil Gumi, 280 km dari Seoul.

Puluhan bus dari berbagai penjuru memenuhi lapangan parkir Gumi Convention Centre, Selasa (9/2/2016). Berbagai kendaraan besar itu mengangkut tujuh ribuan pekerja Indonesia untuk sebuah pengajian akbar yang diisi tausiah KH Yahya Zainul Maarif yang didatangkan dari Cirebon.

Tidak hanya itu, di depan Convention Centre itu, puluhan tenda berdiri untuk menjual berbagai kebutuhan harian. Mulai kopi panas, bakso hingga buku-buku agama. Tidak ketinggalan, KBRI juga membuka warung konsuler untuk memberikan pelayanan lapor diri hingga urusan imigrasi.

KH Yahya dalam tausiahnya menyatakan bahwa WNI yang kerja di luar negeri harus tetap memperhatiakan keluarganya di Indonesia. Jangan sampai uang yang dicari susah payah di Korsel digunakan tidak semestinya di kampungnya. Kejadian semacam ini sering  terjadi karena orang tua lupa tujuan hidupnya. "Jangan pula anaknya disekolahkan lalu jadi tukang bom," katanya.

Selain itu, kesederhanaan menjadi kunci penting bagi para pekerja di luar negeri. Tidak sedikit, orang tua memanjakan anaknya di Indonesia dengan berbagai peralatan yang akhirnya menjerumuskannya. Itu semua akibat sang orang tua kadang ingin anaknya hidup secara "modern".

"Karena tidak bisa hidup sederhana lagi maka kehidupan orang kadang tergelincir. Tidak sedikit, uang habis cepat lalu jadi TKI lagi," ujarnya.

Dubes John A Prasetio melalui Penanggung Jawab Perlindungan WNI, M Aji Surya menggarisbawahi bahwa para pekerja Indonesia harus meningkatkan profesionalisme dan kedisiplinan. Hanya dengan cara itu jumlah dan bargaining pekerja Indonesia di Korea Selatan dapat ditingkatkan di masa depan.

Menurut Ketua KMI, Suripto Ilham, kegiatan di Gumi ini merupakan salah satu dari dua pengajian akbar yang dihelat setiap tahun. Acara ini diikuti ribuan pekerja yang berasal dari 50 musala Indonesia di seantero Korsel. Diakui, pengajian tersebut menelan biaya kisaran Rp 300 juta yang berasal dari sponsor dan kas KMI.

KMI saat ini sedang merencanakan pembangunan masjid di kota Gumi dan Daegu. "Masjid pertama perlu dana Rp 7 miliar sedang yang kedua Rp 5 miliar. Karenanya kami juga menggalang dana di pengajian ini. Mohon doanya," ujar Suripto Ilham.

DUBES JOHN PRASETIO: WASPADAI PERDAGANGAN MANUSIA KE JEJU

IMG 0238

KBRI Seoul menengarai adanya penipuan yang mengarah perdagangan manusia Indonesia ke Jeju, Korsel. Banyak WNI dijanjikan bekerja disana tanpa visa yang benar. Bahkan mereka harus membayar hingga Rp 100 juta.

Baru-baru ini misalnya, KBRI menegarai sejak awal tahun 2016 ada 55 WNI ilegal yang datang ke Jeju melalui Hongkong. Setelah tiba disana mereka dijemput oleh "broker".  Kabarnya, dari 55 orang tersebut, 44 orang telah "diambil" dan dipekerjakan tanpa perlindungan hukum. Sisanya  11 orang masih lontang-lantung dan kekurangan kebutuhan harian.

Menurut informasi salah satu korban,  masing-masing harus membayar antara Rp 75 juta sampai Rp 100j uta. Disinyalir ada kerjasama antara oknum WNI dengan warga negara lain yang ada di indonesia.

"Saya minta warga kita dimanapun waspada atas iming-iming menjadi pekerja ilegal di Korsel. Resikonya jauh lebih besar dari uang yang didapat," ujar Dubes RI untuk Korsel, John Prasetio dengan mimik serius.

Dubes mengatakan bahwa saat ini KBRI tengah melakukan  bekerjasama dengan otoritas setempat dan Indonesia untuk menangani permasalahan ini.

Kejadian serupa pernah terjadi di Jeuju pada Oktober 2015. Sebanyak 3 orang dan 2 pelaku (broker) yg kesemuanya WNI telah ditangkap otoritas Korea dan disidangkan pada November 2015.  Mereka telah mendapatkan hukuman seauai aturan yang berlaku.  ()

Pertemuan The 13th ASEAN-Korea FTA Implementing Committee Meeting dan The 5th ASEAN-Korea FTA Working Group on Investment

aseanrok fta

Rangkaian pertemuan The 13th ASEAN-Korea FTA Implementing Committee Meeting dan The 5th ASEAN-Korea FTA Working Group on Investment dilaksanakan pada tanggal 1-4 Februari 2016 bertempat di The Palace Hotel dan Lotte Hotel, Seoul. Delegasi RI berasal dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, BKPM, Sekretaris Kabinet, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Pertemuan membahas perkembangan implementasi ASEAN-Korea FTA, pending matters dan peningkatan kerja sama RI-ROK terkait AKFTA. Pertemuan juga membahas status dana ASEAN-Korea Economic Cooperation (AKEC Fund), proyek-proyek kerja sama ekonomi yang telah dan akan dilaksanakan, usulan proyek baru untuk tahun 2015-2016 dan pengaturan mekanisme kerja dan mekanisme pendanaan proyek-proyek.

Sebagai latar belakang informasi, pada pertemuan Pertemuan ASEAN-Korea Commemorative Summit bulan Desember 2014 di Busan, Korea Selatan, para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN dan Korea sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua Pihak untuk mencapai target perdagangan USD 200 miliar pada tahun 2020.

Terkait dengan AKFTA, pada perkembangannya sejumlah Negara Anggota ASEAN (Laos, Singapura, Malaysia) dan Korea telah menandatangani Third Protocol to Amend TIG AKFTA dan akan entry into force per tanggal 1 Januari 2016, sedangkan ASEAN lainnya termasuk Indonesia telah menandatangani protokol tersebut secara ad-referendum dan disepakati tercantum per tanggal 22 Desember 2015. Sejumlah kesepakatan dalam Third Protocol to Amend TIG AKFTA tersebut adalah untuk melakukan sejumlah amandemen atas beberapa ketentuan terkait persetujuan perdagangan barang AKFTA, yaitu: (i) Persetujuan atas elemen fasilitasi perdagangan; (ii) Penyesuaian atas pemberlakuan mekanisme Reciprocal Arrangement (RA) untuk produk dalam kategori sensitive track; dan (iii) Kesepakatan untuk menyusun jadwal penurunan tarif secara line-by-line untuk digabungkan menjadi bagian dari Persetujuan Perdagangan Barang AKFTA.

Terkait dengan kerja sama ASEAN-Korea, pertemuan membahas status dari ASEAN-Korea Economic Cooperation Fund (AKECF) dan mekanisme terbaru dalam proses pencairan dana dan pelaporan proyek. Berdasarkan pertemuan sebelumnya, pertemuan telah menyepakati 7 (tujuh) proyek baru di tahun 2015. Proyek-proyek baru tersebut meliputi: (i) Workshop on Scheduling of Reservations (ASEC), (ii) Technical Assistance Seminar for the Maximum Utilization of ASEAN-Korea FTA (Korea), (iii) ASEAN Workshop on FTA utilization for SMEs (Vietnam), (iv) Training Course on Molecular Techniques for Rice Quality Assurance (Korea), (v) ASEAN-Korea Cooperation for the Improvement of Building Energy Efficiency (Korea), (vi) Capacity Building Program on Water Resource Management for ASEAN Countries (Korea), dan (vii) Good Recycles Product (GR) Certification Distribution in ASEAN (Korea)

Selain itu, pada pertemuan kedua pihak menyambut baik kontribusi ASEAN-Korea Center terhadap hubungan kerja sama perdagangan dan investasi antara ASEAN dan Korea. Kedua pihak juga menyampaikan pentingnya untuk memperdalam kerja sama ekonomi antara ASEAN dan Korea guna menyambut terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Siaran Pers Tentang Perkembangan Situasi di Jakarta

tagar-PR

Pada sekitar pukul 10.50 pagi ini, sebuah bom bunuh diri meledak di sebuah kafe di persimpangan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, yang diikuti oleh dua ledakan susulan di area sekitar persimpangan tersebut. Menyusul kejadian ini, baku tembak terjadi antara para pelaku dan polisi.

 

Dalam kurun waktu setengah jam sejak insiden pertama, polisi telah berhasil mengendalikan situasi dan pada pukul 3.00 sore situasi di area serangan teror tersebut telah kembali normal. Lima orang teroris tewas dalam kejadian tersebut.

Serangan teror ini telah menewaskan dua orang warga sipil, termasuk seorang warga negara asing (warga negara Kanada). Selain itu 19 orang warga sipil, termasuk 4 orang warga negara asing (warga negara Aljazair, Austria, Belanda, dan Jerman), dilaporkan terluka dalam serangan tersebut. Lima orang polisi juga mengalami luka-luka dalam upaya melawan aksi para pelaku teror.

Seluruh tempat usaha dan gedung-gedung di sekitar lokasi kejadian diharapkan dapat beroperasi penuh dan kembali normal besok (15 Januari 2016).

Pemerintah Republik Indonesia mengutuk serangan teror keji yang telah menewaskan warga sipil ini dan menyampaikan duka cita dan simpati mendalam kepada para korban serta anggota keluarga yang berduka.

Pemerintah Republik Indonesia tetap berkomitmen tinggi untuk melawan terorisme dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk memastikan keamanan dan keselamatan masyarakat dan warga negara asing di Indonesia. Lebih lanjut, Pemerintah Republik Indonesia meminta masyarakat dan warga negara asing untuk tetap tenang dan melanjutkan kegiatan sehari-hari seperti biasa.

 

Perayaan Natal Masyarakat Indonesia di Korea Berlangsung Penuh Kebersamaan

natal3

Perayaan Natal Warga Negara Indonesia di Korea diselenggarakan oleh KBRI Seoul bersama masyarakat pada 27 Desember 2015 di Gereja Yeoido Full Gospel. Duta Besar RI John A. Prasetio menyampaikan bahwa Tema Natal 2015 yaitu "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah" sangat tepat, terutama karena mengandung pesan utama bahwa kita adalah satu keluarga. Sebagai anggota keluarga, kita masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik. Dalam hal ini kunci utamanya adalah sikap saling menghormati, toleransi, dan kebersamaan sebagai warga bangsa.

Duta Besar menyampaikan rasa senangnya dengan kebersamaan warga Indonesia yang berasal dari berbagai agama dan suku bangsa secara bersama-sama mempersiapkan dan melaksanakan perayaan Natal sebagai refleksi sikap toleransi dan kegotongroyongan yang tinggi.

Disampaikan juga pentingnya "branding" Indonesia. Peran setiap warga Indonesia untuk turut mendukung branding Indonesia sangat penting lebih-lebih dalam situasi yang sangat kompetitif saat ini baik di bidang investasi, perdagangan, pariwisata maupun pasar tenaga kerja. Dengan mencuatnya kembali isu terorisme pada pertengahan November lalu pasca serangan terror di Stadion, Gedung Konser dan Café di Paris, banyak negara meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pengamanan dan pencegahan terhadap kemungkinan aksi terorisme.

Dalam hal ini diharapkan agar setiap warga negara Indonesia di Korea selalu menjaga nama baik bangsa, taat hukum, berdisiplin, bekerja keras dan menjauhkan diri dari pengaruh ekstrimisme dan radikalisme. Lebih lanjut disampaikan Indonesia adalah bangsa yang pluralis, multi kultur dan etnik. Dalam hal ini perlu terus dipupuk dan ditumbuhkembangkan sikap saling menghormati dan menghargai,kebersamaan dan kepedulian.

Sebagai infiormasi, jumlah Warna Negara Indonesia yang tinggal di Korea Selatan mencapai lebih dari 40.000. Saat ini di Korea Selatan terdapat sekitar 80 organisasi WNI, lebih dari 32 paguyuban, 44 masjid dan 25 gereja.

Perayaan Natal kali ini melibatkan berbagai unsur masyarakat dan dihadiri oleh perwakilan-perwakilan Persekutuan Gereja Indonesia Korea (PGIK) dari berbagai kota dan daerah. Acara menghadirkan Pendeta Hendra Gunawan dari Taiwan sebagai pembicara Natal dan dihadiri oleh pengurus PGIK dan Gereja Yeoido Full Gospel. (KBRI Seoul)

Pengumuman Akhir Tahun

office closed

PEMBERITAHUAN/공지 사항/NOTIFICATION

SEHUBUNGAN DENGAN TUTUP ANGGARAN AKHIR TAHUN PELAYANAN KONSULER KBRI SEOUL DAN KUKRI BUSAN AKAN TUTUP PADA TANGGAL 24 DESEMBER 2015 SAMPAI DENGAN 03 JANUARI 2016. PELAYANAN KONSULER AKAN DIBUKA KEMBALI PADA TANGGAL 04 JANUARI 2016.

PEMBAYARAN BIAYA PELAYANAN KEKONSULERAN HARUS DILAKUKAN PALING LAMBAT PADA TANGGAL 23 DESEMBER 2015.

 

주한 인도네시아 대사관과 부산 인도네시아 영사관  연말 접수 마감일은 12 23일까지 입니다.

2015 12 24일부터  01 03일까지는 비자 접수가 불가합니다.

.  1 04일부터 정상근무 합니다.

 

THE INDONESIAN EMBASSY IN SEOUL AND THE CONSULAR OFFICE IN BUSAN WILL BE CLOSED FROM DECEMBER 23, 2015 until JANUARY 3, 2015. WE WILL REOPEN ON JANUARY 4, 2016. PAYMENT FOR ALL CONSULAR SERVICE FEE MUST BE PAID THE LATEST ON DECEMBER 23, 2015.

 

*for visa pickup only we still open until December 31, 2015 from 9 am to 12.30 pm

Indonesia- Korea Selatan Selenggarakan Joint Commission Meeting ke-2 untuk Lebih Perkokoh Kerjasama Bilateral

JCM

Dalam rangka terus memperkokoh hubungan dan kerjasama bilateral RI-ROK, pada 18 Desember 2015 di Seoul, Indonesia dan Korea Selatan telah menyelenggarakan the 2nd Joint Commission Meeting (JCM) ke-2 antara Indonesia dengan Republik Korea (ROK). Pertemuan JCM merupakan implementasi kesepakatan antara Presiden Jokowi dan Presiden Park Geun-hye dalam pertemuan bilateral di Busan pada 11 Desember 2014. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri RI dan beranggotakan Kepala BKPM, wakil-wakil dari beberapa Kementerian/Lembaga terkait seperti Kantor Menko Polhukam, kantor Menko Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, BNP2TKI dan KBRI Seoul. Sementara Delegasi ROK dipimpin oleh Menteri Luar Negeri ROK, Yun Byung-se.

Pertemuan kedua JCM membahas kerja sama kedua negara di berbagai bidang antara lain politik, ekonomi, sosial budaya, people to people contact serta isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan kedua negara.

Pada pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri ROK menyampaikan harapan Pemerintah ROK agar Presiden RI dapat mengadakan kunjungan kenegaraan ke ROK pada semester pertama tahun 2016 yang diyakini dapat lebih mempererat kerja sama kedua negara di berbagai bidang termasuk perdagangan, investasi, kemaritiman dan people to people contact. Indonesia dan Korea Selatan juga sepakat perlunya menyelenggarakan Pertemuan JCM secara reguler setiap dua tahun sekali dan Pertemuan Senior Official Meeting (SOM) setiap tahun.

Di bidang pertahanan, Indonesia menekankan agar pembangunan kapal selam ke-3 dapat dilakukan di Indonesia dengan skema joint section plus. Indonesia juga menyampaikan harapannya agar Korea Selatan dapat membeli lebih banyak pesawat militer/sipil buatan Indonesia, CN 235 serta meng-upgrade 12 CN 235 yang dimiliki Republic of Korea Aircraft (ROKAF).

Pertemuan sepakat untuk perkuat kerjasama di bidang maritim baik dalam kerangka kerjasama bilateral maupun regional. Indonesia mengharapkan agar kedua negara dapat bekerjasama dalam mengimplementasikan 5 (lima) pilar kerjasama maritim sebagaimana dimandatkan pada EAS Summit di Kuala Lumpur. ROK berminat untuk mengembangkan kerjasama maritim dengan Indonesia khususnya untuk pembangunan galangan kapal, dan pembangunan Kesatuan Penjaga Pantai. Saat ini ROK sedang melakukan studi yang mendalam mengenai potensi kerjasama maritim kedua negara. Hasil studi ini akan menjadi dasar bagi peningkatan kerjasama maritim kedua negara.

Pertemuan mencatat trend perdagangan kedua negara yang terus menurun dan pada tahun 2014 tercatat sebesar USD 23,7 milyar. Untuk itu disepakati perlunya mencari langkah-langkah yang baru dan kreatif serta mengintensifkan komunikasi antar pejabat kedua negara dalam mendorong penyelesaian ASEAN-ROK FTA dan dimulainya kembali perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership (IK-CEPA).

Di bidang investasi, minat investor ROK di Indonesia masih cukup tinggi dan investasi ROK pada tahun 2015 (Jan-Sept) menduduki urutan empat investor terbesar di Indonesia. Kedua Menteri menyambut baik ditandatangani MoU kerja sama untuk promosi Investasi ROK di Indonesia antara Kepala BKPM dan Woori Bank, ROK. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu dalam mendorong perusahaan ROK untuk menanamkan modalnya di Indonesia. ROK menyampaikan minatnya untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan tenaga listrik 35 ribu megawatt dan harapkan dukungan Pemri terhadap rencana dimaksud.

Di bidang keuangan, Pertemuan menyambut baik pendirian Bank BNI di Seoul, ROK. Bank BNI merupakan bank Indonesia yang pertama kali membuka cabang di ROK. Indonesia mengharapkan bantuan dan dukungan ROK agar kegiatan Bank BNI dapat berjalan lancar.

Pertemuan juga sepakati pentingnya meningkatkan kerjasama pariwisata seperti kegiatan promosi bersama dan peningkatan frekuensi penerbangan antar kedua negara. Pemeri telah memberikan fasilitas Pemberian bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor biasa yang diharapkan dapat lebih mendorong kunjungan wisatawan Korea ke Indonesia. Indonesia juga harapkan agar ROK dapat memberikan fasilitas bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor biasa Indonesia untuk mendorong arus wisatawan Indonesia ke Korea.

Di bidang sosial budaya dan pendidikan, Pemri menyampaikan apresiasi atas bantuan perlindungan yang diberikan oleh Pemerintah ROK kepada BMI yang bekerja di Korea. Pertemuan sepakat untuk segera implementasikan pertukaran guru dan dosen terutama di bidang Bahasa dan peningkatan kualitas Puast Studi Korea di Indonesia dan pembentukan Pusat Studi Indonesia di Korea.

Sementara itu untuk bidang Kerjasama Pembangunan, Indonesia adalah mitra terbesar ke-6 kerjasama pembangunan dari 120 negara. ROK akan terus memperkuat kerjasama pembangunan di berbagai bidang antara lain ekonomi sosial, administrasi publik, lingkungan hidup, dan pengelolaan sumber daya alam. Dalam kaitan ini, kedua negara diharapkan dapat segera menyelesaikan Framework Agreement (FA) Economic Development Cooperation Fund (EDCF) untuk periode 2016-2020 sebagai dasar bagi peningkatan kerja sama pembangunan kedua negara.

Kunjungan Menteri Perdagangan dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif ke Korea Selatan

kotra

Pada tanggal 9 – 11 Desember 2015, Menteri Perdagangan, Bapak Thomas Lembong, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Bapak Triawan Munaf, berkunjung ke Korea Selatan. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kerjasama antara kedua negara terutama dalam bidang perdagangan dan investasi serta pengembangan industri kreatif di Indonesia. Dalam kunjungannya Mendag melakukan pertemuan dengan pihak-pihak mitra Korea Selatan antara lain Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA), Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi dan Korea International Trade Association (KITA). Selain itu, Mendag juga melakukan pertemuan dengan berbagai perusahaan besar Korea Selatan.

Pertemuan Mendag dengan KOTRA membahas mengenai rencana Pemerintah Indonesia untuk membentuk Badan Promosi Eskpor dan berharap KOTRA dapat mendukung program ini berdasarkan pengalaman yang dimiliki KOTRA selama ini yang telah sukses mempromosikan produk ekspor Korea Selatan di manca negara. Sedangkan pertemuan Mendag dengan Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi Korea Selatan dibahas mengenai kelanjutan pembahasan perjanjian Indonesia – Korea Comprehensive Economic Partnership (IKCEPA) dan keinginan kedua negara untuk menyelesaikan proses negosiasi perjanjian dimaksud. Selanjutnya pada hari terakhir Mendag bertemu dengan pihak KITA dimana dalam pertemuan tersebut dibahas bagaimana meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara terutama di bidang industri kreatif. Pada hari yang sama, Kepala Bekraf melakukan pertemuan dengan pihak Korea Creative Content Agency (KOCCA) untuk mempelajari bagaimana KOCCA bekerja selama ini untuk memajukan ekonomi kreatif di Korea Selatan dan mempromosikannya ke manca negara. Hal ini dilakukan mengingat Bekraf merupakan Badan yang baru didirikan pada awla tahun 2015 sehingga masih banyak yang perlu dipelajari dan Korea Selatan merupakan negara dengan industri kreatif yang sangat maju.

Selain pertemuan dengan instansi Pemerintah Korea Selatan, Mendag dan Kepala Bekraf juga melakukan pertemuan dengan perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan yang merupakan investor-investor di Indonesia. Pertemuan ini dilakukan untuk membicarakan mengenai permasalahan yang ditemui oleh perusahaan-perusahaan tersebut dalam berinvestasi di Indonesia dengan harapan perusahaan-perusahaan ini akan melakukan investasi lebih besar lagi di Indonesia. Hal ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden Jokowi yang menunjuk Kepala Bekraf sebagai penghubung Korea Selatan dalam hal investasi dan perdagangan. Selain, pertemuan-pertemuan yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut, Mendag dan Kepala Bekraf juga melakukan kunjungan Cheil Jedang (CJ) Creative Center. Tempat tersebut merupakan tempat dimana bakat-bakat di Korea Selatan dibina dan dikembangkan, baik bakat di bidang perfilman maupun bakat musik.

Di sela-sela kunjungan, Mendag memberikan penghargaan Primaduta kepada 4 perusahaan Korea yang dinilai memiliki kinerja yang baik dalam mengimpor produk Indonesia ke Korea Selatan. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah Nobland International, E-max Trading, Dyerex International dan Easterntex. Acara penghargaan tersebut diadakan di Wisma Duta KBRI Seoul dan dihadiri oleh petinggi-petinggi perusahaan-perusahan besar di Korea Selatan.

 

KUNJUNGAN PRESIDEN KE 6 RI, BAPAK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO KE KOREA SELATAN

SBY

Pada tanggal 16 - 20 November 2015, dilaksanakan kunjungan kerja H.E. DR. Susilo Bambang Yudhoyono ke Seoul, Republik Korea, dalam rangka menghadiri dan memimpin sidang the Fourth Session of the Assembly and the Eight Session of the Council of the Global Green Growth Initiative (GGGI). Pada kunjungan kerja tersebut, H.E. DR. Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono dan Bapak Dino Patti Djalal serta delri dari BAPPENAS yaitu Direktur Sumber Daya Energi Mineral dan Pertambangan, Bapak J. Rizal Primana dan stafnya.

Sebagai latar belakang, the Global Green Growth Initiative, berpusat di Republik Korea, adalah organisasi internasional yang mempromosikan “pertumbuhan hijau” yaitu paradigma keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. GGGI berdiri pada tahun 2010 dan dibentuk pertama kali oleh Presiden ke-10 Republik Korea, H.E. Lee Myung Bak, dengan misi untuk menjadi jembatan antara negara berkembang dan negara maju untuk menciptakan peluang pembangunan ekonomi dan lingkungan yang berkesinambungan.

Sebagaimana diketahui bersama, pada pertemuan ke-3 Assembly of the Global Green Growth Initiative (GGGI) dan sidang ke-6 Council of the GGGI yang dilaksanakan pada tanggal 18 November 2014 di kota Songdo, Republik Korea, H.E. DR  Susilo Bambang Yudhoyono telah terpilih dan disahkan secara aklamasi sebagai Ketua Dewan (Chair of Council) dan Presiden Majelis (President of the Assembly) dari GGGI.

Selain menghadiri pertemuan GGGI, H.E. DR. Susilo Bambang Yudhoyono juga menerima undangan untuk menjadi Keynote Speaker pada acara The Second Seoul Climate - Energy Conference: On the Road to Paris and Green Big Bang di  Grand Ballroom Hotel JW Mariott Dondaemun Square pada tanggal 20 November 2015.

Konferensi dimaksud merupakan acara besar tahunan yang diselenggarakan oleh KAIST Graduate School of Green Growth dan organisasi Coalition  for Our Common Future dan dihadiri oleh berbagai kalangan.di Korea termasuk akademisi, pelaku usaha, organisasi internasional, non-governmental organization dan government officials.

Pada sambutannya, H.E. DR Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan mengenai upaya dampak perubahan iklim sebagai isu global yang menjadi perhatian di tingkat nasional, regional dan internasional. Disampaikan juga mengenai kebijakan RI terkait upaya mitigasi dampak perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Disampaikan juga mengenai kebijakan terkait green growth dan renewable energy di Indonesia. Disampaikan juga mengenai keterkaitan RI dan ROK khususnya kebijakan Republik Korea di bidang renewable energy dan peluang kerja sama dan upaya bersama RI – ROK dalam isu-isu climate change, energy security dan pembangunan kapasitas energi terbarukan di kedua negara.

SURAT EDARAN

KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
SEOUL

 

SURAT EDARAN

 

Kepada Yth.
Seluruh Warga Negara Indonesia
di
Korea Selatan

Dengan homat,

Sehubungan dengan adanya penangkapan Warga Negara Indonesia oleh Aparat Keamanan setempat dengan tuduhan pelanggaran keimigrasian dan dugaan keterlibatan mendukung organisasi radikal IS, KBRI Seoul dengan ini menghimbau kepada seluruh Warga Negara Indonesia di Korea Selatan untuk:

1. Bersikap tenang dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sebagaimana biasa dengan tetap menjaga kehati-hatian.

2. Senantiasa mematuhi seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Korea Selatan serta menghindari berbagai tindakan yang dapat mencederai citra Bangsa Indonesia dan dinilai membayakan keamanan negara setempat.

3. Menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul sekiranya terdapat hal-hal yang perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Demikian surat himbauan ini, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

 

                                                                                                                                    Seoul, 19 November 2015
                                                                                                                                    KBRI Seoul

Meningkatkan Kerukunan dan Kekompakkan dalam Pentas Seni Kebersamaan Satu Negeri

pentasseni3

Pada Jumat, 23 Oktober 2015, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, Korea Selatan menggelar pentas kebudayaan yang bertema Pentas Kebersamaan Satu Negeri dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober mendatang.

Pada kesempatan tersebut turut hadir ketua MPR RI, Bapak Zulkifli Hasan dan delegasi, Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio, perwakilan dari berbagai organisasi kemasyarakatan Indonesia yang ada di Korea Selatan (Korsel), mahasiswa, mix married dan tenaga kerja Indonesia serta beberapa warga Korsel pencinta Indonesia dari berbagai kalangan.

Acara berlangsung meriah dihadiri sekitar 400 penonton dan dilaksanakan di halaman dalam kantor KBRI Seoul. Acara tersebut diramaikan oleh berbagai grup musik dan tim kesenian dari kalangan mahasiswa dan juga Tenaga Kerja Indonesia seperti grup akustik dari persatuan pelajar Indonesia di Korea, Hary dari UT Korea, grup tari dari kelompok tari tradisional Indonesia, Yuseng Cho salah satu penyayi finalis dari KDI, Jaranan dan Ricky Ujung, penyanyi dangdut asal Korea. Pada acara tersebut juga dimeriahkan oleh grup acapela Korea "onederful" dan penyanyi Korea terkenal Eru dan Tae Jin Ah.

Pada kesempatan menyampaikan kata sambutan pada acara tersebut, Bapak Dubes RI menyampaikan bahwa acara ini merupakan inisiatif dari warga Indonesia dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dan juga hari Pahlawan 10 November 2015.

Selanjutnya disampaikan juga bahwa acara ini merupakan salah satu upaya untuk membangun branding bahwa orang Indonesia adalah orang yang disiplin, pekerja keras dan bisa diandalkan. Beliau juga menyampaikan agar melalui acara ini akan dapat makin menumbuhkan semangat kebersamaan, meningkatkan kerukunan, kekompakan, persatuan dan kesatuan diantara warga Indonesia di Korea Selatan.

Bapak Zulkifli Hasan yang datang bersama delegasi MPR RI disambut oleh warga Indonesia. Rombongan yang berada di Korsel atas undangan parlemen (National Assembly) sejak Kamis tanggal 22 Oktober 2015, sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan Ketua Parlemen dan PM Korea Selatan.

Pada saat Eru menyanyikan lagu kemesraan, Bapak Zulkifli bersama 3 anggota MPR RI lain termasuk Bapak Dubes ikut naik kepanggung dan bernyanyi yang diikuti oleh penonton.

Ratusan WNI yang hadir larut dalam kemeriahan acara. KBRI Seoul juga menyajikan makan malam khas Indonesia seperti Baso, Sate dan lainnya.

Acara ditutup dengan menari bersama tarian poco-poco dan penampilan grup Campur Sari dari salah satu perwakilan masyarakat. (KBRI Seoul)

Pameran Batik Indonesia di Museum Kyungwoon Korea Selatan

Batik1

Pada Rabu 21 Oktober 2015, Kyungwoon Museum yang terletak di salah satu sekolah menengah atas terkenal di Seoul Korea Selatan, Kyunggi Girls High School, di daerah Gangnam. melaksanakan pameran batik Indonesia bekerjasama dengan salah satu alumni SMA Kyunggi pencinta batik, Mrs Jung Okji dan KBRI Seoul.

Pameran yang akan dilaksanakan dari tanggal 21 Oktober 2015 sampai 28 Februari 2016 tersebut akan memamerkan 100 batik dari tahun 1960 – 1970, kebaya, selendang, wayang kulit, wayang golek yang merupakan koleksi Mrs. Jung yang merupakan seorang artis tamatan fakultas seni, Seoul National University. Koleksi batik tersebut dikumpulkan oleh ybs pada saat tinggal di Indonesia pada tahun 1970an. Selain itu KBRI Seoul juga meminjamkan kain batik, blangkon serta peralatan musik untuk mengisi pameran tersebut. Pameran tersebut gratis dan di buka dari jam 10.00 – 16.00 setiap hari kerja.

Tujuan dari pemeran tersebut adalah untuk memperkenalkan Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan dan juga menumbuhkan serta membuka kesempatan pertukaran budaya antara kedua negara. Selain itu juga untuk lebih memperkenalkan budaya Indonesia dalam hal teknik pembuatan, peralatan, baju tradisional dari Batik yang oleh UNESCO diakui sebagai salah satu Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity 2009.

Pada pembukaan acara pameran batik tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti Ibu Alexandra Prasetio, Istri Duta Besar RI Seoul, Mdm. Robin Refot, Istri dari Duta Besar USA, Mr. Kim Kwi-jeong, Chairman of Korea Museum Association dan banyak lagi tamu-tamu penting lainnya. Pada pembukaan acara, Ibu Alexandra mengucapkan selamat atas dilaksanakannya pameran tersebut dan mengucapakan terima kasih kepada panitia yang telah bersusah payah mempersiapkan penyelenggaraan pameran tersebut serta mengharapkan agar pameran tersebut dapat berjalan sukses. (KBRI Seoul)

Presiden RI ke 5, Megawati Soekarnoputri Menerima Doktor Honoris Causa dari Korea Maritime and Ocean University

megawati1

Pada tanggal 19 Oktober 2015, Presiden RI ke 5, Ibu Megawati Soekarnoputri menerima penganugerahan Doktor Honoris Causa dari salah satu universitas terkemuka di Korea Selatan, Korea Maritime and Ocean University (KMOU).

KMOU adalah salah satu universitas negeri terkemuka dan paling lama di Korea Selatan didirikan pada tahun 1945. KMOU yang terletak di kota Busan yang merupakan kota pelabuhan terbesar di Korea Selatan, telah menghasilkan banyak tokoh pemimpin di bidang kelautan baik itu tingkat nasional dan juga di arena internasional salah satunya adalah sekretaris jenderal International Maritime Organization (IMO) saat ini.

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke 70, KMOU memutuskan untuk menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang politik kepada Ibu Megawati karena menganggap beliau telah memberikan sumbangan besar terhadapa bangsa dan negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan/maritime terbesar di dunia utamanya melalui kebijakan pengembangan industry yang berkaitan dengan kemaritiman dan demokrasi. Selain itu beliau juga dianggap telah memberikan sumbangan yang cukup besar untuk perdamaian dan kestabilan di semenanjung Korea.

Hadir pada acara penganugerahan tersebut Menteri Koperasi dan UKM, AGN Puspayoga, Menteri Pariwisata, Arief Yahya dan Duta Besar RI Seoul, John A. Prasetio. Hadir juga 2 putra Presiden, Prananda Prabowo dan M. Rizki Pratama serta beberapa petinggi dari partai PDI Perjuangan seperti, Rokhmin Dahuri.

Pada kesempatan tersebut, Presiden Megawati menyampaikan bahwa penghargaan yang di terimanya tersebut juga merupakan pengharggaan bagi seluruh bangsa Indonesia dan menyampaikan bahwa Presiden Soekarno, pada saat menjadi presiden pertama, juga telah membuat universitas Cendrawasih di Papua yang tujuannya hampir sama dengan KMOU. Oleh karenanya sepulangnya dari Korea Selatan akan berbicara dengan Presiden Jokowi untuk menjajaki kerjasama lebih lanjut antara universitas di Indonesia dengan KMOU.

Penyelenggaraan Investment and Business Seminar on Indonesia Hasilkan Minat Investasi senilai USD 600 Juta

Photobisnis22

Pada tanggal 6 Oktober 2015, KBRI Seoul melalui Perwakilan BKPM di Seoul (Indonesia Investment Promotion Center - IIPC) bekerjasama dengan ASEAN Korea Center (AKC) telah menyelenggarakan Investment and Business Seminar on Indonesia dengan fokus promosi investasi di bidang hilirisasi produk agribisnis dan pertambangan kepada 50 investor potensial di Korea Selatan. Pada acara tersebut, BKPM telah menghadirkan 4 provinsi yang memaparkan potensi investasi yang berkaitan dengan industri tersebut di atas, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Acara diawali sambutan pembuka oleh Sekretaris Jenderal AKC, Ambassador KIM Young-sun yang menyampaikan bahwa AKC memiliki tugas untuk terus meningkatkan hubungan Korea dan negara-negara ASEAN. Ambassador KIM yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Korea untuk Indonesia ini selanjutnya menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra penting bagi Korea dimana hubungan bilateral kedua negara terus meningkat di berbagai bidang sejak dibukanya hubungan diplomatik pada tahun 1973.

Cecep Herawan - Wakil Duta Besar RI untuk Korea Selatan menyampaikan pentingnya kontribusi dan peran investasi Korea Selatan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan saat ini Pemerintahan Jokowi-JK telah mengeluarkan paket-paket kebijakan investasi untuk memangkas birokrasi guna lebih meningkatkan arus investasi asing ke Indonesia. BKPM yang diwakili oleh Endang Aloysia, Direktur Fasilitasi Promosi Daerah menjelaskan berbagai langkah kongret dan stratejik BKPM untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik bagi investor dalam dan luar negeri, antara lain melalui online system dan one stop service. Bagi investor dengan kriteria tertentu, BKPM akan mengeluarkan izin usaha maksimal 3 jam khususnya yang berlokasi di Kawasan Industri.

Berdasarkan pengamatan dan tanggapan para peserta, pada umumnya perusahaan Korea Selatan memandang Indonesia sebagai negara tujuan investasi strategis. Angka investasi Korea Selatan di Indonesia menunjukan peningkatan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kepala BKPM Franky Sibarani yang menegaskan bahwa komitmen investasi Korea Selatan tidak menunjukan tanda-tanda penurunan. "Angka Ijin Prinsip (IP) kepada Investor Korea Selatan yang dikeluarkan BKPM menunjukan bahwa pada Semester satu 2015 terjadi peningkatan sebesar 39%, yaitu menjadi sebesar USD 1,48 Milyar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 1,06 Milyar." Demikian juga dengan angka realisasi investasi Korea Selatan, "Angka realisasi investasi Korea Selatan pada semester satu 2015 mencapai peningkatan sebesar 20% yaitu menjadi sebesar USD 790 Juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 650 Juta."

Dalam kegiatan one on one business meeting, didapatkan minat investasi kongkret dari Korea Selatan berupa rencana investasi sebesar USD 600 juta di berbagai bidang usaha antara lain refinery produk CPO dan turunannya, biomass, smelter ferronickel, coal gas station/ terminal, industri pakan ternak dan pengolahan buah-buahan. (KBRI Seoul)

 

Kunjungan Kerja Menteri Sekretariat Negara ke Korea Selatan

mensesneg

 

Menteri Sekretaris Negara, Prof. DR. Pratikno beserta delegasi lainnya tiba di Seoul pada hari Kamis tanggal 1 Oktober 2015 untuk memulai Kunjungan Kerja hingga kembali ke tanah air pada tanggal 3 Oktober 2015. Kunjungan kerja bertujuan untuk meningkatkan kerja sama hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan khususnya di bidang kerja sama pembangunan dan good governance sekaligus menghadiri pembukaan “Training Program of Benchmarking on ON-NARA, An Integrated e_Government System of Korean Government” sebagai Pembicara Utama. Selama kunjungan kerja berlangsung, Bapak Mensesneg didampingi oleh Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri, Kepala Biro Informasi dan Teknologi dan staf lainnya dari Kementerian Sekretariat Negara.

Selama kunjungan, Bapak Mensesneg melakukan serangkaian pertemuan dengan Presiden KOICA (Korea International Cooperation Agency), Wakil Presiden KOICA dan perwakilannya, bertemu dengan Wakil Menteri Budaya, Olahraga dan Pariwisata ROK, H.E. Kim Jae Won (Vice Minister of Culture, Sports and Tourism), bertemu dengan Direktur Korean Local Information Research Institute (KLID) dan bertemu dengen Menteri Dalam Negeri ROK (Minister of Interior), H.E. Chong Jong Sup. Sebagai informasi, dahulu Ministry of Interior (MOI) bernama Ministry of Government Administration and Home Affairs (MOGAHA).

Pada Hari Pertama kunjungan dimaksud, Bapak Mensesneg, membuka secara resmi acara pelatihan “Training Program of Benchmarking on ON-NARA, An Integrated e-Government System of Korean Government” di Gedung International Cooperation Center (ICC) KOICA di Korea Selatan. Acara pelatihan merupakan program kerja sama khusus Setneg dengan KOICA dan terdiri dari pelatihan selama 3 (tiga) minggu di Korea dengan peserta sejumlah 30 (tiga puluh) orang dari berbagai kementerian di Indonesia. Turut serta membuka pelatihan bersama Mensesneg adalah Duta Besar RI, Bapak John A. Prasetio.

Selain membuka secara resmi kegiatan pelatihan e-gov, Bapak Mensesneg juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Republik Korea (Minister of the Interior), Mr. Chong Jong Sup untuk membicarakan mengenai penguatan kerja sama Indonesia dan Korea di bidang Good Governance dan Government Administration melalui Implementasi sistem e-Gov. Sebagai informasi, dahulu Ministry of Interior (MOI) bernama Ministry of Government Administration and Home Affairs (MOGAHA).

Pada tanggal 2 Oktober 2015, Bapak Mensesneg memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Pada kuliah umum tersebut, Mensesneg menyampaikan mengenai masa depan dan mengenai Asian Century. Asian Century tidak lagi hanya merupakan potensi atau prediksi tetapi menjadi suatu yang akan terjadi mengingat kontribusi negara-negara di Asia terhadap Global GDP dan peran Asia sebagai engine of development. Selain itu, negara-negara Asia adalah pusat-pusat budaya dan dapat memberikan kontribusi terhadap kekayaan kebudayaan dunia.

Pada malam harinya Bapak Mensesneg diundang ke Wisma Duta oleh Bapak Dubes untuk menghadiri pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Korea Selatan. Dalam sambutannya Bapak Dubes kalau Indonesia ingin maju, kita harus siap dengan infratrusktur, sarana dan pelayanan publik yang baik. Bapak Mensesneg, dalam sambutannya, menjelaskan mengenai maksud dan tujuan kunjungannya ke Korea dan hasil pertemuan yang beliau hadiri.

Pada kesempatan yang sama, Bapak Mensesneg membuka dialog dengan para mahasiswa Indonesia yang mayoritas mendukung program pemerintah yaitu e-government namun memohon keapada Pemerintah untuk mempersiapkan infrastruktur terlebih dahulu. Pertemuan di Wisma Duta tersebut diakhiri dengan makan malam bersama.

Undangan Menghadiri Pentas Kebangsaan Satu Indonesia

youre invited w

UNDANGAN

ACARA PENTAS KEBERSAMAAN SATU INDONESIA

DENGAN TAMU KEHORMATAN KETUA MPR RI, BAPAK ZULKIFLI HASAN

 

Bersama ini dengan hormat, disampaikan undangan kepada Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menghadiri acara Pentas Kebersamaan Satu Indonesia yang bertema “Melalui peringatan Sumpah Pemuda, Kita Perkuat Peran Diaspora dalam Meningkatkan Martabat Bangsa” yang akan diselenggarakan pada:

Hari / Tanggal

:

Jumat, 23 Oktober 2015

Pukul

:

18.30 – 21:30

Tempat

:

Lapangan Upacara KBRI Seoul

Pakaian

:

Pakaian Nasional atau Batik Lengan Panjang

Susunan Acara

:

  1. 1.Sambutan Duta Besar RI

 

 

  1. 2.Keynote Speech Ketua MPR RI

 

 

  1. 3.Pentas Seni (Band, Tari, Musik Tradisional)

 

 

  1. 4.Ramah Tamah dan Makan Malam

 

 

(Susunan Acara Masih Bersifat Sementara / Tentatif)

Pendaftaran

(Wajib Dilakukan)

:

Mohon mengirimkan email berisi nama, nomor telefon dan afiliasi paguyuban masyarakat Indonesia ke alamat: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Mengingat pentingnya acara tersebut, dengan hormat diharapkan kehadiran Bapak/Ibu dan Saudara/Saudari 30 (tiga puluh) menit sebelum acara dimulai dengan membawa tanda pengenal yang masih berlaku.

Demikian, atas perhatian dan kerja samanya, kami mengucapkan terima kasih.

 

Seoul, 23 September 2015

PANITIA

Kunjungan Menteri Kesehatan RI Menghadiri Global Health Security Agenda 2015

GHSA

Menteri Kesehatan RI, Prof. DR. dr. Nila Farid Moeloek, Sp. M (K), melakukan kunjungan kerja ke Seoul, Korea Selatan, dalam rangka menghadiri pertemuan Global Health Security Agenda 2015 (GHSA 2015) pada tanggal 7 – 9 September 2015. Pertemuan  tingkat Menteri GHSA dilaksanakan pada tanggal 9 September 2015 di Harmony Ballroom, Intercontinental COEX, Gangnam, Seoul, dan didahului oleh berbagai pertemuan persiapan diantaranya adalah (i) APEC-GHSA Policy Forum on Infection Control Infrastructure; (ii) Action Package Meeting; (iii) Site Visit (Korea Centers for Disease Control and Prevention). Pada akhir pertemuan GHSA 2015 mengadopsi “Seoul Declaration” yang mencantumkan GHSA Action Package Targets di berbagai aspek diantaranya (i) Immunization; (ii) National Laboratory System; (iii) Anti-microbacterial Resistance; (iv) Zoonotic Disease; (v) Biosafety and Biosecurity; Real-Time Surveillance and Reporting.

Global Health Security Agenda (GHSA) 2015 dihadiri oleh kurang lebih 70 orang delegasi yang berasal dari lebih dari 40 negara anggota. Pertemuan juga dihadiri oleh 7 orang Menteri Kesehatan (Korea Selatan, Indonesia, Amerika Serikat, Finlandia, Norwegia, Belanda dan Swedia) serta pejabat setingkat menteri dan perwakilan high level officials lainnya. Pada pertemuan juga hadir Menteri Pertahanan Korsel, Minister Han Min-Koo dan Menteri Luar Negeri Korsel, Minister Yun Byung-Se serta ketua dan perwakilan dari berbagai organisasi internasional termasuk diantaranya The World Bank (WB), Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), World Health Organization (WHO) dan World Organisation for Animal Health (OIE). Hal ini sesuai dengan tema utama pertemuan yaitu “Health Security and Multi Sectoral Cooperation”

Pertemuan GHSA tingkat Menteri dibuka oleh Menteri Public Health Korea, Minister Chung Chin Youb yang menggarisbawahi mengenai pentingnya health security serta kerja sama internasional dalam mengatasi berbagai tantangan di bidang kesehatan serta dalam penanganan infectious disease outbreaks termasuk MERS yang terjadi di Korea Selatan baru-baru ini.

Pada sambutannya, Menteri Kesehatan RI menyampaikan bahwa Indonesia sangat memahami dan mendukung kerja sama multisektoral dalam upaya membangun global health security. Pemberantasan dan penanganan infectious disease perlu memperhatikan kerja sama multisektoral di tingkat nasional dan harus juga bersifat country-led dan memiliki roadmap yang mengikutsertakan dan memaksimalkan peran seluruh pemangku kepentingan termasuk sektor swasta dan akademisi. Selain itu Indonesia juga memiliki Komisi Nasional Penanggulangan AIDS dan Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis (Zoonotic Control) yang bekerja bersama Kementerian Kesehatan pada tingkat pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Skema kerja sama ini pernah dioptimalkan pada saat upaya penanganan flu burung di Indonesia yang menekankan pada beberapa aspek diantanya: (i) early detection of zoonotic diseases; (ii) four way linking network; (iii) controlling zoonotic sources; (iv) preventing exposure and disease in humans. Menteri Kesehatan RI juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki Komite Nasional Implementasi International Health Regulations (IHR) yang dibentuk berdasarkan 2005 IHR dan memiliki anggota multisektoral dan saat ini dalam proses perombakan struktur komisi untuk meningkatkan kinerja Komnas tersebut.

Pada sesi akhir Future Directions, Menteri Kesehatan RI juga menyampaikan mengenai kesiapan Indonesia menjadi Chair pada pertemuan GHSA selanjutnya di tahun 2016. Pertemuan High Level Meeting GHSA 2015 merupakan pertemuan ke-2 setelah pertemuan pertama di Washington D.C., Amerika Serikat. GHSA sendiri memiliki 44 negara anggota dan Indonesia termasuk dalam klasifikasi contributing countries dalam pelaksanaan GHSA Action Package. Hal lainnya yang ditambahkan sebagai issue of concern pada GHSA 2015 adalah kesehatan hewan (animal health), hal ini dirasakan penting sebab beberapa “unexpected outbreaks of infectious disease” merupakan virus yang berasal dari hewan sehingga kesehatan dan wellbeing hewan, termasuk lingkungan dimana hewan tersebut hidup, menjadi penting untuk turut mempertahankan dan menjaga “health security” manusia secara global.

Pada hari yang sama, Menteri Kesehatan RI juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Kesehatan, Kesejahteraan dan Olah Raga Belanda, serta  melakukan pertemuan troika / trilateral Indonesia – Amerika Serikat dan Finlandia. Sebagai informasi, Finlandia adalah ketua pertemuan GHSA sebelumnya dan Indonesia akan menjadi ketua pertemuan GHSA selanjutnya.

CISAK ke 8, Ajang Kreatifitas Anak Muda Indonesia

cisak4

Pada 6 September 2015, Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan menyelenggarakan Conference of Indonesian Students Association in South Korea (CISAK) yang ke 8 dengan tema 'Empowering National Pride with Knowledge and Collaboration'.

Pada pembukaan acara tersebut bertindak sebagai pembicara utama Prof. Josapat Tetuko, salah satu tokoh ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia yang merupakan professor pada Chiba University, Jepang dan penemu beberapa paten salah satunya antenna mikrostrip yang digunakan untuk berkomunikasi langsung dengan satelit.

Wakil Kepala Perwakilan (Wakeppri) KBRI Seoul, Bapak Cecep Herawan juga berkenan hadir pada acara tersebut. Selain itu hadir juga Walikota Surabaya, Tri Rusmaharini sebagai salah satu pembicara.

Acara yang diikuti oleh sekitar 300 mahasiswa itu juga merupakan ajang untuk menuangkan dan mempresentasikan kreatifitas dan penemuan-penemuannya dimana bagi mahasiswa dengan penemuan terbaik akan memperoleh penghargaan.

Adapun bidang-bidang yang dipresentasikan yaitu Elektronik, Komunikasi dan Informasi, Energy, Ilmu Sosial, Kesehatan dan Obat, Tekhnologi dan Innovasi serta Makanan dan Pertanian.

Pada sambutan yang disampaikan di acara pembukaan, Bapak Wakeppri menyampaikan bahwa KBRI Seoul sangat menyambut baik acara-acara konstruktif seperti ini dan mengharapkan bahwa acara ini dapat terus berlangsung dan hasil-hasilnya dapat di sumbangkan untuk kemajuan Indonesia.

Selain itu Bapak Wakeppri juga menekankan perlunya kolaborasi dan kerjasama antara birokrat dan ilmuwan sehingga dapat saling menjembatani dan timbul suatu hubungan yang saling bersinergi dan menguntungkan guna pembangunan dan kemajuan bangsa. (KBRI Seoul)

ASEAN Ambassadors and Korean Bank CEOs Dinner Diselenggarakan oleh FSC, FSS dan KFB

FSSDinner1

Pertemuan antara Duta Besar negara-negara ASEAN dengan Chairman KFB Hon. Ha Yung-ku, Chairman FSC Hon. Shin Je-yoon, Governor FSS Hon. Zhin Woong-seob dengan para CEOs Perbankan Korea telah diselenggarakan pada 24 Agustus 2015. Pertemuan diselenggarakan oleh KFB, FSC dan FSS di Bankers Club (16th Floor of KFB building) 19, 11gil, Myung-dong, Jung-gu, Seoul.

Pada pertemuan tersebut, Duta Besar RI mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan toast remarks untuk kalangan CEOs perbankan.

Dengan adanya ASEAN Economic Community yang akan mulai berlaku di penghujung tahun ini, maka peluang usaha, investasi dan pasar pengusaha-pengusaha Korea Selatan semakin terbuka. Kawasan ASEAN akan menawarkan single market and production base, kawasan ekonomi yang kompetitif, pembangunan ekonomi yang setara, dan integrasi pada ekonomi global. Implementasi AEC akan memungkinkan pergerakan arus barang, jasa dan tenaga kerja terampil, investasi yang bebas diantara ekonomi ASEAN dan secara bertahap menghilangkan pembatasan dan hambatan investasi yang dilakukan secara suka rela. AEC akan menjadi gerbang untuk mengakses pasar yang memiliki 600 juta konsumen, 300 juta tenaga kerja. GDP Ekonomi ASEAN mencapai US$3,000 dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pertahun sebesar 5%.

Pasar keuangan regional maupun global saat ini tengah menghadapi tantangan dengan jatuhnya pasar-pasar saham di Asia dan AS. Hal ini cukup menimbulkan "anxiety" di kaangan para pelaku pasar. Kerjasama sektor keuangan ASEAN dan Korea Selatan menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya kerjasama ekonomi, bisnis dan investasi antara negara-negara ASEAN dengan Korea Selatan.

Kelas Menengah ASEAN diperkirakan akan mencapai 2/3 penduduk. Peluang kerjasama industri perbankan dan keuangan ASEAN dan Korea Selatan diperkirakan akan semakin terbuka lebar untuk mendukung dan memfasilitasi kerjasama tersebut. Duta Besar RI yakin bahwa perbankan Korea Selatan akan memanfaatkan peluang tersebut dengan baik. (KBRI Seoul)

Duta Besar RI Temui Executive Director, ASEAN-Korea Forest Cooperation Secretariat (AFoCo Secretariat)

Afoco

Pada 20 Agustus 2015 Executive Director, ASEAN-Korea Forest Cooperation Secretariat (AFoCo Secretariat) Dr. Hadi Susanto Pasaribu didampingi Mr. Lee Yeong-joo, PhD Coordinator International Team Cooperation AFoCo Secretariat telah menemui Duta Besar RI Seoul.

Pada acara tersebut Duta Besar RI didampingi oleh Minister Counsellor Politik dan Counselor Penerangan, Sosial dan Budaya. Pertemuan antara lain membahas sejumlah kerjasama bidang kehutanan antara ASEAN dengan ROK. Duta Besar RI antara lain menyampaikan observasinya mengenai pengelolaan lahan hijau di Korea Selatan yang cukup baik.

Dr. Hadi Susanto Pasaribu menyampaikan pandangan serupa mengenai keberhasilan Korea Selatan dalam pengelolaan hutan dan mengubah landscape menjadi lahan hijau.

Pada pertemuan tersebut, Executive Director AFoCo menginformasikan mengenai kemajuan pembentukan Asian Forest Cooperation Organization. Disampaikan bahwa Asian Forest Cooperation Organization telah dibahas dalam beberapa kali pertemuan oleh 15 negara (10 negara ASEAN, Timor Leste, Mongolia, Khazakhstan, Butan dan ROK) sejak Desember 2013.

Pertemuan tersebut juga membahas perjanjian hukum pendirian organisasi (legal agreement for organization) yang sudah dapat disepakati pada pertemuan tingkat teknis kehutanan di Bali pada April 2015.(KBRI Seoul)

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014