Top, Business deal USD 18 Miliar Tandai Kunjungan Jokowi di Korsel

IMG 1872

Seoul. Kesepakatan bisnis senilai USD 18 Milliar diumumkan dalam rangkaian kunjungan Presiden Jokowi di Korea Selatan, hari ini (16/5). Kepala BKPM Franky Sibarani, yang ikut mendampingi Presiden, menyatakan kesepakatan bisnis tersebut terdiri dari pernyataan komitmen investasi dari 6 perusahaan Korea Selatan senilai USD 15,8 Miliar dan 4 MoU yang ditandatangani antara perusahaan Korea Selatan dan Indonesia senilai USD 2,2 Miliar.  Kesepakatan bisnis tersebut meliputi sektor kelistrikan termasuk, energi terbarukan, industri pakan ternak, industri film, industr sepatu dan industri farmasi.

“Kesepakatan bisnis yang diumumkan hari ini menunjukkan kepercayaan investor Korea terhadap iklim investasi di Indonesia. Termasuk dengan berbagai reformasi di bidang investasi yang telah dan sedang dijalankan pemerintah hari ini,” ujar Franky.

Franky menjelaskan komitmen investasi yang telah diumumkan dan MoU yang ditandatangani cukup serius untuk direalisasikan. Menurutnya, BKPM dan KBRI di Seoul telah melakukan verifikasi bahwa investor Korea yang diumumkan hari ini serius akan merealisasikan investasinya.

“Presiden Jokowi menekankan adanya tindak lanjut untuk memastikan agar kesepakatan bisnis yang ditandatangani dapat terealisasi. BKPM dan KBRI Seoul akan mengawal kesepakatan bisnis ini dapat terealisasi,” tambah Franky.

Pengumuman dan penandatanganan MoU dihadiri oleh Menteri Perdagangan, Industri dan Energi, HE Joo Hyunghwan. Rincian kesepakatan bisnis yang diumumkan di Seoul, Korea Selatan hari ini, tanggal 16 Mei 2016 adalah sebagai berikut:

Adapun 6 Perusahaan yang mengumumkan komitmen investasi: KOGAS komitmen investasi di bidang infrastruktur gas senilai USD 10 Miliar.
Lotte Chemical komitmen investasi di sektor petrokimia USD 4 Miliar. CJ Group komitmen investasi di sektor industri pakan ternak dan perfilman senilai USD 2,1 Miliar. Daewoong Pharmaceutical komitmen investasi di sektor industri bahan baku bio farmasi senilai USD 100 Juta. Parkland komitmen investasi untuk industri sepatu dengan nilai investasi USD 83,5 Juta.
Posco industri baja tahap II untuk peningkatan produksi hingga 10 juta ton.

Sedangkan 4 MoU yang ditandatangani Perusahaan Korea Selatan dan Indonesia di bidang  investasi. KOGAS dan PDPDE Sumatera Selatan, untuk pembangunan jalur gas dari Tanjung Api-Api ke Pulau Bangka senilai USD 600 Juta. KORBI dan PT Coffindo untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dengan nilai investasi USD 100 Juta.
Komipo, Posco Engineering dan PT Sulindo Putra Timur, untuk proyek hydro power di Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi USD 230 Juta. Sedangkan Komipo, Samtan, PT Indika Multi Energi Internasional dan Marubeni, untuk perluasan ketiga pembangkit listrik di Cirebon dengan nilai investasi USD 1,27 Miliar.

Dubes RI John A Prasetio menyambut baik kesepakatan investasi tersebut yang disebutnya sebagai langkah maju. Diharapkan implementasi di lapangan nantinya juga akan cepat. "Seperti kata Presiden, kita perlu pali-pali (cepat-cepat)," ujarnya. ()

Sate Kambing dan Angklung Diminati Pengunjung Seoul Friendship Fair 2016

IMG 1808

Setiap tahunnya Pemerintah Kota Seoul mengadakan festival multi-budaya terbesar yang bertajuk Seoul Friendship Fair di sekitaran Seoul City Hall. Acara Seoul Friendship Fair tahun ini diselenggarakan pada 7-8 Mei 2016 dan dimeriahkan oleh pertunjukan kebudayaan dari 15 negara sahabat dan pertunjukkan dari berbagai kelompok kebudayaan yang ada di Republik Korea.

Selain pertunjukkan kebudayaan dari berbagai negara, para pengunjung juga dapat menikmati hidangan kuliner dari seluruh dunia di booth makanan yang berada di sepanjang Mugyo-ro. Tanpa perlu berkeliling dunia para pengunjung dapat memanjakan lidah mereka dengan berbagai hidangan lezat dari Asia, Eropa, Amerika, Afrika sampai Timur Tengah. Seperti tahun sebelumnya KBRI Seoul kembali berpartisipasi dengan menjajakan berbagai hidangan khas Indonesia seperti sate kambing, nasi goreng, pisang goreng keju dan es buah. Dengan bumbu kacang yang menjadi ciri khas sate Indonesia, sate kambing menjadi primadona pada World Food Fair kali ini. Para pengunjung rela mengantri panjang demi dapat mencicipi kuliner Indonesia yang satu ini.

Di booth World Tourism Fair pun antusiasme pengunjung terhadap kebudayaan Indonesia tidak kalah banyak. Para pengunjung takjub dan menyuarakan pujian begitu mendengar keindahan suara angklung. Pengunjung anak-anak pun berlomba-lomba untuk mencoba memainkan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut. Para pengunjung dewasa menunjukkan ketertarikan terhadap pahatan kayu, batik dan pajangan lain yang menghiasi booth Indonesia. Kelompok Tari Tradisional Indonesia (KTTI) KBRI Seoul pun tidak ketinggalan ikut mempromosikan budaya Indonesia dengan menampilkan berbagai tarian seperti Tortor, Ronggeng Blantek, Jaipong Kembang Tanjung dan Sape Kerab.

Kunjungan Kerja Wantimpres ke Republik Korea

20160427 205856 copy

Pada 27-30 April 2016, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Prof. Dr. Sri Adiningsih dan Anggota Wantimpres, Irjen Pol. (Purn) Sidarto Danusubroto beserta delegasi melakukan kunjungan kerja ke Republik Korea dalam rangka mendukung agenda Presiden RI untuk meningkatkan kinerja Pemerintah di bidang ekonomi, politik internasional dan menguatkan citra positif Indonesia di dunia internasional.

Sesampainya di Bandara Incheon, Prof. Dr. Sri Adiningsih dan Irjen Pol. (Purn) Sidarto Danusubroto langsung menuju KBRI Seoul untuk melakukan coutesy call dan makan malam bersama Duta Besar RI beserta jajaran staff KBRI Seoul di Wisma Duta KBRI Seoul. Pada acara tersebut dibahas mengenai kondisi terkini di Indonesia khususnya di bidang ekonomi, politik dan hukum serta peran strategis KBRI Seoul dalam konteks promosi perdagangan, investasi, kerja sama pembangunan dan pariwisata. Pada pertemuan juga hadir Atase Pertahanan, Atase Perdagangan, General Manager BNI Seoul, dan General Manager Garuda Indonesia di Seoul. Pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah.

Selama kunjungan kerja, Ketua dan Anggota Wantimpres melaksanakan rangkaian kegiatan. Pada 28 April Ketua Wantimpres, Prof. DR. Sri Adiningsih dengan didampingi oleh Korfung Politik KBRI Seoul, melakukan pertemuan dengan Vice Chairman National Economic Advisory Council (NEAC), Prof. Mr. Lee Young Sun. Pada pertemuan ini dibahas mengenai landasan dan dasar hukum serta kewenangan yang dimiliki serta peran NEAC sebagai lembaga penasihat presiden. Pembicaraan juga membahas kondisi ekonomi Korea dan arah kebijakan ekonomi Korea di masa mendatang. Selain itu, kedua pihak membahas hubungan bilateral Indonesia-Korea khususnya dalam peningkatan kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata.

Pada hari yang sama, Irjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto melakukan pertemuan dengan Chairperson Lembaga Anti-Corruption and Civil Rights Commission (ACRC), Mr. Yung-hoon Sung, dimana dilakukan diskusi dan pembahasan mengenai struktur kelembagaan, peraturan perundang-undangan, pertanggungjawaban dan kewenangan apa saja yang dimiliki dalam hal penyidikan dan penuntutan, serta bagaimana mekanisme kerja dan pengawasan di bidang anti korupsi di Korea. Selain itu terkait dengan lembaga ACRC sendiri, dibahas mengenai komposisi sumber daya manusia dan pola rekruitmen, output dan kinerja lembaga.

Keesokan harinya, yaitu pada 29 April, dilakukan pertemuan antara Ketua dan Anggota Wantimpres dengan President / CEO Korea Creative Content Agency (KOCCA) dan Direktur Ministry of Cullture, Sports and Tourism. Pada pertemuan ini dibahas mengenai potensi, tantangan dan strategi industri kreatif di Republik Korea, termasuk sektor dan industri yang memiliki daya saing, ketersediaan pembiayaan dan akses terhadap pembiayaan (financing), perluasan bagi produk dan karya industri kreatif serta ketersediaan infrastruktur serta dukungan ICT bagi industri kreatif. Selain itu pembahasan juga mencakup peluang kerja sama serta peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi kreatif.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Korea Trade Investment Promotion Agency and Invest Korea (KOTRA) dimana delegasi diterima dengan hangat oleh Executive Vice President KOTRA. Kedua belah pihak membahas mengenai potensi dan strategi Republik Korea dalam mendorong pertumbuhan perdagangan dan investasi, tantangan yang dihadapi serta potensi kerja sama RI dan ROK.

Kunjungan kerja Wantimpres telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan program serta mencapai tujuan kunjungan sebagaimana yang telah ditetapkan. Kunjungan dan pembahasan terkait perkembangan ekonomi, sosial dan politik di Korea diharapkan dapat menjadi benchmarking bagi Wantimpres untuk semakin mendukung agenda Presiden RI dalam meningkatkan kinerja pemerintah di bidang ekonomi, politik internasional dan menguatkan citra positif Indonesia di dunia internasional. 

Indonesia Mempromosikan Wisata Diving ke Korea

20160428 115339

Selain mempromosikan wisata umum, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia juga mencoba mempromosikan segmen wisata minat khususnya ke Korea. Wisata diving Wonderful Indonesia akan dipromosikan ke kota Seoul pada tanggal 28 April 2016 dan Gwangju pada tanggal 29 April 2016.

Dengan garis pantai sepanjang  hampir 100,000 kilometer dan puluhan ribu pulau, Indonesia memiliki banyak sekali lokasi menyelam. Bukan hanya kuantitas, kualitas lokasi penyelaman yang ada juga sangat baik. Pada survei yang dilakukan majalah Scuba Diving, Indonesia seringkali berada pada top 5 ranking lokasi penyelaman terbaik di Asia-Pasifik.

“Indonesia memiliki lokasi penyelaman yang merupakan surga bagi para penyelam. Dunia bahkan setuju bahwa Indonesia memiliki beberapa titik penyelaman terbaik di duniaseperti Raja Ampat, Komodo Island, Derawan, Togean, Wakatobi, Gili Air dan Bunaken,” ungkap Vinsensius Jemadu Asisten Deputi Bidang Pemasaran Pasar Asia Pasifik.

Wakatobi sendiri termasuk dalam top 10 destinasi Indonesia oleh Kemenpar. Terletak di jantung Coral Triangle, Wakatobi memiliki keragaman kehidupan bahari. Menyelam di Wakatobi berarti menikmati kekayaan dan keragaman warna-warni ikan-ikan dan terumbu karang. Penjelajah bawah laut legendaris, Jacques Cousteau, memuji Wakatobi sebagai “Surga Bawah Laut.”

Di dua kota tersebut, Kemenpar akan memfasilitasi business to business (B2B) meeting antara industri pariwisata Indonesia (sellers) dan industri pariwisata Korea Selatan (buyers). Konsep table top meeting dibuat untuk menciptakan transaksi bisnis yang diharapkan akan membawa dampak positif bagi wisata diving Indonesia.

Tahun ini, Kemenpar menargetkan 400,000 kunjungan wisman Korea Selatan setelah tahun lalu sukses mencapai 338,671 kunjungan yang merupakan kenaikan 3,21% dibandingkan tahun  2014. Disamping promosi yang berkelanjutan, target kunjungan wisman Korea optimis dapat diraih berdasarkan kebijakan bebas visa bagi 169 wisman termasuk wisman asal Korea Selatan. (Press Release Kemenpar)

KBRI Siapkan Sidang Banding Kasus Pembunuhan yang Libatkan 7 WNI

IMG 1179

Tanggal 10 Mei 2016 nanti, persidangan banding bagi 7 anak buah kapal (ABK) WNI di pengadilan negeri Daegu akan digelar. Sebagai bentuk dari perlindungan warga,  KBRI melakukan persiapan ketat agar sidang dapat memberikan dampak positif bagi warga Indonesia tersebut. Tidak kurang-kurang, unsur pimpinan pun ikut turun tangan secara langsung.

Deputy Chief of Mission KBRI Seoul, Minister Cecep Herawan, bersama Koordinator Fungsi Konsuler, Mincon M Aji Surya bertandang ke Kota Daegu Selasa (19/04/16). Perjalanan darat hampir 800 kilomter PP terpaksa ditempuh untuk memberikan yang terbaik bagi warganya. Maklumlah, 7 WNI dalam sidang tingkat pertama dihukum 25 tahun, 20 tahun, 15 tahun dan 10 tahun. Mereka dinilai telah berkomplot melakukan pembunuhan terhadap seorang warga Vietnam diatas kapal pencari ikan tahun lalu.

"Kita memang sedang berjuang keras menurunkan tingkat hukuman bagi terdakwa. Pertemuan dengan para pihak terkait di Daegu ini adalah sebuah upaya mencari terobosan atau celah hukum yang dapat meringankan hukuman. Para lawyers berjanji akan melakukan yang maksimal buat WNI kita yang saat ini dalam kesulitan," ujar Cecep.

Sebagaimana diketahui, sejumlah WNI di Korea Selatan tengah menghadapi hari-hari panjang di depan meja hijau. Sebagian dari mereka mengaku telah melakukan tindakan melawan hukum semata-mata karena mengalami perlakuan yang tidak manusiawi oleh salah satu pimpinan kapal yang berwarganegara Vietnam. Uniknya, salah seorang yang tidak ikut serta dalam persekongkolan, terkena hukuman 10 tahun karena pada saat kejadian berada di TKP dan tidak berusaha mencegah. (KBRI Seoul)

Pengembangan Pasar Produk Halal Republik Korea

20160407 093602

Pada tanggal 7 April 2016 diselenggarakan Indonesia Halal Certification Seminar di Gedung Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA). Seminar merupakan hasil kerja sama KOTRA dan Ini Halal Korea (IHK) serta didukung penuh oleh KBRI Seoul dan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Seoul. Seminar dibuka oleh Chairman KOTRA dan Ketua MUI, Bapak KH Ma’ruf Amin.

 Tujuan diselenggarakan seminar adalah untuk memberi sarana/media diseminasi informasi mengenai proses sertifikasi halal di Indonesia bagi perusahaan Korea serta meningkatkan awareness terkait pendaftaran, registrasi dan pengawasan obat dan makanan yang dilakukan oleh BPOM di Indonesia. Seminar diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai perusahaan Korea yang berminat untuk memasukkan produknya ke Indonesia, maupun berminat untuk memperoleh sertifikasi halal di Indonesia.

 Dalam presentasinya, Direktur LPPOM MUI, Bapak Lukmanul Hakim menyampaikan bahwa salah satu kepentingan pokok konsumen di Indonesia yang sebagian besar Muslim adalah kehalalan produk yang dikonsumsi dan digunakan. Pada tahun 2019, sertifikasi halal bersifat mandatory (wajib) dan tidak hanya bersifat voluntary (sukarela) bagi produk makanan dan kosmetika yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan bagi masyarakat Muslim Indonesia itu sendiri maupun stakeholders atau pemangku kepentingan di Indonesia. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sebagai lembaga otonomi bentukan MUI, memiliki wewenang secara legal formal untuk mengeluarkan sertifikasi halal bagi produk-produk pangan maupun kosmetika.

 Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan POM, Bapak Roy A. Sparingga, sebagai salah satu pembicara menyampaikan bahwa industri pangan di Indonesia sangat potensial dengan market terbesar di ASEAN. Hal ini sekaligus merupakan tantangan bagi Indonesia sebagai negara terbesar dan terpadat penduduknya di kawasan ASEAN. Badan POM sebagai institusi pemerintah yang berwenang melakukan pengawasan Obat dan Makanan sangat terbuka kepada semua pihak baik akademisi maupun industri untuk berdiskusi dan terlibat aktif dalam pengembangan investasi industri pangan dan farmasi di tanah air.

Sebagai informasi, jumlah penduduk muslim di Korea pada tahun 2015 adalah sebesar 13 persen dari total populasi dan diperkirakan akan meningkat menjadi 26 persen pada tahun 2030 (Data Korea Muslim Federation, Desember 2015). Pasar produk halal juga ditujukan bagi warga negara asing beragama muslim di Korea Selatan yang berasal dari Pakistan, Indonesia, Bangladesh, Malaysia, Iran dan India. Semakin meningkatnya pangsa pasar produk halal di Korea serta potensi pasar produk halal di dunia membuat banyak produsen asal Korea mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikasi halal.

Indonesia dianggap sebagai pasar yang sangat potensial bagi produk-produk halal. Berdasarkan data Korea Agro-Fisheries and Food Trade Corporation, pasar produk halal di Indonesia mencapat 78,5 juta US dollar dan saat ini terdapat 13,000 tipe produk halal yang diimpor oleh Indonesia. Oleh sebab itu, semakin banyak perusahaan korea yang berminat untuk mendapatkan sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Perusahaan tersebut umumnya bergerak di sektor agro-fishery food, bahan dasar obat-obatan herbal serta produsen kosmetik.

Kunjungan Kerja Kepala BPOM Dan Ketua MUI Ke Republik Korea

20160408 121023

Pada tanggal 6 sampai dengan 9 April 2016, Kepala BPOM, Ketua MUI dan Direktur LPPOM MUI beserta delegasi melakukan kunjungan kerja ke Republik Korea dalam rangka menjadi pembicara pada acara seminar terkait sertifikasi makanan halal dan serangkaian pertemuan dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta serta universitas di Korea. Delegasi lain yang ikut dalam hadir dalam kegiatan kunjungan dimaksud adalah beberapa Anggota Komisi II, VI, VII, dan VIII DPR RI.

Pada kunjungan kerja tersebut, Kepala BPOM, Ketua MUI dan delri melakukan kegiatan sebagai berikut menjadi pembicara dan menyampaikan keynote speech pada acara Afternoon Discussion and Business Gathering yang diselenggarakan KBRI Seoul dan pembicara pada acara Indonesia Halal Certification Seminar yang diselenggarakan Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA) bekerjasama dengan Ini Halal Korea (IHK); Pertemuan dengan Menteri Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), Wakil Menteri Ministry Food, Agriculture and Rural Affairs (MAFRA), Gubernur Provinsi Chungchenobukdo, Korea Tourism Organization (KTO); Site visit R&D facility perusahaan farmasi Korea di Osong City; dan memberikan kuliah umum di Universitas Seowon di Kota Chungju.

Pada hari Rabu tanggal 6 April 2016 bertempat di Wisma Duta, KBRI Seoul menyelenggarakan acara Afternoon Discussion and Business Gathering sebagai bagian rangkaian kunjungan kerja BPOM, MUI dan LPPOM MUI ke Republik Korea. Acara tersebut dihadiri dan disambut antusias oleh 22 peserta pimpinan dari 15 perusahaan farmasi Korea yang telah berinvestasi ataupun berminat untuk mengembangkan investasinya di Indonesia.

Pada acara tersebut, Kepala BPOM menyampaikan keynote speech terkait kebijakan Pemri dan peluang investasi di bidang obat-obatan dan makanan di Indonesia. Kepala BPOM juga menyampaikan bahwa sejalan dengan paket ekonomi yang diluncurkan pemerintah, iklim investasi di sektor obat dan makan semakin memudahkan investor asing untuk investasi di Indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan networking session antara delri dan pengusaha farmasi Korea. Acara Business Gathering ditutup dengan penyampaian thankyou note oleh Ketua MUI.

Setelah pelaksanaan seminar, Kepala Badan POM beserta seluruh delegasi melakukan pertemuan dengan Deputy Minister Lee Junwon dari Kementerian Agrikultur, Makanan dan Pengembangan Daerah Pedesaan Republik Korea (Ministry of Agriculture, Food and Rural Affairs – MAFRA) pada tanggal 7 April 2016. Pertemuan membahas peningkatan kerjasama RI-ROK di bidang agrikultur dan pangan serta peluang kerja sama di Halal Food Industry. Pihak Korea menyampaikan mengenai rencana penyelenggaran pameran Korea Food Fair pada bulan Oktober 2016 mendatang dan mendorong partisipasi Indonesia serta membahas pengembangan kerja sama di bidang Halal food industry serta kerja sama di bidang agrikultur.

Kepala Badan POM pada tanggal 8 April 2016 melakukan pertemuan dengan Menteri Sohn Mun-ngi, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) Republik Korea. Pada pertemuan, Kepala Badan POM didampingi oleh Deputi Bidang Pengawasan Kemanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Kepala Subdit Sertifikasi Pangan, Staf Biro Kerja Sama Luar Negeri, Staf Biro Inspeksi Terapetik, Atase Perdagangan dan Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Seoul. Sedangkan Delegasi ROK selain Menteri MFDS adalah Director General Jiyoung Yan, Director Choi Soon Gon (Livestock Products), Director Heon-woo Hong (Food Policy), Director Kwon Oh Sang (Biopharmaceuticals and Herbal Medicine), Deputy Director Ha Mi-Sook (Export Promotion), Assistant Director Yousoon You (International Cooperation), dan Mr. Muhammad Dongsoo Kim (Chairman Korea Muslim Federation Halal Committee).

Pertemuan menyepakati bahwa kerja sama di bidang pangan, obat dan biological akan dilanjutkan dan dikembangkan lebih lanjut. Untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi antara MFDS dan BPOM, kedua pihak sepakat untuk menunjuk point of contact. Pertemuan juga menyepakati untuk melanjutkan MoU antara MFDS dan BPOM terkait “The Safety and Quality of Processed Food, Medicinal Products, Traditional Medicines, Cosmetics and Food Supplement”, yang ditandatangani pada tahun 2012 dan berakhir pada tahun 2016.

Beberapa kerja sama nyata sebagai hasil dari pertemuan adalah kesepakatan pengembangan Capacity building programs di bidang biological product, blood product dan biosimilar product sebagai sektor baru yang berkembang di Indonesia dan pihak MFDS usulan penyelenggaraan pameran “World Beauty Forum” di Indonesia pada tahun 2017 yang ditanggapi positif oleh BPOM.

"Aroma Surga" Merebak Hingga Korea Selatan

FullSizeRender

Film dokumenter kopi Indonesia besutan Budfilm dan Produksi Film Negara (PFN) seminggu ini muncul di negeri ginseng. Masyarakat Korea bisa menonton sambil menyeruput kopi Indonesia di salah satu cafe di Busan atau pada tayangan bioskop di Seoul.

Pemutaran film ramai dihadiri berbagai kalangan seperti pemilik kafe, mahasiswa dan pecinta kopi yang mendapat informasi dari sosial media site (SNS), Facebook dan Youtube. Mereka terlihat antusias.

Di Seoul, film Aroma of Heaven ditayangkan di bioskop dan dibuka oleh Deputy Chief of Mission KBRI Seoul, Cecep Herawan.  "Film ini tidak hanya memperlihatkan kopi sebagai salah satu komoditas penting Indonesia, tetapi juga merepresentasikan keberagaman budaya dan tradisi bangsa Indonesia yg berakar pada kopi," tegas Cecep pada sambutan pembuka sebelum tayangan film.

Hadirnya film "Aroma of Heaven" yang tandem dengan Sutradara Budi Kurniawan ke Korea Selatan merupakan rangkaian pre event dari kegiatan utama Pameran kopi Coffee Expo Seoul 2016 yang di prakarsai oleh KBRI Seoul bersama Indonesia Trade Promotion Center (ITPC Busan). Pameran yang dihelat 14 sampai 17 April 2016 di COEX Seoul Hall A-400 itu akan diisi oleh 7 perusahaan Kopi Indonesia yang mewakili 7 sentra kopi di Nusantara.

"Film ini memberikan gambaran betapa Indonesia memiliki beragam kopi dibandingkan negara lain. Setelah melihat keindahan Indonesia melalui film ini membuat saya berpikir untuk mengunjungi Indonesia," ujar Joo Gui-nam, salah satu pecinta kopi dan pemilik sertifikat Barista dari kota Busan.

Menurut Indra Wijayanto, Kepala ITPC Busan, Korea Selatan merupakan pasar kopi dengan tingkat konsumsi 2,1 kg/kapita. Kenyataan itulah yang menjadikan Korea Selatan dibidik oleh KBRI sebagai pasar potensial kopi bagi Indonesia dalam rangka meningkatkan devisa dari ekspor non migas. "Peluang ini harus ditangkap oleh pelaku usaha kopi ditanah air untuk melakukan ekspansi di negeri ginseng," ujarnya.

Total impor kopi Korea dari seluruh dunia tahun 2015 senilai $ 547,1 juta, terjadi peningkatan sebesar 4% terhadap impor tahun 2014. Ini menunjukan bahwa dalam kondisi ekonomi yg kurang baguspun permintaan kopi di Korea tetap tumbuh positif.

"Dengan rangkaian kegiatan promosi, yaitu melalui pemutaran film kopi dan berpartisipasi pada pameran, diharapkan Indonesia sebagai negara dengan penghasil kopi terbaik dan terbesar ke 4 di dunia, semakin disadari oleh pelaku usaha dan konsumen kopi di korea, sehingga akhirnya dapat meningkatkan pangsa kehadiran  produk kopi indonesia di pasar Korea yang saat ini masih sekitar 2%," ujar Atase Perdagangan KBRI Seoul, Aksamil Khair. ()

Komisi Pemilihan Umum Perkuat Kerjasama Dengan NEC dan A-Web Republik Korea

IMG 1028

 

Sebagai upaya terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum yang jujur, adil, transparan dan akuntabel dan memperkuat kerjasama internasional guna mendukung perkembangan demokrasi di kawasan, pada Senin, 11 April 2016, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni Kamil Manik telah menandatangani MOU kerjasama dengan National Election Commission (NEC) Republik Korea dan Association of World Election Bodies (A-Web).

 

MOU ini dimaksudkan sebagai landasan kerja sama dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dan pertukaran pengetahuan dalam pemilihan umum, pertukaran pengalaman, informasi, komunikasi dan teknologi yang berkaitan dengan proses pemilihan umum. Penandatangan MOU ini juga diharapkan dapat memperkuat hubungan persahabatan dan kerjasama bilateral antara kedua belah pihak.

 

Mr. Kim Yong-hi, Sekretaris Jenderal NEC dan A-Web, menyampaikan harapan untuk memperkuat kerjasama antara NEC, A-WEB dan KPU guna lebih meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum yang lebih transparan. Pada kesempatan tersebut juga dipresentasikan teknologi pelaksanaan pendataan dan pemungutan suara melalui Multi-functional Voter Identification System (MVIS). Mesin tersebut dapat menyimpan data pemilih melalui sidik jari untuk mencegah pemilihan berulang. Alat tersebut dapat langsung mencetak kartu pemilih dan hasil perhitungan dengan kolom tanda tangan pengawas pemilu setempat sebagai tanda persetujuan hasil pemilu. Alat tersebut juga dilengkapi dengan transmiter dan modem 2G/3G yang memungkinkan pengguna untuk mengirimkan data ke pusat.

 

Ketua KPU, Husni Kamil Manik, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas undangan NEC dan A-Web sehingga KPU dapat berpartisipasi dalam Election Visit Program Republik Korea seraya berharap pemilu legislatif Republik Korea yang akan berlangsung pada 13 April 2016 dapat berjalan sukses, lancar, damai dan dapat membawa masa depan rakyat Republik Korea ke arah yang lebih baik.

Bereskan Sumbatan Investasi, Triawan Munaf Kunjungi Korea

 

IMG 0864

Special Envoy RI untuk Korea (Selatan) Triawan Munaf muncul di kota kecil sekitar 350 Km dari pusat kota Seoul (4/4/16). Rupanya pejabat Indonesia itu sedang lakukan kunjungan ke pabrik baja Korea, POSCO yang berlokasi di Gwangyang.

Triawan Munaf sangat terkesan dengan suasana pabrik yang bersih dan sangat efisien dengan sistem komputerisasi yang terintegrasi. "Bersih dan efisien" gumam Triawan saat melakukan kunjungan ke pabrik.

Selain melakukan tinjauan langsung ke pabrik baja POSCO, Triawan yang didampingi Duta Besar John A. Prasetio juga telah bertemu dengan pimpinan Lotte Chemical di Wisma Duta, dan CEO POSCO pada Selasa (5/4).

POSCO memang berencana untuk menambah investasinya di Indonesia senilai US$ 3.1 milyar melalui pembangunan tahap II pabrik baja bekerja sama dengan Krakatu Steel di Cilegon. Adapun Lotte Chemical, salah satu anak perusaha Lotte Group, berminat investasi senilai sekitar US$ 4 milyar di sektor Industri Petrokimia berbasis Olefin. Rencana investasi kedua perusahaan tersebut belum dapat dimulai karena masih terdapatnya beberapa kendala.

Pada kunjungan ini, Triawan menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi dan mengurai kendala yang dihadapi guna memperlancar arus investasi Korea ke Indonesia. Hasil lain dari kunjungan antara lain terlihat dari antusias Lotte Cinema yang berminat untuk melakukan investasi sejalan dengan regulasi baru Pemerintah RI yang membuka dan memperbesar porsi investasi asing di bidang industri hiburan

POSCO  adalah pabrik baja terpadu terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi sekitar 20 juta ton per tahun dan beroperasi 24 jam. Pabrik POSCO Gwangyang dibangun mulai tahun 1981 hingga terakhir tahap 5 selesai tahun1999 dengan total area lebih dari 1500 hektare.

Total 13 pulau kecil disekitar teluk Gwangyang menjadikan POSCO sebagai salah satu kompleks pabrik baja terbesar dunia yang sangat memperhatikan kelestarian lingkungan.

DCM KBRI Seoul Cecep Herawan yang mendampingi kunjungan Triawan Munaf sangat terkesan dengan suasana kompleks POSCO, dimana area hunian dan fasilitas pendukung pegawai sangat tertata apik. "Tidak terasa kita berada dilingkungan pabrik, karena suasananya asri dan hijau" terang Cecep.

Suasana musim semi dengan bunga sakura yang sedang berkembang menjadikan lingkungan hunian POCSO semakin indah dilihat. Sekitar 7000 pegawai POSCO beserta keluarga, bekerja dan tinggal di kompleks yang didukung berbagai sarana dan prasarana seperti sekolah (SD-SMA), fasilitas olahraga, kesehatan, perbelanjaan dan sebagainya.

Pada kunjungan ke Seoul kali ini, Triawan juga melakukan pertemuan dengan pimpinan instansi dan perusahaan di bidang industri kreatif seperti Korea Film Council, The Creative Center for Convergence Culture, Lotte Cinema, dan Digital Media City (DMC).()

Special Event Harry Darsono di Seoul Institute of the Arts

IMG-20160329-WA0006

Perancang busana kenamaan asal Indonesia, Dr. Harry Darsono hadir dalam acara khusus yang dibuat sebagai penghormatan atas prestasi beliau yang diselenggarakan oleh Seoul Institute of The Arts di kota Ansan pada hari Selasa tanggal 29 Maret 2016.

Salah satu kegiatan yang dilakukan beliau selama di Republik Korea adalah memberikan kuliah umum di hadapan dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa institut tersebut. Antusiasme para dosen dan mahasiswa terlihat ketika ruangan auditorium tempat kuliah umum berlangsung diisi penuh dan bahkan sampai ada yang berdiri demi melihat presentasi yang dibawakan oleh Dr. Harry Darsono.

Beliau memulai kuliah tersebut dengan menceritakan masa kecilnya dimana beliau mengalami kesulitan dalam belajar. Dr. Harry Darsono yang mengenyam sebagian besar pendidikannya di Perancis dan Inggris tersebut menceritakan bahwa ketika berumur 9 tahun dikeluarkan dari 10 sekolah yang berbeda karena dianggap sebagai anak nakal yang tidak bisa diam dan tidak bisa belajar dengan baik. Dengan belum berkembangnya belum berkembangnya ilmu psikologi pada saat itu, para guru beliau tidak mengerti bahwa beliau sebenarnya mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD.

Sampai akhirnya paman beliau yang seorang psikiatris mengajak beliau pergi ke Paris untuk melanjutkan pendidikan sekaligus menjalankan terapi. Dengan berat hati orang tua Dr. Harry Darsono akhirnya mengijinkan beliau untuk pergi.

Ternyata petualangan beliau ke Paris justru menjadi titik balik hidup beliau dimana beliau menemukan bakat seni yang luar biasa. Sesampainya di Paris, terapi pertama yang dijalankan beliau adalah terapi dengan alat musik dimana beliau diharuskan belajar alat musik klasik seperti piano, harpa, cello dan alat musik lainnya. Kecintaan beliau pada alat musik terutama piano sampai saat ini dijalaninya. Saat ini beliau menjadi seorang kolektor piano-piano langka sekaligus seorang perancang piano mewah yang diakui oleh para pecinta alat musik tersebut.

Walaupun terapi alat musik berjalan dengan baik, terapi lanjutan beliau yang membuat beliau jatuh cinta pada dunia fesyen. Beliau terpana ketika pertama kali diberika mesin pemintal benang dan semenjak itu beliau mulai menciptakan berbagai macam rancangan busana haute couture yang diakui dunia.

Rancangan busana beliau telah digunakan oleh orang-orang ternama selama beliau bekerja di fashion designer di Paris selama tahun 70an sampai 80an. Klien beliau termasuk Putri Diana, Ratu Sirikit dari Thailand dan berbagai orang ternama lainnya.

Selain musik dan fesyen, beliau juga membuat rancangan furnitur seperti meja, kaca, alat makan perak dan lain sebagainya. Beliau juga mempunyai bakat seni dalam melukis dan wood carving dimana beliau mendesain sendiri sebuah rumah di Jakarta yang sekarang digunakan sebagai museum. Semua karya seni beliau dikerjakan dengan tangan sendiri atau hand made. Beliau menceritakan bahwa sebagian karya seni beliau dikerjakan pada malam hari karena siang hari beliau harus sekolah dan bekerja namun beliau senang karena semua karya seni yang beliau hasilkan adalah terapi bagi dirinya.

Bakat Dr. Harry Darsono tidak hanya sampai disitu, beliau juga mempunyai bakat sebagai anak indigo. Hal ini ditunjukan ketika dalam kuliah umum tersebut beliau memperagakan bermain piano sambil menggunakan penutup mata. Para peserta yang hadir terlihat terpukau dengan bakat indigo beliau.

Saat ini beliau aktif dalam kegiatan sosial diantaranya mendirikan Harry Darsono Foundation untuk membantu anak-anak yang memiliki permasalahan yang sama dengan beliau yaitu anak-anak dengan ADHD. Beliau juga merupakan aktivis dan pemerhati lingkungan. Beliau juga banyak menjual hasil karya seni beliau di auction house demi menggalang dana bagi anak-anak yang kurang beruntung. Dr. Harry Darsono mengakhiri kuliah beliau dengan menunjukan busana-busana haute couture hasil rancangan beliau.

Indonesia Bidik Wisatawan Golf Korea

IMG 3620 copy

Publik Korea Selatan dikenalkan dengan besarnya potensi wisata golf di Indonesia. Pada 21 – 23 Maret, Kementerian Pariwisata beserta operator golf Indonesia menyambangi Seoul dan Busan.

Di Negeri Ginseng, sejumlah operator golf lokal diundang dalam pertemuan bisnis berupa tabletop meeting. Dari sana diharapkan akan terjadi transaksi bisnis yang bisa meningkatkan kunjungan masyarakat Korea ke Indonesia untuk bermain golf. Pakar golf turut diajak untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas tentang potensi golf Indonesia.

Dalam acara Sales Mission Golf Korea 2016 yang diadakan di Four Seasons Hotel Seoul dan dihadiri kalangan media dan tour operator, Duta Besar Indonesia untuk Republik Korea, John A. Prasetio, mengatakan pengalaman bermain golf di Indonesia akan sangat mengesankan.

"Seeing is believing,” ucap Duta Besar John A. Prasetio yang juga merupakan pecinta golf sejati dan telah merasakan bermain golf di beberapa lapangan golf di Korea dan negara-negara lain.

Lapangan golf Indonesia memiliki keunggulan dalam beberapa hal, salah satunya keindahan pemandangan alam di sekitarnya. Mulai dari laut, gunung berapi, hingga hutan hujan tropis. Di samping itu caddy Indonesia pun terampil. Belum lagi lapangannya bisa dipakai sepanjang tahun karena faktor iklim.

Faktor penarik lainnya adalah harga paket bermain golf di Indonesia yang lebih murah daripada di Korea. Direktur Pemasaran PT Visi Prima Golf Merry Kwan mengatakan, paket bermain golf lima hari empat malam di Indonesia hanya sekitar US$550. Itu pun sudah termasuk akomodasi, transportasi, green fee, caddy fee, dan fasilitas lainnya.

Sementara itu Kementerian Pariwisata yang diwakili Jordi Paliama mengatakan, sebelum kegiatan di Seoul dan Busan ini, kegiatan serupa sudah lebih dulu digelar di Tiongkok dan Jepang. Peluang Indonesia menarik pegolf ketiga negara ini terbuka sebab biaya bermain golf di Korea dan Jepang mahal. Korea juga menjadi target pasar kunci bagi Indonesia, karena berdasarkan riset diperkirakan sekitar 3,5 juta orang Korea berwisata golf ke luar negeri dengan tingkat pengeluaran antara USD 3.000 – 5.000 setiap perjalanannya per orang.

Tercatat sebanyak 4.19 % alasan berkunjung wisman Korea adalah untuk olahraga termasuk di dalamnya wisata golf. Perlu diketahui golf merupakan 1 dari 7 wisata minat khusus yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata.

Tahun ini Indonesia menargetkan 400.000 kunjungan wisatawan dari Korea. Secara keseluruhan, target kunjungan wisman tahun ini adalah 12 juta. Tahun lalu Indonesia berhasil menarik 10,4 juta kunjungan wisman.

Kegiatan Sales Missionini diadakan dalam rangkaian partisipasi Indonesia dalam Golf Expo Korea 2016 yang diadakan dari tanggal 24-27 Maret 2016 di Seoul.(KBRI Seoul)

KBRI Seoul Angkat Jempol Untuk POLRI

6 WNI Dipulangkan

Terkait penangkapan pelaku perdagangan manusia, KBRI berikan apresiasi kepada Polri. Diingatkan, masih banyak lagi pekerjaan yang harus dikerjasamakan agar kasus serupa tidak terjadi lagi.

"Angkat jempol untuk Bareskrim Polri atas reaksi yang cepat dalam menangkap pelaku perdagangan manusia ke Korea Selatan. Terima kasih juga kepada Kemlu, BNP2TKI dan Kemsos atas koordinasinya. Bukti nyata mekanisme koordinasi berjalan dengan baik. Jangan sampai ada lagi yang dengan sengaja menjerumuskan sesama WNI di luar negeri," ujar Cecep Herawan, KUAI dan Wakil Dubes RI di Korea Selatan.

Perdagangan manusia ke Jeju baru-baru ini telah ditangani langsung oleh KBRI Seoul. Korban gelombang pertama sebanyak 26 orang dan gelombang berikutnya 6 orang. Semuanya telah dipulangkan untuk kemudian diproses secara hukum. Koordinasi dengan dengan pihak-pihak di Indonsia dan Korea terus digencarkan. Bahkan pelakunya sekarang sudah ditahan Bareskrim.

Namun demikian, iming-iming kerja di Korea secara abal-abal masih terus bergaung. KBRI tiap hari masih menerima pengaduan tentang rencana pengiriman tenaga kerja yang bisa dikategorikan fiktif ke Korea. Ada yang menawarkan di bidang perkapalan dan kinatruksi, tidak sedikit juga yang berkedok pendidikan. Kepada para korban akan dimintai uang kisaran Rp 50 juta hingga Rp 100 juta.

"KBRI tidak pernah mundur untuk meningkatkan perlindungan WNI. Karenanya, koordinasi kepada instansi terkait terus dilakukan. Kita tidak ingin melihat warga kita sengsara di Korea," imbuh Cecep dengan geram. (KBRI Seoul)

Dubes John Berharap Tidak Ada Yang Jadi Korban Lagi

6 WNI Dipulangkan

Keenam WNI yang tertipu iming-iming bekerja di Jeju Korsel, siang ini (24/02/16) dipulangkan ke Indonesia. Dubes John A Prasetio berharap tidak ada lagi WNI yang jadi korban makelar kerja abal-abal.

Sejak Desember tahun lalu, keenam WNI tersebut diam-diam masuk Pulau Jeju Korsel untuk tujuan kerja. Kedatangannya diprakarsai makelar abal-abal di kedua belah pihak setelah menyetor uang puluhan juta. Boro-boro dapat pekerjaan tetap dengan gaji berjibun, keenamnya pindah kerja dari satu pekerjaan kasar ke pekerjaan lainnya dengan upah minim. Bahkan akhirnya terlantar tanpa kerja dan nyaris kelaparan.

Masih untung, ketika keadaan memburuk mereka bertemu WNI pekerja legal. Mereka ditampung dan diberikan logistik secukupnya. Setelah berkolaborasi dengan KBRI Seoul nasib mereka lebih jelas. Makanan dan minuman lebih terjamin.

Akhirul kalam, keenamnya kemudian mengirim surat ke KBRI untuk minta dipulangkan. Mereka sudah tidak tahan dengan menggelandang kerja tanpa visa yang jelas dan kemungkinan ditangkap yang berwenang. Bahkan, cuaca musim semi yang kadang masih dibawah nol derajat Celcius dirasakan sangat menyiksa.

Setelah melakukan koordinasi dengan Imigrasi Jeju, KBRI mendapatkan kepastian bahwa mereka bisa dipulangkan tanpa harus melewati proses hukum yang pelik. Secepat kilat, dicarikan tiket yang dapat membawa mereka ke kampung halaman.

"Saya bersyukur sekali akhirnya bisa akan pulang dan bertemu keluarga. Terima kasih teman-teman Indonesia dan KBRI Seoul," ujar salah satu korban berulang-ulang.

Diperkirakan keenam korban perdagangan manusia ini akan tiba di Jakarta malam ini dan akan dijemput oleh pihak yang berwenang. Mereka Ini menyusul 26 WNI yang lain yang telah dipulangkan seminggu sebelumnya.

Dubes RI John Prasetio merasa lega atas pulangnya keenam WNI tersebut. Ia berpesan kepada WNI di tanah air untuk meneliti sebelum "membeli". Karena saat ini banyak beredar isu mudahnya dapat bekerja dengan berbagai modus, termasuk melalui pendidikan maupun sistem magang.

"Kalau mau bekerja lewatlah jalur yang tepat, yakni BNP2TKI sehingga menggunakan visa yang benar. Jangan mudah tergiur rayuan broker apalagi harus bayar puluhan hingga ratusan juta," ujarnya dengan mimik yang sangat serius.

Saat Ini terdapat sekitar 35 ribu WNI sedang bekerja di Korea Selatan dengan penghasilan yang cukup baik. Kerja yang paling aman adalah melalui skema G to G, yang ditangani langsung oleh BNP2TKI.

 

Sukses Berbisnis, 50 TKI di Korea Diganjar Enterpreneur Award

IMG 0324

Sejumlah pekerja Indonesia menerima penghargaan. Mereka, sambil bekerja di Korea membangun bisnis di Indonesia. Luar biasa.

Taman Wongokdong di Ansan, 35 km dr Seoul, Minggu (21/2/2016) siang, berubah suasana. Tidak ada lagi nuansa Korea. Yang ada hanyalah suara gamelan, jaranan, reog dan dangdutan. Seribuan pekerja tumpah di bawah guyuran sinar matahari dengan cuaca 4 derajat Celcius.

Di puncak acara, Ketua Indonesia Community Centre (ICC), Diko, bersama Atase Tenaga Kerja KBRI, Utha, membagikan penghargaan bagi 50 pekerja di Korea yang telah memulai usaha di Indonesia dan relatif sukses. Mereka inilah yang diharapkan menularkan ilmunya kepada teman-temannya sesama pekerja.

"Kita semua disini adalah pekerja, buruh. Tapi kalau pulang nanti tidak boleh lagi jadi buruh. Kita harus jadi majikan. Penerima penghargaan dari KBRI dari ICC ini dapat jadi contoh. Hari ini mungkin hanya 50 orang, tapi tahun depan harus jadi 500. Bangkitlah pekerja Indonesia di Korsel," ujar Diko bersemangat.

Ke-50 TKI tersebut memiliki usaha yang beraneka macam. Mulai dari laundry, pembiakan ayam potong, transportasi hingga pembuatan batako. Mereka selama di Korsel menabung untuk kemudian ditanam dalam bentuk usaha kecil dan menengah. Itu semua memungkinkan karena mereka bisa menyisihkan gaji mereka per bulan kisaran Rp 15 juta.

Dalam kegiatan yang dinamakan Indonesian Entrepreneur Expo (INDEX) tersebut, mereka membuka stan untuk menularkan ilmunya kepada pekerja lainnya. Perhelatan penting yang digeber dalam sepekan ini merupakan sebuah gagasan yang ditelurkan ICC dengan dukungan KBRI dan LSM PKPU.

Dalam pesan singkatnya, Koordinator Fungsi Perlindungan WNI KBRI Seoul Aji Surya mengatakan bahwa ide menularkan ilmu wirausaha adalah sesuatu yang brilian. Namun akan lebih cemerlang lagi kalau transfer of knowledge itu sukses dan menelorkan banyak pengusaha baru. "Uang dititipkan bisa berkurang, tapi ilmu yang dibagi akan bertambah dan berguna dunia akhirat," ujar Aji Surya.

Saat ini terdapat 40 ribuan WNI di Korea Selatan, 35 ribu di antaranya adalah kaum pekerja dengan gaji yang menjanjikan. Jumlah pekerja semi skill Indonesia berada di nomor tiga setelah Vietnam dan Kamboja.

DUH, ENAM WNI "MENJERIT" LAGI DI JEJU

6 WNI di Jeju

Seoul. Setelah beberapa hari lalu 26 WNI yang tertipu lowongan kerja di Jeju dipulangkan ke Indonesia, kini 6 WNI lagi mengaku terpedaya calo-calo nakal. Bahkan mereka mengaku sempat kurang makan. Waduh.

Atas kerjasama dengan Kemlu, BNP2TKI, Polri, Kemsos dan lembaga lain, sebanyak 26 WNI dipulangkan dari Jeju menuju Jakarta via bandara Seoul, Incheon (17/02/16). Saking gembiranya, Dubes John A Prasetio buru-buru mengirimkan surat terima kasih terima kasih kepada pihak-pihak terkait atas penanganan yang super cepat. Namun, kini telah muncul lagi 6 korban lain yang merasa tertipu dan mengirimkan SOS.

Menurut Abdul Aziz dari kelompok WNI di Jeju yang menamakan dirinya Paguyuban Pyoseon Bersatu, keenam WNI itu mengaku datang pada bulan Desember tahun lalu. Mereka kerja serabutan dan bahkan sering menganggur. Akibatnya mereka frustasi dan ingin pulang ke tanah air. Sayangnya, bekal mereka sudah habis dan tiket pulang sudah kadaluwarsa.

Kelompok paguyuban Pyoseon Bersatu akhirnya turun tangan. Mereka untuk sementara memberikan tempat berteduh dan logistik yang diperlukan. Maklum, Jeju sangat jauh dari KBRI Seoul. Kini keenamnya tinggal di Musholla paguyuban.

Salah satu korban menyebutkan bahwa mereka telah tertipu oleh maklar-maklar kerja abal-abal. Dijanjikan akan diseberangkan ke pulau utama Korea untuk bekerja setelah tiba di Jeju, namun semua pepesan kosong belaka. Keenamnya berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa bayaran yang jelas.

"Kita menyerah kepada KBRI Seoul dan meminta bantuan untuk segera dipulangkan. Kita semua mengalami kesulitan karena tertipu oleh agen-agen yang memberangkatkan kami," ujarnya.

Mengetahui nasib WNI yang sedang kesulitan, KBRI segera mengambil langkah seribu. Perwakilan RI itu mengontak pihak-pihak terkait di Jakarta untuk koordinasi lebih lanjut, termasuk mencokok para oknum broker yang tega menjerumuskan temannya sendiri. Bahkan KBRI juga menjamin logistik bagi keenamnya melalui kelompok paguyuban.

"Kita mengucapkan terima kasih kepada Kelompok Ajoy dan Paguyuban Pyoseon yang telah memberikan emergency response kepada WNI kita yang terlantar. Kita apresiasi sekali. Ini bukti nyata bahwa kerjasama maha penting. Kepada korban mohon sedikit bersabar, kita sedang urus semuanya. Sementara bagi warga di tanah air,  jangan jangan ada yang tertipu lagi," ujar Wakil Dubes RI di Seoul, Cecep Herawan.

Keenam WNI itu berasal dari Jawa Timur, NTT dan Lombok. Mereka akan menyerahkan diri ke Imigrasi setempat setelah mendapatkan tiket kepulangan. Untuk sementara, KBRI bekerjasama dengan paguyuban untuk memenuhi logistik mereka.

Mahasiswi RI di Korea Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif

Mahasiswa Indonesia Berprestasi

Mahasiswa Indonesia berkibar dimana-mana, termasuk di Korea. Salah satunya menemukan obat gigi yg cespleng. Dubes RI di Seoul pun tidak segan menyangjungnya.

Pernah merasakan gigi ngilu saat menikmati minuman yang panas atau dingin? Bila rasa nyeri itu sering terjadi, mungkin Anda termasuk orang yang memiliki gigi sensitif atau dentine hypersensitivity. Gigi sensitif terjadi akibat pengikisan lapisan luar gigi atau enamel. Akibatnya, dentin yang berada di lapisan dalamnya akan terekspos ke cairan liur atau saliva dalam mulut. Dentin memiliki banyak pori-pori yang terhubung dengan saraf, sehingga pergerakan saliva atau rangsangan panas/dingin tersebut akan menuju langsung ke saraf sehingga gigi Anda akan terasa nyeri dan ngilu.

Untuk mengatasi rasa ngilu tersebut, maka diperlukan remineralisasi atau menumbuhkan kembali mineral yang hilang untuk menutup pori-pori dentin yang terekspos. Saat ini banyak produk komersial yang dikonsumsi untuk mengatasi rasa ngilu pada gigi sensitif seperti diantaranya berbahan dasar oxalate, hydroxyethyl methacrylate hydroxyapatite, dan glutaraldehyde. Sayangnya, dari kebanyakan produk komersial tersebut mempunyai kandungan bahan aktif yang berkonsentrasi tinggi. Bahkan, beberapa diantaranya berbahaya bagi tubuh bila dipakai berlebihan.

Adalah Ekavianty Prajatelistia, salah seorang mahasiswa S3 asal Indonesia yang tergabung dalam Laboratory for Biomimetic and Environmental Materials (LBEM), Pohang University of Science and Engineering (POSTECH), Korea Selatan, berhasil memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami. Adapun bahan alami yang digunakan berasal dari tunicate, salah satu hewan laut dan merupakan makanan yang lazim dimakan di restoran-restoran seafood di Korea.

"Capaian Ekavianty ini termasuk hal yang langka dan sekaligus membanggakan. Saya harap, mahasiswa Indonesia bisa berprestasi dan aktif melakukan penelitian. Selamat buat Ekavianty. Lanjutkan," ujar Dubes John A Prasetio serius.

Tunicate ini sangat unik karena memiliki kemampuan menyembuhkan luka di tubuhnya sendiri. Inilah yang menginspirasi Eka melakukan penelitian tentang bagaimana tunicate menyembuhkan dirinya sendiri untuk kemudian diaplikasikan ke gigi manusia agar dapat menumbuhkan mineral yang hilang pada gigi secara alami.

TOPA atau 3,4,5-trihydroxyphenylalanine yang terkandung dalam tunicate akan membentuk kompleks dengan metal ion dan menjadi lapisan pada gigi sekaligus menutup pori. Selanjutnya kalsium pada saliva akan ditangkap oleh kompleks tersebut dan membentuk hydroxyapatite sebagai mineral pembentuk gigi dan tulang.

Hasil penelitian Eka di bawah bimbingan Professor Hwang Dong Soo ini telah terbit di jurnal Advanced Healthcare Materials. Penelitian tersebut, yang bahkan telah dipatenkan di Korean Patent, juga tidak luput dari liputan media-media di Korea Selatan seperti KBS, MBC, dan YTN.

"Penelitian ini menarik karena dengan memakan tunicate, dipadu dengan bahan makanan yang mengandung metal ion seperti yang terkandung dalam vitamin dan suplemen, dengan konsentrasi rendah, dapat menutup pori-pori dentin hanya dalam waktu 4 menit dengan cukup berkumur," terang Eka menjelaskan hasil penelitiannya.

Bahan aktif tersebut akan membentuk senyawa kompleks dan menutup pori-pori dentin sebanyak ~50%. Lalu, tanpa berkumur, liur atau saliva dalam mulut akan membantu menumbuhkan mineral gigi selama 7 hari, dan pada akhirnya, sebanyak ~87% pori-pori dentin yang terekspos tersebut akan tertutupi dengan mineral pembentuk gigi.

Menariknya, ternyata lapisan yang terbentuk tidak merusak warna gigi, sehingga tidak merusak estetika pada gigi. Eka berharap penelitian ini dapat membuka wawasan untuk studi-studi lain dan dapat diterapkan pada produk komersil.

"Eka bekerja di lab secara bersungguh-sungguh sehingga dapat menghasilkan hasil penelitian yang baik," ujar Professor Hwang Dong Soo saat ditanya mengenai sosok Eka yang tergabung dalam grupnya.

Selain menjadi mahasiswi dan peneliti, Eka juga berperan ganda mengasuh putrinya, Kayyisha (3 tahun), dan menjadi istri dari Andrieanto, mahasiswa Indonesia di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) yang juga sedang melanjutkan studi S3. Eka dan Andri pun aktif bergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA).

 

BNI Cabang Seoul Resmi Beroperasi

Pembukaan BNI Seoul 2

Seoul -Di tengah kelesuan ekonomi di berbagai penjuru dunia, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mulai mengoperasikan kantor cabang di Seoul, Korea Selatan (Korsel). Pasar mana yang disasar?

Di bawah suhu minus 5 derajat celcius, pita di pintu masuk BNI46 Cabang Seoul yang berlokasi di Wise Tower jantung ibukota Korsel, digunting oleh Dubes RI, John Prasetio bersama Manager GM Cabang Seoul, Wan Andi Aryati. 

Sontak tepuk tangan bergemuruh. Beberapa pejabat Indonesia dan Korsel pun hadir di acara tersebut. Ada Wakil Dubes Cecep Herawan, Presdir BNI Syariah Dinno Indiano, Ustad Wijayanto, staf KBRI serta kalangan perbankan Korsel.

Menurut Wan Andi, pendirian cabang di Seoul ini bukan sekedar latah ingin tampil di luar negeri. Meski industri perbankan di Korsel sudah begitu saling berdesakan, namun bank pelat merah itu mengaku masih melihat celung-celung pasar yang bisa digarap.

Sebagaimana bank lainnya, target pasar yang disasar adalah bidang perdagangan. BNI Seoul ingin menjadi jembatan kerja sama perdagangan Indonesia-Korsel dengan menyediakan pinjaman dan aneka jasa perbankan terkait. Bukan hanya itu, BNI juga 'jualan' jasa bagi pengusaha Korea Selatan yang ingin investasi di Indonesia.

"Jujur saja, kami juga menyasar pasar tenaga kerja di Korsel yang jumlahnya mencapai 40 ribu orang. Kami berjanji untuk bisa memberikan pelayanan terbaik bagi para pahlawan devisa Indonesia," ujarnya. 

Sementara itu, Dubes John Prasetio menyatakan bahwa gonjang-ganjing ekonomi dunia masih terus terjadi. Pasar saham dan mata uang di beberapa negara terpantau mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa sentimen ekonomi global belum menggembirakan.

Uniknya, ekonomi Indonesia masih relatif cukup kokoh di tengah guncangan ketidakpastian. Kerjasama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Korea masih positif. Permintaan produk Indonesia dan investasi ke tanah air juga bergairah.

"Mereka merespons positif kebijakan ekonomi Presiden Jokowi. itulah mengapa saya ikut yakin bahwa keberadaan BNI di Korea Ini sangat penting untuk menjembatani kerja sama ekonomi kedua belah pihak," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BKPM, investasi langsung Korsel dalam 5 tahun terakhir berada di rangking 4 dengan jumlah lebih dari 7 miliar dolar. Selain itu, saat ini terdapat lebih dari 2.700 perusahaan Korea beroperasi di Indonesia.


Pengiriman TKI Ilegal ke Jeju Harus Dihentikan

IMG 0266

Sebagian calon TKI yang terlantar di Jeju

Gelombang pengiriman TKI ilegal ke wilayah Jeju, Korsel, kemungkinan besar masih akan berlangsung. Dubes John Prasetio berharap pihak berwajib Indonesia dapat mencegahnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 55 WNI dikirim secara ilegal ke Jeju, Korsel. Sepuluh diantaranya menyatakan ingin pulang sedangkan sisanya tidak diketahui rimbanya. Saat ini KBRI Seoul tengah mengupayakan penyelesaian administrasi dan membantu kebutuhan kesepuluh WNI yang sudah kehabisan bekal tersebut.

Sementara itu, lagi-lagi KBRI mengendus kabar bahwa  26 WNI yang datang kloter 1 dan 2 masih dibawa broker berpindah-pindah di Jeju. Belum mendapat pekerjaan yang dijanjikan. Bahkan, penawaran kerja di jeju dengan modus ini makin santer, terutama di Indramayu. Terdapat isu, medio Februari ini akan ada lagi gelombang WNI yg diberangkatkan ke Jeju.

Dubes John Prasetio merasa jengah dengan kelakuan para pihak yang sengaja menjerumuskan sesama WNI. Tanpa visa yang benar maka potensi masalah hukum bagi para korban bisa runyam. Karenanya, upaya preventif harus segera dilakukan.

"Saya minta dengan sangat agar pihak berwajib di Indonesia dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara cepat agar korban tidak bertambah. Para pelaku "perdagangan manusia" ini harus diajukan ke pengadilan sesuai hukum yang berlaku," ujarnya.

Koordinator Fungsi Perlindungan KBRI Seoul, Aji Surya, mengendus adanya kelanjutan modus pengiriman TKI ilegal ke Jeju karena merupakan wilayah bebas visa dari kawasan tertentu. Kegiatan haram ini kemungkinan merupakan kongkalingkong para oknum di kedua negara. Para calon TKI bahkan dipalakin dengan membayar hingga Rp 100 juta untuk bisa berangkat ke Jeju dengan visa yang tidak sesuai peruntukannya. ()

Salam Tempel Kemul Berkumandang di Korea

komawo1

Foto: M Modin/detikcom

Seoul - Menambah deretan panjang paguyuban masyarakat Indonesia di Korea, hari ini lahir lagi Komunitas Anak Wonosobo atau disingkat KOMAWO. Dengan 130-an anggota, mereka bertekad untuk membantu pembangunan Wonosobo.

Bertempat di sebuah kafe di Kota Ansan, Korea, Senin (8/2/2016), KOMAWO dideklarasikan di depan para pejabat KBRI Seoul. Suasana sangat meriah, tari Lengger asal Wonosobo ditampilkan, hadir juga kelompok band dangdut dengan beberapa penyanyi.

komawo2

Foto: M Modin/detikcom

Tidak tanggung-tanggung, sewa ruangan saja kalau dirupiahkan sebesar Rp 3 juta, konsumsi Rp 15 juta dan sewa band Rp 12 juta. Bukan hanya itu, para pesertanya menggunakan jaket sama dengan suguhan awal teh kotak made in Indonesia. Semua ditanggung para TKI asal Wonosobo itu. Wuih.

Menurut Wawan, Ketua Komunitas, KOMAWO didirikan untuk belajar berorganisasi, bekerjasama dan berbagi. Cita-cita besarnya adalah memberikan bantuan pendidikan kepada anak yatim di Wonosobo melalui deposito organisasi.

komawo3

Foto: M Modin/detikcom

"Saat ini, organisasi ini baru punya dana sekitar Rp 60 juta dari iuran sebagian anggota atau Rp 200 ribu sebulan per-orang. Diharapkan di masa datang, kontribusi anggota menjadi lebih luas sehingga target bisa terealisir segera," ujar Wawan.

Dalam sambutannya mewakili Duta Besar John A Prasetio, Koordinator Perlindungan WNI KBRI Seoul, M Aji Surya menekankan agar primordialisme Wonosobo harus berimplikasi positif. Selain itu, organisasi harus mampu menjauhkan anggotanya dari paham-paham ekstrem yang membahayakan.

Acara yang dihelat di hari Imlek tersebut dihadiri hampir semua anggota yang datang dari seluruh penjuru Korea. Ketika kata KOMAWO diteriakkan maka para anggota sontak berteriak: "Salam kompak. Salam tempe kemul". Maklumlah, Wonosobo dikenal sebagai tempe yang digoreng dengan selimut (kemul) tepung. (try/try)

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014