Indonesia- Korea Selatan Selenggarakan Joint Commission Meeting ke-2 untuk Lebih Perkokoh Kerjasama Bilateral

JCM

Dalam rangka terus memperkokoh hubungan dan kerjasama bilateral RI-ROK, pada 18 Desember 2015 di Seoul, Indonesia dan Korea Selatan telah menyelenggarakan the 2nd Joint Commission Meeting (JCM) ke-2 antara Indonesia dengan Republik Korea (ROK). Pertemuan JCM merupakan implementasi kesepakatan antara Presiden Jokowi dan Presiden Park Geun-hye dalam pertemuan bilateral di Busan pada 11 Desember 2014. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri RI dan beranggotakan Kepala BKPM, wakil-wakil dari beberapa Kementerian/Lembaga terkait seperti Kantor Menko Polhukam, kantor Menko Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, BNP2TKI dan KBRI Seoul. Sementara Delegasi ROK dipimpin oleh Menteri Luar Negeri ROK, Yun Byung-se.

Pertemuan kedua JCM membahas kerja sama kedua negara di berbagai bidang antara lain politik, ekonomi, sosial budaya, people to people contact serta isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan kedua negara.

Pada pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri ROK menyampaikan harapan Pemerintah ROK agar Presiden RI dapat mengadakan kunjungan kenegaraan ke ROK pada semester pertama tahun 2016 yang diyakini dapat lebih mempererat kerja sama kedua negara di berbagai bidang termasuk perdagangan, investasi, kemaritiman dan people to people contact. Indonesia dan Korea Selatan juga sepakat perlunya menyelenggarakan Pertemuan JCM secara reguler setiap dua tahun sekali dan Pertemuan Senior Official Meeting (SOM) setiap tahun.

Di bidang pertahanan, Indonesia menekankan agar pembangunan kapal selam ke-3 dapat dilakukan di Indonesia dengan skema joint section plus. Indonesia juga menyampaikan harapannya agar Korea Selatan dapat membeli lebih banyak pesawat militer/sipil buatan Indonesia, CN 235 serta meng-upgrade 12 CN 235 yang dimiliki Republic of Korea Aircraft (ROKAF).

Pertemuan sepakat untuk perkuat kerjasama di bidang maritim baik dalam kerangka kerjasama bilateral maupun regional. Indonesia mengharapkan agar kedua negara dapat bekerjasama dalam mengimplementasikan 5 (lima) pilar kerjasama maritim sebagaimana dimandatkan pada EAS Summit di Kuala Lumpur. ROK berminat untuk mengembangkan kerjasama maritim dengan Indonesia khususnya untuk pembangunan galangan kapal, dan pembangunan Kesatuan Penjaga Pantai. Saat ini ROK sedang melakukan studi yang mendalam mengenai potensi kerjasama maritim kedua negara. Hasil studi ini akan menjadi dasar bagi peningkatan kerjasama maritim kedua negara.

Pertemuan mencatat trend perdagangan kedua negara yang terus menurun dan pada tahun 2014 tercatat sebesar USD 23,7 milyar. Untuk itu disepakati perlunya mencari langkah-langkah yang baru dan kreatif serta mengintensifkan komunikasi antar pejabat kedua negara dalam mendorong penyelesaian ASEAN-ROK FTA dan dimulainya kembali perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership (IK-CEPA).

Di bidang investasi, minat investor ROK di Indonesia masih cukup tinggi dan investasi ROK pada tahun 2015 (Jan-Sept) menduduki urutan empat investor terbesar di Indonesia. Kedua Menteri menyambut baik ditandatangani MoU kerja sama untuk promosi Investasi ROK di Indonesia antara Kepala BKPM dan Woori Bank, ROK. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu dalam mendorong perusahaan ROK untuk menanamkan modalnya di Indonesia. ROK menyampaikan minatnya untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan tenaga listrik 35 ribu megawatt dan harapkan dukungan Pemri terhadap rencana dimaksud.

Di bidang keuangan, Pertemuan menyambut baik pendirian Bank BNI di Seoul, ROK. Bank BNI merupakan bank Indonesia yang pertama kali membuka cabang di ROK. Indonesia mengharapkan bantuan dan dukungan ROK agar kegiatan Bank BNI dapat berjalan lancar.

Pertemuan juga sepakati pentingnya meningkatkan kerjasama pariwisata seperti kegiatan promosi bersama dan peningkatan frekuensi penerbangan antar kedua negara. Pemeri telah memberikan fasilitas Pemberian bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor biasa yang diharapkan dapat lebih mendorong kunjungan wisatawan Korea ke Indonesia. Indonesia juga harapkan agar ROK dapat memberikan fasilitas bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor biasa Indonesia untuk mendorong arus wisatawan Indonesia ke Korea.

Di bidang sosial budaya dan pendidikan, Pemri menyampaikan apresiasi atas bantuan perlindungan yang diberikan oleh Pemerintah ROK kepada BMI yang bekerja di Korea. Pertemuan sepakat untuk segera implementasikan pertukaran guru dan dosen terutama di bidang Bahasa dan peningkatan kualitas Puast Studi Korea di Indonesia dan pembentukan Pusat Studi Indonesia di Korea.

Sementara itu untuk bidang Kerjasama Pembangunan, Indonesia adalah mitra terbesar ke-6 kerjasama pembangunan dari 120 negara. ROK akan terus memperkuat kerjasama pembangunan di berbagai bidang antara lain ekonomi sosial, administrasi publik, lingkungan hidup, dan pengelolaan sumber daya alam. Dalam kaitan ini, kedua negara diharapkan dapat segera menyelesaikan Framework Agreement (FA) Economic Development Cooperation Fund (EDCF) untuk periode 2016-2020 sebagai dasar bagi peningkatan kerja sama pembangunan kedua negara.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014