Sambil Meneteskan Air Mata, Megawati Menerima Doktor HC di Korsel

Ibu Megawati

Presiden Kelima RI, Diah Permata Megawati Soekarno Putri dianugerahi Doktor HC keenam, yang kali ini di bidang ekonomi oleh Mokpo National University Korsel. Sambil meneteskan air mata, ia memaparkan ide-idenya tentang demokrasi ekonomi.

Dalam sebuah sidang terbuka sore ini (16/11/17) di kota Mokpo, Megawati menyatakan bahwa demokrasi Pancasila adalah sebuah jalan untuk mencapai Trisakti, yakni bangsa yang berdaulat dalam politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Berbagai perkembangan sosial politik dan ekonomi dunia belakangan ini, memberikan bukti bahwa Pancasila merupakan konsep yang tepat.

Mega, antara lain, mengajak merenungkan problem multidimensi yang lahir akibat globalisasi dan pasar bebas. Dampak praktek dumping dalam sektor pangan misalnya, maka kedaulatan pangan negara-negara berkembang terus digerogoti dengan praktek "siasat harga" komoditi impor yang di bawah harga normal produk domestik.

Efek dominonya adalah, daya beli rakyat menurun, lapangan pekerjaan berkurang, deindustrialisasi, dan pada titik tertentu akan mengguncang stabiitas ekonomi dan politik negara.

“Dengan tegas saya menolak praktek dumping. Free trade bukan berarti menciptakan predator perdagangan internasional. Wajib hukumnya di dalam free trade ada fair trade. Sampai kapan pun posisi politik saya akan tetap sama, terutama dalam menyangkut kedaulatan pangan setiap bangsa. Isu pangan tidak boleh sekedar diartikan sebagai ketahanan pangan yang diukur dengan "asal pangan tersedia di pasar,” katanya.
 
Soal pangan dinilainya soal keberlangsungan hidup suatu bangsa, dari mulai hidup dan kehidupan petani, kedaulatan atas air, tanah, dan energi, hingga bagaimana pangan didistribusikan kepada seluruh rakyat dengan aman, murah dan cepat. Kedaulatan pangan berarti kemandirian (selfsuffiency) pangan, melalui kemampuan pemenuhan pangan yang pertama kali harus berasal dari dalam negeri sendiri (selfsupporting).

Tentunya, semua itu, dengan tidak mengabaikan kerjasama yang setara, saling menghormati dan saling menguntungkan dengan bangsa lain. Praktek-praktek ekspansi ekonomi yang tidak adil di abad 21 dinilai telah melahirkan gerakan-gerakan transnasional.
 
“Menurut saya, relasi dan interaksi yang melibatkan rakyat lintas negara dalam berbagai kriminalitas internasional, bukan suatu gerakan antitesa seperti yang dilakukakan para pendiri bangsa. Hal-hal tersebut justru merupakan anak kandung dari praktek-praktek penjajahan politik dan ekonomi. Tindakan mereka jelas bukan merupakan praktek demokrasi politik dan ekonomi Pancasila. Kejahatan terhadap kemanusiaan, apapun bentuknya, bukan suatu antitesa dari ketidakadilan,” katanya.
 
Suatu antitesa terhadap kesewenang-wenangan haruslah berwujud gerakan enlightment, suatu jalan pembebasan, bukan gerakan yang menyeret manusia pada "peradaban dark edge".

Mega mengaku, demokrasi Pancasila telah membimbingnya untuk terus menyuarakan perdamaian dunia. Karena itu pula, ia tidak akan menyerah untuk terus terlibat dalam upaya mencari penyelesaian konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara. Ia menyatakan menentang pihak mana pun yang memanfaatkan situasi di kedua negara dengan memperuncing perseteruan.
 
“Pilihan saya tidak akan pernah berubah. Saya memilih bersama dengan rakyat Korea Selatan dan Korea Utara untuk terus mengupayakan perdamaian kedua negara. Saya pun selalu katakan, kalian sesungguhnya bersaudara, satu rumpun. Kita harus meyakini, selalu ada jalan keluar jika kita memilih jalan dan cara damai dalam menyelesaikan konflik dan sengketa,” ujarnya sambil meneteskan airmata.
 
“Semoga apa yang saya sampaikan menginspirasi dan menjadikan kita sebagai bagian dari warga dunia yang terus memperjuangkan perdamaian abadi, keadilan dan kesejahteraan sosial,” pungkasnya.

Dubes RI untuk Korsel, Umar Hadi yang hadir dalam kesempatan itu menyatakan syukur kepada Allah dan lega. Menurutnya, pemberian gelar ini merupakan salah satu bukti pengakuan Korsel atas ide-ide besar bangsa Indonesia. ()

Kisah Tragis Dyah Pitaloka Naik Panggung Di Korsel

Knok Knok 2017

Tragedi Perang Bubad yang berujung pada tragisnya kematian Puteri Dyah Pitaloka, Puteri Kerajaan Sunda, menjadi gong penutup yang mengharu biru seluruh penonton yang memadati Auditorium Kyungsung University, Busan, 4 November 2017. Alunan lagu Bubui Bulan yang didendangkan langsung oleh sang Puteri sebelum melakukan Belapati atas tewasnya ayahanda Raja Linggabuana dengan menusukkan kerisnya, tak pelak membuat penonton ikut dirudung kesedihan mendalam, seolah ikut merasakan kepedihan yang dirasakan sang Puteri.

“Ceritanya sangat menarik, saya bisa merasakan kepiluan yang digambarkan. Selain itu, saya juga sangat menikmati berbagai tarian yang ditampilkan. Penuh warna warni. Semuanya indah. Saya semakin menyadari kalau kebudayaan nusantara itu begitu beragam sejak jaman dahulu,” ungkap Seunghack, salah satu penonton warga Korea Selatan yang rela antri untuk mendapatkan kursi dibagian depan.

Drama Tari berjudul “Belapati, the Dangerous Kind of Ambition” digagas oleh Asosiasi Mahasiswa Indonesia di Universitas Kyungsung sejak tujuh bulan lalu. Acara tahunan bernama “Knock Knock Idonesia” ini merupakan pentas terbesar mahasiswa asing di universitas Kyungsung. Setelah tahun 2016 sempat vakum, asosiasi tersebut kembali memberikan hiburan mendidik kepada masyarakat Korea termasuk akademisi universitas tempat mereka belajar. Tak kurang dari 400 orang, termasuk para dekan dan professor Universitas Kyungsung ambil bagian menyaksikan acara yang digelar sepanjang 90 menit tersebut.

Selama tujuh bulan penuh para mahasiswa yang tergabung dalam asosiasi melakukan latihan rutin di sela-sela kegiatan belajar dan praktikum. Hasilnya, sajian apik yang terdiri dari unsur drama, tari, dan musik tradisional Indonesia sanggup menawan siapapun yang hadir pada malam itu. Kisah yang dicuplik dari Serat Pararaton berlatar sejarah tahun 1279 Saka ini digarap oleh 93 mahasiswa Indonesia anggota asosiasi mahasiswa Indonesia tersebut. Mereka dibagi menjadi berbagai divisi seperti divisi tari, divisi musik dll yang melakukan latihan secara terpisah sesuai dengan waktu luang yang mereka miliki..

“Knock, Knock, Indonesia” hadir pertama kali pada tahun 2012. Sebelumnya, mereka mengadakan pentas tahunan berupa tarian ataupun opera yang bertemakan berbagai legenda ataupun cerita rakyat seperti Bawang Merah dan Bawang Putih. Tahun 2016 kegiatan ini sempat terhenti, dan tahun ini Knock Knock Indonesia hadir dengan konsep baru yang membawa penyegaran dalam sisi tema yang diangkat, yaitu berdasarkan sejarah nusantara.

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi yang mendukung penuh kegiatan ini senantiasa menegaskan bahwa mahasiswa merupakan ujung tombak promosi budaya Indonesia. Disela sela waktu belajar mereka, pelajar Indonesia terbukti mampu menjadi corong utama pengenalan seni dan budaya Indonesia di Korea Selatan.

Asosiasi Mahasiswa Indonesia di Universitas Kyungsung terdiri dari 94 mahasiswa. Angka ini merupakan jumlah mahasiswa asing terbesar dari satu negara di universitas tersebut. Dr. Taioun Kim, Dekan utuk Urusan Kerja Sama Eksternal mengakui bahwa mahasiswa asal Indonesia merupakan pelajar top di universitas Kyungsung karena komitmen dan dedikasinya terhadap berbagai mata kuliah yang diambil. Tak pelak, kegiatan sebagaimana Knock, Knock, Indonesia ini mendapatkan dukungan dari pihak universitas.

Selain menghibur, kegiatan semacam ini dianggap mampu menjembatani pengetahuan budaya asing bagi masyarakat Korea ataupun komunitas asing lainnya yang tengah menempuh pendidikan di sana. Terbukti, sebagaimana pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, Knock, Knock, Indonesia mampu mendulang apresiasi dan tanggapan positif, bukan hanya dari masyarakat Indonesia yang bermukim di Korea, tapi juga masyarakat Korea dan masyarakat asing di sana. ()

Nasi Goreng Kampung Goes to Busan

WhatsApp Image 2017-10-28 at 11.55.22 PM

Kuliner Indonesia sangat beragam, namun belum banyak yang mendunia. Karenanya, nasi goreng kampung dipamerkan di kota terbesar kedua di Korea Selatan, Busan.

Tidak main-main, adalah chef kawakan William Wongso yang datang untuk promosi nasi goreng kampung. Ia bersama timnya memukau 150an undangan pada Acara ‘Busan One Asia Festival.’ yang dihelat pada Sabtu siang (28/10/17). Tangan hadirin pun diangkat tinggi-tinggi manakala sang maestro mengundang mereka untuk mencicipi.

“Ini adalah masakan paling disukai di Indonesia. Bahkan pesiden Obama pun selalu kangen terhadapnya. Karenanya, jangan sempat ketinggalan, mari kita masak nasi goreng kampung,” ujarnya.

Nasi goreng kampung yang dibuat di atas panggung tersebut menggunakan bahan-bahan lokal. Mulai nasi, bumbu dan side dish-nya. Dengan demikian, hadirin yang lidahnya cocok akan bisa membuatnya sendiri di kemudian hari.

Yang mungkin unik dalam racikan sang maestro ini, unsur pedas dalam sambal yang biasa dipakai nasi goreng ini diganti dengan sambal gocujang, atau lombok Korea yang sudah difermentasi sedemikian rupa. Sayuran di dalamnya menggunakan kimchi. Sedangkan unsur penyedap trasi diganti dengan rebon yang banyak dijual di negeri ginseng atau sering disebut juga cincalok. Tidak lupa, asinan Jakarta dibuat dengan berbagai buah-buahan lokal seperti nanas, mentimun dan kurma Korea.

“Dengan gocujang, maka warna cabe pada nasi goreng lebih merah dan menarik. Sedangkan unsur rebon mampu menggantikan aroma trasi namun tidak terlalu menyengat,” kata William.

Konsep nasi goreng kampung Indonesia dengan konten lokal inilah yang diharapkan dapat merayu lidah warga Korea. Mereka tidak sulit mendapatkan bahannya namun lidahnya bisa berdansaria ala Indonesia.

“Untuk membuat nasi goreng kampung lebih eksotik maka saya menambahinya dengan sate sapi dan crackers yang memang banyak dimana-mana,” imbuhnya.

Menurut seorang pengamat kuliner dari Korean Tourism Organization (KTO), nasi goreng kampung yang disajikan oleh William Wongso terasa enak dan eksotik. Diperkirakan, banyak warga Korea Selatan yang akan ketagihan.

“Saya hanya bisa bilang bahwa sajian ini enak, berkualitas dan disukai oleh warga Korea. Pertanyannya dimana kita bisa mendapatkannya di Busan?,” katanya.

Jain Song, seorang alumni S2 kuliner asal Korea Selatan, racikan nasi goreng kampung ala Korea yang dibuat oleh William Wongso merupakan sebuah kecerdikan yang luar biasa. Ia bahkan mengagumi pengetahuan dan pengalaman sang maestro yang demikian luas dan internasional.

Adapun tantangan utama bagi masyarakat Korea dalam hal kulineri Indonesia adalah terkait isu halal. Sebagian dari dari produk di Korea Selatan belum memenuhi kriteria halal menurut pengertian Indonesia. Gocujang misalnya, dalam proses penghentian fermentasinya harus menggunakan alkohol.

Untuk itulah dalam kesempatan di Busan tersebut, KBRI bersama KTO bekerjasama untuk memberikan penerangan warga tentang konsep halal dan haram. Hal ini sejalan dengan program Pemerintah Korea Selatan yang sedang gencar promosi halal Korea seperti memroses pendirian pabrik gocujang halal.

“info tambahan, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kita hidup dalam keadaan damai bersama pemeluk agama lain,” ujar Fauziah Fatin dalam paparan bahasa Korea tentang konsep halal-haram.()

Taufiq Ismail Luncurkan ”Debu diatas Debu” di Seoul

WhatsApp Image 2017-10-24 at 5.44.19 PM

Sastrawan Taufiq Ismail meluncurkan kumpulan karyanya yang diterjemahkan dalam bahasa Korea berjudul “Meonji Wiui Meonji” atau “Debu diatas Debu”. Di usianya yang tidak muda lagi, suaranya masih “lantang” dan “menggelegar”.

Bagaikan anak muda yang berumur belia, Taufiq Ismail yang telah berumur 82 tahun membacakan pusinya di depan 100an mahasiswa Jurusan Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), pinggiran kota Seoul (23/10/17). Suaranya yang keras memberi tanda bahwa ia masih memikiki semangat tinggi.

Adalah seorang doktor bernama Lee Yeon dari Hankuk University of Foreign Studies yang merampungkan penerjemahan ke dalam bahasa Korea dalam kurun waktu satu tahun. Leon adalah pengajar bahasa Indonesia dan telah menerjemahkan dua karya sastra Indonesia. Program S3 nya diselesaikan di UI dengan judul “Kepriyayian dan Persepektif Wanita dalam Karya NH Dini”.

Meonji Wiui Meonji merupakan penerjemahan puisi-puisi Taufiq Ismail kedalam bahasa asing yang kesekian. Sebelumnya diterjemahkan dalam bahasa Arab, Inggris, Rusia, China, Bosnia, Perancis, Jerman dan Belanda. Saat usia ke 80, sebagian karyanya sudah diterjemahkan dalam 80 bahasa daerah di Indonesia.

Bagi Taufiq Ismail, peluncuran di Seoul ini memiliki makna tersendiri. Inilah buku yang diharapkan dapat menjadi jembatan pemahaman anak-anak bangsa di kedua negara. “Saya senang tentunya. Semoga memberikan kontribusi bagi hubungan kedua bangsa yang lahir hampir bersamaan,” katanya.

Malam itu, Taufiq menceritakan bagaimana pedihnya peperangan antara anak bangsa di semenanjung Korea yang berakhir perpecahan. Dua juta orang mati tanpa makna alias sia-sia.

Pada tahun 1970, Taufiq bersama beberapa sastrawan berkunjung ke Panmunjom, wilayah perbatasan kedua negara, dan merasakan betapa pedihnya sisa perang. Ia kemudian membuat puisi terpanjangnya yang berjudul “Panmunjom”. Malam itu, ia membacanya dengan cucuran air mata.

“Puisi Panmunjom merupakan puisi terpanjang saya. Waktu itu saya merasakan betapa peperangan telah menghadirkan keperihan dan kesengsaraan. Dan hebatnya, Korsel sekarang sudah bangkit dan menjadi bangsa yang penuh martabat,. Saya akan bikin puisi lagi,” lanutnya.

Saat membacakan puisi “Panmunjom”, para hadirin dan mahasiswa jurusan bahasa indonesia HUFS hanya bisa menundukkan Kepala di tengah keheningan kelas yang mewah. Mereka seolah terbawa ke sebuah masa dimana sebagian besar tidak mengetahuinya.

Dubes RI untuk Korsel, Umar Hadi yang hadir dalam peluncuran buku, menyatakan dirinya sangat komit pada peningkatan kerjasama bidang sosial budaya Indonesia-Korsel. Dalam waktu dekat diharapkan akan berdiri “Indonesian Centre” di beberapa Universitas.

“Saya berterima kasih kepada Bapak Dubes atas kesediaannya terlibat dalam urusan pendidikan dan budaya. Apalagi akan mengajar di universitas,” kata Prof. Koh, seorang pengajar senior Bahasa dan Sastra Indonesia di HUFS.

Dalam rangkaian acara peluncuran ini hadir PemRed majalah sastra Horizon Jamal D. Rakhman dan kritikus sastra Maman S. Mahayanan, yang pernah mengajar di Universitas Hankuk 2009-2014 dan menerbitkan kumpulan puisi pengalamannya di Korea berjudul "Jejak Seoul" (2016).

Pengusaha Sambal Menatar TKI di Korsel

 

WhatsApp Image 2017-10-22 at 11.17.20 PM

TKI Korea Selatan ketiban rejeki. Pengusaha sambal asal Boyolali datang untuk berbagi ilmu bisnis. Tanpa skill yang pas, dijamin modal akan amblas.

Kegiatan “menyambali” ini dilakukan oleh KBRI bersama BNI Cabang Seoul kepada 250 an TKI. Perhelatan di kota Daegu (22/10/17) tersebut menghadirkan seorang pengusaha kuliner, Abdul Rohman, dan seorang motivator, Aqua Dwipayana.

Abdul Rohman, mantan TKI di Jepang, menyatakan bahwa kegigihan serta ketekunannya membawanya sukses memiliki 12 outlet rumah makan “Serba Sambal” dan 10 outlet dalam persiapan. Selain itu, ikhlas meraih ridho ilahi merupakan kunci berhasil lain yang tidak bisa diabaikan.

“Sukses dalam usaha biasanya karena kita punya pengalaman jatuh bangun. Saya mengalami sekali habis-habisan dan dua kali gagal dalam manajemen. Itulah yang menyebabkan PT Serba Sambal atau SS semakin kuat dan kokoh,” ujarnya.

Abdul Rohman juga mengakui bahwa untuk bisa berwiraswasta, ia harus belajar kesana kemari. Ikut kursus dari satu tempat ke tempat lainnya sampai kemudian mendapatkan lahan bisnis yang tepat dan disambut hangat masyarakat. Intinya, tidak boleh patah semangat.

Abdul Rohman memulai usaha kuliner dari warung sederhana kakilima di daerahnya, Boyolali Jawa Tengah. Seiring berjalannya waktu, berdirilah kedai dan resto Enak SS di swalayan kota gaplek Wonogiri Jawa Tengah.

“Baru tahun 2009, Serba Sambal mulai dikenal dengan istilah SS setelah dibukanya cabang di beberapa kota. Hal ini diperkuat dengan terbitnya izin hak merk dagang resmi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Intelektual,” ujarnya.

Saat ini, SS yang bersifat franchise yang berpusat di Wonogiri ini memiliki kantor cabang di Gresik untuk Jatim, Yogyakarta dan Bogor untuk Jabar. Outlet di Jepang diperkirakan akan hadir dalam waktu tidak terlalu lama. Bahkan 300 antrian outlet masih dalam daftar tunggu.

Kegagalan yang biasa menghantui wirausaha, menurut Abdul Rohman, adalah keuntungan. Uang berjibun bila tidak dikelola dengan manajemen yang baik berpotensi menjadi embrio perpecahan diantara para pemenang saham. Visi yang sama dari para pemilik merupakan hal yang harus dibangun dari waktu ke waktu.

“Jangan lupa, 99 persen keberhasilan kita ditentukan yang diatas. Karenanya memburu ridhoNya dengan bersedekah kepada sesama menjadi hal wajib dan tidak bisa ditunda-tunda,” imbuhnya.

GM BNI Seoul, Wan Andi Aryadi berharap TKI di Korea bisa sukses seperti Abdul Rohman dengan memiliki banyak karyawan di Indonesia kelak. Dikatakan, kebahagiaan tertinggi baru akan muncul saat seseorang bisa berbagi dengan yang lain dalam arti menggaji karyawan.

“Sebagai TKI paling beruntung di dunia, teman-teman harus menyiapkan diri menjadi pengusaha di tanah air. Tidak perlu kembali ke Korsel manakala modal dan skill memadai,” kata Fuad Adriansyah, Korfung Konsuler KBRI Seoul. ()

Kaskus Menangi ASEAN Entrepreneur Award 2017 di Seoul

38fad60d-8309-41ca-a633-ed32b1d7cde6

Sudah bangkotan tidak selalu berarti lemah. Buktinya Kaskus yang sudah berumur 18 tahun masih menerima penghargaan ASEAN Entrepreneur Award pada gala dinner the 18th World Knowledge Forum 2017 di ibukota negeri kimchi.

Perhelatan 18 Oktober 2017 itu dihadiri oleh orang-orang terhomat di Korsel termasuk Ban Ki Moon yang duduk di sebelah Andrew Darwis. Pria berbadan kurus tersebut menerima penghargaan ASEAN Entrepreneur Award atas prestasinya sebagai pendiri Kaskus yang terus berinovasi di usianya yang dewasa.

“Penghargaan ini merupakan bukti pengakuan bahwa Kaskus masih terus eksis dan dibutuhkan. Juga sekaligus jadi cambuk menjadi lebih baik di masa datang dengan berbagai inovasi,” ujar Andrew santai.

Kaskus salah satu portal komunitas online terbesar di Indonesia yang beranggotakan lima juta pengguna aktif dan mendapat kunjungan sebanyak 13 juta pengunjung setiap bulannya. Kaskus juga merupakan salah satu pelopor platform e-commerce nasional dengan nilai transaksi yang sangat signifikan.

Penganugerahan ASEAN Entrepreneur Award kali ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya. Pada tahun 2016, CEO Go-Jek, Nadiem Makarim menjadi penerima perdana penghargaan dimaksud.

Maekyung Media Group selalu menjadi penyelenggara kegiatan yang bersifat inovatif ini. Mekyeung merupakan salah satu perusahaan media terkemuka di Korsel atau grup induk dari Maeil Business Newspaper, stasiun televisi MBN dan portal Maekyung.com.

Selain Andrew, peraih penghargaan lain adalah Le Van Kiem, Chairman of Long Thanh Golf Investment and Trading, Vietnam. Ia dianggap menjadi salah seorang kampiun dalam bidang investasi bidang properti.

Keberhasilan Andrew Darwis sebagai pemenang penghargaan kali ini didukung oleh peran KBRI Seoul yang telah menominasikan Kaskus kepada penyelenggara. Kaskus dianggap dapat menjadi simbol keberhasilan Indonesia dalam pengembangan industri konten kreatif dan e-commerce berbasis komunitas/umum yang saat ini berkembang pesat.

Dubes RI Seoul, Umar Hadi berharap, penganugerahan ASEAN Entrepreneur Award kali ini dapat lebih mengangkat citra Indonesia di dunia internasional dan membangkitkan gairah entrepreneur muda di dalam negeri untuk mengembangkan industri kreatif sebagai pilar perekonomian masa depan. ()

Top, Mahasiswa RI Juara Lomba Pidato Bahasa Korea

WhatsApp Image 2017-10-17 at 7.46.41 AM

Makin banyak saja mahasiswa Indonesia yang besinar di luar negeri. Dua diantaranya jagoan Bahasa Korea.

Ia bernama Bastian Widyatama. Mahasiswa Indonesia ini berhasil menyabet juara 1 dalam lomba pidato bahasa Korea (13/10/2017) yang diselenggarakan oleh Park Chung Hee School of Policy and Saemaul (PSPS), Yeungnam University, Korsel.

Tidak hanya itu, Endah Kusmiarti yang juga berasal dari Indonesia berhasil keluar sebagai juara 3. Keduanya adalah mahasiswa master jurusan Public Policy and Leadership di Yeungnam University.

Kompetisi yang bertajuk ‘The 2nd PSPS Saemaul Spirit Korean Speech Contest’ ini diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, China, Vietnam, Bangladesh, Zambia, dan Malaysia. Sementara itu, juri pada kompetisi ini yaitu Prof. Kim Ki Su, Prof. Lee Sang Hoo, and Prof. Choi Oe-chool dari pihak universitas.

Menariknya, penonton dalam lomba pidato bahasa Korea ini tidak hanya berasal dari mahasiswa asing saja, tetapi juga melibatkan mahasiswa Korea sendiri. Pada kesempatan ini, Indonesia diwakili oleh 5 mahasiswa yang juga sedang menempuh pendidikan master di Yeungnam University dan 2 diantaranya berhasil merebut posisi pertama dan ketiga, sedangkan posisi kedua berhasil diraih oleh peserta asal Vietnam.

“The 2nd Saemaul Spirit Korean Speech Contest ini diselenggarakan dengan dua tujuan. Pertama adalah untuk memperingati Hangeul Day yang jatuh pada tanggal 9 Oktober 2017 lalu. Kedua adalah untuk mengasah kemampuan mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di Korea ini. Alasan kedua ini menjadi penting mengingat seluruh mahasiswa asing disini juga diwajibkan untuk mengikuti kursus atau kelas khusus bahasa Korea supaya mereka bisa menggunakan bahasa Korea dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Professor Kim Ki Su (dekan PSPS) dalam sambutannya.

Sementara itu, Bastian sebagai juara 1 dalam kompetisi ini merasa bersyukur bisa mengharumkan nama Indonesia di Korsel. “Sebenarnya saya tidak menyangka bisa memperoleh juara 1 karena peserta yang lain juga memiliki kemampuan bahasa Korea yang bagus. Tentu ini akan menjadi memori yang luar biasa bagi saya. Dan semoga mahasiswa Indonesia bisa terus menunjukkan kualitasnya di negeri orang,” ujarnya seusai lomba.

Bisa jadi yang membedakan Bastian dengan yang lainnya adalah dalam hal ekspresi dan interaksi dengan audience. Ia sempat melontarkan beberapa pertanyaan kepada penonton, termasuk mengajak mereka untuk bernyanyi dalam bahasa Korea.

Kegiatan ini ternyata juga menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan budaya asli Indonesia yaitu Batik. Seluruh peserta yang berasal dari Indonesia secara kompak mengenakan pakaian Batik sebagai identitas dirinya. Tidak hanya Indonesia, beberapa negara lain juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan identitasnya melalui pakaian tradisional seperti Bangladesh, Malaysia, dan China. Tentu harapannya terjadi pertukaran budaya dalam kegiatan ini.

Kompetisi serupa juga pernah diselenggarakan pada tahun 2016 yang silam dengan nama yang sama. Dalam kompetisi itu peserta diberikan kesempatan untuk membahas dua topik pilihan yaitu pengalaman selama berada di Korea Selatan dan pengaplikasian Saemaul Undong (rural development model) untuk negara berkembang. Kemudian setiap peserta diberikan waktu untuk berpidato dalam bahasa Korea selama kurang lebih 5 sampai 10 menit.

Menurut catatan KBRI Seoul, pada tahun 2016 silam, wakil Indonesia juga berhasil menyabet juara 1 dalam kompetisi yang sama. Terpilihnya Bastian sebagai juara 1 pada tahun ini bisa menjadi sebuah tradisi yang baik untuk dipertahankan. Youngnam adalah salah satu Universitas swasta terbesar di negeri kimchi.

“Semoga setiap tahun wakil Indonesia bisa mengharumkan nama bangsa di semua kompetisi yang ada,” ujar Dubes Umar Hadi penuh harap. ()

PCINU Korea: Selamatkan Akidah Warganya dan Anti Radikalisme

WhatsApp Image 2017-10-08 at 10.56.12 PM

Konferensi ke-3 Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Korea Selatan berlangsung meriah di Incheon (8/10/2017). Tidak kurang dari 300 anggota NU hadir pada acara tahunan Organisasi Islam cabang Korea ini. Rebana dan salawatan berkumandang layaknya lagi di Jombang.
 
Konferensi berhasil memilih Mahdi Ar-rasyid, buruh migran Indonesia asal Indramayu sebagai Ketua PCINU Korea periode 2017-2019.
 
Duta Besar RI, Umar Hadi dalam sambutannya, menekankan pentingnya menjaga silaturahmi antar sesama WNI di Korea. Tanpa silaturahmi, maka masa depan bangsa tidak akan cerah.
 
“Semangat menjaga tali silaturahmi dan sukarela kumpul dalam wadah NU begitu tinggi. Saya sangat terharu sekaligus senang. Masa depan Indonesia akan lebih baik jika melihat wajah anak-anak yang ada disini.”
 
Umar Hadi menyelipkan pesan agar  PCINU dijadikan sebagai kendaraan dan pendorong untuk menjadikan semua anggotanya dan seluruh WNI di Korea berhasil baik di dunia maupun akhirat. PCINU juga didorong sebagai pemersatu dan pemecah masalah dengan cara merangkul semua orang.
 
Ketu PCINU terpilih, Mahdi menyatakan siap melaksanakan pesan Dubes Umar Hadi tersebut. Mahdi juga menyerukan agar semua anggota menjaga aqidah agar terhindar dari paham-paham radikal.
 
“Program PCINU Korea ke depan antara lain menjaga aqidah teman-teman NU agar tetap mengedepankan Islam rahmatan lil alamin dan menjauhi paham radikal. Selain itu, kami akan terus mendorong agar fokus kerja dan mempersiapka calon purna TKI agar siap membuka usaha sendiri saat kembali ke Indonesia,” kata Mahdi.
 
Sebagaimana di berbagai acara yang melibatkan WNI, Umar Hadi selalu menekankan pentingnya bagi setiap buruh migran Indonesia untuk memperhatikan keselamatan kerja.
 
“Tolong fokus, jaga kesehatan, makan yang benar dan saling mengingatkan agar kita terhindar dari kecelakaan kerja. Apabila terdapat hal-hal yang tidak memenuhi kriteria keselamatan kerja silahkan dilaporkan ke KBRI,” ujar Umar Hadi mengakhiri sambutannya.
 
PCINU merupakan organisasi cabang NU di Indonesia. Organisasi ini mulai berdiri sejak 2015. Saat ini, PCINU beranggotakan sekitar 2000 orang.

Salam Persaudaraan Cak Nun di Liburan Chuseok

WhatsApp Image 2017-10-06 at 10.44.32 AM

Emha Ainun Najib alias Cak Nun menyapa diaspora di Korea Selatan. Ia menebarkan persaudaraan sesama anak bangsa.

Masa “lebaran” Korea Selatan jatuh antara tanggal 2-9 Oktober 2017. Inilah festival panen utama dan hari libur nasional selama tiga hari yang dirayakan secara besar-besaran pada hari ke-15 bulan ke-8 kalender lunar. Seperti halnya kebanyakan festival panen lainnya di seluruh dunia, Chuseok dirayakan sekitar musim gugur.

Hal yang menganggumkan, sebagaimana disampaikan oleh Dubes RI Seoul, di waktu longgar ini para pahlawan devisa (TKI) berinisiatif mencari kesibukan dengan kegiatan-kegiatan yang positif seperti siraman rohani dengan mendatangkan berbagai da'i atau tokoh kondang seperti Emha Ainun Najib atau yang dikenal Cak Nun yang mengisi Wedangan Sing Berkah lan Manfaat di Uijeongbu, 5 Oktober 2017.

Di acara Wedangan, atau wejangan nggolek dalan lan pangan yang berarti ceramah untuk mendapatkan jalan yang benar dan sesuap nasi, Duta Besar RI Umar Hadi menyampaikan bahwa para TKI adalah tokoh atau pemimpin potensial yang akan datang di masing- masing daerah. Banyak alumni TKI Korsel yang telah menjadi lurah, Kepala Desa atau anggota DPRD.

Duta Besar RI mendorong para pencari devisa untuk terus mengembangkan semangat dan kemampuan kewirausahaan. Pesannya jangan lama-lama menjadi TKI, segera pulang setelah terkumpul modal untuk berwira usaha dan membangun Indonesia.

Duta Besar RI juga menyatakan kekagumannya atas semangat kebersamaan para Tenaga Kerja Indonesia. Di Korea Selatan saat ini telah berdiri lebih dari 50 masjid Indonesia. Tidak lupa diingatkan kembali agar para pahlawan devisa ini senantiasa memperhatikan keselamatan kerja agar dapat bersama sama meminimalisir resiko kecelakaan dan jatuhnya korban jiwa. Sudah banyak para pahlawan devisa gugur dan rata-rata yang cukup tinggi pertahunnya Hal ini harus dicegah.

Pada acara tersebut, Cak Nun, selain mengisi siraman rohani, menyejukkan jiwa dan hati, menyampaikan bahwa kedatangannya adalah dalam konteks seduluran dengan TKI di Korsel. Cak Nun sudah ke Korsel sejak 2003. Disampaikan bahwa TKI di sini rajin dan sangat bersemangat untuk belajar dan meneliti banyak hal bagi kemajuan Indonesia.

Acara- acara siraman rohani sangat membantu menyejukkan jiwa insan yang panas, menghangatkan jiwa yang dingin, memberi jalan terang bagi jiwa yang galau dan gundah gulana. Merekatkan tali yang sempat renggang, memperkukuh persaudaraan, persatuan dan kesatuan. ()

Umat Kristiani Indonesia Jalin Kekompakan dalam Retreat

WhatsApp Image 2017-10-05 at 11.07.00 AM

Selasa (3/10), KBRI Seoul telah menghadiri pembukaan kegiatan Pembinaan Rohani untuk Umat Kristiani Indonesia di Korea. Kegiatan dengan tema 'Explore your Talent' ini diselenggarakan oleh Persatuan Gereja Indonesia di Korea (PGIK).

Dalam sambutan pembukaannya, Atase Perdagangan Aksamil Khair menyampaikan komitmen KBRI untuk berusaha hadir dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh warga Indonesia di Korea. Ditekankan pula untuk pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, terutama dalam menghadapi tahun-tahun politik di tahun depan.

Pendeta Rendy Padang, selaku ketua panitia kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh umat Kristiani yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengikuti kegiatan ini. Diharapkan melalui kegiatan dimaksud para peserta bisa menemukan bakat-bakat terpendam dan mengeksplorasinya.

Sekitar 300 umat Kristiani Indonesia mengikuti kegiatan selama 3 hari yang berlangsung dari tanggal 3-5 Oktober 2017. Pembinaan rohani dalam bentuk retreat, ibadah dan pertandingan olahraga ini diselenggarakan di Seongbochon Youth Hostel, Mungyeong, Propinsi Gyeongsang Utara.

Salut, KMI Helat Tablig Akbar 2017

Tablig Akbar I

Dengan tagline KMI berbakti untuk negeri, Komunitas Muslim Indonesia (KMI) di Korea Selatan helat tablig akbar yang mengambil tempat di hall olahraga Universitas Gimpo (3/10/17) dengan pembicara Dr. Muhammad Zainul Majdi, M.A (Gubernur Nusa Tenggara Barat), yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang.

Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yg diselenggarakan oleh KMI di Korea Selatan dan ini adalah tahun ke-9.

Tablig Akbar IV

Tidak tanggung-tanggung sekitar 2000-an kaum muslim Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru Korea Selatan memadati aula Universitas Gimpo.

Duta Besar Umar Hadi turut hadir dalam tablig akbar tersebut serta berpesan untuk tetap menjaga persatuan dan kebhinekaan.

"Meskipun kita jauh dari tanah air, diharapkan tetap menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan antar suku bangsa"

Sementara Tuan Guru Bajang, berpesan agar warga muslim Indonesia di Korea Selatan selain dapat menjaga persatuan, juga dapat menjaga perdamaian. Karena hanya dengan perdamaian, Islam di Indonesia bisa berkembang dan menjadi contoh Islam yang rahmatan lil'alamin.

Acara diakhiri dengan doa bersama untuk Indonesia yang lebih baik. (*)

 

Tablig Akbar III

 

Serunya Pesta Multikultur di Changwon

WhatsApp Image 2017-10-01 at 6.58.04 PM

Kebersamaan dalam keberagaman bangsa menjadi cita-cita bersama. Itulah yang melandasi Migrants' Arirang Multicultural Festival (MAMF).

Acara yang dihelat di kota Changwon itu diikuti oleh negara-negata asing pengirim tenaga kerja ke Korea. Tak luput, Indonesia yang memiliki hampir 40 ribuan WNI ikutserta dengan antusias.

Group vokal UNIQORN tampil sebagai finalis pada ajang tarik suara pada 30 September 2017 malam. Meski tidak menyabet juara utama, namun tampilannya memesona seribuan hadirin.

Hari berikutnya, tiap negara diberikan ruang khusus bagi penampilan budaya. Tidak tanggung-tanggung, Indonesia menempati satu gedung pertunjukan dengan kapasitas 1000an tempat duduk. Di tempat inilah, kelompok seni masyarakat tampil seperti jaranan dan stand up comedy.

Yang bikin heboh, tampil di panggung band asal indonesia yang lagi naik daun, Last Child. Ia membawakan beberapa lagu yang diikuti oleh hadirin WNI yang nyaris memenuhi ruangan. Hape mereka hidup semua untuk mengabadikan moment.

Acara penting lainnya adalah karnaval. Yang ini memang top. Seratusan WNI menggunakan pakaian Indonesia yang beraneka macam berkeliling jalan protokol kota Changwon. Kelompok Indonesia tersebut termasuk mampu menarik perhatian publik karena keunikannya.

"Saya harap keharmonisan hidup berdampingan diantara banyak bangsa dapat terwujud," ujar salah seorang panitia penyelenggara.

KBRI Seoul memberikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak, khususnya WNI, yang telah ikut berkiprah dalam mengharumkan nama bangsa di Korea Selatan. "Teman-teman semua adalah duta bangsa," ujar Koordinator Fungsi Pensosbud Diplik dari atas panggung. ()

Indonesia menangi Kpop World Festival

WhatsApp Image 2017-09-30 at 11.04.27 PM

Tiffani Afifa bersama Alphiandi menangi Kpop World Festival di Korsel. Mereka menyisihkan 12 peserta negara lain.

Perhelatan di kota Changwon, 400an km dari Seoul, 29 September 2017 malam itu menjadi sejarah tersendiri. Dua anak muda Indonesia penggemar KPop yang terbang dari Jakarta ini seolah tak percaya apa yang telah ditentukan oleh Dewan Juri.

"Thank you so much. I never imagine it could happen. I don't know what to say. Thank you. Thank you," kata Tiffani diatas panggung masih tercengang.

Tiffani dan Alphiandi dianugerahi satu tropi utama beserta uang sebanyak 12 ribu dolar AS. Jumlah yang terbanyak dibanding pemenang lain karena mereka berdua memenangkan grand prize.

Minister Counsellor Bidang Sosial Budaya dan Diplomasi Publik KBRI Seoul, M Aji Surya yang hadir menyaksikan bersama beberapa dubes negara lain menyatakan rasa bangganya. Dikatakan, mereka berdua telah ikut mengharumkan nama bangsa Indonesia.

"Saya sempat agak senam jantung ketika Malaysia, Singapura dan Turki menyabet hadiah beberapa katagori. Hmm, alhamdulillah akhirnya kita yang juara," kata Aji Surya.

Kpop World Festival kali ini diikuti oleh Nigeria, Rusia, Malaysia, Amerika Serikat, Vietnam, India, Kanada, Hungaria, Madagaskar, Singapore, Indonesia, Tuki dan Peru. Tidak kurang 25 ribu penonton menjadi saksi kepiawaian wakil Indonesia di ajang Kpop paling bergengsi sejagad. ()

Pengakuan Korea Selatan atas Prestasi Indonesia

 

DSC 2866

Kemajuan Indonesia sering tidak terlihat dari dalam. Namun, masyarakat Korea Selatan memberikan pengakuannya.

Nuansa indahnya Indonesia terasa sejak para tamu menginjakkan kaki di lantai dua Lotte Hotel, Seoul. Dengan disambut oleh para penerima tamu yang berkebaya dan alunan apik gamelan Jawa, para tamu dihantar masuk ke dalam Christal Ballroom yang telah disulap menjadi Indonesia kecil yang penuh kehangatan dan rasa kekeluargaan.

Resepsi Diplomatik yang diadakan pada Kamis (28/9) di Lotte Hotel itu menjadi penutup rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 yang di diadakan KBRI Seoul. Kemeriahan dan suka cita malam itu tidak hanya dinikmati keluarga KBRI Seoul tetapi juga sekitar 400an tamu undangan lainnya yang berasal dari berbagai kalangan dan berbagai negara. Keberagaman juga merupakan salah satu ciri khas Indonesia. Namun, hal tersebut terbukti bukan penghalang untuk maju.

"Indonesia merupakan living proof dimana demokrasi, islam dan modernitas dapat berkembang bersama dalam harmoni," ujar Dubes Umar Hadi.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur FSS (Financial Supervisory Service) Choe Heung-sik, yang hadir sebagai guest of honour, dalam congratulary remarks-nya menyatakan bahwa di tengah pemberitaan media yang hingar bingar, Indonesia menunjukkan bahwa Bhineka Tunggal Ika bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat menggiring pada kesuksesan dan menginspirasi.

Di tengah keberagaman tersebut Indonesia telah tumbuh menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sejak dibukanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan pada tahun 1973, kerjasama antara kedua negara telah berkembang di berbagai sektor. Yoo Ki-june, anggota Parlemen korea Selatan yang juga merupakan Ketua Kelompok Persahabatan Parlementer Indonesia-Korea Selatan, menyampaikan bahwa dirinya akan terus mendorong hubungan bilateral kedua negara.

"National Assembly Republik Korea sangat menghargai hubungan bilateral yang telah dibangun hingga saat ini, ke depan saya akan terus mendorong hubungan persahatan Indonesia-Korea Selatan dalam kapasitas yang saya miliki," ujar Yoo.

Chairman CJ Corporation Shon Kyung-shik yang juga hadir dan menyampaikan congratulary remarksnya juga menyampaikan hal serupa. Shon berharap dapat terus bekerja sama dengan Indonesia untuk kesejahteraan bersama. CJ telah menanamkan modalnya di berbagai bidang di Indonesia diantaranya bioteknologi, makanan hewan, bioskop, logistik dan franchise.

Acara Resepsi Diplomatik KBRI Seoul juga dimeriahkan oleh beberapa penampilan apik dari seniman-seniman yang didatangkan dari Indonesia diantaranya PSM UNPAD, Balawan dan Batuan Ethnic Group dan Selemor Ate dari Lombok. Lidah para tamu juga dimanjakan oleh beberapa panganan khas Indonesia seperti bakso, rendang, pempek, sate dan es cendol.

Jabar tandatangani LoI Propinsi Kembar dengan Incheon

WhatsApp Image 2017-09-26 at 9.04.22 AM

Gubernur Jabar mendatangani Letter of Intent (LoI) dengan kota Metropolitan Incheon. Kegiatan ini merupakan langkah awal menuju kerjasama propinsi kembar.

Penandatanganan yang dilakukan oleh Ahmad Heryawan dengan Walikota Yoo Jeong-bok di kantor Walikota Incheon, Korsel (25/09/17) ini, merupakan kerjasama pertama yang dilakukan Jabar dengan Korsel. Gubernur yang sering dipanggil Kang Aher ini menawarkan beberapa bidang kerjasama di masa depan.

"Propinsi Jabar memiliki SDM paling besar di Indonesia, lebih 47 juta. Kalau kerjasama dengan kami, yang ada hanyalah untung dan untung," kata Aher yang disambut tepuk tangan meriah.

"Incheon saat ini merupakan kota terbesar ketiga di Korea Selatan (setelah Seoul dan Busan), namun dengan visi kita sekarang, kedepannya Incheon bisa menjadi yang terbaik. Pas lah kalau bermitra dengan Jabar," sambung Yoo yang bikin semua tertawa lepas.

Untuk itulah, Yoo mengusulkan agar kerjasama yang akan dibangun menggabungkan antara teknologi tinggi, SDM dan lingkungan. Korsel siap berkontribusi untuk ipteknya, sedangkan yang lain dari Jabar atau Indonesia. Yoo sendiri telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia dan merasa bahwa kedua belah pihak dapat bekerjasama dengan baik di masa datang.

Sementara itu Aher membidik beberapa bidang kerjasama yakni pendidikan dan pelatihan, lingkungan hidup serta industri. Diharapkan dalam waktu tidak lama lagi, MoU tentang sister province antara Jabar dan Kota Metropolitan Incheon dilakukan. "Kami tunggu kehadiran Walikota Incheon di Jabar," kata Aher mantab.

Selain menandatangani LoI, Kang Aher juga berkunjung ke beberapa tempat terkait dengan pelestarian lingkungan dan reklamasi laut serta menemui perwakilan TKI di Korea. Pria enerjik ini menandaskan bahwa perlu kesungguhan untuk bisa membangun bangsa seperti Korea Selatan. ()

Karya Gerdie Wakili Indonesia dalam 2017 Seoul Photo Festival

21765002 1331695323626285 1405328397506559773 n

Gerdie Hutomo adalah pegawai pada perusahaan obat Bintang Tujuh. Meski begitu, karyanya yang diakui publik jauh dari pekerjaanya. Hasil jepretan Gerdie ternyata mengagumkan banyak orang.

Di tingkat ASEAN, fotonya memenangkan katagori special country award pada ASEAN Tourism and Cultural Photo Contest 2017. Pada ajang yang sama photonya yang lain juga menyabet juara tiga. Jadi sekali dayung, dua kemenangan diraih. Masih banyak lagi kemenangan yang pernah diraihnya.

Itulah sebabnya, KBRI Seoul memamerkan beberapa karyanya pada 2017 Seoul Photo Festival yang diikuti lebih dari 15 negara. Gerdie sendiri hadir di Seoul sambil mengikuti konferensi Global Tourism Photo Conference.

"Saya senang bisa datang ke Seoul atas undangan KBRI. Semoga keikutsertaan karya saya memberikan dampak positif bagi tanah air tercinta," ujarnya.

Untuk memaksimalkan kunjungan ke Seoul, pada 24 September 2017, Gerdie akan hunting foto bersama WNI di Korea yang tergabung dalam kelompok "Odengan". Mereka yang mayoritas kaum pekerja itu akan mendapatkan coaching tentang teori terbaik dalam mengambil gambar dengan obyek-obyek tertentu. 

Ary Sulist, selaku yang dituakan di "Odengan" sangat antusias mengajak teman-temannya untuk belajar bersama Gerdie. Menurutnya, apa yang dilakukan KBRI Seoul merupakan pemberdayaan yang sangat ditunggu-tunggu para "photo lovers" asal Indonesia yang sedang bermukim di negeri ginseng. ()

Agar Air Selalu Jadi Berkah

21616520 1331302060332278 3821474499733476407 n

 

Sejarah dan peradaban manusia tidak terlepas dari faktor air, baik itu di sungai, danau maupun lautan. Air merupakan berkah bagi umat manusia. Namun demikian, dengan kecerobohan manusia, air juga sering menjadi sumber bencana bagi umat manusia yang menimbulkan korban jiwa, kerugian material hingga kerusakan infrastruktur yang luar biasa.

Dalam upaya bersama mengatasi isu-isu air, diselenggarakan Korea International Water Week (KIWW) dan the 1st Asia International Water Week (AIWW) yang secara resmi dibuka pada 20/09/2017 oleh Menteri Kim Hyun-mee dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transport (Ministry of Land, Infrastructure and Transport-MOLIT) Korea Selatan. 

Acara yg berlangsung hingga 23 September 2017 tersebut diselenggarakan di Hwabaek International Convention Center (HICO), kota Gyeongju, yang ditetapkan UNESCO pada 2000 sebagai area bersejarah situs warisan dunia.

Kim menyebutkan bahwa Korea pada tahun 60-70an mengalami permasalahan air bersih dan pengelolaan air limbah sejalan dengan pembangunan ekonominya. Sekarang Korsel mampu mengelola pasokan airnya melalui aplikasi teknologi cerdas (smart technology). 

"Saya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang manajemen air melalui kegiatan ini. Kita juga siap memperbaharui kemitraan untuk menghadapi berbagai tantangan kedepan," ujarnya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono yang hadir menyebutkan bahwa pengelolaan air merupakan masalah bersama. Indonesia dengan populasi 250 juta tengah gencar meningkatkan kualitas dan kuantitas pasokan air bersih dan ketahanan pangan. Air merupakan sumber kehidupan bangsa

"Melalui kemitraan komprehensif antar bangsa, kita bersama-sama bisa menyelesaikan permasalahan terkait air," tegasnya.

Dengan tema "Water Partnership for Sustainable Development", KIWW berupaya untuk membangun kemitraan internasional dalam pengelolaan air untuk pembangunan berkelanjutan. Adapun AIWW yang akan diselenggarakan setiap 3 tahun, pada 2017 ini bertema "Asian Solutions for Water", membahas rencana aksi isu pengelolaan air di Asia. 

Indonesia dan Korsel merupakan penggagas terbentuknya Asia Water Council di Bali pada Maret 2016. Indonesia berkepentingan besar terhadap keberadaan AWC dalam antisipasi terjadinya bencana alam karena air. Sebagaimana disebutkan Kepala Badan Litbang PUPR Danis H. Sumadilaga, "hampir 80% bencana alam di Indonesia disebabkan oleh banjir". Untuk itu, langkah preventif terjadinya banjir perlu dilakukan dengan melibatkan negara lain yang memiliki keunggulan teknologi dan pengalaman dalam pengelolaan air.

Sebanyak 63 program kegiatan diselenggarakan pada acara diatas yang meliputi high-profile meeting, seminar dan pameran. Diperkirakan 15 ribu orang dari 70 negara meliputi pejabat pemerintahan, akademisi, para ahli dan dari komunitas bisnis, hadir .

Pada pertemuan the 5th Board of Council, Asia Water Council (BOC-AWC), Indonesia disepakati menjadi tuan rumah the 2nd Asia International Water Week (AIWW) tahun 2020. ()

RI Gaet Investor Infrastruktur asal Korsel

21617613 1331304720332012 5277916658761567051 n

Niat Pemerintah untuk membangun infrastruktur tidak main-main. Untuk menuntaskan program yang telah dicanangkan, Menteri PPN berusaha gaet investor Korea Selatan.

Demikian inti dari kegiatan Indonesia Infrastructure Investment Forum (IIIF) yang dihelat di Seoul, 20 September 2017. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas), Bambang Brodjonegoro menandaskan, Indonesia pantang surut langkah dalam meningkatkan pembangunan infrastruktur nasional.

"Infrastruktur adalah prioritas pembangunan karena merupakan bagian penting dari Nawacita. Indonesia ingin menarik investasi Korsel melalui kemitraan pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP)," ujarnya. "Sejak dulu kami percaya dengan Korsel. Jagorawi adalah proyek tol pertama di Indonesia yang dibangun oleh kontraktor Korea," imbuhnya.

Dihadapan 200 calon investor negeri ginseng, Bambang meyakinkan bahwa Indonesia tetap merupakan negara tujuan ideal bagi investasi. Dengan populasi sebesar 255 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Indonesia merupakan negara yang menarik bagi investor asing.

Gayung bersambut. Antusiasme hadirin terlihat jelas pada forum investasi ini. Pertanyaan-demi-pertanyaan terkait proyek infrastruktur dilontarkan. Secara lugas para peserta menggali info riil seperti prosedur pembebasan lahan; insentif-insentif yang ditawarkan Pemri; hingga peluang-peluang investasi yang bersifat non-konvensional.

Untuk menyukseskan kemitraan tersebut Bappenas menggandeng KEXIM selaku bank pendanaan proyek investasi Korsel di luar negeri. Bappenas bersama KEXIM menawarkan lebih dari 50 proyek di bidang energi, jalan tol, bandara udara dan pelabuhan. Dalam IIIF ini Bappenas mengajak mitra kerja dari Indonesia untuk bertemu langsung dengan komunitas bisnis Korsel. 

Dalam kesempatan itu, Dubes Umar Hadi sempat menjelaskan logika target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang antara lain harus ditopang infrastruktur yang memadai. Adapun Wakil Presiden KEXIM menggaransi bahwa pihaknya akan mendukung pembiayaan bagi proyek infrastruktur di Indonesia.

Selain hadir di bisnis forum IIIF, Menteri PPN bertemu dengan berbagai CEO perusahaan besar Korsel yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek di bidang energi, jalur kereta api, pengolahan minyak dan jalan tol. ()

 

Diresmikan, Kelas Gamelan bagi Warga Korea

Opening Gamelan

Antusiasme warga Korsel untuk belajar menabuh gamelan Jawa tak terbendung. Kelas yang disediakan sempat tidak muat.

Pembukaan kelas gamelan Jawa di halaman KBRI Seoul (17/09/17) untuk warga negeri kimchi berlangsung meriah. Selain dihadiri oleh puluhan calon peserta kelas gamelan, juga hadir para indonesianis dan alumnus penerima beasiswa Darmasiswa serta seni budaya.

Acara di Minggu sore tersebut dimeriahkan oleh group gamelan Laras Garis asuhan ki Sugiarto dan tarian oleh Kelompok Tari Tradisional Indonesia yang telah lebih dahulu berdiri. Selain itu, ada juga kelompok reog Singo Mudho Korea yang dimotori oleh para pekerja Indonesia di Korea.

Dalam sambutannya, Dubes Umar Hadi menerangkan filosofi dari gamelan yang merupakan esensi dari kehidupan yang harmonis. Menurutnya, irama musik gamelan yang bersahutan dengan teratur merupakan sebuah cita-cita kehidupan manusia, yakni saling mengisi dan bersinergi.

"Gamelan yang dimainkan oleh orang asing juga merupakan sebuah fenomena pertemuan budaya. Saya berharap, gamelan juga bisa memperkaya budaya dunia," ujarnya.

Kursus gamelan Jawa bagi warga Korea angkatan pertama, awalnya hanya dibuka untuk satu kelas saja. Namun karena yang mendaftar mencapai 39 warga Korea, maka dibuat dua kelas sekaligus. Mereka akan berlatih setiap hari Sabtu di KBRI Seoul dibawah asuhan ki Sugiarto.

Dua bulan lalu, Group Laras Garis yang terdiri dari warga Indonesia dan Korea Selatan telah mampu mengoptimalkan gamelan Jawa yang ada di KBRI. Group Inilah yang kemudian mematik banyak warga Korsel untuk belajar gamelan.

Di masa datang, KBRI Seoul ingin menyelenggarakan festival gamelan di Korsel. Terdapat beberapa universitas dan kelompok masyarakat Indonesia yang memiliki gamelan.

Gamelan adalah alat musik tradisional Jawa yang sudah berusia ratusan tahun. Musik ini dimainkan secara bersama-sama sehingga menghasilkan bunyi yang indah dan harmonis. ()

Mengapa Wisatawan Korea ke Indonesia Meningkat lebih dari 45%?

17264162 1142873799156567 1632917667955318402 n

Data yang dirilis Korea Tourism Organization (KTO) menunjukkan jumlah wisatawan Korea Selatan  yang bepergian ke luar negeri pada Juli 2017 berada pada angka 2.384.447 atau naik sebesar 14,5% dari tahun lalu. Dari angka tersebut jumlah wisatawan yang ke Indonesia meningkat hingga 45,2% dibandingkan tahun lalu. Fantastis!

Salah satu faktor yang diperkirakan menjadi pendorong meningkatnya jumlah wisatawan Korsel ke Indonesia adalah kepopuleran acara Youn's Kitchen yang ditayangkan oleh stasiun televisi TvN yang tayang pada Maret-Mei 2017.

Pada awal 2017, seorang penulis dan produser dari stasiun televisi TvN datang ke KBRI Seoul untuk menginfokan pihak KBRI Seoul perihal rencana syuting di Indonesia dan meminta rekomendasi tempat syuting. Pejabat Fungsi Pensosbud Diplik yang pada saat itu menemui kedua orang dari TvN kemudian merekomendasikan Lombok sebagai tempat syuting.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada KBRI Seoul atas rekomendasi yang diberikan," ujar Lee Jinju, salah satu produser Youn's Kitchen pada acara konferensi pers penayangan Youn's Kitchen.

Benar saja, tayangan tersebut mendapat sambutan yang heboh dari masyarakat negeri ginseng. Kemasan dan pengambilan gambar yang menarik membuat Lombok tampak seronok dan menggoda masyarakat Korea Selatan untuk singgah.

Sambutan yang positif dari masyarakat Korea kemudian mendorong Korean Air berani untuk membuka charter flight Incheon-Lombok selama 5 gelombang. Tiga penerbangan yang telah berangkat diantaranya penerbangan tanggal 29 Juli, 2 Agustus dan 6 Agustus. Dua flight lainnya akan terbang pada 1 Oktober dan 5 Oktober mendatang.

Sales record 3 penerbangan pertama mencapai rata-rata 94%. Penjualan tiket penerbangan pada 2 Agustus bahkan mencapai 100%. Wow!

Selain Youn's Kitchen, beberapa acara televisi populer lain yang mengambil lokasi syuting di Indonesia pada tahun 2017 diantaranya adalah Law of the Jungle edisi Sumatra dan Pulau Komodo (SBS), Battle Trip di Bali (KBS), dan Running Man di Yogyakarta (SBS). Program Running Man saat ini sedang menunggu jadwal tayang.

Menurut M. Aji Surya, Koordinator Fungsi Pensosbud Diplik KBRI Seoul, penayangan reality show yang berlokasi di Indonesia merupakan cara promosi pariwisata yang cukup efektif untuk menggaet turis Korea Selatan bertandang ke Indonesia.

"Melalui acara-acara televisi tersebut masyarakat negeri kimchi ternganga melihat keindahan dan keunikan Indonesia yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Pesonanya membuat mereka berbondong-bondong berlibur ke Indonesia," ujar Aji.

Karenanya KBRI pun berjanji akan terus mengajak pihak-pihak terkait di Indonesia untuk memberikan perhatian lebih pada para pelamar visa awak syuting. "Situasi di bidang pertelevisian kerap kali menuntut pembuatan visa yang lebih cepat. Saya berjanji akan terus berupaya memberikan pelayanan yang baik dan mengajak pihak-pihak terkait di Indonesia untuk memroses pembuatan visa syuting bisa lebih cepat," tandas Aji.

Pada awal Oktober, tepatnya 2-9 Oktober 2017, masyarakat Korea Selatan akan menikmati libur panjang. Jumlah turis outbound diperkirakan akan meningkat daripada tahun lalu, begitu pula dengan jumlah turis yang melancong ke Indonesia.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014