Kerjasama ekonomi

Presiden Republik Indonesia dan Presiden Republik Korea telah menandatangani the Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century di Jakarta pada tanggal 4-5 Desember 2006. Joint declaration tersebut meliputi 3 pilar kerjasama, yaitu: kerjasama politik dan keamanan; kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi; serta kerjasama sosial budaya. Joint declaration tersebut mendorong kedua negara untuk lebih mempererat persahabatan dan menciptakan kerjasama yang lebih kongkrit. Sejak saat itu, tren investasi dan perdagangan antara kedua negara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Untuk mewujudkan pilar kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi, kedua negara setuju untuk membentuk Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic Cooperation (JTF-EC) yang telah menyelenggarakan pertemuan tahunan sejak tahun 2007. Pada tahun 2011, Indonesia-Korea JTF-EC direvitalisasi menjadi Working Level Task Force Meeting (WLTFM) yang melakukan pertemuan dua kali setahun untuk mengakomodasi perkembangan yang signifikan dalam kerjasama ekonomi kedua negara. Pertemuan pertama WLTFM telah dilaksanakan di Bali pada tanggal 18-19 Mei 2011.

Untuk memonitor implementasi dari berbagai kesepakatan yang dicapai oleh setiap working group, kedua negara sepakat untuk mendirikan sekretariat bersama WLTFM di Jakarta. Upacara peresmian sekretariat bersama dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2012 pada saat pertemuan ke-3 WLTFM di Jakarta. Anggota dari sekretariat bersama adalah pejabat dari Kementerian Koordinator bidang Perekonomian RI dan Kementerian Knowledge Economy Republik Korea sebagai focal point WLTFM untuk masing-masing negara.

Dengan terbinanya hubungan ekonomi yang erat selama bertahun-tahun di antara kedua negara, masyarakat Korea Selatan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Data menunjukkan bahwa nilai realisasi investasi Korea Selatan di Indonesia terus meningkat pada tahun 2013. Pada tahun tersebut, nilai investasi dari Korsel mencapai USD 2,2 miliar. Nilai tersebut telah melebihi nilai investasi Korsel pada tahun 2012 dan menempatkan Korsel sebagai investor terbesar ke-4 setelah Jepang, Singapura dan Amerika Serikat.

Investasi Korsel di Indonesia terutama pada sektor industri elektronik, telekomunikasi, konstruksi, otomotif, pertambangan, migas, air bersih, perbankkan dan perhotelan. Baru-baru ini, terdapat investasi yang bernilai miliaran US dolar dari perusahaan-perusahaan besar Korsel seperti POSCO, Hankook Tire, Lotte Group dan Cheil Jedang Group di Indonesia. Hal tersebut membuktikan adanya kepercayaan yang tinggi dari para investor Korsel kepada Indonesia. Keputusan investasi tersebut diikuti bukan hanya oleh perusahaan afiliasi dan perusahaan vendor dari perusahaan besar Korsel, tetapi juga oleh perusahaan Korsel lainnya.

Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2011, volume perdagangan antara kedua negara mengalami penurunan akibat melemahnya perekonomian global yang dirasakan dampaknya oleh banyak negara di dunia. Total volume perdagangan antara Indonesia – Korea tahun 2013 sebesar US$ 23 milyar, turun dari tahun 2012 dimana nilai perdagangan mencapai US$ 27,02 milyar. Walaupun tampak ada gejala penurunan pada angka perdagangan bilateral, kedua pemerintahan tetap melakukan upaya untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral dan telah menargetkan bahwa nilai perdagangan kedua negara akan mencapai US$50 milyar pada tahun 2015 dan US$100 milyar pada tahun 2020.

Pencapaian target ini didukung oleh rencana kedua negara untuk membentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) untuk melengkapi perjanjian ASEAN-ROK Free Trade Area (FTA) yang telah ada sebelumnya. Sebuah kelompok studi untuk menilai kelayakan CEPA telah dibentuk pada saat kunjungan Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI ke Seoul pada bulan Februari 2011. Setelah beberapa kali pertemuan kelompok studi, laporan akhir kelompok studi tersebut disahkan pada pertemuan pertama WLTFM di Seoul bulan Oktober 2011. Rangkaian seminar telah dilaksanakan di masing-masing negara pada akhir tahun 2011 sampai dengan awal tahun 2012 untuk mensosialisasikan hasil studi kelayakan kelompok studi kepada masing-masing pemangku kepentingan nasional.

Di sela-sela Nuclear Security Summit di Seoul pada bulan Maret 2012, kedua Pemimpin negara melakukan pertemuan bilateral dan sepakat untuk memulai perundingan Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA). Perundingan pertama IK-CEPA dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2012 di Jakarta untuk membahas Term of Reference negosiasi IK-CEPA dan cakupan IK-CEPA, yaitu: Trade in Goods, Rules of Origin, Custom, Trade Facilitation, Investment, Intellectual Property Rights, Sustainable Development and Competition. Isu Trade Remedies and Cooperation masih merupakan isu pending yang akan didiskusikan pada negosiasi berikutnya. Sebagai tindaklajut, negosiasi kedua IK-CEPA telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012.

Negosiasi IK-CEPA merupakan awal babak baru dari hubungan bilateral Indonesia dan Korea. Menurut laporan kelompok studi, kedua negara akan menikmati keuntungan dari IK-CEPA, dimana Indonesia akan menikmati manfaat ekonomi sebesar USD 10,6 miliar dan peningkatan PDB sebesar 4,37%. Sementara itu, Korsel akan mendapatkan manfaat ekonomi sebesar USD 1,5 miliar dan peningkatan PDB sebesar 0,13%.

Perundingan Indonesia Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA) putaran Ketujuh telah terlaksana di Seoul, Korea, pada tanggal 21-28 Februari 2014. Putaran ini sebagai lanjutan dari putaran keenam IKCEPA yang diadakan di Bali pada tanggal 4-8 Nopember 2013.

Pada tanggal 29-30 September 2014 di Seoul, telah diadakan pertemuan ke-5 Indonesia-Korea Working Level Task Force (WLTF) on Economic Cooperation yang dipimpin bersama oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dan Deputy Minister for Trade, Ministry of Trade, Industry and Energy Korea. Pertemuan ke-5 WLTF didahului oleh pertemuan enam Working Group terdiri dari WG on Trade and Investment; WG on Industrial Cooperation, WG on Construction and Infrastructure, WG on Environment Cooperation, WG on Agriculture, Forestry and Fisheries dan WG on Policy Support and Financing dan 3 Working Group yang telah bertemu pada bulan Juni dan awal September 2014 yaitu WG on Energy and Mineral Resorces, WG on Defense Industry, dan WG on Green Car.

Dalam pertemuan ke-5 WLTF tersebut, kedua pihak telah membahas berbagai proyek yang sedang berlangsung maupun proyek-proyek baru yang akan dikerjasamakan. Kedua pihak sepakat untuk mengakselerasi kerjasama bilateral dengan memprioritaskan 10 proyek utama yaitu Kerjasama Kawasan Ekonomi Khusus, Kerjasama Industri Perkapalan, Agro-based Multi-Industry Cluster (MIC), kerjasama mesin-mesin pertanian, Jakarta Giant Sea Wall, Pekanbaru City Water Suppy, Restorasi Kali Ciliwung di Jakarta, Restorasi Sungai Citarum, Karian Water Conveyance dan Coal-fired Steam Power Plant.

Pertemuan ke-5 Plenary WLTF juga sepakat untuk memperpanjang TOR pembentukan Joint Secretariat yang akan segera berakhir sehingga Joint Sekretariat yang telah berjalan sejak bulan Februari tahun 2012 tersebut dapat terus berjalan untuk menjembatani berbagai kerjasama antara kedua negara. Pertemuan sepakat untuk melaporkan hasil pertemuan WLTF ini pada pertemuan tingkat Menteri antara kedua negara yang akan diadakan di Indonesia pada tahun 2015.

 

Indonesian Embassy Seoul © 2014